cover
Contact Name
MERIL VALENTINE MANANGKOT
Contact Email
merilvalentine@unud.ac.id
Phone
+6281237456666
Journal Mail Official
copingners.journal@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Jln. PB Sudirman, Denpasar-Bali 80113
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Coping : Community of Publishing in Nursing
Published by Universitas Udayana
ISSN : 27151980     EISSN : 27151980     DOI : -
Core Subject : Health,
Community of Publishing in Nursing (COPING) merupakan e-journal yang disunting oleh Dewan Redaksi Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jurnal ini merupakan salah satu wahana pengembangan Evidence Based Nursing dalam pengembangan dan update ilmu-ilmu keperawatan serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien. Naskah yang diterima oleh redaksi merupakan karya asli, belum pernah dipublikasikan / tidak sedang dalam proses seleksi maupun editing pada jurnal lain. Naskah yang diterima berupa hasil penelitian pada berbagai bidang kajian keperawatan, meliputi pendidikan keperawatan, keperawatan medikal bedah, keperawatan maternitas, keperawatan anak, keperawatan jiwa, manajemen keperawatan, keperawatan komunitas, keperawatan keluarga, keperawatan gerontik, keperawatan gawat darurat kritis, keperawatan pariwisata, dan penggunaan teknologi dalam keperawatan. Naskah akan disunting oleh dewan redaksi dan mitra bestari sebelum diterbitkan.
Articles 140 Documents
HUBUNGAN STATUS KERJA DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG POSYANDU BALITA TERHADAP KUNJUNGAN KE POSYANDU Ni Kadek Dian Prabawati; Ni Luh Putu Eva Yanti; Ni Komang Ari Sawitri; Francisca Shanti Kusumaningsih
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p03

Abstract

Kesibukan ibu bekerja berdampak pada rendahnya partisipasi balita ke posyandu. Hal ini mengakibatkan pemantauan tumbuh kembang balita tidak optimal, sehingga berpotensi pada permasalahan status gizi balita seperti stunting, gizi kurang, dan gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status kerja ibu dan pengetahuan ibu tentang posyandu balita terhadap kunjungan ke posyandu di Desa Landih Bangli. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan desain penelitian cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini berupa simple random sampling dengan total 72 ibu yang memiliki balita usia 0-5 tahun. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Juli 2025. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuisioner pengetahuan tentang pelayanan kesehatan di posyandu yang telah dimodifikasi dan data kunjungan diperoleh dari buku KMS. Hasil penelitian menggunakan uji analisis non-parametrik Chi-Square didapatkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara status kerja ibu dengan kunjungan ke posyandu balita (p-value=0,000). Ibu yang tidak bekerja cenderung lebih rutin mengunjungi posyandu. Selain itu, ditemukan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kunjungan ke posyandu balita (p-value=0,000), dengan ibu yang memiliki pengetahuan baik lebih sering melakukan kunjungan. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan dapat mendorong ibu untuk meluangkan waktu menghadiri Posyandu balita secara rutin serta meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya Posyandu sebagai sarana pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita. Selain itu, pemerintah desa diharapkan terus mendukung pelaksanaan Posyandu melalui upaya yang berkelanjutan. Perawat puskesmas bersama kader Posyandu juga diharapkan secara aktif memberikan motivasi dan meningkatkan kesadaran ibu balita agar rutin mengikuti kegiatan Posyandu. Peningkatan kesadaran tersebut dapat dilakukan melalui sosialisasi pada rapat bulanan desa, penyuluhan kesehatan, serta pemanfaatan media komunikasi antaribu di desa.
HUBUNGAN TINGKAT KESEPIAN DENGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK PADA LANSIA DI BANJAR ABIANSOAN, KARANGASEM I Gusti Putu Eka Raditya; Ni Komang Ari Sawitri; Putu Ayu Sani Utami; Komang Menik Sri Krisnawati; Kadek Eka Swedarma
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p08

