cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Sociophonetic Analysis of the Characters' Speech in "Troubled Blood" by R. Galbraith Clara Herlina Karjo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5178

Abstract

British English has several regional varieties for almost every English county, e.g. Yorkshire, Lancashire, Cornwall, and so on. Each dialect can be distinguished by distinct vocabularies and pronunciation; for example the Cockney dialect use the glottal stop [?] instead of alveolar stop [t] in words like butter and bitter, so they are pronounced as [bΛ?ər] and [bɪ?ər]. These distinctive dialects’ pronunciation can be identified easily in spoken interaction, but it would be more problematic if it was represented in written text, such as in a novel. This paper attempts to analyse the distinguishing features of six intra-national varieties of British English found in the detective novel ‘Troubled Blood’ by Robert Galbraith, which is a pseudonym of J.K. Rowlings. The data for this study were taken from the speech samples of six characters from six regional dialects: Irish, Cornish, Scottish, Cockney, Eastender, and Essex. The speech samples data were extracted from the chapters in which the detective (Strike) or her partner (Robin) conversed with the chosen characters whose language backgrounds were stated clearly in the novel. The data were analysed by transcribing the speech samples phonetically, then from the transcriptions, phonetic features of each regional variation were identified using the theories of sociophonetic and regional variations. The interpretation of the sounds was based on the standard British English pronunciation. Results showed that a woman with East End dialect had some characteristics such as omission of initial h-sound, as in ‘appens, ‘ad, ‘eadaches, while a Scottish dialect was identified by the use of ‘havenae’ for ‘have not’. These results indicate that regional dialects or variations can be represented accurately in written text. Yet, it also suggests that the writer should have ample knowledge of each dialect to be able to represent distinctive variations in their writing.  AbstrakBahasa Inggris British memiliki beberapa variasi regional untuk hampir setiap wilayah Inggris, misalnya Yorkshire, Lancashire, Cornwall, dan sebagainya. Setiap dialek dapat dibedakan dengan kosakata dan pengucapan yang berbeda; misalnya dialek Cockney menggunakan glottal stop [?] alih-alih alveolar stop [t] dalam kata-kata seperti ‘butter’ dan ‘bitter’ sehingga diucapkan sebagai [bΛ?ər] dan [bɪ?ər]. Pengucapan dialek yang khas ini dapat diidentifikasi dengan mudah dalam interaksi lisan, tetapi akan lebih bermasalah jika direpresentasikan dalam teks tertulis, seperti dalam novel. Makalah ini mencoba menganalisis ciri-ciri pembeda dari enam dialek intra nasional Bahasa Inggris British yang ditemukan dalam novel detektif 'Troubled Blood' karya Robert Galbraith, yang merupakan nama samaran dari J.K. Rowling. Data untuk penelitian ini diambil dari sampel tuturan enam karakter dari enam dialek daerah: Irlandia, Cornish, Skotlandia, Cockney, Eastender, dan Essex. Data sampel ujaran diambil dari bab-bab di mana detektif (Strike) atau pasangannya (Robin) berbicara dengan karakter terpilih yang latar belakang bahasanya disebutkan dengan jelas dalam novel. Data dianalisis dengan mentranskripsikan sampel ujaran secara fonetis, kemudian dari transkripsi tersebut diidentifikasi ciri-ciri fonetik masing-masing variasi regional dengan menggunakan teori sosiofonetik dan variasi regional. Penafsiran suara didasarkan pada pengucapan bahasa Inggris standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang wanita dengan dialek East End memiliki beberapa karakteristik seperti penghilangan bunyi h awal, seperti pada 'appens, 'ad, 'eadaches, sedangkan dialek Skotlandia diidentifikasi dengan penggunaan 'havenae' untuk 'have not' . Hasil ini menunjukkan bahwa dialek atau variasi daerah dapat direpresentasikan secara akurat dalam teks tertulis. Namun, hal itu juga mensyaratkan bahwa penulis harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang setiap dialek untuk dapat mewakili variasi yang berbeda dalam tulisan mereka 
Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia Hilda Hilaliyah; Sulis Setiawati; Ahmad Muzaki; Ahmad Khoiril Anam; Fauzi Rahman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8382

