cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Penggunaan Antibiotik untuk Penanganan Ulkus dan Gangren Diabetikum Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Riyan Stiyanto; Iin Suhesti
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8578

Abstract

Penyakit Diabetes melitus yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan komplikasi dan membahayakan kehidupan pengidapnya. Salah satu komplikasi diabetik yang sering terjadi adalah neuropati (kerusakan syaraf) di kaki yang menyebabkan ulkus kaki, infeksi, dan bahkan keharusan untuk amputasi kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persentase penggunaan antibiotika empiris yang rasional serta pengaruhnya terhadap outcome terapi pada pasien Diabetes melitus dengan ulkus dan gangren di RSUD Dr Moewardi Surakarta dan RSUD Bagas Waras Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data pada penelitian dilakukan secara retrospektif dan prospektif selama periode Januari sampai Agustus 2018. Ketidakrasionalan penggunaan antibiotika empiris dievaluasi dengan metode Gyssens. Sebanyak 36 pasien yang memenuhi kriteria inklusi 75% pasien mendapatkan terapi antibiotika empiris yang rasional dan 25% pasien mendapatkan terapi antibiotika empiris yang tidak rasional. Uji Chi Square dengan taraf kepercayaan 5% (p < 0,05) digunakan untuk membandingkan rasionalitas pengunaan antibiotika terhadap outcome terapi. Hasil Fisher’s Exact Test (Two Tailed) menunjukkan bahwa ada hubungan/pengaruh antara rasionalitas penggunaan antibiotika empiris dengan outcome terapi tetapi pemberian antibiotika empiris tidak berpengaruh pada angka leukosit bagi pasien, baik di RSUD Bagas Waras Klaten maupun RSUD dr. Moewardi Surakarta.Diabetes mellitus that is not managed properly can cause complications to endanger life. One of the diabetic complications that often occurs is foot neuropathy (nerve damage) inducing foot ulcers, infections, and even the necessity for a leg amputation. This study aims to determine the percentage of rational use of empirical antibiotics and their effects on outcomes therapy of diabetes mellitus patient with ulcers and gangrene in RSUD dr. Moewardi Hospital Surakarta and Bagas Waras Hospital Klaten. This study is an observational study with data collection in the study carried out retrospectively and prospectively from January to August 2018. The irrationality of using empirical antibiotics evaluated by the Gyssens method. Thirty six patients were enrolled and 75% of them treated with rational and empirical antibiotic therapy,. Chi-Square Test with a confidence level of 5% (p <0.05) used to compare the rationality of antibiotic use to the therapeutic outcome, the results of the Fisher Exact Test (Two-Tailed) indicated that there were relationship/influence between the rationality of using empirical antibiotics and outcomes therapy, but there was no influence between the rationality of using empirical antibiotics and leucocyte both in RSUD Bagas Waras Klaten and RSUD dr. Moewardi Surakarta.Keywords: Diabetes mellitus, therapeutic outcome, empirical antibiotic rationality
Percepatan Penutupan Luka Sayat pada Tikus Putih Akibat Pemberian Perasan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Elisabeth Natalia Barung; Rifny Wungow; Donald Emilio Kalonio
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9333

