cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Sosiofonologi Leksikon Serapan dari Bahasa Arab yang Berfonem Asal ث , ذ, ,ص ض , dan ظ dalam Bahasa Indonesia Imam Baehaqie
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4677

Abstract

The aims of this study are to describe the form of the variation of the Arabic loan lexicon in Indonesian on social media, and to explain the possible social factors that cause its emergence. This research approach is a qualitative sociophonological approach. The data of this research is in the form of an absorption lexicon from Arabic in Indonesian. The data source of this research is speech on social media mass accounts (Facebook) in the religious domain which is thought to contain the Indonesian language lexicon which is absorbed from Arabic. The data collection method used is the listening method and the analysis method is the matching method. The method of presenting the results of data analysis is the informal method. From the results of data collection found 150 absorption lexicon. Based on the results of the discussion, it is stated that the variation of the absorption lexicon from Arabic in Indonesian is mostly found in lexicon containing the original phonemes ﺙ, ذ, ص, ض, and ظ and both in the first, second, third, and so on syllables, both in the onset position, nucleus, and coda. The possible factors causing the variation of the absorption lexicon are (1) a lack of understanding of the current Arabic-Latin transliteration guidelines; (2) the flexibility of the speaker's attitude in language; (3) differences in socio-humanities background: education level, field of science, and field of profession (livelihood); (4) speech channel. The results of this study can be useful as a contribution of ideas in language planning and Indonesian language teaching planning, both for native speakers and foreign speakers. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsi wujud variasi  leksikon serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia pada media social, dan menjelaskan kemungkinan faktor  sosial penyebab kemunculannya. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan sosiofonologis kualitatif. Data penelitian ini berupa leksikon serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia. Sumber datanya adalah tuturan pada akun-massa media sosial (Facebook) dalam ranah agama yang diduga memuat leksikon bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab.  Metode penjaringan data yang digunakan adalah metode simak dan metode analisisnya adalah metode padan. Adapun metode penyajian hasil analisis datanya adalah metode informal. Dari hasil penjaringan data ditemukan 150 leksikon serapan. Berdasarkan hasil pembahasan dinyatakan bahwa variasi leksikon serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia banyak ditemukan pada leksikon-leksikon yang memuat fonem asal ﺙ, ذ, ص, ض, dan ظ baik dalam silabel pertama, kedua, ketiga, maupun seterusnya, baik dalam posisi onset, nuklus, maupun koda.  Adapun kemungkinan faktor penyebab kemunculan variasi leksikon serapan tersebut adalah: (1) kurangnya pemahaman terhadap pedoman transliterasi Arab-Latin yang masih berlaku; (2) kelenturan sikap penutur  dalam berbahasa; (3) perbedaan latar sosial-humaniora: jenjang pendidikan, bidang ilmu, dan bidang profesi (mata pencaharian); (4) saluran tutur. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dalam perencanaan bahasa dan perencanaan pengajaran bahasa Indonesia, baik untuk penutur jati maupun penutur asing. 
Teks Aritmetika Sosial sebagai Bahan Ajar Membaca Pemahaman untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi Siswa Mekar Ismayani; Vismaia Sabariah Damaianti; Yeti Mulyati; Andoyo Sastromiharjo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8230

