cover
Contact Name
Dr. Nani Radiastuti
Contact Email
n_radiastuti@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
alkauniyah@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
AL KAUNIYAH
ISSN : 19783736     EISSN : 25026720     DOI : 10.15408/kauniyah
Core Subject : Science,
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi (p-ISSN: 1978-3736, e-ISSN: 2502-6720) is an Open Access Journal published by Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, and established since 2007. Since 2016 Al-Kauniyah has established a collaboration with the Association of Lecturer in Biology and Biology Education throughout the State Islamic Higher University (PTKIN) in Indonesia. Until 2015, Al-Kauniyah covered environmental biology solely, but since 2016 the journal has been extended to cover the entire field of biological science (bioscience). By publishing biannually, on April and October, Al-Kauniyah is intended to communicate original researches and current issues on the subject of biology. Since volume 9 issue 1 April 2016, Al-Kauniyah had been changes the layout. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Manuscripts can be submitted to AL-KAUNIYAH
Arjuna Subject : -
Articles 460 Documents
Carcass Weight and Skeletal Muscle Microscopic Structure of Red Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) in The Different Aeration and Filtration Djaelani, Muhammad Anwar; Fathurika, Kusuma Alya; Kasiyati, Kasiyati; Sunarno, Sunarno
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.31948

Abstract

AbstractRed tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater fish that widely liked by Indonesian people. Keeping fish with good water quality will increase productivity. The aim of this research was to determine the effect of adding aeration and using filters on carcass weight, muscle fiber diameter and number of muscle fibers in red tilapia. This research used 24 red tilapia fish with an initial body weight of around 7 g. Divided into 4 groups, namely the maintenance group using one aerator without a filter (ANF), the maintenance group using two aerators without a filter (AANF), the maintenance group using one aerator and using a filter (AF) and the maintenance group using two aerators and using a filter (AAF). The results showed that rearing red tilapia fish in the group rearing two aerators and using a filter had a significant effect (P <0.05) on carcass weight, muscle fiber diameter, and number of muscle fibers. Observation of the muscle histology structure showed that there was no damage to the muscle histology structure. The conclusion of this research indicate that additional aerator equipped with filters will supports the growth of red tilapia fish.AbstrakIkan nila merah (Oreochromis niloticus) merupakan ikan yang banyak disukai masyarakat Indonesia. Pemeliharaan ikan dengan kualitas air yang baik akan memberikan peningkatan produktivitas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan aerasi dan penggunaan filter terhadap bobot karkas, diameter serabut otot serta jumlah serabut otot pada ikan nila merah. Penelitian ini menggunakan 24 ekor ikan nila merah dengan bobot badan awal berkisar 7 g. Dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok pemeliharaan menggunakan satu aerator tanpa filter (ANF), kelompok pemeliharaan menggunakan dua aerator tanpa filter (AANF), kelompok pemeliharaan menggunakan satu aerator dan menggunakan filter (AF) serta kelompok pemeliharaan menggunakan dua aerator dan menggunakan filter (AAF). Hasil menunjukkan pemeliharaan ikan nila merah pada kelompok pemeliharaan dua aerator dan menggunakan filter berpengaruh nyata (P <0,05) terhadap bobot karkas, diameter serabut otot, dan jumlah serabut otot. Pada pengamatan struktur histologi otot menunjukkan tidak adanya kerusakan struktur histologi otot. Kesimpulan penelitian ini penambahan aerator dilengkapi filter mendukung pertumbuhan ikan nila merah.
Characterization of Peronosclerospora maydis and Its Effect on Plant Growth and Disease Incidence Under Fungicides Treatment on Maize (Zea mays L.) Putri, Elzahra Nadya; Kasiamdari, Rina Sri
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v1i1.32399

