cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Kadar Air, Kadar Lemak dan Tekstur Keju Mozarela Dari Susu Kerbau, Susu Sapi dan Kombinasinya Sunarya, Hilma
Animal Agriculture Journal Vol 5, No 3 (2016): Volume 5 Nomor 3 Tahun 2016
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.25 KB)

Abstract

Penelitian Bertujuan untuk Mengetahui Kadar Lemak Air serta sifat organoleptik keju mozzarella dari susu kerbau dan susu sapi serta kombinasi keduanya. metode pembuatan keju mozzarella dalam penelitian ini adalah dengan pengasaman langsung menggunakan asam sitrat dan renet. perlakuannya adalah perbedaan persentase susu yaitu T1 100% susu kerbau, T2 25% susu kerbau dan 75% susu sapi, T3 50% susu kerbau dan 50% susu sapi, T4 75% susu kerbau dan 25% susu sapi. hasil penelitian menunjukan bahwa kadar kadar air dan kadar lemak dipengaruhi oleh persentase susu dapi dan kerbau sebagai bahan dasar keju mozzarella sedangkan tekstur tidak dipengaruhi oleh persentasenya. keju mozzarella yang baik terbuat dari 100% susu sapi karena mempunyai kadar air yang rendah dan kadar lemak yang tinggi sehingga memberikan tekstur yang baik.
KECERNAAN SERAT KASAR DAN ENERGI METABOLIS PADA AYAM KEDU UMUR 24 MINGGU YANG DIBERI RANSUM DENGAN BERBAGAI LEVEL PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR Wulandari, Kartika Yuga; Ismadi, Vitus Dwi Yunianto Budi; Tristiarti, Tristiarti
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.998 KB)

Abstract

ABSTRACTThe research aims to study more about crude fiber digestibility and the metabolic energy of Kedu hens at 24 weeks fed with different levels of protein and crude fiber. The benefits of research can provide information about the level of crude protein and fiber crude fiber that give best value of crude fiber digestibility and metabolic energy in Kedu hens at 24 weeks. This research used Randomized Block Design (RBD) with 3 treatments and 5 groups. Each group used 5 units of animal experiments. Treatment consist of different levels of crude protein (12.25%, 14.24% and 16.12%) and different levels of crude fiber (16.87%, 14.14% and 11.12%). Parameters observed were feed consumption, crude fiber digestibility, energy metabolic and body weight gains. The material used are 75 Kedu hens at 24 weeks, concentrate, bran, corn flour, fish meal, soybean meal, oyster shell powder, CaCO3, premix. The equipment used are batteery cages, where feed and drink, blender, strainer, box, hygrometers, thermometers, scales, sprays, indicators Cr2O3, 0.2 N HCl, alcohol, vitachick, as well as equipment for proximate analysis and bomb kalorimeter. The results showed that the ration formulations with different levels of crude protein and crude fiber significantly affect crude fiber digestibility and metabolic energy, but did not significantly affect the feed consumption and body weight gain.Keywords: chicken Kedu, digestibility, metabolic energy, crude fiber, crude proteinABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut tentang kecernaan serat kasar dan nilai energi metabolis pada ayam kedu umur 24 minggu yang diberi ransum dengan berbagai level protein dan serat kasar. Manfaat penelitian dapat memberikan informasi mengenai level protein dan serat kasar yang menghasilkan kecernaan serat kasar dan nilai energi metabolis yang terbaik pada ayam Kedu umur 24 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 5 kelompok. Tiap kelompok menggunakan 5 unit ternak percobaan. Perlakuan yang diberikan adalah ransum dengan protein kasar level berbeda (12,25%; 14,24% dan 16,12%) dan serat kasar level berbeda (16,87%, 14,14% dan 11,12%). Parameter yang diamati adalah konsumsi ransum, kecernaan serat kasar, energi metabolis dan pertambahan bobot badan harian. Materi yang digunakan adalah 75 ekor ayam Kedu umur 24 minggu, konsentrat, dedak, jagung giling, tepung ikan, tepung bungkil kedelai, tepung cangkang kerang, CaCO3, premix. Peralatan yang digunakan adalah kandang batteery, tmpat pakan dan minum, blender, saringan, box simpanan, higrometer, thermometer, timbangan, semprotan, indikator Cr2O3, HCl 0,2N, alkohol, vitachick, serta peralatan untuk analisis proksimat dan bomb kalorimeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum formulasi perbaikan dengan berbagai level protein kasar dan serat kasar berpengaruh nyata terhadap kecernaan serat kasar dan energi metabolis, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan harian.Kata kunci : ayam Kedu, kecernaan, energi metabolis, serat kasar, protein kasar
INCOME OVER FEED COST PADA AYAM LOHMAN UNSEXING YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG GULMA AIR Salvinia molesta (Income Over Feed Cost of Unsexed Lohman Rearing Fed with Duck Weed S. molesta Containing Formula) Lestari, Sri; Setiyawan, Hery; Setiadi, Agus
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.533 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanaka pada bulan Agustus sampai Oktober 2013 di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan daun Salvinia molesta pada ransum dapat meningkatkan Income Over Feed Cost dan dapat meningkatkan performa pada ayam Lohman unsexing. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL), metode analisis data menggunakan ANOVA dan Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Income Over Feed Cost (IOFC) tertinggi terdapat pada ayam tanpa penambahan S. molesta namun pada pemberian S. molesta 6% tidak menurunkan nilai IOFC hasil IOFC mengalami penurunan pada level pemberian 12%, kandungan omega 3 paling tinggi pada pemberian S. molesta 6%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa IOFC tidak berubah dengan adanya S. molesta hingga 6% dalam pakan, tetapi mulai turun pada level pemberian 12%. Namun demikian penjualan tidak menghargai kandungan omega 3 yang tinggi pada karkas.Kata Kunci: Lohman Unsexing; Salvinia molesta; Income Over Feed Cost ABSTRACT This study in August to October 2013 in Faculty of Animal Husbandry and Agriculture, Diponegoro University, Semarang. This study aims to determine the duck weed S. molesta leaf additions on the ration can improve Income Over Feed Cost and can improve performance in chickens unsexing Lohman. The method used is completely randomized design, methods of data analysis using ANOVA and Duncan. The results showed that the Income Over Feed Cost (IOFC) was highest in chickens without the addition of S. molesta but the provision of S. molesta 6% does not lose value IOFC results IOFC administration decreased the level of 12%, the highest levels of omega 3 in the provision of S. molesta 6%. Based on the results of the research study concluded that IOFC not change with the S. molesta up to 6% in the feed, but began to fall in the level of provision of 12%. However, the sale did not appreciate the high levels of omega 3 in the carcass.Kata Kunci: Lohman Unsexing; Salvinia molesta; Income Over Feed Cost
STATUS DARAH DAN TITER NEWCASTLE DISEASE PADA BURUNG PUYUH PETELUR YANG DIBERI RANSUM MENGGUNAKAN TEPUNG DAUN OROK-OROK (Crotalaria usaramoensis) SEBAGAI SUMBER PROTEIN Ariyani, Siti Anisah; Wahyono, Fajar; Murwani, Retno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.351 KB)

