cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Surgical management of bilateral horizontal mandibular canine impaction: case report Julia, Vera; Arlen, Antonius Kevin; Wijaya, Arbi; Reksoprodjo, Muhammad Ramaditto; Sulistyani, Lilies Dwi; Ratman, Mohammad Farid
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.44954

Abstract

Introduction: Mandibular canine impaction is one of the most complex dental anomalies. The low incidence rate of mandibular canines impaction resulted in the unavailability of guidelines for managing impacted mandibular canines, especially bilateral horizontal cases. This case report describes a surgical procedure to manage bilateral horizontal mandibular canines impaction. Case report: A 14-year-old girl with bilateral horizontal mandibular canines impaction was referred from the orthodontics department. The orthopantomograph (OPG) radiograph shows there was bilateral horizontal mandibular canines impaction near premolars root apices. The patient went for surgical removal in general anesthesia for the impacted canines. Odontectomy was performed by separating the tooth into several fragments. A three months follow-up showed there was no post-operative complaint. Conclusion: Odontectomy of bilaterally impacted mandibular canines can be done to avoid interference with orthodontic treatment. Keyword : Bilateral horizontal canine impaction, odontectomy, oral surgery Penatalaksanaan kasus impaksi kaninus bilateral horizontal mandibula secara bedah: laporan kasusABSTRAKPendahuluan: Impaksi kaninus bilateral mandibula adalah salah satu bentuk kompleksitas kelainan gigi. Insidensi yang rendah pada kasus impaksi kaninus bilateral mandibula menyebabkan ketiadaan petunjuk untuk penatalaksanaan bedah pada kasus yang serupa, terutama pada kasus bilateral. Laporan kasus ini bertujuan mendeskripsikan prosedur pembedahan pada kasus impaksi kaninus bilateral mandibula. Laporan kasus: Perempuan berusia 14 tahun dengan impaksi kaninus bilateral mandibula dirujuk dari departemen ortodonsia. Radiografi panoramik meununjukkan terdapat impaksi kaninus bilateral dengan tipe horizontal, berdekatan dengan ujung akar premolar. Pasien dilakukan ekstraksi gigi impaksi kaninus dalam anestesi umum dengan metode pembelahan gigi menjadi beberapa fragmen. Pada kontrol tiga bulan selanjutnya tidak terdapat keluhanan pascaoperasi. Simpulan: Odontektomi pada kasus impaksi kaninus bilateral mandibula dapat menjadi opsi untuk mencegah gangguan dalam perawatan ortodonti.Kata kunci: Impaksi kaninus bilateral horizontal, odontektomi, bedah mulut
Rehabilitasi fungsi dan estetika pada pasien pasca hemimandibulektomi dengan obturator definitif: laporan kasus Arifialda, Alda; Damayanti, Lisda; Aminah, Helmi Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.49681

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Hilangnya struktur anatomi mandibula dapat disebabkan oleh karena malformasi kongenital, trauma, serta reseksi dengan menghilangkan jaringan tumor. Tumor ameloblastoma seringkali melibatkan sejumlah tulang pada mandibula dan metastasis dapat terjadi sehingga harus dilakukan reseksi. Defek yang mempengaruhi fungsi bicara, pengunyahan serta penelanan merupakan konsekuensi dari dilakukannya reseksi, sehingga pembuatan obturator menjadi penting untuk dilaksanakan. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan tatalaksana rehabilitasi fungsi dan estetika pada pasien post hemimandibulektomi dengan obturator definitif. Laporan kasus: Seorang laki-laki berusia 19 tahun datang ke Departemen Prostodonsia Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk dibuatkan protesa pasca reseksi. Pasien telah menjalani operasi hemimandibulektomi disertai rekonstruksi plat dengan riwayat medis terdiagnosa ameloblastoma tipe plexiform ar. mandibula sinistra. Pasien merasa fungsi bicara, penelanan serta penampilannya terganggu karena setiap pergerakan membuka mulut, rahang mengalami deviasi dan kesulitan untuk mengunyah makanan yang halus sekalipun. Secara klinis pada bagian defek yang dipasang plat tidak ada rasa sakit, inflamasi serta infeksi sehingga dilakukan penatalaksanaan obturator definitif dengan pertimbangan agar dapat memulihkan fungsi pengunyahan dengan segera dan untuk memperoleh stabilitas oklusi. Pasien dibuatkan obturator definitif mandibula kerangka logam dengan metode pencetakan alter cast. Simpulan: Penatalaksanaan rehabilitasi dengan obturator definitif mandibula dapat memulihkan fungsi bicara, pengunyahan dan penelanan serta meningkatkan kepercayaan diri pasien.Kata kunciobturator definitif mandibula, pencetakan alter cast, hemimandibulektomi, ameloblastoma Aesthetic and functional rehabilitation on post hemimandi-bulectomy patient with obturator definitiveABSTRACTIntroduction: Losing part of the mandible structure might be caused by congenital malformations, trauma, and surgical resection by removing a tumor. It is frequently found that ameloblastoma involves several bones of the mandible and metastasis might occur resulting in mandible resection. As a consequence, the defects would occur and influence some functions including speech and swallowing so the fabrication