cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Transplantation of ectopic upper canine into its proper position on the jaw: a case report Tammama, Tichvy; Kurniawan, Irsan; Maqdisa, Siti Risa; Banerjee, Abhishek
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.49990

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Tooth transplantation is the transfer of one tooth into its new position in the jaw of the same person. The purpose of this case report is to discuss the transplantation of an ectopic upper canine to the proper position where the primary canine is still occupied. Case report: a female patient came to the Oral Surgery clinic with a complaint that her left upper canine was growing towards the palate, so that her deciduous teeth did not fall out. The treatment for this patient was the atraumatic extraction of the left deciduous canine teeth and the permanent canine, then the permanent canine was transplanted into a socket of the deciduous teeth that was extracted. The transplanted= canines were then fixed with interdental wiring (IDW) for 3 months. At the time of follow-up, the canine was healing well, and was able to work well. A tooth can be transplanted into its new position with the best achieved if the integrity of the periodontal membrane remains vital, the extraction process is as atraumatic as possible, and with a short time of the tooth was outside the mouth. Conclusion: an ectopic tooth can be transplanted in proper position in the arch if there is sufficient space, the integrity of the periodontal ligament is maintained, time outside the mouth is short, and accompanied by adequate fixation. Key words: ectopic, interdental wiring (IDW), canine, transplantationTransplantasi kaninus rahang atas yang mengalami ektopik pada lokasi yang seharusnya di rahang: laporan kasusABSTRAKPendahuluan: Transplantasi gigi yaitu pemindahan satu gigi ke tempat baru pada rahang orang yang sama. Tujuan dari laporan kasus ini yaitu membahas mengenai transplantasi kaninus atas yang ektopik ke posisi seharusnya yang masih ditempati oleh kaninus sulung. Laporan kasus: pasien wanita datang ke poli Bedah Mulut dengan keluhan gigi kaninus atas kiri tumbuh ke arah langit-langit, sehingga gigi kaninus sulungnya tidak lepas. Perawatan pada pasien ini yaitu dilakukan pencabutan gigi kaninus sulung dan gigi tetap kaninus tersebut secara atraumatik, kemudian gigi kaninus tetapnya ditransplantasikan pada soket bekas gigi kaninus sulung yang dicabut tersebut. Gigi kaninus yang ditransplantasi kemudian difiksasi dengan interdental wiring (IDW) selama 3 bulan. Saat kontrol, gigi kaninus telah mengalami penyembuhan dengan baik serta dapat berfungsi baik. Suatu gigi dapat ditransplantasikan ke posisi yang baru, jika integritas membran periodontal terjaga vitalitasnya, proses ekstraksi sea traumatik mungkin, dan gigi berada di luar mulut sesingkat mungkin. Simpulan: Gigi yang ektopik dapat dilakukan transplantasi ke posisi yang seharusnya pada lengkung rahang apabila terdapat ruang yang cukup, integritas ligamen periodontal tetap terjaga, waktu di luar mulut singkat, serta fiksasi yang adekuat.Kata kunci: ektopik, interdental wiring (IDW), kaninus, transplantasi
Efektivitas Sediaan Pasta Gigi Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis L.) dan Peppermint (Mentha piperita L.) terhadap Indeks Plak dan pH Saliva Manurung, Mian Maranata Br; Sugiaman, Vinna Kurniawati; Widowati, Wahyu
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.53001

