cover
Contact Name
Nia Kurniasih
Contact Email
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sosioteknologi, Labtek VII, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sosioteknologi
ISSN : 18583474     EISSN : 2443258X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Sosioteknologi is a journal that focuses on articles that discuss results of an intersection of research fields of science, technology, arts, and humanities as well as the implications of science, technology, and arts on society. It is published three times a year in April, August, and December. Jurnal Sosioteknologi is a collection of articles that discuss research results, conceptual ideas, studies, application of theories, and book reviews. Jurnal Sosioteknologi has been indexed by Google Scholar and Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474 Jurnal Sosioteknologi adalah jurnal yang memfokuskan pada tulisan berupa penelitian interseksi bidang ilmu sains, teknologi, seni, dan ilmu kemanusiaan serta implikasi sains teknologi dan seni terhadap kehidupan masyarakat. Terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. Jurnal Sosioteknologi berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Jurnal Sosioteknologi telah terindeks oleh Google Scholar, Citerseerx, dan Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474
Arjuna Subject : -
Articles 608 Documents
Strategi Pengembangan Usahatani Kopi Arabika (Kasus pada Petani Kopi Di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat) Akhmad Zakaria; Pingkan Aditiawati; Mia Rosmiati
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.3.7

Abstract

Coffee is an important export commodity for Indonesia, which is able to contribute a sizeable foreign exchange. West Bandung Regency is a regency in West Java province which have significant potential for the development of Arabica coffee commodity. Suntenjaya village, Lembang district is one of the Arabica coffee-producing areas in West Bandung regency. However, there are some obstacles in the development of arabica coffee farming including land resources utilization, harvest and post-harvest, quality and institutional aspects. Therefore, it is necessary to formulate business development strategies that can be applied arabica coffee farmers. Data and information needed were primary data and secondary data. Data were analyzed using SWOT analysis and QSPM. The study concluded that in order to help farmers in developing a business, there are several strategies a priority that can be conducted, that is  develop the processing of product, improve technical skills of farming to increase product quality, empowerment of farmer to further improve the business, increasing access to capital, optimize of farming business land, optimizing production capacity and maintain marketing network. Keywords: arabica coffee, SWOT analysis, coffee farming, the development strategy
MEMANGGUNGKAN PRAMOEDYA: KEKUATAN NASKAH, AKTING, DAN TEKNOLOGI DALAM PEMENTASAN “BUNGA PENUTUP ABAD" Lina Meilinawati Rahayu; Aquarini Priyatna
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 1 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.1.2

Abstract

Dengan menggunakan pemikiran Elam, paper ini menunjukkan bahwa komunikasi teatrikal, yakni bagaimana panggung ditata, berkontribusi terhadap keberhasilan suatu pementasan. Dalam menganalisi teater, Elam menekankan eksistensi komunikasi dalam setiap pertunjukkan melalui perubahan panggung yang semula merupakan ruang yang kosong menjadi ruang yang diisi oleh “sesuatu yang tampak” dan “yang terdengar”. Bunga Penutup Abad adalah transformasi gabungan dua dari empat karya tetralogy Pramoedya Ananta Toer, yakni: Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ditampilkan di dua kota, Jakarta (Agustus 2016) dan di Bandung (Maret 2017), pementasan ini mengundang minat banyak penonton. Dengan menggunakan pendekatan yang diajukan Elam mengenail semiotika teater dan drama, kami berpendapat bahwa apa yang tampak dan terdengar adalah apa yang “dibuat menjadi tampak dan terdengar”, yakni melalui naskah, akting dan teknologi yang mentransformasi ruang kosong menjadi ruang yang bermakna. Komunikasi teatrikal ini memungkinkan penonton untuk terlibat dalam pementasan. Dalam konteks Bunga Penutup Abad, ketiga faktor menjadi penentu keberhasilan pementasan. Lebih jauh lagi, keseluruhan proses dapat dianggap sebagai bentuk teknology yang mentransformasi naskah menjadi pementasan.
EFISIENSI USAHA DAN NILAI TAMBAH PENGOLAHAN UBI KAYU MENJADI MODIFIED CASSAVA FLOUR (MOCAF) PADA KELOMPOK WANITA TANI MEDAL ASRI, DESA SUKAWANGI KECAMATAN PAMULIHAN KABUPATEN SUMEDANG Mia Rosmiati; Rijanti Rahaju Maulani; Angga Dwiartama
Jurnal Sosioteknologi Vol. 17 No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.1.2