of an obturator was necessarily needed. Case report: A 19 years old male came to the Department of Prosthodontics Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung required a prosthesis after surgical resection. The patient has been diagnosed with ameloblastoma plexiform type ar. mandibula sinistra and underwent hemimandibulectomy including plate reconstruction inserted. There are some impairments in speaking, swallowing also reduced visual performance because of mandibular deviation and chewing difficulty, even soft food most of the time. Mandibula definitive frame obturator was then delivered to the patient with the alter cast impression method. Conclusion: The rehabilitation with the mandible definitive obturator gained some function including speech, chewing, and swallowing and there’s an improvement in the patient’s self-esteem.Keywordsmandible definitive obturator, alter cast impression, hemimandibulectomy, ameloblastoma
Perbedaan performa mastikasi perempuan pralansia dan lansia pada bilateral free end rahang bawah: studi cross-sectional Harahap, Lanni Rizkina; Nasution, Ismet Danial; Angelia, Veronica
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.52204

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kehilangan gigi merupakan hilangnya satu atau beberapa gigi pada lengkung rahang yang berdampak pada fungsi estetik, fonetik, dan mastikasi. Mastikasi adalah suatu proses penghancuran makanan menjadi bolus kecil yang mudah untuk ditelan. Fungsi mastikasi dapat dievaluasi dengan performa mastikasi. Performa mastikasi adalah suatu kemampuan individu untuk menghancurkan makanan menjadi bagian-bagian kecil dengan gerakan pengunyahan dan berakhir dengan menelan. Salah satu faktor yang memengaruhi performa mastikasi adalah usia. Sejalan bertambahnya usia, terjadi peningkatan ketegangan dan penurunan elastisitas otot-otot yang ada di seluruh tubuh termasuk otot mastikasi yang akan berpengaruh pada performa mastikasi. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis performa mastikasi pada perempuan pralansia dan lansia pada bilateral free end rahang bawah. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Rancangan penelitian ini mengambil data performa mastikasi menggunakan metode pencampuran warna dengan mengunyah dua permen karet warna yang berbeda, hasil pencampuran warna ditransformasikan ke dalam software View Gum. Jumlah sampel sebanyak 28 sampel terdiri dari 14 wanita pra lansia berusia 45-59 tahun dan 14 wanita lansia ≥60 tahun dengan teknik purposive sampling dan perhitungan besar sampel menggunakan rumus uji dua proporsi. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil: Nilai rerata performa mastikasi pada perempuan pralansia 54,79% sedangkan pada lansia 55,5% serta adanya perbedaan performa mastikasi perempuan pralansia dan lansia pada bilateral free end rahang bawah dengan nilai p=0,03 (p<0,05). Simpulan: Performa mastikasi perempuan pralansia lebih baik dibandingkan lansia pada bilateral free end rahang bawah.Kata kunciperforma mastikasi, bilateral free end, pralansia, lansia, view gum. Differences in the mastication performance of  pre-elderly and elderly women in the bilateral free end of the mandible: cross-sectional studyIntroduction: Tooth loss is the loss of one or more teeth in the arch of the jaw which has an impact on aesthetic, phonetic, and masticatory functions. Mastication is the process of breaking down food into small boluses that are easy to swallow. Masticatory function can be evaluated by masticatory performance. Mastication performance is an individual’s ability to crush food into small pieces with chewing movements and ends with swallowing. One of the factors that affect mastication performance is age. With increasing age, there is an increase in tension and a decrease in the elasticity of the muscles throughout the body, including the masticatory muscles, which will affect the performance of mastication. The purpose of the study was to analyzed masticatory performance in elderly and elderly women and the differences in mastication performance in elderly and elderly women in bilateral free end of the mandible. Methods: This type of research is analytical observational with a cross-sectional approach. This research design took mastication performance data using a color mixing method by chewing two different color gums, the results of color mixing were transformed into View Gum software. The total sample was 28 samples consisting of 14 elderly women aged 45-59 years and 14 elderly women ≥60 years with purposive sampling techniques and calculation of sample size using a two-proportion test formula. The research results were analyzed by the Mann-Whitney test. Results: The average mastication performance in pre-elderly women is 54.79% while in the elderly 55.5% and there are differences in mastication performance in pre-elderly and elderly women in the bilateral free end of the mandible with p=0.03 (p<0,05). Conclusion: The masticatory performance of pre-elderly women is better than the elderly in the bilateral free end of the mandible. KEYWORDmastication performance, bilateral free end, pre-elderly, elderly, view gum.
