cover
Contact Name
Andriyana
Contact Email
andriyana@uniku.ac.id
Phone
+6282121616969
Journal Mail Official
journal.fon@uniku.ac.id
Editorial Address
Jl. Cut Nyak Dien nomor 36A Cijoho Kuningan
Location
Kab. kuningan,
Jawa barat
INDONESIA
Fon; Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Published by Universitas Kuningan
ISSN : 20860609     EISSN : 26147718     DOI : https://doi.org/10.25134/
Core Subject : Education,
Jurnal ini memuat artikel dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran dan pengajaran Bahasa Indonesia serta sastra Indonesia. Ruang lingkup penelitian mencakup penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing. Penelitian dapat dilakukan di jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Subruang lingkup jurnal ini meliputi: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik, menyimak, berbicara, membaca, menulis, teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra bandingan, ekranisasi, sosiologi sastra, perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran.
Articles 341 Documents
ARKETIPE TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DIGITAL SATRIA ROH SUCI KARYA PANCUR LIDI Dela yurike Putri; Fitri Merawati
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/d006dp24

Abstract

ABSTRAK: Karya sastra sering menjadi refleksi kehidupan manusia, tempat pengarang menyalurkan konflik batin, pengalaman, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui tokoh-tokohnya. Tokoh utama berperan sebagai cermin kepribadian manusia, karena tindakan, dialog, dan konflik batinnya menampilkan simbol-simbol yang merepresentasikan struktur psikologis terdalam. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis simbol-simbol arketipe pada tokoh utama dalam novel digital Satria Roh Suci karya Pancur Lidi, menggunakan teori arketipe Carl Gustav Jung, meliputi persona, shadow, anima/animus, hero, dan self. Pendekatan yang digunakan adalah psikologi sastra dengan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui pembacaan mendalam teks novel di platform GoodNovel, kemudian diklasifikasikan kutipan yang menunjukkan kemunculan simbol-simbol arketipe pada tokoh utama. Hasil penelitian menunjukkan kelima arketipe Jung teridentifikasi melalui simbol, tindakan, dan dialog yang membentuk citra tokoh utama. Kesimpulannya, tokoh utama pada novel merepresentasikan proses transformasi psikologis menuju individuasi utuh. Penelitian ini menegaskan bahwa kekuatan tokoh utama bersumber dari kesadaran diri dan integrasi berbagai aspek kepribadian yang berlawanan, bukan sekadar kemampuan fisik, sehingga memberikan wawasan psikologis mendalam mengenai perkembangan tokoh dan proses pembentukan identitasnya. KATA KUNCI: Arketipe; Carl Gustav Jung; Novel digital; Psikologi sastra; Tokoh utama.   THE ARCHETYPE OF THE MAIN CHARACTER IN THE DIGITAL NOVEL SATRIA ROH SUCI BY PANCUR LIDI   ABSTRACT:  Literary works often reflect human life, where authors channel inner conflicts, experiences, and human values through their characters. The main character acts as a mirror of human personality, because his actions, dialogues, and inner conflicts display symbols that represent the deepest psychological structures. This study aims to identify and analyze the archetypal symbols in the main character in the digital novel Satria Roh Suci by Pancur Lidi, using Carl Gustav Jung's archetype theory, including persona, shadow, anima/animus, hero, and self. The approach used is literary psychology with a qualitative descriptive method. Data were obtained through an in-depth reading of the novel's text on the GoodNovel platform, then classified excerpts that show the emergence of archetypal symbols in the main character. The results show that the five Jungian archetypes are identified through the symbols, actions, and dialogues that shape the image of the main character. In conclusion, the main character in the novel represents the process of psychological transformation towards complete individuation. This study confirms that the main character's strength stems from self-awareness and the integration of various opposing personality aspects, not just physical abilities, thus providing in-depth psychological insights into the character's development and the process of identity formation. KEYWORDS: Archetype; Carl Gustav Jung; Digital Novel; Literary Psychology; Main Character.
Kajian Semiotika das Unheimliche pada Novel Sumirat ing Mripat karya Irul S. Budianto Reni Nur Afiani; Teguh Supriyanto; Dhoni Zustiyantoro
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/j1g2dh11

