cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Keberlakuan Nomina sebagai Predikat dalam Kalimat Bahasa Indonesia: Kajian Sintaksis Mujahid Zenul Ambiya
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.543

Abstract

In Indonesian language, there are noun that occupy predicate. However, noun are often not considered as predicate by linguists. This day, generaly speaking that verba occupy predicate. Purpose of this research is to describe (1) character of noun, (2) noun that occupy predicate and subject, (3) influence of noun predicate on role argument, (4) presence of copula in sentence with noun as predicate. This type of research is qualitative research. Data analysis method is distribution method. Data analysis techniques is divide direct elements, insert, extend, and reverse. Result of this research is predicate noun has characteristic can be inserted with bukan, dari, yang, menjadi, merupakan, adalah, ialah, dan, hanya, and atau. Noun that occupy predicate are less individual than it subject. Noun occupying predicate also influence role semantic arguments around it. Sentence with noun predicate can be inserted with copula, but sentence is different from sentence with noun predicate. AbstrakDalam bahasa Indonesia, terdapat nomina yang menduduki predikat. Namun, nomina sering tidak diperhitungkan dalam posisinya sebagai predikat oleh ahli bahasa. Dewasa ini, umum dibicarakan verba yang menduduki sebagai predikat. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) ciri nomina, (2) nomina yang menduduki predikat dan subjek, (3) pengaruh predikat nomina terhadap peran argumen, (4) kehadiran kopula dalam kalimat dengan nomina sebagai predikat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang mengandung predikat yang berkelas kata nomina dalam bahasa Indonesia. Dalam penelitian ini, sumber data primer adalah Solopos dan Kompas. Metode yang digunakan adalah metode simak. Teknik pengumpulan data adalah teknik catat. Metode analisis data adalah metode agih. Teknik analisis data menggunakan teknik bagi unsur langsung, sisip, perluas, dan balik. Hasil dari penelitian ini adalah nomina yang menduduki predikat memiliki ciri dapat disisipi dengan bukan, dari, yang, menjadi, merupakan, adalah, ialah, dan, hanya, dan atau. Nomina yang menduduki predikat lebih tidak individual daripada subjeknya. Kemudian, nomina yang menduduki predikat juga mempengaruhi peran semantis argumen di sekitarnya. Kalimat berpredikat nomina dapat disisipi dengan kopula, tetapi kalimat tersebut berbeda dengan kalimat berpredikat nomina.   
Dehumanisasi dalam Peribahasa Sunda Elda Mnemonica Rosadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4485

Abstract

This study aims to describe about the dehumanization present in Sundanese proverbs through Lakoff & Johnson's (1980) conceptual metaphor theory. The method in this study is a qualitative method with listening, reading, and note-taking techniques. This study used a conceptual metaphor theory that can be divided into three elements that formed the target source, target domain, and mapping. The data for this study are the collected of Sundanese proverbs from the book 1000 Babasan Jeung Paribasa Sunda by Tamsyah, et al (1994). This study found that there are a source language domain that comes from the use of animal names, object names and plant names to represent gender and human attitudes, which raises the concept of degrading human dignity. Some of the metaphors that contain the issue of dehumanization are found in animal names, plant names and inanimate objects. The use of metaphors containing the issue of dehumanization actually describes the habits, gender, nature and behavior of local people as reflected in their culture and way of life.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana dehumanisasi hadir dalam peribahasa Sunda melalui teori metafora konseptual Lakoff & Johnson (1980). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik simak, baca, dan catat. Penelitian ini menggunakan teori metafora konseptual yang dapat dipahami melalui tiga elemen yang membentuk sumber target, domain target, dan pemetaan. Data penelitian ini bersumber dari buku 1000 Babasan Jeung Paribasa Sunda karya Tamsyah, dkk. (1994). Temuan dari penelitian ini yaitu adanya ranah bahasa sumber yang berasal dari penggunaan nama hewan, nama benda, serta nama tumbuhan guna merepresentasikan gender dan sikap manusia, yang mana hal tersebut memunculkan suatu konsep merendahkan harkat manusia. Beberapa metafora yang mengandung isu dehumanisasi terdapat pada nama hewan, nama tumbuhan, dan nama benda mati. Penggunaan metafora yang mengandung isu dehumanisasi tersebut ternyata menggambarkan kebiasaan, gender, sifat, dan perilaku masyarakat lokal yang tercermin dari budaya dan cara mereka hidup.
The Use of Tps in EFL Classroom Activities to Reduce Situation Specific Speaking Anxiety in Delivering Ads Materials Cece Hidayat; Muhammad Andriana Gaffar; Agus Mulyanto; Mustadim Wahyudi; Nenden Ismaurah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7888

