cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
Pemanfaatan Wrizzle AI sebagai Alat Bantu dalam Proses Kreatif Menulis Cerpen Siswa SMA Fauzan, Ahmad; Rani, Abdul; Wahyuni, Sri
LOKABASA Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.80271

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan Wrizzle AI sebagai alat bantu dalam meningkatkan proses kreatif siswa SMA dalam menulis cerpen. Dalam era digital, teknologi kecerdasan buatan semakin memainkan peran penting dalam pendidikan, termasuk dalam pengembangan keterampilan menulis. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis dampak penggunaan Wrizzle AI terhadap kemampuan menulis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Wrizzle AI dapat meningkatkan produktivitas, kualitas ide, dan struktur cerita yang dihasilkan oleh siswa. Artikel ini juga mengidentifikasi tantangan implementasi teknologi ini di kelas serta memberikan rekomendasi untuk optimalisasi penggunaan Wrizzle AI dalam pembelajaran menulis cerpen.This study aims to explore the use of Wrizzle AI as a tool to enhance the creative writing process of high school students in writing short stories. In the digital age, artificial intelligence technology plays an increasingly important role in education, including in the development of writing skills. This research employs a mixed-methods approach, combining both quantitative and qualitative methods to analyze the impact of Wrizzle AI on students' writing abilities. The results indicate that the use of Wrizzle AI can improve productivity, idea quality, and story structure produced by students. This article also identifies the challenges in implementing this technology in the classroom and offers recommendations for optimizing the use of Wrizzle AI in short story writing instruction.
Fungsi Air dalam Dongeng Sunda Puspita, Nesa Wara
LOKABASA Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.81197

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) struktur dongeng-dongeng Sunda yang memiliki unsur air yang mencakup tema, alur, latar dan tokoh, dan (2) perbandingan fungsi air dalam dongeng-dongeng Sunda yang memiliki unsur air. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan struktural dan intertekstual dengan teknik studi pustaka. Objek kajian ini adalah 17 dongeng Sunda yang mempunyai unsur air. Hasil kajian ini: (1) dari 17 dongeng yang dianalisis, umumnya menggunakan tema yang berhubungan dengan kehidupan makhluk hidup, baik manusia maupun hewan. Alur setiap dongeng menggunakan alur maju. Latar dalam setiap dongeng dibagi menjadi tiga yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Tokoh dalam dongeng dibagi menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan; (2) fungsi air dalam dongeng yang ditemukan yaitu unsur air sebagai obat, unsur air sebagai asal-muasal nama tempat, unsur  air sebagai batas wilayah, unsur air yang menyebabkan bencana, unsur air sebagai kebutuhan sehari-hari, dan unsur air sebagai hal yang dilarang. Jadi, dongeng yang dianalisis memiliki struktur yang lengkap dengan fungsi air dalam tiap dongeng memiliki perbedaan dan persamaan.This study aims to describe (1) the structure of Sundanese folktales that contain elements of water, including themes, plot, setting, and characters, and (2) a comparison of the function of water in Sundanese folktales that feature water elements. The method used is descriptive analysis with a structural and intertextual approach through library research. The subjects of this study are 17 Sundanese folktales that feature water elements. The findings of this study are: (1) among the 17 folktales analyzed, the majority use themes related to the lives of living beings, both human and animal. The plot of each folktale follows a forward-moving narrative. The setting in each folktale is divided into three aspects: place, time, and social setting. The characters in the folktales are divided into two categories: main characters and supporting characters; (2) the functions of water found in the folktales include water as a medicine, water as the origin of place names, water as a boundary marker, water as a cause of disaster, water as an everyday necessity, and water as a prohibited element. Thus, the analyzed folktales have a complete structure, and the function of water in each tale shows both similarities and differences. 
Nilai Moral dalam Naskah Drama “Juag Toèd” Karya Yoseph Iskandar Ramadhan, Muhammad Ilham
LOKABASA Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.81500