Abstract

Tebedu (Malaysia) as a form of representation of identity negotiation in the Indonesia-Malaysia border area. The method used in this study is qualitative with a descriptive-comparative type of research. The data collection was carried out through participatory observation and visual documentation carried out in the Entikong area, Sanggau Regency, West Kalimantan and Tebedu, Sarawak State, Malaysia. The collected data were then analyzed based on Landry & Bourhis' linguistic landscape concept which consists of informational and symbolic functions of linguistic markers of public space. The results showed that the linguistic landscape in Entikong represented symbolic messages such as nationalism, anti-corruption and anti-drug campaigns, hero honor, and the strengthening of the rupiah currency. In contrast, the linguistic landscape in Tebedu displays symbolic messages in a more limited form through directional markers, usage instructions, appeals, prohibitions, local cultural icons, and local political slogans. This difference confirms that Entikong makes language a means of state ideology, while Tebedu positions the language of the public space as a means of functional communication. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.
SIKAP KALANGAN DEWASA-MUDA JABODETABEK TERHADAP PENGGUNAAN SALAM SAPAAN “ASSALAMUALAIKUM” DAN NETRALITAS SALAM SAPAAN KEAGAMAAN Adhitya Alkautsar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i1.25

Abstract

Sebagai masyarakat yang mayoritas memeluk Islam, penggunaan kata assalamualaikum sebagai salam sapaan adalah hal yang lumrah di kalangan dewasa-muda berumur 20-29 yang menetap di Jabodetabek. Namun, sebagai kawasan urban yang menjadi tujuan arus urbanisasi, dan tempat di mana komunikasi dan perputaran informasi terjalin intensif, kebutuhan untuk hidup berdampingan dalam masyarakat yang plural dan heterogen menjadi pertimbangan penting dalam berkomunikasi satu sama lain, termasuk dalam menggunakan salam sapaan. Faktor ini mempengaruhi sikap terhadap salam sapaan yang digunakan, juga kesopanan dalam berbahasa. Penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu sikap masyarakat Jabodetabek umur 20-29 tahun terhadap salam sapaan assalamualaikum dan pandangan mereka terhadap netralitas salam sapaan keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap masyarakat Jabodetabek berumur 20-29 tahun terhadap salam sapaan assalamualaikum cenderung positif, namun sebaliknya netralitas salam sapaan keagamaan seperti assalamualaikum dipandang rendah. Hasil analisis secara kualititatif dan kuantitatif pun sama-sama menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara sikap terhadap salam sapaan assalamualaikum dan pandangan terhadap netralitas salam sapaan keagamaan dalam masyarakat Jabodetabek berumur 20-29 tahun.
Pola Nama pada Masyarakat Baduy Cece Sobarna; Asri Soraya Afsari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2939

Abstract

The giving of people's names is a universal phenomenon. However, every society has its own convention. The Baduy community as Sundanese indigenous people are unique in terms of giving names. The life of the Baduy community has recently begun to open up. This condition of course affects the joints of socio-cultural life, including the naming of names. The Baduy millennials, especially the Outer Baduy, for example, are more proud to have a name they consider modern so that some of them have nicknames that are far different from their real names. Of course this is a concern if left unchecked. This study examines the pattern of naming the Baduy community that has been going on for a long time. The aim is to describe the convention of naming patterns as the identity of the Baduy community. The data studied came from ten Outer Baduy villages by using the Family Card (KK) data in the Kenekes Village Office archive. Furthermore, the list of names contained in the KK was processed using the Microsoft Excel program through gender classification, age range, and name standard patterns. The results showed that the naming pattern of the Baduy community was that the names of girls took part, especially the initial syllable, from the father's name, while the names of boys took part of the mother's name. This is related to the philosophical values that protect each other between children and parents. AbstrakPemberian nama orang merupakan gejala yang universal. Namun, setiap masyarakat memiliki konvensinya masing-masing. Masyarakat Baduy sebagai indigenous people Sunda memiliki keunikan dalam hal pemberian nama. Kehidupan masyarakat Baduy akhir-akhir ini mulai terbuka. Kondisi ini tentu saja memengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial-budayanya, tidak terkecuali dengan pemberian nama. Kaum milineal Baduy, terutama Baduy Luar, misalnya, lebih bangga memiliki nama yang dianggapnya modern sehingga sebagian dari mereka memiliki nama panggilan yang jauh berbeda dari nama aslinya. Tentu hal ini menjadi sebuah kekhawatiran apabila dibiarkan. Penelitian ini mengkaji pola pemberian nama masyarakat Baduy yang sudah berlangsung sejak lama. Tujuannya adalah mendeskripsikan konvensi pola-pola penamaan sebagai identitas masyarakat Baduy. Data yang dikaji berasal dari sepuluh kampung Baduy Luar dengan memanfaatkan data Kartu Keluarga (KK) yang ada di arsip Kantor Desa Kenekes. Selanjutnya, daftar nama yang terdapat pada KK diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel melalui klasifikasi jenis kelamin, rentang usia, dan pola kakonis nama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penamaan masyarakat Baduy adalah nama anak perempuan mengambil sebagian, terutama suku kata awal, dari nama ayah, sedangkan nama anak laki-laki mengambil sebagian dari nama ibu. Hal ini berkaitan dengan nilai filosofis yang saling melindungi antara anak dan orang tua.
How Psychopragmatic Studies Can Be an Approach to Seeing a Pattern of Covid-19 Spread Wahyudi Rahmat; Alex Darmawan; Maryelliwati Maryelliwati; Hari Adi Rahmad; Aminah Aminah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.2391