Abstract

ABSTRAK: Fenomena das Unheimliche (keganjilan) menjadi pusat pengalaman estetik dan psikologis dalam novel Sumirat ing Mripat karya Irul S. Budianto. Dalam novel ini, hal-hal yang sebenarnya akrab (Heimlich) justru berubah menjadi asing dan menakutkan (Unheimlich). Dengan menggunakan pendekatan semiotika Pierce dan konsep das Unheimliche Freud, peneliti bertujuan untuk menjelaskan bagaimana relasi tanda (ikon, indeks, dan simbol), serta semiotika ruang dan unsur supranatural bekerja untuk membangun makna kegelisahan dalam konteks budaya Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan pembacaan semiotik secara heuristik dan hermeneutik. Data dan sumber data diperoleh dari Novel Sumirat ing Mripat karya Irul S. Budianto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa das Unheimliche dalam novel ini tidak hanya menggambarkan rasa takut, tetapi juga menjadi jalan menuju penyadaran batin tokoh utama. Tanda-tanda ganjil seperti rumah yang berubah menjadi wingit atau pengalaman penglihatan supranatural yang mendorong tokoh untuk melakukan perenungan dan menemukan ketenangan batin melalui doa serta sikap pasrah. Simpulan penelitian ini menunjukkan adanya bentuk khas “Unheimliche Jawa”, yaitu keganjilan yang tidak hanya menghadirkan perasaan horor atau ketidaknyamanan, tetapi juga menyingkap hubungan antara kesadaran manusia dengan nilai-nilai spiritual dalam budaya Jawa. KATA KUNCI: Das unheimliche; Keganjilan; Psikologi Jawa; Spiritualitas Jawa; Sumirat ing Mripat   SEMIOTIC STUDY OF DAS UNHEIMLICHE IN THE NOVEL SUMIRAT ING MRIPAT BY IRUL S. BUDIANTO     ABSTRACT: The phenomenon of das Unheimliche (uncanniness)is central to the aesthetic and psychological experience in Irul S. Budianto's novel Sumirat ing Mripat. In this novel, things that are actually familiar (Heimlich) become strange and frightening (Unheimlich). Using Pierce's semiotic approach and Freud's concept of dasUnheimliche, this study aims to explain howthe relationship between signs (icons, indices, and symbols), as well as the semiotics of space and supernatural elements, work to construct the meaning of anxiety in the Javanese cultural context.This studyuses a heuristic and hermeneutic semiotic reading approach.The data and data sources were obtained from the novel Sumirat ing Mripat by Irul S. Budianto. The results show that das Unheimliche in this novel not only describesfear, but also becomes a path to the main character's inner awareness.Odd signs such as a house that turns into wingit or supernatural visions encourage the character toreflect and find inner peace through prayer and surrender.The conclusion of this researchshows that there is a distinctive form of “Unheimliche Jawa”, namely strangenessthat not only presents feelings of horror or discomfort, but alsoreveals the relationship between human consciousness and spiritual values in Javanese culture. KEYWORDS: Das Unheimliche; Strangeness; Javannese Phsychology; Javanesse Sprituality; Sumirat ing Mripat
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DENGAN PENDEKATAN PSIKOPRAGMATIK DALAM PEMBELAJARAN MENULIS DIALOG DRAMA PADA SISWA SMPN 5 PALU Rin Koffia Fajrawani Rin Koffia Fajrawani; Yunidar; Ida Nuraeni; Ulinsa; Agustan
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/8j3yfq17