Abstract

Kajian ini berangkat dari minimnya kuantitas dan kualitas naskah drama berbahasa Sunda dibandingkan genre sastra lainnya. Dengan metode deskriptif analitik berbasis studi pustaka, penelitian ini menganalisis struktur cerita, struktur naskah drama, dan nilai moral dalam naskah Juag Toèd karya Yoseph Iskandar. Hasil kajian menunjukkan bahwa cerita bertema tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh istri pejabat dengan alur maju, dua tokoh utama, serta sudut pandang orang ketiga. Struktur naskah mencakup unsur prolog, dialog, adegan, dan lainnya, tetapi tidak memiliki aside dan pembabakan sehingga kurang sempurna. Nilai moral yang ditemukan meliputi hubungan manusia dengan diri sendiri (2 nilai), hubungan manusia dengan Tuhan (1 nilai), serta sesama dan lingkungan (11 nilai). Secara keseluruhan, Juag Toèd memiliki struktur cerita yang kuat dan nilai moral yang kaya, meskipun struktur naskahnya belum sepenuhnya lengkap.This study arises from the limited quantity and quality of Sundanese-language drama scripts compared to other literary genres. Using a descriptive-analytic method based on literature review, this study analyzes the narrative structure, script structure, and moral values in the play Juag Toéd by Yoseph Iskandar. The findings indicate that the story revolves around the abuse of power by the wife of a government official, with a linear plot, two main characters, and a third-person narrative perspective. The structure of the script includes elements such as the prologue, dialogue, scenes, and others, but lacks asides and acts, making it somewhat incomplete. The moral values identified in the play include relationships between humans and themselves (2 values), with God (1 value), and with others and the environment (11 values). Overall, Juag Toéd possesses a strong narrative structure and rich moral values, although its script structure is not fully complete.
Eksplorasi Penggunaan Augmented Reality (AR) sebagai Media Interaktif dalam Pembelajaran Tata Krama Bahasa Sunda Nugraha, Haris Santosa; Kuswari, Usep; Sutisna, Ade; Sari, Erni Endah; Dzakiah, Shoofii Nurrizki; Garsela, Fajar
LOKABASA Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.81705

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebutuhan penggunaan Augmented Reality  (AR) sebagai media pembelajaran interaktif dalam pembelajaran tata krama bahasa Sunda. Berlandaskan teori konstruktivisme, penelitian ini menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman dan interaksi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap norma sosial dalam budaya Sunda. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam kepada guru serta siswa dari sepuluh sekolah menengah pertama di wilayah Bandung Raya. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan pendekatan Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran konvensional kurang efektif dalam merepresentasikan situasi sosial secara nyata. AR memiliki potensi besar dalam menghadirkan simulasi pembelajaran yang lebih realistis dan interaktif dengan karakteristik utama berupa simulasi kontekstual, visualisasi realistis, latihan mandiri, serta umpan balik langsung. Namun, tantangan utama dalam implementasi AR terletak pada keterbatasan infrastruktur teknologi dan kesiapan tenaga pendidik. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya dukungan infrastruktur dan pelatihan guru agar AR dapat diterapkan secara optimal dalam pembelajaran tata krama bahasa Sunda.This study aims to explore the need for using Augmented Reality  (AR) as an interactive learning medium in Sundanese etiquette education. Based on constructivist theory, this research emphasizes the importance of experience-based and interactive learning in enhancing students’ understanding of social norms in Sundanese culture. The research employs a qualitative descriptive method with data collection techniques including questionnaires, participatory observations, and in-depth interviews with teachers and students from ten junior high schools in the Bandung Raya region. Data analysis was conducted thematically using the Miles and Huberman approach. The findings indicate that conventional teaching methods are ineffective in representing real social situations. AR has great potential in providing more realistic and interactive learning simulations with key characteristics such as contextual simulations, realistic visualization, independent exercises, and real-time feedback. However, the main challenges in implementing AR lie in the limitations of technological infrastructure and the readiness of educators. The study highlights the need for infrastructure support and teacher training to ensure the optimal application of AR in Sundanese etiquette education. 
Analisis Struktur dan Nilai Moral dalam Novel "Nyaba ka Leuweung Sancang" Karya Aan Merdeka Permana Diana, Nana; Ropiah, Opah
LOKABASA Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.74648

