cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Suhuf
ISSN : 25272934     EISSN : 25272934     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 235 Documents
KEPEMIMPINAN NON-MUSLIM DALAM TAFSIR AL AZHAR KARYA BUYA HAMKA Al Faruq, Imron; Suharjianto, Suharjianto
Suhuf Vol 31, No 1 (2019): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir diharapkan menjadi solusi atas problem kehidupan manusia sebagaimana al-Quran diturunkan sebagai rahmat semesta alam. Di antara plobem itu adalah tentang kepemimpinan. Di antara tokoh mufasir yang ada di Indonesia dan pernah duduk dalam pemerintahan adalah Buya Hamka, tidak hanya menafsirkan ayat, namun juga mempraktikkan dengan turun dalam pemerintahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat kepemimpinan, dan pandangan Buya Hamka terhadap pemimpin non-Muslim, serta hubungan politik Muslim dengan non-Muslim. Jenis penelitian ini merupakan penelitian literer yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai literatur kepustakaan, seperti buku-buku, majalah, dokumen, catatan, foto, naskah dan kisah-kisah sejarah, ensiklopedi, biografi, dan lain-lain, baik dari sumber data primer maupun sekunder. Sumber primer adalah kitab tafsir al-Azhar karya Buya Hamka cetakan tahun 2015 yang diterbitkan oleh Gema Insani. Sumber sekunder yang digunakan adalah hasil-hasil penelitian tentang kitab tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, atau yang berkaitan dengan kepemimpinan. Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis induktif dan deduktif. Kesimpulan dari penelitian adalah Pertama, kepemimpinan dalam al-Quran mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik secara individu maupun dalam kesatuan negara berdaulat, agama, dan keluarga yang terkandung dalam beberapa term. Kedua, larangan terhadap memilih pemimpin non-Muslim, dan pembagian pemimpin non-Muslim dalam dua kelompok yang berbeda. Ketiga, menjalin hubungan muamalah berupa politik tidak dilarang, selama tidak menyangkut soal agama (akidah dan ibadah), serta bertujuan untuk kepentingan umat manusia.
PEMBERDAYAAN EKONOMI MUSTAHIK DI LAZISMU SURAKARTA Huda, Nurul
Suhuf Vol 31, No 2 (2019): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji secara mendalam bentuk pemberdayaan terhadap mustahik yang telah dilakukan oleh Lazismu (Lembaga Amil, Zakat, Infak, Shadaqah Muhammadiyah) Surakarta, khususnya terkait pemberdayaan ekonomi mustahik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui program pemberdayaan mustahik. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui bentuk pemberdayaan ekonomi mustahik di Lazismu Surakarta. Jenis penelitian ini termasuk kategori penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data menggunakan analisis induktif konseptual. Adapun hasil penelitian antara lain: pertama, Lazismu Surakarta telah melakukan pemberdayaan mustahik melalui beberapa program: a). Pengembangan ekonomi masyarakat; b). Pengembangan pendidikan; c). Pelayanan sosial dan dakwah; d).  Aksi kemanusiaan; kedua, Program pemberdayaan ekonomi mustahik direalisasikan dalam tiga bentuk: a). Pengembangan ekonomi untuk kemandirian ummat; b).  Bina usaha ekonomi keluarga; c).  Program janda berdaya; ketiga, Lazismu Surakarta dalam memberdayakan mustahik menyalurkan  zakat, infak, Shadaqah dalam bentuk dana bergulir dengan menggunakan akad qardhul hasan.
PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN TASAWUF Ali, Mohamad
Suhuf Vol 31, No 1 (2019): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penguatan karakter anak bangsa melalui jalur pendidikan terus diupayakan pemerintah, terlebih pada masa Presiden Jokowi yang mengusung revolusi mental dalam visi Nawacita. Sejumlah paket kebijakan diluncurkan. Meski begitu, pencapaian masih jauh dari cita-cita reformasi 1998, yakni terwujudnya pemerintahan bersih dari praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Kegagalan ini disinyalir karena praktik pendidikan karakter terlalu kaku, formalistik, dan lebih dari itu, mengabaikan dimensi batin/kejiwaan dan religiusitas. Dalam rangka mengatasi kebuntuan ini, pendekatan tasawuf ditawarkan. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk (1) memahami pola kebijakan pemerintah tentang penguatan pendidikan karakter, (2) menelaah konsep-konsep kunci tasawuf yang dapat disumbangkan dalam pengembangan pendidikan karakter, dan (3) mengkonstruk atau menemukan rumusan konseptual pendidikan karakter yang berwawasan tasawuf.Dengan metode filsafat dan analisis isi, penelitian ini berhasil menemukan tiga hal berikut. Pertama, pola kebijakan pemerintah dalam penguatan pendidikan karakter memadai. Kedua, konsep-konsep kunci tasawuf, seperti dua jalan, ayunan bandul karakter manusia (fujur-taqwa), dan tahapan perkembangan karakter (nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu muthmainah) dapat memperkaya pendidikan karakter. Ketiga, secara konseptual pendidikan karakter berwawasan tasawuf adalah suatu pola pendidikan karakter yang menyadari bahwa karakter manusia bersifat dinamis, seperti ayunan bandul yang bergerak bolak-balik ujung kiri (fujur) ke ujung kanan (taqwa) dan sebaliknya, yang kemudian dilakukan usaha sadar, terukur, dan terencana dalam menumbuh-kembangkan karakter anak sedemikian rupa, sehingga berhasil mendaki dari tahap karakter amarah ke lawwamah dan memuncak menuju karakter muthmainnah. 