Abstract

Lansia akan mengalami beberapa perubahan baik secara fisik maupun psikososial. Perubahan yang biasanya dialami pada seorang lansia seperti masalah melemahnya tubuh, berkurangnya sistem imun, ditinggal keluarga, pasangan, dan teman-teman dapat menyebabkan lansia mengalami masalah kesehatan baik secara fisik maupun psikologis. Salah satu masalah psikologis yang biasanya dialami oleh lansia adalah kesepian. Masalah psikologis seperti kesepian serta perubahan fisik yang lansia alami dapat menyebabkan lansia malas untuk beraktivitas keluar rumah akibatnya risiko lansia mengalami masalah kesehatan fisik meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kesepian dengan tingkat aktivitas fisik lansia di Banjar Abiansoan Desa Bungaya Kangin Karangasem. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode korelasi dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampling menggunakan teknik aksidental sampling sebanyak 129 orang lansia berusia ≥60 tahun dan dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur tingkat kesepian dan PASE untuk mengukur tingkat aktivitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden tidak merasakan kesepian sebanyak 63 (48,8%) orang lansia dan mayoritas responden memiliki aktivitas fisik sedang hingga berat sebanyak sebanyak 70 (54,3%) orang lansia. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan sig. (2-tailed) < 0,001 sehingga p-value < 0,05 dan r = -0,320, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kesepian, semakin rendah tingkat aktivitas fisik lansia. Lansia disarankan tetap melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan fisik dan memperkuat hubungan sosial untuk mencegah masalah psikososial seperti kesepian.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KATARAK PADA LANSIA: SCOPING REVIEW Amin Aji Budiman; Suhari; R. Endro Sulistyono; Primasari Mahardhika Rahmawati; Dwi Ochta Pebriyanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p07

Abstract

Katarak merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia, sering terjadi pada lansia akibat proses degeneratif pada lensa mata. Berbagai faktor seperti merokok dan hipertensi berkontribusi meningkatkan risiko katarak. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko katarak pada lansia di Indonesia. Studi ini menggunakan metode scoping review dengan pedoman PRISMA yang terdiri dari empat tahap: identifikasi literatur, penyaringan, penilaian kelayakan, dan inklusi artikel. Hasil tinjauan terhadap 14 jurnal dari basis data Google Scholar, PubMed, dan Sciencedirect yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan bahwa faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi meliputi usia lanjut, jenis kelamin perempuan, dan riwayat keluarga. Sementara itu, faktor yang dapat dimodifikasi meliputi hipertensi, diabetes melitus, obesitas, kebiasaan merokok, diet, kekurangan vitamin A, gaya hidup buruk, penggunaan glukokortikoid, iridosiklitis, kelainan refraksi, HDL rendah, dan etnis asli. Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan rutin dan identifikasi faktor risiko pada kelompok lansia. Upaya pencegahan melalui pendidikan kesehatan dan promosi gaya hidup sangat penting untuk mengurangi kejadian katarak pada kelompok lansia.
HAMBATAN BYSTANDER DAN PENGASUH DALAM PENANGANAN PERTAMA KEGAWATDARURATAN PRA-RUMAH SAKIT PADA ANAK DAN BALITA: LITERATURE REVIEW I Gusti Ngurah Juniartha; Riris Chintya Helieniastuti; Retno Tri Astuti Ramadhana; Arista Maisyaroh
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p02

