cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 276 Documents
Karinding: kearifan lokal budaya Jawa Barat sebagai pengendali hama pada tanaman padi Malik Ramadhan, R. Arif; Amanda, Adinda Putri
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.44996

Abstract

The green revolution promoted synthetic pesticide use in agriculture, but this practice negatively affects the environment and health. Karinding, a traditional musical instrument from West Java, is believed to offer an eco-friendly alternative for repelling pests in rice cultivation. This study aimed to evaluate the effectiveness of karinding as a pest control method. A non-factorial randomized block design was used with four treatments: control, manual karinding, recorded karinding, and synthetic pesticide. Each treatment involved 10 rice clumps, repeated four times, with 10-m spacing to minimize bias. Parameters observed included pest attack intensity, insect diversity, soil pH, and microorganism population. Results showed no significant difference in pest attacks between weeks 4–12, except in week 7 where synthetic pesticides had the lowest intensity (13.15%). Insect diversity was moderate across treatments, highest in the control (H’=2.083) and lowest in the pesticide treatment (H’=1.595), with no dominant species (C<0.5). The synthetic pesticide reduced overall insect populations, although some species remained. Soil pH in karinding treatments ranged from 5.7–5.8, with higher microorganism populations than in the pesticide treatment. The highest number of panicles per hill was in the control (40.72), and the lowest in the pesticide treatment (22.27), while panicle length and dry grain weight were not significantly different. Although less effective than synthetic pesticides in suppressing pests, karinding helps preserve insect diversity and soil health, making it a promising environmentally friendly pest control alternative.   ABSTRAK Revolusi hijau mendorong penggunaan pestisida sintetik dalam pertanian, namun penggunaannya berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Karinding, alat musik tradisional Jawa Barat, diyakini sebagai alternatif ramah lingkungan untuk mengusir hama pada tanaman padi. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas alat musik karinding sebagai alat untuk mengendalikan hama pada padi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan rancangan acak kelompok non-faktorial dengan empat perlakuan: kontrol, karinding manual, karinding rekaman, dan pestisida sintetik. Setiap perlakuan terdiri atas 10 rumpun padi dan diulang sebanyak empat kali. Untuk mengurangi bias, jarak antar perlakuan dibuat sejauh 10 m. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan hama, keanekaragaman serangga, serta kondisi tanah (pH dan populasi mikroorganisme). Hasil penelitian menunjukkan intensitas serangan hama pada 4-12 minggu setelah tanam tidak berbeda signifikan, kecuali pada minggu ke-7, di mana pestisida sintetik memberikan intensitas serangan terendah (13,15%). Keanekaragaman serangga tergolong sedang dengan nilai terendah pada perlakuan pestisida sintetik (H’=1,595) dan tertinggi pada kontrol (H’=2,083), tanpa serangga dominan (C<0,5). Populasi serangga pada perlakuan pestisida sintetik lebih sedikit dibandingkan perlakuan lain, kecuali beberapa spesies tertentu. Karinding memperbaiki kondisi tanah dengan pH 5,7-5,8 dan populasi mikroorganisme lebih tinggi dibanding pestisida sintetik. Hasil tanaman menunjukkan jumlah malai per rumpun tertinggi pada kontrol (40,72) dan terendah pada pestisida sintetik (22,27). Panjang malai dan bobot gabah kering tidak berbeda signifikan antar perlakuan. Kesimpulannya, penggunaan karinding tidak efektif mengendalikan hama seperti pestisida sintetik, namun dapat menjaga keanekaragaman serangga dan kesehatan tanah sehingga berpotensi menjadi metode pengendalian ramah lingkungan.   Kata kunci: Hama padi; intensitas serangan; karinding; pengendalian ramah lingkungan; pertanian berkelanjutan
Respon bibit kopi liberika bermikoriza terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut Kartika, Elis; Duaja, Made Deviani; Gusniwati
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45169