ETIKA DALAM DISKURSUS PEMIKIRAN ISLAM Dari Wacana Menuju Islamologi Terapan Mibtadin, Mibtadin
Suhuf Vol 31, No 1 (2019): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem teologi Islam, sebagaimana dalam al-Qur'an memandang bahwa segenap perbuatan manusia, baik dalam urusan pribadi maupun urusan kolektif, merupakan titah Allah, yang didalamnya memuat berbagai nilai, norma, dan besaran tema-tema moral-etik lainnya. Berbagai konsep dan pesan moral-etik dalam teologi Islam yang ada, diarahkan pada nilai-nilai substansial tentang ajaran dan norma-norma hidup, yang mana nilai-nilai tersebut mengedepankan visi kemanusiaan yang universal. Etika terapan menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan dalam masyarakat agar mereka mampu dan tahu bagaimana seharusnya bersikap, bertindak, dan mengambil kebijakan yang menyangkut kepentingan umat untuk kehidupan bersama. Bangunan teologi Islam dalam hal ini menempatkan etika sebagai media untuk mengarahkan manusia agar berakhlak baik, bertindak-tanduk baik, terpuji, dan ramah baik terhadap manusia, lingkungan alam, dan terhadap Tuhan sang pencipta.
MENIMBANG TEORI PERKEMBANGAN MORAL UNTUK MEMBANGUN PENDIDIKAN AGAMA YANG HUMANIS-REALISTIS Ali, Mohamad
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meski mayoritas penduduk beragama Islam (87%), Indonesia bukan negara Islam. Negara malah memfasilitas setiap agama untuk membina keimanan umat (konfensional). Wujud kebijakan konfensional berupa pengalokasian waktu mata pelajaran pendidikan agama di sekolah. Harapan besar pada pendidikan agama belum mampu dijawab secara tuntas. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lulusan lembaga pendidikan menengah maupun tinggi yang bertindak immoral. Kajian ini mencoba mendiskusikan kecenderungan praktik pendidikan agama saat ini, elaborasi atas konsep-konsep perkembangan moral, dan kemungkinan sumbangan teori perkembangan moral untuk mengembangkan pendidikan agama. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa (1) arus utama pendidikan agama di sekolah bercorak normatif, (2) teori perkembangan moral Kohlberg menandaskan bahwa pertumbuhan moral melalui proses bertahap mulai prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional, (3) implikasi teori dan sifat khas perkembangan moral dapat disuntikkan untuk perumusan tujuan, metode mengajar, dan pengembangan guru sedemikian rupa agar terarah pada terbangunnya pendidikan agama yang humanis-realistis.
AL-QURAN DAN HADIS SEBAGAI SUMBER PSIKOLOGI Ariyanto, M. Darojat
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Quran  ialah Kalam Allah yang (memiliki) mukjizat, diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul,dengan melalui perantara Malaikat Jibril, ditulis  dalam berbagai mushhaf, dinukilkan kepada kita  dengan cara tawatur (mutawatir), yang dianggap ibadah dengan membacanya. Secara garis besar  Al-Quran berisi tentang:  Aqidah, Ibadah, Wa’du dan Wa’id, Akhlak, Hukum, Kisah dan Ilmu Pengetahuan dan  Teknologi. Adapun Hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada RasulullahShalahu Alaihi wa Sallam setelah kenabian. Fungsi Hadis sebagai sumber kedua setelah Al-Quran dan penjelas bagi Al-Quran.        Berdasarkan fungsi dan isi Al-Quran  dan Hadis di atas maka keduanya dapat  menjadi  sumber  Psikologi, khususnya berkaitan dengan isi Al-Quran yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih jelas  lagi  yang dijelaskan di dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 yang artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaskah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu  adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi  atas segla Sesutu?. Selain itu di dalam Al-Quran dan Hadits ada banyak istilah yang berkaitan dengan jiwa manusia, misalnya al-fitrah, al-ruh, al-nafs, al-qalb, al-‘aql, al-dhamir.