Abstract

The low numeracy literacy of students in Indonesia poses a challenge in the field of education, particularly in understanding mathematical concepts in real-life contexts. This study aims to analyze social arithmetic texts as instructional materials for reading comprehension in an effort to improve students' numeracy literacy. The research employs both quantitative and qualitative analysis by measuring text readability using the Flesch-Kincaid Grade Level, SMOG Index, and Cloze Test. Additionally, the text structure is analyzed based on information presentation patterns, and text effectiveness is tested through reading comprehension and numeracy literacy assessments among middle school students. The findings indicate that texts with a systematic structure, simple language, and context-based examples exhibit better readability and are more effective in enhancing students' numeracy comprehension. Moreover, a positive correlation is observed between text readability and numeracy comprehension scores, where students who read highly readable texts achieve better comprehension scores. The implications of this study suggest that the development of social arithmetic teaching materials should consider readability aspects, text structure, and the use of visual illustrations to enhance student understanding. Thus, the optimal utilization of social arithmetic texts can serve as an effective strategy to significantly improve students' numeracy literacy while also functioning as reading comprehension materials based on numeracy literacy. Abstrak Rendahnya literasi numerasi siswa di Indonesia menjadi tantangan dalam dunia pendidikan, terutama dalam memahami konsep matematika dalam konteks kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teks aritmetika sosial sebagai bahan ajar membaca pemahaman dalam upaya meningkatkan literasi numerasi siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif dengan mengukur keterbacaan teks menggunakan Flesch-Kincaid Grade Level, SMOG Index, dan Cloze Test. Selain itu, struktur teks dianalisis berdasarkan pola penyajian informasi, dan efektivitas teks diuji melalui tes pemahaman membaca serta literasi numerasi pada siswa SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks dengan struktur yang sistematis, bahasa sederhana, dan contoh berbasis konteks kehidupan sehari-hari memiliki tingkat keterbacaan yang lebih baik dan lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman numerasi siswa. Selain itu, terdapat korelasi positif antara keterbacaan teks dan skor pemahaman numerasi, di mana siswa yang membaca teks dengan keterbacaan tinggi memperoleh skor pemahaman yang lebih baik. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar aritmetika sosial perlu mempertimbangkan aspek keterbacaan, struktur teks, serta penggunaan ilustrasi visual untuk meningkatkan pemahaman siswa. Dengan demikian, pemanfaatan teks aritmetika sosial yang optimal dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan literasi numerasi siswa secara signifikan sekaligus menjadi bahan membaca pemahaman berbasis literasi numerasi.
Pola Prosodi Pada Anak Autism Spectrum Disorder Menggunakan Pendekatan Fonetik Eksperimental Tri Wahyu Retno Ningsih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.2452

Abstract

Suprasegmental elements or prosodic of research oriented to the measurement of speech signals and prosodic patterns. Research on  prosody in autistic children has shown atypical or inappropriate prosody Ningsih (2017), Klin & Volkmar (1995); Ehlers & Gillberg (1993); Kanner, (1943). The research showed that the Autism Spectrum Disorder (ASD) often faced up the obstacles in producing the pitch, stress, and intonation. The purpose of this research is to find out prosodic patterns in children with autism spectrum disorder (ASD). This research is using experimental phonetics as it’s method (Boersma dan Weenink, 2001). From this research it is found that the prosodic patterns described with sound wave and contours in Praat and result of the description are different and the differences are varied. The results showed that the subject of the study (ASD children) had indications of disturbances in producing contours. The prosody pattern tends to show a flat pattern.  AbstrakPenelitian unsur suprasegmental atau prosodi bertujuan untuk menghitung sinyal bunyi ujaran dan pola prosodi. Penelitian prosodi pada anak autis menunjukkan prosodi atipikal atau tidak wajar Ningsih (2017), (Klin & Volkmar 1995); Ehlers & Gillberg (1993); Kanner, (1943). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) mempunyai gangguan dalam memproduksi bunyi ujaran (pitch, tekanan, dan intonasi). Tujuan penelitian ini adalah menemukan pola prosodi pada anak dengan ASD menggunakan perangkat lunak Praat (Boersma dan Weenink, 2001). Penelitian ini menggunakan pendekatan fonetik eksperimental. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pola prosodi yang dideskripsikan melalui gelombang suara dan kontur intonasi pada Praat menunjukkan hasil deskripsi yang berbeda dan perbedaannya bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian (anak ASD) mempunyai indikasi gangguan dalam memproduksi  kontur ujaran. Pola prosodi yang dihasilkan cenderung menunjukkan pola mendatar (flat).
Desain Model Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi untuk Meningkatkan Berpikir Kritis Mahasiswa Muhlis Fajar Wicaksana; Sri Muryati; Supianto Supianto; Wahyu Dini Septiari; Rani Darmayanti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8241