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) dengan pendekatan psikopragmatik dalam pembelajaran menulis dialog drama pada siswa kelas VIII C SMP Negeri 5 Palu. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya keterampilan siswa dalam menulis dialog drama, khususnya dalam menggambarkan karakter tokoh, emosi, serta maksud tuturan secara kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian berjumlah 16 siswa yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi selama proses pembelajaran berlangsung. Pembelajaran dilaksanakan melalui tahapan PjBL, yaitu pertanyaan mendasar, perencanaan proyek, pelaksanaan proyek, penyajian produk, serta evaluasi dan refleksi. Pendekatan psikopragmatik diterapkan untuk membantu siswa memahami fungsi tuturan dalam dialog berdasarkan konteks psikologis dan sosial tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PjBL dengan pendekatan psikopragmatik mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis dialog drama. Dialog yang dihasilkan siswa menjadi lebih hidup, komunikatif, dan sesuai dengan karakter serta emosi tokoh. Selain itu, siswa menunjukkan keterlibatan aktif, kemampuan bekerja sama, serta pemahaman yang lebih baik terhadap makna tuturan dalam dialog drama. Dengan demikian, model Pembelajaran Berbasis Proyek dengan pendekatan psikopragmatik efektif diterapkan dalam pembelajaran menulis dialog drama di tingkat SMP dan dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual dan bermakna. KATA KUNCI: Pembelajaran Berbasis Proyek, Psikopragmatik, Menulis Dialog Drama.   IMPLEMENTATION OF A PROJECT-BASED LEARNING MODEL WITH A PSYCHOPRAGMATIC APPROACH IN LEARNING TO WRITE DRAMA DIALOGUE AT STUDENTS OF SMPN 5 PALU     ABSTRACT: This study aims to describe the application of the Project Based Learning (PjBL) model with a psychopragmatic approach in teaching writing drama dialogues to class VIII C students of SMP Negeri 5 Palu. The background of this study is based on students' low skills in writing drama dialogues, especially in describing character, emotions, and the purpose of speech contextually. This study uses a qualitative approach with a case study design. The research subjects were 16 students selected by purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation techniques during the learning process. Learning was carried out through the PjBL stages, namely basic questions, project planning, project implementation, product presentation, and evaluation and reflection. The psychopragmatic approach was applied to help students understand the function of speech in dialogues based on the psychological and social context of the characters. The results of the study indicate that the application of the PjBL model with a psychopragmatic approach can improve students' skills in writing drama dialogues. The dialogues produced by students become more lively, communicative, and in accordance with the characters' characters and emotions. In addition, students show active involvement, the ability to work together, and a better understanding of the meaning of speech in drama dialogues. Thus, the Project-Based Learning model with a psychopragmatic approach is effectively applied in learning to write drama dialogues at the junior high school level and can be an alternative strategy for learning Indonesian that is contextual and meaningful. KEYWORDS: Project Based Learning, Psychopragmatics, Writing Drama Dialogue.
ANALISIS SEMIOTIKA PADA LOGO CITY BRANDING KABUPATEN BANDUNG Takbir Maliek Muhammad; Riky Azharyandi Siswanto; Didit Widiatmoko Soewardikoen; Wirania Swasty
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/adweda24

Abstract

ABSTRAK: Kabupaten Bandung mempunyai sebuah citra yang merepresentasikan potensi alam dan budaya sebagai daya tarik wisata. Kehadiran logo city branding yang diharapkan dapat merepresentasikan citra tersebut ternyata kurang berdampak. Hal tersebut menjadi permasalahan yang dapat diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitiatif dengan analisis menggunakan semiotika Roland Barthes .Teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur, wawancara dan kuesioner. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini melewati tiga tahap diantaranya adalah: reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan serta vertifikasi data. Hasil dalam penelitian ini adalah terdapat makna yang terdapat pada logo city branding menggunakan kajian semiotika Barthes. Dalam logo Kabupaten Bandung ditemukan makna potensi wisata alam, dengan wisata budaya di representasikan dalam bentuk karakter wayang Arjuna. Pengetahuan tentang makna logo dapat meningkatkan komunikasi terkait potensi wisata di Kabupaten Bandung. Sebuah daerah yang terepresentasi dengan baik membuat sebuah ekosistem partisipasi masyarakat lokal yang dapat mempromosikan daerahnya sendiri. Diharapkan akan berdampak pada pertumbuhan pariwisata dan perekonomian sekitar. KATA KUNCI: Semiotika; Barthes,;city branding,;Kabupaten Bandung   SEMIOTIC ANALYSIS OF THE BANDUNG REGENCY CITY BRANDING LOGO   ABSTRACT: Bandung Regency has an image that represents its natural and cultural potential as a tourist attraction. The city branding logo, which was expected to describe this image, has proven to have little impact. This issue requires further investigation. This study employed a qualitative descriptive approach with analysis using Roland Barthes' semiotics. Data collection techniques included literature review, interviews, and questionnaires. Data analysis in this study involved three stages: data reduction, presentation and conclusion drawing, and data verification. The results of this study reveal the meaning embedded in the city branding logo using Barthes' semiotics. The Bandung Regency logo reveals the potential for natural tourism, with cultural tourism represented by the wayang character Arjuna. Understanding the logo's meaning can improve communication regarding Bandung Regency's tourism potential. A well-represented region creates an ecosystem of local community participation that can promote its own region. This is expected to impact tourism growth and the surrounding economy. KEYWORDS: Semiotics; Barthes; city branding; Bandung Regency
RELASI SAKRAL MANUSIA–ALAM DALAM CERITA RAKYAT PANJALU: KAJIAN STRUKTURAL TERHADAP TRADISI NYANGKU SEBAGAI MEDIA TRANSMISI NILAI BUDAYA Budi Riswandi; Sumiyadi; Dadang Sunendar
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/nfgj1h83