Perbedaan modulus elastisitas basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas: studi eksperimental laboratoris Simorangkir, Zefanya Cornelia; Wahyuni, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.47746

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Basis gigi tiruan pada umumnya dibuat menggunakan bahan resin akrilik polimerisasi panas. Resin akrilik polimerisasi panas memiliki kekurangan yaitu salah satunya mudah mengalami fraktur. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan modulus elastisitas resin akrilik dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas sebagai bahan penguat. Keunggulan yang dimiliki nanoselulosa serat daun nanas yaitu mempunyai kekuatan mekanik yang baik, non-sitotoksik, non-inflamasi, ramah lingkungan, kelimpahan yang banyak, dan tidak mahal. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh penambahan nanoselulosa serat daun nanas pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap modulus elastisitas. Metode: Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan sampel berukuran 65×10×2,5 mm sebanyak 27 sampel. Sampel dibuat dari daun nanas yang dihaluskan hingga menjadi bubuk dan dilakukan delignifikasi untuk menghilangkan lignin serta bleaching. Kemudian keringkan dengan oven dan ball-mill untuk mengubah ukuran menjadi nano. Setiap sampel diuji dengan Universal Testing Machine untuk mengetahui nilai modulus elastisitas Hasil: Berdasarkan uji univariat nilai rerata dan standar deviasi modulus elastisitas basis resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan sebesar 5168,31 ± 560,49 MPa, dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas konsentrasi 1% sebesar 6016,26 ± 374,11 MPa, dan dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas konsentrasi 1,5% sebesar 8536,37 ± 406,58 MPa. Uji Anova satu arah didapatkan hasil yang signifikan dengan nilai p=0,001 (p<0,05) dan uji LSD yang signifikan dengan nilai p=0.001 (p<0,05) dan p=0,0001 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan modulus elastisitas tanpa dan dengan penambahan nanoselulosa serat daun nanas.Kata kunci: basis gigi tiruan, resin akrilik polimerisasi panas, nanoselulosa, serat daun nanas, modulus elastisitasDifferences in modulus elasticity of heat polymerized acrylic resin denture base without and with the addition of pineapple leaf fiber nanocellulose: a laboratory experimental studyABSTRACT Introduction: Resin base heat cured has disadvantages, one of which is easy to fracture. This problem can be prevented by increasing the modulus elasticity of acrylic resin, by adding nanocellulose fiber of pineapple leaves as a reinforcing material. The advantages of pineapple leaf fiber nanocellulose are good mechanical strength, non-cytotoxic, non-inflammatory, environmentally friendly, abundant, and inexpensive. The purpose of this study was to analyze whether there was an effect of adding pineapple leaf fiber nanocellulose at concentrations of 1% and 1.5% on denture base heat cured acrylic resin on modulus elasticity.  Methods: The design of this research was laboratory experimental with a sample size of 65×10×2.5mm 27 samples. Samples were made from pineapple leaves that were pulverized into powder and delignified to remove lignin and bleaching. Then oven-dried and ball-milled to change the size to nano. Each sample was tested with a Universal Testing Machine to determine the modulus of elasticity. Results: Analyzed by univariate test to determine the average value and standard deviation, the results of the average without additions were 5168,31±560,49 MPa; with the addition of nanocellulose pineapple leaf fiber concentration 1 %, it was 6016,26±374,11 MPa, and with the addition of nanocellulose fiber from pineapple leaves at a concentration of 1.5%, it was 8536,37±406,58 MPa. ANOVA test was carried out with the result of a significant effect with a value of p=0.001, and LSD test; there was a significant effect with the value of p=0,001 (p<0,05) and p=0,0001(p<0,05). Conclusion: There is a difference in modulus elasticity without and with the addition of pineapple leaf fiber nanocellulose. The results of the one-way ANOVA test showed that there was a significant difference in pineapple leaf fiber nanocellulose concentrations of 1% and 1.5% in the heat polymerized acrylic resin denture base on the elastic modulus with a value of p=0.001(p<0.05).Keywords: denture base, heat cured acrylic resin, nanocellulose, pineapple leaf fiber, modulus of elasticity
