cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner
ISSN : 25409492     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner merupakan media elektronik yang digunakan sebagai wadah penyebaran hasil-hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang ditulis bersama dengan dosen pembimbingnya. Naskah/artikel yang diterbitkan telah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan penyunting JIMVET. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner untuk saat ini menerbitkan naskah ilmiah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner terbit dengan satu volume dan empat nomor dalam setahun (Fabruari, Mei, Agustus, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
DIAGNOSA ENDOMETRITIS PADA SAPI ACEH DENGAN MENGGUNAKAN ALAT METRICHECK DAN VAGINOSKOP (Diagnosis of Endometritis in Aceh Cattle Using Metricheck and Vaginoskop) Raivan Fazil; Ginta Riady; Razali Daud
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 4 (2019): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v3i4.12158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat akurasi diagnosa endometritis dengan menggunakan alat metricheck dan vaginoskop pada sapi aceh. Penelitian ini menggunakan 13 ekor sapi aceh betina. Diagnosa endometritis dengan menggunakan alat metricheck dan vaginoskop ditentukan berdasarkan kriteria leleran uterus dengan sistem skoring. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian dengan alat metricheck menunjukkan bahwa 10 ekor sapi aceh positif endometritis, sedangkan dengan alat vaginoskop menunjukkan bahwa 13 ekor sapi aceh negatif endometritis. Diagnosa endometritis pada sapi aceh lebih efektif menggunakan alat metricheck dibandingkan dengan alat vaginoskop. (This study aims to know the accuracy rate of diagnosis endometritis in aceh cattle using metricheck and vaginoskop. Data for this study were obtained from 13 aceh cattles. Diagnosis of endometritis was carried out by using metricheck and vaginoskop followed by the assessment of the uterine discharge using scoring system. Data were analysed descriptively. The result of metricheck showed that 10 aceh cattles were positive endometritis, while the vaginoskop showed that 13 aceh cattles were negative endometritis. Diagnosis of endometritis in aceh cattles was more effective using metricheck compared than vaginoskop.)
KEPADATAN JENTIK NYAMUK Aedes spp DI GAMPONG PEURADA, KECAMATAN SYIAH KUALA, KOTA BANDA ACEH (DENSITY OF Aedes spp LARVAE IN PEURADA VILLAGE, SYIAH KUALA SUBDISTRICT, BANDA ACEH CITY) farida athaillah; Muhammad Hanafiah; arif gumilar; yudha fahrimal; t fadrial karmil; Nuzul Asmilia
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 4 (2019): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v3i4.7236

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk Aedes spp di Gampong Peurada, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan metode single larva (survei). Wilayah survei meliputi dusun-dusun yang terdapat di Gampong Peurada yaitu Dusun Setia, Dusun Sentosa dan Dusun Bahagia dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 40 rumah setiap dusun, total sampel sebanyak 120 rumah. Data jentik yang diperoleh dari berbagai jenis wadah yang ditemukan di Gampong Peurada, dihitung kepadatan berdasarkan parameter indeks jentik yaitu House Index (HI), Container Index (CI) dan Bretau Index (BI). Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan nilai Density Figure (DF) adalah 3,3 atau pada rentang (2-5) yang termasuk dalam kategori kepadatan populasi sedang. Hasil tersebut didapatkan dari nilai  indeks jentik nyamuk Aedes spp di Gampong Peurada yaitu House Index (HI) : 17%, Container Index (CI) : 10%, Bretau Index(BI) : 27. (This study was aimed to determine the density of Aedes spp larvae in Peurada Village, Syiah Kuala Subdistrict, Banda Aceh City. This research was conducted by using single larvae method (survey). The survey area includes the hamlets located in Peurada Village, Setia Hamlet; Sentosa Hamlet and Bahagia Hamlet with the number of samples taken as many 40 houses each hamlet, total sample of 120 houses. The larvae data wer obtained from the various types of containers found in Gampong Peurada, were density calculated based on larvae index parameters is House Index (HI), Container Index (CI) dan Bretau Index (BI). The results of research which have been done got value density figure is 3,3 or included in medium density category with Density Figure number (2-5). The results got based on the index larvae of Aedes spp in Gampong Peurada obtained House Index (HI): 17%, Container Index (CI): 10%, Bretau Index (BI): 27.) 
