cover
Contact Name
Pipin Firdaus
Contact Email
pipin@upi.edu
Phone
+6285135062385
Journal Mail Official
abmas@upi.edu
Editorial Address
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Setiabudhi No. 229, Isola, Sukasari Kota Bandung, Jawa Barat 40154 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Abmas
ISSN : 14121891     EISSN : 27981436     DOI : https://doi.org/10.17509/abmas
Core Subject :
Jurnal Abmas is a peer‑reviewed community‑service journal published by the Directorate of Research and Community Service (DPPM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). The journal disseminates results of Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) that address pressing socio‑economic, environmental, and educational challenges in Indonesia and other emerging countries, with explicit relevance to the Sustainable Development Goals (SDGs). By documenting innovative, context‑sensitive service projects, the journal aims to strengthen the link between university‑based community engagement and sustainable development at local, national, and global levels.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
Sukses wirausaha sukes profit Ikaputera Waspada
Jurnal Abmas Vol. 4 No. 1 (2004): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v4i1.67

Abstract

Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan pendapatan rendah, daya beli masyarakat rendah, harga barang-barang dan kebutuhan pokok mengalami kenaikan, kemampuan berproduksi menurun, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat. Banyak dari mereka yang bertahan bertahun-tahun dalam menjalankan kegiatan usaha ini, sehingga usaha kecil dapat tumbuh dan berkembang di masa krisis ekonomi ini. Kemampuan usaha kecil yang kuat menghendaki perolehan profitabilitas, kesinambungan usaha yang berkelanjutan yang terjamin. Usaha kecil meraih profit usaha memegang peranan sangat penting dalam membentuk perekonomian nasional. Diduga UKM merupakan bagian dari hidden economy, artinya ada aktivitas ekonomi yang tak terlaporkan yang berkaitan dengan aktivitas produksi di rumah tangga dan aktivitas lainnya yang tak terdaftar, sehingga marginal propensity to consume (MPC) justru berbanding terbalik dengan pendapatannya. Usaha kecil sebagai wirausaha merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan secara intuisi dalam melihat dan mengelola setiap peluang yang ada, yaitu kesempatan usaha yang dimanfaatkannya untuk meraih keuntungan menuju kesuksesan dan berani mengambil risiko yang diperlukan untuk mengorganisasikan dan mengelola suatu bisnis dan menerima imbalan balas jasa berupa profit finansial.
Pengabdian pada masyarakat oleh mahasiswa seni rupa sebagai kegiatan belajar untuk membangun budaya kewirausahaan Zakarias S. Soeteja
Jurnal Abmas Vol. 4 No. 1 (2004): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v4i1.68

Abstract

Dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), peran mahasiswa seni rupa umumnya tampak pada berbagai perangkat desa dan kegiatan yang berhubungan dengan kesenirupaan. Kebiasaan ini kemudian menjadi pola yang seolah-olah mentradisi diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Sebagai sebuah kegiatan belajar, pola yang mentradisi ini pada kenyataannya kurang memberikan manfaat, khususnya di pihak mahasiswa. Sejak diperkenalkannya model Kuliah Kerja Usaha (KKU) dengan sasaran perusahaan atau industri kecil, mahasiswa seni rupa mendapat peluang untuk memperoleh pengalaman yang lebih bermanfaat. Dengan memperhatikan berbagai faktor belajar berkenaan dengan KKU sebagai sebuah kegiatan akademik, maka diharapkan dapat disusun desain program yang lebih komprehensif untuk mencapai tujuan yang diharapkan, menumbuhkan sikap kemandirian dan mengembangkan budaya kewirausahaan di kalangan mahasiswa dan mendorong pengusaha kecil untuk lebih meningkatkan kualitas produksinya.
Kuliah Kerja Nyata mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia perkembangan kognisi sosial, kredibilitas dan daya tarik Ade Sadikin Akhyadi
Jurnal Abmas Vol. 4 No. 1 (2004): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v4i1.69