Abstract

Rimpang Temulawak atau Curcuma xanthorriza Roxb. adalah tanaman yang dikenal luas oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Rimpang temulawak mengandung kurkumin dan xanthorrizzol, yang diketahui mampu mempercepat penutupan luka di kulit dan juga memiliki efek antibakteri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui efektifitas perasan rimpang temulawak terhadap percepatan penutupan luka sayat pada tikus putih. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan subyek 10 ekor tikus putih yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok yang diberi perasan temulawak dan kelompok kontrol negatif yang tidak diberi perlakuan. Data dikumpulkan dengan mengukur panjang luka tikus menggunakan alat ukur penggaris dan dihitung persentasi penutupan luka. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear dan nilai slope (b) dinyatakan sebagai kecepatan penutupan luka. Hasil penelitian ini, menunjukan bahwa rimpang temulawak mampu mempercepat penutupan luka sayat sebesar 15,262%/hari dibandingkan kelompok yang tidak diberi perlakuan sebesar 13,54%/hari. Kata Kunci: Perasan Rimpang Temulawak, Luka Sayat, Percepatan Penutupan Luka, Sediaan Sederhana, Obat Tradisional Indonesia Curcuma xanthorrhiza Roxb. is a plant that is widely known by the community as traditional medicine. The rhizome of C. xanthorrhiza contains curcumin and xanthorrhizol, which are known to be able to accelerate wound healing on the skin and also has antibacterial and anti-inflammatory effects. This study was aimed to determine the effectiveness of C. xanthorriza rhizome on the acceleration of incision wound healing on white rats. This study was an experimental study, with 10 white rat subjects divided into two treatment groups, namely the treatment group which was given by C. xanthorriza rhizome and the negative control group that was not treated. Data were collected by measuring rat wound length using a ruler and calculating the percentage of wound healing. By using linear regression analysis and the value of the slope (b) is expressed as the acceleration of wound healing. The results of the study showed that C. xanthorrhiza rhizome was able to accelerate incision wound healing by 15.262% / day compared to the untreated group of 13.54% / day.
REVIEW: SINTESIS TURUNAN ANDROGRAFOLID PADA GUGUS HIDROKSIL C-3 DAN C-19 Sri Indrayani; Sandra Megantara; Febrina Amelia Saputri
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8495

Abstract

Andrografolid merupakan senyawa diterpenoid utama dari tanaman Andrographis paniculata dan telah dikenal memiliki berbagai aktivitas farmakologi. Andrografolid memiliki struktur menarik yang terdiri dari α-alkiliden γ-butirolakton, dua ikatan olefin pada C-8 and C-12 dan tiga gugus hidroksil. Dari ketiga gugus hidroksil tersebut, salah satunya adalah gugus hidroksil alilik pada C-14 dan yang lainnya adalah gugus hidroksil sekunder dan primer pada C-3 dan C-19. Gugus hidroksil C-3 dan C-19 merupakan gugus yang potensial untuk dimodifikasi. Review ini menjelaskan tentang pentingnya gugus hidroksil andrografolid pada C-3 dan C-19 dan pengaruhnya terhadap aktivitas biologis yang ditimbulkannya. Modifikasi andrografolid pada gugus tersebut dengan menambahkan gugus hidroksibenzaldehid dapat meningkatkan efek farmakologis sebagai anti-HIV. Esterifikasi yang terjadi pada C-3 dan C-19 dapat meningkatkan aktivitas sebagai antitumor. Penambahan ester aromatik baik di C-3 dan C-19 dapat mengurangi aktivitas senyawa sebagai antitumor. Modifikasi pada gugus tersebut dapat dilakukan dengan mekanisme reaksi substitusi nukleofilik dengan penambahakn katalis dan pemanasan. Pemanasan dengan metode iradiasi microwave memberikan hasil sintesis dengan nilai rendemen yang paling tinggi.  Andrographolide is a diterpenoid lactone isolated from the herb of Andrographis paniculata and known for its multiple pharmacological activities. Andrographolide has an interesting architecture consisting of an α-alkylidene γ-butyrolactone moiety, two olefin bond (C-8 and C-12), and three hydroxyls groups. Of the three hydroxyl groups, one is allylic at C-14, and the others are secondary and primary at C-3 and C-19, respectively. Hydroxyl groups C-3 and C-19 are the potential groups to be modified. The review describes the importance of the hydroxyl groups of andrographolide located at C-3 and C-19 and its effect toward its biological activity. Modification by adding hydroxyl-benzaldehyde moiety to the hydroxyl groups could increase the activity of the compound as anti-HIV. Esterification at C-3 and C-19 could also enhance the activity of the compund as antitumor. The addition of aromatic esters both at C-3 and C-19 could lose the compound’s activity as antitumor. Modification of the hydroxyl groups of andrographolide located at C-3 and C-19 could be carried out by the mechanism of nucleophilic substitution reactions with the addition of catalysts and heating. Heating by using microwave irradiation method gives the highest synthesis yield.Keywords: Andrographolide, Andrographis paniculata, hydroxyl groups
Evaluasi Mutu Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan Ratih Anggraeni; Roby Pahala Januario Gultom
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9608

