cover
Contact Name
Pharmascience
Contact Email
dita.sandi@ulm.ac.id
Phone
+6285189393438
Journal Mail Official
jps@ulm.ac.id
Editorial Address
https://pharmascience.ulm.ac.id/index.php/pharmascience/about
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Journal of Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : https://doi.org/10.20527/jps.v13i1
Core Subject :
ournal of Pharmascience accepts scientific articles as original reasearch articles and review articles on pharmacy and health. Journal of Pharmascience publishes various scientific articles covering Pharmacy and Pharmaceutical Sciences in the field but not limited to: Clinical Pharmacy Community Pharmacy Pharmacology Natural Pharmacy Pharmaceutical Chemistry Pharmaceutical Technology Pharmaceutical Management Pharmaceutical Education Apart from the topics above, the Journal of Pharmascience also accepts other manuscripts in the health field, such as: Validation and development of analytical methods for a variety of samples, including food Implementation and analysis of a variety of surveys related to medical therapy, disease, health procedures, and other aspects of health
Arjuna Subject : -
Articles 362 Documents
Antioksidan Daun Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B&K) Dwi Rizki Febrianti; Rakhmadhan Niah; Novia Ariani
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9108

Abstract

Daun Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B & K) merupakan salah satu tumbuhan endemik Kalimantan Selatan. Secara turun temurun digunakan sebagai obat tradisional Dayak Meratus sebagai obat diare, demam, dan malaria. Tanaman ini dicurigai memiliki nilai antioksidan tinggi karena mengandung metabolit skunder fenolik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun E. inulifolium serta nilai IC50-nya. Penelitian ini menggunakan metode DPPH dengan instrumen spektofotometri UV-vis dengan panjang gelombang 517 nm. Dari hasil perhitungan dan replikasi nilai IC50 yang didapat sebesar 38,9 ppm. Ekstrak daun E. inulifolium memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dalam meredam radikal bebas. Kata Kunci: Daun, Potensi Antioksidan, Endemik, IC50, Ekstrak Etanol, Fenolik Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B & K) leaves are one of the endemic plants of South Kalimantan. From generation to generation it is used as a traditional medicine for Dayak Meratus as a medicine for diarrhea, fever, and malaria. This plant is suspected of having high antioxidant value because it contains phenolic secondary metabolites. The purpose of this study was to determine the antioxidant activity of the methanol extract of E. inulifolium leaves and its IC50 value. This study used the DPPH method with spectophotometer UV-vis instrument at wavelength of 517 nm. From the calculation and replication, the IC50 value obtained is 38.9 ppm. E. inulifolium leaf extract has very strong antioxidant activity in reducing free radicals. 
Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Batang Saluang Belum (Luvunga sarmentosa Kurz) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes Rezqi Handayani; Nurul Qamariah; Muhammad Izmiansyah
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9111