Abstract

AbstractDowny mildew disease on maize (Zea mays L.) is generally caused by fungi from the genus Peronosclerospora. This study aims to identify the type of fungi that cause downy mildew in Sleman, to determine the effect of a fungicide on the growth of maize plants, the disease incidence, and severity. Fungi isolates were taken from the maize plantation area in Tirtoadi Village, Sleman. Observation of fungal spores was carried out using a binocular microscope. Application of metamorph (PMD), metalaxyl (PMMe), propineb (PMP), and mancozeb (PMMz) fungicides was carried out when the plants were 7 days after planting (DAP). Maize plants were inoculated with downy mildew spores when the plants were 8 DAP. The parameters measured were plant height, number of leaves, fresh weight, dry weight, disease incidence, and severity. Data were analyzed by ANOVA using SPSS version 23 and tested by Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the fungi causing downy mildew in Sleman was Peronosclerospora maydis. Plants treated with mancozeb (PMMz) had the highest growth in plant height, number of leaves, fresh weight, and dry weight, followed by PMP, PMD, and PMMe treatments. The results of the DMRT test showed that the disease incidence and disease severity of PMD, PMMe, and PMP were significantly reduced compared to the P. maydis (PM) treatment. Plants with metalaxyl treatment had the highest ability to reduce disease severity by 92.70%, followed by prominent at 78.10%, metamorph 58.66%, and mancozeb 16.79%.AbstrakPenyakit bulai pada tanaman jagung (Zea mays L.) umumnya disebabkan oleh jamur dari genus Peronosclerospora. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis jamur penyebab penyakit bulai di Sleman, mengetahui pengaruh fungisida terhadap pertumbuhan tanaman jagung, kejadian, dan keparahan penyakit. Isolat jamur diambil dari area persawahan Desa Tirtoadi, Sleman. Pengamatan spora jamur dilakukan dengan menggunakan mikroskop binokuler. Pemberian fungisida dimetomorf (PMD), metalaksil (PMMe), propineb (PMP), dan mankozeb (PMMz) dilakukan saat tanaman berumur 7 hari setelah tanam (HST). Tanaman jagung diinokulasi dengan spora bulai pada saat tanaman berumur 8 HST. Parameter yang diukur adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, berat kering, kejadian penyakit, dan tingkat keparahan. Data dianalisis dengan ANOVA menggunakan SPSS versi 23 dan diuji dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur penyebab bulai di daerah Sleman adalah P. maydis. Tanaman dengan perlakuan PMMz memiliki pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, dan berat kering tertinggi, diikuti dengan perlakuan PMP, PMD, dan PMMe. Hasil uji DMRT menunjukkan angka kejadian penyakit dan keparahan penyakit pada perlakuan PMD, PMMe, dan PMP menurun secara signifikan dibandingkan dengan perlakuan P. maydis (PM). Tanaman dengan perlakuan metalaksil memiliki kemampuan terbaik dalam menurunkan keparahan penyakit sebesar 92,70%, kemudian propineb 78,10%, dimetomorf 58,66%, dan mankozeb 16,79%. 
Efficacy of Bacillus thuringiensis Biolarvicide and Temephos Synthetic Larvicides on Culex quinquefasciatus Larvae Subekti, Niken; Zahra, Citra Anisah; Fadhila, Anita
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.32788

