cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 1,116 Documents
Supplementation of Trace Mineral in Dry Feed Potential as Immunomodulator Against Aeromonas hydrophila Infection of African Catfish Indira Tiffani P Putri; Rifky Rizkiantino; Sarasati Windria; Andi Hiroyuki
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/veteriner.2024.25.1.44

Abstract

This study explored the potential trace mineral in increasing the immune response of juvenile African catfish (Clarias gariepinus) against the infection caused by Aeromonas hydrophila, which is highly prevalent in aquaculture. The experiment involved five groups that were given different treatments, which consisted of A (negative control), B (positive control), C (2 g/kg of trace mineral in feed), D (4 g/kg of trace mineral in feed), and E (6 g/kg of trace mineral in feed), with each treatment repeated thrice. The experimental fish underwent three days of acclimation before the experimental period, followed by two weeks of treatments in each respective group, and a challenge test by A. hydrophila injection given post-supplementation accompanied by observation, which lasted for a week. The final observation was made on day 8 post-infection, with significant findings revealed in the results. The results showed the survival rate (%) and total leukocyte counts (TLC) of experimental African catfish treated with trace mineral supplementation (groups C, D and E) were remarkably higher than the positive control (group B) after infected by A. hydrophila (P<0.05). Furthermore, groups C and D showed increased lymphocyte and monocyte percentages compared to other treatments (P<0.05). These results indicate that trace mineral supplementation has the potential to be an immunomodulator through its inclusion within the diet of juvenile catfish and its promising effect in boosting their immunity against infection.
Pengimbuhan Serbuk Sari Lebah Meningkakan Kadar Follicle Stimulating Hormone dan Sedikit Mengganggu Hati Tikus yang Dipapar Asap Rokok Kamaliya Alawiyah Yahya; Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi; Ni Luh Eka Setiasih
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.470

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk sari lebah/bee pollen terhadap gambaran histologi hati dan kadar hormon FSH tikus putih betina (Rattus norvegicus) yang dipapar asap rokok. Penelitian ini menggunakan 24 sampel yang dikelompokan secara acak menjadi empat kelompok yakni kelompok kontrol negatif yaitu tikus tanpa diberikan paparan asap rokok, kelompok kontrol positif yaitu tikus yang diberikan paparan asap rokok tanpa bee pollen, kelompok perlakuan yang pertama yaitu tikus diberikan paparan asap rokok dan diberikan bee pollen sebanyak 9 mg/ekor satu kali sehari dan kelompok perlakuan yang kedua yaitu tikus diberikan paparan asap rokok dan diberikan bee pollen sebanyak 9 mg/ekor dua kali sehari yaitu pagi dan malam hari secara peroral. Perlakuan yang sama dilakukan dalam jangka waktu 14 hari. Pengamatan terhadap histologi hati dilakukan dengan melihat perubahan secara deskriptif menggunakan mikroskop cahaya binokuler pada lima lapang pandang secara mikroskopik denganpembesaran 40, 100 dan 400 kali. Pengukuran kadar hormon FSH menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pada gambaran histologi hati menunjukkan adanya kongesti, degenerasi, dan nekrosis pada semua kelompok perlakuan kecuali, kelompok kontrol yang menunjukkan gambaran hepatosit normal. Hasil pengukuran kadar hormon FSH menunjukkan peningkatan, kadar FSH berturut-turut dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi yaitu didapatkan pada semua kelompok perlakuan dan kontrol. Berdasarkan hasil gambaran histologi dan kadar FSH pemberian bee pollen tidak berpengaruh signifikan terhadap gambaran histologi hati, akan tetapi pemberian bee pollen meningkatkan kadar FSH tikus putih betina (R. norvegicus) yang dipapar asap rokok.
Uji Kombinasi Daun Bangun-Bangun (Coleus amboinicus Lour) dan Jahe Putih (Zingiber officinale) terhadap Kesehatan dan Keamanan Ayam Pedaging Andriyanto Andriyanto; Aulia Andi Mustika; Wasmen Manalu; Rindy Fazni Nengsih; Hamdika Yendri Putra; Silmy Kamila Widyanti; Leliana Nugrahaning Widi; Lina Noviyanti Sutardi
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.164

