cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
Citra Perempuan dalam Kumpulan Cerpen Srikandi Néangan Gawé Karya Tiktik Rusyani Amarulloh, Felira Al Syifa
LOKABASA Vol 14, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v14i2.64880

Abstract

Kajian ini berangkat dari anggapan bahwa isu-isu mengenai gender dapat dilihat melalui pandangan sosialis atau kelas-kelas masyarakat, dimana fenomena laki-laki yang dianggap unggul dari perempuan menjadi landasan hadirnya feminis sosialis, yang kemudian dihadirkan dalam karya sastra. Adapun tujuan kajian ini yaitu untuk mendeskripsikan: 1) struktur cerita dalam kumpulan cerpen Srikandi Néangan Gawé, dan 2) citra sosial tokoh perempuan yang tergambar dalam kumpulan cerpen tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan teknik studi pustaka. Sumber data yang digunakan yaitu buku kumpulan cerpen Srikandi Néangan Gawé karya Tiktik Rusyani. Hasilnya menunjukkan bahwa struktur dalam kumpulan cerpen tersebut meliputi tema, alur, tokoh/penokohan, latar, dan sudut pandang, serta citra sosial tokoh perempuan di lingkungan keluarga dan masyarakat digambarkan melalui tokoh-tokoh perempuan yang terdapat dalam kumpulan cerpen tersebut.
Pengaruh Media Pembelajaran Scrabble terhadap Kemampuan Menulis Aksara Sunda di SMP Negeri 1 Cidahu Kuningan Masitoh, Siti; Ropiah, Opah
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.71842

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pembelajaran scrabble terhadap hasil menulis aksara Sunda di SMP Negeri 1 Cidahu kelas VII. Metode yang digunakan yaitu eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design dengan jenis penelitian kuantitatif. Teknik sampling menggunakan purposive sampling, dengan sampelnya siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Cidahu, Kabupaten Kuningan. Teknik pengumpulan data melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah soal prates-pascates. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji validitas, uji normalitas dan uji hipotesis. Hasilnya, sebelum menggunakan media pembelajaran scrabble pada menulis aksara Sunda terdapat nilai pretest terbesar 93, sedangkan nilai terkecil 20 dengan nilai rata-rata 48,19. Setelah menerapkan media pembelajaran scrabble nilai posttes terbesar menjadi 97, sedangkan nilai terkecilnya 70 dengan rata-rata 82,97. Dari hasil pengujian diketahui nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000. Hal ini berarti Sig. (2-tailed) 0,005. Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran scrabble berpengaruh secara signifikan pada kemampuan menulis aksara Sunda di SMP Negeri 1 Cidahu Kelas VII.This study aims to determine the effect of Scrabble as a learning media on the results of writing Sundanese script in the seventh-grade students at SMP Negeri 1 Cidahu. The research method used is an experimental design with a one-group pretest-posttest design and is quantitative in nature. The sampling technique used is purposive sampling, with the sample consisting of seventh-grade students of class VII A at SMP Negeri 1 Cidahu, Kuningan Regency. Data collection techniques include observation, tests, and documentation. The instruments used were pretest and posttest questions. Data analysis techniques include validity testing, normality testing, and hypothesis testing. The results showed that before using Scrabble as a learning media for writing Sundanese script, the highest pretest score was 93, while the lowest was 20, with an average score of 48.19. After the implementation of Scrabble as a learning media, the highest posttest score increased to 97, while the lowest score was 70, with an average of 82.97. From the test results, the Sig. (2-tailed) value was found to be 0.000. This indicates that Sig. (2-tailed) 0.005. It can be concluded that Scrabble as a learning media has a significant effect on the ability to write Sundanese script among seventh-grade students at SMP Negeri 1 Cidahu.
Nilai Keagamaan dalam Guguritan Sinom Wawarian Karya Haji Hasan Mustapa Sidik, Robi Maulana
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.77114