Abstract

Kuliah Kerja Nyata di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia) sudah dimulai sejak tahun 1975 berjalan kurang lebih 29 tahun dalam dasawarsa sekarang ini sudah banyak perubahan terjadi baik pada IKIP menjadi UPI, peraturan pemerintah, perundang-undangan, BHMN, otonomi daerah dan termasuk masyarakat pun telah mengalami perubahan yang berarti. Tonggak baru pada perjalanan dan perkembangan perguruan tinggi berimbas pada program perkembangan KKN. Dua perkembangan besar itu, memberikan dorongan bahwa KKN sudah waktunya ditinjau ulang secara mendasar, untuk mengevaluasi segala aspek keberadaannya dan untuk mencari gagasan baru bagi pengembangannya ke masa depan. Dari pengalaman pelaksanaan KKN dalam 29 tahun terakhir ini, muncul beberapa isu sejalan dengan pendapat (Ginanjar Kartasasmita, 2001): 1) dana tidak cukup; 2) respons dari pemerintah daerah beragam; 3) ada kejenuhan dalam pelaksanaan KKN; 4) ada perubahan sikap mahasiswa terhadap KKN; 5) kerjasama KKN antar perguruan tinggi belum efektif; 6) adanya ketergantungan desa kepada mahasiswa KKN; 7) perencanaan dan rancangan program KKN kurang realistis dan profesional. Persoalan umum tersebut dirasakan pula oleh UPI dalam pelaksanaan KKN akhir-akhir ini. Pengalaman KKN UPI selama ini dirasakan mampu mempunyai efek untuk meningkatkan kognisi sosial mahasiswa, dan pengalaman KKN mengandung rangsangan yang dapat meningkatkan tahap perkembangan koordinasi perspektif sosial serta tahap penalaran moral mahasiswa sebagai dampak dari kegiatan KKN. Maka untuk mengevaluasi apakah partisipasi dalam KKN dapat menimbulkan konflik sosio-kognitif pada mahasiswa? Dengan demikian langkah pertama untuk mengevaluasi apakah partisipasi dalam KKN dapat menimbulkan konflik sosio-kognitif pada mahasiswa, adalah mengadakan tinjauan sejauh mana KKN dapat mendorong mahasiswa untuk aktif bertindak terhadap lingkungannya, atau sejauh mana KKN mendorong mahasiswa untuk berbuat sesuatu bagi orang desa, yang melibatkan pemikirannya. Atas dasar tinjauan mengenai kandungan rangsang yang dimiliki program KKN tersebut, dapat disimpulkan bahwa KKN mengandung rangsang campuran, dalam arti mengandung rangsang untuk meningkatkan tahap kognisi, level koordinasi perspektif sosial dan tahap penalaran moral. Kandungan rangsang campuran sangat menguntungkan dalam upaya pendewasaan kognisi sosial mahasiswa, sebab dapat berfungsi sebagai perangsang berbagai tahap penalaran mahasiswa. Yang jadi masalah adalah bagaimana kredibilitas dan daya tarik mahasiswa KKN-UPI sebagai komunikator dapat dibentuk secara utuh di kampus sehingga dapat memberikan bekal dalam melaksanakan tugasnya di lapangan?.
Pelatihan pembuatan pedagogis hyperteks berbasis web untuk mengembangkan keterampilan berpikir konseptual tingkat tinggi (HOTS) bagi guru-guru kimia SMU se-Kota Bandung Hokcu Suhanda
Jurnal Abmas Vol. 4 No. 1 (2004): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v4i1.70