Abstract

Saluang Belum (Luvunga sarmentosa Kurz) adalah tumbuhan yang dikenal sebagai obat tradisional di Kalimantan Tengah. Batang L. sarmentosa Kurz dipercayai memiliki manfaat secara empiris sebagai antioksidan yang dimanfaatkan sebagai anti-aging (anti penuaan dini). Batang L. sarmentosa Kurz mengandung metabolit sekunder yaitu tanin, saponin, steroid dan flavonoid yang diduga memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Berdasarkan khasiat empiris dan kandungan metabolit sekunder yang ada dalam tumbuhan L. sarmentosa Kurz, maka dilakukan penelitian tentang aktivitas daya hambat ekstrak etanol tumbuhan ini terhadap bakteri P. acnes yang merupakan salah satu bakteri penyebab jerawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas daya hambat ekstrak etanol batang L. sarmentosa Kurz terhadap bakteri P.acnes. Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dari pengambilan simplisia, pembuatan ekstrak etanol dengan metode perkolasi dan uji daya hambat dengan menggunakan metode Disk Difusion yang menggunakan kontrol positif antibiotik klindamicin. Analisis data dilakukan dengan membandingkan lebar zona hambat dari ekstrak etanol batang L. sarmentosa Kurz  dengan kategori penghambatan antimikroba klindamisin berdasarkan diameter zona hambat dari Clinical and Laboratory Standards Institute.  Hasil uji daya hambat didapatkan zona hambat ekstrak etanol batang Saluang Belum pada semua konsentrasi 0,5%, 1%, 5%, 10% dan 15% secara berturut-turut yaitu  Intermediate, Resistant, Intermediate, Susceptible dan Susceptible dan hasil dari zona hambat klindamicin pada semua konsentrasi 0,5%,1%,5%,10%,dan 15% adalah susceptible. Simpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etanol batang L. sarmentosa Kurz mempunyai kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri P.acnes.           Kata Kunci: Obat Tradisional, Jerawat, Uji Daya Hambat, Propionibacterium acnes, Batang Saluang Belum Saluang belum (Luvunga sarmentosa Kurz) is one of traditional medicine in Central Kalimantan. The stem of L. sarmentosa Kurz is believed to have empirical benefits as an antioxidant which is used as anti-ageing (anti-ageing). The stem of L. sarmentosa Kurz contains secondary metabolites, namely tannins, saponins, steroids and flavonoids which are thought to have antibacterial activity. Based on the empirical properties and the content of secondary metabolites in L. sarmentosa Kurz, a study was conducted on the inhibitory activity of this plant's ethanol extract against P. acnes, which is one of the bacteria that causes acne. The purpose of this study was to determine the inhibitory activity of the ethanol extract of L. sarmentosa Kurz stem against P.acnes bacteria. The research method carried out in this study started from taking simplicia, making ethanol extract using the percolation method and the inhibition test using the disk diffusion method which used a positive control of the clindamycin antibiotic. Data analysis was performed by comparing the inhibition zone width of the ethanol extract of L. sarmentosa Kurz stem with the clindamycin antimicrobial inhibition category based on the inhibition zone diameter of the Clinical and Laboratory Standards Institute. The results of the inhibition test obtained the inhibition zone of Saluang Belum stem ethanol extract at all concentrations of 0.5%, 1%, 5%, 10% and 15% respectively, Intermediate, Resistant, Intermediate, Susceptible and Susceptible and the results of the inhibition zone. Clindamycin at all concentrations of 0.5%, 1%, 5%, 10%, and 15% are susceptible. This research concludes that the ethanol extract of L. sarmentosa Kurz stem can inhibit the growth of P.acnes bacteria.
Review: Telaah Kandungan Senyawa Katekin dan Epigalokatekin Galat (EGCG) sebagai Antioksidan pada Berbagai Jenis Teh Zahra Hasna Fadhilah; Farid Perdana; Raden Aldizal Mahendra Rizkio Syamsudin
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9122

Abstract

Katekin merupakan senyawa bioaktif dengan kerangka flavan-3-ol dan menjadi senyawa utama penentu mutu serta dapat memberikan rasa pahit yang khas pada teh. Senyawa turunan katekin yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan paling kuat dan melimpah yaitu epigalokatekin galat. Tujuan dari review artikel ini yaitu untuk mengetahui kandungan senyawa katekin dan epigalokatekin galat sebagai antioksidan pada berbagai jenis teh berdasarkan nilai IC50.Metode penulisan review artikel ini dilakukan dengan mencari serta menganalisis studi pustaka dari beberapa jurnal yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan pada berbagai jenis teh dengan penelusuran terhadap senyawa katekin, khususnya epigalokatekin galat. Hasil review menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan pada pengolahan jenis teh seperti teh hijau, teh oolong, dan teh hitam memiliki perbedaan yang cukup signifikan yang dapat dilihat dari kandungan senyawa katekin dan EGCG dimana semakin besar kandungan senyawa tersebut, maka aktivitas antioksidannya semakin tinggi. Selain itu, tingginya aktivitas antioksidan dapat dilihat dari nilai IC50. Semakin rendah nilai IC50, maka aktifitas antioksidan akan semakin tinggi. Teh hijau terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi diantara teh lainnya dengan kandungan katekin sebesar 10,04% dan epigalokatekin galat sebesar 3,28% serta nilai IC50 yang paling rendah yaitu 58,61 µg/mL. Kata Kunci: Katekin, Teh Hijau, Teh Oolong, Teh Hitam, Antioksidan Catechins are bioactive compounds with a flavan-3-ol structure and become a major determinant of quality compounds and can give a distinctive bitter taste of tea. Catechin derivative compounds that have the antioxidant activity as the strongest and abundant are epigallocatechin gallate. The purpose of this article review was to determine the content of catechins and epigallocatechin gallate compounds as an antioxidant in various types of tea based on the IC50 value. The method of writing of this article review was carried out by searching and analyzing literature studies from several journals related to antioxidant activity in various types of tea by tracing catechin compounds, especially the epigallocatechin gallate. The results of the review showed that the antioxidant activity in the processing of types of tea such as green tea, oolong tea, and black tea has significant differences which could be seen from the content of catechins and EGCG compounds where the greater the content of the compounds, the higher the antioxidant activity. Also, the high antioxidant activity can be seen from the IC50 value. The lower the IC50 value, the higher the antioxidant activity. Green tea shows to have the highest antioxidant activity among other teas with a catechin content of 10.04% and an epigallocatechin gallate of 3.28% and the lowest IC50 value of 58.61 µg/mL.
Skrining Fitokimia dan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Binjai (Mangifera caesia) Terhadap Bakteri Escherichia coli Occa Roanisca; Robby Gus Mahardika
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.9166