Abstract

Drought stress is one of the main limiting factors affecting the growth and nutrient uptake of Liberica coffee seedlings in peat soil media. Therefore, appropriate technologies are needed to address this issue, one of which is the application of biological agents such as mycorrhiza. This study aims to evaluate the response of mycorrhiza-inoculated Liberica coffee seedlings to drought stress in peat soil media. The experiment was conducted using a factorial Split-Plot Design with two treatment factors. The first factor (Main Plot) was drought stress, consisting of five levels: 100%, 80%, 60%, 40%, and 20% of field capacity water availability. The second factor (Sub-Plot) was different mycorrhizal treatments, consisting of four levels: no mycorrhiza inoculation, Glomus sp-1a, Glomus sp-3c, and a combination of Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c. The results showed that mycorrhiza inoculation, particularly the combination of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c, significantly improved the growth and nutrient uptake of Liberica coffee seedlings in peat soil under drought stress conditions. The combination of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c provided optimal growth and nutrient uptake up to a drought stress level of 40%, while its effectiveness tended to decline at higher stress levels. These findings indicate that mycorrhizae play a crucial role in enhancing the drought tolerance of Liberica coffee seedlings in peat soil media.   ABSTRAK Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor pembatas utama dalam pertumbuhan dan penyerapan hara bibit kopi liberika pada media tanah gambut. Oleh karena itu diperlukan suatu teknologi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya melalui aplikasi agen hayati berupa mikoriza. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji respons bibit kopi liberika bermikoriza terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Petak Terbagi faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu cekaman kekeringan yang terdiri dari 5 taraf: 100%, 80%, 60%, 40% dan 20% air kapasitas lapang sebagai petak utama, dan berbagai jenis mikoriza yang terdiri dari 4 taraf perlakuan: tanpa inokulasi mikoriza, Glomus sp-1a, Glomus sp-3c, serta kombinasi Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza, khususnya kombinasi Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c, dapat meningkatkan pertumbuhan dan penyerapan hara bibit kopi Liberika pada media tanah gambut di bawah kondisi cekaman kekeringan. Kombinasi mikoriza Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c memberikan peningkatan pertumbuhan dan penyerapan hara yang optimal hingga tingkat cekaman 40%, sementara pada tingkat cekaman yang lebih tinggi efektivitas kombinasi mikoriza cenderung menurun. Temuan ini mengindikasikan bahwa mikoriza berperan dalam meningkatkan ketahanan bibit kopi Liberika terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut. Kata kunci: Adaptasi, Kolonisasi, Nutrisi, Simbiosis
Pertumbuhan dan hasil dua spesies kacang koro (Mucuna pruriens; Canavalia ensivormis) akibat pupuk NPK Trisnaningsih, Umi; Dukat, Dukat; Saleh, Ismail; Maulana, Wahyudi; Auliya, Sukma Nur; Nurraffa, Muhammad Fatiharizqi; Abdurrazaq, Difaa Ali Subhan
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45222