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi di antaranya oleh jarangnya yang tertarik untuk menulis dan membaca guguritan dimasa kini, khususnya membaca karya-karya Haji Hasan Mustapa. Salah satu karyanya dalam bentuk guguritan yaitu Sinom Wawarian, yang merupakan hasil pencarian Ajip Rosidi, kemudian ditransliterasi oleh Ruhaliah. Buku kumpulan guguritan Sinom Wawarian terbit pada tahun 2009 dengan tebal 56 halaman serta terdapat 101 bait di dalamnya. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan beberapa hal: 1) struktur lahir guguritan Sinom Wawarian; 2) struktur batin guguritan Sinom Wawarian; dan 3) nilai keagamaan. Semua data yang digunakan adalah buku guguritan Sinom Wawarian karya Haji Hasan Mustapa. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode yang digunakan deskriptif dan tekhnik studi pustaka. Instrumen yang digunakan yaitu kartu data yang dibagi menjadi dua, yaitu instrumen untuk mengumpulkan dan mengolah data. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam guguritan Sinom Wawarian terkandung nilai-nilai dia nataranya tentang pranatan sosial, mitologi budaya, dan nilai keagamaan.This study is motivated by, among other factors, the rarity of interest in writing and reading guguritan in the present time, particularly the works of Haji Hasan Mustapa. One of his works in the form of guguritan is Sinom Wawarian, which was discovered by Ajip Rosidi and later transliterated by Ruhaliah. The book collection of guguritan Sinom Wawarian was published in 2009, consisting of 56 pages and containing 101 stanzas. This study aims to analyze and describe several aspects: 1) the external structure of the guguritan Sinom Wawarian; 2) the internal structure of the guguritan Sinom Wawarian; and 3) the religious values. All data used in this study is derived from the guguritan Sinom Wawarian book by Haji Hasan Mustapa. This study is qualitative in nature, using descriptive methods and library research techniques. The instruments used include data cards, divided into two categories: instruments for collecting and processing data. The study's findings indicate that the guguritan Sinom Wawarian contains values related to, among others, social norms, cultural mythology, and religious values.
Pemertahanan Bahasa Sunda pada Keluarga Amalgamasi di Kota Bandung melalui Etnoparenting dan Literasi Budaya Ikmalludin, Ikmalludin; Hendayeni, Henhen; Rachman, Salman Ramdani; Awaliyah, Shelpi Nur; Qodrunnada, Salsabil; Ampera, Taufik
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.72581

Abstract

Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat berpeluang menjadi tempat terjadinya amalgamasi antara suku Sunda dan suku Jawa. Hal ini berpotensi mengancam vitalitas bahasa Sunda. Pemertahanan vitalitas bahasa Sunda dalam keluarga amalgamasi penting dilakukan melalui pola asuh yang diterapkan kepada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas literasi budaya untuk mempertahankan vitalitas bahasa Sunda serta pola asuh yang diterapkan dalam keluarga amalgamasi di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan Mixed Methods. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara dan data kuantitatif melalui kuesioner mengenai tingkat penerapan etnoparenting dan literasi budaya dalam keluarga amalgamasi dan tes vitalitas bahasa yang diadopsi dari model pengukuran bahasa Florey. Kesimpulan dari penelitian ini meskipun terdapat hubungan linear antara etnoparenting dan literasi budaya dengan skor vitalitas bahasa Sunda pada anak, keduanya tidak berpengaruh secara signifikan. Interaksi sosial dan pendidikan formal dinilai lebih berperan dalam kemampuan berbahasa Sunda yang dimiliki anak.Bandung, as the capital city of West Java, presents an opportunity for the amalgamation of the Sundanese and Javanese ethnic groups. This situation has the potential to threaten the vitality of the Sundanese language. The preservation of the vitality of the Sundanese language within amalgamated families is crucial and can be achieved through the parenting patterns applied to children. This study aims to assess the effectiveness of cultural literacy in maintaining the vitality of the Sundanese language and the parenting patterns implemented in amalgamated families in Bandung City. The research employs a Mixed Methods approach. Qualitative data were collected through interviews, while quantitative data were obtained through questionnaires regarding the application of ethnoparenting and cultural literacy in amalgamated families, as well as a language vitality test adopted from Florey’s language measurement model. The conclusion of this study indicates that, although there is a linear relationship between ethnoparenting and cultural literacy with the Sundanese language vitality score in children, both factors do not have a significant effect. Social interaction and formal education are considered to play a more significant role in the children’s ability to speak Sundanese.
Representasi Budaya Batak-Toba dalam Lagu "Da Natiniptip Sanggar" Zul Fahmi, Lisan Shidqi; Tampubolon, Flansius
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.80204

