cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Sosial Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Sosial Budaya (Online ISSN 2407-1684 | Print ISSN 1979-2603), merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 2007. Jurnal Sosial Budaya ini merupakan media yang memuat kajian-kajian ilmiah dalam bentuk hasil riset dalam bidang ilmu sosial/humaniora, seperti pernaskahan, pranata-sosial dan sejarah untuk membangun dan membangkitkan kembali kejayaan Tamaddun Melayu dalam kawasan regional Asia Tenggara. Jurnal Sosial Budaya diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Juli dan Desember yang berusaha menempatkan hasil penelitian para peneliti, akademisi, pemerhati dalam keilmuan terkait. Jurnal Sosial Budaya juga memberi perhatian bagi publikasi hasil penelitian interdisipliner berbagai pihak yang memiliki perhatian serius untuk merancang, dan merajut tatanan dunia baru Tamadun Melayu.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
Mengenal Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan (Studi Tentang Tradisi Punggahan dan Pudunan) Devi Sri Yuliyani
Sosial Budaya Vol 19, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i1.14733

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan, mengetahui makna dan mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Punggahan dan Pudunan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian lapangan yang menggunakan teknik pengumpulan data seperti kepustakaan, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menghasilkan bahwa Tradisi Punggahan dan Pudunan merupakan tradisi yang turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi Punggahan dan Pudunan digunakan oleh masyarakat sebagai sarana untuk menyambut bulan suci ramadhan dengan mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia untuk diberikan pengampunan dosa dari Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya, masyarakat akan melantunkan doa-doa seperti tahlil dan bacaan Surah Yasin. Pemberian bingkisan (berkat) yang digunakan oleh masyarakat Dusun Kenteng dalam Punggahan dan Pudunan itu bervariasi. Masyarakat memaknai pemberian berkat ini dilakukan dengan tujuan sedekah atau bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah diberikan nikmat kecukupan dalam keluarganya. Dalam mengisi acara Punggahan dan Pudunan tersebut para warga menyediakan sedekahannya di rumah masing-masing dengan mengundang para tetangga untuk kerumah. Hasil penelitian berjalannya acara punggahan dan pudunan saat ini karena di situ ada iman, kebersamaan dan manfaat hingga membuat kita sebagai masyarakat tetap setia melestarikan tradisi nenek moyang.
Makna Simbolik dan Urgensi “Cepa dan Tuak” dalam Tradisi “Tiba Meka” pada Masyarakat Manggarai Maria Angelina Dalut; Deny Wahyu Apriyadi; Alan Sigit Fibrianto
Sosial Budaya Vol 19, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i1.16118

Abstract

Tradisi tiba meka (tiba= terima; meka= tamu) merupakan salah satu tradisi asli masyarakat Manggarai yang digunakan sebagai simbol penghormatan/penghargaan bagi tamu yang berkunjung ke wilayah Manggarai dan tradisi tersebut masih terjaga hingga saat ini. Tradisi masyarakat Manggarai diketahui tidak pernah terlepas dari ketersediaan cepa dan tuak yang terkandung makna simbolik didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana prosesi pelaksanaan tradisi tiba meka masyarakat Manggarai (2) bagaimana makna simbolik yang terkandung dalam cepa dan tuak (3) Bagaimana urgensi dari cepa dan tuak dalam tradisi masyarakat Manggarai. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian di Desa La’o Kelurahan Wali Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai. Sumber data diperoleh melalui sumber data primer dan sumber data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu, pengkajian, reduksi, triangulasi dan penarikan kesimpulan/Verifikasi. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu (1) Prosesi pelaksanaan tradisi tiba meka yang terdiri dari tahap; curu, teing lalong bakok, raes cama laing dan dialog,  (2) cepa mengandung simbol ungkapan selamat datang bagi tamu, tuak mengandung simbol ketulusan dalam menerima tamu, lalong bakok mengandung simbol pengharapan dari masyarakat kepada tamu agar memiliki hati yang suci dan bersih seperti ayam jantan putih yang diberikan, dan tange sebagai wadah menaruh cepa (3) pentingnya keberadaan cepa dan tuak dalam tradisi tiba meka masyarakat Manggarai sebagai perwujudan sikap menghormati secara penuh dari masyarakat Manggarai kepada tamu yang memiliki kedudukan/jabatan yang tinggi.
Eksistensi Nilai Dalihan Na Tolu Pada Generasi Muda Batak Toba di Perantauan Resdati Resdati
Sosial Budaya Vol 19, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i1.16624

