cover
Contact Name
Arthur Huwae
Contact Email
arthur.huwae@uksw.edu
Phone
+6282237602090
Journal Mail Official
arthur.huwae@uksw.edu
Editorial Address
Gedung H-Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro No. 52-60 Kota Salatiga 50711 Jawa Tengah
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Wacana Psikokultural
ISSN : -     EISSN : 30316626     DOI : https://doi.org/10.24246/jwp.v3i1
Jurnal Wacana Psikokultural, merupakan jurnal ilmiah dalam bidang ilmu psikologi yang terbit dua kali dalam setahun. Jurnal Wacana Psikokultural menjadi sarana publikasi hasil kajian penelitian di bidang psikologi lintas budaya, secara khusus naskah artikel pengetahuan dan hasil penelitian dalam memepelajari individu dari beragam budaya. Namun demikian, jurnal Wacana Psikokultural juga menerima naskah di bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial, Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kognitif, Neuropsikologi, Psikometri, dan atau Psikologi Eksperimen
Articles 30 Documents
Kesurupan dalam Perspektif Psikologi dan Teologi Kristen: Pendekatan Multidisipliner terhadap Pemahaman Penanganan Fenomena Kesurupan Luke Setyo Anggoro
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.15326

Abstract

ABSTRACT The phenomenon of trance has become an interesting topic for research, especially from a psychological and theological perspective. This research aims to explore the experiences of individuals who have experienced possession, the role of spiritual and psychological intervention, as well as understanding Christian theology regarding this phenomenon. A qualitative approach was used with a phenomenological design, involving 10 participants selected by purposive sampling, including individuals who had experienced possession, their families, priests/clergy and psychologists. Data was collected through in-depth interviews, observations and document studies, then analyzed using thematic analysis. The research results show that trance is understood as a complex phenomenon involving spiritual, psychological and cultural aspects. Spiritual interventions such as deliverance prayers are effective in providing a sense of spiritual relief, while psychological approaches help individuals understand and manage the trance experience from a mental perspective. The Christian theological perspective emphasizes that possession can occur due to spiritual influences that require a holistic approach to recovery. The conclusion of this research is that the phenomenon of trance cannot be fully explained from one point of view alone. The combination of spiritual and psychological interventions has been proven to provide optimal results for individuals who experience them. The implications of this research show the importance of collaboration between religious leaders and mental health practitioners in handling cases of possession, as well as the need for public education to reduce the stigma of this phenomenon. Keywords: Trance, Psychology, Christian Theology
IMPLEMENTASI PROGRAM PELATIHAN HARDINESS PADA CALON KARYAWAN BARU DI RUMAH SAKIT X Anugrah Imam Sarwono Putra; Maria Prima Novita
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.15365

Abstract

Sebuah instansi tentu memiliki pekerja yang disebut sebagai karyawan. Mencari karyawan terjadi dalam proses seleksi dan rekrutmen. Namun permasalahan tentu ditemui oleh tim rekrumen, salah satunya calon karyawan yang kurang dalam ketahanan terhadap tekanan. Maka dari itu perlu diatasi dengan baik, supaya tidak memperburuk kondisi yang ada. Untuk meningkatkan kemampuan ketahanan terhadap tekanan atau hardiness diperlukan adanya program pelatihan hardiness. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan dari implementasi program pelatihan hardiness pada calon karyawan baru. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif eksperimen dengan menggunakan one group pretest-posttest design. Teknik sampling yang digunakan teknik sampling jenuh dengan partisipan sebanyak 10 calon karyawan baru rumah sakit. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program pelatihan hardiness mampu meningkatkan hardiness pada calon karyawan baru (Z = -2,153 dan sig = 0,031). Hal ini dapat menjadi bekal pada calon karyawan baru ketika bekerja sehingga calon karyawan mampu dalam menjalankan pekerjaannya.
Ketidakpercayaan Istri Terhadap Suami Akibat Berita Perselingkuhan Di Media Sosial Aziza Nanda Maulita; Nugroho Arief Setiawan; Annisa Fitriani
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.15538

Abstract

Kepercayaan dalam hubungan perkawinan merupakan faktor penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Namun, maraknya berita perselingkuhan di media sosial berpotensi mempengaruhi tingkat kepercayaan istri kepada suaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor berita perselingkuhan di media sosial terhadap kepercayaan istri kepada suami dan bagaimana istri mengatasi ketidakpercayaan tersebut. Penelitian ini fokus pada aspek keintiman, kepuasan perkawinan, dan komitmen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi, dan dokumentasi dengan partisipan yang memenuhi kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan istri dipengaruhi oleh komunikasi yang pasif, overthinking, dan pekerjaan suami yang mengharuskan mereka sering berada di luar rumah.
TINGKAT CURIOSITY (KEPO) RESPON MASYARAKAT TERHADAP TREN VIRAL di MEDIA SOSIAL Khoirun Nisa; Muna Erawati
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.17130