Abstract

Designing a project-based evaluation model for Indonesian language learning as a Compulsory Curriculum Subject (MKWK) in Higher Education that can encourage the development of critical thinking in the academic environment of students is the objective of this research. The research method used is research and development (R&D), with stages of needs analysis and literature review, model design, expert validation, and model trials on students, and model finalization. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, questionnaires, and student critical thinking tests. Data analysis techniques used were carried out with two approaches. Qualitative data were analyzed through Miles and Huberman's interactive analysis technique which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Meanwhile, quantitative data were analyzed using descriptive and inferential statistics, including the calculation of the mean, percentage, and model effectiveness testing using the t-test and N-Gain to determine the improvement of students' critical thinking skills. The Indonesian language learning evaluation model developed integrates project-based formative and summative assessments as well as critical reflection on lecture materials, especially in writing scientific articles. The conclusion of this study confirms that the developed evaluation model design is effective in facilitating the strengthening of students' critical thinking skills through contextual and reflection-based learning. This will increase the University Performance Index (IKU) of higher education institutions. Research results indicate that implementing this model can increase student engagement in the learning process and strengthen students' analytical, synthetic, and critical reasoning skills. The implications of this research emphasize the importance of learning evaluation that focuses not only on final results but also on students' in-depth thinking processes. Abstrak Merancang model evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Perguruan Tinggi berbasis proyek yang dapat mendorong pengembangan berpikir kritis di lingkungan akademik mahasiswa menjadi tujuan penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (R&D), dengan tahapan analisis kebutuhan dan literature review, perancangan model, validasi ahli, dan uji coba model pada mahasiswa, serta finalisasi model. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, serta tes berpikir kritis mahasiswa. Teknik analisis data yang digunakan dilakukan dengan dua pendekatan. Data kualitatif dianalisis melalui teknik analisis interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sementara itu, data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, meliputi perhitungan rerata, persentase, dan uji efektivitas model menggunakan uji-t dan N-Gain untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Model evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan mengintegrasikan asesmen formatif dan sumatif berbasis proyek serta refleksi kritis terhadap materi perkuliahan, khususnya dalam menulis artikel ilmiah. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa desain model evaluasi yang dikembangkan efektif dalam memfasilitasi penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa melalui pembelajaran yang kontekstual dan berbasis refleksi. Hal inilah yang akan menaikkan Indeks Kinerja Universitas (IKU) Perguruan Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model ini dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran dan memperkuat kemampuan analisis, sintesis, serta penalaran kritis mahasiswa. Implikasi dari penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir mahasiswa secara mendalam.
DIASPORA ETNIK JAWA DAN TRANSMISI BAHASA JAWA ANTARGENERASI DI SUMATRA UTARA Wawan Prihartono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.36

Abstract

Diaspora Javanese ethnic to North Sumatra driven at the time of the Dutch government in large quantities create their identity loss there now . Java language in North Sumatra did not survive as it should be. Javanese ethnic, prefers to use the Indonesian language in everyday communication rather than the Javanese language as a consequence of assimilation with the local culture, namely the Malay culture. This study aimed to describe the intergenerational transmission of the Java language in North Sumatra as a reference for the vitality of the Java language in there . The study used a qualitative descriptive method . As a result, intergenerational transmission of the Java language in North Sumatra show gradations drastic decline from generation to generation . The older generation does not transmit an javanese language to the next generation so well that indicated the Java language in North Sumatra are threatened with extinction.    ABSTRAKDiaspora etnik Jawa ke Sumatra Utara dalam jumlah yang cukup besar yang digerakkan pada zaman pemerintah Hindia Belanda membuat etnik Jawa di sana kehilangan identitas bahasanya. Bahasa Jawa di Sumatra Utara tidak bertahan sebagaimana mestinya. Etnik Jawa lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari daripada bahasa Jawanya sebagai konsekuensi pembauran dengan kebudayaan lokal, yaitu budaya Melayu. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transmisi bahasa Jawa antargenerasi di Sumatra Utara sebagai acuan vitalitas bahasa Jawa di sana. Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasilnya, transmisi bahasa Jawa antargenerasi di Sumatra Utara menunjukkan gradasi penurunan yang drastis dari generasi ke generasi. Generasi tua etnik Jawa tidak mentransmisikan bahasanya kepada generasi berikutnya dengan baik sehingga diindikasikan bahasa Jawa di Sumatra Utara sekarang dalam kondisi terancam punah.
Fenomena Disfemisme dalam Kartun Anak Pada Pertelevisian Indonesia Lelly Dwi Anjani; Bakdal Ginanjar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.1787