Abstract

Pengelolaan obat pada instalasi farmasi rumah sakit merupakan bagian dari pelayanan kefarmasian yang harus terjamin mutunya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan mutu pengelolaan obat di instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia (RSUIPI) Medan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif periode bulan Maret sampai Mei tahun 2020. Data dikumpulkan melalui wawancara tenaga kefarmasian dan observasi di instalasi farmasi RSUIPI Medan. Indikator aspek pengelolaan obat diukur dari sumber daya manusia, perencanaan obat, pengendalian persediaan obat, penyimpanan obat, serta sarana dan prasarana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan obat, pengendalian persediaan obat, penyimpanan obat, serta sarana dan prasarana sudah memenuhi ketentuan dalam Permenkes RI Nomor 58 tahun 2014. Walaupun demikian, sumber daya manusia masih belum tercukupi sesuai ketentuan peraturan tersebut. Maka dari itu, kesimpulan dari penelitian ini bahwa mutu pengelolaan obat di instalasi farmasi RSUIPI Medan belum memenuhi ketentuan mutu, terutama pada aspek jumlah SDM.  Kata Kunci: pengelolaan obat; instalasi farmasi; apoteker rumah sakit; pelayanan kefarmasian  Drug management in pharmacy installation is a part of pharmacy services whose quality must be guaranteed. The purpose of this study was to determine the quality of drug management in the pharmacy installation at the General Hospital Imelda Pekerja Indonesia (RSUIPI) Medan. This study was a descriptive study for the period March-May 2020. Data were collected through interviews with pharmacy personnel and observations at the Pharmacy Installation of RSUIPI Medan. Indicators of drug management aspects are measured from human resources, drugs planning, drug supply control, drug storage, facilities, and infrastructure. The results showed that the drugs planning, controlling drug supply control, drug storage, facilities, and infrastructure had met the requirements in Permenkes RI No 58 (2014). Meanwhile, human resources are still insufficient according to provisions of this regulation. Therefore, the conclusion of this study was that the quality of drug management in the pharmacy installation at RSUIPI Medan has not met the quality requirements, especially in the aspect of the number of human resources.
Faktor Risiko Yang Berpengaruh Pada Kejadian Tuberkulosis dengan Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) di RSUD Ulin Banjarmasin Aulia Mashidayanti; Nurlely Nurlely; Nani Kartinah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.7928

Abstract

MDR-TB (Multidrug-Resistant Tuberculosis) adalah salah satu jenis TB yang resisten dengan OAT (Obat Anti Tuberculosis) dengan resisten terhadap 2 obat anti tuberculosis yang paling ampuh yaitu rifampisin dan isoniazid. Obat rifampisin dan isoniazid sudah tidak efektif dalam membunuh kuman mycobacterium tuberkulosis dikarenakan kuman yang sudah resisten terhadap obat tersebut. MDR-TB merupakan suatu permasalahan yang menjadi hambatan utama dunia dalam pemberantasan TB. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko apa saja yang dapat berpengaruh pada kejadian tuberkulosis dengan multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) di RSUD Ulin Banjarmasin dengan variabel yang ditinjau adalah pengetahuan, motivasi dan keteraturan minum obat. Metode penelitian dengaan rancangan Cross Sectional dengan metode pengambilan dengan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dengan diagnosis tuberkulosis multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB) dan pasien TB Non MDR yang digunakan sebagai pembanding yang dipilih secara acak. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa faktor risiko yang terbukti berpengaruh pada kejadian TB-MDR adalah keteraturan minum obat (p-value< 0,05). Oleh karena itu, untuk mengurangi potensi bertambahnya penderita TB-MDR, maka perlu diperhatikan lagi keteraturan minum obat penderita, memastikan agar penderita benar-benar rutin dan teratur dalam minum obat.  MDR-TB (Multidrug-Resistant Tuberculosis) is one of tuberculosis characterized by resistant to anti-TB drug (Anti Tuberculosis Drug). An MDR-TB event is a resistance event to 2 of the most effective anti-TB drugs which are rifampicin and isoniazid. Rifampicin and isoniazid are no longer effective in killing Mycobacterium tuberculosis bacteria due to its resistant to the drug. The purpose of this study is to identify any risk factors that can affect the incidence of tuberculosis with multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) in RSUD Ulin Banjarmasin. The variables in this study were knowledge, motivation and regularity of taking drugs. The research method was a cross sectional design using questionnaire to the patients. The population in this study was all patients with a diagnosis of multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB) and non-MDR TB patients who used as a comparison which were selected randomly. The results of this study indicate that the risk factor that has been shown to influence the incidence of MDR-TB was the regularity of taking medication (p-value <0.05). Therefore, to reduce the potential of MDR-TB sufferers to increase, it is necessary to pay attention to taking drug regularity of patient, ensuring that the patient is really routine and taking medication regularly.Keywords: RSUD Ulin Banjarmasin, MDR-TB (Multidrug-Resistant Tuberculosis), Tuberculosis
Optimasi Suhu dan Waktu Ekstraksi Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia jack.) Menggunakan Metode RSM (response surface methodology) dengan Pelarut Etanol 70% Khoerul Anwar; Farida Istiqamah; Samsul Hadi
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9085