Abstract

Anak-anak dan balita merupakan kelompok populasi yang sangat rentan mengalami kondisi kegawatdaruratan. Masa perkembangan ini ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan aktivitas eksplorasi motorik yang aktif, namun belum diimbangi dengan kemampuan kognitif yang memadai untuk mengenali dan menghindari bahaya. Hal ini menempatkan anak pada risiko tinggi terhadap berbagai insiden, seperti tersedak (benda asing di jalan napas), tenggelam, luka bakar, keracunan, trauma jatuh, hingga kondisi medis akut seperti kejang demam dan henti napas. Artikel ini merupakan Literature review dengan analisis artikel pada database Sciencedirect, PubMed, dan Ebsco dengan database 2021 hingga April 2026. Penapisan artikel mengikuti diagram alur PRISMA 2020 dan kerangka kerja PICOST untuk mengidentifikasi studi terkait hambatan penanganan kegawatdaruratan pediatrik pra-rumah sakit. Hambatan utama penanganan kegawatdaruratan pra-rumah sakit pada anak dan balita diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: 1) Hambatan pengetahuan dan keterampilan praktis, yang memicu kepasifan atau tindakan salah yang membahayakan; 2) Hambatan psikologis, berupa kepanikan pengasuh serta respons emosional anak; 3) Hambatan sosiodemografis dan pendidikan, mencakup tingkat pendidikan pengasuh serta disparitas ras/etnis korban; dan 4) Hambatan sistem dan komunikasi, berupa kegagalan koordinasi respons gawat darurat. Penanganan kegawatdaruratan pediatrik fase pra-rumah sakit dipengaruhi oleh hambatan kompetensi, psikologis, sosiodemografis, dan sistem. Diperlukan program pelatihan resusitasi dan pertolongan pertama berbasis komunitas yang lebih terarah, inklusif, serta mempertimbangkan pendekatan budaya guna meningkatkan luaran keselamatan anak.
HUBUNGAN XEROSTOMIA DAN DISTRES HAUS DENGAN INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN PADA PASIEN CKD YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD WANGAYA Ni Komang Devasia Giri Sandani; Gusti Ayu Ary Antari; Made Oka Ari Kamayani
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p11

Abstract

Pasien dengan penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani hemodialisis seringkali mengeluhkan mulut kering (xerostomia) dan rasa haus yang menimbulkan distres. Gejala ini dapat menyebabkan Interdialytic Weight Gain (IDWG) pasien meningkat. IDWG yang tinggi juga ditemukan pada pasien hemodialisis di Unit Hemodialisis RSUD Wangaya. Tingginya nilai IDWG ini berhubungan dengan meningkatnya risiko mortalitas dan morbiditas pada pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara xerostomia dan distres haus dengan IDWG pasien CKD yang menjalani hemodialisis di RSUD Wangaya. Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Data dikumpulkan selama bulan Maret-April 2024 di Ruang Hemodialisis RSUD Wangaya. Teknik sampling yang digunakan yaitu metode purposive sampling dengan melibatkan 59 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui kuesioner Summated Xerostomia Inventory (SXI), Thirst Distress Scale (TDS) dan Timbangan berat badan untuk perhitungan IDWG. Data dianalisis dengan Spearman rank’s dengan derajat signifikansi p ≤ 0,05. Sebanyak 33 orang (55,9%) responden memiliki tingkat xerostomia sedang, 34 orang (57,6%) memiliki distres haus sedang dan 37 orang (62,7%) memiliki tingkat IDWG sedang. IDWG yang tinggi pada pasien hemodialisis berhubungan bermakna dengan xerostomia (p = 0,001; r = 0,412), dan distres haus (p = 0,024; r = 0,296). Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian xerostomia dan distres haus berperan penting dalam mencegah kenaikan IDWG yang berlebihan. Perawat hemodialisis diharapkan dapat memastikan dan mempertahankan kepatuhan pasien dalam upaya mencegah xerostomia dan mengontrol rasa haus.
GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU REMAJA MENGENAI RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR Dyah Ayu Ratna Sulistiyaningrum; Ni Kadek Ayu Suarningsih; Made Oka Ari Kamayani; Nyoman Agus Jagat Raya
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p03