Abstract

The Covid-19 pandemic has caused widespread concern and apprehension among individuals globally, including those residing in Indonesia. This infectious disease primarily affects the respiratory system. This investigation uses psychopragmatic analysis to analyze various types of discourse that may contribute to the propagation of Covid-19 or coronavirus. Specifically, the study will focus on panic and anxiety speech, which are influenced by the speaker's psychological state. The theoretical framework employed in this research is based on Capano (2013). The utilized research methodology is founded on Sudaryanto's (2015) perspective, employing a distribution approach. The findings of this research indicate that a speaker's psychology can impact the development of Covid-19 in other speakers, as evidenced by the influence of panic and anxiety speech. This phenomenon arises from the experience of panic and anxiety, resulting in an excessive manifestation of fear and anxiety. AbstrakPandemi Covid-19 telah menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan yang meluas di kalangan individu secara global, termasuk mereka yang berada di Indonesia. Penyakit menular ini terutama memengaruhi sistem pernapasan. Investigasi ini bertujuan untuk menganalisis berbagai jenis wacana yang dapat berkontribusi pada penyebaran Covid-19 atau virus corona dengan menggunakan analisis psikopragmatik. Secara khusus, penelitian ini akan berfokus pada pidato panik dan kecemasan yang dipengaruhi oleh keadaan psikologis pembicara. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada Capano (2013). Metodologi penelitian yang digunakan didasarkan pada perspektif Sudaryanto (2015), dengan menggunakan pendekatan distribusi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa psikologi seorang pembicara dapat berdampak pada perkembangan Covid-19 pada pembicara lain, terbukti dengan pengaruh pidato panik dan kecemasan. Fenomena ini muncul dari pengalaman panik dan kecemasan, yang mengakibatkan manifestasi ketakutan dan kecemasan yang berlebihan.
Strategi Tindak Tutur dan Kesantunan Berbahasa dalam Interaksi Digital: Analisis Pragmatik Pada Percakapan Media Sosial Siti Suwadah Rimang; Haslinda Haslinda; Maria Ulviani; Andi Adam
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8595

