cover
Contact Name
Surjono
Contact Email
surjono@ub.ac.id
Phone
+62817381534
Journal Mail Official
tatakota@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Perencanaan WIlayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono No. 167 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Tata Kota dan Daerah
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2338168X     EISSN : 26865742     DOI : 10.21776/ub.takoda
Jurnal Tata Kota dan Daerah (TAKODA) is an Indonesian journal, peer-reviewed publication of original research and review article covering new concepts, theories, methods, and techniques related to urban and regional planning. The journal will cover, but is not limited to, the following topics: Urban planning and design Environment and settlement Regional planning and development Rural studies Disaster management Transportation planning
Articles 206 Documents
Pelestarian Kawasan Bentteng Keraton Buton Azizu, Novesty Noor; Antariksa, Antariksa; Wardhani, Dian Kusuma
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kawasan bersejarah, mengidentifikasi dan menganalisis penyebab perubahan kawasan bersejarah dan menentukan arahan pelestarian kawasan. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder), metode evaluatif(analisis faktor) dan metode analisis development. Hasil yang diperoleh, yaitu penggunaan lahan di kawasan saat ini menjadi lebih beragam namun tetap didominasi oleh permukiman dan ruang terbuka. Area sirkulasi yang terkait dengan aktivitas sosial dan budaya masyarakat masih tetap dipertahankan hingga kini. Kondisi bangunan bersejarah sebagian besar telah mengalami perubahan fisik. Faktor penyebab perubahan kawasan,yaitu pembangunan bangunan baru yang tidak selaras, kurang tegasnya pelaksanaan hukum dan peraturan tentang pelestarian, kurangnya peran aktif masyarakat, perubahan bangunan bersejarah, faktor sosial, faktor politik dan ekonomi. Faktor penyebab perubahan fisik bangunan bersejarah di kawasan, yaitu perubahan kepemilikan, kegiatan wisata, kurangnya kesadaran masyarakat, perubahan selera pemilik, kurangnya komitmen pemerintah, material bangunan dan faktor ekonomi. Berdasarkan hasil penilaian makna kultural bangunan diperoleh 6 bangunan bersejarah potensial tinggi, 61 bangunan potensial sedang dan 5 bangunan potensial rendah.Kata kunci: Kawasan bersejarah, Penyebab perubahan, Ppelestarian
Kajian Kinerja Pelayanan Operasional Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Hartini, Citra Vidya; Wicaksono2, Achmad; Anwar, M. Ruslin
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recently, the importance of ports, which was merely emphazied as storage, has shifted to as a connector to different transportation modes. Thus, it is essential for ports to adapt with a cheap, efficient, and effective transportation system. Efficiency and Effectiveness relate closely with port performance. The study location, the port of Tanjung Perak in Surabaya, is one significant support for the East Java Province’s economy. The aims of the study were to investigate its operational service level, to estimate its operational service level in the future, and to build better comprehension on the determining factors that lead to its operational service level. In this research, the performance evaluation will be measured based upon the General Directorate of Sea Transportation Decree No UM.002/38/18/DJPL-11 about Performance Standard of Port Operational Service (SKPOP). The methods used were correlation regression and IPA (Importance – Performance Analysis). Results showed that the port’s 2013 overall operational service performance has met SKPOP 2011 standards. The port’s waiting time performance was estimated to be over 2 hours in 2016, and raising to over 4.5 hours in 2020. Meanwhile, approach time performance in 2016 was predicted to be more than 7 hours. Moreover, the port’s berth occupancy ratio performance in 2016 was predicted to be above 80 %, shed occupancy ratio performance in 2016 is predicted to have above 70%. Finally, the study found that the determinig factors to Tanjung Perak Port’s operationa service level performance were the number and condition of tug and pilot boats, the availability and number of warehouse/storage yard, loading and unloading facilities, and the condition for road infrastructure. Keywords: IPA, port performance, Tanjung Perak Port, regression.
Potensi Kerjasama Regional Usaha Mikro Kecil Menengah (Umkm) Berbasis Komoditas Pertanian Di Kabupaten Simalungun Pranata Silalahi, Puji Abraham; Surjono, Surjono; Wijayanti, Wawargita Permata
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MSMEs takes an important role to develop local potential and provides jobs so that the poverty can be reduced. But nowdays, regional development policy doesn’t show the importance of MSMEs to increace economy in small and medium scale. Regional development policy in Simalungun Regency takes a program to empower community through the agroindustry. That policy needs to support with the sustainability of the commodities availability. So that MSMEs can be grow up. Simalungun Regency has local potential with the number of MSMEs and agriculture commodities that can be expanded. This study aims to determine the commodities that has potential to do regional cooperation pattern in each sub-district in Simalungun Regency. This study using some method, location quotient (LQ) analysis was used to identify the commodities base, and LISA analysis was used to determine the comodities and the sub-district location that have potential to do a regional cooperation. The result of this study shows that the agricultural commodities that have potential to do a regional cooperation pattern are corn, soy, peanut, cassava, jackfruit, fish, carrot, coffee, cacao, and sugar palm.Keywords: MSMEs, agricultural-commodities, poverty, LISA.