Abstract

AbstractAn open environment with drainage and lush green grass around the hotel allows mosquitoes to breed. Mosquitoes from the genus Culex are one of the vectors for transmitting arboviruses and filariasis. Temephos is an active ingredient often used to control Culex quinquefasciatus and considered as environmental pollution. Therefore, it is necessary to develop environmentally friendly larvicides, such as the Bacillus thuringiensis biolarvicide. Many studies were conducted to control Aedes aegypti mosquito larvae using these microbial agents, but very little for controlling Cx. quinquefasciatus mosquito larvae. This study aims to compare the effectiveness of temephos and B. thuringiensis biolarvicides. Cx. quinquefasciatus larvae were divided into the insect sample group with temephos and the B. thuringiensis biolarvicide group at concentrations of 0.01, 0.02, and 0.03 mg/L. The number of dead larvae was calculated at 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 24 hours. Data analysis was performed using probit analysis of lethal time (LT50 and LT90). From statistical analysis, B. thuringiensis as larvicides showed 100% mortality of mosquito larvae. B. thuringiensis biolarvicide can be used as a substitute for chemical larvicide since it is proven effective in killing Cx. quinquefasciatus mosquito larvae in 24 hours and is environmentally friendly.AbstrakLingkungan terbuka dengan sistem pembuangan dan rumput yang hijau di sekitar hotel memungkinkan nyamuk berkembang biak. Nyamuk dari genus Culex adalah salah satu vektor yang mengirimkan arbovirus dan filariasis. Temephos adalah bahan aktif yang sering digunakan untuk mengendalikan Culex quinquefasciatus dan dianggap mencemari lingkungan. Oleh karena itu, perlu untuk mengembangkan larvasida yang ramah lingkungan, seperti Bacillus thuringiensis biolarvasida. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengendalikan larva nyamuk Aedes aegypti menggunakan agen mikroba ini, tetapi sangat sedikit untuk mengendalikan larva nyamuk Cx. quinquefasciatus. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas temephos dan B. thuringiensis biolarvasida. Larva Cx. quinquefasciatus dibagi menjadi kelompok sampel serangga dengan temephos dan kelompok B. thuringiensis biolarvasida pada konsentrasi 0,01, 0,02, dan 0,03 mg/L. Jumlah larva yang mati dihitung pada 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 24 jam. Analisis data dilakukan analisis waktu letal probit (LT50 dan LT90). Analisis statistik, B. thuringiensis sebagai larvasida menunjukkan 100% kematian larva nyamuk. B. thuringiensis biolarvasida dapat digunakan sebagai pengganti larvasida kimia karena terbukti efektif dalam membunuh larva nyamuk Cx. quinquefasciatus dalam waktu 24 jam dan ramah lingkungan.
Primer Design and Optimization of Annealing Temperature for Gene Amplification GSTL2 on Rice Violita, Violita; Achyar, Afifatul; Zulyusri, Zulyusri; Atifah, Yusni; Putri, Dwi Hilda; Nabilah, Rezi
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.32859