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan nilai moral yang terdapat dalam novel Nyaba Ka Leuweung Sancang  karya Aan Merdeka Permana. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif dan teknik studi pustaka. Instrumen yang digunakan berupa kartu data. Hasil kajian meliputi: strukutur cerita terdiri atas (1) tema tentang perjalanan; (2) fakta cerita meliputi: alur maju, 12 karakter yang berbeda, dan 18 latar, di antaranya latar tempat 10, latar waktu 3, latar suasana 5; (3) sarana cerita terdiri atas: judul novel Nyaba ka Leuweung Sancang; sudut pandang menggunakan orang ketiga; gaya bahasa menggunakan bahasa Sunda sehari-hari dan terdapat 5 simbolisme yaitu: nyaba, Siliwangi, Leuweung Sancang, maung; ironi meliputi dramatisasi; Nilai moral: (1) moral manusia dengan Tuhan terdiri atas moral percaya pada Tuhan, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya); (2) moral manusia dengan dirinya sendiri meliputi tanggung jawab, gigih, sabar, mandiri, jujur, kesopanan); (3) moral manusia dengan manusia lain terdiri atas dermawan dan empati; (4) moral manusia terhadap alam meliputi merasakan keindahan alam dan usaha untuk merawat dan menelitinya; (5) moral manusia dengan waktu di antaranya mengurus perizinan dan pembayaran; (6) moral manusia mencapai kepuasan lahir dan batin terdiri atas rasa senang dan gembira saat menyelesaikan perjalanan menjelajahi Leuweung Sancang.This study aims to describe the structure and moral values found in the novel Nyaba Ka Leuweung Sancang by Aan Merdeka Permana. This is a qualitative research study using a descriptive method and library research technique. The instrument used is a data card. The findings of the study include: the story structure consists of (1) a theme about a journey; (2) story facts, including a forward-moving plot, 12 different characters, and 18 settings, which consist of 10 place settings, 3 time settings, and 5 atmosphere settings; (3) narrative devices, including the novel title Nyaba ka Leuweung Sancang, third-person point of view, language style using everyday Sundanese, and 5 symbols, namely: nyaba, Siliwangi, Leuweung Sancang, maung; irony includes dramatization; Moral values: (1) moral values between humans and God, which include faith in God, fulfilling His commands, and avoiding His prohibitions; (2) moral values between humans and themselves, including responsibility, persistence, patience, independence, honesty, and politeness; (3) moral values between humans and others, including generosity and empathy; (4) moral values between humans and nature, including appreciating the beauty of nature and efforts to preserve and study it; (5) moral values between humans and time, including managing permits and payments; (6) moral values related to achieving both physical and spiritual satisfaction, including feelings of happiness and joy when completing the journey through Leuweung Sancang. 
Interkulturasi Budaya Sunda dalam Masyarakat Batak-Toba pada Film "Tulang Belulang Tulang" Zul Fahmi, Lisan Shidqi; Siahaan, Jamorlan; Tampubolon, Flansius
LOKABASA Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.81203

Abstract

The super-diversity of Indonesian society has led to interculturality, where every tradition can be changed and/or mixed, intentionally or unintentionally. This condition is often documented in literary works, where the film Tulang Belulang Tulang (Uncle’s Bones) (2024), directed by Sammaria Sari Simanjuntak, also depicts the cultural interculturality of Sundanese culture to the Batak-Toba community. Therefore, this research aims to analyse the interculturality that is shown and spoken through the visuals and dialogue between each character, using the Critical Discourse Analysis (CDA), which is studied qualitatively with descriptive results through the 7 elements of cultural approach (Koentjaraningrat, 2004). This study's results show several interculturation phenomena that occur in culture through the aspects of (1) language and (2) knowledge system. In language interculturation, some scenes show code-switching from Indonesian to Sundanese in a social environment of the Batak-Toba community. Meanwhile, the understanding of the Sundanese gastronomic products depicted and described is evidence of interculturation in the knowledge system.
Papantunan: Cikal Bakal Kawih Cianjuran Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i2.91706