Abstract

Cassava is a potential commodity as a flour substitute products. Cassava can be used as flour known as mocaf (modified cassava flour). Mocaf is the product of cassava flour processed using the principle of modifying cells of cassava by fermentation. This fermentation process will produce flour which almost resembles the characteristics and qualities of wheat flour. The purpose of this study was to analyze the efficiency of business and added value analysis. The results showed that the value of business efficiency (R/C ratio) of 1,81, which means that these businesses efficiently and profitably (R/C > 1). The ratio of added value amounted to 49.0%, this means that the processing of mocaf provide added value high enough. Total profits earned by the production process (from 200 kg of cassava) were 227,500.00 IDR. Keywords: Cassava, mocaf, business efficiency, added value.
KARAKTERISTIK BENTUK DAN FUNGSI RAGAM HIAS PADA ARSITEKTUR MASJID AGUNG KOTA BANDUNG Dr. Ahmad Haldani, M.Sn.; Imam Santosa
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.3.1

Abstract

Di era sekarang isu perubahan seringkali berbenturan dengan masalah krisis identitas dan otentisitas. Identitas seseorang atau suatu artifak semakin sering juga dipertanyakan derajat keotentikkannya. Banyak masalah muncul di saat modernisasi kini telah menjadi begitu umum sehingga pilihan antara tradisional-modern, lokal-global menjadi semakin baur.   Penelitian ini akan memetakan korelasi antara perkembangan Islam di Jawa Barat khususnya Kota Bandung, dengan pergeseran bentuk dan gaya ragam hias masjidnya. Korelasi ini  penting diteliti untuk memahami gejala pergeseran bentuk dan fungsi ragam hias (teks) yang dikaitkan dengan idea dan perilaku masyarakat yang menghasilkan dan menggunakannya (konteks).. Melalui metodologi deskriptif, sinkronik, dan komparatif dengan pendekatan morfologi estetik, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Memetakan pergeseran peran, bentuk dan fungsi  ragam hias tradisional di dalam arsitektur Masjid Agung Kota Bandung di era sekarang, 2.  Menemukan peran, bentuk dan fungsi  ragam  hias yang mempengaruhi atau menggantikannya, dan 3. Faktor atau nilai yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa:Kandungan gaya ragam hias Islam arabesque bersifat mayoritas dibandingkan dengan gaya ragam hias lokal, sehingga peran, bentuk dan fungsi ragam hias lokal yang selama ini menjadi ciri kebudayaan setempat menjadi kecil/ minoritas.Di setiap gejala pengadopsian bentuk dan gaya, hampir seluruhnya mengambil cara meniru, menyalin, atau mengimitasi atau copy, karena hanya mengulang-ngulang bentuk dan gaya otentik (klasik) demi menjaga keutuhan makna-makna asosiasinya baik secara citera, identitas, maupun makna simboliknya. Sehingga ragam hias yang mempunyai bentuk, identitas dan asosiasi baru sulit ditemukan.Ideal-ideal pemikiran itu ternyata dapat tercermin selain dalam wujud perilaku juga dalam wujud bentuk dan gaya ragam hias masjidnya.
PERSEPSI VISUAL ELEMEN NILAI PERSONAL BRAND PADA MEDIA KAMPANYE RIDWAN KAMIL Robby Firmansyah; Agung Eko Budiwaspada; Agus Sachari
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.3.5