Abstract

ABSTRAK: Cerita rakyat dan tradisi Nyangku merupakan warisan budaya penting masyarakat Panjalu yang merepresentasikan hubungan sakral antara manusia, alam, dan leluhur. Namun, kajian sebelumnya cenderung memusatkan perhatian pada aspek deskriptif ritual dan nilai religius tanpa menelaah secara sistematis bagaimana relasi manusia–alam dikonstruksikan melalui struktur naratif cerita rakyat. Kesenjangan ini menunjukkan perbedaan antara teori folklor yang menekankan pentingnya struktur cerita dan praktik penelitian yang masih bersifat tematik. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara struktural relasi sakral manusia–alam dalam cerita rakyat Panjalu yang melandasi tradisi Nyangku serta menjelaskan fungsinya sebagai media transmisi nilai budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan Structural-Based Analysis terhadap cerita rakyat yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, juru kunci, dan warga Panjalu, serta observasi tradisi Nyangku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Panjalu memiliki struktur naratif yang sistematis dengan pola sebab–akibat yang menempatkan keharmonisan manusia–alam–leluhur sebagai inti cerita. Relasi manusia–alam dikonstruksikan sebagai relasi relasional-sakral, bukan utilitarian, dan memuat nilai religius, sosial, moral, serta historis yang terintegrasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cerita rakyat dan tradisi Nyangku membentuk suatu Sistem Nilai Relasional-Sakral Alam yang menjaga keberlanjutan identitas budaya masyarakat Panjalu melalui narasi dan praktik ritual. KATA KUNCI: cerita rakyat Panjalu; tradisi Nyangku; relasi sakral manusia–alam; transmisi nilai budaya   SACRED HUMAN-NATURE RELATIONS IN PANJALU FOLKTALES: A STRUCTURAL ANALYSIS OF THE NYANGKU TRADITION AS A MEDIUM FOR TRANSMITTING CULTURAL VALUES     ABSTRACT: Folktales and the Nyangku tradition constitute an important cultural heritage of the Panjalu community, representing a sacred relationship between humans, nature, and ancestors. However, previous studies have tended to focus on descriptive aspects of rituals and religious values without systematically examining how human–nature relations are constructed through the narrative structures of folktales. This gap reveals a discrepancy between folkloristic theory, which emphasizes the importance of narrative structure, and existing research practices that remain largely thematic. This study aims to structurally analyze the sacred human–nature relationship embedded in Panjalu folktales that underlie the Nyangku tradition and to explain their function as a medium for transmitting cultural values. The study employed a qualitative descriptive-interpretative approach using Structural-Based Analysis of folktales collected through in-depth interviews with traditional elders, custodians, and Panjalu community members, as well as observations of the Nyangku tradition. The findings indicate that Panjalu folktales possess a systematic narrative structure with cause–effect patterns that place harmony among humans, nature, and ancestors at the core of the stories. Human–nature relations are constructed as relational-sacred rather than utilitarian, integrating religious, social, moral, and historical values. This study concludes that Panjalu folktales and the Nyangku tradition form a Relational–Sacred System of Nature Values that sustains the cultural identity of the Panjalu community through narrative and ritual practices. KEYWORDS: Panjalu folktales; Nyangku tradition; sacred human–nature relations; cultural value transmission  
REPRESENTASI IDEOLOGI POLITIK DPR RI DAN RAKYAT : KOMPARASI WACANA KRITIS TEUN A. VAN DIJK PADA NETRAL.CO.ID. DAN DETIK.COM Nabila Ardania; Mursia Ekawati; Linda Eka Pradita
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.470

