Coping : Community of Publishing in Nursing
Community of Publishing in Nursing (COPING) merupakan e-journal yang disunting oleh Dewan Redaksi Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jurnal ini merupakan salah satu wahana pengembangan Evidence Based Nursing dalam pengembangan dan update ilmu-ilmu keperawatan serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien. Naskah yang diterima oleh redaksi merupakan karya asli, belum pernah dipublikasikan / tidak sedang dalam proses seleksi maupun editing pada jurnal lain. Naskah yang diterima berupa hasil penelitian pada berbagai bidang kajian keperawatan, meliputi pendidikan keperawatan, keperawatan medikal bedah, keperawatan maternitas, keperawatan anak, keperawatan jiwa, manajemen keperawatan, keperawatan komunitas, keperawatan keluarga, keperawatan gerontik, keperawatan gawat darurat kritis, keperawatan pariwisata, dan penggunaan teknologi dalam keperawatan. Naskah akan disunting oleh dewan redaksi dan mitra bestari sebelum diterbitkan.
Articles
140 Documents
HUBUNGAN PENGGUNAAN OBAT NYAMUK BAKAR DAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK DI PUSKESMAS PETALING TAHUN 2025
Melda Eryani
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/
Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) merupakan penyakit terbanyak pada anak di Puskesmas Petaling. Anak rentan mengalami ISPA karena sistem kekebalan tubuh yang belum optimal, yang dapat meningkatkan risiko ISPA akibat paparan asap obat nyamuk bakar dan status gizi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan obat nyamuk bakar dan status gizi dengan kejadian ISPA pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas Petaling Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel terdiri dari 91 orang tua yang memiliki anak, diambil dengan teknik sampling (purposive sampling). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur karakteristik, penggunaan obat nyamuk bakar dan status gizi, lalu dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat. Hasil penelitian dengan uji Chi-Square pada taraf signifikansi 0,05 menunjukkan p-value untuk Penggunaan Obat Nyamuk Bakar = 0,000, Status Gizi = 0,017. p-value semuanya di bawah 0,05, hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Kesimpulannya, penggunaan obat nyamuk bakar dan status gizi tersebut berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Petaling Tahun 2025, sehingga perlu upaya pengendalian paparan asap dalam rumah serta pemantauan status gizi sebagai langkah pencegahan ISPA.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN PERSONAL HYGIENE ANAK SINDROM DOWN DI PIK POTADS BALI
Ni Komang Adi Budi Asih;
Kadek Cahya Utami;
Ida Arimurti Sanjiwani;
Ni Luh Putu Shinta Devi
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p04
Keterbatasan fisik, keterbelakangan mental, dan rendahnya IQ pada anak Sindrom Down dapat menyebabkan keterbatasan dalam kemandirian personal hygiene. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa personal hygiene anak dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh orang tua yang sesuai sangat penting dalam membentuk kemandirian pada anak Sindrom Down. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian personal hygiene anak Sindrom Down di PIK POTADS Bali. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis deskriptif korelatif dan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan besar sampel 30 orang yang merupakan orang tua (ayah atau ibu) yang memiliki anak Sindrom Down usia prasekolah (3-6 tahun). Instrumen penelitian yang digunakan adalah Parenting Style and Dimensions Questionnaire (PSDQ) dan kuesioner kemandirian personal hygiene anak usia prasekolah. Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai p = 0,085 (α = 0,05), yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan tingkat kemandirian personal hygiene anak Sindrom Down di PIK POTADS Bali. Dalam pola asuh demokratis, sebanyak 53,8% anak memiliki tingkat kemandirian personal hygiene yang kurang mandiri, dan 46,2% memiliki tingkat kemandirian yang mandiri. Sedangkan 100% anak yang mendapat pola asuh otoriter maupun permisif memiliki tingkat kemandirian personal hygiene yang kurang mandiri. Peneliti menyarankan agar orang tua meningkatkan sikap positif dalam upaya menumbuhkan kemandirian personal hygiene pada anak Sindrom Down.