Abstract

ABSTRAK Daging ayam merupakan salah satu produk asal ternak yang memiliki angka konsumsi cukup tinggi, karena mudah diperoleh, pertumbuhannya cepat, dan harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan produk asal ternak besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian simplisia kombinasi daun bangun-bangun dan jahe putih (DBJP) terhadap performa ayam pedaging, terutama dalam hal kesehatan dan keamanannya. Sebanyak 60 ekor ayam pedaging day old chick strain Cobb dibagi menjadi empat kelompok perlakuan dengan 15 ulangan. Ayam percobaan diberi DBJP secara oral dengan dosis 0 (kontrol) dan dosis perlakuan dengan rasio DBJP 1:1 (62,5, 125, 187,5) mg/100 mL air minum. Pemberian simplisia DBJP dilakukan selama 28 hari melalui air minum yang dimulai pada hari ke-8 sampai dengan hari ke-35. Variabel penelitian yang diukur terdiri atas kesehatan (eritrogram, leukogram, rasio H/L), fungsi hati (SGPT, SGOT), dan fungsi ginjal (ureum, kreatinin). Pemberian simplisia DBJP pada semua dosis tidak menyebabkan perubahan pada profil darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pemberian simplisia DBJP dengan rasio 1:1 melalui air minum dapat meningkatkan kesehatan dan aman digunakan pada ayam pedaging.
Perubahan Lesi Makroskopis pada Anjing Kampung Penderita Dermatitis Setelah Dimandikan dengan Eco Enzyme Annisa Budiani; I Nyoman Suartha; Sri Kayati Widyastuti
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.62

Abstract

Penyakit yang paling umum dijumpai pada hewan kesayangan salah satunya ialah penyakit kulit (dermatitis). Gabungan klinis dari lesi primer dan lesi sekunder dapat teramati sebagai tanda klinis pada anjing penderita dermatitis. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan kesembuhan lesi yang dilihat dari perubahan lesi makroskopis pada kulit anjing penderita dermatitis pascapemberian eco enzyme. Anjing yang dijadikan sebagai objek penelitian merupakan anjing kampung dengan rentang umur 5-6 bulan, dan berjeniskelamin betina. Objek penelitian adalah anjing dermatitis yang memiliki keparahan lesi spesifik yaitu lesi yang kompleks gabungan antara lesi primer dan lesi sekunder dengan penyebaran lesi berupa multifokal-ektensif. Sampel penelitian sebayak lima ekor anjing penderita dermatitis dibagi menjadi dua kelompok. Pada Kelompok A, terdiri atas tiga sampel anjing dermatitis dimandikan dengan eco enzyme 10% tiga hari sekali. Pada Kelompok B yaitu terdiri atas dua sampel anjing dermatitis dimandikan dengan eco enzyme10% tiga hari sekali, sebanyak tiga kali mandi kemudian dilanjutkan dimandikan dengan eco enzyme 2% satu minggu sekali. Kedua kelompok diamati setiap tiga hari sekali dimulai dari hari ke-0 hingga hari ke-33. Data dianalisis dengan Uji Friedman dan Uji Wilcoxon, kemudian dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian eco enzyme dapat membantu dalam perbaikan kondisi lesi hingga lesi mengering, papula, eritema dan krusta berkurang, merangsang pertumbuhan rambut hingga tidak dijumpai lagi adanya lesi primer maupun lesi sekunder. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan pemberian eco enzyme berpengaruh nyata terhadap proses kesembuhan lesi anjing penderita dermatitis dan didapatkan bahwa eco enzyme dengan konsentrasi 2% efektif digunakan untuk pengobatan dermatitis.
Struktur dan Morfometri Ginjal Itik Bali (Anas sp.) pada Fase Pertumbuhan Ni Putu Dewi Setia Sari; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Ketut Suatha
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.374