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasikan tentang dua teks berita dari portal Netral.co.id dan Detik.com dengan topik sama  melalui lensa analisis wacana kritis Teun A. Van Dijk. Kemudian dikomparasikan dengan teori framing yang fokus pada ideologi entitas di dalamnya. Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam struktur teks pada berita dengan memperhatikan dimensi teks, dimensi kognisi sosial, dan dimensi konteks sosial,serta komparasi framing antara kedua berita. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, teknik baca catat dilakukan untuk menemukan data, dan analisis data dilakukan dengan cara reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian  menunjukkan analisis wacana kritis yang dilakukan pada kedua portal media menunjukkan perbaan dari segi penulisan, penempatan media, dan kekuasaan.  Perbedaan tersebut juga dianalisis dengan komparasi teori framing yang ditinjau dari empat elemen, yaitu definisi masalah, penyebab masalah, penilaian moral, dan penyelesaian yang menunjukkan bahwa ideologi pada entitas yang sama dalam kedua teks berita memiliki penonjolan yang berbeda. Meski studi wacana pada Detik.com sudah banyak dilakukan, masih minim ditemukan penelitian uang mengkomparasikan framing ideologis media arus utama dengan potral Netral.co.id. KATA KUNCI: Analisis wacana kritis; berita; komparasi; van dijk;   REPRESENTATION OF POLITICAL IDEOLOGY BETWEEN DPR RI AND CITIZEN: A COMPARATIVE VAN DIJK’S DISCOURSE ANALYSIS ON NETRAL.CO.ID AND DETIK.COM     ABSTRACT: This study aims to compare two news articles from the Netral.co.id and Detik.com portals, both of which cover the same topic, through the lens of Teun A. Van Dijk's critical discourse analysis. It is then compared with framing theory, which focuses on the ideology of the entities within it. The primary objective of this study is to analyse the structure of news texts in depth, considering the dimensions of text, social cognition, and social context, as well as comparing the framing between the two news articles. The method employed is qualitative, with a descriptive approach. Reading and note-taking techniques are used to gather data, and data analysis is conducted through reduction, presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that a critical discourse analysis conducted on both media portals reveals similarities in terms of writing, media placement, and power.  These differences were also analysed by comparing framing theory across four elements: problem definition, problem causes, moral assessment, and solutions. This analysis revealed that the ideology of the same entity in both news texts had different emphases. Although discourse studies on Detik.com have been conducted extensively, there remains a lack of research comparing the ideological framing of mainstream media with that of the Netral.co.id portal. KEYWORDS: Critical discourse analysis; news; comparative; van dijk  
ANALISIS KOMPARATIF ALGORITMA NAIVE BAYES DAN SUPPORT VECTOR MACHINE DALAM KLASIFIKASI UJARAN KEBENCIAN DAN TEKS ABUSIF BERBAHASA INDONESIA Rolanda Difandana; Ian Imaduddin
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.471