Abstract

Prevalensi penyakit kardiovaskular setiap tahunnya terus mengalami peningkatan serta masih menjadi penyebab nomor satu kematian di dunia. Pencegahan dasar mengenai  risiko penyakit kardiovaskular sangat penting dilakukan sejak usia dini sehingga risiko penyakit kardiovaskular di usia dewasa dapat diminimalisir. Pendekatan pada remaja dapat mendukung pembentukan perilaku kesehatan yang positif dalam menjaga kesehatan kardiovaskular yang ideal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja terkait penyakit kardiovaskular. Penelitian ini merupakan penelitian  kuantitatif deskriptif dengan desain cross sectional.  Penelitian ini dilakukan pada 297 responden SMA Negeri 1 Kuta Utara dengan rentang usia 15-17 tahun. Data pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait risiko penyakit kardiovaskular dikumpulkan melalui kuesioner berupa Google form dengan pengawasan. Pada penelitian ini juga mengumpulkan data IMT responden berupa tinggi badan dan berat badan yang diukur secara langsung. Hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas responden berusia 16 tahun, sebagian besar berjenis kelamin perempuan (61,3%), responden underweight 29,6%, obesitas 12,5%, mayoritas responden memiliki pengetahuan baik, sikap baik dan perilaku yang cukup dengan persentase masing-masing yaitu 67,7%, 58,6% dan 88,6%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu responden memiliki pengetahuan yang baik, sikap yang baik namun memiliki tingkat perilaku cukup terkait risiko penyakit kardiovaskular. Perlu program dengan sasaran remaja untuk mendorong menerapkan perilaku hidup sehat sebagai pencegahan awal diri risiko penyakit kardiovaskular.
IDENTIFIKASI SEDENTARY BEHAVIOUR DAN AKTIVITAS FISIK ANAK USIA SEKOLAH 10-12 TAHUN Astrit Dwi Ayu Sagita; Luh Mira Puspita; Ni Luh Putu Shinta Devi; Kadek Cahya Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p01

Abstract

Anak sekolah usia 10-12 tahun berada pada tahap perkembangan yang ditandai dengan meningkatnya kemandirian serta kebebasan dalam memilih aktivitas harian termasuk penggunaan teknologi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan sedentary behaviour dan menurunkan aktivitas fisik pada anak. Perilaku ini sering kali terbentuk selama masa anak-anak dan dapat berlanjut hingga dewasa sehingga berkontribusi terhadap penyakit tidak menular (PTM), seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan gangguan kardiovaskuler. Risiko tersebut berkaitan erat dengan gaya hidup tidak aktif sehingga diperlukan identifikasi awal sebagai upaya pencegahan dan pengendalian melalui intervensi sedini mungkin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sedentary behaviour dan aktivitas fisik pada anak sekolah usia 10-12 tahun di SDN 1 Renon. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan longitudinal yang dilaksanakan pada tanggal 05-13 Februari 2025. Teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling dengan jenis simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV, V dan VI sebanyak 178 siswa. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Adolescent Sedentary Activity Questionnare (ASAQ) dan Physical Activity Questionnaire For Older Children (PAQ-C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas anak sekolah usia 10-12 memiliki tingkat sedentary behaviour yang tinggi yaitu sebanyak 89 responden (50%) dan memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah yaitu sebanyak 85 responden (47,8%). Orang tua dan sekolah disarankan untuk mengambil peran aktif dengan membatasi screen based activity untuk mengurangi sedentary behaviour, serta mendorong anak untuk meningkatkan aktivitas fisik.
GAMBARAN TINGKAT KELELAHAN DAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEGAWAI KANTOR PENGADILAN AGAMA DENPASAR Dwinda Febrina Sukma; Ni Ketut Guru Prapti; Gusti Ayu Ary Antari; I Kadek Saputra
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p12

