cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Transformasi Morfologis Nomina Corona, Delta, Omicron Pada Frasa Nomina dan Frasa Preposisi dalam Koran Daring Berbahasa Jerman Dewi Ratnasari; Sudarmaji Sudarmaji
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.2976

Abstract

The purpose of this research is to describe the morphological transformation of nouns in the construction of German noun phrases and prepositional phrases. Data collection was carried out through read, and note from predetermined data sources. The data corpus was obtained from online German language newspapers Zeit Online, Spiegel, and Morgenpost and analyzed using the Direct Element Division Technique (DEDT). The results of the analysis show that the compound nouns that appear have the following forms: (i) compound nouns with a hyphen “–“, (ii) compound nouns without a hyphen “–“, (iii) compound nouns with zero filling elements, (iv) orthographically several compound nouns are written in a combined way. The use of a hyphen “–“ is one way to vary the morphological construction of compound nouns which contain the nouns Corona, Delta, and Omikron. Several prepositional phrases, which contain only the nouns Corona, Delta, and Omicron, do not have delimiters in the form of determinants as gender markers, so that the nouns Corona, Delta, and Omicron are no longer visible, resulting in deletion of determinants as gender markers. It can be said that the nouns Corona, Delta, and Omikron provide flexibility to German users, especially in carrying out morphological transformations in the formation of other compound nouns with their various variations. AbstrakTujuan penelitian ini mendeskripsikan transformasi morfologis nomina dalam konstruksi frasa nomina dan frasa preposisi bahasa Jerman. Pengumpulan data dilakukan melalui baca, dan catat dari sumber data yang telah ditetapkan. Korpus data diperoleh dari koran daring berbahasa Jerman Zeit Online, Spiegel,dan Morgenpost dan dianalisis dengan cara Teknik Bagi Unsur Langsung (BUL). Hasil analisis memperlihatkan bahwa nomina majemuk yang muncul memiliki bentuk-bentuk: (i) nomina majemuk dengan tanda sambung “–“, (ii) nomina majemuk tanpa tanda sambung “–“, (iii) nomina majemuk dengan elemen pengisi nol, (iv) secara ortografis beberapa nomina majemuk ditulis dengan cara digabungkan. Penggunaan tanda sambung “–“ merupakan salah satu cara memvariasikan konstruksi morfologis nomina majemuk yang berunsur nomina Corona, Delta, dan Omikron. Beberapa frasa preposisi, yang berunsur hanya nomina Corona, Delta, dan Omikron, tidak memiliki pewatas berupa determinan sebagai pemarkah gender, sehingga gender nomina Corona, Delta, dan Omikron menjadi tidak terlihat, sehingga terjadi pelesapan determinan sebagai pemarkah gender. Dapat dikatakan bahwa nomina Corona, Delta, dan Omikron  memberikan keluwesan kepada pengguna bahasa Jerman khususnya untuk melakukan transformasi morfologis dalam pembentukan nomina majemuk lainnya dengan beragam variasinya. 
Exploring Conceptual Metaphors in a Corpus of Sanggau Malay Songs: Cognitive Semantic Perspective Agus Syahrani; Alif Irvansyah; Ermanto Ermanto; Havid Ardi; Dedy Ari Asfar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8418