Abstract

 Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang dapat menimbulkan infeksi saluran kemih, saluran empedu,  penyakit serius lainnya di rongga perut, dan keracunan makanan yang ditandai dengan diare. Penyakitinfeksiyang disebabkan oleh bakteri dapat diobati dengan mengonsumsi antibiotik. Akan tetapi, resistensi bakteri terhadap antibiotik telah dilaporkan. Oleh karena itu perlunya pencarian obat dari bahan alami. Berdasarkan kajian literatur, Binjai (Mangifera caesia) telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri daun binjaiasal Bangka terhadap bakteri Eschericha coli.  Metode ekstraksi pada penelitian ini adalah maserasi dengan pelarut etanol 96% selama 3 x 24 jam. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan pereaksi,dan pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Berdasarkan hasil pengujian fitokimia didapatkan bahwa ekstrak etanol daun binjaididuga mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin/fenol hidrokuinon, steroid, terpenoid dan saponin. Ekstrak etanol daun binjaimampu menghambat pertumbuhan bakteri E. colipada konsentrasi 20% dengan diameter zona beningsebesar 3.94 mm, konsentrasi 40% sebesar 5.38 mm, konsentrasi 60% sebesar 5,82 mm, serta pada konsentrasiekstrak 80% membentuk zona beningsebesar 6,90 mm.Berdasarkan data tersebut bioaktivitas antibakteri ekstrak daun binjai tergolong sedang. Kata Kunci: Mangiferacaesia, Escherichia coli, Antibakteri Escherichia coli is a Gram-negative bacteria that can cause urinary tract infections, bile ducts, other serious diseases in the abdominal cavity, and food poisoning characterized by diarrhea. Infectious diseases caused by bacteria can be treated by taking antibiotics. However, bacterial resistance to antibiotics has been reported. Therefore, it is necessary to search for drugs from natural ingredients. Based on literature review, Binjai (Mangifera caesia) has been reported to have antibacterial activity. The purpose of this study was to determine the content of secondary metabolites and antibacterial activity of Bangka binjai leaves against Eschericha coli bacteria. The extraction method in this study was maceration with ethanol for 3 x 24 hours. Phytochemical screening was carried out qualitatively using reagents, and antibacterial testing using the disc diffusion method. Based on the results of phytochemical testing, it was found that the ethanol extract of binjai leaves contained secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, tannins / phenol hydroquinones, steroids, terpenoids and saponins. Binjai leaf ethanol extract was able to inhibit the growth of E. coli bacteria at the concentration of 20% with a clear zone diameter of 3.94 mm, concentration of 40% of 5.38 mm, concentration of 60% of 5.82 mm, and concentration of 80% extractforming a clear zone of 6.90 mm. Based on these data, binjai leaves have the potential to be used as an antibacterial drug.
Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) Terhadap Ekstrak Etanol Kulit Buah Durian (Durio zibethinnus L.) dari Desa Alasmalang Kabupaten Banyumas Eko Prasetyo; Naelaz Zukhruf Wakhidatul Kiromah; Titi Pudji Rahayu
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9200