Abstract

Akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia sebagai aprodisiaka. Ekstraksi akar tumbuhan ini dilakukan dengan berbagai pelarut yang salah satunya menggunakan etanol 70%.  Pemilihan pelarut ini dilakukan untuk memperoleh kandungan zat berkhasiat semaksimal mungkin yang ditandai dengan rendemen yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan waktu ekstraksi optimum pada proses ekstraksi akar E. longifolia dengan pelarut etanol 70%. Metode OFAT (One Factor at The Time) digunakan pada uji pendahuluan dan metode RSM (Response Surface Methodology) digunakan pada desain eksperimen dengan bantuan software MINITAB 17. Penelitian dilakukan menggunakan 13 titik perlakuan dengan kombinasi suhu dan waktu yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik optimum rendemen ekstraksi akar E.longifolia sebesar 4,07% diperoleh pada suhu 51,8oC dan waktu 12,13 jam dengan nilai D (desirability) sebesar 0,92. Uji validasi model RSM menunjukkan keakuratan sebesar 97,76%. Model persamaan regresi yang menggambarkan pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap rendemen akar E. longifolia adalah Y = - 70,1 + 2,536X1 + 1,387X2 – 0,02389X12 – 0,0464X22 – 0,00500X1X2. Kata Kunci: Eurycoma longifolia Jack., Suhu dan Waktu Ekstraksi, Metode RSM, Etanol 70%The root of the pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) has long been used as a traditional medicine by the Indonesian people as an aphrodisiac. Extraction of plant roots is carried out with various solvents, one of which uses ethanol 70%. The selection of this solvent was carried out to obtain the maximum possible active metabolite content which is characterized by high yield. This study aims to determine the optimum extraction temperature and time in the root extraction process of E. longifolia with 70% ethanol as solvent. The OFAT (One Factor at The Time) method was used in the preliminary test and the RSM (Response Surface Methodology) method was used in the experimental design with the help of MINITAB 17 software. The study was conducted using 13 treatment points with different combinations of temperature and time. The results showed that the optimum yield point of E. longifolia root extraction was 4.07% at a temperature of 51.8°C and extraction time of 12.13 hours with D (desirability) value of 0.92. The validation test of the RSM model shows an accuracy of 97.76%. The regression equation model that describes the effect of temperature and extraction time on the root yield of E. longifolia is Y = - 70.1 + 2.536X1 + 1.387X2 – 0.02389X12 – 0.0464X22 – 0.00500X1X2.
Analisis Profil Lipid Ikan Gelodok (Periophthalmodon schlosseri) di Desa Tanipah dan Desa Kuala Lupak Kalimantan Selatan Gusti Maharani; Hidayaturrahmah Hidayaturrahmah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8458