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Plak merupakan lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan bakteri yang tumbuh pada permukaan gigi. Pertumbuhan plak dapat berhubungan dengan saliva, sehingga untuk menjaga pH saliva rongga mulut tetap normal perlu dilakukan kontrol plak. Produk herbal seperti pasta gigi yang mengandung teh hijau dan peppermint dapat berpengaruh dalam pencegahan pembentukan plak dan pH saliva. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sediaan pasta gigi ekstrak teh hijau (Camellia sinensis L.) dan peppermint (Mentha piperita L.) terhadap indeks plak dan pH saliva. Metode: Jenis penelitian berupa eksperimental dengan desain pretest dan post test. Subjek sebanyak 32 orang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok (n=16) secara random. Kelompok pertama menyikat gigi menggunakan pasta gigi ekstrak teh hijau, peppermint dan kelompok kedua menyikat gigi menggunakan pasta gigi pembanding. pH saliva kedua kelompok diukur menggunakan pH meter dan skor plak gigi menggunakan metode O’Leary. Metode analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil: Kelompok pertama dan kedua menunjukkan tidak terdapat perubahan signifikan pada pH saliva (p=0,068 dan p=0,729) namun terdapat perubahan signifikan pada indeks plak (p=0,000 dan p=0,033). Simpulan: Menyikat gigi menggunakan pasta gigi yang mengandung ekstrak teh hijau (Camellia Sinensis L.) dan peppermint (Mentha piperita L.) memiliki efektivitas dalam menurunkan indeks plak serta menjaga pH saliva tetap dalam keadaan normal. Kata kunci indeks plak, pasta gigi, peppermint, pH saliva, teh hijau  Effectiveness of green tea (Camellia sinensis L.) and peppermint (Mentha piperita L.) toothpaste extracts on plaque index and saliva pH: a laboratory experiment ABSTRACT Introduction: Plaque is a soft layer consisting of a collection of bacteria that grows on the surface of the teeth. Plaque growth can be related to saliva, so to maintain the pH of oral saliva remaining normal, it is necessary to control plaque. Herbal products such as toothpaste containing green tea and peppermint can prevent plaque and salivary pH. This research was conducted to determine the effectiveness of green tea (Camellia sinensis L.) and peppermint (Mentha piperita L.) toothpaste preparations on plaque index and salivary pH. Methods: The research design is experimental with a pretest-posttest design. A total of 32 subjects were recovered based on inclusion and exclusion criteria and then divided into two groups (n=16) randomly. The first group brushed their teeth using green tea extract toothpaste, peppermint and the second group brushed their teeth using CT toothpaste. The saliva pH of both groups was measured using a pH meter and dental plaque scores using the O'Leary method. The data analysis method used is the Wilcoxon test.  Results: The results of the first and second groups of research showed that there was no significant change in saliva pH (p=0.068 and p=0.729) but there was a significant change in the plaque index (p=0.000 and p=0.033). Conclusion: Brushing teeth using toothpaste containing green tea (Camellia Sinensis L.) and peppermint (Mentha piperita L.) extracts is effective in reducing the plaque index and maintaining saliva pH within normal conditions. Keywords green tea, peppermint, plaque index, saliva pH, toothpaste
Pengaruh Penambahan Nano Hidroksiapatit Cangkang Kerang Kepah Pada Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Terhadap Kekuatan Transversal : Eksperimental Laboratoris Putranti, Dwi Tjahyaning; Angelica, Angelica
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.51113