Abstract

Lagu sebagai hasil dari pengalaman indrawi, merupakan ekspresi budaya yang dapat mendeskripsikan nilai-nilai atau adat-istiadat tertentu. Artinya, kebudayaan suatu Masyarakat di antaranya dapat terdokumentasikan melalui lagu. Kajian ini difokuskan terhadap salah satu lagu berbahasa Batak-Toba berjudul “Da Natiniptip Sanggar” karya Nahum Situmorang. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna lirik lagu tersebut melalui analisis yang bersifat kualitatif dan uraian deskriptif. Perspektif semiotika Roland Barthes digunakan dalam kajian ini dengan fokus pada kajian makna denotatif dan konotatif. Hasilnya menunjukkan bahwa lagu ini memuat falsafah Dalihan na Tolu, yang merupakan kompleksitas sistem kekerabatan masyarakat Batak-Toba. Di dalamnya, termuat representasi budaya berdasarkan falsafah tersebut, di antaranya martarombo (proses pengenalan/pencarian hubungan kekerabatan, setelah diketahui marga antara dua orang yang baru bertemu) dan partuturan (pedoman dalam interaksi sosial yang menjunjung tinggi adat). Selain itu, secara khusus lirik dalam lagu ini disusun dengan muatan umpasa, yang merupakan padanan dari ungkapan bijak dalam kesusastraan masyarakat Batak-Toba. Secara khusus, umpasa yang termuat dalam lagu tersebut merupakan nasihat yang biasa disampaikan bagi pasangan muda-mudi yang baru memasuki jenjang pernikahan.Songs, as a product of sensory experience, are cultural expressions that can describe certain values or customs. This means that the culture of a society can be documented through songs. This study focuses on a Batak-Toba language song titled "Da Natiniptip Sanggar," composed by Nahum Situmorang. The aim of this paper is to examine the meaning of the song's lyrics through qualitative analysis and descriptive exposition. Roland Barthes' semiotic perspective is employed in this study, focusing on denotative and connotative meanings. The results show that the song contains the philosophy of Dalihan na Tolu, which represents the complexity of the kinship system in Batak-Toba society. It reflects cultural representations based on this philosophy, including martarombo (the process of identifying or searching for kinship ties once the clan names are known between two people who have just met) and partuturan (guidelines for social interactions that uphold customs). Additionally, the lyrics of the song are specifically composed with umpasa, a literary expression of wisdom within Batak-Toba literature. In particular, the umpasa in this song provides advice typically given to young couples who are about to enter marriage.
Kajian Simbolis terhadap Tradisi Nelesan di Desa Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis Adawiyah, Lia Robi’ah
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.80304

Abstract

Tradisi nelesan masih dilaksanakan di Desa Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis. Walaupun demikian, tradisi ini kurang dipahami oleh sebagian masyarakat, oleh sebab itu perlu diperkenalkan kembali kepada masyarakat secara luas. Itulah sebabnya penelitian ini dilakukan dengan menitikberatkan pada kajian simbolik yang ada dalam tradisi tersebut. Metode yang digunakan dalam kajian ini yaitu deskriptif analitis, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan dilakukan secara  triangulasi, yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah para sesepuh atau juru kunci Nagarapageuh, kuwu Nagarapageuh, masyarakat sekitar, dan para ahli budaya yang mengetahui tradisi nelesan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan tiga dimensi simbolik yang sesuai dengan teori Turner, yaitu: (1) etnografi; (2) eksegesis; dan (3) eksplanasi. Dari ketiga dimensi simbolik tersebut, terdapat dimensi dominan dalam tradisi nelesan yaitu diménsi eksplanasi yang berjumlah empat puluh. Simbol-simbol tersebut di antaranya situs karomah Pasaréan Pangeran Undakan Kalangan Sari, tradisi nelesan, kemenyan, sesaji, pusaka yang dibasuh, kupat salam, dan kupat tangtang angin.The nelesan tradition is still practiced in the village of Nagarapageuh, Panawangan District, Ciamis Regency. However, this tradition is not well understood by some members of the community, which is why it is important to reintroduce it to a wider audience. This research was conducted with a focus on the symbolic study within the tradition. The method used in this study is descriptive-analytical, employing a qualitative approach. Data collection was carried out through triangulation techniques, namely observation, interviews, and documentation. The sources of data in this research include the elders or custodians of Nagarapageuh, the village head of Nagarapageuh, local residents, and cultural experts familiar with the nelesan tradition. Based on the analysis, three symbolic dimensions were identified in accordance with Turner's theory: (1) ethnography; (2) exegesis; and (3) explanation. Among these three symbolic dimensions, the dominant dimension in the nelesan tradition is the explanation dimension, which consists of forty symbols. These symbols include the sacred site of Pasaréan Pangeran Undakan Kalangan Sari, the nelesan tradition itself, incense, offerings, washed heirlooms, kupat salam, and kupat tangtang angin.
Antropolinguistik dalam Toponimi Kabupaten Subang Syafii, Ahmad Muzaki; Kosasih, Dede; Nugraha, Haris Santosa
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.80312