Abstract

Dalihan Na Tolu menjadi falsafah penting dalam sistem kebudayaan masyarakat Batak khususnya Batak Toba. Tujuan tulisan ini yaitu mengungkap nilai sosial budaya, degradasi moral serta bagaimana upaya dalam upaya mempertahankan falsafah tersebut. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Temuan dalam penelitian ini pada prinsipnya Dalihan Na Tolu memiliki nilai positif mempertahankan solidaritas serta pengajaran saling menghargai sesama dalam struktur kekerabatan Batak Toba. Namun, pemahaman nilai ini masih kurang khususnya pada kalangan generasi muda yang diakibatkan oleh terpaan teknolodi dan media sosial. Kondisi demikian menyebabkan terdapat kecenderungan kurang aktif dalam pelaksanaan upacara kesukuan maupun kegiatan adat. Perilaku lainnya yaitu melawan orang tua dan berkata kasar dalam pergaulan. Masalah degradasi moral disikapi dengan kemunculan Perkumpulan Batak Bersatu yang menganggap perlu upaya mengatasi degradasi moral. Mereka mengenalkan budaya batak melalui berbagai cara termasuk media sosial. Meskipun belum menunjukkan peran signifikan dalam membumikan nilai budaya Batak, keberadaan PBB sangat penting terutama mengembalikan eksistensi nilai budaya batak pada generasi muda.
Eksistensi Ngidang sebagai Tradisi Makan Khas Palembang di Abad 21 Syarifuddin Syarifuddin; Supriyanto Supriyanto; Siti Rofiah; Malita Yuhito
Sosial Budaya Vol 19, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i1.14418

Abstract

Tujuanditulisnyaartikeliniuntukmengetahui eksistensi ngidang di Kota Palembang. Tradisingidang ini merupakan warisan budaya yang biasa dilakukan pada saat acara sedekah atau kedurian. Data yang disajikandiperolehdengancara observasi lapangan, wawancara, dan kajianliteratur.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode historis dan data yang terkumpuldianalisisdenganmenggunakan pendekatansosiologi. Ngidangadalahsuatutradisikhas yang berkembang di masyarakat Palembang mengenaipenyajianmakanan yang sudah berkembang sejak masa kesultanan. Namun, keberadaannya kini semakin sulit untuk ditemukan karena kebutuhan masyarakat akan kepraktisan membuat tradisi ini mulai tergeser oleh budaya prancisan atau prasmanan yang telah berkembang sejak tahun 90-an. Sehingga, saat ini hanya sedikit wilayah di Palembang yang masih menerapkan tradisi ini dengan baik seperti wilayah-wilayah yang berada dipedesaan.
Eksistensi Duta Wisata Banyuwangi (Jebeng-Thulik) dalam Kajian Budaya Riswari, Aninditya Ardhana
Sosial Budaya Vol 19, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i2.18567

Abstract

Kehadiran Duta Wisata atau Duta Daerah diketahui memiliki berbagai keuntungan bagi dunia pariwisata di Indonesia. Terlebih, banyak kabupaten atau kota yang memanfaatkan Duta Wisata atau Duta Daerah sebagai ‘wajah’ baru guna mempromosikan berbagai pengembangan yang ada di daerahnya. Salah satunya seperti Kabupaten Banyuwangi yang memiliki Jebeng Thulik sebagai Duta Daerah, yang dipilih melalui proses kontestasi yang sangat unik dan ketat. Untuk itu penelitian ini disusun untuk menganalisis eksistensi Duta Wisata Banyuwangi (Jebeng-Thulik) melalui kajian budaya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui pendekatan budaya, di mana peneliti melakukan proses observasi terhadap kegiatan Jebeng Thulik sebagai sebuah peristiwa budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, keberadaan Jebeng Thulik Banyuwangi telah dikukuhkan sebagai Duta Wisata Daerah sejak 1973 saat kepemimpinan Bupati Djoko Supaat Slamet. Bahkan kehadiran Jebeng Thulik masih terus eksis hingga saat ini, di mana konsep yang diusung berubah dari Duta Wisata menjadi Duta Daerah. Kedua, hingga saat ini keberadaan Jebeng Thulik dibawahi oleh sebuah komunitas bertajuk Perkumpulan Jebeng Thulik Banyuwangi yang mengusung konsep paguyuban, di mana mereka dipersatukan dengan bentuk organisasi yang guyub, rukun, dan gotong royong. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa kehadiran Jebeng Thulik sebagai Duta Daerah muncul berkat kepedulian pemerintah setempat yang turut didukung oleh masyarakat, dan terus dikembangkan melalui sebuah komunitas bertajuk Perkumpulan Jebeng Thulik Banyuwangi.
The Existence of Traditional Games for Elementary School-Age Children in Tuah Karya Village Nurhayati, Nurhayati; Jamaris, Jamaris; Marsidin, Sufyarma; Hadiyanto, Hadiyanto; Solfema, Solfema; Gistituati, Nurhizrah; Iswari, Mega
Sosial Budaya Vol 19, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i2.19920