Abstract

Jack bean (Canavalia ensiformis L.) and velvet bean (Mucuna pruriens L.) are local legume species with significant potential as sources of plant-based protein. To date, both species have primarily been utilized as sources of animal feed, green manure, and cover crops. This study aims to evaluate the effects of NPK fertilizer on the growth and yield of the two legume species. The experiment was conducted in Nanggela Village, Mandirancan District, Kuningan Regency, from June to November 2024. The experimental design used was a Randomized complete block design with treatments combining legume species (Jack bean and velvet bean) with NPK fertilizer applied at rates of 150, 225, 300, 375, and 450 kg ha-1. The variables observed were plant height, number of leaves, stem diameter, root length, root volume, leaf area index, relative growth rate, net assimilation rate, number of pods per plot, number of seeds per pod, weight of 100 seeds, and weight of seeds per plot. The results showed that the combination of species and NPK fertilizer doses significantly affected the growth and yield of koro plants. The best results were obtained from the treatment of jack bean with a dose of NPK fertilizer of 300 kg ha-1.   ABSTRAK Kacang koro pedang (Canavalia ensiformis L.) dan koro benguk (Mucuna pruriens L.) merupakan spesies lokal yang memiliki potensi sebagai sumber protein nabati. Selama ini kedua spesies tersebut dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak, pupuk hijau, dan tanaman penutup tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua spesies koro. Percobaan dilaksanakan di Desa Nanggela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan pada bulan Juni sampai November 2024. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan kombinasi antara spesies koro (koro pedang dan koro benguk) dengan dosis pupuk NPK (150, 225, 300, 375, dan 450 kg ha-1). Semua perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, volume akar, indeks luas daun, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, jumlah polong per petak, jumlah biji per polong, bobot 100 butir biji, dan bobot biji per petak. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi spesies koro dan dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman koro. Hasil terbaik diperoleh dari perlakuan koro pedang dengan dosis pupuk NPK 300 kg ha-1. Dalam budidaya koro pedang, disarankan untuk menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 300 kg ha-1, sebagai upaya untuk menggantikan kedelai pada wilayah-wilayah di mana kedelai sulit tumbuh.   Kata kunci: Koro pedang, koro benguk, pertumbuhan, pupuk majemuk
Population of vector and tungro disease incidence at dosage of nitrogen fertilizer in rice field Gunawan, Achmad; Purwono; Lubis, Iskandar; Widiarta, I Nyoman; Suwitono, Bayu
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45232

Abstract

One of the biotic threats that can reduce rice yield is tungro disease. This disease is spread with green leafhopper (Nephotettix virescens) vector. The population density of leafhoppers is one of the factors contributing to the increased incidence of tungro. Excessive nitrogen used in crop cultivation, especially rice, has been known to impact the population dynamics of insect pests. This study aims to determine the population development of green leafhoppers at different nitrogen doses. The study was conducted at the Muara Experimental Field, Bogor. The experimental treatment used three rice varieties representing susceptible varieties, resistant to green leafhoppers and resistant to tungro virus (Ciherang, IR64 and Inpari 36 Lanrang) and four levels of fertilization doses (without additional urea, Urea 250 kg ha-1, 350 kg ha-1 and 500 kg ha-1). The experiment used Split Plot design with three replication. The insect population in the field was found at the beginning of the observation and the peak of insect population density occurred at 6 WAP observationsVariety has a significant effect on insect vector population density and plant growth and yield in the field. The population density of green leafhoppers was higher in the Ciherang and IR 64 varieties than in the Inpari 36 Lanrang variety. Fertilization doses had no significant effect on the population of green leafhopper insects in the field except in the nymph phase in fertilization without the addition of urea and had no effect on growth and yield except on the number of tillers. The combination of resistant varieties and fertilization without the addition of urea reduced the population density of green.   ABSTRAK Cekaman biotik yang dapat menurunkan hasil padi salah satunya penyakit tungro. Penyakit ini disebarkan oleh vektor wereng hijau (Nephotettix virescens). Kepadatan populasi wereng menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya keberadaan penyakit tungro. Penggunaan nitrogen yang berlebihan dalam budidaya tanaman, terutama padi, telah diketahui berdampak pada dinamika populasi serangga hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi wereng hijau pada pemberian dosis nitrogen berbeda.Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Muara, Bogor. Perlakuan percobaan mengunakan tiga varietas padi yang mewakili varietas rentan, tahan wereng hijau dan tahan virus tungro (Ciherang, IR64 dan Inpari 36 Lanrang) dan lima taraf dosis pemupukan (tanpa tambahan pupuk urea, Pupuk Urea 250 kg ha-1, 300 kg ha-1 dan 500 kg ha-1). Percobaan mengunakan rancanngan Split Plot dalam RAK dengan tiga kali ulangan. Populasi serangga di lapangan ditemukan diawal pengamatan dan puncak kepadatan populasi serangga terjadi pada pengamatan 6 MST. Varietas berpengaruh nyata terhadap kepadatan populasi serangga vektor, pertumbuhan dan hasil tanaman di lapangan. Kepadatan populasi wereng hijau lebih tinggi pada pertanaman varietas Ciherang dan IR 64 dibandingkan pada varietas Inpari 36 Lanrang. Dosis pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap populasi serangga wereng hijau di lapangan kecuali pada fase nimfa pada pemupukan tanpa penambahan urea dan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kecuali pada jumlah anakan. Kombinasi varietas tahan dan pemupukan tanpa penambahan urea mengurangi kepadatan populasi wereng hijau menyebarkan virus tungro.   Kata kunci: Populasi, pupuk nitrogen, wereng hijau
Rhizospheric Bacillus spp. as biocontrol agents against maize downy mildew and growth promoters Mugiastuti, Endang; Manan, Abdul; Soesanto, Loekas; Primayuri, Deviana; Sundari, Dini
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45887