Abstract

The possible causes of situation-specific speaking anxiety include fear of making mistakes, lack of confidence, and anxiety about speaking in front of peers or the teacher. Teachers need to find effective strategies to help students reduce speaking anxiety. This study employed qualitative research with a case study method. The data was collected through observations, questionnaires, and interviews. The participants were 18 students from the 10th grade. Based on the research results, the Think-Pair-Share strategy can be used as one of the methods to reduce situation-specific speaking anxiety. The use of this strategy as a teaching method has helped students reduce their anxiety and therefore improve their speaking ability. Students' responses showed that this strategy can: (1) Increase self-confidence, (2) Reduce anxiety, (3) Improve oral communication skills, (4) Provide enjoyable activities, and (5) Increase students' motivation to speak English in class.
Inovasi Leksikal Bahasa Wotu NFN Suparman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 2 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i2.1282

Abstract

The purpose of this study is to describe the lexical innovation of Wotu dialect, namely describing a list of words that experience innovation by using qualitative methods or a direct approach to linguistic phenomena that occur in Wotu District, East Luwu District through an observation, interview, note taking technique and data reduction. The data obtained includes phonetic innovations consisting of substitution of vowel and consonant sounds, addition of vowel and consonant sounds, vowel sounds and consonants and consonant groups in the right position, meaning innovation, morphological innovations consisting of prefixes, suffixes, affixes and reduplications and lexical innovation consisting of lexical innovation, partial lexical innovation and full lexical innovation. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan inovasi leksikal bahasa Wotu, yaitu mendeskripsikan daftar kata yang mengalami inovasi dengan menggunakan metode kualitatif atau pendekatan secara langsung terhadap fenomena kebahasaan yang terjadi di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur melalui proses observasi, wawancara, teknik catat, dan reduksi data. Data yang diperoleh mencakup inovasi fonetis yang terdiri atas penggantian bunyi vokal dan konsonan, penambahan bunyi vokal dan konsonan, penghilangan bunyi vokal dan konsonan serta gugus konsonan pada posisi kanan, inovasi makna, inovasi morfologi yang terdiri atas prefiks, sufiks, afiks dan reduplikasi, serta inovasi leksikal yang terdiri atas inovasi leksikal, inovasi leksikal parsial, dan inovasi leksikal penuh.
Tuturan Bermakna Budaya sebagai Pembelajaran Kearifan Lokal Masyarakat Banjar: Studi Etnopedagogi Rissari Yayuk; Derri Riss Riana; Jahdiah Jahdiah; Eka Suryatin; Dede Hidayatullah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5196