Abstract

AbstractGlutathione S-Transferase is a superfamily enzyme that has many roles for living things, especially in the detoxification of Reactive Oxygen Species (ROS), one of which is rice plants. One gene of this family that has a role for plants is GSTL2 This gene is known to have a contribution to Arabidopsis and Oryza sativa L. against abiotic stress. To find out how this gene expression is requires a primer to specifically amplify this gene, and an optimal annealing temperature to support the success of the primer. This study aims to design primers and determine the optimal annealing temperature for gene amplification GSTL2. Primers were designed using the Primer3, which were then analyzed with Genious Prime based on good primer criteria and optimizing the annealing temperature which was carried out using gradient PCR. The results of this study obtained a primer pair is forward 5’-TTCGAAGGGCCAGCATTACT-3’ primer reverse 5’-CAATGTCCACCAAGCTGAA-3’. The primer pair has a length of 20 nt, with melting temperature (Tm) 59–59,4 °C, and GC content 50%. The primer forward there is a secondary structure in the form of a self-dimer with (Tm) 6.2 °C. The primer pair can amplify gene sequences GSTL2 by producing a PCR product 224 bp. The annealing temperature of 60 °C resulting in a single thick, bright DNA strand.AbstrakGlutathione S-Transferase merupakan enzim superfamily yang memiliki banyak peranan bagi makhluk hidup terutama dalam detoksifikasi Reactive Oxygen Species (ROS), salah satunya tumbuhan. Salah satu gen dari famili ini yang memiliki peranan bagi tanaman adalah GSTL2. Gen ini diketahui memiliki kontribusi bagi tanaman Arabidopsis dan Oryza sativa L. terhadap stres abiotik. Untuk mengetahui bagaimana ekspresi gen GSTL2 ini dibutuhkan primer untuk mengamplifikasi gen ini secara spesifik, di samping itu suhu annealing yang optimal untuk menunjang keberhasilan primer. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain primer dan menentukan suhu annealing yang optimal untuk mengamplifikasi gen GSTL2. Primer didesain menggunakan tools Pick Primer dan Geneious Prime, yang kemudian dianalisis secara in silico berdasarkan kriteria primer yang baik. Serta optimasi suhu annealing yang dilakukan menggunakan gradient PCR. Hasil penelitian ini diperoleh sepasang primer dengan panjang masing-masing primer 20 nt, primer forward 5’-TTCGAAGGGCCAGCATTACT-3’ primer reverse 5’-CAATGTCCACCAAGCTGAA-3’. Pasangan primer dapat mengamplifikasi sekuen gen GSTL2 dengan menghasilkan produk PCR sebesar 224 bp pada suhu annealing 60 °C.
The Quantification of Lead Heavy Metals Levels on Mujair Fish (Oreochromis mossambicus) Organs From Brantas and Bengawan Solo River, East Java Province, Indonesia Setiyowati, Putri Ayu Ika; Ramadani, Aisyah Hadi; Suhariyati, Suhariyati; Mahbubillah, M Ainul
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractOreochromis mossambicus (O. mossambicus) frequently found in the Brantas and Bengawan Solo rivers, Java island, Indonesia. However, heavy metals produced from anthropogenic activities can enter the water and accumulate in organisms living in the river. This study aimed to determine the lead (Pb) heavy metal in the gills, flesh, and intestines of O. mossambicus living in the two aforementioned rivers and to measure the Pb levels in each river. The results showed that the Pb in the O. mossambicus organs in the Bengawan Solo river was as follows 3.159 mg/kg in the gills; 1.930 mg/kg in the intestine; and 2.511 mg/kg in flesh, while in the Brantas river it was follows 1.600 mg/kg in gills; 1.402 mg/kg in the intestine; and 1.455 mg/kg flesh. Pb levels in each river water were 0.568 mg/mL in the Brantas river and 0.525 mg/mL in the Bengawan Solo river. Based on the data obtained, it can be concluded that the Pb content in fish organs and river water has exceeded the quality standard for Pb levels according to the government regulation No.82 2001 (SNI 7387:2009), that is, 0.3 mg/kg in organs and 0.03 mg/L in water. The results of this study are expected to be a concern for the authorities in order to revitalize the river to restore the function and support the survival of river biota.AbstrakIkan mujair (Oreochromis mossambicus) banyak ditemukan di sungai Brantas dan Bengawan Solo, namun aktivitas antropogenik yang menghasilkan logam berat dapat masuk ke perairan sehingga terakumulasi dalam organisme yang hidup di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb) pada insang, daging, dan usus pada O. Mossambicus yang hidup di kedua sungai tersebut serta mengukur kandungan Pb pada masing-masing air sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan Pb pada organ O. mossambicus di sungai Bengawan Solo adalah sebagai berikut 3.159 mg/kg pada insang; 1.930 mg/kg di usus; dan 2.511 mg/kg pada daging, sedangkan di sungai Brantas adalah sebagai berikut 1.600 mg/kg pada insang; 1,402 mg/kg pada usus; dan 1,455 mg/kg pada daging. Kadar Pb pada masing-masing air sungai adalah 0,568 mg/mL (sungai Brantas) dan 0,525 mg/mL (sungai Bengawan Solo). Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kandungan Pb pada organ ikan maupun air sungai sudah melebihi baku mutu kadar Pb pada organ yaitu 0,3 mg/kg (SNI 7387:2009) dan 0,03 mg/L pada perairan (PP No.82 tahun 2001). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi perhatian pihak-pihak terkait agar dapat melakukan revitalisasi sungai guna mengembalikan fungsi dan mendukung keberlangsungan hidup biota sungai.
Desain Primer PCR Spesifik Secara In Silico Untuk Amplifikasi Gen COX-1 (Cytochrome Oxidase Subunit I) DNA Mitokondria Pada Aedes aegypti Nuryady, Moh. Mirza; Purwanti, Elly; Aldina, Siti Nur; Wahyuni, Sri; Permana, Tutut Indria; Khoiriyah, Zakiyatul; Ariesaka, Kiky Martha
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v1i1.33726