Abstract

Personal brand merupakan citra yang tertanam di pikiran publik mengenai individu tertentu. Beberapa dekade terakhir, kegiatan personal branding marak digunakan oleh kandidat kampanye politik untuk membentuk citra dirinya di pikiran publik dan diharapkan dapat meningkatkan elektabilitas pada saat pemilihan. Penelitian ini mengkaji elemen nilai personal brand yang dibentuk melalui proses persepsi visual terhadap media kampanye tahap kedua pemilihan walikota Bandung 2013, Ridwan Kamil. Elemen nilai personal brand yang diteliti berupa citra mengenai hal-hal yang menjadi landasan berpikir dan berperilaku Ridwan Kamil di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Metode kuantitatif digunakan untuk melihat kecenderungan citra nilai yang terbentuk di dalam pikiran kelompok khalayak pemilih pertama melalui elemen visual media kampanye Ridwan Kamil. Metode kualitatif dengan analisis visual semiotika sosial digunakan untuk mendeskripsikan pembentukan citra elemen visual media kampanye tahap kedua Ridwan Kamil melalui proses persepsi visual terhadap elemen visual media kampanye Ridwan Kamil. Berdasarkan hasil olah data kuesioner penelitian, citra nilai Ridwan Kamil yang memiliki skor tertinggi berupa citra cinta yang terbentuk melalui elemen visual artwork ikon hati. Citra Ridwan Kamil terbentuk melalui proses persepsi visual audience untuk memaknai elemen visual (stimuli) yang dipengaruhi oleh pengetahuan audience mengenai stimuli yang dilihat dan kemudahan audience untuk menerima informasi yang disampaikan elemen visual untuk dihubungkan dengan sosok Ridwan Kamil. Personal brand defined as a well-formed public image of particular person. In the past few decades, personal branding activity is used by politicians or electoral candidates to build their public image which is expected to be able to increase their electability. This research analyzed the visual perception of personal brand value element that was formed by visual elements in Ridwan Kamil's second phase campaign media for Bandung City Mayoral Election in 2013. Personal brand value element is an image to represent Ridwan Kamil's thought and behavior in the society. This study utilized mixed method, namely quantitative and qualitaive. The quantitative method was used to identify the voters' perception of Ridwan Kamil's image established through the visual elements disseminated during the campaign. The qualitative method of visual social semiotic analysis was used to describe the development of Ridwan Kamil's image through his campaign media visual element and visual perception process. The results of the questioner data analysis indicated that the image which gained the highest score was the image of love which was illustrated by the visual element of an artwork depicting a heart. Ridwan Kamil's image was established through audience's perceptual process in interpreting the visual element (stimulus) and associate it with Ridwan Kamil influenced by the audience knowledge upon the stimulus and the absence of difficulty to perceive the information.
PERBANDINGAN SISTEM PENGUASAAN LAUT ADAT DI DESA HARUKU MALUKU DENGAN SISTEM PENGUASAAN LAUT NASIONAL Andri Hernandi; Hendriatiningsih Sadikin; Mirolas Mirolas
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.3.4

Abstract

Indonesia adalah negara kepulauan yang terbesar di dunia dan memiliki sistem penguasaan wilayah laut nasional. Indonesia juga merupakan negara dengan keanekaragaman etnis terbanyak dan terbesar di dunia. Oleh sebab itu, identifkasi sistem penguasaan laut adat sangat penting bagi Indonesia. Identifkasi dilakukan berdasarkan tiga parameter Customary Marine Tenure System (CMTS), yaitu aspek wilayah, unit sosial pemegang hak, dan legal beserta pelaksanaannya. Hasil identifkasi ini dibanding dengan sistem penguasaan laut nasional. Hasil analisis menunjukkan CMTS berdasarkan aspek wilayah, masyarakat Haruku tidak membuat acuan yang pasti dalam penentuan titik batas; berdasarkan aspek unit sosial pemegang hak, hak pengelolaan hanya diberikan kepada masyarakat adat yang dikoordinasi oleh pemerintahan adat setempat; berdasarkan aspek legal, peraturan dalam penguasaan laut adat Haruku merupakan peraturan tertulis yang diketahui dan diterima oleh setiap anggota masyarakat di desa Haruku. Pelaksanaan aspek legal yang digunakan, sistem penguasaan laut adat di Haruku memiliki keunggulan dibanding dengan sistem penguasaan laut nasional.Indonesia is the largest archipelago nation in the world and has a system of national marine tenure territorial. Indonesia is also a country with the largest and the most diversed ethnic groups in the world. Therefore, it is necessary to identify the system of custom marine tenure of this country. Identifcation of this study was based on three parameters of Customary Marine Tenure System (CMTS), namely area aspect, rights unit social aspect, and legal aspect and its implementation. The results of the identifcation was compared with the national marine tenure system. The analysis showed that, regarding CMTS based on the aspect of territory, the Haruku community did not make a fxed reference in the determination of the boundary point while based on the social unit of rights-holders, it was found that the management rights were only granted to the indigenous peoples coordinated by the local customary government; and based on the legal aspect, the rules in the customary marine tenure of Haruku were written rules known and accepted by every member of the community in Harukuvillage. The implementation of the legal aspects used indicated that the customary marine tenure system in Haruku had advantages compared to the national marine tenure system.
PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN PEMBELAJARAN KECAKAPAN ABAD XXI Yusep Rosmansyah; Akhmad Bakhrun
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.2.1