Abstract

This paper examines the use of dysphemism in children's cartoon shows in Indonesian television which are categorized as dangerous and cautious according to KPAI and KPI. The issue of this paper is focused on discussing the types of dysfemism used. This research is a descriptive qualitative type. The data of this research are sentences containing dysphemism. The data source of this research is the children's cartoon show Spongebob Squarepants¸ Crayon Shinchan, and Little Krishna taken from television and Youtube shows. The method of providing data is done by referring to the record and record techniques. The method of data analysis is done by the method of distribution with techniques for direct elements, fade techniques, and dressing techniques. The results of data analysis are presented by informal methods. Based on the results of data analysis, it was concluded that the type of dysfemism in children's cartoon shows in Indonesian television is in the form of 1) a comparison between humans and animals that are conventionally considered to have certain behaviors, 2) term or nickname derived from taboo body organs, body effluvia (odor or secretion), and sexual behavior, 3) nickname or dysphemistic greetings taken from physical characters that are seen so that it is considered to be an abnormal person, 4) curses and nicknames that use the term from mental abnormalities or mental illness, 5) sexist, racist, speciesist, classist, ageist and otherIST dysfemism that function as insults, and 6) the term insult or disrespect that calls insult to the intended character.AbstrakDalam tulisan ini dikaji penggunaan disfemisme dalam tayangan kartun anak pada pertelevisian Indonesia yang dikategorikan berbahaya serta hati-hati menurut KPAI dan KPI. Permasalahan dalam tulisan ini difokuskan pada pembahasan jenis disfemisme yang digunakan. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung disfemisme. Sumber data penelitian ini adalah tayangan kartun anak “Spongebob Squarepants”¸ “Crayon Shinchan”, dan “Little Krishna” yang diambil dari tayangan televisi dan YouTube. Metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik rekam dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih dengan teknik bagi unsur langsung, teknik lesap, dan teknik ganti. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa jenis disfemisme dalam tayangan kartun anak pada pertelevisian Indonesia berupa 1) perbandingan manusia dengan hewan yang secara konvensional dianggap memiliki perilaku tertentu, 2) istilah atau julukan yang berasal dari organ tubuh yang ditabukan, efluvia tubuh (bau atau sekresi), dan perilaku seksual, 3) julukan atau sapaan disfemistik yang diambil dari karakter fisik yang terlihat sehingga dianggap seolah menjadi orang yang abnormal, 4) kutukan dan julukan yang menggunakan istilah dari abnormalitas mental atau penyakit jiwa, 5) disfemisme sexist, racist, speciesist, classist, ageist, dan -IST lainnya yang berfungsi sebagai penghinaan, dan 6) istilah penghinaan atau tidak hormat yang menyerukan penghinaan pada karakter yang dituju.
Ciri dan Pola Kalimat Simpleks Bahasa Yewena di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Papua Grace J.M. Mantiri; Henry Ch. Iwong
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.3928

Abstract

Yewena is one of the languages spoken in four villages namely Yepase, Wambena, Doromena, and Yewena in Depapre District. The purpose of this study is to describe the characteristics and syntactic patterns of simplex sentences in Yewena language. Simplex sentence is a structural linguistic study that is at the syntactic level. This research utilizes a structural approach with an inductive descriptive method. There are two research techniques used, namely data collection techniques and data analysis techniques. The data collection technique uses observation and literature review techniques, while the data analysis technique is inductive data analysis. Based on the research results, the simplex sentence of Yewena language has the same characteristics as other languages. The characteristics are consisting of one clause, there are obligatory and arbitrary elements, short and long forms, and verbal and nonverbal predicates. The Yewena language simplex sentence patterns found are SP, SOP, SKOP, SOKP, and SKP patterns.  AbstrakBahasa Yewena merupakan salah satu bahasa yang dituturkan di beberapa tempat yaitu Yepase, Wambena, Doromena, dan Yewena di Distrik Depapre. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ciri dan pola sintaksis kalimat simpleks pada bahasa Yewena. Kalimat simpleks merupakan sebuah kajian linguistik struktural yang berada pada tingkatan sintaksis. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan struktural dengan metode deskriptif induktif. Teknik penelitian yang digunakan ada dua yaitu teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tinjauan kepustakaan, sedangkan teknik analisis data adalah dengan analisis data induktif. Berdasarkan hasil penelitian, kalimat simpleks bahasa Yewena memiliki ciri yang sama dengan bahasa lainnya. Ciri-cirinya yaitu terdiri dari satu klausa, terdapat unsur wajib dan manasuka, berwujud pendek dan panjang, serta berpredikat verbal dan nonverbal. Pola kalimat simpleks bahasa Yewena yang ditemukan yaitu pola SP, SOP, SKOP, SOKP, dan SKP. 
PENGUNGKAPAN MODALITAS CAN DAN COULD PADA PENERJEMAHAN BAHASA INGGRIS KE DALAM BAHASA INDONESIA R. Renny Soelistiyowati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.150