Abstract

The experiment was carried out to study of adding orok-orok (Crotalariausaramoensis) leaf meal in quail diets with different level on hemoglobin, PVC,and ND titer of layer quail. The data were analyzed by a Completely RandomizedDesign and continued with Duncan’s Multiple Range Test for differences. Theexperiment used 100 quail 7 weeks old which were randomly devided into 4groups and each group had repeated 5 times and each consisted of 5 quails. Thegroups were T0 (basal diet as a control), T1 (basal diet with 3% orok-orok leafmeal), T2 (basal diet with 6% orok-orok leaf meal), dan T3 (basal diet with 9%orok-orok leaf meal). Diets and water were offered ad libitum. Data werecollected during 35 days to obtain the data of total amount of protein intake,hemoglobin, and ND titer. PVC showed that there was no significant different(P>0,05). Conclusion of this research, orok-orok leaf meal can used quail layersdiet until 3%.Key Words: Orok-Orok Leaf Meal, Hemoglobin, Hematokrit, ND Titer.
KADAR VITAMIN A, ZAT BESI (Fe) DAN TINGKAT KESUKAAN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN HATI AYAM BROILER Krismaputri, Melinda Erdya; Hintono, Antonius; Pramono, Yoyok Budi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.514 KB)

Abstract

ABSTRACTThe research objective was to know the influence of livers-substituted of chicken nugget on the content of vitamin A, Fe and the preferences. The design experiments of the research was completely randomized design with 5 treatments and 4 replications. The treatments are T0 = 0%, T1 = 10%, T2 = 20%, T3 = 30% and T4 = 40% respectively. The content of vitamin A and Fe were tested by UV-VIS Spectrophotometry method. The data were analyzed by ANOVA, if the treatments significant was continued by Duncan Multiple Range Test. The preferences were tested by 25 panelist. The data were analyzed by non-parametric Kruskal Wallis H-Test using SPSS software version 16.0, if the treatments significant was continued by Wilcoxon test. The average of the content of vitamin A are T0 = 8,44%, T1 = 13,13%, T2 = 16,51%, T3 = 21,02% and T4 = 23,90%; the content of ferum (Fe) are T0 = 12,06%, T1 = 10,40%, T2 = 9,13%, T3 = 6,08% and T4 = 5,42%; and the preferences are T0 = 4,12%, T1 = 3,84%, T2 = 3,24%, T3 = 3,32% and T4 = 3,16%. The analysis showed significant (P < 0.05) to the content of vitamin A, Fe and the preferences.Keywords:chicken nuggets, chicken livers, vitamin A, zat besi, preferences.ABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi hati ayam pada pengolahan nugget ayam terhadap kadar vitamin A, zat besi (Fe) dan tingkat kesukaan. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan secara berurutan adalah T0 = 0%, T1 = 10%, T2 = 20%, T3 = 30% dan T4 = 40%. Kadar vitamin A dan zat besi (Fe) diuji dengan metode Spektrofotometri UV-VIS. Data dianalisis dengan ANOVA, jika signifikan maka dilanjutkan dengan uji Wilayah Ganda Duncan. Tingkat kesukaan diuji oleh 25 panelis. Data dianalisis dengan non-parametrik Kruskal Wallis H-Test dengan menggunakan software SPSS versi 16.0, jika signifikan maka dilanjutkan dengan uji Wilcoxon. Rata-rata kadar vitamin A adalah T0 = 8,44%, T1 = 13,13%, T2 = 16,51%, T3 = 21,02% dan T4 = 23,90%; kadar zat besi (Fe ) adalah T0 = 12,06%, T1 = 10,40%, T2 = 9,13%, T3 = 6,08% dan T4 = 5,42%; dan tingkat kesukaan adalah T0 = 4,12%, T1 = 3,84%, T2 = 3,24%, T3 = 3,32% dan T4 = 3,16%. Hasil analisis menunjukkan signifikan (P < 0,05) terhadap kadar vitamin A, zat besi (Fe) dan tingkat kesukaan.Kata kunci: nugget ayam, hati ayam, vitamin A, zat besi, kesukaan.
HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI SERAT KASAR TERHADAP PRODUKSI DAN LEMAK SUSU SAPI PERAH DI PETERNAKAN RAKYAT KABUPATEN KLATEN (The relation between crude fiber intake with total milk production and milk fat in smallholder dairy farms in Klaten) Andriawan, Trio; Harjanti, Dian Wahyu; Sambodho, Priyo
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.246 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengkaji hubungan konsumsi serat kasar (SK) terhadap produksi susu dan kandungan lemak susu sapi perah. Materi yang digunakan adalah 30 ekor sapi perah laktasi. Kadar lemak susu dianalisis menggunakan analisis gerber, sedangkan kadar SK dianalisis menggunakan analisis proksimat. Data dianalisis secara korelasi untuk mengetahui besar kecilnya hubungan variabel bebas dan variabel terikat sertaanalisis regresi non linier kuadratik untuk mengetahui hubungan dari variabel-variabel.Hasil penelitian menunjukkan konsumsi SK rata-rata sebesar 5,99 kg/ekor, produksi susu rata-rata sebesar 10,95 kg/ekor, kandungan lemak susu 0,33 kg/ekor. Koefisien hubungan konsumsi SK pakan terhadap  produksi susu sapi perah rendah (r=0,275), dengan koefisien determinasi (R2=0,076)dan persamaan y = - 0,208x2 + 3,026x +0,828. Hubungan konsumsi SK pakan terhadap lemak susu sapi perah adalah sangat rendah (r=0,190), dengan koefisien determinasi (R2=0,036) dan persamaan y = - 0,005x2 + 0,070 x +0,086. Dapat disimpulkan bahwa hubungan antara konsumsi SK terhadap produksi susu dan lemak susu mengikuti kurva quadratik, berarti peningkatan konsumsi SK tidak menyebabkan peningkatan produksi susu dan lemak susu secara linier.Kata kunci : serat kasar; produksi susu; lemak susu; sapi perah ABSTRACT The research was done to evaluate the correlation between crude fiber intake with total milk production and milk fat by using a total of 30 dairy cattle. The concentrations of milk fat were analyzed using Gerber method, while crude fiber in the diets were analyzed using proximate analysis. The data analyzed by corellation method to find relationship value of independent variabel and dependent variabel, the non linier quadratic regression was used to analyze the data. The results showed that the average crude fiber intake was 5.99 kg/d which give total milk production of 10.95 kg/d, with milk fat content of 0.33kg/d. Correlation coefficient between crude fiber intake and total milk production was low (r=0.275), as well as the determinant coefficient(R2=0.076)with these equation y = - 0.208x2 + 3.026x + 0.828. Correlation coeficient (r) between crude fiber intake and milk fat content were very low (r=0.190), and the determinant coefficient (R2=0.036) with these equation y = - 0.005x2 + 0.070x + 0.086. In conclusion, the correlation between crude fiber intake, milk production and milk fat were followed the quadratic regression. It was suggested that increasing crude fiber intake did not increase milk production and milk fat.Keyword : crude fiber; milk production; milk fat; dairy cattle
PERUBAHAN MUTU HEDONIK TELUR ASIN SANGRAI SELAMA PENYIMPANAN Sukma, Arie Widya; Hintono, Antonius; Setiani, Bhakti Etza
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.843 KB)