Tatalaksana kasus endodontik curved canal dengan pulp stone pada gigi premolar mandibula: laporan kasus Warganegara, Ibramanto; Asrianti, Dini
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49881

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Variasi anatomis bentuk saluran akar yang melengkung atau curved canal merupakan suatu tantangan dalam tatalaksana perawatan endodontik. Faktor yang memperberat lain seperti adanya pulp stone dapat menyebabkan meningkatnya kompleksitas dalam perawatan endodontik serta resiko terjadinya kesalahan iatrogenik pada perawatan endodontik. Laporan kasus ini bertujuan membahas keberhasilan tatalaksana kasus endodontik dengan curved canal dan pulp stone pada gigi premolar mandibular. Laporan Kasus: Seorang pasien perempuan usia 45 tahun dirujuk dengan kasus pulp stone di kamar pulpa dan curved canal pada gigi 44. Prosedur perawatan endodontik dilakukan dengan kombinasi perangkat ultrasonik NEWTRON® Booster (Satelec Acteon, Paris, France) dan file ProTaper Gold (Dentsply Maillefer, Ballaigues, Switzerland). Penatalaksanaan kasus pada kasus ini digunakan tip ET20 (Satelec Acteon, Paris, France) untuk mengatasi kondisi pulp stone pada kamar pulpa yang kemudian dilanjutkan dengan preparasi biomekanik menggunakan file ProTaper Gold (Dentsply Maillefer, Ballaigues, Switzerland). Restorasi akhir dilakukan dengan restorasi onlay dan evaluasi perawatan selama 1 bulan. Simpulan: Tatalaksana kasus endodontik curved canal dengan pulp stone pada gigi premolar mandibula dengan pendekatan manajemen dan strategi perawatan yang tepat menggunakan perangkat ultrasonik NEWTRON® Booster (Satelec Acteon, Paris, France) dan file ProTaper Gold (Dentsply Maillefer, Ballaigues, Switzerland) memberikan keberhasilan untuk tatalaksana kasus endodontik dengan curved canal dan pulp stone pada gigi premolar mandibula.kata kunci :curved canal, pulp stone, perangkat ultrasonik, endodontik, premolarEndodontic management of premolar mandibula with curved canal and pulp stone: a case reportABSTRACTIntroduction: Various curved canal curvatures in the root canals often present challenges in endodontic procedures. Other predisposing factor, such as pulp stone may lead to more complexity of the case and also potential risk of iatrogenic error during endodontic treatment, the aim of this case report was to discuss endodontic management of curved canal case with pulp stone in mandibular first premolar. Case Report: A 45-year-old female patient referred with pulp stones in the pulp chamber and also curved canal configuration in tooth 44. Endodontic treatment procedure was done with a combination of ultrasonic device NEWTRON® Booster (Satelec Acteon, Paris, France )  and ProTaper Gold files (Dentsply Maillefer, Ballaigues, Switzerland). Ultrasonic tip ET20 (Satelec Acteon, Paris, France)  followed with biomechanical preparation using Protaper Gold files (Dentsply Maillefer, Ballaigues, Switzerland) was done in this case. The permanent restoration was done with onlay restoration and follow up for 1 month evaluation. Conclusion: Endodontic management of premolar mandibula with curved canal and pulp stone with appropriate management approach and treatment strategy with combination of ultrasonic device and ProTaper Gold files provide successful endodontic management of curved canal case with pulp stone in mandibular first premolar.Keywordscurved canal, pulp stone, ultrasonic device, endodontic, premolar
Kajian keberhasilan bleaching eksternal pada perawatan diskolorasi ringan pada gigi anterior dan premolar: laporan kasus Noor Zaelan, Andi Ghina Zakiyah; Nugroho, Juni Jekti; Dwiandhany, Wahyuni Suci; Hikmah, Noor; Trilaksana, Aries Chandra; Natsir, Nurhayaty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.46877