Abstract

Downy mildew is one of the major patogen limiting maize productivity in Indonesia. Effective mitigation strategies are essential due to the significant yield losses it causes. Biological control is an environmentally viable alternative method of disease management. Bacillus spp. are biological control agent capable of producing metabolic chemicals that can inhibit plant infections, hence holding potential for downy mildew management. This study aimed to evaluate the effectiveness of Bacillus spp. from the maize rhizosphere to manage downy mildew and promote maize plant growth. The research employed a completely randomized block design, consisting of four treatments and six replications. The treatments comprised Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp. BK.R9, fungicides treatment (metalaxyl), and control group for comparison. The observed variables included spore germination, incubation period, disease incidence, disease severity, Area Under Disease Progression Curve (AUDPC), number of leaves, plant height, fresh shoot weight, and fresh root weight. The findings revealed that B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, and Bacillus spp. BK.R9 effectively inhibited downy mildew by decreasing spore germination by 80.55-100%, prolonging the incubation period, and inhibiting disease incidence by 20.37-53.70%, disease severity by 25.64-62.56%, and AUDPC by 22.21-63.37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 can enhance plant growth by augmenting root weight by 122.63% and maize plant weight by 80.26%.   ABSTRAK   Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama yang menghambat produksi jagung di Indonesia. Upaya pengelolaan penyakit bulai perlu dilakukan mengingat besarnya kehilangan yang ditimbulkan.  Pengendalian hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bacillus spp. adalah bakteri yang mampu menghasilkan senyawa metabolik, dapat mengendalikan pathogen tanaman sehingga berpotensi sebagai pengendali penyakit bulai.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Bacillus spp. asal rizosfer untuk mengendalikan penyakit bulai dan mengoptimalkan pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan meliputi Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, Bacillus subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9, serta fungisida (metalaksil) dan kontrol sebagai pembanding. Variabel yang diamati meliputi perkecambahan spora, masa inkubasi, kejadian penyakit, intensitas penyakit, AUDPC, jumlah daun, tinggi tanaman, bobot tanaman segar, dan bobot akar segar. Hasil penelitian menunjukkan B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9 mampu menekan penyakit bulai jagung, dengan menurunkan perkecambahan spora 80,55-100 %, menunda masa inkubasi, menurunkan kejadian penyakit sebesar 20,37-53,70 %, intensitas penyakit sebesar 25,64-62,56%, dan AUDPC sebesar 22,21-63,37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 dapat memacu pertumbuhan tanaman, dengan meningkatkan bobot akar sebesar 122,63 % dan bobot tanaman jagung sebesar 80,26%.   Kata kunci: Bacillus, jagung, pengendalian hayati,  Peronosclerospora maydis, ramah lingkungan
Respons tomat (Solanum lycopersicum l.) terhadap KH₂PO₄ dan giberelin pada hidroponik dutch bucket: Tomato (Solanum lycopersicum l.) hydroponics: effects of KH₂PO₄ and gibberellin Maghfirah, Intan Hadiatun; Fanata, Wahyu Indra Duwi; Sholikhah, Ummi; Saputra, Tri Wahyu
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.46593