Abstract

Lipid adalah kelompok molekul alami yang berperan penting sebagai bahan bakar metabolisme, stabilitas membran sel dan komponen penting pada struktur sel didalam tubuh. Penelitian profil lipid ikan gelodok dilakukan dengan pemeriksaan kolesterol total, trigliserida, High Density Lipoprotein (HDL), dan Low Density Lipoprotein (LDL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa profil lipid yang ada pada ikan gelodok (Periothalmodon schlosseri) di perairan desa Kuala Lupak dan desa Tanipah, Kalimantan Selatan. Rancangan penelitian dilakukan secara eksploratif dengan menentukan lokasi pengambilan sampel. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah purposive sampling atau pengambilan sampel secara isidental berdasarkan pertimbangan heterogenitas lokasi sampel. Pemeriksaan profil lipid dilakukan dengan metode enzimatik. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu profil lipid ikan timpakul pada perairan desa Tanipah mengandung kolesterol total sebanyak 101.17±36.06 mg/dL, HDL Kolesterol 26.5±7.06 mg/dL, LDL Kolesterol 50±26.9 mg/dL dan trigliserida sebanyak 134.8±146.07 mg/dL, sedangkan hasil profil lipid pada desa Kuala Lupak mengandung kolesterol total sebanyak 76.09±25.7 mg/dL, HDL Kolesterol 24±11.3 mg/dL, LDL Kolesterol 27.8±16.2 mg/dL, dan trigliserida 97.3±90.2 mg/dL, berdasarkan hasil yang didapatkan mengindikasikan bahwa kadar profil lipid pada ikan gelodok memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai kadar normal ikan pada umumnya.Lipids are a group of natural molecules that important role as fuel metabolism, cell membrane stability and important components of cell structure in the body. The research of lipid fish lipid profiles was carried out by examining total cholesterol, triglycerides, High Density Lipoprotein (HDL), and Low Density Lipoprotein (LDL). This research aims to determine and analyze the existing lipid profile in the gelodok (Periothalmodon schlosseri) in the waters of Kuala Lupak and Tanipah villages, South Kalimantan. The research design was carried out exploratively by determining the location of sampling. The sampling technique used was purposive sampling based on consideration of heterogeneity of sample locations. Lipid profile examination was carried out using an enzymatic method. The results obtained in this study are the lipid profile of the lead fish in the waters of Tanipah village containing total cholesterol as much as 101.17 ± 36.06 mg / dL, HDL Cholesterol 26.5 ± 7.06 mg / dL, LDL Cholesterol 50 ± 26.9 mg / dL and triglycerides as much as 134.8 ± 146.07 mg / dL, while the results of the lipid profile in Kuala Lupak village contained 76.09 ± 25.7 mg / dL total cholesterol, HDL Cholesterol 24 ± 11.3 mg / dL, Cholesterol LDL 27.8 ± 16.2 mg / dL, and triglycerides 97.3 ± 90.2 mg / dL, based on the results obtained indicate that the lipid profile level in the mackerel fish has a lower value than the normal value of fish in general.Keywords: lipid, Perithalmodon schlosseri, total cholesterol, Lipoprotein, Triglycerides
Skrining Fitokimia dan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Binjai (Mangifera caesia) Terhadap Bakteri Escherichia coli Occa Roanisca; Robby Gus Mahardika
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.9166