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan yang sering digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan, namun bahan ini memiliki kekuatan transversal yang rendah sehingga mudah terjadi fraktur. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan kekuatan resin akrilik salah satunya dengan penambahan nano hidroksiapatit cangkang kerang kepah sebagai bahan penguat. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilakukan pada sampel basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan nano hidroksiapatit cangkang kerang kepah dan dengan penambahan nano hidroksiapatit cangkang kerang kepah 2%, 5% dan 8% dengan ukuran 65×10×2,5 mm sebanyak 24 sampel, dan diuji menggunakan Universal Testing Machine. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan nilai kekuatan transversal tertinggi diperoleh pada penambahan nano hidroksiapatit sebanyak 5% dengan nilai rerata sebesar 125,862 Mpa. Simpulan: Penambahan nano HA cangkang kerang kepah pada konsenterasi 2% dan 5% pada bahan basis gigi tiruan RAPP direkomendasikan sebagai bahan penguat karena menunjukkan nilai kekuatan transversal yang meningkat. Kata kunci Basis gigi tiruan, resin akrilik polimerisasi panas, nano hidroksiapatit, cangkang kerang kepah, kekuatan transversal  The Effect of Addition of Nano Hydroxyapatite Kepah Clam Shells (Pollymesoda erosa) To The Transverse Strength On Heat-Cured Acrylic Resin Denture Base Material: Experimental Laboratory ABSTRACT Introduction: Heat cured acrylic resin is a material that commonly used as denture base, but this material has low mechanical strength so it fractures easily. This can be overcome by increasing the transverse strength by adding of kepah clam shells nano hydroxyapatite as reinforcing material. Methods: Type of this research was experimental laboratory. This study was conducted on heat cured acrylic resin denture base without the addition of nano hydroxyapatite kepah clam shells and with the addition of nano hydroxyapatite kepah clam shells at concentrations of 2%, 5% and 8% with size of samples is 65×10×2.5 mm and total 24 samples. Samples are tested with Universal Testing Machine. Results: The results showed that the highest transverse strength was obtained by adding 5% nano hydroxyapatite with an average value of 125,862 MPa. Conclusion: The addition of HA nano shells at concentrations of 2% and 5% to the RAPP denture base material is recommended as a reinforcing material because it shows an increased value of transverse strength. Keywords Heat cured acrylic denture base resin, nano hydroxyapatite, kepah clam shells, transverse strength 
Successful regenerative approach with direct pulp capping using mineral trioxide aggregate after pulpal injury 2 years follow-up: Case report Andriani, Poppy; Dwisaptarini, Ade Prijanti; Fibryanto, Eko; Mohd Noh, Nur Zety
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49194

Abstract

Perawatan non bedah pada perforasi koronal iatrogenik gigi insisivus sentral kanan atas menggunakan mineral trioksida agregat: Laporan kasus Setiawan, Joceline; Amin, Meiny Faudah; Ariwibowo, Taufiq
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49911

Abstract

Pendahuluan: Salah satu kesalahan iatrogenik yang paling umum selama perawatan endodontik adalah perforasi, terutama bagian koronal. Perforasi koronal terjadi selama pencarian orifis. Ada banyak bahan yang digunakan untuk menangani perforasi, seperti mineral trioxide aggregate (MTA). MTA telah dipilih sebagai bahan yang sempurna untuk perbaikan perforasi.Laporan kasus: Seorang pasien berusia 32 tahun dirujuk oleh mahasiswa kedokteran gigi untuk memperbaiki tambalan gigi depan. Radiografi periapikal gigi 11 menunjukkan radiopak, suspek gutta-percha, menembus dinding distal mahkota gigi dan radiolusen pada sepertiga apikal dengan penghalang difus dan bentuk tidak teratur, didiagnosis dengan nekrosis pulpa dengan periodontitis apikal kronis. Perlakuan dilakukan dengan menggunakan mineral trioxide aggregate (MTA). Untuk memperbaiki perforasi, dilakukan urutan perawatan endodontik sampai obturasi dan direstorasi menggunakan mahkota jaket litium disilikat.Pembahasan: Efektivitas perawatan perforasi akar non-bedah terkait dengan tingkat cedera jaringan periodontal, ukuran dan lokasi perforasi, kemampuan menutup dan biokompatibilitas bahan, serta ada tidaknya kontaminasi bakteri.Simpulan: Perawatan non-bedah perforasi koronal dapat dilakukan dengan menggunakan MTA yang memiliki kemampuan penutupan yang baik untuk memperbaiki perforasi koronal.
Karakteristik kasus bedah mulut dan maksilofasial di RSGM Unpad sebelum dan selama pandemi COVID-19: Studi retrospektif Fitri, Marsyanda; Sjamsudin, Endang; Putri, Farah Asnely
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.48728