Abstract

This study is motivated by the complexity of language use in digital interactions, particularly on social media, where variations of meaning, politeness strategies, and pragmatic failures frequently occur. The main problem addressed in this study concerns how speech act and politeness strategies are employed in social media conversations and how context influences meaning interpretation in digital interaction. This study aims to identify types of speech acts, describe politeness and impoliteness strategies, and explain the role of context in constructing meaning in social media discourse. This research employs a descriptive qualitative approach with a pragmatic perspective. The data consist of 120 utterances collected from Instagram and Twitter/X through documentation and non-participant observation techniques conducted from January to March 2025. Data analysis was carried out through speech act identification, politeness strategy analysis, contextual interpretation, and conclusion drawing. The findings reveal that directive speech acts are the most dominant with 46 data (38.3%), followed by expressive speech acts with 34 data (28.3%) and representative speech acts with 25 data (20.8%). The politeness strategies identified include both positive and negative politeness, as well as the use of multimodal elements such as emojis to reinforce pragmatic meaning and reduce threats to the interlocutor’s face. In addition, impoliteness strategies were also found to function as expressions of emotion, criticism, and group solidarity. The study further indicates that limited contextual cues and the absence of nonverbal signals in digital communication may lead to pragmatic failure, including both pragmalinguistic failure and sociopragmatic failure. Therefore, this study highlights the importance of pragmatic competence in achieving effective, polite, and contextual communication in the digital era. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas penggunaan bahasa dalam interaksi digital, khususnya pada media sosial yang memungkinkan terjadinya variasi makna, strategi kesantunan, dan kegagalan pragmatik. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana strategi tindak tutur dan kesantunan digunakan dalam percakapan media sosial serta bagaimana konteks memengaruhi interpretasi makna dalam interaksi digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tindak tutur, mendeskripsikan strategi kesantunan dan ketidaksantunan, serta menjelaskan peran konteks dalam membentuk makna ujaran di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif pragmatik. Data berupa 120 tuturan yang diperoleh dari Instagram dan Twitter/X melalui teknik dokumentasi dan observasi non-partisipatif selama Januari–Maret 2025. Analisis data dilakukan melalui tahap identifikasi tindak tutur, analisis strategi kesantunan, interpretasi konteks, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur yang dominan adalah direktif sebanyak 46 data (38,3%), ekspresif sebanyak 34 data (28,3%), dan representatif sebanyak 25 data (20,8%). Strategi kesantunan yang ditemukan meliputi kesantunan positif dan negatif, serta penggunaan unsur multimodal seperti emoji untuk memperkuat makna pragmatik dan mengurangi ancaman terhadap face mitra tutur. Selain itu, ditemukan pula strategi ketidaksantunan (impoliteness) yang berfungsi sebagai ekspresi emosi, kritik, dan solidaritas kelompok. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterbatasan konteks dan minimnya isyarat nonverbal dalam komunikasi digital dapat menyebabkan kegagalan pragmatik, baik dalam bentuk pragmalinguistic failure maupun sociopragmatic failure. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya kompetensi pragmatik dalam membangun komunikasi yang efektif, santun, dan kontekstual di era digital.
KEBANGGAAN MASYARAKAT SEBATIK TERHADAP BAHASA INDONESIA, BAHASA DAERAH, DAN BAHASA ASING: DESKRIPSI SIKAP BAHASA DI WILAYAH PERBATASAN Retno Handayani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.148

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk memberikan gambaran mengenai sikap bahasa masyarakat di Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan membandingkan rasa kebanggaan mereka terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Melayu Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Dalam metode kuantitatif, data diolah dengan menggunakan kalkulasi statistik, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada 108 responden dengan karakteristik sosial tertentu berdasarkan jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di antara ketiga variabel penelitian, kebanggaan masyarakat Sebatik terhadap bahasa Indonesia lebih tinggi dibandingkan terhadap bahasa daerah dan bahasa Melayu Malaysia.
Menulis Teks Pidato Persuasif, Motivasi Belajar, dan Pendekatan Saintifik dengan Bantuan Media Powtoon Ika Mustika; Alfa Mitri Suhara; Endri Luki Fauzi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.3348