Abstract

This study discusses the form of Banjarese speech which contains a lexicon of local culture and local wisdom that can be taught behind the speech of cultural meaning. The purpose of the study is to describe the form of Banjarese speech which contains a lexicon of local culture and the form of local wisdom that can be taught behind the speech of cultural meaning. This study uses qualitative descriptive method with an ethnopedagogic approach. The research techniques are observation, documentation, and interviews. Data collection techniques are listening, recording, and getting involved in the research. The research steps are observation, data collection, data selection, presentation, analysis, and conclusions. The data source, speech that contains a lexicon with cultural meaning in the Banjar community, in Banjarmasin City, Banjar Regency, and Hulu Sungai Selatan. Data collection is from March 2021 to April 2022. Data validity is through triangulation of sources, theories, and methods. The study results that Banjarese speech that contains a lexicon of local cultural meanings include supporting parts for housing, livelihoods, literary arts, language, daily activities, and activities supporting equipment. The forms of local wisdom that can be taught behind these cultural speeches include creative, economic independence, politeness, entertainment and educative, health, hygiene, and adaptive. This finding shows that daily speech can be a source of learning local wisdom with cultural value for the Banjar community and others, both formal and non-formal, one of which is for local content material for students. AbstrakPenelitian ini membahas tentang wujud tuturan berbahasa Banjar yang memuat leksikon bermakna budaya lokal dan wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik  tuturan bermakna budaya tersebut. Tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan wujud tuturan lisan berbahasa Banjar yang memuat leksikon  bermakna budaya lokal dan wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik tuturan bermakna budaya tersebut. Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnopedagogi. Teknik penelitian observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik pengambilan data, antara lain simak, catat, dan libat. Langkah penelitian yang dilakukan, yaitu observasi, pengambilan data, pemilihan data, penyajian, analisis, dan simpulan. Sumber data, tuturan yang memuat leksikon bermakna budaya pada masyarakat Banjar, di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Hulu Sungai Selatan. Waktu pengambilan data mulai dari bulan Maret 2021 sampai dengan April 2022. Validitas data melalui triangulasi sumber, teori, dan metode. Hasil penelitian, yaitu tuturan berbahasa Banjar yang memuat leksikon bermakna budaya lokal meliputi bagian pendukung tempat tinggal, mata pencaharian, seni sastra, bahasa, aktivitas keseharian, dan peralatan pendukung aktivitas. Adapun wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik tuturan bermakna budaya tersebut meliputi kreatif, mandiri ekonomi, kesantunan, hiburan, dan edukasi kesehatan, kebersihan, dan adaptif. Temuan ini menunjukkan bahwa tuturan sehari-hari dapat menjadi sumber pembelajaran kearifan lokal bernilai budaya bagi masyarakat Banjar dan lainnya, baik formal maupun nonformal, salah satunya untuk materi muatan lokal bagi anak didik.
Pemberitaan tentang Femisida Pada Media Daring Kompas.com dan Kompas.id: Analisis Wacana Berbasis Korpus Flora Nerissa Arviana; Pratomo Widodo; Titik Sudartinah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.7602

Abstract

The murder of women motivated by hatred of their gender, known as femicide, is a crucial issue that frequently occurs in society. The mass media play an important role in shaping the public’s perceptions regarding femicide and the institutions that deal with it through the way they report the news related to both matters. This research aims to analyze the news discourse on femicide and the media's efforts to frame the image of institutions that deal with femicide cases in the online media Kompas.com and Kompas.id. This research employs a descriptive qualitative method and a corpus-based discourse analysis. Data were obtained from 36 news articles related to femicide in Kompas.com and Kompas.id. The femicide news corpus data will be entered into the Antconc software to analyze the word lists, concordance, n-grams, and colocations. The data collection process includes selecting articles, documenting news articles by copying the texts into the Notepad application, saving news texts in *txt. format, and inputting corpus data into the Antconc application. The data analysis process of this research starts from data reduction, data presentation, data triangulation, to drawing conclusions. The results showed that Kompas online media tend to use word choices that are directed at educating about femicide. Kompas online media tends to discuss femicide to raise awareness about femicide among the public. In describing the image of the National Commission on Violence Against Women, the online media Kompas uses positive word choices. This indicates that the public must trust Komnas Perempuan in handling femicide cases. Meanwhile, in describing the police institution's image, the online media Kompas presents this objectively, accurately, and based on the facts in the field. Some of the word choices used by Kompas online media also reveal the expectations of the public and Komnas Perempuan for the police institutions to be more responsive to femicide cases. Abstrak Pembunuhan terhadap perempuan yang didorong oleh kebencian terhadap jenis kelamin mereka, yang dikenal sebagai femisida, adalah isu krusial yang kerap terjadi di masyarakat. Media massa berperan penting dalam membentuk persepsi publik terhadap femisida dan lembaga yang menangani femisida melalui cara pemberitaan terkait kedua hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana femisida direpresentasikan dalam pemberitaan, serta bagaimana media membentuk persepsi publik terhadap lembaga yang terlibat dalam penanganan kasus femisida. Metode kualitatif deskriptif dan pendekatan analisis wacana berbasis korpus digunakan dalam penelitian ini. Data penelitian diperoleh dari 36 artikel berita terkait femisida dalam media Kompas.com dan Kompas.id. Proses pengumpulan data meliputi pemilihan artikel, dokumentasi artikel dengan menyalin teks-teks tersebut ke aplikasi Notepad, penyimpanan teks dalam format *txt., dan input data korpus di aplikasi Antconc. Tahap analisis data penelitian ini dimulai dari reduksi data, penyajian data, triangulasi data, sampai penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media daring Kompas cenderung menggunakan pilihan-pilihan kata yang mengarah pada edukasi mengenai femisida. Media daring Kompas cenderung mewacanakan femisida dengan tujuan memunculkan kesadaran (awareness) tentang femisida kepada masyarakat. Dalam menggambarkan citra lembaga Komnas Perempuan, media daring Kompas menggunakan pilihan kata yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat harus percaya kepada Komnas Perempuan dalam menangani kasus femisida. Sementara itu, dalam menggambarkan citra lembaga kepolisian, media daring Kompas mengungkapkan hal tersebut secara objektif, akurat, serta sesuai fakta yang terjadi di lapangan. Beberapa pilihan kata yang digunakan media daring Kompas juga mengungkapkan ekspektasi masyarakat dan Komnas Perempuan terhadap lembaga kepolisian agar lebih tanggap terhadap kasus femisida.
PEMERTAHANAN BAHASA JAWA PADA INTERAKSI SISWA DAN GURU DALAM PEMBELAJARAN KAJIAN SOSIOLINGUISTIK DI MTS AL-HIKMAH PASIR DEMAK Umi Kholidah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i2.27