Abstract

Ginjal merupakan organ ekskresi yang berperan dalam membuang zat sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan lagi di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri ginjal itik bali (Anas sp.) dengan jenis kelamin berbeda pada fase pertumbuhan/ grower. Penelitian menggunakan 32 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok jenis kelamin masing-masing 16 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur dianalisis dengan deskriptif kualitatif,sedangkan data morfometri digunakan uji Independent sample T-test dengan program SPSS. Hasil pengukuran ginjal itik bali jantan diperoleh panjang ginjal kanan 7,256 + 0,388 cm, panjang ginjal kiri 7,175 + 0,437 cm, bobot ginjal kanan 3,50 + 0,61 g, bobot ginjal kiri 3,487 + 0,497 g, volume ginjal kanan 0,350 + 0,103 cm3, volume ginjal kiri 0,362 + 0,088 cm3, glomerulus tipe mamalia 34,025 + 2,931 ?m dengan lebar bowman 8,173 + 2,447 ?m, glomerulus tipe reptil 14,777 + 2,300 ?m dengan lebar ruang bowman 6,676 + 1,780 ?m. Hasil pengukuran ginjal itik bali betina diperoleh panjang ginjal kanan 6,812 + 0,263 cm, panjang ginjal kiri 6,781 + 0,299 cm, bobot ginjal kanan 4,012 + 0,464 g, bobot ginjal kiri 3,987 + 0,401 g, volume ginjal kanan 0,418 + 0,116 cm3, volume ginjal kiri 0,393 + 0,106 cm3, glomerulus tipe mamalia 43,443 + 4,686 ?m dengan lebar bowman 9,068 + 3,483 ?m, glomerulus tipe reptil 23,312 + 2,761 ?m dengan lebar ruang 6,390 + 1,995 ?m. Hasil pengujian terhadap panjang bobotginjal dan ginjal menunjukkan berbeda nyata P<0,05, sedangkan volume ginjal tidak berbeda nyata P>0,05. Hasil pengujian terhadap glomerulus tipe mamalia dan glomerulus tipe reptil menunjukkan berbeda nyata P<0,05. Struktur anatomi danhistologi antara ginjal itik bali jantan dan betina adalah sama, sedangkan morfometri anatomi dan histologi ginjal itik bali jantan dengan betina berbeda.
Pemberian Monosodium Glutamat Selama Masa Organogenesis Meningkatkan Perkembangan Embrio Cacat pada Mencit Lisa Savitri; Elfred Rinaldo Kasimo; Rochmad Krissanjaya
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.328

Abstract

Monosodium glutamate (MSG) biasanya berbentuk kristal halus dan berwarna putih. Senyawa MSG dibuat melalui proses fermentasi dari bahan dasar pati (gandum) dan gula molasses (tetes tebu) yang diberi nama sebagai garam natrium dan asam glutamat. Pemberian MSG selama induk mencit bunting bersifat embriotoksik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksik MSG pada perkembangan embrio selama masa organogenesis. Penelitian pemberian MSG terhadap mencit dimulai pada kebuntingan hari ketujuh yaitu pada tahap organogenesis. Perlakuan dosis MSG yang diberikan adalah dosis 528 mg/kg BB, 696 mg/kg BB, dan 872 mg/kg BB. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah fetus hidup atau mati dalam rahim pada kebuntingan hari ke-18, di samping morfologi fetus, bobot fetus dan perkembangan tulang rangka fetus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MSG yang dilakukan secara terus menerus sejak kebuntingan hari ke-7 hingga 16 membuat MSG tersebut masuk ke dalam tubuh induk mencit yang tidak memiliki kemampuan untuk menetralisir dan mendetokfikasi senyawa-senyawa kimia sehingga terakumulasi pada embrio mencit. Zat-zat tersebut mencapai embrio melalui pembuluh darah dan memengaruhi perkembangan fetus mencit. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh MSG terhadap perkembangan fetus mencit (Mus musculus) selama periode organogenesis di antaranya yaitu kecacatan pada mata (mikropthalmia dan anoftalmia), hidrosefalus ringan, jumlah metakarpal, jumlah metatarsal, dan ruas cervikal vertebrae tidak sama panjang. Abnormalitas perkembangan fetus mencit selama periode organogenesis meningkat sejalan dengan peningkatan dosis MSG yang diberikan dan bervariasi antar perlakuan. Semakin tinggi dosis MSG yang diberikan pada induk mencit bunting, maka semakin sedikit jumlah fetus yang hidup. Dapat disimpulkan bahwa MSG memengaruhi perkembangan fetus mencit selama masa organogenesis.
Laporan Kasus: Studi Morfopatologi Demam Babi Afrika pada Babi di Bogor, Jawa Barat Rahayu Woro Wiranti; Dwi Utari Rahmiati; Aldo Yanuar Wuriyantara; Okti Nadia Poetri; Ekowati Handharyani
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.564