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN MANGGIS 5% TERHADAP PERFORMA AYAM BROILER Suriawati Suriawati
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 4, No 2 (2020): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v4i2.15004

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai efisiensi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, nilai konversi pakan (FCR), tingkat penyakit dan angka mortalitas. Penelitian ini menggunakan 50 ekor ayam broiler umur 1 hari dari PT. Charoen Phokphand Jaya Farm. Setiap perlakuan terdiri dari 25 ekor DOC. Ransum yang digunakan pada periode starter adalah BR 311 dan pada periode grower adalah BR 512. Vaksinasi ND Lasota dengan cara tetes mata dilakukan pada hari ke 4 dan vaksinasi Gumboro dengan cara tetes mata dilakukan pada hari ke 11. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok perlakuan, P0 sebagai kontrol dan P1 ditambahkan  5% ekstrak daun manggis. Perlakuan dilakukan selama 35 hari. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif dengan  membandingkan diantara kedua kelompok perlakuan yaitu P0 dan P1. Hasil penelitian menunjukkan Pada Kelompok P0 konsumsi pakan dan berat badan normal, serta FCR normal. Pada kelompok P1 konsumsi pakan berkurang sebanyak 100 gr/ekor, pertambahan berat badan lebih tinggi yaitu 115 gr/ekor, FCR lebih kecil yaitu 0,16, tidak adanya penyakit, dan mortalitas lebih kecil yaitu 4,55%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun manggis 5 % melalui air minum pada ayam broiler dapat meningkatkan performa ayam broiler.Kata kunci: Ekstrak daun manggis, Performa, ayam broiler ABSTRACTThe aims of this research was to find out to determine the efficiency of feed consumption, body weight gain, feed conversion value (FCR), disease level and mortality rate. This study used 50 1 day-old broiler chickens from PT. Charoen Phokphand Jaya Farm. Each treatment consisted of 25 DOC. The ration used in the Starter Period is BR 311 and in the Grower period is BR 512. ND Lasota vaccination by eye drops was done on day 4 and Gumboro vaccination by eye drops was done on day 11. This study used 2 treatment groups, P0 as a control for drinking water without using mangosteen leaf extract and P1 giving drinking water 5% was added to mangosteen leaf extract. The treatment was carried out for 35 days. This research was analyzed descriptively by comparing between the two treatment groups namely P0 and P1. The results showed that in the P0 group normal feed intake, normal weight gain, normal FCR, the presence of diseases that attack such as coccidiosis and snots, high mortality. In the P1 group, feed consumption was reduced by 100 gr / head, weight gain was higher at 115 gr / head, FCR was lower at 0.16, there was no disease, and mortality was 4.55%. The conclusion of the study is that the administration of 5% mangosteen leaf extract through drinking water in broiler chickens can improve the performance of broiler chickens.Keywords: Mangosteen leaf extract, Performance, Broiler
STUDI HISTOLOGIS USUS HALUS SAPI ACEH (Histological Study Small Intestine of Aceh Cattle) Adi Firmansyah; Dian Masyitha; Zainuddin Zainuddin; Fitriani Fitriani; Ummu Balqis; Fadli A Gani; Azhar Azhar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 4 (2019): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v3i4.7235