Abstract

Kelelahan dan gangguan muskuloskeletal pada pegawai kantor erat kaitannya dengan penggunaan komputer sebagai sarana pelayanan. Studi pendahuluan menemukan bahwa sebagian pegawai mengalami gejala tersebut. Kelelahan merupakan kondisi menurunnya ketahanan tubuh yang ditandai rasa letih, berkurangnya energi, dan berkurangnya kemampuan kerja. Musculoskeletal disorders (MSDs) merupakan keluhan yan terjadi pada otot rangka yang dipicu beban statis berulang dalam jangka waktu lama, sehingga menimbulkan rasa sakit pada sendi, otot, maupun tendon. Faktor pemicu MSDs meliputi postur kerja tidak ergonomis, beban kerja tinggi, durasi kerja panjang, usia, jenis kelamin, serta aktivitas berulang. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat kelelahan dan keluhan MSDs pada pegawai kantor. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling sebanyak 39 responden. Instrumen penelitian berupa Subjective Self Rating Test (SSRT) untuk variabel kelelahan dan Nordic Body Map (NBM) untuk variabel MSDs. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor kelelahan 57,64 dengan mayoritas responden berada pada kategori sedang (59%). Rata-rata skor MSDs sebesar 48,67 dengan (10,3%) responden mengalami keluhan tinggi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pegawai di Pengadilan Agama Denpasar mengalami kelelahan dan keluhan MSDs yang dapat berdampak pada produktivitas kerja.
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA TENAGA KESEHATAN SELAMA PANDEMI COVID-19 DI RSUD BALI MANDARA Ni Putu Novi Lisdayanti; Komang Menik Sri Krisnawati; Ni Putu Emy Darma Yanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p02

Abstract

Tenaga kesehatan sebagai garda terdepan sangat rentan tertular virus Covid-19 dan hal tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran pada tenaga kesehatan, dimana kekhawatiran tersebut akan berdampak kepada motivasi kerja tenaga kesehatan. Motivasi kerja merupakan salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi kinerja tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja tenaga kesehatan selama masa pandemi COVID-19 di RSUD Bali Mandara. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Responden penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di Ruang Isolasi RSUD Bali Mandara dengan total 50 tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas jenis kelamin tenaga kesehatan yang bertugas di ruang isolasi adalah perempuan (56%), mayoritas tenaga kesehatan yang bertugas adalah perawat (88%), gambaran motivasi kerja tenaga kesehatan mayoritas pada tingkat motivasi kerja yang baik (68%), dan gambaran kinerja tenaga kesehatan mayoritas ada pada tingkat kinerja yang baik (54%), analisis data dengan menggunakan uji korelasi Spearman Rank didapatkan p-value < 0,05 dan didapatkan nilai korelasi (r) = 0,313. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja tenaga kesehatan selama masa pandemi Covid-19 di RSUD Bali Mandara dengan korelasi lemah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam mempertahankan motivasi kerja untuk meningkatkan kinerja pada tenaga kesehatan.
GAMBARAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI DI BANJAR BUALU KABUPATEN BADUNG Qurrotul Aini; Desak Made Widyanthari; Gusti Ayu Ary Antari
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i02.p12

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan utama di dunia maupun Indonesia. Hipertensi dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, suku, merokok, aktivitas fisik/olahraga, konsumsi natrium, dan konsumsi lemak. Dampak dari hipertensi tersebut terhadap masyarakat yaitu peningkatan komplikasi penyakit, tingginya angka kematian dini, peningkatan ketergantungan layanan kesehatan, dan penurunan produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian hipertensi di Banjar Bualu, Desa Adat Bualu, Kuta Selatan, Badung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 91 orang yang diperoleh dari teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan hipertensi tahap I dan II yang terjadi pada penduduk Banjar Bualu sebanyak 20,9%, prehipertensi 50,5% dan responden dengan tekanan darah normal 28,6%. Mayoritas hipertensi terjadi pada responden yang memiliki riwayat keluarga hipertensi (78,7%) dan prehipertensi (23,5%), responden yang tidak aktif melakukan aktivitas fisik/olahraga mengalami hipertensi sebanyak 77,6% dan prehipertensi sebanyak 52,2%. Responden yang mengalami hipertensi dengan kategori mengonsumsi natrium tinggi mengalami hipertensi (30,4%) dan 69,6% mengalami prehipertensi. Responden yang mengonsumsi asupan lemak yang tinggi yang mengalami hipertensi 78,7% dan mengalami prehipertensi sebanyak 58,7%. Faktor risiko kejadian hipertensi di Banjar Bualu banyak terjadi pada responden yang memiliki riwayat hipertensi keluarga, kurangnya aktivitas fisik, asupan natrium dan lemak yang tinggi. Perlu dilakukan suatu upaya tindakan preventif dan promotif untuk mencegah hipertensi maupun perburukan komplikasi.