Abstract

Demam Babi Afrika atau African swine fever (ASF) adalah penyakit menular yang dapat terjadi pada ternak babi dan babi liar. Penyakit tersebut disebabkan oleh virus ASF. Gejala klinis sangat bervariasi dari kasus yang terjadi perakut, akut, subakut dan kronis tergantung pada virulensi virus. Kejadian ASF dapat menyebabkan angka kematian tinggi pada babi, penurunan kondisi sosial, dan ekonomi termasuk kontaminasi lingkungan. Berdasar beberapa pertimbangan masalah tersebut, maka akan sangat bermakna bila dilakukan studi morfopatologi dan klarifikasi terhadap kejadian ASF pada babi (Sus scrofa domesticus). Kajian saat ini dilaksanakan dengan melakukan prosedur nekropsi terhadap dua ekor babi umur empat bulan, yaitu dengan melakukan pemeriksaan kondisi tubuh dan organ-organ interna. Sampel organ diambil untuk pemeriksaan histopatologi yang selanjutnya diwarnai dengan hematoksilin-eosin (HE). Pemeriksaan lanjut dilakukan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) menggunakan primer universal (p72 dan p54). Hasil pemeriksaan makroskopik menunjukkan bahwa beberapa bagian kulit mengalami erythema, terjadi splenitis hemoragi, enteritis hemoragi disertai dengan lymphadenopathy pada limfonodus mesenterika dan terjadi hemoragi pada meningen dan pembuluh darah di otak. Hasil pemeriksaan histopatologimenunjukkan lesi pada organ limforetikuler seperti limpa dan limfonodus mesenterika, yaitu radang limfositik disertai hemoragi. Pemeriksaan pada otak menunjukkan lesi radang limfositik disertai hemoragi pada selaput meningen. Hasil pemeriksaan molekuler dengan metode PCR memberikan konfirmasi bahwa penyakit disebabkan oleh virus ASF. Berdasarkan hasil pemeriksaan komprehensif secara makroskopik, mikroskopik dan evaluasi PCR dapat disimpulkan bahwa kedua ekor babi tersebut menderita infeksi ASF tipe akut.
Diagnosis and Treatment of Constipation and Bladder Contusion Hematuria Due to Trauma in a Cat Novericko Ginger Budiono; Rahmaulana Bayu Dewaruci; Nurul Annisa Tuliman; Zahrizada Zamrudina; Arni Diana Fitri
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.279

Abstract

two-year-old, spayed female, calico, domestic shorthair cat (Felis catus) was admitted to IPB University Veterinary Teaching Hospital with a history of hematuria, constipation, and inappetence after being hit by a car. Clinical examination showed pyrexia and the presence of pain when the patient was palpated in the abdomen. Laboratory results showed leukocytosis, lymphocytosis, increased glutamic-oxaloacetic transaminase, increased blood urea nitrogen, proteinuria, overcreatinine, as well as blood and struvite in the urine. The radiographic analysis reported abnormalities in os vertebrae lumbalis I and radiolucent of the colon and rectum. Sonographic findings were cholecystitis, cholelithiasis, nephritis, enteritis, and cystitis. The treatments given were intravenous infusion with normal saline, a single Melovem® injection 0.35 cc, Dulcolax® one 5 mg tablet SID for two days, Samylin® Medium Breed ½ tablet once a day, Cystaid Plus® for cats SID one tab, phytomenadione injection 3 mg/kg SID for two days, Claneksi® syrups 20 mg/kg of body weight per oral BID for five days, Renate® SID per oral for eight days. On the second day of hospitalization, the patient had not pooped, so intra-rectal flushing with physiologic saline was performed, and the patient pooed with normal consistency each day after the enema procedure. Hematuria was observed during the first two days of hospitalization, while no hematuria was observed on the third day. The patient recovered after three days of hospitalization with no hematuria or other abnormal clinical signs or complications. The veterinarian discharged the patient with home treatment with the remaining oral medications.
Penentuan Lama Simpan Semen Ayam Onagadori dengan Pengencer Kuning Telur dan Air Kelapa Wulung pada Suhu Ruang I Made Krisna Wiranata; I Wayan Bebas; I Wayan Sukernayasa
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.543