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian tentang struktur histologis usus halus sapi aceh yang terdiri atas duodenum, jejunum dan ileum. Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur histologi usus halus sapi aceh. Sampel penelitian diambil dari 3 ekor sapi aceh yang telah dewasa kelamin dan berjenis kelamin jantan yang dipotong di Rumah Potong Hewan Lambaro Aceh Besar. Terhadap sampel penelitian dilakukan proses mikroteknik untuk selanjutnya dilakukan pewarnaan Hematoksilin-eosin (HE). Pengamatan terhadap struktur histologi menggunakan mikroskop cahaya binokuler pembesaran 40x, 100x, dan 400x. Hasil penelitian menunjukkan, struktur histologi duodenum, jejunum dan ileum sapi aceh tersusun atas empat lapisan, yaitu tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa. Tunika mukosa duodenum, jejunum dan ileum tersusun oleh epitel silindris selapis dan terdapat sel goblet. Ketebalan tunika mukosa duodenum yaitu: (396,68±6,5 µm), Jejunum (339,46±13 µm), dan Ileum (451,92±6,5 µm). Tunika submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar, buluh darah dan saraf. Tunika submukosa duodenum terdapat kelenjar brunner dan pada ileum terdapat nodulus limfoideus dengan ketebalan duodenum yaitu: (344,4±10 µm), Jejunum (227,98±7,8 µm), dan ileum (330,35±5,7 µm). Tunika muskularis tersusun oleh otot polos sirkular dan longitudinal dengan ketebalan masing-masing yaitu, duodenum (973,47±5,5 µm), Jejunum (475,5±9,8 µm)  dan ileum (670,51±13 µm). Tunika serosa merupakan lapisan paling luar dari usus halus dengan ketebalan berturut-turut yaitu, (335,34 ±7,4 µm) duodenum, (231,33±6,9 µm) jejunum dan (354,67±11 µm) ileum.Kata kunci: Usus halus, duodenum, jejunum, ileum, sapi aceh ABSTRACTA Study to detect the microscopic structure of small intestine (duodenum, jejunum and ileum) of aceh cattle. The aims of this research was to know the histological structure of the small intestine in aceh cattle. The samples were collected from 3 of male aceh cattle in Lambaro Aceh Besar abattoir. The tissue samples were processed by microtechnique and Hematoksilin-eosin (HE). Microscopic analysis was performed using binocular light microscope 40x, 100 x, and 400x. The study showed that the wall of the duodenum, jejunum, and ileum are made up of four layers, that was tunica mucosa, submucosa, muscularis, and serosa. Tunica mucosa duodenum, jejunum and ileum consisted of ephitelium simple columnar cells and goblet celss. The thick of tunica mucosa duodenum are (396,68±6,5 µm), jejunum (339,46±13 µm), and ileum (451,92±6,5 µm).  The submucosa contain connective tissue, arteriole, venole and nervous. The submucosa duodenum conside of glands brunners and ileum of nodulus limfoideus and thick of tunica submucosa duodenum are (344,4±10 µm),  jejunum (227,98±7,8 µm), and ileum (330,35±5,7 µm). Tunica muscularis consists of two layers of smooth muscle inner circular and longitudinal. The thick of tunica mucularis are (973,47±5,5 µm) duodenum, (475,5±9,8 µm) jejunum and (670,51±13 µm) ileum. The tunika serosa forms the outermost layer with thick (335,34 ±7,4 µm) duodenum, (231,33±6,9 µm), jejunum and (354,67±11 µm) ileum.Keyword: Small intestine, duodenum, jejunum, ileum, sapi aceh
GAMBARAN HISTOPATOLOGIS LIMPA JANTAN IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) YANG TERPAPAR MERKURI KLORIDA (HgCl2) Muzdalifah Mariska; Nazaruddin Nazaruddin; T Armansyah TR
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 4, No 1 (2019): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v4i1.4842

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui efek paparan merkuri klorida (HgCl2) terhadap gambaran histopatologis limpa ikan mujair. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang menggunakan 36 ekor ikan mujair yang dikelompokkan ke dalam 4 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol (P0) kelompok yang tidak diberikan paparan merkuri dan kelompok perlakuan P1, P2, dan P3 yang diberikan paparan merkuri dengan konsentrasi masing-masing 0,25; 0,50; dan 0,75 ppm per 100 liter air, masing-masing kelompok terdiri atas 9 ekor ikan. Pengambilan sampel dilakukan pada hari ke-10, 20, dan 30 untuk dibuat preparat histopatologis. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran histopatologis limpa mengalami perubahan berupa meningkatnya jumlah melanomakrofag centres (MMC), nekrosis, vakuolisasi, edema, dan pada hari ke-30 setelah pemaparan ditemukan proliferasi jaringan ikat. Jumlah MMC pada hari ke-10 masing-masing kelompok perlakuan 15,00±5,57; 85,67±14,98; 110,67±16,68; 160,33±16,77, pada hari ke-20 masing-masing kelompok perlakuan 22,00±7; 116,67±14,47; 114±6,24; 134,33±16,50; dan pada hari ke-30 masing-masing kelompok perlakuan 20,00±4,36; 121,33±15,04; 133,33±14,47; 142,00±34,22. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa konsentrasi HgCl2 berpengaruh nyata (P0,05) terhadap jumlah MMC limpa ikan mujair, namun lama paparan dan interaksi tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P0,05). Disimpulkan bahwa paparan HgCl2 pada ikan mujair menyebabkan perubahan gambaran histopatologis limpa yang ditandai dengan meningkatnya jumlah MMC, nekrosis, vakuolisasi, edema, dan proliferasi jaringan ikat.ABSTRACT This study aimed to determine the effect of mercury chloride (HgCl2) exposure on histopathologic of spleen tilapia fish. This research was an experimental study using Completely Randomized Design factorial pattern used 36 tilapia fish grouped into 4 treatment groups, control (P0) was without exposed by mercury and treatment group P1, P2, and P3 exposed by mercury with a concentration of 0.25; 0.50; and 0.75 ppm per 100 liters of water, each group contained 9 fish. Sampling was conducted on 10, 20, and 30 days then proceed to histopathology preparations. The data obtained were analyzed statistically and descriptively. The results showed that histopathologic of spleen reveated the increasing number of melanomakrofag centres (MMC), necrosis, vacuolation,  oedema, and proliferation of connective tissue on the 30th day. The number of MMC on day 10 of each treatment group was 15,00±5.57; 85.67±14.98; 110.67±16.6;, 160.33±16.77; on day 20 of each treatment group was 22,00±7; 116.67±14.47; 114±6.24; 134.33±16.50; and on day 30 of each treatment group was 20,00±4.36; 121.33±15.04; 133.33±14.47; 142,00±34.22. The result of analysis of variance (anava) factorial with 95% confidence level showed that HgCl2 concentration significantly (P0.05) to MMC in spleen of mujair fish, but long exposure and interaction did not show significant effect (P0.05). In conclusion, HgCl2 exposure in tilapia fish causes spleen damage characterized by the increase number of MMC, necrosis, vacuolation, oedema, and proliferation of connective tissue.
NILAI SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE (SGOT) DAN SERUM GLUTAMIC PYRUVIC TRANSAMINASE (SGPT) KELINCI SETELAH IMPLAN PLATE BERBAHAN LOGAM (THE VALUE OF SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE (SGOT) AND GLUTAMIC PYRUVIC TRANSAMINASE (SGPT) OF RABBITS AFTER METAL PLATES IMPLANT) Anta Rezky Sitepu; Erwin Erwin; Muhammad Hasan; Sugito Sugito; Al Azhar; Razali Razali
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 4, No 2 (2020): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v4i2.11413

Abstract

ABSTRAK                Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan nilai Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) kelinci setelah implan plate berbahan logam. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kelinci yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diimplan plate berbahan tantalum dan kelompok 2 diimplan plate berbahan besi. Pengambilan darah melalui vena auricularis dilakukan pada hari ke 0, 7, 14, 28, dan 56. Hasil penelitian menunjukkan nilai SGOT dan SGPT meningkat pada beberapa hari pertama pengamatan dan menurun kembali pada beberapa hari terakhir pengamatan yang masih dalam batas normal. Penggunaan implan plate tantalum dan plate besi alternatif menyebabkan perubahan nilai SGOT dan SGPT pada beberapa hari pengamatan.Kata Kunci : SGOT, SGPT, Plate, Tantalum, Besi ABSTRACT            This study aims to determine changes in Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) and Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) values