Abstract

Kulit durian merupakan bagian tanaman yang pernah diteliti sebelumnya dan mempunyai aktivitas farmakologi sebagai antioksidan. Kulit durian mengandung metabolit sekunder yaitu flavonoid, tanin dan alkaloid. Kulit durian diekstrak menggunakan pelarut etanol 70% dengan metode sokletasi.  Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode pengukuran penangkapan radikal bebas oleh 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Vitamin C digunakan sebagai kontrol positif dengan nilai IC50 5,63 ppm dan ekstrak etanol sebesar 204,33 ppm. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit durian tidak memiliki aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Kata Kunci: Durian, Sokletasi, DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil), antioksidan, IC50  Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) have  been studied previously and reported to have phramacological activity that has the potential to be antioxidant. The durian fruits peels, contained secondary metabolite, namely flavonoids, tannin and alkaloid. Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) were extracted with ethanol 70% with soxletation method. The antioxidant activity of extracts were evaluated by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) free radical scavenging activity assay. Vitamin C was used as standard with IC50 5,63 ppm and the ethanol eztracts showed IC50 204,33 ppm. This study provided that Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) cannot inhibit free radical usimg the DPPH method. 
Percepatan Penutupan Luka Sayat pada Tikus Putih Akibat Pemberian Perasan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Elisabeth Natalia Barung; Rifny Wungow; Donald Emilio Kalonio
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9333

Abstract

Rimpang Temulawak atau Curcuma xanthorriza Roxb. adalah tanaman yang dikenal luas oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Rimpang temulawak mengandung kurkumin dan xanthorrizzol, yang diketahui mampu mempercepat penutupan luka di kulit dan juga memiliki efek antibakteri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui efektifitas perasan rimpang temulawak terhadap percepatan penutupan luka sayat pada tikus putih. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan subyek 10 ekor tikus putih yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok yang diberi perasan temulawak dan kelompok kontrol negatif yang tidak diberi perlakuan. Data dikumpulkan dengan mengukur panjang luka tikus menggunakan alat ukur penggaris dan dihitung persentasi penutupan luka. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear dan nilai slope (b) dinyatakan sebagai kecepatan penutupan luka. Hasil penelitian ini, menunjukan bahwa rimpang temulawak mampu mempercepat penutupan luka sayat sebesar 15,262%/hari dibandingkan kelompok yang tidak diberi perlakuan sebesar 13,54%/hari. Kata Kunci: Perasan Rimpang Temulawak, Luka Sayat, Percepatan Penutupan Luka, Sediaan Sederhana, Obat Tradisional Indonesia Curcuma xanthorrhiza Roxb. is a plant that is widely known by the community as traditional medicine. The rhizome of C. xanthorrhiza contains curcumin and xanthorrhizol, which are known to be able to accelerate wound healing on the skin and also has antibacterial and anti-inflammatory effects. This study was aimed to determine the effectiveness of C. xanthorriza rhizome on the acceleration of incision wound healing on white rats. This study was an experimental study, with 10 white rat subjects divided into two treatment groups, namely the treatment group which was given by C. xanthorriza rhizome and the negative control group that was not treated. Data were collected by measuring rat wound length using a ruler and calculating the percentage of wound healing. By using linear regression analysis and the value of the slope (b) is expressed as the acceleration of wound healing. The results of the study showed that C. xanthorrhiza rhizome was able to accelerate incision wound healing by 15.262% / day compared to the untreated group of 13.54% / day.
Uji Karakteristik Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) dengan Variasi Karbopol dan HPMC Nurlely Nurlely; Aulia Rahmah; Prima Happy Ratnapuri; Valentina Meta Srikartika; Khoerul Anwar
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.9346