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji efektivitas algoritma Naive Bayes dan Support Vector Machine dalam mengklasifikasikan ujaran kebencian dan teks kasar berbahasa Indonesia, dengan tujuan memahami keunggulan dan pola kegagalan setiap model. Metode penelitian menggunakan dataset tweet beranotasi yang melalui pra-pemrosesan khusus dan ekstraksi fitur TF-IDF. Kinerja model Multinomial Naive Bayes (MNB) dan Linear Support Vector Classifier (LinearSVC) dievaluasi secara ketat menggunakan holdout test set, validasi silang, dan uji signifikansi statistik. Hasil penelitian mengonfirmasi superioritas signifikan LinearSVC atas MNB, dengan selisih akurasi 8,7%. Analisis mendalam mengungkap bahwa meskipun model sangat akurat mengidentifikasi konten bersih (clean), tantangan utama terletak pada klasifikasi teks kasar (abusive) yang sering tertukar dengan ujaran kebencian (hate speech). Pola kesalahan ini menunjukkan batas kabur antara kedua kategori, mengindikasikan spektrum kontinu ketimbang kelas diskrit. Diskusi menegaskan bahwa keunggulan LinearSVC berasal dari kemampuannya menangani data berdimensi tinggi dan kompleksitas linguistik khas media sosial Indonesia. Temuan ini menyoroti perlunya pendekatan pemodelan yang lebih peka terhadap nuansa bahasa dan gradasi keparahan konten. Implikasi studi mendorong penyempurnaan skema anotasi data, eksplorasi metode seperti klasifikasi multi-label atau regresi ordinal, serta pengembangan sistem moderasi hibrid yang memprioritaskan area abu-abu antara teks kasar dan ujaran kebencian untuk keadilan dan akurasi yang lebih baik. KATA KUNCI: klasifikasi teks; ujaran kebencian; bahasa kasar; Support Vector Machine; Naive Bayes; media sosial Indonesia.   COMPARATIVE ANALYSIS OF NAIVE BAYES AND SUPPORT VECTOR MACHINE ALGORITHMS IN CLASSIFYING HATE SPEECH AND ABUSIVE INDONESIAN TEXT     ABSTRACT: This study examines the effectiveness of Naive Bayes and Support Vector Machine algorithms in classifying hate speech and abusive Indonesian text, aiming to understand the strengths and failure patterns of each model. The research method uses an annotated tweet dataset that undergoes specialized preprocessing and TF-IDF feature extraction. The performance of the Multinomial Naive Bayes (MNB) and Linear Support Vector Classifier (LinearSVC) models is rigorously evaluated using a holdout test set, cross-validation, and statistical significance testing. The results confirm the significant superiority of LinearSVC over MNB, with an accuracy difference of 8.7%. In-depth analysis reveals that while the model is highly accurate in identifying clean content, the main challenge lies in classifying abusive text, which is often confused with hate speech. This error pattern indicates a blurred boundary between the two categories, suggesting a continuous spectrum rather than discrete classes. The discussion affirms that LinearSVC's advantage stems from its ability to handle high-dimensional data and the linguistic complexity typical of Indonesian social media. These findings highlight the need for modeling approaches that are more sensitive to linguistic nuances and content severity gradations. The study's implications encourage the refinement of data annotation schemes, exploration of methods such as multi-label classification or ordinal regression, and the development of hybrid moderation systems that prioritize the gray area between abusive text and hate speech for greater fairness and accuracy. KEYWORDS: text classification; hate speech; abusive language; Support Vector Machine; Naive Bayes; Indonesian social media.
PEMANFAATAN LUMI EDUCATION PADA MATERI PANTUN BERBASIS ADAT DALIHAN NA TOLU DI SMK Yulira Putri Nirwana Boang Manalu; Ika Septiana; Nazla Maharani Umaya
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.474