Abstract

Pendahuluan: Pandemi COVID-19 telah berdampak pada sistem kesehatan di seluruh dunia. Penularan COVID-19 yang terjadi melalui kontak, aerosol, droplet dan fomite membuat dokter gigi termasuk dokter gigi spesialis bedah mulut dan maksilofasial, memiliki resiko tinggi terinfeksi COVID-19. Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan PSBB dan PPKM dalam pengendalian penyebaran COVID-19. Hasil beberapa penelitian, peraturan di beberapa negara seperti karantina kewilayahan atau lockdown, mempunyai dampak terhadap kasus bedah mulut dan maksilofasilofasial. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi ilmiah mengenai karakteristik kasus bedah mulut dan maksilofasial sebelum dan selama pandemi di RSGM Unpad. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi retrospektif deskriptif menggunakan data sekunder berupa rekam medis pada Maret 2018 hingga Februari 2022 di Poli Paviliun RSGM Unpad. Data yang diambil berupa usia, jenis kelamin, diagnosis, dan tatalaksana. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan pembobotan. Hasil: Jumlah kunjungan sebelum pandemi 264 (45.83%), selama pandemi 312 (54.17%). Jenis kelamin pasien sebelum pandemi diantaranya laki-laki 115 (43.56%), perempuan 149 (56.44%) dan selama pandemi diantaranya laki-laki 119 (38.14%), perempuan 193 (61.86%).  Kategori usia terbanyak sebelum pandemi yaitu dewasa 86 (32.58%) sedangkan selama pandemi yaitu remaja 124 (39.74%). Kasus terbanyak sebelum dan selama pandemi yaitu impaksi gigi (sebelum 40.53%, selama 47.12%). Jenis tatalaksana terbanyak sebelum pandemi yaitu ekstraksi gigi (33.33%), sedangkan selama pandemi yaitu odontektomi (31.41%). Simpulan: Jumlah kunjungan selama pandemi lebih banyak daripada sebelum pandemi. Kasus terbanyak sebelum dan selama pandemi diantaranya impaksi gigi, kontrol pasca operasi, dan abses rongga mulut. Tatalaksana terbanyak sebelum dan selama pandemi diantaranya ekstraksi gigi, odontektomi, dan konsultasi dokter gigi spesialis.
Radiomorfometri Sinus Maksilaris pada Anak Usia 7-12 Tahun menggunakan Radiograf Sefalometri Lateral Kosasih, Despiana Nursyifa; Supriyadi, Supriyadi; Prasetyarini, Swasthi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.52363

Abstract

Pendahuluan: Sinus maksilaris menunjukkan variasi ukuran yang cukup besar dan akan terus berubah selama masa anak-anak. Sinus maksilaris adalah struktur anatomi penting dalam kedokteran gigi karena akar gigi posterior atas berada dekat dengan dasar sinus maksilaris. Tujuannya untuk menganalisis perbedaan ukuran sinus maksilaris pada anak usia menggunakan radiograf sefalometri lateral berdasarkan jenis kelamin dan usia. Metode: Penelitian observasional analitik ini menggunakan sampel sebanyak 229 radiograf sefalometri lateral (107 laki-laki dan 122 perempuan) dengan kriteria inklusi pasien berusia 7-12 tahun, kualitas radiografi baik, gambaran rongga sinus maksilaris dan batas-batasnya jelas, tidak terdapat kelainan patologis, serta data pasien lengkap. Kriteria ekslusi penelitian ini yaitu radiografi radiograf sefalometri lateral yang terdapat kesalahan terkait dengan ukuran dimensinya. Pengukuran sinus maksilaris dilakukan pada 2 dimensi yaitu anteroposterior dan superoinferior secara manual menggunakan jangka sorong digital oleh 3 pengamat yang telah dilakukan persamaan persepsi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Independent-sample t-test dan Uji One-Way Anova (α=0,05). Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan antara ukuran radiomorfometri sinus maksilaris dimensi anteroposterior dan superoinferior berdasarkan jenis kelamin p=0,06 (p>0,05). Terdapat perbedaan yang signifikan ukuran radiomorfometri sinus maksilaris sinus maksilaris dimensi anteroposterior dan superoinferior berdasarkan usia p=0,053 (p<0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan ukuran sinus maksilaris dimensi anteroposterior dan superoinferior berdasarkan jenis kelamin, namun terdapat perbedaan ukuran dimensi anteroposterior dan superoinferior sinus maksilaris berdasarkan usia.
Pengaruh penambahan nanoselulosa serat daun nanas terhadap kekuatan transversal basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas: studi eksperimental laboratoris Tarsis, Joanna Tania; Wahyuni, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.48285