Abstract

This paper is aimed to disclose the modality elements of English that are translated into Indonesia language based on the meaning derived from its context, such as the difference between the units and part of speech; the equivalence of the modality elements of primary modifier verb can and secondary modifier verb could translated from English to Indonesian language, and also the probability of the translation of primary modifier verb can and secondary modifier verb could translated from English to Indonesian language. The source of the data is The Naked Face novel and its translation version, Muka Telanjang. It was found that 54 sentences contain can and could. It was also found 57 modifier verbs can and could that consist of 18 primary modifier verbs can and 39 modifier verbs could. In addition, there were also units shifting from (could) to phrase (bisa saja), part of speech shifting such as modifier verb (I can’t) into adjective (tidak pandai), equivalence from (can) and (could) into some vocabularies of Indonesian language and also translation equivalence probability of modality can and could into some vocabularies in Indonesian language with their respective frequencies. ABSTRAKPenyusunan makalah ini bertujuan untuk mengungkapkan unsur modalitas bahasa Inggris yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan makna yang diperoleh dari konteksnya. Misalnya, perbedaan unit dan kelas kata; kesepadanan unsur modalitas verba pewatas primer can dan verba pewatas sekunder could yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia; serta probabilitas penerjemahan unsur modalitas bahasa Inggris verba perwatas primer can serta verba pewatas sekunder could yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sumber data dalam makalah ini diambil dari novel The Naked Faced serta terjemahannya Muka Telanjang. Dari proses penelitian yang dilakukan, ditemukan 54 kalimat yang mengandung modalitas can dan could. Ditemukan pula 57 verba pewatas pewatas can dan could yang terdiri dari 18 verba pewatas primer can dan 39 verba pewatas sekunder could. Selain itu, terdapat pergeseran unit seperti dari kata (could) menjadi frasa (bisa saja) serta terdapat pergeseran kelas kata, seperti dari verba pewatas (I can’t) menjadi adjektiva (tidak pandai); terdapat kesepadanan dari (can) dan (could) ke dalam beberapa kosakata bahasa Indonesia; serta terdapat probabillitas kesepadanan penerjemahan modalitas can dan could menjadi beberapa kosakata bahasa Indonesia dengan frekuensinya masing-masing.
Maksim Kuantitas dan Maksim Kualitas dalam Tuturan Bahasa Indonesia pada Anak Disabilitas Intelektual Ira Eko Retnosari; Rahayu Pujiastuti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4053