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Perubahan warna gigi pada sebagian besar masyarakat masih sering dikaitkan dengan gangguan estetik dan dianggap tidak sehat. Bleaching eksternal adalah salah satu upaya non-invasif untuk memperbaiki penampilan gigi yang mengalami perubahan warna, seperti kasus staining. Perubahan warna gigi akibat stain ekstrinsik bisa diakibatkan karena konsumsi minuman kaya tanin (seperti teh) yang berlebihan. Keuntungan perawatan ini adalah prosedur lebih cepat, faktor risiko dapat diminimalkan karena dilakukan di bawah kontrol dokter gigi. Efek samping peningkatan sensitivitas gigi dapat dikurangi oleh karena penggunaan desensitizer seperti kalium nitrat dan fluoride. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengkaji keberhasilan bleaching eksternal pada perawatan diskolorasi ringan pada gigi anterior dan premolar. Laporan kasus: Perempuan berusia 22 tahun datang ke RSGM mengeluhkan gigi berwarna kekuningan yang berhubungan dengan kebiasaan mengkonsumsi kopi sedikitnya 5 kali dalam seminggu. Tidak ada riwayat hipersensitif dentin. Dilakukan prosedur bleaching eksternal menggunakan bahan hidrogen peroksida 40%. Hasil perawatan menunjukkan gigi anterior dan premolar mengalami peningkatan warna setelah aplikasi bahan bleaching sebanyak 2 siklus dalam 1 kali kunjungan. Simpulan: Prosedur bleaching eksternal menggunakan hidrogen peroksida 40% efektif menghilangkan diskolorasi ringan pada gigi anterior dan premolar.Kata kuncibleaching gigi, hidrogen peroksida, diskolorasi gigiSuccessful external bleaching in the treatment mild discoloration of staining anterior and premolar teeth: a case reportABSTRACTIntroduction: In the majority of societies, tooth discoloration is still often associated with aesthetic disorders and considered unhealthy. External bleaching is one of the non-invasive treatments to correct the visual appearance of the discolored teeth, such as those affected by  staining. Teeth discoloration could be caused by extrinsic stains resulting from the excessive consumption of tannin-rich drinks, such as tea. The advantages of this treatment are that it is faster, and can minimize the potential risk factors because it is under the (dentists’ supervision) control of a dentist. The side effects of the increased dental sensitivity can be reduced by using desensitizers, such as potassium nitrate and fluoride. The aim of this case report is to review the successful external bleaching in the treatment of discoloration of stained anterior and premolar teeth. Case report: A 22-year-old woman visited the dental hospital complaining of yellowish teeth associated with the habit of drinking coffee at least five times a week. There was no history of dentin hypersensitivity. The external bleaching was performed using 40% hydrogen peroxide. The treatment outcomes showed that the anterior and premolar teeth had improved color after two-bleaching cycles in one visit. Conclusion: The external bleaching procedure using 40% hydrogen peroxide effectively removes mild discoloration on the anterior and premolar teeth.Key wordstooth bleaching, hydrogen peroxide, tooth discoloration
Uji minyak atsiri rimpang bangle (Zingiber montanum) terhadap pertumbuhan Candida albicans Rosadi, Fakhira Indri; Imran, Irsal; Nadya, Pramasari Cristiani; Abdillah, Iskandar; Elliana, Martalina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.52295

Abstract