Abstract

This study aims to analyze the forms and types of conceptual metaphors and image schemas found in the corpus of Malay Sanggau song lyrics using a cognitive semantic approach. This study uses a qualitative descriptive method with data sources in the form of a corpus of seven Malay Sanggau songs taken from YouTube channels: Pancur Aji, Posan Ini, Riyak Sekayam, Lanau Idau, Borita Kalengkang, Ngapai Kapuas, and Biar Gonting Inang Putus. Data were collected through audiovisual and digital document analysis, as well as interviews with native speakers of Malay Sanggau to verify meanings. The analysis process was carried out through the stages of transcription, translation, identification of metaphors based on Lakoff and Johnson's Conceptual Metaphor theory, and application of Croft and Cruse's Image Schema theory to find cognitive relationships between the source domain and the target domain. The results of the study show that in the Sanggau Malay song corpus, there are three orientational metaphors, three structural metaphors, and three ontological metaphors. Each type of metaphor describes how the Sanggau Malay community interprets their life experiences, emotions, and cultural values through figurative language. These findings reinforce the view that conceptual metaphors function as a mirror of the cognition and local cultural identity of the Sanggau Malay community. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan jenis metafora konseptual dan skema citra yang terdapat dalam korpus lirik lagu Melayu Sanggau dengan menggunakan pendekatan semantik kognitif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa korpus tujuh lagu Melayu Sanggau yang diambil dari kanal YouTube: Pancur Aji, Posan Ini, Riyak Sekayam, Lanau Idau, Borita Kalengkang, Ngapai Kapuas, dan Biar Gonting Inang Putus. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen audiovisual dan digital, serta wawancara dengan penutur asli Melayu Sanggau untuk verifikasi makna. Proses analisis dilakukan melalui tahapan transkripsi, penerjemahan, identifikasi metafora berdasarkan teori Metafora Konseptual Lakoff dan Johnson dan penerapan teori Skema Citra Croft dan Cruse untuk menemukan hubungan kognitif antara domain sumber dan domain sasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam korpus lagu Melayu Sanggau terdapat tiga metafora orientasional, tiga metafora struktural, dan tiga metafora ontologis. Setiap jenis metafora menggambarkan cara masyarakat Melayu Sanggau memaknai pengalaman hidup, emosi, dan nilai budaya mereka melalui bahasa kiasan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa metafora konseptual berfungsi sebagai cermin kognisi dan identitas budaya lokal masyarakat Melayu Sanggau.
KRITERIA VITALITAS BAHASA TALONDO Buha Aritonang
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.34

Abstract

This research was conducted in the village of Talondo Kondo, District Bonehau, Mamuju, West Sulawesi province with the aim to determine the  vitality of the Talondo languages criteria.The methods of the research was done by doing the field research and the literature study.A fieldwork was conducted to obtain primary data while the library research obtaining secondary data. The sources of data in this study were 81 respondents from Talondo language native speakers. The datas are obtained from observations and questionnaires.To determine the vitality of Talondo language criteria the research used Likert scale models to test and compare the mean index of vitality. The calculation result of subindex groups with respondent characteristics (based on gender, age group, education level, and occupation) showed that the vitality of a Talondo language was setbacks. Because the average value addition and division of the total index of the four variables with the variables gender, age group, education level, and type of work is 0.58. The range value of its included in the index line 3—4 based on visualization in a spider diagram. ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di Desa Talondo Kondo, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat dengan tujuan untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penelitian lapangan dan pustidaka. Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer, sedangkan penelitian pustidaka untuk memperoleh data sekunder. Sumber data dalam penelitian ini adalah 81 responden penutur bahasa Talondo. Data diperoleh dari hasil pengamatan dan kuesioner. Untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo digunakan model skala Likert dan indeks dengan uji compare mean. Hasil perhitungan kelompok subindeks dengan karakteristik responden (jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan) menunjukkan bahwa vitalitas bahasa Talondo masuk kriteria mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan karena nilai penjumlahan dan pembagian rerata indeks total keempat variabel dengan variabel jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan adalah 0,58. Nilai 0,58 termasuk pada garis indeks 3—4 berdasarkan visualisasinya pada diagram laba-laba.
Efektivitas Penggunaan Multimedia Tutorial di Youtube terhadap Kemampuan Menulis Artikel Ilmiah Nini Ibrahim; Prima Gusti Yanti; Aisyah Ramadhani; Rr. Sulistyawati; Nur Amalia
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.4554