Abstract

Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata L) mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, antrakuinon, glikosida dan terpenoid yang secara empiris digunakan sebagai obat luka. Gel merupakan sediaan farmasi yang lebih mudah diaplikasikan secara topical, tidak berminyak dan mudah untuk dibersihkan untuk menyembuhkan luka yang menggunakan gelling agent HPMC dan Karbopol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi konsentrasi HPMC dan karbopol terhadap karakteristik fisik sediaan gel ekstrak etanol daun kirinyuh (C. odorata). Sediaan gel dibuat dengan menggunakan ekstrak etanol daun kirinyuh 0,5% dan gelling agent HPMC dan karbopol dengan variasi konsentrasi dalam 3 formula serta bahan tambahan gel lainnya. Perbandingan HPMC dan karbopol untuk formula 1,2 dan 3 berturut-turut adalah : 70%:30% ; 50%:50% dan 30%:70%. Setelah itu dilakukan uji karakteristik fisik yaitu organoleptis, homegenitas, daya sebar, daya lengket, viskositas dan pH untuk ketiga formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan gel pada ketiga formula adalah berwarna hijau olive, berbau khas, konsistensi kental hingga sangat kental, homogen, daya sebar : 5,8-8,6 cm, daya lekat; 2,19-6,76 detik, viskositas: 3600-18000 cps dan pH: 5,1 – 5,88. Pada formula 1 dihasilkan daya sebar dan daya lekat yang belum memenuhi persyaratan sediaan gel yang baik sedangkan formula 2 dan 3 telah memenuhi semua persyaratan pada hasil uji karakteristik fisik sediaan gel. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa HPMC dan Karbopol memberikan pengaruh terhadap karakteristik sediaan gel ekstrak etanol daun kirinyuh (C. odorata). Kata Kunci: Kirinyuh, Gel, Karakteristik Fisik         Kirinyuh leaves (Chromolaena odorata L) containing alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, anthraquinone, glicoside and terpenoid possess an activity as wound healing empirically. Gel is one of pharmaceutical preparations containing HPMC and Carbopol as gelling agents. It is also cosmetically acceptable, tends to be drying easily, and can be easily removed from the skin. This research aimed to determine the effect of gel of ethanol extract of Kirinyuh leaves (C. odorata) contained various concentrations of gelling agent of HPMC and Carbopol in 3 formulas. Gel was formulated with 0.5% ethanol extract of Kirinyuh leaves (C. odorata) and used variation concentration of gelling agent of HPMC and Carbopol in formula 1, 2 and 3 of 70%:30% ; 50%:50% and 30%:70% respectively. Physical characteristics of gel included organoleptic, homogeneity, spreadability, adhesion, viscosity and pH value were analysed for all formulas. All prepared gels were acceptable in organoleptic tests, homogeneity test, speadibility : 5,8-8,6 cm, adhesion: 2. 19-6.76 sec, viscosity: 3600-18000 cps and pH: 5.1 – 5.88. Spreadibility and adhesion in Formula 1 did not meet al..l of the requirements for good gel formulations while Formula 2 and 3 have met al..l of the requirements. Therefore, it can be concluded that HPMC and Carbopol possess an effect on the physical characteristics of gel of ethanol extract of kirinyuh leaves (C. odorata)
Pola Pemberian Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB Tahun 2017 Mia Cahya Lestari; Raisya Hasina; Ni Made Amelia Ratnata Dewi
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9444

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang diderita oleh pasien usia lanjut (geriatri) dengan persentase kejadian terbanyak yaitu sebesar 57,6%. Hipertensi pada pasien geriatri dapat disebabkan karena penurunan fungsi organ, sehingga akan lebih rentan terkena penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pola pemberian antihipertensi serta kesesuaian pengobatan hipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB tahun 2017. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan metode pendekatan observasional secara retrospektif terhadap pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB. Pengambilan data dilakukan dengan metode Total sampling terhadap 97 pasien geriatri. Data yang diperoleh dari bagian rekam medik dan resep ditabulasi dengan software microsoft excel. Setelah dilakukan penelitian didapatkan bahwa terapi untuk hipertensi didominasi oleh obat dengan dua kombinasi yaitu amlodipin dan valsartan (88%). Obat tunggal didominasi oleh amlodipin (75%). Kesesuaian peresepan dilihat dari dosis dan frekuensi terapi antihipertensi telah sesuai 100% dengan pedoman pengobatan, namun jenis obat yang digunakan hanya mencapai 99% dilihat dari pemberian kombinasi 3 antihipertensi dengan kombinasi golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (captopril) dan golongan Angiotensin Receptor Blocker (candesartan) yang menimbulkan potensi interaksi mayor dan efek samping (1%). Kata Kunci: Hipertensi, Geriatri, Pola Pemberian Obat.  Hypertension is a disease that affects geriatric with the highest percentage of incidence was 57.6%. Hypertension in geriatric patients can be caused by decreased organ function, so they are more susceptible to disease. The purpose of this study was to describe the pattern of antihypertensive drugs also the appropriateness of hypertension therapy in geriatric patients. This study was held in the inpatient Installation of the NTB Provincial Hospital in 2017. The design of this study was descriptive by collecting data retrospectively on 97 geriatric patients. The data obtained from the medical record and prescription sections were processed using Microsoft Excel software. The result showed that the therapy for hypertension was dominated by combination drugs which consist of amlodipine and valsartan (88%) and single drugs were dominated by amlodipine (75%). The appropriateness of prescription was seen from the dosage and frequency in the main therapy (hypertension) was 100% according to the treatment guidelines, but the type of drug that used was only 99% which seen from the giving combination of 3 antihypertensive drugs of Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor (captopril) and Angiotensin Receptor Blocker (candesartan) groups which caused interactions major and side effects (1%).
Socio-Demografi Dalam Pengendalian HBA1C Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Sidoarjo Khurin In Wahyuni; Martina Kurnia Rohmah Rohmah; Herni Setyawati
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.9506