Abstract

AbstrakGen COX-1 (Cytochrome Oxidase Subunit I) merupakan salah satu marker molekuler untuk identifikasi spesies berdasarkan DNA mitokondria. Tujuan dilakukannya penelitian ini, yaitu untuk mendapatkan primer gen COX-1 yang spesifik terhadap nyamuk A. aegypti. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yaitu dengan melakukan desain primer secara in silico dan konfirmasi secara in vitro ditandai dengan pita DNA hasil PCR. Langkah pertama dari metode ini, yaitu dengan mengunduh urutan DNA COX-1 Aedes aegypti dari Gene Bank (NCBI) dengan nomor aksesi DQ397892.1. Hasil dari Primer3web diperoleh dua primer yang spesifik, yaitu primer pertama memiliki sekuen F¢AGCAACTTTACACGGAACTCA dan R¢TGTTCTGCAGGAGGAAGTGT dan pada primer kedua F¢ AGTCCAGCCCTTCTATGATCA dan R¢ TGTTCTGCAGGAGGAAGTGT. Optimasi primer pada tahap konfirmasi dilakukan dengan kisaran suhu annealing 46, 48, dan 52 °C didapatkan hasil visualisasi elektroforesis yang menunjukkan adanya pita DNA dengan ukuran +600 bp pada ketiga kondisi suhu. Kesimpulan pada penelitian ini adalah didapatkan dua primer yang spesifik terhadap gen COX-1 Aedes egypti. AbstractThe COX-1 gene (Cytochrome Oxidase Subunit I) is one of the molecular marker for species identification based on mitochondrial DNA. The purpose of this study was to obtain specific COX-1 gene primers for A. aegypti mosquitoes. This research was an observational descriptive study, namely by carrying out the primary design in silico and in vitro confirmation marked by DNA bands from PCR results. The first step of this method is to download the COX-1 Aedes aegypti DNA sequence from the Gene Bank (NCBI) with accession number DQ397892.1. The results from Primer3web obtained two specific primers, namely, the first primer had the sequences F¢AGCAACTTTACACGGAACTCA and R¢TGTTCTGCAGGAGGAAGTGT and the second primer had F¢AGTCCAGCCCTTCTATGATCA and R¢TGTTCTGCAGGAGGAAGTGT. Primer optimization at the confirmation stage was carried out with annealing temperature ranges of 46, 48, and 52 °C. The results of electrophoretic visualization showed the presence of DNA bands with a size of +600 bp at all three temperature conditions. The conclusion of this study was that there were two specific primers  for the COX-1 gene of A. aegypti.
Identifikasi Mikroplastik Pada Insang dan Saluran Pencernaan Ikan Bandeng (Chanos chanos) dari Tambak Tradisional Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo Aliyansyah, Gunawan; Holil, Kholifah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.33861