Abstract

Pemertahanan bahasa Jawa dilakukan agar masyarakat memiliki sikap positif terhadap penggunaan bahasa Jawa. Pemertahanan bahasa bertujuan agar kedudukan bahasa Jawa kembali dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa sebagai interaksi dalam pembelajaran atau komunikasi dengan sesama masyarakat Jawa. Perlunya pemertahanan bahasa Jawa adalah karena kenyataan membuktikan bahwa masyarakat pengguna bahasa Jawa dewasa ini sangat memprihatinkan, banyak yang tidak mengerti bahasa Jawa, khususnya bahasa Jawa Krama. Pemertahanan bahasa ini dilakukan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat agar mereka dapat melestarikan bahasa daerah yang dipakainya sebagai identitas masyarakat Jawa.
Tingkat Kesantunan Nonverbal dalam Tuturan Verbal antara Penjual dan Pembeli di Pasar Beringharjo Yogyakarta: Kajian Etnopragmatik NFN Pranowo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2975

Abstract

The levels of nonverbal politeness in verbal speech acts is an ethnopragmatic study. The research design was descriptive qualitative with ethnopragmatic basic theory. Ethnographic theory is basically a theory commonly used to study the culture of an ethnicity. In further developments, ethnography can be used to study cultural acts, including speech acts in language. Cultural acts in language cannot be separated from the context of language usage. Therefore, this study also involves pragmatic theory. Cultural speech acts can occur in various environments of speech events. This research will examine speech acts that occur in the cultural environment of the Beringharjo market in Yogyakarta when traders and buyers transact with each other. The research objectives are (a) to describe the form of nonverbal politeness used by buyers and sellers in the Beringharjo market, and (b) to describe the factors that influence the level of nonverbal politeness in verbal speech by the seller-buyer. AbstrakTingkat kesantunan nonverbal dalam tindak tutur verbal merupakan kajian etnopragmatik. Desain penelitian adalah deskripsitif kualitatif dengan teori dasar etnopragmatik. Teori etnografi pada dasarnya merupakan teori yang biasa digunakan untuk mengkaji kebudayaan suatu etnis. Dalam perkembangan selanjutnya, etnografi dapat dipakai untuk mengkaji tindak budaya, termasuk tindak tutur berbahasa. Tindak budaya dalam berbahasa tidak dapat dilepaskan dengan konteks pemakaian bahasa. Oleh karena itu, kajian ini juga melibatkan teori pragmatik. Tindak tutur budaya dapat terjadi di berbagai lingkungan peristiwa tutur. Penelitian ini akan mengkaji tindak tutur yang terjadi di lingkungan budaya Pasar Beringharjo Yogyakarta ketika pedagang-pembeli saling bertransaksi. Tujuan penelitiannya adalah (a) mendeskripsikan wujud kesantunan nonverbal yang digunakan oleh penjual-pembeli dan antarpedagang di Pasar Beringharjo, dan (b) mendeskripsikan faktor yang memengaruhi tingkat kesantunan nonverbal dalam tuturan verbal oleh penjual-pembeli.
The Effect of the Flipped Classroom Model on Improving Student Speaking Dyah Kristyowati; Jordy Satria Widodo; Resty Widya Kurniasari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5973