Pendahuluan: Candida merupakan jamur komensal yang hidup di rongga mulut. Candida yang bersifat komensal dapat menjadi patogen yang dapat menyebabkan kandidiasis pada mulut dan genital manusia. Kandidiasis oral merupakan infeksi oportunis yang berada di dalam rongga mulut. Candida albicans merupakan agen penyebab primer kandidiasis oral. Infeksi yang terjadi karena Candida albicans dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Bangle (Zingiber montanum) memiliki komponen aktif sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas minyak atsiri rimpang bangle dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Metode: jenis penelitian eksperimental murni. Penelitian ini menggunakan metode difusi cakram dengan desain penelitian posttest only control group design. Jamur Candida albicans dibiakkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dan diberikan perlakuan minyak atsiri rimpang bangle dengan konsentrasi 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,12%. Kontrol positif yang digunakan adalah ketokonazol, dan kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO. Pengulangan dilakukan sebanyak 4 kali. Analisis data menggunakan uji post hoc. Hasil: Minyak atsiri rimpang bangle dengan konsentrasi 50% dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dengan kategori sangat kuat, untuk konsentrasi 25% dan 12,5% dapat menghambat dengan kategori kuat, untuk konsentrasi 6,25% ditemukannya zona hambat, namun termasuk kategori lemah, sedangkan pada konsentrasi 3,12% tidak ditemukannya zona hambat, sehingga termasuk kategori lemah. Hasil analisis uji post hoc terdapat perbedaan antar kelompok perlakuan (nilai p<0,05). Simpulan: Konsentrasi minyak atsiri rimpang bangle (Zingiber montanum) telah terbukti efektif dan memiliki zona hambat pada konsentrasi 12,5% dan 25% dengan kategori kuat dan konsentrasi 50% dengan kategori sangat kuat. Konsentrasi optimal dari minyak atsiri rimpang bangle (Zingiber montanum) terbukti dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans adalah 50%
Pengaruh Perendaman Resin Akrilik Heat Cured Dalam Tablet Effervescent Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L.) 75% Terhadap Kekasaran Permukaan Fathoni, Muhammad Arif; wahyuni, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.48370

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Resin akrilik merupakan bahan dasar gigi tiruan yang sering digunakan dalam praktik perawatan gigi sehari-hari. Kekasaran permukaan dapat menyebabkan terjadinya perlekatan mikroorganisme serta akumulasi plak dengan mudah. Kekasaran permukaan terjadi oleh karena efek dari pembersih gigi tiruan berbahan kimia, hal ini dapat diminimalisir dengan menggunakan bahan pembersih alami. Tablet effervescent daun tembakau (Nicotiana tabacum l) 75% digunakan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh nilai kekasaran permukaan resin akrilik heat cured yang direndam dalam larutan tablet effervescent daun tembakau 75%. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratorium dengan desain penelitian yaitu pretest-posttest control group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random  sampling. Sampel berukuran (60x12x3) mm berjumlah 27 sampel yang terdiri dari 3 kelompok yaitu  kelompok  perendaman dalam larutan aquades, kelompok perendaman dalam larutan tablet effervescent daun tembakau 75%, dan kelompok perendaman dalam larutan tablet denture cleanser yang ada di pasaran.  Perendaman dilakukan selama 16 hari, larutan perendaman diganti setiap 24 jam. Hasil data dianalisis dengan uji One-way Anova dan dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil: Nilai rerata kekasaran permukaan resin akrilik setelah dilakukan perendaman dalam larutan tablet effervescent daun tembakau 75% selama 16 hari = 0,065 μm, larutan aquades = 0,057 μm, larutan tablet denture cleanser yang ada di pasaran = 0,078 μm. Simpulan: Tablet effervescent daun tembakau 75% dapat menjadi alternatif pembersih gigi tiruan resin akrilik heat cured.Keywords : Heat cured acrylic resin, nanocellulose; pineapple leaf fiber; transverse strength
Perawatan endodontik sekali kunjungan molar pertama kiri mandibula dengan nekrosis pulpa disertai periodontitis apikalis asimptomatik: laporan kasus Jesslyn, Godelatia; Iskandar, Bernard Ongki; Suwartini, Tien
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49884

Abstract