Abstract

Kawih Cianjuran adalah kekayaan seni vokal yang dimiliki masyarakat Jawa Barat. Materi Kawih Cianjuran bermula dari kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat dari kawih pantun di pertengahan abad XIX. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses terjadinya alih wahana dari kawih pantun menjadi kawih papantunan. Metoda yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan melalui studi pustaka serta fenomenologi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui desain deduktif, menganalisis data secara parsial untuk dijalinkan satu data dengan data lainnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat merupakan cikal bakal terbentuknya seni cianjuran yang hingga saat ini terdiri atas beberapa jenis kawih yakni Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, serta Panambih. Jenis-jenis kawih cianjuran tersebut secara bentuk berpedoman kepada kawih papantunan.Cianjuran songs are a vocal art form that represents the cultural richness of the people of West Java. The materials of Cianjuran songs originated from kawih papantunan, which were created by RAA Kusumaningrat based on kawih pantun in the mid-19th century. This study aims to explore the process of transformation from kawih pantun to kawih papantunan. The method used is qualitative, employing a literature study and a phenomenological approach. The collected data were analyzed deductively, connecting and interpreting each set of data to form a coherent analysis. The findings reveal that the kawih papantunan created by RAA Kusumaningrat served as the foundation for the development of Cianjuran vocal art, which today consists of several types of kawih, namely Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, and Panambih. Structurally, these various forms of kawih cianjuran are based on the kawih papantunan tradition.
Eksitensi Perempuan dalam Novelet "Asmarandana Liwung" Karya Aam Amilia: Sebuah Kajian Feminisme Eksistensialis Sabila, Rifa Salsa; Suherman, Agus
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i2.91303

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh konflik eksistensial perempuan antara tuntutan sosial dengan pencarian identitas diri. Perempuan sering kali merasa tidak sepenuhnya bebas dalam mengekspresikan eksistensi mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap eksistensi perempuan dalam novelet Asmarandana Liwung karya Aam Amilia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitik dan teknik telaah pustaka dalam mengumpulkan data. Sumber data dalam penelitian ini adalah novelet Asmarandana Liwung karya Aam Amilia. Hasilnya menunjukkan bahwa novelet ini menggambarkan dua sisi eksistensi perempuan. Pertama, ada untuk dirinya, yaitu tokoh utama perempuan menemukan kebebasan dan kesadaran akan keberadaannya setelah melalui berbagai konflik hidup. Kedua, ada untuk orang lain, terlihat dari pengorbanan yang dilakukan demi orang-orang di sekitarnya, baik pengorbanan positif seperti pengabdian tulus, maupun negatif ketika mengorbankan diri sendiri. Strategi eksistensinya meliputi perempuan karier, intelek, agen transformasi sosial, dan modern. Dengan demikian, kisah dalam novelet ini merepresentasikan eksistensi perempuan sebagai subjek otonom yang mampu menentukan keberadaannya secara sadar, bebas, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan hidupnya.This study is motivated by the existential conflict experienced by women between societal expectations and the search for self-identity. Women often feel that they are not entirely free to express their existence. The purpose of this study is to reveal the existence of women in Aam Amilia’s novelette Asmarandana Liwung. The research employs a qualitative approach using descriptive-analytic methods and literature review techniques for data collection. The data source is the novelette Asmarandana Liwung by Aam Amilia. The results show that the novelette portrays two dimensions of women’s existence. First, existence for themselves, where the female protagonist achieves freedom and self-awareness after various life conflicts. Second, existence for others, reflected through sacrifices made for those around her—both positive (selfless devotion) and negative (self-denial). Her existential strategies include being a career woman, an intellectual, a social transformation agent, and a modern individual. Thus, the story represents women’s existence as autonomous subjects capable of consciously, freely, and responsibly determining their own being.
Kajian Semantik Nama Tua Warga Dusun Duwet Gentong, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul Shaputra, Avinda Shalwa; Wulan, Sri Hertanti
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.82228