of rabbit after a metal implant plate. This study used 6 rabbits divided into 2 groups. Group one implanted a plate made from tantalum and group two implanted with alternative iron plates. Blood collection through the auricular vein was carried out on days 0, 7, 14, 28, and 56. The results showed that the value of SGOT and SGPT increased in several days of observation and increased again on the final day which was still within normal limits. The use of tantalum implants and alternative iron plates causes changes in the value of SGOT and SGPT on several days of observation.Keyword : SGOT, SGPT, Plate, Tantalum, Iron
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI GEN CALPAIN (CAPN1) PADA KAMBING KACANG (Identification and Characterization of the Calpain Gene (CAPN1) in Kacang Goat sri rezeki; T Zahrial Helmi; Herrialfian Herrialfian; M Hasan; M Jalaluddin
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 4 (2019): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v3i4.7829

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan karakteristik gen calpain untuk perbaikan mutu genetik pada kambing kacang (Capra hircus). Sampel penelitian yang digunakan adalah darah yang diambil dari 5 ekor kambing kacang yang dipelihara di UPT Hewan Coba FKH Unsyiah Banda Aceh. Tahap pertama dilakukan isolasi DNA dari darah, tahap kedua dilakukan elektroforesis, hasil ekstraksi kemudian dilanjutkan dengan optimasi suhu annealing, amplifikasi dan sekuensing. Hasil sekuensing dianalisis menggunakan software program Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) dan Clustal W dari program Mega 6.01. Hasil optimasi suhu annealing diperoleh suhu 56°C merupakan suhu yang tepat untuk melakukan amplifikasi. Semua sampel yang diteliti amplifikasi gen calpain diperoleh hasil sepanjang 709 bp sesuai dengan primer yang digunakan. Hasil analisis program BLAST dan program Mega 6.01. menunjukkan kekerabatan yang sangat dekat, ditandai dengan berada pada satu cabang dari pohon filogenetik dan hasil urutan gen calpain (CAPN1) kambing kacang (Capra hircus) memiliki kedekatan dengan gen calpain Capra hircus breed Barbari sebesar 98%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gen calpain pada kambing kacang yang teramplifikasi sepanjang 709 bp, dan mempunyai kedekatan sekuen nukleotida dengan gen calpain pada beberapa jenis kambing lainnya dan dapat digunakan untuk perbaikan mutu genetik kambing kacang.(The aim of this research was to find out the presence and characteristics of calpain genes for the improvement of genetic quality in kacang goat (Capra hircus). The sample for research using blood taken from 5 Capra hircus which kept in UPT Animal Laboratory of FKH Unsyiah, Banda Aceh. The first stage is DNA isolation from blood, the second stage is electrophoresis, the extraction then continued with optimization of annealing temperature, amplification and sequencing. The results of sequencing analyzed using software program named Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) and Clustal W from program Mega 6.01. Annealing temperature optimization results obtained temperature of 56 ° C is the proper temperature to do amplification. All samples studied with calpain gene amplification gained results of 709 bp according to the primary used. Results of BLAST program analysis and Mega 6.01 program. shows a very close genetic relationship, characterized by being on the same branch of phylogenetic tree and the result sequence of  calpain gene (CAPN1) of the goat (Capra hircus) possessing proximity to the calpain genes Capra hircus breed of Barbari by 98%. The results of this study can be concluded that the calpain gene in Capra hircus is amplified by 709 bp, and has the adjacency of nucleotide sequence with the calpain gene in some other types of goats and can be used as a genetic improvement for Capra hircus).