Abstract

Pelajaran ilmu kimia oleh sebagian besar siswa dianggap cukup sulit untuk dipahami. Hal ini disebabkan oleh sifat dari konsep-konsep ilmu kimia yang mempunyai tingkat keabstrakan dan kekompleksan yang tinggi, oleh sebab itu dalam setiap pengajaran kimia dituntut penggunaan berbagai variasi metoda mengajar dan teaching material (media pembelajaran), salah satunya dapat dilakukan dengan pemanfaatan teknologi komputer. Selama ini teknologi komputer di SMU-SMU Bandung belum termanfaatkan secara maksimal dalam kegiatan PBM, hal ini karena adanya keterbatasan dari pihak guru dalam penguasaan teknologi serta ketersediaan software yang memadai. Agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam PBM maka diperlukan strategi sederhana bagi para guru-guru untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Melalui pembicaraan antara pihak Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI dengan guru-guru kimia MGMP kodya Bandung, maka telah dilaksanakan "pelatihan pembuatan pedagogis hyperteks berbasis web untuk mengembangkan keterampilan berpikir konseptual tingkat tinggi (HOTS) bagi guru-guru kimia SMU se-kota Bandung pada tanggal 15 Nopember 2003. Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh 34 orang guru kimia yang tergabung dalam wadah MGMP guru kimia se-Kodya Bandung. Dalam kegiatan ini para peserta mendapat penjelasan mengenai pendekatan konstruktivisme yang mengarah pada tahapan berpikir tingkat tinggi dan aspek-aspek pedagogis dalam pembuatan media pembelajaran berbasis komputer, penjelasan mengenai Microsoft PowerPoint dan Microsoft FrontPage untuk pembuatan media pembelajaran yang bersifat hyperteks dan hypermedia interaktif, serta praktek langsung pembuatan file-file hyperteks dan hypermedia interaktif dengan menggunakan Microsoft PowerPoint dan Microsoft FrontPage.
Pengembangan penelitian tindakan kelas bagi guru SD Kecamatan Ciranjang Muthia Alinawati; Rudi Susilana; Laksmi Dewi; Riche Cynthia Johan
Jurnal Abmas Vol. 4 No. 1 (2004): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v4i1.71

Abstract

Ujung tombak upaya peningkatan mutu pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan dasar, tertumpu pada bagaimana guru dapat mengembangkan dan mengimplementasikan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Seorang guru harus selalu berupaya agar dapat menciptakan suatu pembelajaran yang bermutu bagi para siswanya. Untuk itu diperlukan suatu kemampuan khusus bagi guru dalam memperbaiki/meningkatkan kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Kemampuan tersebut berkenaan dengan apa yang dinamakan dengan Penelitian Tindakan Kelas.
Implementasi pengintegrasian pola pemberdayaan guru sukwan di Jawa Barat A. Jajang W. Mahri
Jurnal Abmas Vol. 5 No. 1 (2005): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v5i1.72

Abstract

Masalah utama pendidikan di tanah air, terutama terletak pada pemerataan kesempatan belajar dan pada peningkatan kualitas pendidikan. Pemerataan kesempatan belajar antara lain karena kurangnya fasilitas dan sarana pendidikan, terutama guru sebagai ujung tombak suksesnya pembangunan pendidikan. Kekurangan guru ini telah diisi oleh tenaga sukarela, yaitu guru sukwan yang sebagian besar di antaranya sudah mengabdi lebih dari sepuluh tahun. Besarnya pengabdian pada guru sukwan tersebut, ternyata tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya, sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah carut-marutnya dunia pendidikan. Oleh karena itu dilaksanakanlah pemberdayaan guru sukwan di Jawa Barat. Tujuan dilaksanakannya pemberdayaan guru sukwan di Jawa Barat, antara lain untuk meningkatkan harkat dan martabat guru sukwan, meningkatkan taraf kesejahteraan guru sukwan, mendukung pengembangan potensi guru sukwan, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan guru sukwan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemberdayaan guru sukwan di Jawa Barat, yang dilaksanakan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan profesional guru sukwan, pelatihan kewirausahaan guru sukwan, pemberian modal usaha dan modal bergulir untuk berwirausaha guru sukwan, serta pendampingan kewirausahaan guru sukwan telah memberikan dampak positif bagi peningkatan kemampuan dan kesejahteraan guru sukwan di Jawa Barat.
Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan terhadap jasa pelayanan kesehatan (menggunakan metoda Performance Importance Analysis di unit rawat inap rumah sakit umum Sumedang) Prima Naomi
Jurnal Abmas Vol. 5 No. 1 (2005): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v5i1.73

