cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
ADDIN
ISSN : 08540594     EISSN : -     DOI : -
ADDIN is an international journal published by Research Center of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Kudus, Central Java, Indonesia. ADDIN is an academic journal published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 442 Documents
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI PESANTREN: Membangun Kesadaran Keberagamaan yang Inklusif Kasdi, Abdurrahman
ADDIN Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di era sekarang ini, pesantren dihadapkan pada beberapa fenomena perubahan sosial dan multikulturalisme yang tak terelakkan. Multikulturalisme yang merupakan titik temu berbagai budaya meniscayakan kesetaraan dan penghargaan di tengah pluralitas budaya. Dalam konteks inilah pesantren dituntut untuk proaktif merespon isu-isu global yang berkembang. Pesantren harus menjadi garda depan dalam memerangi fanatisme madzhab, karena imam madzhab sendiri melarang pengikutnya bertaklid kepadanya. Tanpa strategi seperti ini, pesantren hanya akan berfungsi sebagai counter-culture yang justru kontra produktif dan seringkali memiliki nilai serta norma yang berbeda dengan kultur lain. Pesantren sebagai media pembebasan umat dihadapkan pada tantangan bagaimana mengembangkan teologi multikultural sehingga di dalam masyarakat pesantren akan tumbuh pemahaman yang inklusif untuk harmonisasi agamaagama, budaya dan etnik di tengah kehidupan masyarakat. Tertanamnya kesadaran multikultural dan pluralitas kepada masyarakat, akan menghasilkan corak paradigma beragama yang hanief dan toleran. Ini semua harus dikerjakan pada level bagaimana membawa pendidikan pesantren ke dalam paradigma yang toleran dan humanis. Karena paradigma pendidikan pesantren yang ekslusif dan intoleran jelas-jelas akan mengganggu harmonisasi masyarakat multi-etnik dan agama. Dengan demikian, filosofi pendidikan pesantren yang ekslusif tidak relevan lagi di zaman multikultural. Sebab, jika cara pandangnya bersifat ekslusif dan intoleran, makateologi yang diterima adalah teologi ekslusif dan intoleran, yang pada gilirannya akan merusak harmonisasi agamaagama, dan sikap menghargai kebenaran agama lain.
BERKENALAN DENGAN PSIKOTERAPI ISLAM Rahman, Muzdalifah M.
ADDIN Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modern life in addition to making human life becomes completely easy it turna out leaving apile of psychological problem such as severe stress, the number of suicides, drugs, promiscuity, divorce, crime and so forth. With phenomenon like that the author invites the reader to recognize islam as an effort to overcome the pychotherapeutic problem. Islamic Psychotheapy is treatment and haaeling process a good disease mentally, morally, phisically with the guidance of AlQur’an and Hadits Keywords : Islamic Psychotherapy
Fenomena Jin Dalam Penelitian Ilmiah *, Kisbiyanto
ADDIN Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ilmiah yang terpancang pada hipotesis, logika, dan verifikasi telah banyak mengungkap sisi lain dari sesuatu yang nyata. Namun, banyak juga tantangan dan hambatan yang dialami penelitian ilmiah dalam mengungkap banyak sisi dari kehidupan dan alam, misalnya tentang jin. Fenomena jin banyak dikaji dalam literatur keagamaan berbagai agama di dunia, dan keberadaannya menarik bagi para peneliti. Tata surya, listrik, magnet, gelombang elektromegnetik, dan UFO merupakan temuan-temuan yang scientifik dimana pada mulanya dianggap tidak ada, atau keberadaannya masih dipertanyakan. Pembahasan tentang jin merupakan fenomena yang terus diteliti. Sudah dimulai, terus dilaksanakan, dan terus diteliti sampai waktu tanpa batas.