Kualitas Spermatozoa Sapi Aceh Pasca Pembekuan dengan Menggunakan Pengencer Sitrat Kuning Telur Angsa dengan Konsentrasi yang Berbeda (Quality of Aceh Cattle Spermatozoa Post-Freeze Using Diluent of Goose Egg Yolk Citrate with Different Concentration) Tri Putri Purnama Sari; Dasrul Dasrul; Hamdan Hamdan
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 4, No 1 (2019): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v4i1.4804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kuning telur angsa berbagai konsentrasi pada media sitrat terhadap kualitas spermatozoa sapi aceh pasca pembekuan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 kelompok perlakuan pengencer sitrat kuning telur angsa 5% (K1), pengencer sitrat kuning telur angsa 10% (K3), pengencer sitrat kuning telur angsa 15% (K3), dan pengencer sitrat kuning telur angsa 20% (K4). Masing-masing kelompok diulangi sebanyak 5 kali. Sampel semen dikoleksi dari 1 ekor sapi aceh jantan sehat berumur 3 tahun menggunakan vagina buatan satu kali dalam seminggu selama lima minggu. Semen yang berkualitas baik diencerkan dengan media sitrat kuning telur sesuai perlakuan dan dikemas dalam mini straw. Selanjutnya diequilibrasi selama 4 jam pada suhu 50C dalam cool top. Kemudian dilakukan pembekuan di atas uap nitrogen cair selama 12 menit dan disimpan di dalam kontainer berisi nitrogen cair (-196ºC). Setelah penyimpanan selama 1 minggu, masing-masing semen beku perlakuan thawing untuk di evaluasi kualitasnya. Data kualitas spermatozoa dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Rata-rata persentase motilitas, spermatozoa hidup dan membran plasma utuh spermatozoa setelah pembekuan pada kelompok pengencer sitrat kuning telur angsa 15% (K3); lebih tinggi dari pada sitrat kuning telur angsa 5% (K1); 10% (K2) dan 20% (K4). Simpulan penggunaan kuning telur angsa 15% dalam pengencer sitrat dapat mempertahankan motilitas, spermatozoa hidup dan membran plasma utuh spermatozoa sapi aceh setelah pembekuan yang lebih baik dibanding kuning telur angsa 5%, 10% dan 20%. This research aims to know the effect of using goose yolk various concentrations in citrate medium to the quality of post-freeze aceh cattle spermatozoa. This research used complete randomized design (CRD)  with 5 groups of 20% chicken yolk citrate dilution treatment (K0); 5% diluent of goose yolk citrate (K1); 10% diluent of goose yolk citrate (K3); 15% diluent of goose yolk citrate (K4). Each groups is repeated 5 times. Semen samples were collected from one 3-years-old male aceh cattle using artificial vagina once a week for five weeks. The good quality semen is diluted by the yolk citrate appropiate to treatment and packed in a mini straw. Afterwards equilibrated for 4 hours at 5°C in cool top. Then freezing on liquid nitrogen vapor for 12 minutes and stored in containers of liquid nitrogen at a temperature of -196°C. After storaging for 7 days, each frozen semen thawing treatment for the quality evaluation. The spermatozoa quality data were obtained in the ANOVA analysis and obtained by Duncan tests. Average motility percentage, alive spermatozoa and spermatozoa MPU after freezing in 15% diluent of goose yolk (K3); higher than 5% goose yolk (K1); 10% (K2) and 20% (K4) but not different with 20% chicken yolk citrate (K0). In conclusion,  using 15% goose yolk in citrate diluent can maintain mortality, alive spermatozoa and  spermatozoa MPU Aceh cattle after better freezing than 5%, 10% and 20% goose yolk.