METODE PEMBELAJARAN DITINJAU DARI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Sari, Ayu Winda; Natalia, Dina; hasanah, Nurul
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Islam merupakan salah satu disiplin ilmu keislaman yang membahas objek-objek di seputar kependidikan Islam. Pemahaman hakikat Pendidikan Islam sebenarnya tercantum di dalam sejarah dan falsafah Islam sendiri, sebab setiap proses pendidikan tidak terlepas dari objek-objek keislaman. Filsafat pendidikan Islam adalah konsep berfikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan pada ajaran Islam tentang kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. Kajian filosofis yang digunakan filsafat pendidikan Islam mengandung arti bahwa filsafat pendidikan Islam itu merupakan pemikiran yang mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti hakikat pendidikan Islam. Filsafat pendidikan Islam berdasarkan wahyu, tidak semata berpijak humanistik, tidak mengenal kebenaran terbatas, tapi universal. Berusaha mengembangkan pandangan yang integral dan mengintergralkan pandangan antara dunia dan akhirat sekaligus. Filsafat pendidikan Islam mengembangkan semua aspek kepribadian, mulai akal, intuisi, akal budi dan inderawi. Ide-ide filsafat pendidikan Islam selain bersifat teoritik juga realistik yang dapat diwujudkan dalam tingkah laku, dan mudah transformasikan dalam kehidupan. Pada hal ini aka nada penjelasan yang menjelaskan seputar definisi, maca-m macam metode, prinsip dan tujuan pembelajaran yang ditinjau dari filsafat pendidikan agama islam selain itu juga banyak para ahli yang berpendapat terutama tentang definisi atau pengertian metode pembelajaran dan juga mengemukakan berbagai macam metode-metode pembelajaran yang akan dibahas disini.
KAJIAN PENELITIAN TENTANG HUKUM JUAL BELI KREDIT Fatriansyah, Alif Ilham Akbar
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jual beli merupakan kegiatan yang sering terjadi pada seseorang sehingga menimbulkan adanya interaksi satu sama lain. Hal yang terjadi dalam jual beli tidak hanya dilakukan secara tunai namun ada juga secara kredit. Perkembangan sekarang banyak yang menawarkan transaksi jual beli secara kredit. Dalam penelitian ini jual beli secara kredit dilihat dari sudut pandang Islam disertai kajian beberapa penelitian terdahulu. Hasil dalam penelitian ini mengatakan bahwa jual beli secara kredit diperbolehkan dalam Islam, namun ada beberapa hal yang harus terpenuhi seperti kedua belah pihak sepakat dengan aqad, tidak diharuskan membayar bunga, tidak bersifat gharar/tipuan, tidak bersifat ribawi, selain itu etika bisnis dalam Islam yang dicontoh Rasullulah harus senantiasa kita gunakan seperti Fathonah, Amanah, Siddiq, dan Tabliq. Tujuannya untuk mendapatkan kebarokahan disertai dengan tujuan tolong menolong.
PAKAIAN MUSLIMAH DALAM AL-QURAN: ANTARA TAFSIR HASBI ASH-SHIDDIEQY DAN QURAISH SHIHAB Nurrohim, Ahmad; Jannah, Hany Raudhatul
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema pakaian muslimah selalu menarik dikaji. Perbedaan cara pandang dan pola fikir sering menghangatkan perdebatan tersebut di berbagai kalangan. Islam sendiri, dengan al-Qur’an, memiliki peran sentral dalam mengatur pola berpakaian Muslim ataupun Muslimah. Tulisan ini hendak mengkaji persamaan dan perbedaan penafsiran Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dan Muhammad Quraish Shihab dalam karya tafsir mereka, Tafsir al-Quranul Majid an-Nûrdan Tafsir al-Misbah, terkait pakaian muslimah. Tulisan ini berbasis penelitian kualitatif dengan pendekatan tafsir. Data penelitian yang terdokumentasi dianalisa dengan metode analisa tafsir komparatif (tafsir muqaran). Penelitian yang dilakukan dibatasi pada dua ayat: Q.S. an-Nuur [24]: 31 dan Q.S. al-Ahzab [33]:59. Hasil penelitian ini adalah Hasbi ash-Shiddieqy dan Quraish Shihab memiliki kesamaan definisi khimār dan jilbāb; dankeduanya berbeda pendapat dalam persoalan status hukum jilbāb dan khimār bagi Muslimah.
KONSEP KONSIENTISASI PAULO FREIRE DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Prastowo, Agung Ilham
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini akan membahas tentang konsep pendidikan Paulo Freire yang sering disebut dengan konsientisasi. Penelitian ini mencakup konsep kosientisasi Paulo Freire, ide-ide Paulo Freire dalam pendidikan dan relevansinya terhadap pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka (library research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan Paulo Freire sangat berkaitan erat dengan pendidikan Islam, pertama kesesuaian tujuan dalam pendidikan yaitu membangun kesadaran dalam mengembangkan potensi diri manusia. Kedua, kesesuaian dalam konsep pendidik yaitu sebagai pembimbing, pengajar, fasilitator yang menciptakan proses belajar yang interaktif. Ketiga, kesuaian dalam konsep siswa yaitu siswa mempunyai kebebasan dalam mengembangkan dirinya.

Page 9 of 24 | Total Record : 235