Abstract

Ayam onagadori atau ayam ekor panjang merupakan ayam yang berasal dari negara Jepang. Ayam ini termasuk ayam hias terancam punah dengan memiliki karakter pada ekornya yang dapat mencapai 10 meter. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama simpan semen dengan pengenceran air kelapa wulung (Cocos rubecens) dan kuning telur yang disimpan pada suhuruang terhadap motilitas, abnormalitas, dan viabilitas spermatozoa. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh kelompok perlakuan yakni lama penyimpanan yaitu, 0 menit, 30 menit, 60 menit, 90 menit, 120 menit, 150 menit dan 180 menit. Teknik penampungan semen ayam dengan memijat punggung ayam (massage). Pemeriksaan semen yang dilakukan dengan mikroskopis dan makroskopis. Selanjutnya untuk pemeriksaan viabilitas dan abnormalitas spermatozoa dilakukan dengan metode pewarnaan eosin negrosin. Sejalan dengan lamanya penyimpanan semen ayam onagadori mengalami penurunan motilitas dan viabilitas spermatozoa tapi terjadi peningkatan abnormalitas. Semen ayam onagadori ini dengan pengenceran air kelapa wulung dan kuning telur hingga menit ke-120 layak digunakan untuk inseminasi buatan.
Adenokarsinoma pada Kelenjar Ambing Kucing Ras Himalaya: Tampilan Klinik, Penanganan dengan Mastektomi dan Hasilnya I Gusti Agung Gde Putra Pemayun; I Wayan Batan; Adrian Hasan Rahmatullah
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.221

Abstract

Adenokarsinoma kelenjar mammae adalah pertumbuhan sel-sel kelenjar yang tidak terkontrol dan tidak terkoordinasi umumnya dijumpai pada anjing dan jarang pada kucing. Adenokarsinoma mammae pada kucing bersifat malignant dan merusak jaringan kelenjar mammae secara progresif, sehingga berakibat fatal pada kucing. Seekor kucing Himalaya berusia 4 tahun, berjenis kelamin betina yang belum disteril, bobot badan 3 kg, warna bulu coklat tua, mengalami pembengkakan pada satu kelenjar mammae bagian belakang sebelah kanan dan tidak mau mengecil. Pemeriksaan dengan palpasi adanya massa yang menonjol cukup besar, terasa keras dan padat pada kelenjar mammae. Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan tumor, kucing didiagnosa menderita adenokarsinoma ditandai dengan sel-sel kelenjar mengalami proliferasi tidak terkontrol, bersifat infiltratif, adanya proses angiogenesis, adanya sel-sel tumor pada pembuluh darah kelenjar, ductus, bentuk dan ukuran ductus yang bervariasi (pleomorfik). Penanganan dilakukan dengan pembedahan mastektomi yaitu pengangkatan kelenjar mammae yang terdapat jaringan tumor. Pascaoperasi kucing diberikan cefotaxime 20 mg/kg BB IV (q12h), dan tolfedine 4 mg/kg BB IM (q24h) selama tiga hari dan dilanjutkan dengan pemberian cefixime trihydrate 10 mg/kg BB (q12h), dan deksametason 0,08 mg/ kg BB (q12h) secara oral selama 5 hari. Kucing dinyatakan sembuh pada hari ke 14 pascaoperasi dengan luka operasi telah mengering, nafsu makan, minum baik, defikasi dan urinasi normal serta pemeriksaan radiografi, dan hematologi kucing dalam keadaan normal.

Filter by Year

2000 2024