Preferensi Wisatawan Terhadap Tempat Wisata Kampung Adat Bena dan Wogo dengan Penggunaan Law of Comparative Judgement Uge, Maria Yasintha
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan lokasi wisata sebagai daerah tujuan wisata sangat dipengaruhi oleh preferensi wisatawan. Preferensi wisatawan merupakan gambaran-gambaran dari nilai-nilai terbaik yang dipertimbangkan wisatawan dalam menentukan sebuah pilihan berwisata. Preferensi wisatawan dianggap sebagai pandangan ideal atas keberadaan wisata dilihat dari prespektif dan tuntutan wisatawan. Studi ini bertujuan untuk melakukan perbandingan dua tempat wisata budaya kampung adat dari sisi preferensi wisatawan dengan menggunakan analisa the law of comparative judgement. Responden terdiri dari wisatawan domestik termasuk wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara. Berdasarkan hasil komparasi dari berbagai teori, maka faktor-faktor yang menjadi hipotesa untuk diteliti dalam studi ini adalah gambaran perjalanan wisata (jarak objek wisata, lama tinggal, biaya, resiko, dan tingkat kepercayaan terhadap biro perjalanan); keunggulan daerah tujuan wisata (jenis atraksi, kualitas layanan, lingkungan fisik, dan sikap masyarakat lokal); akomodasi wisata (keberadaan fasilitas wisata, jumlah, dan kisaran harga); serta aksesibilitas (jarak objek wisata, kondisi jalan, jenis angkutan, frekuensi, dan tarif angkutan). Terdapat tiga tahapan analisa dalam studi ini yaitu: pertama, deskriptif kualitatif; kedua, analisa the law of comparative judgement; dan ketiga, analisa lokasi wisata budaya kampung adat yang paling disukai berdasarkan preferensi wisatawan dengan menggunakan metode pembobotan.Hasil analisa menyimpulkan bahwa: metode the law of comparative judgement dapat digunakan dalam studi yang bersifat perbandingan, dengan responden utamanya yaitu wisatawan; karakter yang berbeda antara wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara menyebabkan adanya perbedaan pada penilaian kepentingan relatif preferensi setiap wisatawan; berdasarkan preferensi wisatawan, wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara lebih memilih Kampung Adat Bena sebagai lokasi wisata budaya kampung adat yang lebih disukai; serta terdapat dua faktor pembeda yang membedakan Kampung Adat Bena dan Kampung Adat Wogo, dimana terdiri dari daya tarik wisata (tourist heritage) yaitu ornamen rumah adat (Sa’o) dan kebudayaan tradisional (bahasa, mata pencaharian dan kerajinan tradisional), serta akomodasi wisata.Kata kunci : Preferensi Wisatawan, Wisata Budaya, Kampung Adat
Pengaruh Keberadaan Kampung Inggris Terhadap Guna Lahan dan Sosial ekonomi Masyarakat di Desa Tulung Rejo dan Desa Pelem, Kabupaten Kediri Hidayat, Ar Rohman Taufik; Surjono, Surjono; Kurniawan, Eddi Basuki
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap aktivitas guna lahan dapat mempengaruhi kondisi fisik dan non fisik daerah disekitarnya. Perubahan fisik yang terjadi adalah perubahan terhadap guna lahan disekitarnya. Sedangkan perubahan non fisik terletak pada sosial ekonomi masyarakat yang mendiami guna lahan tersebut. Penelitian ini berusaha untukmengetahui besar perubahan yang ditimbulkan dari guna lahan yaitu “Kampung Inggris” yang ada di Desa Tulung Rejo dan Desa Pelem, Kabupaten Kediri. Metode yang digunakan adalah menggunakan cara pengambilan sampel berjumlah 145. Populasinya adalah masyarakat yang berada di wilayah “Kampung Inggris” berjumlah 2015 KK. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif terhadap hasil rekap kuesioner dan evaluatif dengan melakukan uji Wicoxon dan Pearson Moment Product. Hasilnya adalah lembaga kursus di “Kampung Inggris” mempengaruhi guna lahan dan sosial ekonomi masyarakat di “Kampung Inggris”. Besarnya pengaruh yaitu lahan terbangun meningkat 5,4% per tahun setiap tahunnya, 4,8% fungsi lahan yang ada mengalami perubahan fungsi setiap tahunnya, kegiatan organisasi masyarakat menurun, partisipasi masyarakat menurun, 9,3% dari jumlah penduduk mengalami perubahan mata pencaharian terkait keberadaan lembaga kursus tersebut, dan meningkatnya pendapatan penduduk sebesar Rp. 120.587 setiap tahun dengan mengikutsertakan faktor inflasi.Kata kunci: KampungInggris, Pengaruh, Gunalahan, Sosialekonomi, Masyarakat