Abstract

AbstrakSampah plastik di perairan akibat dari peningkatan populasi manusia menjadi sumber kontaminasi mikroplastik pada ikan bandeng (Chanos chanos) di sistem tambak tradisional di kecamatan Sedati kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan mengetahui tipe dan kelimpahan mikroplastik pada insang dan saluran pencernaan ikan bandeng serta polimer yang terkandung dalam mikroplastik. Jenis penelitian termasuk ke dalam penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan eksploratif. Metode penentuan lokasi menggunakan purposive sampling pada 3 stasiun dengan 3 pengulangan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 3 tipe mikroplastik yaitu fiber, fragment, dan film dengan nilai kelimpahan tertinggi diperoleh pada tipe fiber yaitu 11,11 partikel/individu (insang) dan 9,05 partikel/individu (saluran pencernaan) dari sampel stasiun 2. Nilai mikroplastik yang ditemukan di insang paling tinggi nilai kelimpahannya (2,34 partikel/individu) dibandingkan dengan yang terdapat pada saluran pencernaan (1,86 partikel/individu). Sedangkan jenis polimer yang ditemukan adalah nilon (poliamida), polivinil klorida (PVC), dan low-density polyethylene (LDPE). Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan perlu diteliti lebih lanjut nilai lethal dosis mikroplastik dan pengaruh yang ditimbulkan sebagai akibat ditemukannya berbagai tipe mikroplastik pada organ insang dan saluran pencernaan terhadap pertumbuhan ikan bandeng.AbstractPlastic waste in waters that is increased by the human population is the most common source of microplastic contamination in milkfish (Chanos chanos) from the traditional pond system at Sedati district Sidoarjo regency. This research aims to identify the microplastic type, abundance, and polymers in the microplastics. This type of research includes qualitative and quantitative descriptive with an explorative approach. The location determination method uses purposive sampling at 3 stations with 3 repetitions. The study revealed three types of microplastics, which are fiber, fragment, and film with fiber exhibiting the highest abundance at 11,11 particles/ind in gills, while gastrointestinal tracts showed 9.05 particles/ind at station 2. Additionally, Chanos chanos gills displayed the highest microplastic abundance (2.34 particles/ind) compared to the gastrointestinal tract (1.86 particles/ind). The study identified various polymers within the microplastics, including nylon (polyamide), polyvinyl chloride (PVC), and low-density polyethylene (LDPE). Further research is needed to determine the lethal dosage of microplastics and their specific effects on Chanos chanos growth in both the gill and gastrointestinal tract.
Evaluasi Lokus Potensial matK dan ITS2 Untuk DNA Barcoding Anggrek Bulbophyllum lobbii Lindl. Su'udi, Mukhamad; Ulum, Fuad Bahrul; Ardiyansah, Muhammad; Fitri, Nurfajri Eka
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.33897