Abstract

 Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang dapat menimbulkan infeksi saluran kemih, saluran empedu,  penyakit serius lainnya di rongga perut, dan keracunan makanan yang ditandai dengan diare. Penyakitinfeksiyang disebabkan oleh bakteri dapat diobati dengan mengonsumsi antibiotik. Akan tetapi, resistensi bakteri terhadap antibiotik telah dilaporkan. Oleh karena itu perlunya pencarian obat dari bahan alami. Berdasarkan kajian literatur, Binjai (Mangifera caesia) telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri daun binjaiasal Bangka terhadap bakteri Eschericha coli.  Metode ekstraksi pada penelitian ini adalah maserasi dengan pelarut etanol 96% selama 3 x 24 jam. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan pereaksi,dan pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Berdasarkan hasil pengujian fitokimia didapatkan bahwa ekstrak etanol daun binjaididuga mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin/fenol hidrokuinon, steroid, terpenoid dan saponin. Ekstrak etanol daun binjaimampu menghambat pertumbuhan bakteri E. colipada konsentrasi 20% dengan diameter zona beningsebesar 3.94 mm, konsentrasi 40% sebesar 5.38 mm, konsentrasi 60% sebesar 5,82 mm, serta pada konsentrasiekstrak 80% membentuk zona beningsebesar 6,90 mm.Berdasarkan data tersebut bioaktivitas antibakteri ekstrak daun binjai tergolong sedang. Kata Kunci: Mangiferacaesia, Escherichia coli, Antibakteri Escherichia coli is a Gram-negative bacteria that can cause urinary tract infections, bile ducts, other serious diseases in the abdominal cavity, and food poisoning characterized by diarrhea. Infectious diseases caused by bacteria can be treated by taking antibiotics. However, bacterial resistance to antibiotics has been reported. Therefore, it is necessary to search for drugs from natural ingredients. Based on literature review, Binjai (Mangifera caesia) has been reported to have antibacterial activity. The purpose of this study was to determine the content of secondary metabolites and antibacterial activity of Bangka binjai leaves against Eschericha coli bacteria. The extraction method in this study was maceration with ethanol for 3 x 24 hours. Phytochemical screening was carried out qualitatively using reagents, and antibacterial testing using the disc diffusion method. Based on the results of phytochemical testing, it was found that the ethanol extract of binjai leaves contained secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, tannins / phenol hydroquinones, steroids, terpenoids and saponins. Binjai leaf ethanol extract was able to inhibit the growth of E. coli bacteria at the concentration of 20% with a clear zone diameter of 3.94 mm, concentration of 40% of 5.38 mm, concentration of 60% of 5.82 mm, and concentration of 80% extractforming a clear zone of 6.90 mm. Based on these data, binjai leaves have the potential to be used as an antibacterial drug.
Review: Aktivitas Antihiperurisemia Beberapa Tanaman dari Arboretum Garut Puja Yanti; Anas Subarnas; Hesti Renggana
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.9101

Abstract

Hiperurisemia merupakan suatu kondisi berlebihnya kadar asam urat dalam darah. Hal ini dapat terjadi karena adanya kelebihan produksi asam urat dan kekurangan ekskresi asam urat, yaitu ditandai dengan kadar asam urat yang tinggi (> 7 mg/ dL). Jika hal tersebut terjadi secara terus-menerus maka akan terjadi gout arthritis. Di Arboretum Garut Terdapat banyak tanaman yang dapat digunakan sebagai antihiperurisemia seperti sirsak (Annona muricata L.), kayu manis (Cinnamomum burmanii), temu putih (Curcuma zedoaria), jamblang (Syzigium cumini), kersen (Muntingia calabura L.), pucuk merah (Syzigium myrrtifolium), dan salam (Syzigium polyanthum). Review jurnal ini membahas aktivitas antihiperurisemia beberapa tanaman yang berada di Arboretum Garut. Metode yang digunakan yaitu studi literatur beberapa jurnal yang didapat melalui situs google scholar, sciencedirect, Elsevier, dan sebagainya. Hasil yang didapat dari beberapa tanaman tersebut memiliki aktivitas antihiperurisemia dan tanaman yang memiliki persentase penurunan asam urat terbesar yaitu daun S. polyanthum dengan nilai persentase penurunan asam urat sebanyak 79,35%. Daun S. polyanthum memiliki potensi antihiperurisemia paling baik, sehingga perlu dikembangkan lebih banyak di Arboretum Garut. Kata Kunci: Arboretum, Asam Urat, Gout, Hiperurisemia, Tanaman Obat Hyperuricemia is a condition of excessive levels of uric acid in the blood. This can occur due to an overproduction of uric acid and a lack of uric acid excretion, which is characterized by high uric acid levels (> 7 mg / dL). If it happens continuously, gout arthritis will occur. In Garut Arboretum, there are many plants that can be used as antihyperuricemia such as soursop (Annona muricata L.), cinnamon (Cinnamomum burmanii), white turmeric (Curcuma zedoaria), java plum (Syzigium cumini), cotton candy berry (Muntingia calabura L.), pucuk merah (Syzigium myrrtifolium), and indian baywatch (Syzigium polyanthum). This journal review discusses the antihyperuricemia activity of several plants in Garut Arboretum. The method used is a literature study of several journals obtained from the google scholar site, sciencedirect, Elsevier, etc. The results show that several plants have antihyperuricemia activity and among those plants the S. polyanthum) have the highest reducing effect on blood uric acid with the reducing percentage of 79.35%.  The leaves of S. polyanthum plant have the best potential for antihyperuricemia, so this plant is suggested to be developed in the Garut Arboretum.
Studi Observasional Pola Penggunaan dan Tingkat Pengetahuan Tentang Anti Inflamasi Non Steroid pada Masyarakat Kelurahan Sungai Besar Kecamatan Banjarbaru Selatan Muhammad Rizki Akbar; Difa Intannia; Herningtyas Nautika Lingga
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.7772