Abstract

The purpose of this research is to determine the ability to write persuasive speech text and learning motivation of junior high school students whose learning uses a scientific approach assisted by powtoon media compared to those using a scientific approach, to determine whether there is a relationship between learning motivation and the ability to write persuasive speech text of junior high school students, and to Knowing student performance in implementing the scientific approach, solving knowledge questions, and completing practical assignments to write persuasive speech texts. The method used in this study is a quasi-experimental type nonequivalent control group design. The sample in this study were 50 junior high school students. Based on the research data, it was found that the experimental class was better at writing persuasive speech texts than the control class. In the association test data between the ability to write persuasive speech text and learning motivation, it turns out that in the experimental class the Sig value is 0.058> 0.05 and in the control class the sig value is 0.357> 0.05. These results mean that there is no association between the ability to write persuasive speech texts and learning motivation in either the experimental class or the control class. The performance of students when implementing the scientific approach assisted by the powtoon media was 86.66%. These results meant that the student's performance was very good. The student's performance in his ability to write persuasive speech texts in the experimental class was in the good category, while in the control class it was in the poor category. AbstrakTujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui kemampuan menulis teks pidato persuasif dan motivasi belajar siswa SMP yang pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik dengan bantuan media Powtoon dibandingkan dengan yang menggunakan pendekatan saintifik, untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar dengan kemampuan menulis teks pidato  persuasif siswa SMP, dan untuk mengetahui kinerja siswa dalam implementasi pendekatan saintifik, menyelesaikan soal-soal pengetahuan, dan menyelesaikan tugas praktik menulis teks pidato persuasif. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah quasi eksperimen dengan tipe nonequivalent control group design. Sampel pada penelitian ini yaitu siswa SMP yang berjumlah 50 orang. Berdasarkan data penelitian diperoleh hasil bahwa kelas eksperimen lebih baik dalam menulis teks pidato persuasif dibandingkan kelas kontrol. Pada data uji asosiasi antara kemampuan menulis teks pidato persuasif dengan motivasi berlajar ternyata pada kelas eksperimen diperoleh nilai Sig 0,058> 0,05 dan di kelas kontrol diperoleh nilai  Sig 0,357 > 0,05. Hasil tersebut bermakna bahwa tidak ada asosiasi antara kemampuan menulis teks pidato persuasif dan motivasi belajar baik di kelas eksperimen ataupun kelas kontrol. Kinerja siswa pada saat mengimplementasikan pendekatan saintifik dengan bantuan media powtoon diperoleh hasil 86,66 % hasil tersebut bermakna bahwa kinerja siswa sangat baik. Adapun kinerja siswa dalam kemampuannya dalam menulis teks pidato persuasif di kelas eksperimen yaitu ada dalam kategori baik, sedangkan di kelas kontrol yaitu dalam kategori kurang.
Analisis Semiotika Sosial M.A.K. Halliday Novel Ghoky Aku Papua Karya Johan Gandegoay Insum Malawat
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6798

Abstract

This research aims to describe and interpret the social and cultural symbols of the language used in the novel Ghoky Aku Papua by Johan Gandegoay as the subject. The research objects are the discourse field, discourse actors, and discourse means. The method used is Halliday's social semiotics content analysis model. Data collection techniques include (1) reading the GAP novel; (2) write the speeches of the characters which contain elements of discourse fields, discourse participants, and discourse means; and (3) classification of data in the form of clauses into tables containing discourse fields, discourse participants, and discourse means. Data analysis techniques are as follows. Identify and interpret signs and symbols that describe Papuan identity; describe and interpret the speech of the characters which represent the Papuan social context; and identifying and interpreting the speech of characters that represent language variations or styles. Based on the results of text analysis, it is concluded as follows. The discourse field in the novel GAP displays the socio-cultural environment of the Papuan people in coastal areas. The character highlighted regarding the identity of coastal people is open and communicative with various levels of society, both OAP and non-OAP. The language symbols that mark the Papuan social context are marked by Papuan dialects such as ko (you), pace (adult man), paitua (father), bitter melon fish tail, penggayu feet, and stilt houses as the identity of coastal communities. This component is present to represent the function of ideational metalanguage. Discourse involvement is shown through the presence of figures and their role as representatives of the socio-cultural community of the Papuan people and agents of change. This section reflects on the interpersonal function of language. Components of discourse means are displayed through the use of language styles, including metaphor, personification, polysynthesis, hyperbole, rhetoric, hypocorism and repetition. The means of discourse present represent the textual function of language. AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan dan memaknai simbol-simbol sosial budaya bahasa yang digunakan dalam novel Ghoky Aku Papua karya Johan Gandegoay sebagai subjek. Objek penelitian adalah medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Metode yang digunakan adalah semiotika sosial Halliday model analisis isi. Teknik pengumpulan data meliputi (1) membaca novel GAP; (2) menuliskan tuturan dari para tokoh yang mengandung unsur medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana; dan (3) klasifikasi data berbentuk klausa ke dalam tabel yang berisi medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Teknik analisis data sebagai berikut. Mengidentifikasi dan memaknai tanda-tanda dan simbol-simbol yang menggambarkan identitas kepapuaan; menggambarkan dan memaknai tuturan para tokoh yang merepresentasikan konteks sosial kepapuaan; dan mengidentifikasi dan memaknai tuturan para tokoh yang melambangkan variasi atau gaya bahasa. Berdasarkan hasil analisis teks, disimpulkan sebagai berikut. Medan wacana dalam novel GAP menampilkan lingkungan sosial budaya masyarakat Papua di wilayah pesisir. Karakter yang ditonjolkan terkait identitas orang pesisir adalah terbuka dan komunikatif dengan berbagai lapisan masyarakat, baik OAP maupun non-OAP. Lambang bahasa yang menandai konteks sosial kepapuaan kepapuaan ditandai dengan dialek Papua seperti ko (kamu), pace (pria dewasa), paitua (bapak), ekor ikan pare, kaki penggayu, dan rumah panggung sebagai identitas masyarakat pesisir pantai. Komponen ini hadir mewakili fungsi metabahasa ideasional. Pelibat wacana ditunjukkan melalui kehadiran para tokoh dan perannya sebagai wakil komunitas sosial budaya masyarakat Papua dan agen perubahan. Bagian ini merefleksikan fungsi interpersonal bahasa. Komponen sarana wacana ditampilkan melalui penggunaan gaya bahasa antara lain metafora, personifikasi, polisindeton, hiperbola, retorik, hipokorisme, dan repetisi. Sarana wacana hadir mewakili fungsi tekstual bahasa.
Struktur dan Makna Simbol dalam Prosesi Rampanan Kapa': Perspektif Semiotika dan Antropolinguistik Naomi Patiung; Simon Sitoto; Yeheskiel Marewa; Agussalim Waangsir
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8533