LATAR BELAKANG INTELEKTUAL FILSAFAT MULLA SADRA Mufid, Fathul
ADDIN Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mullā Jadrā ( 1571- 1640 M ) adalah salah seorang filosof Muslim terbesar, karena memiliki keunggulan ilmu di bidang filsafat, tafsir, hadis, dan ‘irfan ( gnosis). Jadrā membangun “mazhab baru filsafat” dengan semangat mengintegrasikan sedikitnya enam sumber pemikiran yang berkembang di kalangan umat Islam, yaitu; 1) sumber tradisional, yaitu al-Qur’an, Hadis, dan ucapan para Imam, 2) sumber klasik filsafat Yunani-Ramawi, 3) tradisi klasik teologi dialektis (ilmu kalam) 4) pemikiran filsafat Aristotelian cum Neoplatonis yang diislamkan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina yang dikenal dengan filsafat paripatetik, 5) filsafat iluminasi Suhrawardi, dan 6) pemikiran mistik (‘irfan ) Ibn ‘Arabi. Berangkat dari sumber-sumber tersebut Jadrā menemukan ide-ide baru yang segar, yang pada gilirannya membentuk mazhab filsafat baru di dunia Islam, yaitu al- Hikmah al- Muta’alyah. Oleh sebab itu, setelah mengkaji secara jeli semua karya berikut sumber-sumber rujukan Ṣadrā, seorang pembaca obyektif akan menemukan bahwa sistem dan susunan serta kaidah-kaidah dan landasan-landasan filsafatnya lebih banyak bersumber dari dirinya sendiri secara autentik, tidak dipinjam dari manapun dan sepenuhnya orisinil, meskipun tentu saja dia harus mencantumkan sederet bahan dari beragam tulisan orang lain. Mustahil sebuah sistem utuh dapat terlahir dari penggabungan sintesis berbagai sistem yang berbeda, tetapi mustahil pula seseorang mampu merumuskan sistem pemikiran tanpa memuat ungkapan-ungkapan yang telah diutarakan para pendahulunya di bidang yang sama. Sebagai seorang tokoh pemikir, logis apabila Jadrā tidak memulai dari nol, melainkan sangat dipengaruhi oleh horizon pemikiran yang melatar belakanginya. Dengan mencermati sejarah pendidikan dan para gurunya, secara tidak langsung dapat diketahui sumber-sumber yang melatar belakangi pemikiran Jadrā. Namun Jadrā berbeda dengan flgur lain yang secara umum cenderung sealur dengan para pendahulunya. Jadrā pemikirannya bersifat multi varian, integratif, dan sintesis. Kenyataan ini menyebabkan pemikirannya sangat terkait dengan varian wacana intelektual yang berkembang sebelumnya
Menggagas Kitab Kuning Yang Memberdayakan Perempuan
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama kitab kuning cukup akrab di kalangan pesantren. Kitab kuning adalah kitab yang berisi ilmu-ilmu agama Islam secara universal, mulai tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh,tauhid, nahwu, shorof, balaghoh, akhlaq, tasawuf, ijtimaiyah, dll yang warna kertasnya biasanya kuning. Warna tidak menjadi ukuran, yang penting isinya. Apalagi di zaman modern sekarang ini, warna favorit justru bukan kuning, tapi putih. Seumpama kitab Matan Taqrib dicetak dengan kertas putih, Bulughul Marom dicetak dengan kertas putih, dan kitab-kitab yang lain dicetak dengan warna putih, tidak lantas status kitab kuningnya hilang. Warna hanya wasilah (perantara), yang penting isinya. Dicetak dengan warna apapun, kalau isinya sama namanya tetap kitab kuning. Menurut hasil penelitian L.W.C. Van Den Berg (1886), kitab kuning yang ada di pesantren Jawa dan Madura terdapat sekitar 54 judul, terdiri dari kitab matan, syarah, dan hasyiyah. Perinciannya : fiqh ibadah ada 7 judul, fiqh umum ada 11 judul, tata bahasa arab ada 15 judul, ushuluddin ada 9 judul, tasawuf ada 7 judul, tafsir, hadits dan aurad ada 5 judul. Tetapi pada akhir abad ke-20, Martin van Bruinessen melaporkan bahwa kitab kuning yang beredar di daerah ini dan sekitarnya telah mencapai 900 judul. Yang menarik adalah, kitab-kitab kuning yang dulu dinilai riskan oleh para kiai semacam kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Tafsir al-Kasysyaf, karya-karya ulama diluar madzhab Syafii seperti Tafsir alQurthubi, Subulus Salam, Hasiyah Jamul Jawami dan lainnya justru sekarang mulai dimiliki oleh beberapa kiai pengasuh pesantren.