Pengaruh Crossbreeding Ayam ALPU dan Kamaras terhadap Kadar Protein pada Daging Dada Ayam Alaras; The Effect of Crossbreeding between ALPU and Kamaras Chicken on Protein Content in Alaras Chicken Breast Meat Elsha Amalia Putri; M Aman Yaman; Sugito Sugito; Triva Murtina Lubis; M Jalaluddin; Rastina Rastina
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 4, No 2 (2020): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v4i2.4527

Abstract

ABSTRAK       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh crossbreeding ayam ALPU dan Kamaras terhadap kadarprotein pada daging dada ayam Alaras. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah daging dada ayam Alaras hasil persilangan ALPU dan Kamaras yang berumur 90 hari sebanyak 12 ekor.Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 kelompok perlakuan dan 3 kali ulangan.Setiap kelompok terdiri atas 3 ekor ayam.Analisakadar protein menggunakan ujiproksimatdengan metode Kjehdahl.Hasil  rata-rata (± SD) kadar protein pada daging dada ayam hasil persilangan ALPU (AmAb), Alaras1 (AmKb), Kamaras (KmKb) dan Alaras2 (KmAb) secara berturut-turut yaitu 22.86±0.94 %, 23.99±1.26 %, 23.92±1.74 % dan 22.89±0.83 %. Dari hasil analisa statistik menunjukkan bahwa crossbreeding tidak berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kadar protein pada daging dada ayam Alaras.Kata kunci: Alaras, Protein, Daging Dada ABSTRACT         The objective of this research was to determine the effect of crossbreeding between ALPU and Kamaras chicken on protein content in Alaras chicken breast meat. Samples were of this research were breast meat from 12 chickens (age 90 days). The research design usedwas a completely randomized design (RAL) with 4 treatments and 3 replications of each. Each treatments consisted  3 chickens.Protein content were analyzed by proximate analysis with Kjehdahl method. The result of protein content in breast meat crossbred chicken ALPU (AmAb), Alaras1 (AmKb), Kamaras (KmKb) and Alaras2 (KmAb) were 22.86±0.94 %; 23.99±1.26;  23.92±1.74 % and 22.89±0.83 % respectively. Based on statistical analysis of this research showed that crossbreeding did not effect significantly (P0.05) on protein content in Alaras chicken breast meat.Keywords: Alaras, Protein, Breast Meat              
Kajian Molekuler Karakteristik Gen Calpastatin (CAST) pada Kambing Boerka (Capra Hircus) sri yuliati; T. Zahrial Helmi; Rinidar Rinidar; Ummu Balqis; erwin erwin; Rosmaidar Rosmaidar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 4 (2019): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v3i4.7831

Abstract

ABSTRAKGen yang yang dapat mempengaruhi keempukan daging salah satunya adalah gen calpastatin (CAST). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik gen CAST pada kambing boerka secara molekuler. Sampel penelitian yang digunakan adalah darah yang diambil dari 5 ekor kambing boerka yang dipelihara di UPT Hewan Coba Universitas Syiah Kuala. Metode yang digunakan yaitu dengan polymerase chain reaction (PCR), elektroforesis dan sekuensing DNA. Gen CAST pada kambing boerka berhasil diamplifikasi dengan suhu 59°C sebesar 1552 bp. Sebanyak 5 sampel yang telah di PCR dilakukan sekuensing. Hasil sekuensing dianalasis menggunakan software program Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) dan Clustal W dari program Mega 6.01. Hasil analisis menunjukkan bahwa gen CAST pada kambing boerka memiliki kemiripan dengan gen CAST pada Ovis  aries dan Bos taurus. Karakteristik gen CAST pada kambing boerka diantaranya memiliki panjang pasangan basa yang dapat teramplifikasi sebesar 1552 bp menggunakan suhu annealing 59°C dan memiliki kemiripan sekuen dengan gen CAST pada Ovis aries dan Bos taurus sesuai data yang ada di Genbank serta adanya variasi jarak genetik antar sampel kambing boerka.Kata kunci : Calpastatin, PCR, sekuensing , kambing boerka. ABSTRACT                Genes that can affect the tenderness of one of them is the calpastatin (CAST) gene. The aim of this research was to find out the characteristic of CAST gene in boerka goats. The sample of research used blood collected from 5 boerka goats which kept in UPT Hewan Coba Syiah Kuala University. The method used with polymerase chain reaction (PCR), elektoforesis and DNA sequencing. CAST gene on boerka goats was successfully amplified with a temperature of 59 ° C for 1552 bp. A total 5 samples have been in PCR in sequencing. The results of sequencing in analytics using software Local Basic Alignment Search Tool (BLAST) and Clustal W program from Mega 6.01 program. The results showed that the CAST gene in boerka goats had similarities with the CAST gene in Ovis aries and Bos taurus . Characteristics CAST gene in boerka goats such as having an alkaline pair length that can be amplified by 1552 bp using annealing temperature of 59 ° C and sequence similarity with CAST gene on Ovis aries and Bos taurus according to existing data in Genbank and the variation of genetic distance between samples of boerka goats.Keywords : Calpastatin, PCR, sequensing, boerka goat