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan LUMI Education sebagai media pembelajaran digital interaktif untuk materi pantun berbasis adat Dalihan Na Tolu di SMK Maranatha Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan triangulasi data observasi kelas, angket Likert terhadap 24 siswa kelas XI Seni Musik, dan wawancara semi-struktural dengan 5 siswa purposif serta 2 guru Bahasa Indonesia. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LUMI Education dapat menghasilkan pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Siswa menunjukkan respons positif yang tinggi dengan rata-rata skor angket 3,78 (skala 4), khususnya terhadap relevansi nilai Dalihan Na Tolu (skor 3,83). LUMI Education efektif meningkatkan minat, pemahaman struktur pantun, serta menumbuhkan rasa menghargai budaya daerah. Simpulannya, integrasi LUMI Education dengan kearifan lokal merupakan strategi pembelajaran yang inovatif dan efektif.  Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan media digital berbasis budaya lokal untuk memperkuat literasi, karakter, dan identitas peserta didik, serta mendorong inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. KATA KUNCI: LUMI Education; Pantun; Dalihan Na Tolu; Media Pembelajaran Digital; Kearifan Lokal   APPLICATION OF THE LUMI EDUCATION MODEL IN THE CONTEXT OF PANTUN MATERIAL BASED ON THE DALIHAN NA TOLU CUSTOMS IN VOCATIONAL SCHOOLS   ABSTRACT: The objective of research is to describe the use of LUMI Education as an interactive digital learning medium for Dalihan Na Tolu traditional pantun material at SMK Maranatha Sidikalang, Dairi Regency, North Sumatra. The empirical study employed a descriptive qualitative methodology, utilizing triangulation of classroom observation data, a Likert questionnaire administered to 24 students enrolled in the 11th grade Music class, and semi-structured interviews with 5 purposively selected students and 2 Indonesian language teachers. The data analysis was conducted according to the Miles and Huberman model. The findings indicated that LUMI Education is capable of facilitating interactive, contextual, and student-centered learning. The study revealed a predominantly favorable response from the student participants, with an average questionnaire score of 3.78 on a scale of 4. Notably, the relevance of Dalihan Na Tolu values received a particularly high rating, with a score of 3.83. The implementation of LUMI Education yielded significant improvements in student interest, comprehension of pantun structure, and the cultivation of an appreciation for local culture. In sum, the integration of LUMI Education with local wisdom has been demonstrated to be an innovative and effective learning strategy. The implications of this study underscore the importance of developing local culture-based digital media to strengthen the literacy, character, and identity of students, as well as to encourage innovation in Indonesian language learning that is adaptive to technological developments. KEYWORDS: LUMI Education; Pantun; Dalihan Na Tolu; Digital Learning Media; Local Wisdom  
DARI SIMBOL PERLAWANAN KE ISU DISINTEGRASI PADA PEMBERITAAN PENGIBARAN BENDERA ONE PIECE: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Aisyah Putri Rahma Siregar; Andoyo Sastromiharjo; Encep Kusumah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.476

Abstract

ABSTRAK: Studi ini mengkaji fenomena seputar pengibaran bendera One Piece salama perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80, menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) Model Fairclough untuk mengeksplorasi implikasinya. Penelitian ini menyelidiki bagaimana peristiwa ini, yang awalnya merupakan simbol perlawanan, dibingkai sebagai ancaman potensi disintegrasi nasional oleh pemerintah melalui media massa. Studi ini menganalisis wacana masyarakat dan pemerintah dari media massa dan media sosial. Analisis berfokus pada tiga dimensi: teks, diskursus, dan praktik sosial-budaya. Analisis Tekstual mengidentifikasi pola linguistik dalam tanggapan pemerintah, mengkategorikannya sebagai represif, eduaktif, dan moderat. Dimensi diskursus menganalisis bagaimana media memproduksi wacana, sedangkan dimensi sosial-budaya mengkontekstualisasikan peristiwa dalam isu-isu nasionalisme, budaya populer, dan globalisasi yang lebih luas. Data dikumpulkan dari artikel berita online (Kompas.com, Detik.com, Antara News) dan platform sosial media (Instagram, TikTok, X) antara 1-17 Agustus. Temuan mengungkapkan bentrokan antara nasionalisme yang didukung negara dan ekspresi budaya populer. Wacana pemerintah menekankan pelanggaran hukum dan etika. sebaliknya, komentar masyarakat di media sosial menafsirkan peristiwa tersebut sebagai bentuk perlawanan simbolis. Studi ini menyimpulkan bahwa pembingkaian fenomena pengibaran bendera One Piece sebagai ancaman disintegrasi adalah konstruksi diskursif dari cerminan objektif dari realitas sosial masyarakat. ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih inklusif dari partisipatif terhadap identitas nasional di era demokrasi digital. KATA KUNCI: Analisis Wacana Kritis; Budaya Populer; Nasionalisme; Norman Fairclough   FROM A SYMBOL OF RESISTANCE TO THE ISSUE OF DISINTEGRATION IN THE REPORTING OF THE RAISING OF THE ONE PIECE FLAG: AN ANALYSIS OF FAIRCLOUGH'S CRITICAL DISCOURSE.   ABSTRACT: This study examines the phenomenon surrounding the raising of the One Piece flag during the celebration of Indonesia's 80th Independence Day, using the Fairclough Model's Critical Discourse Analysis (CDA) to explore its implications. This study investigates how this event, which was originally a symbol of resistance, was framed as a threat of potential national disintegration by the government through the mass media. This study analyzes public and government discourse from mass media and social media. The analysis focuses on three dimensions: text, discourse, and socio-cultural practices. Textual Analysis identifies linguistic patterns in government responses, categorizing them as repressive, educative, and moderate. The discourse dimension examines how the media produces discourse, while the socio-cultural dimension contextualizes events in issues of nationalism, popular culture, and broader globalization. Data was collected from online news articles (Kompas.com, Detik.com, Antara News) and social media platforms (Instagram, TikTok, X) between August 1-17. The findings reveal a clash between state-backed nationalism and popular cultural expressions. The government's discourse emphasizes violations of the law and ethics. Instead, public comments on social media interpreted the event as a form of symbolic resistance. This study concludes that the framing of the One Piece flag-raising phenomenon as a threat of disintegration is a discursive construction of an objective reflection of society's social reality. This highlights the need for a more inclusive approach from participatory to national identity in the era of digital democracy. KEYWORDS: Chitical Discourse Analysis; Pop Culture; Nationalism; Norman Fairclough
Mistifikasi Bancakan dalam Alam Pikir Jawa Pedesaan pada Film Sego Berkat: Analisis Semiotika Roland Barthes jenikainge febrianti; Sucipto Hadi Purnomo; Teguh Supriyanto
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.480