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas memiliki kekurangan diantaranya mudah patah. Permasalahan tersebut dapat dicegah dengan cara meningkatkan kekuatan resin akrilik terutama pada kekuatan transversalnya, salah satunya dengan penambahan bahan penguat berupa nanoselulosa serat daun nanas. Serat daun nanas memiliki kandungan selulosa yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penambahan nanoselulosa serat daun nanas 1, 1,3, dan 1,5% terhadap kekuatan transversal basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas. Metode: Penelitian ini  adalah penelitian eksperimental  laboratoris. Penelitian ini dilakukan pada sampel basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas  dengan kelompok  tanpa penambahan nanoselulosa serat daun sebagai kelompok kontrol (kelompok A) dan dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas 1% (kelompok B), 1,3% (kelompok C) dan 1,5% (kelompok D)  sebagai kelompok perlakuan. Sampel dibuat dengan ukuran 65×10×2,5 mm sebanyak 24 sampel. Sampel diuji dengan Universal Testing Machine untuk mengetahui nilai kekuatan transversal. Hasil: Berdasarkan uji univariat, nilai rata-rata dan standar deviasi kekuatan transversal pada kelompok A adalah (92,75 ± 2,27) MPa, sedangkan untuk kelompok B sebesar (124,94 ± 1,32) MPa, kelompok C sebesar (134,81 ± 1,15) MPa dan kelompok D sebesar (141,23 ± 1,88) MPa. Uji Anova satu arah didapatkan hasil yang signifikan dengan nilai p= 0,001 (p < 0,05) dan uji LSD yang signifikan dengan nilai p = 0.001 (p<0.05). Simpulan:  Terdapat pengaruh penambahan nanoselulosa serat daun nanas terhadap kekuatan transversal basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.Kata kunci: resin akrilik polimerisasi panas; nanoselulosa; serat daun nanas; kekuatan transversalThe effect of pineapple leaf fibers nanocellulose addition on the transverse strength of heat cured acrylic resin denture base: a laboratory experimental studyABSTRACT Introduction: Heat polymerized acrylic resin is easily fractured and can be prevented by increasing the transverse strength by adding pineapple leaf fibers nanocellulose as reinforcing material. Pineapple leaf fibers have a high cellulose content. The purpose of this study was to analyze the effect of adding 1, 1.3,  and 1.5 wt% pineapple leaf fibers nanocelluloseto the heat-cured acrylic resin denture based on its transverse strength. Methods: This study was experimental laboratory and conducted on heat-polymerized acrylic resin denture base  with no addition of pineapple leaf fiber nanocellulose as control group (Group A) and  the group that adding of 1%(wt%), 1.3% and 1.5% pineapple leaf fiber nanocellulose as the treatment group (named B,C and D). Sample size of (65×10×2.5) mm with totally 24 samples. Samples were tested with Universal Testing Machine to determine the transverse strength value. Results: Based on univariate test to determine the average value and standard deviation of the  transverse strength,  the result showed that the control group had  (92,75 ± 2,27) MPa, group A was (124,94 ± 1,32) MPa, group B was (134,81 ± 1,15) MPa, and group C was (141,23 ± 1,88) MPa. The one-way ANOVA and LSD tests showed significant results with p-value = 0.001 (p < 0.05) and 0.001 (p <0.05). Conclusion: There was an effect of pineapple leaf fibers nanocellulose addition on the transverse strength of heat cured acrylic resin denture base.Keywords: heat cured acrylic resin, nanocellulose; pineapple leaf fiber; transverse strength
Manifestasi dan tatalaksana lesi oral pada pasien penderita systemic lupus erythematosus (SLE): laporan kasus Heldayani, Iin; Setiadhi, Riani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49461