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA CIVITAS ACADEMICA PSSKPPN FK UNUD
Aliza Nur Ramadhani;
Ni Kadek Ayu Suarningsih;
Komang Menik Sri Krisnawati;
Ni Ketut Guru Prapti
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p08
Aktivitas fisik memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh, salah satunya dapat mencegah risiko penyakit tidak menular seperti keluhan muskuloskeletal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan keluhan muskuloskeletal pada civitas academica Keperawatan Universitas Udayana. Penelitian ini berjenis deskriptif korelasi dengan rancangan cross-sectional. Pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri oleh 184 responden yang telah dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Ricci-Gagnon untuk mengukur aktivitas fisik dan Nordic Musculoskeletal Questionnaire untuk mengukur keluhan muskuloskeletal. Hasil analisis penelitian menemukan bahwa mayoritas civitas academica memiliki tingkat aktivitas fisik pada kategori aktif (59,2%) dengan keluhan muskuloskeletal pada tingkat sedang (59,2%). Berdasarkan kuesioner Ricci-Gagnon, ditemukan bahwa mayoritas civitas academica memiliki perilaku sedentari yang cukup lama dengan rata-rata waktu >5 jam per hari. Mayoritas keluhan muskuloskeletal pada tingkat sedang sering ditemui pada bagian punggung dan pinggang. Hasil uji korelasi ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan keluhan muskuloskeletal (p = 0,513). Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan untuk mempertahankan tingkat aktivitas fisik pada kategori aktif.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN MOTIVASI MENOLONG KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS
Pipit Pujiati;
I Made Suindrayasa;
Komang Menik Sri Krisnawati
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p07
Kecelakaan lalu lintas merupakan isu kesehatan masyarakat global yang berkontribusi signifikan terhadap angka morbiditas dan mortalitas di berbagai negara. Sebagai calon tenaga kesehatan, mahasiswa keperawatan sangat perlu memiliki kecerdasan emosional dan motivasi menolong korban kecelakaan guna meminimalisir dampaknya dan menurunkan angka kematian karena kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi hubungan kecerdasan emosional dengan motivasi menolong korban kecelakaan lalu lintas pada mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (PSSKPPN FK UNUD). Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, rancangan deskriptif menggunakan pendekatan cross-sectional. Sejumlah 87 orang menjadi sampel penelitian ini yang diambil melalui teknik Stratified Rank. Peneliti mengambil data melalui kuesioner kecerdasan emosional dan motivasi menolong dan menganalisisnya dengan teknik analisis korelasi Spearman Rank. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh yaitu 0,000 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dan motivasi menolong korban kecelakaan pada mahasiswa PSSKPPN FK UNUD. Nilai koefisien korelasi (r = 0,447) menunjukkan arah hubungan yang positif dengan kekuatan sedang, yang berarti semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional, semakin tinggi pula motivasi mahasiswa dalam memberikan pertolongan kepada korban kecelakaan. Peneliti merekomendasikan kepada mahasiswa untuk aktif dalam organisasi maupun aktivitas lain yang bisa menaikkan kepercayaan diri dan empati sehingga dapat meningkatkan motivasi menolong.
GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN MAHASISWA KEPERAWATAN DALAM KEGIATAN PRAKTIKUM
Ni Nyoman Candraningsih;
Ni Putu Emy Darma Yanti;
Ni Komang Ari Sawitri;
Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p13
Kegiatan praktikum laboratorium merupakan tahapan pembelajaran penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan sebelum menghadapi praktik klinik pada situasi nyata. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Tim Pelaksana Penjaminan Mutu (TPPM) salah satu Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners mengenai tingkat kepuasan terhadap praktikum pada tahun 2021-2023, masih ditemukan adanya ketidakpuasan yang cukup signifikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan mahasiswa dalam kegiatan praktikum di Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling pada 260 mahasiswa. Data dikumpulkan menggunakan instrumen SERVQUAL dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dimensi memiliki gap negatif, yaitu tangible (bukti fisik), reliability (kehandalan), responsiveness (daya tanggap), dan assurance (jaminan), yang mengindikasikan bahwa aspek fasilitas, pengelolaan kelas, responsivitas laboran, jumlah laboran yang tersedia, serta supervisi dosen masih perlu diperbaiki untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa terhadap kegiatan praktikum. Sementara itu, dimensi empathy (perhatian) memiliki gap positif, menunjukkan bahwa perhatian dosen telah memenuhi ekspektasi mahasiswa dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan praktikum yang lebih kondusif dan efektif. Adapun saran penelitian ini diharapkan kepada institusi keperawatan dapat menjadi bahan evaluasi mengenai gambaran tingkat kepuasan mahasiswa keperawatan dalam kegiatan praktikum, guna meningkatkan kualitas pendidikan dalam membentuk calon tenaga keperawatan.