Abstract

ABSTRAK: Mayoritas studi mengenai ritual bancakan berfokus pada makna ritualistik, solidaritas sosial, dan fungsi pelestarian budaya. Namun, film Sego Berkat merepresentasikan tradisi tersebut dalam nuansa mistis yang lebih kompleks. Artikel ini bertujuan menjelaskan bentuk mistifikasi bancakan dalam film Sego Berkat menggunakan kerangka semiotika struktural Roland Barthes. Metode penelitian bersifat kualitatif deskriptif dengan fokus pada simbol visual dan naratif untuk mengungkap proses mistifikasi ideologis dan pesan budaya dalam film. Analisis dilakukan dengan bantuan teori drama melalui sekuens naratif pada tiga tingkat makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil kajian menunjukkan bahwa Sego Berkat tidak hanya menggambarkan bancakan sebagai tradisi sosial, tetapi juga upaya membangun mitos spiritual. Pada level denotasi, bancakan adalah cara penyajian dan konsumsi makanan secara komunal. Pada level konotasi, bancakan bermakna perayaan kebersamaan, wujud syukur, dan upaya spiritual untuk memohon keselamatan berkah, doa, dan solidaritas, sedangkan pada level mitos, bancakan narasi ideologis tentang keharusan menjaga harmoni sosial dan spiritual melalui praktik berbagi untuk menjamin keberuntungan dan keselamatan. Dengan demikian, Bancakan memiliki makna yang lebih dari sekadar hidangan biasa, melainkan bertindak sebagai cerminan nilai spiritual dan kosmologi Jawa. Temuan ini menegaskan bahwa film tersebut mendorong penonton menginterpretasikan kembali tradisi melalui perspektif mistifikasi budaya. KATA KUNCI: Sega Berkat; Mistifikasi; Semiotika; Roland Barthes.   THE MYSTIFICATION OF BANCAKAN IN THE RURAL JAVANESE WORLDVIEW IN THE FILM SEGO BERKAT     ABSTRACT: While most studies on the bancakan ritual focus on social solidarity and cultural preservation, the film Sego Berkat presents this tradition with complex mystical nuances. This article aims to explain the mystification of bancakan in Sego Berkat using Roland Barthes’ structural semiotics. Employing a descriptive qualitative method, this study analyzes visual and narrative symbols to uncover ideological mystification and cultural messages. The analysis utilizes drama theory to examine narrative sequences across three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The results indicate that Sego Berkat portrays bancakan not merely as a social tradition but as an effort to construct a spiritual myth. At the denotative level, bancakan is communal dining. Connotatively, it signifies togetherness, gratitude, and spiritual pleas for blessings and solidarity. At the level of myth, it becomes an ideological narrative emphasizing the necessity of maintaining social and spiritual harmony through sharing to ensure safety. Thus, bancakan transcends ordinary food consumption, serving as a reflection of Javanese spiritual values and cosmology. These findings confirm that the film encourages the audience to reinterpret tradition through the perspective of cultural mystification. KEYWORDS: Sega Berkat; Mistifikasi; Semiotika; Roland Barthes.