Abstract

Pendekatan endodontik non-bedah pada cyst-like periapical lesion pasca trauma gigi insisivus maksila: laporan kasus Katrini, Faustine; Widyastuti, Wiena; Aryadi, Aryadi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49341

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Lesi periapikal yang besar, terlepas dari apakah itu granuloma, abses atau kista, utamanya disebabkan oleh infeksi saluran akar, dan oleh karena itu protokol perawatannya adalah eliminasi faktor etiologi dalam sistem saluran akar. Tujuan laporan kasus ini menjelaskan perawatan  endodontik non-bedah pada cyst-like periapical lesion pasca trauma pada gigi insisivus rahang atas. Laporan kasus: Pasien laki-laki berusia 39 tahun datang dengan keluhan utama diskolorasi gigi 11 dan nyeri perkusi pada gigi 12, 11, 21, dan 22. Pemeriksaan radiografis menunjukkan lesi periapikal mirip kista yang besar pada regio anterior rahang atas. Perawatan endodontik dilakukan dalam empat kali kunjungan dengan menggunakan kalsium hidroksida sebagai medikamen intrakanal antar kunjungan. Pengisian saluran akar menggunakan sealer berbahan resin dan kemudian dilakukan restorasi sementara resin komposit. Penyembuhan lesi diamati pada follow-up 9 bulan dengan pemeriksaan radiograf. Cyst-like periapical lesion yang besar telah berhasil mengecil setelah terapi endodontik non-bedah, namun pilihan perawatan ini memerlukan beberapa kali kunjungan untuk aplikasi medikamen dalam saluran akar sebelum pengisian saluran akar. Kalsium hidroksida memainkan peran penting karena memiliki sifat anti-bakteri yang sangat efektif dan kemampuan khusus memperbaiki jaringan dengan pembentukan jaringan keras. Simpulan: Perawatan endodontik non-bedah menggunakan medikamen kalsium hidroksida dalam laporan kasus ini terbukti berhasil dalam penyembuhan cyst-like periapical lesion pasca trauma pada gigi rahang atas.Kata kunci: kista periapikal, cyst-like periapical lesion, endodontik, perawatan saluran akar, kalsium hidroksida Non-surgical endodontic approach for periapical cyst-like lesion post-trauma in maxillary incisors: a case reportABSTRACTIntroduction: Large periapical lesions, whether they are granulomas, abscesses, or cysts, are primarily caused by root canal infections, and thus, the treatment protocol should focus on removing etiological factors from the root canal system. This case report describes the non-surgical management of a large periapical cyst-like lesion in a patient with a history of a traumatic accident in the maxillary anterior area. Case report: A 39-year-old male patient presented with the chief complaint of a discolored tooth (#11) and pain on percussion in teeth 12, 11, 21, and 22. Radiographic examinations revealed a large periapical cyst-like in the maxillary anterior region. Endodontic treatment was performed in four visits using interappointment calcium hydroxide intracanal medicament. The canal was obturated using resin-based sealer and a definitive restoration was then placed. Radiographic evidence of lesion healing was observed at the 9-month follow-up. The large cyst-like apical periodontitis lesions have been demonstrated to regress to smaller sizes after non-surgical endodontic therapy. Nevertheless, this treatment option requires multiple visits for intracanal medicament applications before permanent root canal filling. Calcium hydroxide is crucial in such procedures because it has highly effective anti-bacterial properties as well as the unique ability of tissue repair by hard tissue formation. Conclusion: In this case report, non-surgical root canal treatment along with calcium hydroxide intracanal medicament proved successful in promoting the healing of a large periapical cyst-like lesion.Keyword:periapical cyst, cyst-like periapical lesion, endodontic, root canal therapy, calcium hydroxide