Abstract

Penelitian ini mengkaji semantik nama tua warga Dusun Duwet Gentong, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul. Nama tua dipilih sebagai fokus penelitian karena selain menjadi identitas diri, juga mengandung makna atau simbol tertentu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui open dokumen, kuesioner, dan wawancara dengan narasumber yang memiliki atau mengerti nama tua. Data dianalisis secara deskriptif kualitaitf dengan validitas triangulasi sumber dan reliabilitas intrarater serta interrater. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nama tua terbentuk dari varian jumlah kata ada yang satu kata, dua kata, dan tiga kata, wujud satuan lingualnya antara lain monomorfemis, polimorfemis serta rangkaian monomorfemis dan polimorfemis. Makna leksikal, gramatikal, dan kontekstual, digunakan untuk mengetahui dasar pemberian nama tua. Dasar dari pemberian nama tua di temukan dari unsur harapan (kesejahteraan, kepintaran, percintaan, kebaikan, kekuatan, kewibawaan, keindahan, kekayaan, kebahagiaan), unsur penanda agama, unsur nama kecil, unsur gaib, penanda sejarah, unsur objek alam, dan unsur nama wayang. This study examines the semantics of traditional names among the residents of Duwet Gentong Hamlet, Srimulyo Village, Piyungan District, Bantul Regency. Traditional names were chosen as the focus of the research because, in addition to serving as personal identifiers, they also carry specific meanings or symbolic significance. This is a qualitative descriptive study, with data collected through open documents, questionnaires, and interviews with individuals who have or understand traditional names. The data were analyzed using a qualitative descriptive approach, supported by source triangulation for validity and both intrarater and interrater reliability checks. The findings reveal that traditional names consist of varying word counts—one, two, or three words—and appear in different linguistic forms, including monomorphemic, polymorphemic, and combinations thereof. Lexical, grammatical, and contextual meanings are used to understand the underlying reasons for name assignment. The basis for assigning traditional names includes elements of hope (such as prosperity, intelligence, love, kindness, strength, authority, beauty, wealth, happiness), religious markers, childhood names, mystical elements, historical references, natural objects, and names derived from wayang (Javanese shadow puppetry) characters.
Pola dan Ciri Khas Percakapan Anak-anak dalam Novel "Guha Karang Legok Pari" karya Hidayat Soesanto Nurlaela, Anita
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i2.91307

Abstract

Percakapan anak-anak memiliki ciri khas berdasarkan latar belakang kehidupan di sekitarnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pola dan ciri khas percakapan anak-anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik studi pustaka dari sumber data berupa novel Guha Karang Legok Pari karya Hidayat Soesanto. Instrumen yang digunakan adalah kartu data digital. Hasil penelitian ditemukan 38 data percakapan, baik percakapan antara anak dengan anak maupun percakapan antara anak dengan orang tua. Berdasarkan jumlah ujarannya, terdapat delapan pola percakapan, yaitu percakapan dua ujaran, percakapan tiga ujaran, percakapan empat ujaran, percakapan lima ujaran, percakapan tujuh ujaran, percakapan delapan ujaran, percakapan sebelas ujaran, dan percakapan tiga belas ujaran. Ciri khas percakapan anak-anak dalam novel ini terdapat pada isi tuturan, panjang kalimat, pilihan kata, jumlah kata, pelibat dalam komunikasi, serta cara bertutur antara anak kota dengan anak nelayan.Children’s conversations have distinctive characteristics influenced by their social backgrounds. This study aims to describe the patterns and features of children’s conversations in Hidayat Soesanto’s novel Guha Karang Legok Pari. The research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through library research using the novel as the primary data source, supported by digital data cards as instruments. The study identified 38 conversational data, including child-to-child and child-to-adult interactions. Based on the number of utterances, eight conversation patterns were found: dialogues with two, three, four, five, seven, eight, eleven, and thirteen utterances. The distinctive features of children’s conversations in the novel are reflected in the content of speech, sentence length, word choice, number of words, communication participants, and speaking styles, particularly the differences between urban and fishing village children.