Abstract

AbstrakBulbophyllum lobbii Lindl. merupakan anggrek dari famili Orchidaceae yang berpotensi sebagai bahan baku obat herbal. Identikasi morfologi anggrek B. lobii memiliki keterbatasan karena kemiripan spesies dengan anggrek lain. Alternatif identifikasi secara molekuler menggunakan sekuen matK dan ITS2 sebagai barcode dalam DNA barcoding diharapkan menjadi salah satu lokus pembeda spesies anggrek B. lobbii secara akurat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sekuen matK dan ITS2 sebagai penanda molekuler yang efektif untuk anggrek B. lobbii. DNA genom B. lobbii diisolasi dengan metode Cethyl Trimethyl Ammonium Bromide (CTAB) dan amplifikasi DNA dengan PCR. Hasil penelitian menunjukkan sekuen matK dari B. lobbii memiliki tingkat homologi tinggi dengan dua spesies B. lobbii (KY966747.1 dan KY966691.1) dari China dengan nilai Per. Ident sebesar 99,20%, sedangkan sekuen ITS2 memiliki homologi tertinggi dengan nilai Per. Ident sebesar 99,76% pada spesies B. lobbii (MG253848.1) dari Polandia. Hasil analisis menunjukkan sekuen ITS2 dapat mengidentifikasi spesies dari tingkatan subspesies atau diatasnya (ordo atau genus) dan juga meningkatkan resolusi filogenetik yang baik pada hasil BLAST, sedangkan sekuen matK memberikan sedikit kontribusi dalam pengelompokkan hubungan kekerabatan antara spesies B. lobbii dengan spesies pembanding lainnya. Sekuen ITS2 dapat direkomendasikan sebagai penanda molekuler yang paling baik untuk identifikasi sampel anggrek Bulbophyllum, khususnya Bulbophyllum lobbii.AbstractBulbophyllum lobbii Lindl. is an orchid from the Orchidaceae family which has potential as a raw material for herbal medicine. Morphological identification of the B. lobii orchid has limitations due to the species' similarity to other orchids. The alternative molecular identification using matK and ITS2 sequences as barcodes in DNA barcoding is expected to be one of the loci for distinguishing the B. lobbii orchid species accurately and efficiently. This study aims to identify matK and ITS2 sequences as effective molecular markers for the orchid B. lobbii. Bulbophyllum lobbii genomic DNA was isolated using the Cethyl Trimethyl Ammonium Bromide (CTAB) method and DNA amplification by PCR. The results showed that the matK sequence from B. lobbii has a high level of homology with two B. lobbii species (KY966747.1 and KY966691.1) from China with a value of Per. Ident is 99.20%, while the ITS2 sequence has the highest homology with a Per. Ident value of 99.76% with the species B. lobbii (MG253848.1) from Poland. The results of the analysis show that the ITS2 sequence can identify species from the subspecies level or above (ordo or genus) and also improves good phylogenetic resolution in BLAST results, while the matK sequence makes little contribution in grouping the relationship between the B. lobbii species and other comparison species. The ITS2 sequence can be recommended as the best molecular marker for identifying Bulbophyllum orchid samples, especially Bulbophyllum lobbii. 
The Diversity of Plant as Traditional Culinary Food Wrappers on The Bogor’s Society, West Java Province, Indonesia Nikmatullah, Muhamad; Rahayu, Mulyati; Kalima, Titi; Setiawan, Marwan; Hasanah, Ida Farida
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.34124

Abstract

AbstractTraditional culinary is a food that has a distinctive taste, commonly consumed by a particular society. Generally, traditional culinary using the diversity of plants to wrap food. The function of plant leaves for food wrapping in consider of natural and safe material. The use of natural materials is very valuable traditional knowledge and includes cultural wealth. The research was conducted to reveal the diversity of plants that are still used as traditional culinary wrapping in Bogor city. This research method used the ethnobotany approach, through observation and direct interview to a key informant up to 20 respondents on the three traditional market’s in Bogor city. The data collection results were produced of 23 types of cuisines in the traditional culinary markets, namely Anyar/Kembang, Sukasari, and Surya Kencana. These traditional culinary are utilized five plant species to wrap food, mostly using banana leaves (Musa spp.) for food packaging of 23 types of the tradisional culinary delights. The advantage of utilizing plants as traditional culinary wrapping infused with flavor to enhance the taste and art. Utilization plants as food wrapping need to preserved, developed, and socialized to public due to its local wisdom environmental sustainability and to reduce the use of non-natural resources that have severe environmental impacts and public health.AbstrakKuliner tradisional merupakan suatu makanan yang mempunyai cita rasa yang khas, biasa dikonsumsi oleh masyarakat tertentu. Umumnya kuliner tradisional memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan sebagai pembungkusnya. Penggunaan daun sebagai pembungkus karena bahan alami dan aman untuk membungkus makanan. Penggunaan bahan dari alam adalah pengetahuan tradisional sangat berharga dan termasuk kekayaan budaya. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengungkap keanekaragaman tumbuhan yang masih digunakan sebagai pembungkus kuliner tradisional di Kota Bogor. Metode penelitian menggunakan pendekatan etnobotani, melalui observasi dan wawancara langsung kepada informan kunci sebanyak 20 responden di tiga pasar tradisional kota Bogor. Hasil pendataan menunjukkan terdapat 23 jenis kuliner tradisional di pasar Anyar/Kembang, Sukasari, dan Surya Kencana. Kuliner tradisional ini memanfaatkan 5 jenis tumbuhan sebagai pembungkusnya yang sebagian besar adalah daun pisang (Musa spp.) yang digunakan sebagai pembungkus 23 kuliner tradisional. Keuntungan memanfaatkan tumbuhan sebagai pembungkus kuliner tradisional antara lain untuk menambah cita rasa dan seni. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pembungkus makanan perlu dilestarikan, dikembangkan, dan disosialisasikan kepada masyarakat umum agar budaya lokal ini senantiasa lestari dan dapat mengurangi pemanfaatan sumber daya non alam yang berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kemampuan Adaptasi Ikan Tebaran di Waduk Penjalin Ditinjau dari Kemampuan Memanfaatkan Makanan Alami Hendrawan, Andika Luky Setiyo; Prayitno, Slamet Budi; Tjahjo, Didik Wahju Hendro
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.34219