Abstract

Teachers can utilize multimedia tutorials on YouTube as a supportive learning medium. These multimedia tutorials have a positive effectiveness in improving the ability to write scientific articles. This media also facilitates students' understanding in composing scientific articles. The research aims to determine the presence and magnitude of the influence of multimedia tutorials on YouTube on the ability to write scientific articles, as well as the differences compared to conventional media (print media). The research adopts method  a quasi-experimental design, and nonprobability sampling technique is used to determine the sample. The research findings indicate that multimedia tutorials on YouTube are more effective than print media in teaching scientific article writing. The results show that the average score for writing articles using multimedia tutorials on YouTube is 85.20%, while using print media is 75.93%. Furthermore, the obtained significance value is 0.000, which is smaller than 0.05. In conclusion, there is a significant influence of multimedia tutorials on YouTube on the ability to write scientific articles students at pascasarjana UHAMKA. AbstrakPengajar dapat memanfaatkan multimedia tutorial di YouTube sebagai media penunjang pembelajaran. Multimedia tutorial ini memiliki efektivitas positif dalam peningkatan kemampuan menulis artikel ilmiah. Media ini juga mempermudah pemahaman mahasiswa dalam menyusun artikel ilmiah. Tujuan penelitian ingin mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh multimedia tutorial materi di Youtube terhadap kemampuan menulis artikel ilmiah serta perbedaannya dengan menggunakan media konvensional (media cetak). Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen. Teknik Nonprobability sampling digunakan dalam penentuan sampel. Didapati hasil penelitian yaitu multimedia tutorial materi di YouTube lebih efektif dibandingkan dengan media cetak pada materi penulisan artikel ilmiah. diperoleh hasil menulis artikel antara menggunakan multimedia tutorial materi di YouTube dengan rata-rata sebesar 85.20%, sedangkan menggunakan media cetak sebesar 75.93%. Diperoleh juga nilai sig 0,000 lebih kecil dari 0,05. Simpulan yang diambil yaitu adanya pengaruh multimedia tutorial materi di Youtube terhadap kemampuan menulis artikel ilmiah mahasiswa pascasarjana UHAMKA. 
Tipologi Pronomina Persona dalam Bahasa Jawa, Sunda dan Madura Menik Winiharti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.2092

Abstract

One of the language typologies which can be observed in languages across the globe is personal pronouns. This paper aims to discover the characteristics of personal pronoun typology in three Indonesian local languages, namely Javanese, Sundanese and Madurese. It is also to find the similarities and differences of the three languages’ personal pronoun characteristics. The theory or claim used as the main reference is of Moravcsik (2013). The data are secondary ones which are personal pronouns in the three languages collected from textbooks and results of previous studies. The data is then identified with regard to each form, whether it is independent or not. If the pronoun is not independently formed, the process of its derivation is analyzed. The results of the study show that Javanese, Sundanese and Madurese have personal pronouns which are formed both independently and through a derivation process. The first personal pronouns tend to have an independent form while the second, third and plural personal pronouns tend to be formed through a derivation process. The most obvious difference is of the Javanese singular personal pronouns which do not have derivation in three speech levels.AbstrakSalah satu tipologi bahasa yang terdapat di semua bahasa di dunia adalah pronomina persona. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik tipologi pronomina persona dalam tiga bahasa daerah di Indonesia, yaitu bahasa Jawa, bahasa Sunda dan bahasa Madura, juga untuk mengetahui persamaan dan perbedaan karakteristik pronomina persona ketiga bahasa itu. Teori atau klaim yang digunakan sebagai rujukan utama adalah dari Moravcsik (2013). Data pronomina persona dalam ketiga bahasa tersebut berupa data sekunder yang diperoleh dari buku teks dan hasil studi terdahulu. Data ini kemudian diidentifikasi terkait masing-masing bentuknya, apakah independen atau tidak. Jika pronomina tersebut bukanlah bentuk yang independen, proses derivasinya dianalisis dan dirumuskan. Hasil studi menunjukkan bahwa bahasa Jawa, Sunda dan Madura memiliki bentuk pronomina persona baik yang independen maupun yang dibentuk melalui proses derivasi. Pronomina persona pertama cenderung memiliki bentuk yang independen sedangkan persona kedua, ketiga dan plural cenderung mengalami proses derivasi. Perbedaan yang jelas terlihat adalah pada pronomina persona tunggal bahasa Jawa yang tidak memiliki bentuk derivasi sama sekali pada tiga tingkatan tuturan.
Indonesian Comprehension Proposition on Malaysian Students of UIN Sunan Ampel Surabaya Lukman Fahmi; Amiatun Nuryana; Faizah Laela
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.4283