Konsep Penanganan Rawan Pangan Desa Ngadireso Kecamatan Poncokusumo Hakim, Lukman; Adrianto, Dimas Wisnu; Dinanti, Dian
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The village Ngadireso has 597 poor families households (61.5%) and has potential as rural food insecurity. Indicators of food insecurity include poverty as well as several other factors. The results of multiple regression analysis stated that food insecurity Village Ngadireso influenced by food patterns expectations (partial sig 12:00), the second factor is poverty (partial sig 0.004), the third factor is the vehicle asset (partial sig 0.542), the fourth factor is livestock assets (sig partial 0605), the fifth factor is land assets (partial sig 0.773), and the sixth factors is  production (partial sig 0.81). The most influencing factor is the food patterns  expectations and poverty. Based on those  factors, the concept in Food Insecurity in Rural Ngadireso are :  sustainable yard with planting eminent commodities and the provision of training and assistance in the sub-systems of farming Kata Kunci: food insecurity, poor village, regression analysis
Pengaruh Hambatan Samping Terhadap Kinerja Jalan, Biaya Operasional Kendaraan Dan Biaya Kemacetan Jalan Gatot Subroto Kota Malang Permana, Satria; Wicaksono, Achmad; Djakfar, Ludfi
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hambatan samping dapat menyebabkan penurunan kecepatan lalu lintas, yang selanjutnya menimbulkan terjadinya kemacetan lalu lintas. Penurunan kecepatan kendaraan akibat kemacetan berdampak pada peningkatan waktu dari waktu tempuh yang seharusnya. Ketika terjadi kemacetan pada suatu lajur, maka terjadi kerugian waktu tempuh yang dialami oleh para pengendara. Meningkatnya BOK (biaya operasional kendaraan) perkotaan akan berakibat pada peningkatan biaya kemacetan yang berkaitan dengan nilai kegiatan masyarakat perkotaan. Metode penelitian yang dilakukan adalah analisis kinerja jalan, biaya operasional kendaraan dan biaya kemacetan. Untuk mengetahui pengaruh antar variabel, digunakan analisis regresi linear bergenda. Dari hasil analisis yang dilakukan diketahui bahwa nilai VCR dipengaruhi oleh kendaraan keluar, kendaraan masuk dan kendaraan lambat dengan model regresi Y = 0,244 + 0,003 X1 - 0,001 X2 + 0,001 X6. BOK dipengaruhi oleh pejalan kaki, dengan model regresi Y = 33,242 + 2,209 X4. Biaya kemacetan dipengaruhi oleh kendaraan keluar, kendaraan masuk dan parkir, dengan model regresi Y = 20,718 + 0,430 X1 + 0,300 X2 + 0,124 X3. Arahan pengembangan pada wilayah penelitian yaitu penertiban kendaraan parkir pada badan jalan, penertiban parkir dan PKL pada pedestrian way, perbaikan marka, penyediaan rambu, penerapan sanksi yang tegas serta penyediaan petugas untuk menertibkan lalu lintas.Kata Kunci : Hambatan Samping, Kinerja Jalan, BOK, Biaya Kemacetan
PERWUJUDAN INTERAKSI SOSIAL DALAM POLA PERMUKIMAN DI KAMPUNG PANGGUNG KOTA MALANG Safirah, Sarah; Rukmi, Wara Indira; Maulidi, Chairul
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.takoda.2019.011.01.3

Abstract

Perkembangan permukiman tradisional yang berada pada tengah Kota Malang kondisinya semakin tersudut dan terdesak dikarenakan oleh perkembangan kota. Permukiman tradisional sendiri sebenarnya merupakan aset kawasan kota yang dapat memberikan ciri kota, tatanan lingkungan binaan, ciri aktifitas sosial budaya masyarakatnya, yang merupakan manifestasi nilai sosial budaya masyarakat. Hal tersebut menyebabkan perubahan interaksi sosial dalam pembentukan pola permukimannya(Rapoport,1969). Permasalahan yang terjadi pada kampung dan interaksi sisalamnya menunjukkan perlu adanya kajian lebih lanjut. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya penelitian untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola permukiman serta perwujudan interaksi sosial dalam pola permukiman kampung yang terdapat pada Kampung Panggung Kota Malang. Metode yang dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana karakteristik pola permukiman dan mengidentifikasi interaksi sosial yang terdapat didalamnya menggunakan teknik metode analisis deskriptif berupa analisis sinkronik/diakronik, analisis behaviour, serta analisis family tree. Hasil identifikasi karakteristik menunjukkan bahwa interaksi sosial dapat terbentuk berdasarkan hubungan kekerabatan tanpa dibatasi oleh pola permukiman, selain itu pola permukiman sendri juga dapat membentuk interaks sosial. Selain itu interaksi sosial yang ditemukan dapat dipengaruhi oleh perubahan fungsi bangunan yang dapat berupa perubahan secara positif maupun konflik