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami permasalahan mengenai tingkat harapan pelanggan atas kualitas pelayanan kesehatan sekaligus melakukan pengukuran kepuasan pelanggan atas pelayanan kesehatan di unit rawat inap, dengan demikian dapat diidentifikasikan variabel pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan konsumen serta variabel-variabel yang memerlukan perbaikan. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah pasien rawat inap/keluarga di unit rawat inap Rumah Sakit Umum Sumedang. Metoda Analisis yang digunakan adalah Importance-Performance Analysis. Dengan menggunakan analisis tersebut diketahui bahwa faktor yang pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan dan harapan konsumen berjumlah sebelas faktor yaitu: X2, X4, X6, X9, X10, X15, X16, X22, X23, X24 dan X30, sedangkan faktor-faktor pelayanan kesehatan yang perlu diprioritaskan untuk diperbaiki adalah faktor X1, X13, X14, X18, X19, X21, X27 dan X28.
Mesin pengering padi kapasitas 5 ton Kamin Sumardi
Jurnal Abmas Vol. 5 No. 1 (2005): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v5i1.74

Abstract

Pada waktu musim panen raya padi yang jatuh pada waktu musim hujan di mana sinar matahari tidak setiap hari ada untuk menjemur padi, petani sering mengalami kerugian. Padi yang basah pada saat dipanen akan bertahan kurang lebih 2 hari, setelah itu akan rusak. Untuk mengatasi hal tersebut, dirancang mesin pengering padi sederhana yang menggunakan bahan yang sederhana dan ada di sekitar kita. Mesin ini sangat berguna pada waktu panen raya padi yang bertepatan dengan musim hujan. Mesin ini menggunakan empat komponen utama yaitu ruang/tempat gabah, kipas, motor penggerak kipas dan tabung serta kompor minyak tanah (burner). Ukuran ruang/tempat gabah 4x6 meter persegi dengan konstruksi kayu, 2 lapisan ram kawat dan karung goni. Kipas ukuran diameter 40 cm dengan motor listrik atau diesel penggerak menggunakan tabung minyak tanah kapasitas 60 liter dan dua buah semawar/kompor sebagai burner pemanas yang dihubungkan dengan pipa kapiler. Cara kerja mesin yaitu gabah 5 ton disimpan dalam ruang/tempat penyimpan gabah dengan ketinggian 50 cm dari tanah. Tabung minyak tanah diisi 50 liter, dipompa dengan pompa tangan, panaskan semawar/kompor sampai burner membara, kemudian nyalakan motor listrik/diesel penggerak kipas. Udara dihembuskan oleh kipas melewati burner sehingga udara hangat dan masuk ke bagian bawah ruang tempat penyimpanan gabah. Lama waktu pengeringan yaitu antara 9-10 jam dengan pola 6:4. Artinya setelah 6 jam gabah harus dibalik atau diaduk. Kualitas beras yang dihasilkan lebih baik dari yang dijemur dengan sinar matahari baik dari warna dan tingkat bulir yang patah (sudah diuji coba).
Magang kewirausahaan pada industri mendong bagi mahasiswa PGSD UPI sebagai tindak lanjut program KWU Hodidjah Hodidjah; Epon Nur'aeni L; Karlimah Karlimah; Aan Kusdiana; Rustono Rustono
Jurnal Abmas Vol. 5 No. 1 (2005): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v5i1.75