Abstract

Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolit yang disebabkan oleh kurangnya insulin atau insulin yang resisten. Penurunan 1 persen HbA1c menurunkan 30-40% risiko komplikasi, Faktor-faktor ini mungkin berbeda dari satu populasi kepada orang lain berdasarkan Jenis kelamin, Lama menderita, Umur, Tingkat pendidikan, dan Riwayat DM, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan socio demografi terhadap pengendalian HbA1c di Sidoarjo. Penelitian menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan instrument kuesioner dan HbA1c kit, hasil didapatkan bahwa Jenis Kelamin, lama menderita, umur, tingkat pendidikan dan riwayat DM tidak memiliki hubungan dengan pengendalian HbA1c (P>0,05) namun edukasi dan pengecekan HbA1c memiliki hasil signifikan terkait pengontrolan HbA1c (P<0.05).Kata Kunci: HbA1c, Socio Demografi, DM Tipe 2, Kontrol Glikemik, Pengendalian Gula DarahDiabetes Mrllitus is a metabolic disease caused by a lack of insulin or insulin resistance. Reduction of 1 % HbA1c could reduces 30-40% risk of complications. These factors may differ from one population to another based on gender, long-suffering, ages, level of education and historical of the disease, therefore this research aims to assess the relationship between the socio demographic and HBA1C control in Sidoarjo. The study used an observational analytic method with a cross sectional approach with a questionnaire instrument and HbA1c kit, the results showed that gender, long-suffering , ages, level of education and historical of the disease did not have a relationship with HbA1c control (P> 0.05) but education and HbA1c checking had significant results regarding HbA1c control (P <0.05).
Evaluasi Mutu Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan Ratih Anggraeni; Roby Pahala Januario Gultom
Journal of Pharmascience Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9608

Abstract

Pengelolaan obat pada instalasi farmasi rumah sakit merupakan bagian dari pelayanan kefarmasian yang harus terjamin mutunya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan mutu pengelolaan obat di instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia (RSUIPI) Medan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif periode bulan Maret sampai Mei tahun 2020. Data dikumpulkan melalui wawancara tenaga kefarmasian dan observasi di instalasi farmasi RSUIPI Medan. Indikator aspek pengelolaan obat diukur dari sumber daya manusia, perencanaan obat, pengendalian persediaan obat, penyimpanan obat, serta sarana dan prasarana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan obat, pengendalian persediaan obat, penyimpanan obat, serta sarana dan prasarana sudah memenuhi ketentuan dalam Permenkes RI Nomor 58 tahun 2014. Walaupun demikian, sumber daya manusia masih belum tercukupi sesuai ketentuan peraturan tersebut. Maka dari itu, kesimpulan dari penelitian ini bahwa mutu pengelolaan obat di instalasi farmasi RSUIPI Medan belum memenuhi ketentuan mutu, terutama pada aspek jumlah SDM.  Kata Kunci: pengelolaan obat; instalasi farmasi; apoteker rumah sakit; pelayanan kefarmasian  Drug management in pharmacy installation is a part of pharmacy services whose quality must be guaranteed. The purpose of this study was to determine the quality of drug management in the pharmacy installation at the General Hospital Imelda Pekerja Indonesia (RSUIPI) Medan. This study was a descriptive study for the period March-May 2020. Data were collected through interviews with pharmacy personnel and observations at the Pharmacy Installation of RSUIPI Medan. Indicators of drug management aspects are measured from human resources, drugs planning, drug supply control, drug storage, facilities, and infrastructure. The results showed that the drugs planning, controlling drug supply control, drug storage, facilities, and infrastructure had met the requirements in Permenkes RI No 58 (2014). Meanwhile, human resources are still insufficient according to provisions of this regulation. Therefore, the conclusion of this study was that the quality of drug management in the pharmacy installation at RSUIPI Medan has not met the quality requirements, especially in the aspect of the number of human resources.