Kajian Kesiapan Maumere Menjadi Kota Otonom Ga’i, Ardiyanto Maksimilianus; Hidayat, Wahyu; Santoso, Endratno Budi
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beragam alasan yang disampaikan terkait pelaksanaan kebijakan pemekaran suatu daerah. Dimulai dari alasan pemerataan ekonomi, kondisi geografis yang terlalu luas, perbedaan basis identitas, dan kegagalan pengelolaan konflik komunal Pada dasarnya kebijakan pemekaran daerah bertujuan untuk merangsang pertumbuhan di semua aspek pembangunan daerah, dan mencegah disparitas daerah inti dan pinggiran. Dalam perkembangannya, semakin terlihat bahwa sebagian besar alasan pemekaran daerah bertujuan politis untuk beberapa partai politik dan elite lokal dengan mengedepankan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik. Akhirnya banyak daerah pemekaran yang menjadi miskin dan membebani pemerintah pusat sehingga tujuan pemekaran agar suatu daerah menjadi daerah otonom tidak tercapai. Adanya kemauan politik dari pemerintah daerah Kabupaten Sikka khususnya calon Kota Maumere, serta keinginan masyarakat, dengan menilik berbagai pertimbangan sesuai dengan uraian kami di tentang otonomi daerah di atas, yang mendasari dan melatarbelakangi dilakukan sebuah kajian akademis. Dengan analisis evaluatif dangan pendekatan kuantitatif, dengan analisis kependudukan, analisis kemampuan ekonomi dan keuangan, serta indeks pelayanan publik, yang membandingkan faktor dan indikator yang sama antara calon daerah otonom dengan daerah induknya, atau daerah-daerah lain dalam satu provinsi atau dengan daerah-daerah otonom lainnya di wilayah Indonesia maka dilakukan pembobotan. Untuk pembobotan masing-masing variabel digunakan metode Analytical Hierarchy Proccess (AHP) di mana akan diminta pendapat para ahli yang berkompeten di bidang pengembangan wilayah dan pemekaran terkait urutan bobot masing-masing variabel. Setelah dilakukan pembobotan dan scoring terhadap nilai setiap indikator, maka diketahui tingkat kesiapan calon Kota Maumere untuk menjadi kota otonom, dengan hasil “Kurang mampu” untuk menjadi kota otonom.Kata kunci: Pemekaran wilayah, Kota otonom, Kesiapan
Potensi Lokasi Base Transceiver Station (BTS) Berdasarkan Pemerintah Dan Mayarakat di Kota Mataram Yunidiya, Dini Rizka; Sutikno, Fauzul Rizal; Dinanti, Dian
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Base Transceiver Station (BTS) is one of telecommunication facilities which had built for supporting communication technology development. However, the placement of Base Transceiver Station (BTS) often located at inappropriate location so it needs more specific regulation for placement BTS. Mataram city is one of the cities that doesn’t have local regulations regarding the placement of BTS which caused some BTS located at inappropriate place. Based on those conditions, it needs to match the perception from both the government and the society for determining the appropriate location for BTS in Mataram city. The method used in this study is the Analytic Hierarchy Process (HAP) which used government and society representatives as informants. This study uses 14 variables determining the location of BTS that are Land Use Variables (Green Open Space, The Road Network, Commerce and Service, Education, Worship, Health, and Office), Topology (Land Slope), The Population (Population Density), Environmental Aesthetics (Joint Tower and The location of BTS Eksisiting), Safety (The Height of The Tower, The Safety of Flight Operations and cultural heritage, and Density of Buildings). The result of AHP method is priority variables from both of government and society perceptions that would be represent in spatial using overlay method (GIS approach). Then, the result of overlay method which combined perceptions of government and society informants was potential locations for placement of BTS in Mataram city.Keywords: Base Transceiver Station (BTS), Government, Society, Location.

Page 10 of 21 | Total Record : 206