Abstract

Rasa penasaran atau ‘kepo’ telah menjadi bagian dari perilaku masyarakat dalam berinteraksi di media sosial. Rasa Penasaran (Curiosity) menjadi salah satu penggerak utama uang mendorong seseorang untuk belajar dan turut memengaruhi proses keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tingkat curiosity masyarakat Indonesia terhadap tren viral di media sosial serta dampak psikososial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis indigenous psychology, data dikumpulkan melalui angket terbuka online yang diisi oleh 185 partisipan berusia 14-40 tahun dari berbagai macam kalangan status pelajar, mahasiswa dan bekerja. Hasil menunjukkan 59,73% responden pernah merasa penasaran terhadap kehidupan orang lain di media sosial, dengan motivasi utama berupa kebutuhan informasi, penyesuaian sosial FOMO (Fear Of Missing Out), dan pembentukan identitas digital. Partisipasi dalam tren rata-rata bersifat selektif, dengan 71 responden yang menyatakan “Jarang”, secara alami memilih informasi Atau tren yang sesuai dengan minat, nilai, atau keyakinan mereka, dan menghindari yang tidak sesuai. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi digital untuk mengelola curiousity secara sehat dan adaptif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan instrumen pengukuran kepo yang relevan secara subkultural dan perlunya kajian lanjutan mengenai dampak psikologis dan sosial dari perilaku kepo di media sosial.
A,The Makna dan Standar Kebahagiaan Masyarakat Jawa : Makna dan Standar Kebahagiaan Masyarakat Jawa studi Psikologi Indigenous nazil fuzana; Muna Erawati
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.17133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna dan standar kebahagiaan dalam masyarakat Jawa melalui pendekatan psikologi indigenous. Kebahagiaan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia yang sering kali dimaknai secara berbeda oleh tiap individu, tergantung pada latar budaya dan pengalaman hidupnya. Menggunakan metode kualitatif dengan teknik angket terbuka dan pendekatan analisis isi, penelitian ini melibatkan 130 responden dari berbagai usia dan latar belakang pekerjaan di Pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memaknai kebahagiaan sebagai kondisi batin yang tenang dan nyaman (34,62%), serta rasa syukur dan keikhlasan (16,15%). Faktor utama yang membuat individu merasa bahagia adalah keberadaan keluarga (70,77%), disusul oleh orang terdekat dan diri sendiri. Alasan utama pentingnya kebahagiaan dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental, serta peningkatan kualitas hidup. Temuan ini menegaskan bahwa makna kebahagiaan masyarakat Jawa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya lokal seperti harmoni sosial (rukun), penerimaan (nrimo), dan rasa syukur (syukur). Penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman kontekstual dalam melihat kebahagiaan sebagai bagian dari kesejahteraan psikologis, sehingga intervensi yang dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan nilai dan budaya lokal.
Sunyi di Tengah Keramaian: Makna Pengalaman Phubbing bagi Mahasiswa dalam Interaksi dengan Teman Sebaya Sinta Puspita Sari; Suwanda Priyadi
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18026