Abstract

In this case, the researcher investigates the students from Kuala Lumpur who study in Da’wa and Communication Faculty UIN Sunan Ampel Surabaya. They have difficulties understanding Indonesian Grammar.  Such as, when they write a scientific papers or academic assignments, papers, and theses.  The factors that make them experience problems in understanding Indonesian are derived from internal and external factors.  Internal factors are in their spirit to learn Indonesian  and External influences have a significant impact on their ability to learn Indonesian verbally and in writing. UIN Sunan Ampel has a BIPA program. This is placeis for learning Indonesian language skills (speaking, writing, reading, and listening) for language speaking. This research applied a type of qualitative descriptive research. It aims to describe, analyze, and provide an accurate systematic description of the communication problems experienced by Kuala Lumpur international students pursuing undergraduate education at UIN Sunan Ampel Surabaya. The research data were obtained from observations and interviews with research subjects. The researcher used a case study for this research approach. This research was conducted on five international students from Kuala Lumpur in semesters 4, and 8 at UIN Sunan Ampel Surabaya, in semesters 6 there are no students from Kuala Lumpur precisely at the Faculty of Da'wah and Communication.  All data collected is analyzed, and then the results are written into a series of sentences in paragraphs. The qualitative descriptive method was applied in this study through observation and interviews. This study found that the understanding of language experienced by Kuala Lumpur. The factors that make them experience problems in understanding Indonesian are derived from internal and external factors.  Internal factors themselves and external influences have a significant impact on Kuala Lumpur students' ability to learn Indonesian verbally and in writing a student lies in understanding written and spoken. AbstrakDalam hal ini, peneliti menyelidiki mahasiswa asal Kuala Lumpur yang belajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Mereka kesulitan memahami Tata Bahasa Indonesia.  Misalnya saja ketika mereka menulis karya ilmiah atau tugas akademik, makalah, dan tesis.  Faktor yang membuat mereka mengalami kendala dalam memahami bahasa Indonesia berasal dari faktor internal dan eksternal.  Faktor internal yaitu semangat mereka untuk belajar bahasa Indonesia dan pengaruh Eksternal mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan mereka dalam belajar bahasa Indonesia lisan dan tulisan. UIN Sunan Ampel mempunyai program BIPA. Tempat ini untuk pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia (berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan) untuk berbicara bahasa.  Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan memberikan gambaran sistematis yang akurat mengenai permasalahan komunikasi yang dialami mahasiswa internasional Kuala Lumpur yang menempuh pendidikan sarjana di UIN Sunan Ampel Surabaya. Data penelitian diperoleh dari observasi dan wawancara terhadap subjek penelitian. Peneliti menggunakan studi kasus untuk pendekatan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan pada lima mahasiswa internasional asal Kuala Lumpur semester 4, dan 8 di UIN Sunan Ampel Surabaya, pada semester 6 tidak ada mahasiswa asal Kuala Lumpur tepatnya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi.   Seluruh data yang terkumpul dianalisis, kemudian hasilnya dituliskan dalam rangkaian kalimat dalam paragraf. Metode deskriptif kualitatif diterapkan dalam penelitian ini melalui observasi dan wawancara. Penelitian ini menemukan bahwa pemahaman bahasa dialami oleh Kuala Lumpur. Faktor yang membuat mereka mengalami kendala dalam memahami bahasa Indonesia berasal dari faktor internal dan eksternal.  Faktor Internal dalam diri sendiri dan Pengaruh Eksternal Eksternal mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan siswa Kuala Lumpur dalam belajar bahasa Indonesia lisan dan tulisan. Siswa terletak pada pemahaman tulisan dan lisan.
Prawacana, Daftar Isi, Abstrak Ranah, Jurnal Kajian Bahasa
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.655

Abstract

Konstruksi Kausatif Bahasa Batak Toba dan Bahasa Mandailing: Kajian Tipologis Bahasa Elza Leyli Lisnora Saragih; Mulyadi Mulyadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2576