Abstract

Pembelajaran pemrograman komputer dapat melatih anak-anak untuk berpikir kritis berorientasi pada penyelesaian masalah, kreatif dan imajinatif, komunikatif, dan kolaboratif. Kecakapan ini merupakan empat kecakapan pertama yang amat penting pada abad XXI ini (21st century skills), khususnya dalam menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Bagi anak-anak, belajar pemrograman komputer dapat menjadi media kreativitas dan inovasi untuk mengekspresikan ide-ide alamiah mereka. Penelitian ini membangun sebuah framework blended learning dengan mengkombinsasikan framework analysis-design-development-implementation-evaluation (ADDIE) dan framework Information Technology Infrastructure Library (IT-IL). Framework ini digunakan untuk membangun purwarupa sistem layanan pembelajaran pemrograman komputer yang sesuai dengan kebutuhan murid sekolah dasar, sekaligus mengelola layanan tersebut agar berkesinambungan dan berkembang terus. Pengujian dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada 20 murid sekolah dasar kelas 1 dan 2 di akhir periode percobaan pembelajaran. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa belajar pemrograman komputer dapat meningkatkan kreativitas (85%), melatih berpikir rasional (95%), melatih berpikir kritis (85%), meningkatkan komunikasi aktif (80%), meningkatkan kolaborasi (80%), dan meningkatkan keterampilan murid sekolah dasar dalam menggunakan TIK (100%).
KOMPETISI ANTARA PETUNJUK SINTAKTIS DAN SEMANTIS DALAM PEMAHAMAN BAHASA INGGRIS: STUDI EKSPERIMENTAL BERTEKNOLOGI SEMIDARING Sugeng Riyanto; Wagiati Wagiati; Elly Sutawikara
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.2.3

Abstract

Penelitian tentang pemahaman kalimat ini merupakan salah satu bidang kajian dalam psikolinguistik. Pengguna bahasa memiliki berbagai petunjuk (cue) untuk memahami kalimat, yakni urutan (nomina pertama sebagai pelaku/subjek), kebernyawaan (nomina bernyawa sebagai pelaku/subjek), dan kongruensi (nomina sebagai pelaku/subjek adalah nomina yang bersesuaian dengan verba dalam kalimat). Penelitian berancangan kuantitatif dengan peubah bebas dua kelompok pembahan, lima tipe kalimat (setiap tipe terdiri atas empat kalimat). Peubah terikatnya dalah pilihan nomina pertama atau kedua dan waktu yang digunakan untuk menentukan pilihan. Hasilnya dianalisis menggunakan statistik berkaitan dengan rerata dan simpangan baku. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pemahaman kalimat tidak bersifat semesta. Setiap kelompok penutur memiliki cara yang berbeda dalam memahami kalimat. Bobot relatif perangkat semantis (kebernyawaan) merupakan petunjuk terpenting pada kedua pembahan untuk menentukan pelaku perbuatan atau subjek kalimat, disusul urutan sebagai perangkat sintaktis, dan akhirnya kongruensi yang juga merupakan perangkat sintaktis.Kata kunci: pemahaman kalimat, pelaku/subjek, perangkat sintaktis, perangkat semantis.
KAJIAN INKULTURASI PADA INTERIOR KARYA ARSITEKTUR MILIK HENRY MACLAINE PONT TAHUN 1918-1936 DI INDONESIA Friska Amalia; Imam Santosa; Gregorius Prasetya Adhitama
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 1 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.1.5