Abstract

Tomato (Solanum lycopersicum L.) is a horticultural commodity which the quality and the yield can be enhanced through the application of the Dutch bucket hydroponic system, along with KH₂PO₄ fertilization and gibberellin hormone treatments. This study aimed to evaluate the response of tomato plants in terms of productivity and quality under these treatments. The experiment was conducted in a greenhouse using factorial randomized complete block design with three replications. The first factor was KH₂PO₄ concentration at three levels: 0 ppm, 150 ppm, and 250 ppm; the second factor was gibberellin concentration at three levels: 0 ppm, 50 ppm, and 100 ppm. Data were analyzed using ANOVA and DMRT on parameters including number of flowers, number of fruits per plant, fruit diameter, average fruit weight, total fruit weight per plant, and total soluble solids value. The results indicated that the interaction of 150 ppm KH₂PO₄ and 50 ppm gibberellin produced optimal values for fruit weight per fruit of 41.32 g, total fruit weight per plant of 398.67 g, and total soluble solids of 6.28 °Bx. Furthermore, either individual effects of KH₂PO₄ or gibberellin concentrations significantly influenced all observed variables except on fruit diameter. Combination KH2PO4 150 ppm and gibbereilin 50 ppm is recommended for enhancing tomato cultivation performance under the Dutch bucket hydroponic system.   ABSTRAK Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan komoditas hortikultura yang kualitas dan produksinya dapat ditingkatkan melalui penerapan sistem hidroponik Dutch bucket disertai penggunaan pupuk KH₂PO₄ dan hormon giberelin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons tanaman tomat khususnya pada produktivitas dan kualitas terkait perlakuan tersebut. Penelitian dilakukan di dalam greenhouse menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi KH₂PO₄ dengan tiga taraf yaitu 0 ppm, 150 ppm, dan 250 ppm, faktor kedua adalah konsentrasi giberelin dengan tiga taraf yaitu 0 ppm, 50 ppm, dan 100 ppm. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan DMRT dengan variabel pengamatan meliputi jumlah bunga, jumlah buah per tanaman, diameter buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman, dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara KH₂PO₄ 150 ppm dan giberelin 50 ppm memberikan hasil terbaik pada variabel bobot per buah sebesar 41,32 g, bobot buah per tanaman sebesar 398,67 g, dan total padatan terlarut sebesar 6,28 °Bx. Selanjutnya, pengaruh faktor tunggal konsentrasi KH₂PO₄ maupun konsentrasi giberelin memberikan pengaruh pada seluruh variabel yang diamati kecuali diameter buah. Penggunaan KH2PO4 150 ppm dan giberelin 50 ppm dapat menjadi rekomendasi terbaik untuk diaplikasikan pada budidaya tomat menggunakan sistem Dutch bucket.   Kata kunci: Dutch bucket, giberelin, hidroponik, KH2PO4, tomat  
Karakteristik fisik carbon dots dan aplikasinya dengan pemupukan untuk meningkatkan produksi dan mutu benih padi: Physical characteristics of carbon dots and its application with fertilizer to increase rice seed production and quality Fitri Viva Yuningsih, Aida; Nafisah, Nafisah; Maddu, Akhiruddin; Rahmad Suhartanto, Mohamad
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.46880