Abstract

This research is a typology study of the Toba Batak languages and Mandailing languages. Both languages are cognate languages with similar language structure and typology. Until now, these two languages are still actively used in the North Sumatra region. This study specifically compares the causative construction in the Toba Batak language and the Mandailing language by selecting the same verbs in both languages and comparing them. This research is qualitative research. Data was pored out by speaking and listening technique. Furthermore, the data is examined using the equivalent method and the method of testing tested with triangulation techniques. The results showed that the causative in the Batak Toba language and Mandailing Language in general have the same form. Both of these languages have lexical causative, morphological causative and analytic causative. Lexical causatives in BT and BM languages have subtype (2), which is a verb subtype that is unique and subtype (3), which is a different verb in forming a causative construction. Both of these languages also recognize direct and indirect causatives. Morphological causatives in the Toba Batak language are characterized by affective causative markers (-hon), (-i), (pa- / par-), (pa-hon), and (pa-) whereas in Mandailing language are marked by causative markers (ma-kon), (pa-kon), (pa-on), (pa-), (tar-). In Batak Toba and Mandailing languages, analytical causatives are found whose construction is formed by predicates containing verbs (intransitive and transitive), adjectives, and nouns and shows causal events with two separate predicates (cause and effect). AbstrakPenelitian ini merupakan kajian tipologi terhadap bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing. Kedua bahasa ini merupakan bahasa serumpun dengan struktur dan tipologi bahasa yang mirip. Sampai saat ini, kedua bahasa ini masih digunakan secara aktif di wilayah Sumatera Utara. Penelitian ini secara spesifik membandingkan konstruksi kausatif dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing dengan cara memilih kata kerja yang sama dalam kedua bahasa serta membandingkannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan metode simak dan cakap. Selanjutnya, data dikaji dengan menggunakan metode padan dan metode agih yang diuji dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kausatif dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing secara umum memiliki kesamaan bentuk. Kedua bahasa ini memiliki kausatif leksikal, kausatif morfologis dan kausatif analitik. Konstruksi kausatif leksikal dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing memiliki subtipe (2) yaitu subtipe verba yang memiliki keunikan dan subtipe (3) yaitu verba berbeda dalam membentuk konstruksi kausatif. Kedua bahasa ini juga mengenal kausatif langsung dan tidak langsung. Kausatif morfologis dalam bahasa Batak Toba ditandai oleh pemarkah kausatif afiks (-hon), (-i), (pa-/par-), (pa—hon), dan (pa-), sedangkan dalam bahasa Mandailing ditandai oleh pemarkah kausatif (ma-kon), (pa –kon), (pa-on), (pa-), (tar-). Dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing ditemukan kausatif analitik yang konstruksinya dibentuk oleh predikat yang mengandung verba (intransitif dan transitif), adjektiva, dan nomina serta menunjukkan peristiwa kausal dengan dua predikat (sebab dan akibat) yang terpisah. 
Reconciling Conflicts of Canadian Racism Through Hegemony of Papal Apologies: Perspectives from Critical Discourse Analysis Elisa Nurul Laili; Riyadi Santosa; Tri Wiratno; Mangatur Nababan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.6528

Abstract

Apology is one of expressive speech acts aims to erase the wound. Speech texts, uttered by most influential people, has transactional function to emphasize the content of the apology as speech act itself. Pope’s apology is considered a significant moment to reconcile societal conflicts, especially indigenous Canadians. The strategy used by Pope in his apology was considered successful, because it received a positive response from the victim's family. This study describes Pope Francis' apology strategy to Indigenous Canadians using the CDA model presented by van Dijk and Foucault and the theory of apology strategy proposed by Trosborg. The data are taken from the speech transcripts derived from official websites and analyzed usik content analysis. Through the description of apology strategies, it can bea concluded that Pope Francis used direct and indirect strategies that show his effort to erase the racism issues in society. This also shown how hegemony handles the main role to overcome the issues of racism that has raised by the media. It is hoped to be investigated further to get more explanation of language roles to reconcile the conflicts. AbstrakPermintaan maaf merupakan salah satu tindak tutur ekspresif yang bertujuan untuk menghapus luka. Teks tutur yang dituturkan oleh orang-orang yang paling berpengaruh memiliki fungsi transaksional untuk menekankan isi permintaan maaf sebagai tindak tutur itu sendiri. Permintaan maaf Paus dianggap sebagai momen penting untuk mendamaikan konflik masyarakat, khususnya masyarakat adat Kanada. Strategi yang digunakan Paus dalam permintaan maafnya dinilai berhasil, karena mendapat tanggapan positif dari keluarga korban. Penelitian ini menguraikan strategi permintaan maaf Paus Fransiskus kepada masyarakat adat Kanada dengan menggunakan model CDA yang dikemukakan oleh van Dijk dan Foucault serta teori strategi permintaan maaf yang dikemukakan oleh Trosborg. Data diambil dari transkrip tuturan yang diperoleh dari situs web resmi dan dianalisis menggunakan analisis isi. Melalui uraian strategi permintaan maaf, dapat disimpulkan bahwa Paus Fransiskus menggunakan strategi langsung dan tidak langsung yang menunjukkan upayanya untuk menghapus isu rasisme di masyarakat. Hal ini juga menunjukkan bagaimana hegemoni memegang peranan utama untuk mengatasi isu rasisme yang diangkat oleh media. Diharapkan dapat diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang peran bahasa untuk mendamaikan konflik tersebut.
Akomodasi Bahasa di Napan, Nusa Tenggara Timur, Wilayah Perbatasan Indonesia-Timor Leste Wati Kurniawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 2 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i2.1119