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) aspek toponimi di Kabupaten Subang; 2) pola penamaan yang digunakan pada toponimi Kabupaten Subang; 3) asal-usul desa di Kabupaten Subang; 4) parameter antropolinguistik pada toponimi Kabupaten Subang. Metode yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan telaah pustaka. Sumber data meliputi: manusia (person), tempat (place), dan kertas (paper). Hasil kajian menunjukkan bahwa toponimi di Kabupaten Subang dipengaruhi aspek fisikal sebesar 76% yang berkaitan dengan fenomena alam, dan aspek non-fisikal sebesar 24% yang berkaitan dengan harapan masyarakat serta peristiwa yang pernah terjadi di tempat tersebut. Pola penamaan yang digunakan pada toponimi Kabupaten Subang didominasi oleh pola campuran sebesar 74% karena pola ini dapat menggambarkan suatu daerah lebih spesifik baik melalui fenomena alam, maupun sosio-kultural, sedangkan pola linear sebesar 26%. Asal-usul yang didapatkan dari hasil penelitian ini banyak dipengaruhi oleh fenomena alam yang ada di sekitar daerah tersebut, selain itu juga dipengaruhi kondisi sosio-kultural seperti cerita rakyat yang beredar di masyarakat, peristiwa yang pernah terjadi, dan harapan masyarakat juga mempengaruhi asal-usul nama tempat. Parameter antropolinguistik yang didapatkan dari penelitian ini didominasi oleh parameter keterhubungan sebesar 83%, kebernilaian sebesar 54%, dan keberlanjutan sebesar 33%. Simpulannya bahwa toponimi Kabupaten Subang memiliki ciri khas yang beragam baik dari aspek yang melatarbelakanginya, pola penamaan yang digunakan, asal-usul, serta parameter antropolinguistiknya.This study aims to describe: 1) the toponymy aspects in Subang Regency; 2) the naming patterns used in the toponymy of Subang Regency; 3) the origins of villages in Subang Regency; 4) the anthropolinguistic parameters in the toponymy of Subang Regency. The method used is descriptive with a qualitative approach. The techniques employed include observation, interviews, and literature review. The data sources include: people, places, and documents. The study's results show that toponymy in Subang Regency is influenced by physical aspects to the extent of 76%, related to natural phenomena, and non-physical aspects at 24%, which are associated with the hopes of the community and events that have occurred in the area. The naming pattern used in the toponymy of Subang Regency is dominated by a mixed pattern at 74%, as this pattern can describe an area more specifically, both through natural phenomena and socio-cultural aspects, while the linear pattern accounts for 26%. The origins found in this study are largely influenced by the natural phenomena in the surrounding area, as well as socio-cultural conditions such as local folklore, past events, and the hopes of the community. The anthropolinguistic parameters derived from this study are dominated by the parameter of interconnectedness at 83%, value at 54%, and sustainability at 33%. In conclusion, the toponymy of Subang Regency has diverse characteristics, both in the aspects that underlie it, the naming patterns used, the origins, and its anthropolinguistic parameters. 
Comic AI Berbasis Kearifan Lokal sebagai Pemantik Literasi Argumentatif Siswa Tingkat SMA Laila, Wahda Rahma; Rani, Abdul; Wahyuni, Sri
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.80149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan comic AI sebagai media pembelajaran yang dapat memantik literasi argumentatif siswa kelas XI SMA Widyagama Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI-A SMA Widyagama Malang. Data penelitian ini berupa aktivitas siswa selama pembelajaran serta hasil belajar siswa dalam pembelajaran teks argumentasi. Pengumpulan data  penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, teks tertulis dan dokumentasi. Adapun analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan comic AI berbasis kearifan lokal sebagai media pembelajaran teks argumentasi siswa secara efektif dapat memantik literasi argumentatif siswa.This study aims to describe the implementation of comic AI as a learning media that can stimulate argumentative literacy among the eleventh-grade students of SMA Widyagama Malang. This research is descriptive in nature with a qualitative approach. The subjects of this study are the students of class XI-A at SMA Widyagama Malang. The data of this research include student activities during the learning process and student learning outcomes in argumentative text lessons. Data collection techniques used in this study are observation, written texts, and documentation. Data analysis was conducted using qualitative descriptive analysis with several stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the implementation of locally wisdom-based comic AI as a learning media for argumentative texts is effective in stimulating students' argumentative literacy.
Model Pembelajaran Mind Mapping untuk Meningkatkan Kamampuan Menulis Teks Biantara Arianti, Rima
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.80150