Abstract

Carbon dots (CDs) are nano-sized carbon particles proven to enhance seed germination, plant growth, and yield. This study evaluated CDs in an integrated fertilization system combining macronutrient fertilizers (NPK) and organic matter (OM). The experiment was conducted during the 2023 dry season at the Sukamandi Experimental Station of BBRMP Padi using a Split-split Plot Design. The treatments included NPK combinations (main plot; without NPK, +PK, +NP, +NK, +NPK), OM (sub-plots; manure, straw compost, without OM), and foliar-applied CDs (800 mg L⁻¹) (sub-sub-plots; +CDs, without CDs). The results showed that coffee ground-based CDs from coffee shops were water-soluble, light brown, and had an absorption peak at 300 nm. Nitrogen doping with urea increased the N content from 2,44% to 16,12%. The N and P significantly improved vegetative growth, grain yield, and seed quality, while N and K maintained chlorophyll in the reproductive stage. OM increased NPK efficiency and nutrient availability, with manure more effective than straw compost. CDs enhanced OM in increasing leaf area. The combination of NPK, OM, and CDs shows potential as an efficient and sustainable fertilization strategy to increase rice productivity and seed quality.   ABSTRAK Carbon dots (CDs) adalah partikel karbon berukuran nano yang telah terbukti mampu meningkatkan perkecambahan benih, pertumbuhan, dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi CDs dalam sistem pemupukan terintegrasi dengan pupuk hara makro (NPK) dan bahan organik. Penelitian dilaksanakan pada Musim Kemarau 2023 di lahan sawah irigasi Kebun Percobaan Sukamandi BBRMP Padi  dengan Rancangan Petak-petak Terbagi. Kombinasi pupuk NPK (petak utama; tanpa NPK, +PK, +NP, +NK, +NPK), bahan organik (anak petak; pupuk kandang, kompos jerami, tanpa BO), dan aplikasi foliar CDs (800 mg L-1) (anak-anak petak; tanpa CDs, +CDs). Hasil percobaan menunjukkan CDs berbasis ampas kopi dari limbah coffee shop memiliki sifat larut air, berwarna cokelat terang, dan puncak absorbansi pada 300 nm. Pengkayaan nitrogen dengan urea meningkatkan kandungan N dari 2,44% menjadi 16,12%. Kombinasi N dan P sangat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif, hasil gabah, dan mutu fisiologis benih. Kombinasi N dan K efektif dalam mempertahankan klorofil pada fase reproduktif. Bahan organik terbukti meningkatkan efisiensi pupuk NPK dan ketersediaan hara, dimana pupuk kandang lebih efektif dibandingkan kompos jerami. Aplikasi CDs meningkatkan efektivitas bahan organik dalam meningkatkan luas daun. Kombinasi pupuk NPK, bahan organik, dan CDs berpotensi menjadi strategi pemupukan efisien dan berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu benih padi. Kata kunci: Bahan organik, hasil, luas daun, pupuk NPK, sinergi pupuk
Smart-dose microboost: micronutrient in order to enhance chili growth and yield in tropical farming systems: Smart-dose microboost: mikronutrien untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai pada sistem pertanian tropis Mulyani, Oviyanti; Sudirja, Rija; Susanto, Agus; sutari, Wawan
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.48701