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN KESIAPAN KADER KESEHATAN DALAM MELAKUKAN PERAWATAN PALIATIF PADA PASIEN KANKER
Putu Ika Darma Yanti;
Putu Oka Yuli Nurhesti;
Nyoman Agus Jagat Raya;
Ni Kadek Ayu Suarningsih
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p10
Kanker merupakan penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan sel abnormal yang bersifat progresif dan menimbulkan berbagai gejala yang memengaruhi kualitas hidup pasien serta dapat menyebabkan kematian, sehingga diperlukan perawatan paliatif yang dilakukan oleh tim perawatan paliatif dengan melibatkan masyarakat yang menjadi kader kesehatan. Pengetahuan yang memadai pada kader kesehatan penting dimiliki karena dapat memengaruhi kesiapan dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan kesiapan kader kesehatan dalam melakukan perawatan paliatif pada pasien kanker. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional yang dilaksanakan selama satu bulan yaitu Desember 2024 - Januari 2025. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan metode simple random sampling (n=50). Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan kuesioner Pengetahuan Kader Kesehatan dan kuesioner Kesiapan Kader Kesehatan. Hasil penelitian yang didapatkan menggunakan Uji Spearman Rank menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kesiapan kader kesehatan dalam melakukan perawatan paliatif dengan nilai p=0,03 dan nilai r=0,29. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kesiapan dengan arah hubungan positif, yaitu semakin tinggi pengetahuan maka semakin tinggi kesiapan kader kesehatan dalam melakukan perawatan paliatif pada pasien kanker begitu juga sebaliknya. Kader kesehatan diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam mengakses informasi tentang perawatan paliatif pada pasien kanker.
TANTANGAN SOSIOKULTURAL DALAM IMPLEMENTASI PSC 119: TINJAUAN LITERATUR KONSEPTUAL PADA MASYARAKAT DI WILAYAH PANDALUNGAN
Retno Tri Astuti Ramadhana;
Arista Maisyaroh;
I Gusti Ngurah Juniartha
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p05
Ketersediaan layanan Public Safety Center (PSC) 119 belum berbanding lurus dengan tingginya angka pemanfaatan di masyarakat. Berbagai evaluasi sebelumnya terlalu berfokus pada infrastruktur fisik dan mengabaikan dinamika kultural pengguna, khususnya pada entitas masyarakat hibrida seperti di wilayah Pandalungan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tantangan sosiokultural dalam implementasi layanan kedaruratan medis PSC 119 pada masyarakat di wilayah Pandalungan (kawasan Tapal Kuda). Penelitian ini menggunakan desain Conceptual Literature Review. Pencarian data dilakukan melalui basis data Google Scholar dan Garuda, dengan menyeleksi 12 artikel utama (core articles) yang diterbitkan dalam rentang tahun 2021–2025 yang memenuhi kriteria inklusi terkait perilaku kedaruratan, hambatan komunikasi, dan karakteristik budaya Pandalungan. Data diekstraksi dan disintesis secara naratif-konseptual. Hasil tinjauan menunjukkan adanya benturan antara rasionalitas prosedur medis formal dengan perilaku kultural masyarakat. Rigiditas Standar Operasional Prosedur (SOP) call center 119 berlawanan dengan kepanikan psikologis dan nilai komunal (taretan serta gotong royong) masyarakat Pandalungan. Hal ini memicu kecenderungan masyarakat untuk melakukan evakuasi pasien secara mandiri dan spontan dibandingkan dengan mengandalkan birokrasi kedaruratan. Kesenjangan literasi masyarakat mengenai prosedur layanan juga memperkuat resistensi ini. Tantangan implementasi PSC 119 di wilayah Pandalungan berakar pada hambatan sosiokultural. Diperlukan strategi sosialisasi berbasis kearifan lokal dengan melibatkan tokoh agama (kiai) sebagai cultural broker, serta adaptasi protokol komunikasi darurat yang lebih fleksibel.
PENDEKATAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CEDERA KEPALA: SCOPING REVIEW
Gita Maya Sari;
Tri Wahyuni;
Indriana Noor Istiqomah;
Mashuri Mashuri;
Laili Nur Azizah
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p01
Cedera kepala merupakan masalah kesehatan serius yang memerlukan pendekatan asuhan keperawatan yang komprehensif. Perawat memiliki peran mandiri dalam menentukan intervensi yang tepat untuk meminimalkan komplikasi dan mengoptimalkan kondisi klinis pasien pasca-trauma. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan berbagai intervensi keperawatan dan pengaruhnya terhadap clinical outcome pada pasien cedera kepala melalui metode scoping review. Desain yang digunakan adalah scoping review dengan mencari literatur pada database elektronik pada Sciencedirect, PubMed, Google Scholar dalam rentang waktu lima tahun terakhir (2020-2025) dengan kata kunci Cedera Kepala; Clinical Outcome; Intervensi Keperawatan. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang berfokus pada intervensi mandiri keperawatan. Analisis artikel yang termasuk dalam tinjauan ini menggunakan Diagram Alur PRISMA 2020 dan kerangka kerja ‘PICOST’ (Population, Intervention, Comparison, Outcome, Study Design, Timeframe). Hasil tinjauan terhadap 10 artikel terpilih menunjukkan bahwa intervensi keperawatan non-farmakologis memberikan dampak signifikan terhadap clinical outcome pasien. Pemberian aromaterapi lavender secara mandiri oleh perawat terbukti menurunkan intensitas nyeri secara signifikan. Clinical outcome lainnya yang ditemukan adalah perbaikan tingkat kesadaran melalui terapi Murottal Al-Qur'an dan terapi musik, penurunan kecemasan, serta percepatan waktu ekstubasi pada pasien pasca-bedah. Selain itu, terdapat kebutuhan terhadap integrasi teknologi untuk mendukung kemandirian pasien dalam manajemen gejala kognitif. Pendekatan intervensi keperawatan mandiri berbasis komplementer efektif dalam memperbaiki clinical outcome pasien cedera kepala, terutama dalam manajemen nyeri dan stabilitas neurologis.