Abstract

Dalam upaya meningkatkan kemandirian mahasiswa, diperlukan program yang menumbuhkan dan meningkatkan jiwa entrepreneurship. Program Magang Kewirausahaan pada industri yang relevan dengan bidang keterampilan yang diminati mahasiswa merupakan salah satu alternatif program yang dapat dilakukan, di antaranya program magang di industri yang diminati mahasiswa dan dapat dijadikan mitra kerja bagi pengembangan individu mahasiswa dan lembaga penyelenggara industri mendong yang ada di Kota Tasikmalaya. Tujuan program ini adalah menjadikan mahasiswa pemagang: (1) Mampu membuat kerajinan mendong, (2) Memahami sistem produksi pada industri mendong, sistem manajemen usaha, pemasaran hasil, dan pengelolaan SDM. (3) Mampu membuat perencanaan usaha. (4) Berani memamerkan hasil magang. (5) Berani menjual produk kerajinan. Kerangka pemecahan masalah yang digunakan dalam kegiatan untuk mencapai tujuan, menggunakan empat tahapan kegiatan, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Keberhasilan para mahasiswa dapat dilihat dari penguasaan pengetahuan, serta penguasaan sikap dan keterampilan. Penguasaan materi tersebut dapat dijadikan pijakan bagi mahasiswa untuk mengembangkan dan mengaplikasikan jiwa entrepreneurship yang dikuasainya dalam wujud usaha yang diminati.
Proses pelaksanaan pembelajaran Cooperation Academic Education Program (co-op) dalam meningkatkan kemandirian mahasiswa Katiah Katiah
Jurnal Abmas Vol. 5 No. 1 (2005): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v5i1.76

Abstract

Co-op dapat diposisikan sebagai program dan strategi atau pendekatan, yang apabila dilihat dari segi teknis pelaksanaan kegiatan berbeda dengan praktek kerja lapangan dan magang bagi mahasiswa. Co-op tidak terikat oleh suatu mata kuliah, mengharuskan mahasiswa bekerja secara penuh waktu, mahasiswa tidak menerima "gaji" tetapi kompensasi baik berupa uang maupun fasilitas lainnya. Co-op sebagai program di dalam pelaksanaan kegiatannya terjadi proses pembelajaran yang membawa dampak pada penumbuhan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan kemandirian mahasiswa. Proses pembelajaran Co-op di UKM-UKM dengan di usaha besar memiliki perbedaan. Bertitik tolak dari posisi Co-op sebagai program ekstrakurikuler yang ditawarkan oleh Direktorat Kelembagaan dan Pemberdayaan Peran Masyarakat (DIKTI), dilihat dari peran Pendidikan Luar Sekolah terhadap Pendidikan Sekolah maka program Co-op berperan sebagai pelengkap dan menjembatani pendidikan sekolah khususnya perguruan tinggi dengan dunia usaha. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan tahapan: 1) Identifikasi kebutuhan UKM dan kebutuhan belajar mahasiswa dengan kegiatan perekrutan dan penyeleksian yang dilaksanakan secara terpadu oleh Tim Pelaksana dan mahasiswa, 2) Penyusunan desain program pembelajaran, dibuat berdasarkan data dari identifikasi dengan menjabarkan komponen-komponen pembelajaran pada umumnya, 3) Pengembangan program pembelajaran, dilakukan untuk menyempurnakan dan mengembangkan komponen pembelajaran, 4) Implementasi program pembelajaran dan 5) Evaluasi program pembelajaran, mencakup evaluasi proses, hasil dan dampak. Pada setiap tahapan pelaksanaan program Co-op, terjadi proses pembelajaran dan memberikan pengalaman belajar yang berbeda-beda membawa dampak pada perilaku mandiri mengarah pada kewirausahaan, ditandai dengan adanya tanggung jawab yang besar, ulet dan tekun di dalam bekerja serta di dalam merintis dan mengembangkan usaha pada beberapa mahasiswa UPI. Untuk meningkatkan hasil pembelajaran dan dampak perlu adanya model Co-op khusus bagi mahasiswa UPI dan model bimbingan serta evaluasi.

Page 7 of 30 | Total Record : 299