Abstract

AbstrakPenebaran ikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ikan di perairan Waduk Penjalin. Kemampuan ikan dalam memanfaatkan makanan alami di badan air menjadi salah satu faktor keberhasilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan ikan tebaran dalam memanfaatkan makanan alami di Waduk Penjalin. Penelitian dilakukan menggunakan metode stratified random sampling pada bulan Desember 2021 sampai Februari 2022, dengan pengambilan sampel satu kali setiap bulannya. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 stasiun yaitu Dam, Keser Kulon, Soka, dan Kedung Agung. Analisis data meliputi indeks relatif penting, kebiasaan makanan dan tingkat trofik, luas relung, dan tumpang tindih relung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tebaran termasuk ikan herbivora (nila, tawes, mas) dan karnivora (udang galah). Ikan nila dan tawes memanfaatkan fitoplankton, ikan mas memanfaatkan tumbuhan dan udang galah memanfaatkan moluska sebagai makanan utama. Ikan yang ditebar cenderung spesialis dalam mencari makanan. Tumpang tindih relung tinggi terjadi antara ikan nila dan tawes, namun ketersediaan makanan alami yang melimpah masih memungkinkan ikan tersebut tumbuh dengan baik.AbstractFish enhancement is one of the efforts to increase fish production in Penjalin Reservoir. The ability of fish to utilize natural food in water bodies is one of the success factors. The purpose of this study was to determine the ability of the stockfish to utilize natural food in the Penjalin Reservoir. The research was conducted using the stratified random sampling method in December 2021 until February 2022, with sampling once per month. Sampling was carried out at 4 stations namely Dam, Keser Kulon, Soka and Kedung Agung. Data analysis included relative importance indices, food habits and trophic level, niche breadth and niche overlap. The results showed that the stocked fish included herbivorous fish (nile tilapia, silver barb, common carp) and carnivorous fish (giant freshwater prawns). Nile tilapia and silver barb fish use phytoplankton, common carp use plants and giant freshwater prawns use molluscs as their main food. Stocked fish tend to be specialists in finding food. High niche overlap occurs between tilapia and silver barb, but the availability of natural food still allows these fish to grow well.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 19 No. 1 (2026): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 18 No. 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 18 No. 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 18, No 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 17, No 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 17, No 1 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 16 No. 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 15, No 1 (2022): AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI Vol 14, No 2 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 14, No 1 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 13, No 2 (2020): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 13, No 1 (2020): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 12, No 2 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 12, No 1 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 11, No 2 (2018): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 11, No 1 (2018): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 10, No 2 (2017): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 10, No 1 (2017): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 9, No 2 (2016): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 9, No 1 (2016): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 8, No 2 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 8, No 1 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 7, No 2 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 7, No 1 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 6, No 2 (2013): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 6, No 1 (2013): Al-Kauniyah Jurnal Biologi More Issue