Abstract

Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) merupakan golongan obat untuk nyeri dan inflamasi yang banyak digunakan di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik responden, pola penggunaan AINS, dan tingkat pengetahuan masyarakat di kelurahan Sungai Besar. Penelitian ini adalah penelitian noneksperimental dengan metode observasional deskriptif dengan teknik pengumpulan sampel menggunakan teknik quota sampling. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi berjumlah 96 responden. Instrumen penelitian berupa lembar kuesioner yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat kelurahan Sungai Besar yang menggunakan AINS adalah berjenis kelamin perempuan (56,25%), berumur 26–45 tahun (59,38%), berpendidikan SMA/SMK (43,75%), dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (36,64%). Pola penggunaan AINS meliputi jenis AINS yang digunakan adalah asam mefenamat (73,95%), waktu terakhir menggunakan obat 1 bulan terakhir (83,33%), cara memperoleh obat tanpa resep dokter (78,12%), tempat pembelian obat di apotek (83,33%). Tujuan pengobatan untuk mengurangi rasa nyeri (73,96%), bentuk sediaan obat yang digunakan sediaan tablet (100%), cara penggunaannya langsung diminum (100%), dan aturan pakai 3 x sehari (84,38%), responden tidak mengalami efek samping selama penggunaan AINS (83,33%), serta responden (96,87%) tidak memiliki kondisi penyakit lain/riwayat penyakit dalam penggunaan AINS. Tingkat pengetahuan responden terkait penggunaan AINS tinggi (77,08%). Kesimpulan dari penelitian ini responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang penggunaan obat AINS.Kata Kunci : AINS, Pola Penggunaan, Tingkat PengetahuanNon-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) are a class of drugs for pain and inflammation that are widely used in the community. The aim of this study was to identify the characteristics of the respondents, the pattern of using NSAIDs, and the level of knowledge of the people in the Sungai Besar village who had used NSAIDs. This research is a non-experimental research with descriptive observational method with quota sampling technique. The research sample that met the inclusion and exclusion criteria was 96 respondents. The research instrument is a questionnaire that has been tested for validity and reliability. The results showed that the Sungai Besar community who used AINS were female (56.25%), aged 26–45 years (59.38%), had a high school education (43.75%), and worked as housewives ( 36.64%). The pattern of NSAID use includes the type of NSAID used is mefenamic acid (73.95%), the last time using the drug in the last 1 month (83.33%), get medicine without a doctor's prescription (78.12%), buy medicine at the pharmacy (83 ,33%). The purpose of treatment is to reduce pain (73.96%), the dosage form of the drug used is tablet (100%), how to use it directly to drink (100%), and the rule of use 3 times a day (84.37%), respondents do not experience side effects during the use of NSAIDs (83.33%), and respondents (96.87%) did not have other disease conditions/history of disease in the use of NSAIDs. The level of knowledge of respondents related to the use of NSAIDs is high (77.08%). The conclusion of this study is that respondents have a high level of knowledge about the use of NSAIDs.