Abstract

Di era digital yang semakin terhubung, banyak individu justru merasa terputus karena kehadiran digantikan oleh layar ponsel. Penelitian ini mengkaji fenomena phubbing, yaitu tindakan mengabaikan interaksi tatap muka karena fokus pada ponsel, dalam konteks relasi sosial mahasiswa dengan teman sebaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi perilaku phubbing dalam interaksi mahasiswa. Partisipan terdiri dari empat mahasiswi Fakultas Psikologi di Surakarta berusia 18–23 tahun, pengguna aktif media sosial, dan menggunakan ponsel lebih dari lima jam per hari. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi, pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur dan observasi, serta analisis data menggunakan DPA (Descriptive Phenomenological Analysis). Hasil penelitian menghasilkan lima tema utama: makna kehadiran penuh, kebutuhan akan lingkungan sosial yang nyaman, penggunaan ponsel sebagai regulasi emosi dalam interaksi sosial, kesadaran akan dampak penggunaan ponsel, dan refleksi diri serta empati sebagai penggerak perubahan sikap. Phubbing tidak hanya mengganggu komunikasi verbal, tetapi juga menimbulkan luka emosional seperti perasaan tidak dihargai dan terputusnya koneksi sosial. Kesadaran dan empati mendorong partisipan untuk membangun interaksi yang lebih hangat dan bermakna. Temuan ini berkontribusi dalam mendorong budaya komunikasi digital yang lebih sehat di lingkungan pendidikan tinggi.
Gambaran Relasi Sosial antara Penerima Manfaat Wanita Tuna Susila dengan Pekerja Sosial Ananda Ayu Rama Astika; Agung Iranda; Dessy Pramudiani
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan relasi sosial serta faktor- faktor yang memengaruhi interaksi antara penerima manfaat Wanita Tuna Susila (WTS) dengan pekerja sosial Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, melibatkan partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling, terdiri dari penerima manfaat WTS dan pekerja sosial. Data dikumpulkan melalui observasi serta wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi sosial terbentuk melalui delapan tema utama, yaitu bimbingan, fasilitasi, kedekatan, kepercayaan, penolakan, penguatan, komunikasi, dan kerja sama. Faktor-faktor yang memengaruhi relasi tersebut mencakup profesionalisme pekerja sosial dalam memberikan layanan serta kondisi internal penerima manfaat, seperti kesiapan dan keterbukaan dalam proses rehabilitasi. Dengan demikian, relasi sosial antara penerima manfaat dan pekerja sosial dimaknai sebagai proses dinamis yang dipengaruhi oleh interaksi dua arah serta faktor kontekstual, yang berperan penting dalam mendukung keberhasilan rehabilitasi.
Dampak Fatherless Pada Emosi Anak Remaja Nadiatul Hikmah; Sri Nurhayati Selian
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18484

Abstract

Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah semakin banyak dijumpai di masyarakat modern, terutama akibat perceraian, kematian, atau ketidak terlibatan emosional ayah dalam keluarga. Kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan emosi dan kepribadian remaja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman emosional remaja yang hidup tanpa kehadiran ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap tiga remaja berusia 15–16 tahun di Banda Aceh. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami kondisi fatherless bukan hanya berdampak pada aspek sosial dan akademik tetapi juga berdampak pada emosional yang beragam, mulai dari penarikan diri, kemarahan, hingga ekspresi kreatif, selain itu remaja farherless juga bergantung pada protektif lingkungan dan strategi coping individu. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan emosional keluarga dan layanan konseling bagi remaja fatherless agar mampu membangun keseimbangan emosi, konsep diri positif, serta resiliensi dalam menghadapi tantangan perkembangan psikologisnya  
Persepsi Generasi Z terhadap Tantangan Pembentukan Identitas Nasional di Era Digital: Studi Kualitatif Deskriptif Fredo Sinaga
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi Generasi Z mengenai tantangan pembentukan identitas nasional di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan lima mahasiswa berusia 18-22 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal tiga jam per hari. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama, yaitu identitas nasional dianggap penting namun masih abstrak dalam penerapannya; media sosial menjadi agen pembentuk identitas yang dominan; paparan budaya global memberikan peluang sekaligus tantangan bagi penguatan identitas nasional; serta adanya kebutuhan pengemasan budaya Indonesia agar lebih modern dan sesuai dengan tren digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Z memiliki kesadaran mengenai identitas nasional, namun internalisasi nilai masih belum stabil akibat adanya kompetisi budaya pada ruang digital. Temuan ini menekankan pentingnya inovasi pendidikan kewarganegaraan dan strategi digital budaya untuk memperkuat identitas nasional di kalangan generasi digital native..
EFEKTIVITAS PROGRAM SQ3R TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN MEMBACA SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR Arthur Huwae; Putri Pratiwi Lessy; Dhenisa Titis Eksa Putri; Ruby Bulan Prabandari; Ruly Feby Kurniasari; Anugrah Imam Sarwono; Yemima Joy Christina; Darrel Samuel Maukar; Yemima Claudya Br Sembiring; Shella Monica Santoso; Bencarel Reinhard Soputan Vici; Rizky Chandra
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.19545

Abstract

The inability to read is one of the major problems frequently encountered in elementary school education, particularly among upper-grade students. This condition can have significant consequences when students continue their education to the next level. One approach considered effective in improving reading ability is the application of the SQ3R strategy. This study aims to enhance the reading comprehension of sixth-grade students at SDN Kutowinangun 8 Salatiga through SQ3R training methods. The research employed a quantitative experimental approach using a one-group pretest–posttest design. A total of 35 sixth-grade students participated in this study. The instruments used included an SQ3R training module as well as pretest and posttest sheets to measure improvements in students’ reading comprehension. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results indicate that SQ3R training is effective in improving the reading comprehension of sixth-grade students at SDN Kutowinangun 8 Salatiga. These findings suggest that reading comprehension is a crucial skill for sixth-grade students at SDN Kutowinangun 8 Salatiga, as it helps them adapt to subsequent levels of education.

Page 3 of 3 | Total Record : 30