INTEGRASI TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DALAM EVALUASI APLIKASI eMAMA SEBAGAI MEDIA EDUKASI RISIKO KEMATIAN MATERNAL PADA IBU HAMIL
Novela Eka Candra Dewi;
Nurul Hayati
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p04
Kematian maternal masih menjadi permasalahan kesehatan global yang signifikan, khususnya di negara berkembang. Rendahnya literasi kesehatan ibu hamil terkait faktor risiko menjadi salah satu penyebab utama. Pemanfaatan teknologi digital seperti aplikasi kesehatan menjadi inovasi strategis dalam meningkatkan edukasi. Aplikasi eMAMA dikembangkan sebagai media edukasi kesehatan ibu hamil, namun efektivitasnya perlu ditinjau dari sisi penerimaan pengguna. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penerimaan aplikasi eMAMA sebagai media edukasi risiko kematian maternal pada ibu hamil menggunakan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM). Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 21 ibu hamil yang menggunakan aplikasi eMAMA, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen berupa kuesioner berbasis konstruk TAM meliputi perceived ease of use dan perceived usefulness. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial. Sebanyak 81% responden menyatakan aplikasi mudah digunakan dengan nilai mean 44,95 (SD=5,172). Sebanyak 90,5% responden menyatakan aplikasi bermanfaat dengan median 48 (39-55). Temuan menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan berkontribusi terhadap persepsi kebermanfaatan aplikasi dalam meningkatkan pemahaman risiko kematian maternal. Integrasi TAM efektif dalam mengevaluasi penerimaan aplikasi eMAMA. Aplikasi ini berpotensi menjadi media edukasi digital yang mendukung peningkatan literasi kesehatan ibu hamil.
PENERAPAN FAMILY CENTER CARE DALAM KEGAWATDARURATAN ANAK DI FASE PRA RUMAH SAKIT: TINJAUAN LITERATUR
Riris Chintya Helieniastuti;
I Gusti Ngurah Juniartha
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p06
Family Centered Care (FCC) merupakan pendekatan yang menempatkan keluarga sebagai mitra dalam perawatan anak, termasuk dalam situasi kegawatdaruratan. Penerapan FCC pada fase pra rumah sakit penting karena anak dalam kondisis kritis membutuhkan penanganan cepat sekaligus dukungan emosional melalui keterlibatan keluarga. Peneitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi FCC pada pelayanan kegawatdaruratan pediatrik fase pra rumah sakit serta mengidentifikasi manfaat dan hambatannya. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan penelusuran artikel melalui database ilmiah menggunakan kata kunci terkait FCC, Prehospital, emergency medical services, dan pediatric. Kriteria inklusi meliputi artikel berbahasa inggris, tersedia dalam teks lengkap, dan dipublikasikan tahun 2016-2026. Hasil menunjukan bahwa FCC memberikan dampak positif terhadap kualitas pelayanan pediatrik, seperti menurunkan kecemasan anak dan keluarga, meningkatkan kepuasan, serta memperbaiki komunikasi dan pengambilan keputusan. Namun penerapan FCC pada fase pra rumah sakit belum optimal. Hambatan utama meliputi keterbatasan waktu, kurangnya tenaga kesehatan, situasi kegawatdaruratan yang dinamis, serta belum terintegrasinya prinsip FCC dalam sistem pelayanan. Kesimpulannya, FCC efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan kegawatdaruratan pediatrik, namun implementasinya pada fase pra rumah sakit masih memerlukan penguatan melalui pelatihan tenaga kesehatan dan pengembangan sistem layanan yang mendukung.