Abstract

 Traditional games as a cultural heritage need to be explored and socialized so that they are not interrupted and to avoid extinction. Traditional games are very beneficial for the physical, social, and emotional growth and development of children. The existence of traditional games in the era of globalization has begun to be replaced by technology-based games. This study aimed to determine the existence of traditional games among elementary school children in Tuah Karya Village, Tuah Madani Sub-district, Pekanbaru City. The population of this study was elementary school-aged children who live in the Tuah Karya Village, with a total of 2.208 people. A total of 110 samples were taken by random sampling technique. Data collection techniques were carried out using questionnaires and percentage descriptive data analysis techniques. The results of the study show that traditional games in Tuah Karya Village can be classified into three categories: there are traditional games that still exist, are almost extinct, and are no longer recognized. There are seven games that still exist: kelereng, gasing, layang-layang, lompat tali  (yeye), statak, congkak, and tarik tambang. The five almost extinct games are ular naga dan anak ayam, petak umpet, eggrang, and terompa panjang. The seven games that are no longer recognized are ligu, canang (gatrik), meja pari, adu buah para (buah karet), benteng, boi-boian, and lulu cina buta. The existence of traditional games in the Tuah Karya Village can still be improved because the situation and conditions in the area are still conducive.
Ritual dan Mistisisme dalam Tradisi Pernikahan Suku Tengger: Dari Perjodohan hingga Pembagian Warisan Susanti, Anik; Sabariman, Hoiril
Sosial Budaya Vol 19, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i2.16548

Abstract

Tengger ethnic group have unique customs in the wedding tradition. They maintain the mores of wedding in the form of rituals and mysticism from generation to generation. The purpose of this study is to analyze and explain the rituals and mysticism that exist in the Tengger tradition of wedding. Descriptive qualitative methods are used to scuttle the phenomenon. Informants are determined based on criteria and considerations to have a thorough understanding of rituals and mysticism in the wedding tradition. Data is collected through interviews, observations, and supporting documentation. The results of this study found that there are rituals performed by the community in the wedding tradition. Starting from the affairs of matchmaking, the parents in Tengger are also guided by a Primbon that is understood by some people including shamans. After the matchmaking, a meeting of friends is the day that the groom meets the bride-to-be. Then held a traditional Walagara (wologoro) ceremony consisting of japa mantra and banten kayoban.  Japa mantra is summoning the spirits of ancestors, ancestral spirits, and spirit guards of the village. Banten kayoban is a family inner bond between men and women after wedding. If the custom is not implemented, the marriage carried out is considered invalid even though it is carried out according to the State, even getting social sanctions in the Tengger community. The division of inheritance rights is owned by parents, an equal division between boys and girls. Mysticism is found in almost every ritual in the wedding tradition. Tengger people believe that mystical elements have a power that brings good to couples who want to get married.
Tradisi Ruwahan pada Masyarakat Melayu Palembang dalam Perspektif Psikologi Dwinanda, Poppy; Rahmawati, Richa Dwi; Fitriyani, Eka
Sosial Budaya Vol 19, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i2.19338