Abstract

Despite the fact that micronutrients are crucial for the growth, metabolism, and crop yield of plants, they are required in relatively small proportions. The recent advancements in agriculture have resulted in the development of biostimulant products that are abundant in micronutrients which is advantageous. The objective of this investigation was to evaluate the potential of micronutrient-enriched biostimulants (MB) to enhance the quality characteristics of chili fruits. This study was conducted at Jatinangor, West Java. The experimental plots were laid out in a Randomized Block Design (RBD) with seven treatments and repeated four times, so the total number of treatments was 28 units. The treatments consist of farmer practice and doses of 0.75; 1.0; 1.5; 2.0; 2.5 and 3.0 L ha-1 MB. The results of this experiment indicated that the treatments with doses of 2.0–3.0 L ha-1 were consistently preferable in terms of fruit quality, yield, and growth. Plants that were more productive, capable of grading fruit, and had a slightly extended shelf life after harvest were the final result of the biostimulant product, which contained micronutrients. The farmer's practice consistently failed to meet the standards of all the treated sites. The combination of biostimulants and micronutrients significantly enhanced the physiological and reproductive functions of chilies. ABSTRAK Mikronutrien, meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil daripada makronutrien, penting untuk perkembangan tanaman, fungsi metabolisme, dan produktivitas tanaman. Perkembangan terkini dalam bidang pertanian telah menghasilkan produk biostimulan yang kaya akan mikronutrien yang sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai potensi biostimulan yang diperkaya mikronutrien (MB) dalam meningkatkan kualitas buah cabai. Panelitian ini dilakukan di Jatinangor Sumedang, Jawa Barat. Plot percobaan disusun dalam Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan dan diulang empat kali, sehingga total perlakuan adalah 28 unit. Perlakuan tersebut terdiri dari metode konvensional; dosis biostimulan yang diperkaya mikronutrien (0,75; 1,0; 1.5; 2,0; 2,5 and 3,0 L ha-1 MB). Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan dosis 2,0–3,0 L ha-1 adalah yang paling konsisten unggul di seluruh parameter pertumbuhan, hasil dan kualitas buah. Produk biostimulan dengan tambahan mikronutrien membuat tanaman lebih kuat, lebih produktif, lebih baik dalam kualitas buah, dan memperpanjang masa simpan setelah panen. Dibandingkan dengan semua yang diberi perlakuan pupuk mikronutrien dan biostimulan, perlakuan konvensional memberikan respon yang paling kecil. Secara umum, penambahan mikronutrien dan biostimulan secara bersamaan dapat memberikan dampak besar pada peningkatan fungsi fisiologis dan reproduksi tanaman cabai.   Kata kunci: Biostimulan, Cabai, Keberlanjutan, Produktivitas
Seleksi jagung hibrida UNPAD berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari pada sistem tanam tumpang sari jagung-ubi jalar Supriatna, Jajang; Syihab, Fakhri Nasharul; Sativa, Novriza; Yuwariah, Yuyun; Ruswandi, Dedi
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14955

Abstract

Tumpangsari merupakan pemanfaatan lahan dengan cara menanam dua jenis tanaman atau lebih. Hal yang perlu diperhatikan dalam sistem tanaman tumpangsari adalah penentuan jenis serta kultivar tanaman yang digunakan. Sebagian besar kultivar jagung yang beredar di masyarakat dikembangkan untuk pertanaman tunggal sehingga diperlukan kegiatan seleksi untuk mendapatkan kultivar jagung yang sesuai untuk sistem tanam tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi 22 jagung hibrida berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari. Penelitian dilaksanakan di Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Garut, Jawa Barat dengan.ketinggian 1346 meter diatas permukaan laut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktor Tunggal dengan dua metode yaitu metode eksperimental dan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 20 hibrida terseleksi berdasarkan karakter diameter tongkol, 18 hibrida berdasarkan karakter panjang tongkol, 19 hibrida berdasarkan karakter jumlah baris biji per tongkol, dan 13 hibrida berdasarkan karakter jumlah biji per tongkol. Berdasarkan parameter tumpangsari terseleksi 3 hibrida dengan kritera menguntungkan dalam kondisi sistem tanam tumpangsari dengan ubi jalar berdasarkan Land Equivalent Ratio (LER), 13 hibrida menunjukkan lebih kompetitif dibandingkan dengan ubi jalar berdasarkan Competitive Ratio (CR), dan semua hibrida mengalami kehilangan hasil berdasarkan Actual Yield Loss (AYL). Hibrida DR7 x DR8, DR 14 X DR 18 dan MDR 3.1.4 X MDR 18.5.1 merupakan hibrida terseleksi berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari.ABSTRACTIntercropping is cultivating two or more types of plants at the same field. Selecting type and cultivar of the plants need to be considered in the intercropping system. Commonly, the available corn cultivars in the market are developed for single cropping. Therefore plant selection is necessary to obtain corn cultivars suitable for intercropping systems. The research was conducted in Desa Margamulya, Cikajang District, Garut, West Java at 1346 meters above sea level. This study used a randomized block design (RBD) design with two methods; the experimental method and the quantitative descriptive method. The results showed 20 hybrids were selected on the character of cob diameter, 18 combinations surface of the cob length, 19 hybrids on the number of cob seed rows, 13 hybrids on the number of cob kernels. According to the parameters of intercropping combinations, 3 hybrids were selected with superior characters in intercropping condition with sweet potatoes based on Land Equivalent Ratio (LER), 13 hybrids showed the more competitive characters compared to sweet potatoes based on Competitive Ratio (CR) and all hybrids showed yield loss based on Actual Yield Loss (AYL). Hybrids DR7 x DR8, DR 14 X DR 18 and MDR 3.1.4 X MDR 18.5.1 are selected hybrids based on yield components and intercropping parameters.
Uji keberhasilan persilangan, heterosis dan penampilan F1 padi lokal Pare Bau x Impari 4 Parari, Trisday; Riadi, Muh; Sjahril, Rinaldi; Limbongan, Limbongan; Putra, Yosua
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14987