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan siswa dalam menulis teks biantara (pidati Bahasa Sunda). Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan siswa sebelum dan sesudah menggunakan model mind mapping dalam menulis teks biantara, meningkat atau tidaknya kemampuan siswa sesudah mengunakan model mind mapping, serta mendeskripsikan perbedaan siswa sebelum dan sesudah menggunakan model mind mapping. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen, kepada siswa kelas IX A SMPN 03 Banyuresmi dengan menggunakan desain pretest dan posttest. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelum menggunakan model mind mapping nila rata-ratanya adalah 52,76 yang membuktikan bahwa siswa belum mampu menulis teks biantara, sedangkan setelah menggunakan model mind mapping nilai rata-ratanya adalah 86, 28 yang membuktikan bahwa siswa mampu menulis teks biantara. Hasil uji statistika nilai signifikasi (Sig.2-tailed) yaitu (0,000,0,5) atau kurang dari 0,5. Dengan demikian, H₁ditarima serta H₀ ditolak. Artinya , ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan menulis teks biantara sebelum dan sesudah menggunakan model mind mapping. Dengan demikian, kajian ini membuktikan bahwa model mind mapping dapat meningkatan kemampuan menulis teks biantara siswa kelas IX A SMPN 03 Banyuresmi tahun ajaran 2020/2021.This study is motivated by the low writing skills of students in composing biantara texts (Sundanese speeches). The purpose of this research is to describe students' writing abilities before and after using the mind mapping model, to determine whether there is an improvement in students' writing abilities after utilizing this model, and to describe the differences in students' abilities before and after using the mind mapping model. The research method employed is a quasi-experimental design, applied to the ninth-grade students of class IX A at SMPN 03 Banyuresmi, using pretest and posttest designs. The results show that before using the mind mapping model, the average score was 52.76, indicating that students were not yet able to write biantara texts. After using the mind mapping model, the average score increased to 86.28, showing that students were capable of writing biantara texts. The statistical test result for the significance value (Sig. 2-tailed) was 0.000, which is less than 0.5. Therefore, H₁ is accepted and H₀ is rejected. This indicates a significant difference in students' ability to write biantara texts before and after using the mind mapping model. In conclusion, this study demonstrates that the mind mapping model can improve the writing skills of ninth-grade students at SMPN 03 Banyuresmi in the 2020/2021 academic year.
Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Takiran di Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah: Sebuah Kajian Etnolinguistik Ningrum, Shevia Dwi; Rosidin, Odien
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.58360

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kearifan lokal dalam tradisi takiran di Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan fokus pada kearifan lokal yang terdapat pada tradisi takiran. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan asal muasal tradisi takiran; menjelaskan makna simbolis perlengkapan yang terdapat dalam tradisi takiran; serta tahapan-tahapan pelaksanaan tradisi takiran. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan teknik catat. Proses wawancara dilakukan kepada sesepuh yang ada di desa tersebut, lalu hasilnya ditranskripsikan. Hasilnya menunjukkan bahwa segi bahasa, tradisi takiran berasal dari kata takir, yaitu daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk kotak dan di kedua sisinya dikunci menggunakan lidi. Makna simbolis tradisi takiran dapat diartikan seperti halnya jajan pasar, ingkung, nyembelih wedus, takir, séga, ndog godhog, dan jangan. Adapun proses pelaksanaan tradisi takiran ini terbagi menjadi empat tahapan yaitu persiapan, pembukaan, pelaksanaan, dan penutupan.This research is motivated by the local wisdom found in the "takiran" tradition in Sumpiuh, Banyumas, Central Java. The study uses a qualitative descriptive method with a focus on the local wisdom embedded in the "takiran" tradition. The objectives of this research are to describe the origins of the "takiran" tradition; to explain the symbolic meaning of the equipment used in the "takiran" tradition; and to outline the stages of the "takiran" tradition's implementation. Data collection techniques include interviews and note-taking. Interviews were conducted with elders in the village, and the results were transcribed. The findings indicate that linguistically, the term "takiran" originates from the word "takir," referring to banana leaves shaped into a box and secured on both sides with bamboo sticks. The symbolic meaning of the Takiran tradition can be interpreted through various items, such as traditional market snacks, ingkung (chicken dish), the slaughtering of a goat, takir, rice, boiled eggs, and "jangan" (a type of offering). The implementation process of the Takiran tradition is divided into four stages: preparation, opening, execution, and closing.