Abstract

This paper aims to provide information about the Ruwahan tradition carried out by the Palembang Malay community and discuss it from a psychological perspective. The author obtains information from various relevant writing sources through the library research method. From the perspective of Psychology, the Ruwahan tradition of the Palembang Malay community, there is a social learning process, because this tradition is a learning process that is carried out from generation to generation. In the Ruwahan tradition, social interaction takes place in the form of cooperation, where the Palembang Malay people work together from the preparation stage until the Ruwahan tradition is completed. A Ruwahan tradition is a form of prosocial behavior, where the host invites neighbors and relatives to give charity without expecting anything in return.
Fenomena Childfree di Era Modern: Studi Fenomenologis Generasi Gen Z serta Pandangan Islam terhadap Childfree di Indonesia Jenuri, Jenuri; Islamy, Mohammad Rindu Fajar; Komariah, Kokom Siti; Suwarma, Dina Mayadiana; Nur Fitria, Adila Hafidzani
Sosial Budaya Vol 19, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i2.16602

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi fenomena Childfree ditengah-tengah masyarakat modern serta bagaimana pandangan Islam dalam menyikapi fenomena tersebut. Istilah Childfree dalam landskap para ilmuwan menunjukkan terhadap suatu gejala masyarakat yang melakukan pernikahan namun cenderung memilih untuk tidak memiliki anak. Di Indonesia sendiri, walaupun tingkat kelahiran anak cukup tinggi, namun dengan adanya tantangan arus globalisasi, perlemahan ekonomi, aspek psikologis, serta kultur budaya dari luar menjadi sebab-sebab adanya pola pikir dalam sebuah komunitas tertentu untuk hidup dalam sebuah rumah tangga namun tanpa anak. Penelitian ini menintikberatkan kepada elaborasi dinamika serta motif-motif para pelaku Childfree dalam mengambil keputusan tersebut. Studi Riset ini menggunakan pendekatan Mix Method dengan mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pertisipan. Jumlah responden mencapai 121 partisipan, dimana 67,7% berasal dari pria, dan 32,3% Wanita. Mayoritas partisipan sebesar 89,5% berusia dari rentang 18-25 tahun. Analisis penelitian menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan pendapat terkait fenomena childfree ini, sebagian besar responden (58,7%) mengatakan tidak setuju terhadap trend childfree dengan salah satu alasannya, yaitu anak merupakan anugerah dari Tuhan dan memberi dampak positif bagi kehidupan. Perspektif seseorang dalam menanggapi fenomena childfree bermacam-macam, dapat terjadi karena latar belakang yang berbeda-beda dan budaya yang sudah melekat.
Siasat Kebudayaan: “Sainak” dalam Relasi Manusia-Alam di Sarereiket Kepulauan Mentawai Irwandi, Ade; Delfi, Maskota
Sosial Budaya Vol 19, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i2.19349

Abstract

Hubungan antara orang Mentawai dan hewan sudah berlangsung sejak lama. Salah satuya hewan babi. Babi bukan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan makanan, tetapi berkaitan dengan kebutuhan sosial budaya orang Mentawai. Melalui hubungan itu, tercipta suatu siasat yang dijalankan oleh orang Mentawai di Sarerreiket untuk mempertahankan kehidupan mereka. Sehingga babi menjadi penting dalam siklus budaya itu. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi terfokus dengan memusatkan perhatian pada ruang lingkup basis budaya orang Sarereiket di Siberut Selatan, Mentawai. Pengumpulan data melalui teknik wawancara mendalam, observasi serta menganalisisnya secara emik dan etik. Hasilnya menunjukkan bahwa babi memang merupakan hewan paling penting dan menjadi wadah dalam setiap upacara adat yang dilakukan oleh orang Sarereiket. Upacara adat yang dilakukan berupa ritus leingkaran kehidupan (punen), ritus penyeimbang (puliaijat) dan ritus biasa (lia) yang tujuannya menciptakan keseimbangan dan mengembalikan keseimbangan jika terganggu akibat ulah manusia. relasi manusia (orang Mentawai) dengan alam harus dilakukan melalui ritual adat tersebut, dengan memakai perantara babi sebagai hewan yang memiliki kedudukan tinggi bagi roh Penguasa. Semua hubungan manusia dan alam melalui ritual tersebut, diatur berdasarkan kepercayaan Arat Sabulungan.