Abstract

Napan village is located in the Indonesia-Timor Leste border region whose people speak in Dawan and Indonesian. The problem in this studyare the accommodation of Dawan speakers, what is the direction of their accommodation between languages, and how do speakers’ who accommodate at the syntactic level based on gender and age groupThis study aims to identify the level of syntax used in language accommodation and its frequency based on the characteristics of respondents in Napan Village, the Indonesia-Timor Leste border region, East Nusa Tenggara. The method of the study is the survey method with 72 respondents of Dawan speakers which are divided into 36 men and 36 women as the samples. The results show that speakers of Dawan accommodate the language because of the security, familiarity, and growing trust within the speech participants. Speakers of Dawan are very positive about their language, positive about Indonesian language and quite positive about the languages of the neighboring country, namely Tetun Portu or Tetun Dili. Speakers of the Dawan language accommodate the Tetun Portu or Tetun Dili language at the lexical level, phrases, sentences, and expressions. Based on gender, female speakers of Dawan accommodate the Tetun Portu or Tetun Dili language (9.7%) more than male speakers (8.3%). Meanwhile, male speakers of Dawan (41.7%) are less accommodative to Tetun Portu or Tetun Dili than female speakers (40.3%). Based on age, speakers of Dawan who accommodate the Tetun Portu or Tetun Dili languages dominantly come from the ages of 26--50 years old (8.3%) compared to ages less than 25 years old (5.5%) and more than 51 years old (4, 2%). In addition, speakers of Dawan who do not accommodate the Tetun Portu or Tetun Dili languages are speakers older than 51 years old (29.2%) more dominant than those aged less than 25 years (27.8%) and those aged between 26-50 years (25%). ABSTRAKDesa Napan terletak di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste yang masyarakatnya bertutur dalam bahasa Dawan dan bahasa Indonesia. Permasalahan dalam penelitian ini ialah mengapa penutur bahasa Dawan berakomodasi, bagaimana arah akomodasi antarbahasa, dan bagaimana penutur yang berakomodasi pada tataran sintaksis berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia? Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tataran sintaksis yang digunakan dalam akomodasi bahasa dan frekuensinya berdasarkan karakteristik responden di Desa Napan, wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, Nusa Tenggara Timur. Dalam penelitian ini digunakan metode survei. Sampel dalam penelitian ini adalah 72 responden penutur bahasa Dawan, yang terdiri atas 36 pria dan 36 wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutur bahasa Dawan di Desa Napan berakomodasi karena kenyamanan, keakraban, dan untuk menumbuhkan rasa percaya mitra tutur. Penutur bahasa Dawan sangat positif terhadap daerahnya (bahasa Dawan), positif terhadap bahasa Indonesia, dan cukup positif terhadap bahasa negara tetangga, yaitu bahasa Tetun Portu atau Tetun Dili. Penutur bahasa Dawan berakomodasi terhadap bahasa Tetun Portu atau Tetun Dili pada tataran leksikal, frasa, kalimat, dan ungkapan. Berdasarkan jenis kelamin, penutur perempuan bahasa Dawan yang berakomodasi terhadap bahasa Tetun Portu atau Tetun Dili (9,7%) lebih dominan daripada laki-laki (8,3%). Sementara itu, penutur laki-laki bahasa Dawan yang tidak berakomodasi terhadap bahasa Tetun Portu atau Tetun Dili (41,7%) lebih dominan daripada perempuan (40,3%). Berdasarkan kelompok usia, penutur bahasa Dawan yang berakomodasi terhadap bahasa Tetun Portu atau Tetun Dili tampak dominan yang berusia 26—50 tahun (8,3%) dibandingkan dengan yang berusia <25 tahun (5,5%) dan > 51 tahun (4,2%). Di samping itu, penutur bahasa Dawan yang tidak berakomodasi bahasa adalah penutur yang berusia >51 tahun (29,2%) lebih dominan daripada yang berusia <25 tahun (27,8%) dan yang berusia 26—50 tahun (25%).