Abstract

Egg is one of the food product derived from avian that is easily damaged and nonperishable. Therefore, one of the ways to prevent damage is by processing it into another product that is more durable. Marinating the egg is one way of preservation. The egg preservation process conducted by using brick powder mixed with salt and water. This stage is considered as processing effort because it creates new product named salted eggs. Storage time of salted eggs that have been boiled which only 1-2 weeks are still not enough, so another process would require in order to extend the storage time of salted eggs and maintain the nutritional quality. Salted eggs which processed by applying roast process technology is improving the quality of livestock products that have high economic value. The product is mainly used as a food source for humans. Meat, milk, and eggs are the major commodities of the farm. High nutritive value and flavor favored by most people is the main attraction of these products. Nevertheless, these products have a weakness that is easily damaged and nonperishable. Water is a good medium for microbial growth therefore roasting process conducted to reduce the water content of the egg. It makes salted egg more durable. Generally, roasting process can also reduce the fishy smell on salted eggs. The results of the analysis shows that the roasting process have a significant impact on salted eggs (P <0.05) against its white and yellow color but does not significantly affect its chewy and salty taste. The best result can be seen in the stage with 5 minutes roasting time and 2 weeks for storage time. ABSTRAK Telur merupakan salah satu produk pangan yang berasal dari unggas yang mudah rusak dan busuk. Oleh karena itu untuk mencegah kerusakan pada produk hasil ternak tersebut adalah dengan cara mengolahnya menjadi produk lain yang lebih awet. Pengasinan telur merupakan salah satu cara pengawetan. Pengawetan telur dilakukan salah satunya dengan cara pengasinan menggunakan media bubuk batu bata dicampur garam dan air. Perlakuan tersebut digolongkan sebagai upaya pengolahan karena menghasilkan suatu produk baru lagi yaitu telur asin. Masa simpan telur asin yang sudah direbus, kurang lebih hanya 1-2 minggu dirasa belum cukup lama. Jadi diperlukan perlakuan lain terhadap telur asin ini sehingga daya simpannya dapat diperpanjang dan kualitas gizi dapat dipertahankan. Telur asin yang diolah dengan menerapkan teknologi proses penyangraian merupakan perbaikan mutu dari Produk-produk hasil peternakan merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Produk tersebut sebagian besar digunakan sebagai sumber makanan bagi manusia. Daging, susu, dan telur adalah komoditas utama dari peternakan. Nilai gizi yang tinggi dan rasa yang disukai oleh sebagian besar masyarakat merupakan daya tarik utama dari produk-produk tersebut. Walaupun demikian produk-produk tersebut memiliki kelemahan yaitu mudah rusak atau busuk. Air adalah media yang baik untuk pertumbuhan mikroba oleh karena itu proses penyangraian dilakukan untuk mengurangi kadar air di dalam telur. Hal ini yang membuat telur asin menjadi lebih tahan lama. Penyangraian juga dapat mengurangi bau amis pada telur asin pada umumnya. Hasil analisis ragam menunjukkan, bahwa penyangraian pada telur asin berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna putih, warna kuning dan kesukaan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kemasiran, kekenyalan, keasinan. Hasil terbaik terdapat pada perlakuan dengan lama penyangraian 5 menit dan penyimpanan selama 2 minggu.
POLA PERTUMBUHAN KAMBING KACANG JANTAN DI KABUPATEN GROBOGAN (The Growth Pattern of Kacang Goat Bucks in Grobogan District) Septian, Andhika Dwi; Arifin, Mukh; Rianto, Edy
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.203 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memetakan pertumbuhan kambing Kacang jantan yang dipelihara secara tradisional oleh petani peternak di Kabupaten Grobogan. Penelitian ini menggunakan metode survei. Lokasi penelitian di tentukan dengan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan populasi kambing Kacang terbanyak dari masing-masing kecamatan Tegowanu, Godong, Penawangan, Purwodadi, dan Gubuk. Ternak yang dijadikan objek penelitian adalah 145 ekor kambing Kacang jantan milik peternak rakyat, dengan umur yang berbeda-beda, yakni 1 sampai 12 bulan, 15, 24, 36, dan 42 bulan. Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi bobot badan, lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot badan tumbuh mengikuti pola kurva sigmoid (S) dengan persamaan regresi y=0,001x3-0,120x2+2,902x+0,552 dengan nilai koefisien determinan sebesar 97,2%, sedangkan ukuran-ukuran tubuh lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak mengikuti pola polynomial dengan persamaan regresi berturut-turut y=-0,030x2+1,744x+42,92; y=-0,020x2+1,293x+37,07; dan y=-0,014x2+0,919x+45,33 dengan nilai koefisien determinasi berturut-turut sebesar 64,4; 70,1; dan 46,2%. Simpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi umur ternak, bobot badan dan ukuran tubuh kambing Kacang juga bertambah. Nilai koefisien determinasi tertinggi diperoleh pada bobot badan.Kata kunci : kambing kacang jantan; bobot badan, lingkar dada; panjang badan; tinggi pundakABSTRACTThis research was aimed to make a chart of growth of Kacang bucks which were traditionally heaver by farmers in Grobogan District. This research used a survey method. The locations were determined using a purposive sampling method based on Kacang goat population of the sub-districts Tegowanu, Godong, Purwodadi, Penawangan, and Gubuk. The objects of research were 145 Kacang bucks belonging to small scale farmers, with different ages, i.e. 1 to 12 month, 15, 24, 36, and 42 months. The variables measured in this research were body weight, chest girth, body length, and shoulder height. The results showed that body weight followed sigmoid pattern formed a sigmoid (S) curve and the regression equation y= 0.001x3-0.120x2 +2.902x + 0.552 with the value of coefficient determinant of 97.2%. Whereas chest girth, body length, and shoulder height of the shoulders follow a pattern of successive polynomial regression equation y =-0.030x2+1.744x + 42.92; y =-0.020x2 +1.293x + 37.07; and y =-0.014x2 + 0.919x + 45.33 with successive determination of coefficients of 64.4; 70.1; and 46.2%, respectively. It is concluded that as the bucks getting older, the body weight and measurements of bucks also increased. The highest value of coefficient determination was obtained from the body weight.Key words : Kacang goat males; chest circumference, body weights; the length of the body; shoulder height
PENGARUH UMUR TERHADAP UKURAN EPIDIDIMIS, ABNORMALITAS SPERMATOZOA DAN VOLUME SEMEN PADA SAPI SIMMENTAL DI BALAI INSEMINASI BUATAN UNGARAN (The Effect of Simmental Bull Ages on Epididymis Size, Sperm Abnormality and Semen Volume at Ungaran Artificial Inse Mentari, Fausta Krisna; Ondho, Yon Soepri; Sutiyono, Sutiyono
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.765 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pengaruh umur terhadap ukuran epididimis, abnormalitas sperma dan volume semen pada sapi Simmental di BIB Ungaran. Materi yang digunakan 15 ekor pejantan Simmental dengan pembagian kelompok berdasarkan umur T1=<36 bulan sebanyak 4 ekor, T2=36-<72 bulan sebanyak 7 ekor dan T3=72-<108 bulan sebanyak 4 ekor. Parameter penelitian adalah ukuran epididimis (panjang caput, corpus dan cauda), abnormalitas sperma dan volume semen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur tidak berpengaruh nyata terhadap panjang caput, panjang corpus, panjang cauda dan volume semen antar kelompok. Umur berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap abnormalitas sperma antara T2 dengan T3. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa umur pejantan tidak berpengaruh terhadap ukuran epididimis dan volume semen tetapi berpengaruh nyata terhadap abnormalitas spermatozoa. Pejantan dengan umur 36 - <72 bulan mempunyai kualitas sperma paling baik.Kata kunci: umur; epididimis; abnormalitas sperma; volume semen. ABSTRACT            The purpose of this research was to know the effect of Simmental bull ages on epididymis size, sperm abnormality and semen volume at Ungaran Artificial Insemination Centre. Materials used were 15 Simmental bulls categorized by bull ages, namely 4 bulls of T1=<36 months, 7 bulls of T2=36-<72 months and 4 bulls of T3=72-<108 months. Parameters observed were epididymis size (the length of caput, corpus and cauda),  sperm abnormality and semen volume. The result showed there was no significant difference between bull ages on epididymis size (the length of caput, corpus and cauda) and semen volume. Bull ages showed significant difference (P<0.05) on sperm abnormality between T2 and T3. The conclusion showed that there was no significant difference between bull ages on epididymis size and semen volume but showed significant difference on sperm abnormality. Simmental bull with 36 - <72 months ages had the best sperm’s quality.Keyword: bull ages; epididymis; sperm abnormality; semen volume.
PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI LARUTAN KAPORIT (CaHOCl) UNTUK DIPPING PUTING SUSU KAMBING PERAH TERHADAP TOTAL BAKTERI DAN pH SUSU Sasongko, Deddy Ari; Suprayogi, Teguh Hari; Suyuthi, Suranto Moch
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.275 KB)