Abstract

Bangunan arsitektur kolonial di Indonesia pada dasarnya merupakan bangunan arsitektur nasional Belanda yang mengalami adaptasi iklim tropis Indonesia. Para arsitek Belanda yang membuat karyanya di Indonesia bereksplorasi menciptakan karya dengan langgam arsitektur yang beragam pada masa kolonial. Salah satu arsitek Belanda keturunan Indonesia yang diindikasi berhasil memadukan unsur lokal terhadap karya arsitekturnya di Indonesia pada masa penjajahan pemerintah kolonial Belanda adalah Henry Maclaine Pont. Pont diindikasi melakukan pendekatan inkulturasi pada proses perancangan karya arsitekturnya. Didasari dengan ketertarikan Pont terhadap arsitektur tradisional Indonesia di Pulau Jawa serta keinginan Pont dalam mewujudkan politik etis di bidang arsitektur membuat karyanya menjadi mahakarya yang indah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karya-karya Pont yang diindikasi memakai pendekatan inkulturasi pada proses perancangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis dan studi kasus serta kajiannya berupa etnografi visual dalam studi kasus pada karya yang merepresentasikan proses inkulturasi dalam karya Pont yakni Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan Gereja Katolik Puhsarang Kediri. Selanjutnya, dilakukan juga identifikasi lebih rinci untuk mengetahui mengapa kedua mahakarya Pont disebut-sebut menggunakan pendekatan inkultrasi. Hal tersebut dilakukan untuk membuktikan asumsi bahwa karya hasil inkulturasi Henri Maclaine Pont membuat temuan baru terhadap langgam arsitektur di Indonesia pada masa kolonial. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa karya arsitektur Henry Maclaine Pont sangat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dan budaya lokal seperti yang terdapat pada penjelasan inkulturasi berupa juxtapose, superimposing, dan interlocked.  Bangunan arsitektur kolonial di Indonesia pada dasarnya merupakan bangunan arsitektur nasional Belanda yang mengalami adaptasi iklim tropis Indonesia. Para arsitek Belanda yang membuat karyanya di Indonesia bereksplorasi menciptakan karya dengan langgam arsitektur yang beragam pada masa kolonial. Salah satu arsitek Belanda keturunan Indonesia yang diindikasi berhasil memadukan unsur lokal terhadap karya arsitekturnya di Indonesia pada masa penjajahan pemerintah kolonial Belanda adalah Henry Maclaine Pont. Pont diindikasi melakukan pendekatan inkulturasi pada proses perancangan karya arsitekturnya. Didasari dengan ketertarikan Pont terhadap arsitektur tradisional Indonesia di Pulau Jawa serta keinginan Pont dalam mewujudkan politik etis di bidang arsitektur membuat karyanya menjadi mahakarya yang indah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karya-karya Pont yang diindikasi memakai pendekatan inkulturasi pada proses perancangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis dan studi kasus serta kajiannya berupa etnografi visual dalam studi kasus pada karya yang merepresentasikan proses inkulturasi dalam karya Pont yakni Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan Gereja Katolik Puhsarang Kediri. Selanjutnya, dilakukan juga identifikasi lebih rinci untuk mengetahui mengapa kedua mahakarya Pont disebut-sebut menggunakan pendekatan inkultrasi. Hal tersebut dilakukan untuk membuktikan asumsi bahwa karya hasil inkulturasi Henri Maclaine Pont membuat temuan baru terhadap langgam arsitektur di Indonesia pada masa kolonial. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa karya arsitektur Henry Maclaine Pont sangat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dan budaya lokal seperti yang terdapat pada penjelasan inkulturasi berupa juxtapose, superimposing, dan interlocked.
ISTILAH ALAT TEKNOLOGI TRADISIONAL PERTANIAN SAWAH SUNDA WULUKU ‘BAJAK’ DAN PERSEBARANNYA SECARA GEOGRAFIS Wahya Wahya; Fatimah Djajasudarma; Elvi Citraresmana
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.2.6

Abstract

Etnik Sunda sudah sejak lama mengenal bertanam padi di sawah. Bertanam padi seperti ini dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, yakni mulai mengolah lahan sampai dengan memetik padi. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pertanian sawah mengalami perkembangan, baik terkait dengan sistem irigasi maupun perlengkapan yang digunakan dan pupuk penyubur tanaman serta obat-obatan pembasmi hama. Namun demikian, sampai sekarang masih juga dimanfaatkan teknologi tradisioonal pertanian sawah oleh orang Sunda. Salah satu alat yang masih digunakan dalam mengolah lahan adalah wuluku ‘bajak’. Alat ini digunakan dengan cara ditarik oleh seekor atau dua ekor kerbau. Petugas yang melaksanakan pengolahan lahan dengan menggunakan wuluku ini memberikan instruksi-instruksi tertentu kepada kerbau. Dalam bahasa Sunda, kata wuluku memiliki variasi lain, seperti luku dan singkal. Dari hasil penelitian geografi dialek diketahui bahwa kata wuluku dan variasinya ini menyebar di berbagai daerah sejalan dengan penyebaran teknologi sawah tradisional dalam masyarakat Sunda. Artikel ini mencoba mendeskripsikan kata wuluku dan variasinya beserta penyebarannya secara geografis dalam wilayah tutur bahaa Sunda di Jawa Barat.

Filter by Year

2006 2025