Abstract

This study aims to analyze the structure and symbolic meaning of utterances in the Torajan traditional wedding ceremony known as rampanan kapa'. Data comprising 20 ritual utterances were collected through participant observation and documentation, with 10 utterances selected as the research sample using purposive sampling. The analysis was conducted qualitatively by integrating Saussurean and Peircean semiotic frameworks with an anthropolinguistic perspective encompassing the concepts of performance, indexicality, and participation. The findings reveal three key results: (1) ritual utterances in rampanan kapa' exhibit syntagmatic parallelism structures that construct meaning linearly across the stages of opening, customary negotiation, and closing; (2) paradigmatically, lexical choices in traditional speech are constrained yet symbolically rich, with natural symbols such as bamboo, sugar palm fiber, and arenga palm, as well as heirloom objects such as the keris and rooster, representing values of honor, fidelity, and family continuity; and (3) the meaning of ritual utterances cannot be understood literally, but must be interpreted within the cultural system of Torajan society transmitted across generations. This study affirms that ritual language in rampanan kapa' functions simultaneously as a medium of customary communication, a system for transmitting cultural values, and a representation of Torajan social identity. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur dan makna simbol dalam tuturan prosesi perkawinan adat Toraja yang dikenal sebagai rampanan kapa'. Data berupa 20 tuturan ritual yang diperoleh melalui observasi partisipan dan dokumentasi, kemudian dipilih 10 tuturan sebagai sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan mengintegrasikan pendekatan semiotika Saussure dan Peirce serta perspektif antropolinguistik yang mencakup konsep performansi, indeksikalitas, dan partisipasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: (1) tuturan ritual rampanan kapa' memiliki struktur paralelisme sintagmatik yang membentuk makna secara linear melalui tahapan pembukaan, negosiasi adat, hingga penutup; (2) secara paradigmatik, pilihan leksikal dalam tuturan adat bersifat terbatas namun sarat nilai simbolik, di mana simbol alam seperti bambu, ijuk, dan enau serta benda pusaka seperti keris dan ayam jantan merepresentasikan nilai kehormatan, kesetiaan, dan keberlangsungan keluarga; dan (3) makna tuturan ritual tidak dapat dipahami secara literal, melainkan harus ditafsirkan dalam konteks sistem budaya masyarakat Toraja yang mewarisinya secara turun-temurun. Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa ritual dalam rampanan kapa' berfungsi sekaligus sebagai media komunikasi adat, sistem pewarisan nilai budaya, dan representasi identitas sosial masyarakat Toraja.