Abstract

This study aimed to determine the effect of various concentrations of Calcium Hypochloride (CaHOCl) for dairy goat’s teat dipping towards total of bacteria and milk pH. This research was conducted at the Livestock and Forage Breeding Unit Feed Malang on 23 July to 23 August 2011. The materials used in this study were 12 dairy goats (PE) lactation. Materials used disinfectant is Calcium Hypochloride (CaHOCl) Tjiwi artificial chemicals. Equipment used plate count agar, measuring cups, syringes, glass dyer for dipping, a capacity of 250 ml sample bottles were glass, stop watch, and a light-proof thermos brand Hanna pH meter with a scale of 0-14 with a sensitivity of 0.01. Treatment applied is T0 (without dipping), T1 (dipping with concentration of Calcium Hypochloride (CaHOCl) 0.1%) and T2 (dipping with concentration of Calcium Hypochloride (CaHOCl) 0.2%). Parameters observed in this study are the total of bacteria and milk pH. The design used was completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 4 replications. The data obtained were then analyzed using ANOVA. The results showed that different concentrations of disinfectants used for dipping teats of dairy goat milk showed the difference of total bacteria and pH of milk. Mean total bacterial T0, T1 and T2 respectively is 15,1 x 106 CFU/ml; 6,98 x 105 CFU/ml and 3,46 x 105 CFU/ml. Mean pH of milk T0, T1 and T2 respectively is 6.47; 6.53 and 6.54. Based on this research can be concluded that dipping the nipple of dairy goats using Calcium Hypochloride (CaHOCl) with the low concentration (0.1%) have been able to reduce the number of bacteria and maintain the pH of milk.Keywords: dipping, total of bacteria, milk pHABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi desinfektan untuk dipping putting susu kambing perah terhadap total bakteri dan pH susu. Penelitian ini dilaksanakan di UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Malang pada tanggal 30 Juli – 5 Agustus 2011. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12 ekor kambing perah (PE) laktasi. Bahan desinfektan yang digunakan adalah kaporit (CaHOCl) buatan Tjiwi kimia. Peralatan yang digunakan plate count agar, gelas ukur, spuit, gelas pencelup untuk dipping, botol sampel kapasitas 250 ml yang terbuat dari kaca, stop watch, termos kedap cahaya dan pH meter merek Hanna dengan skala 0 – 14 dengan kepekaan 0,01. Perlakuan yang diterapkan adalah T0 (Tanpa Dipping), T1 (Dipping dengan konsentrasi larutan kaporit (CaHOCl) 0,1% ) dan T2 (Dipping dengan konsentrasi larutan kaporit (CaHOCl) 0,2%). Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah total bakteri dan pH susu. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai konsentrasi desinfektan yang digunakan untuk dipping putting susu kambing perah menunjukkan perbedaan terhadap total bakteri dan pH susu. Rataan total bakteri T0, T1 dan T2 masing-masing yaitu 3,51 x 106 CFU/ml; 5,16 x 105 CFU/ml dan 4,35 x 105 CFU/ml. Rataan pH susu T0, T1 dan T2 masing-masing adalah 6,47; 6,53 dan 6,54.Kata kunci: dipping, total bakteri, pH susu