Abstract

The purpose of this study was to describe the mastery of maxims of quantity and maxims of quality in Indonesian speech in children with intellectual disabilities. In this study, a qualitative descriptive research method was used. The data source of this research is one child with intellectual disability aged 9;0. The data of this research are words, phrases, and sentences that contain maxims of quantity and maxims of quality. The data collection used in this study includes observation, fishing, recording, and field notes. The stages of data collection are making observations, recording speeches, transcribing speeches, and validating data. In analyzing the data, the pragmatic equivalent method was used. Data analysis procedures include reducing data, interpreting data, and concluding. Based on data analysis, it can be concluded that children with intellectual disabilities have been able to master the maxim of quantity and maxim of quality. L’s speech is able to show its contribution to the speech partner to show the maxim of strength by speaking not excessively and maxim of quality by speaking according to reality. The maxim of quantity and maxim of quality shown by L are still dominated by one word even though L's speech seems to be able to use multi-words. However, the maxim of quantity and maxim of quality used by L still suffer from imperfect pronunciation of sounds such as [r] is pronounced as [l], and the sound [s] which is located at the beginning and middle of the word is replaced with [t]. In addition, L is still unable to use affixes so that he experiences an affix deficit. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penguasaan maksim kuantitas dan maksim kualitas dalam tuturan bahasa Indonesia pada anak disabilitas intelektual. Dalam penelitian ini, digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah satu anak disabilitas intelektual berusia 9;0. Data penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat yang mengandung maksim kuantitas dan maksim kualitas. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, pemancingan, perekaman, dan catatan lapangan. Adapun tahap-tahap pengumpulan data adalah melakukan observasi, merekam tuturan, mentranskrip tuturan, dan memvalidasi data. Dalam penganalisisan data, digunakan metode padan pragmatik. Prosedur penganalisisan data meliputi mereduksi data, menginterpretasi data, dan menyimpulkan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa anak disabilitas mental sudah mampu menguasai maksim kuantitas dan maksim kualitas. L sudah mampu menggunakan maksim kuantitas dengan bertutur tidak berlebihan dan maksim kualitas dengan bertutur sesuai kenyataan. Maksim kuantitas dan maksim kualitas yang ditunjukkan L masih didominasi dengan satu kata meskipun tuturan L terlihat sudah mampu menggunakan multikata. Akan tetapi, maksim kuantitas dan maksim kualitas yang digunakan L masih mengalami kekurangsempurnaan pelafalan bunyi seperti [r] dilafalkan menjadi [l], dan bunyi [s] yang terletak pada awal dan tengah kata diganti dengan [t]. Selain itu, L masih belum mampu menggunakan afiks sehingga mengalami defisit afiks.
Multilingualisme dan Kesetiaan Berbahasa Indonesia: Studi Lanskap Linguistik di Ruang Publik Pamekasan, Madura Agus Purnomo Ahmad Putikadyanto; M. Arifin Alatas; Albaburrahim Albaburrahim; Mochammad Ilyas Junjunan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.4584

Abstract

This study aims to describe the types of languages used and the loyalty to the Indonesian language in public spaces in Pamekasan. The research data consists of 704 linguistic objects in public spaces in Pamekasan such as street names, brand names, and business establishments, names of places of worship, names of trade complexes, names of offices, names of educational institutions, names of hospitals, building names, organization names, names of public facilities, road signs, and banners and product service advertisements. The results revealed the use of multiple languages in public spaces in Pamekasan, with eight language variations, including Indonesian, Indonesian and English, Indonesian and Arabic, English, Indonesian and Javanese, Indonesian and Madurese, Madurese, and other languages. Language loyalty to Indonesian in public spaces in Pamekasan was found to be relatively high, with pure Indonesian language use at 63%, Indonesian and other languages at 28%, and the use of regional and foreign languages at 9%. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis bahasa dan bagaimana kesetiaan berbahasa Indonesia di ruang publik Pamekasan. Data penelitian ini sejumlah 704 objek linguistik di ruang publik Pamekasan seperti nama jalan, merk dagang & lembaga usaha, nama tempat ibadah, nama kompleks perdagangan, nama perkantoran, nama lembaga pendidikan, nama rumah sakit, nama gedung, nama organisasi, nama fasilitas umum, nama rambu umum & penunjuk jalan, dan nama spanduk dan iklan layanan produk. Hasilnya ditemukan multilingualisme penggunaan bahasa di ruang publik Pamekasan dengan 8 jenis variasi bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Indonesia & Inggris, bahasa Indonesia & Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia & Jawa, bahasa Indonesia & Madura, bahasa Madura, dan bahasa lainnya. Kesetiaan berbahasa Indonesia di ruang publik Pamekasan ditemukan masih cukup tinggi. Penggunaan bahasa Indonesia murni ditemukan sebanyak 63%, bahasa Indonesia dan bahasa lain 28%, dan bahasa daerah dan bahasa asing sebanyak 9%.

Page 11 of 39 | Total Record : 386