ISLAM DAN PERDAMAIAN Muchith, M. Saekan
ADDIN Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam memiliki visi dan misi sebagai rahmatan lil ‘lamiin (rahmat /kedamaian bagi semua alam). Artinya Islam selalu menjelma sebagai keyakinan dan dogma yang mampu mewujudkan kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan bagi semua mahluk di atas bumi tanpa melihat asal usul, suku, golongan, warna kulit dan agama. Islam memuat teks atau pesan yang sangat global dan memiliki makna yang dapat dipahami sesuai dengan kualitas pengalaman yang dimiliki maisng masing pemeluk. Ada tiga hal yang memiliki potensi menimbulkan perilaku dan sikap yang kurang sesuai dengan harapan, setidaknya sikap yang berpotensi menimbulkan konflik diantara manusia. Tiga itu adalah terminologi kafir, jihad, perang. Rahmat bagi semesta alam adalah adanya kesediaan dan kemauan serta kemampuan bagi orang yang beragama untuk saling menghormati dan menghargai tidak hanya mahluk yang berwujud manusia tetapi mahluk apa saja yang hidup di dalam alam sisinya ini. Oleh sebab itu bagi orang yang beragama dalam menjalankan misi perdamaian tidak mengenal asal susul suku, agama, golongan dan warna kulit. Kafir, jihad, perang memiliki makna yang berpotensi alternatif ekstrem yaitu dapat menimbulkan perilaku anarkhis dan positif bagi manusia selama menjalani hidup di dunia. Oleh sebab itu ketiga istilah tersebut perlu dipahami atau dimaknai secara tepat agar sikap dan perilaku manusia benar benar sesuai dengan semangat Islam sebagai rahmatan lil’alamiin. Setiap agama khususnya agama Islam dikenal dengan istilah dakwah Islam yang dapat diartikan upaya mensosialisasikan (mengajak, menyeru) kepada orang lain untuk memahami dan melaksanakan/mengamalkan ajaran agama. Bahkan tidak jarang masing- masing agama menjastifikasi bahwa agamanya yang paling benar. apabila kepentingan ini lebih dikedepankan, masing-masing agama akan berhadapan satu sama lain dalam menegakakan hak kebenarannya. Inilah yang memunculkan adanya setimen agama. maka tidak mustahil benturan pun sulit dihindarkan. Persoalan ini menjadi salah satu faktor yanag dapat memunculkan konflik diantara agama yang sama sama mengajarkan semangat dan nilai perdamaian atau kerukunan. Berdasarkan asumsi di atas, antara Islam dan perdamaian merupakan dua sisi mata uang logam yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Islam harus selalu menebarkan kedamaian dan kedamaian akan sangat mudah diperoleh jika manusia benar benar mengalamkan ajaran Islam sesuai dengan apa yanag difirmankan. Kunci: Islam, Damai, Jihad, Kafir dan Perang
MAKNA PENDIDIKAN BAGI ANAK MENURUT KELUARGA NELAYAN DI DESA WEDUNG KECAMATAN WEDUNG KABUPATEN DEMAK *, Shobirin
ADDIN Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi, tanggapan dan pemaknaan masyarakat Wedung Kecamatan Wedung Kabupaten Demak berkenaan dengan pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Fokus Penelitian diarahkan kepada deskripsi tentang pendidikan anak pada keluarga nelayan baik yang masih sekolah maupun putus sekolah. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Sampel sumber data ditentukan secara purposif dan snowball. Analisis data dilakukan melalui analisis model Miles dan Huberman dan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, gambaran pendidikan pada masyarakat tersebut secara keseluruhan bervariasi. Pada umumnya keluarga tersebut mengharapkan anaknya punya nasib lebih baik daripada orang tuanya, paling tidak bisa baca tulis. Adapun hubungan yang dijalin antara orang tua dengan anak rata-rata hubungan saling membutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat ditemukan perlu membangun persepsi orang tua yang penghasilannya rendah terhadap pendidikan anak- anaknya dengan baik; merubah alternatif pekerjaan selain nelayan demi perbaikan nasib; membangun peran yang maksimal bagi orang tua terhadap keberhasilan pendidikan anak-anaknya; dan menjalin hubungan yang harmonis untuk menciptakan keberhasilan pendidikan anak-anaknya. Kata Kunci : Makna Pendidikan, Anak, Masyarakat Nelayan, Orang Tua
ISLAM DAN GLOBALISASI Farida, Umma
ADDIN Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi merupakan suatu era global dimana dunia terasa seperti sebuah kampung kecil. Interaksi antar negara, peradaban dan budaya semakin mudah dilakukan. Proses saling mempengaruhi antar satu budaya dengan budaya yang lain semakin intens dan dengan proses yang cepat, baik budaya itu bersifat positif atau pun negatif. Sehingga pada akhirnya globalisasi menjadi alat untuk saling mempengaruhi antar peradaban, budaya, ideologi bahkan agama. Proses saling mempengaruhi tersebut menjadikan suatu peradaban, budaya dan agama terkontaminasi dengan unsur-unsur yang lain. Hal ini menimbulkan kegoncangan bagi ideologi dan budaya lain yang tidak sesuai karakteristik sosial kulturalnya.