Abstract

This study aims to investigate the application of the flipped classroom learning model to influence class-A students' English speaking skills in the English Literature Study Program at Pakuan University, Bogor. This research uses action research. Action research is included in the scope of applied research (applied research) that combines knowledge, research, and action.  This type of research employs classroom action research with 30 students in class A during the odd semester of 2022/23 enrolled in Speaking III. The collection of data was conducted with the use of speaking tests and observation sheets. Analyzing the data, an average score of 83% of students who had problems with speaking because they did not reach the passing standard value established in the lecture contract, and only 17% of students who were able to achieve the passing grade standard were obtained in the pre-action phase. The cycle I graduation rate increased to 46%; in cycle II, 100% of students achieved the standard passing score. The results of this study indicate that the flipped classroom learning model can influence students' English speaking skills. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode flipped classroom dapat meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan Bahasa Inggris mahasiswa kelas A prodi Sastra Inggris Universitas Pakuan Bogor. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan. Penelitian tindakan termasuk dalam ruang lingkup penelitian terapan (applied research) yang menggabungkan pengetahuan, penelitian, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan subyek penelitian adalah siswa kelas A mata kuliah Speaking III pada semester ganjil 2022/2023 sebanyak 30 mahasiswa. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes speaking dan lembar observasi. Data tersebut dianalisis dan diperoleh skor rata-rata pada pratindakan sebesar 83% mahasiswa yang menunjukkan mengalami masalah dalam speaking karena tidak mencapai nilai standar kelulusan yang ditetapkan di kontrak perkuliahan dan hanya 17 % mahasiswa yang dapat mencapai standar nilai kelulusan, kemudian siklus I mengalami peningkatan dengan tingkat pencapaian kelulusan mahasiswa sebanyak 46%, selanjutnya pada siklus II diperoleh hasil sebanyak 100 % mahasiswa mencapai standar nilai kelulusan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode flipped classroom dapat meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan Bahasa Inggris mahasiswa. 
Mengungkap Xenoglosofilia pada Daftar Menu Kafe sebagai Ancaman terhadap Pergeseran Bahasa Indonesia Leonita Leonita; Itaristanti Itaristanti; Veni Nurpadillah; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.7352

Abstract

Xenomania arose because of people's desire to use foreign languages instead of Indonesian because foreign languages seemed more attractive. This study aims to describe the form and meaning as well as the factors of using xenomania on the list of café menus in Cirebon City. This research is a descriptive qualitative research with a research method using a translational matching method, and a data collection technique using listening, proficiency and documentation techniques. The source of data for this study is a list of café menus on Jalan Perjuangan, Cirebon City, with data in the form of menu names. The results of this study show that the existence of xenomania is as many as 162 out of 224 menu names or around 72.32% use foreign terms. Only 62 of them use Indonesian. This study highlights the threat to the shift in Indonesian language in food terms on menu lists caused by xenomania. The occurrence of xenomania in the menu list emphasizes the importance of awareness of the Indonesian language as stated in Permendikdasmen No. 2 of 2025 Abstrak Xenomania muncul karena keinginan masyarakat dalam menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia disebabkan bahasa asing terkesan lebih menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk serta faktor pengunaan xenomania pada daftar menu kafe di Kota Cirebon. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode penelitian menggunakan metode padan translasional. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik simak bebas libat cakap, cakap semuka dan dokumentasi. Sumber data penelitian ini adalah daftar menu kafe di Jalan Perjuangan Kota Cirebon, dengan data berupa nama-nama menunya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya xenomania yakni sebanyak 162 dari 224 nama menu atau sekitar 72.32% menggunakan istilah asing. Hanya 62 diantaranya yang menggunakan Bahasa Indonesia. Penelitian ini menyoroti ancaman terhadap pergeseran bahasa Indonesia dalam istilah makanan pada daftar menu yang ditimbulkan oleh xenomania. Terjadinya xenomania dalam daftar menu, menekankan pentingnya kesadaran berbahasa Indonesia sesuai yang tercantum dalam Permendikdasmen No. 2 Tahun 2025