Abstract

Padi lokal memiliki keunggulan pada rasa dan aroma, namun memiliki produksi yang rendah dan umur panen yang lama sehingga kurang unggul. Upaya untuk memperbaiki genetik padi lokal adalah melalui persilangan buatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tingkat keberhasilan persilangan, heterosis, karakter kualitatif dan kuantitatif F1, dan kekerabatan F1 dengan tetuanya. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tallunglipu, Kabupaten Toraja Utara dari Januari 2019 hingga Juli 2020. Metode persilangan yang digunakan yaitu single cross dan resiprocal cross menggunakan padi lokal aromatik Pare Bau dengan Inpari 4 sehingga diperoleh dua kombinasi persilangan. Hasil penelitian menunjukkan persentase keberhasilan persilangan single cross sebesar 14,4% dan persilangan resiprok sebesar 25,5%. Karakter hasil F1 persilangan resiprok, jumlah gabah bernas per malai (164,2 gabah) dan bobot gabah bernas per rumpun (96,4 g), lebih tinggi dibandingkan F1 single cross. Karakter keharuman pada waktu berbunga terbaik dihasilkan oleh tanaman F1 single cross B1 senilai 92,2% dan B2 senilai 95%. Nilai heterosis dan heterobeltiosis tertinggi adalah F1 resiprok pada semua karakter yang diamati. Generasi F1 hasil single cross (B1 dan B2) memiliki kekerabatan dekat dengan Pare Bau, sedangkan generasi F1 hasil persilangan resiprok (RB1, RB2, RB3, RB4, dan RB5) membentuk kelompok genetik tersendiri tetapi memiliki kekerabatan dekat dengan Inpari 4. ABSTRACTThe rice landrace has a great taste and aroma, but has low yield and late maturity. The artificial crossing is one of ways to improve the genetics performance of the rice landrace. This study purposed to observe the success rate of crosses, heterosis, heterobeltiosis, qualitative and quantitative characters of F1, and genetic relationship of the F1with its parents. This research was conducted in Tallunglipu District, North Toraja Regency from January 2019 to July 2020. The crosses method used were single cross and reciprocal cross using local aromatic Pare Bau and Inpari 4 varieties in order to obtain two cross combinations. The results showed the success rate of the single cross was 14,4% and the reciprocal cross was 25,5%. The characteristics of the F1 reciprocal crosses, the number of fully developed grain per panicle (164,2 grain) and the weight of pithy grain per clump (96,4 g), was higher than the F1 single cross. The best level of aroma character at the time flowering was produced by F1 single cross i.e B1 92,2% and B2 95%. Resiprocal F1 had the highest value of heterosis and heterobeltiosis in all observed characters. Single cross lines (B1 and B2) were closely related to Pare Bau, while reciprocal cross lines (RB1, RB2, RB3, RB4, and RB5) formed separate genetic groups. However, reciprocal cross lines were closely related to Inpari 4.