Islam dan Sosialisme Nuruddin, Muhamad
ADDIN Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ekonomi yang sedang lesu kini masih belum nampak ada kebangkitan di muka bumi. Bahkan berbagai persoalan seperti dampak global warming (pemanasan global) dari waktu ke waktu seolah-olah tiada berakhir. Akibatnya, masyarakat dunia dalam suanana pesakitan. Hal ini disebabkan oleh karena dua mazhab besar di bidang ekonomi; kapitalisme dan sosialisme belum mampu menyuguhkan menu yang jitu untuk bangkit. Bahkan, keberadaannya semakin dipertanyakan orang. Faham kapitalisme yagberkembang di Barat misalnya, dengan prinsip peningkatan modal demi mendapatkan kemajuan ekonomi dianggap semakin mempertajam jurang perbedaan masyarakat antara yang kaya dan miskin. Sementara itu aliran sosialisme yang kelahirannya dianggap sebagai pemberontak dan pendobrak kapitalis ternyata justru berat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ada sejumlah penyelewengan dari gagasan yang dikembangkan tidak menghargai kepemilikan, penguasaan distribusi pada negara, serta munculnya faham atheis. Sebenarnya dalam banyak hal sosialisme sering diterima masyarakat muslim, bahkan banyak yang menganggap faham itu identik dengan sistem ekonomi dalam Islam. Oleh karenanya sejarah perkembangannya banyak dierima oleh kalangan muslimdi berbagai negara. Hal ini patut disayangkan karena perkembangannya banyak menimbulkan masalah di kalangan masyarakat muslim. Sehingga mereka semakin berat menerima faham itu. Seperti halnya adanya pemusatan ekonomi pada negara, penyelewengan di jalur birokrasi, dan munculnya faham atheisme. Oleh karenanya keberadaan sistem baru yang ditunggu-tunggu, yaitu sistem yang memberi penghargaan tinggi terhadap kemajuan individu serta mendorong tercapainya kesejahteraan sosial. Sebagai ajaran yang komprehensip, Islam memuat berbagai persoalan baik menyangkut masalah akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Di bidang ekonomi (muamalah) misalnya, tidak disebutkan rincian sistemnya tetapi disana hanya menebutkan prinsip jual beli, hutang piutang, perjanjian. Oleh karenanya penjabaran dari prinsip tersebut amat bergantung pada masyarakat muslim. Keynote : Islam, Sosalisme, sitem ekonomi
TRANSAKSI GHARAR (URCERTAINTY) DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM EMPAT MAZHAB Hadi, H. Solikhul
ADDIN Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uncertainty is a fact of human life. All of mankind faces uncertainty in their respective personal, social and business lives. Risk are always surrounding us whatever we are doing. Islam does not iqnore this fact and does not prohibit people from facing the risks and uncertainties that life represents. What is not allowed or prohibited is the exchange of a transaction with others on something that contains uncertainty or Gharar. In general insurance Gharar exists because insurance concept is a risk transfer mechanism by which an organization can exchange its uncertainty for certainty. It is not possible to always predict if such a claim will take place or how much this will incur. On the other hand some big cases as with the asbestosis issues, the WTC 9/11 event etc, the insurers were exposed to an unpredictably huge claim, where premium had no bearing on such exposures revealed after the claims came in.

Page 6 of 45 | Total Record : 442