ABSTRACTPendahuluan: Perawatan endodontik sekali kunjungan adalah perawatan saluran akar dari tahapan preparasi, disinfeksi serta obturasi dilakukan pada kunjungan yang sama. Beberapa faktor seperti jumlah saluran akar, ketersediaan waktu, kemampuan operator, keadaan pasien serta gejala dari gigi perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kasus serta rencana perawatan. Disinfeksi dan hasil obturasi ditentukan oleh proses preparasi mekanis serta larutan irigasi. Tujuan laporan kasus ini adalah menjelaskan penatalaksanaan endodontik sekali kunjungan kiri mandibula dengan nekrosis pulpa disertai periodontitis apikalis asimptomatik. Laporan kasus: Pasien laki-laki berusia 25 tahun datang untuk memperbaiki gigi molar pertama kiri mandibula tanpa ada keluhan rasa sakit maupun rasa tidak nyaman. Pemeriksaan klinis dan radiografis menunjukan nekrosis pulpa disertai periodontitis apikalis asimptomatik pasien dilakukan perawatan endodontik sekali kunjungan. Preparasi biomekanis dilakukan dengan single file NiTi rotary hingga #25,06, dan irigasi dilakukan dengan NaOCl 5,25, EDTA 17% serta CHX 2% dengan aktivasi sonic. Obturasi dilakukan dengan teknik warm vertical compaction menggunakan siler bioceramic dan guta-percha single cone. Setelah itu direstorasi dengan indirek onlay komposit. Terdapat beberapa keuntungan dan kerugian dalam melakukan perawatan endodontik sekali kunjungan. Studi menunjukan penyembuhan dari perawatan sekali maupun multi kunjungan sama. Keberhasilan perawatan didukung dari reduksi bakteri, obturasi yang hermetis, serta restorasi koronal yang adekuat. Disinfeksi saluran akar lebih penting dalam perawatan saluran akar dibandingkan jumlah kunjungan perawatan. Simpulan: Perawatan  endodontik sekali kunjungan molar pertama kiri mandibula dengan nekrosis pulpa disertai periodontitis apikal asimptomatik mengurangi durasi perawatan dan dapat mengembalikan fungsional gigi dengan tingkat keberhasilan yang sama dengan perawatan multi kunjungan. kata kuncisekali kunjungan, endodonti, perawatan, desinfeksi saluran akar, nekrosis pulpa, periodontitis apikalis asimptomatikSingle-visit endodontic treatment on first mandibular left molar with necrotic pulp and asymptomatic apical periodontitis: a case reportABSTRACTIntroduction: Single-visit endodontics implies an endodontic treatment from cleaning, shaping, and disinfection until obturation at the same appointment. Several factors including the number of rots, time availability, clinician’s skill, patient’s acceptance, and symptoms need to be considered in case selection. The process of cleaning and shaping determines both the degree of disinfection and ability to obturate the canals. This case resort aimed to describe management of a single-visit endodontic treatment on first lower mandible left molar with necrotic pulp and asymptomatic apical periodontitis. Case report: A 25-year-old male came to restore his mandible left molar without any pain or discomfort. Clinical and radiographic examination showed a necrotic pulp with asymptomatic apical periodontitis. Single-visit endodontic treatment was conducted. The Preparation was done using a #25.06 single-file NiTi rotary, in combination with 5,25% NaOCl, 17% EDTA, and 2% CHX Irrigation steps was done with sonic activation. The canals were obturated with single-cone gutta-percha and bioceramic sealer by warm vertical compaction technique. The tooth then undergone restored with an indirect composite overlay restoration. There are advantages and disadvantages to a single-visit treatment. Studies showed that the healing rate of single and multiple-visit root canal treatment is similar. Reduction of bacteria, hermetic obturation, and satisfactory coronal restoration can result in a successful outcome. Regardless of the number of appointments, effective disinfection of the root canal is critical. Conclusion: Single-visit treatment reduces the number of appointments and restored tooth function with a similar success rate compared to multi-visit treatment. Keywordsingle-visit, endodontic, treatment, root canal irrigants, dental pulp necrosis, apical periodontitis
Mineral Trioxide Aggregate Apical Plug and Intracoronal Bleaching on Dental Trauma: Report of Cases Darmawanti, Miranti Putri; Dwisaptarini, Ade Prijanti; Ratnasari, Dina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49869

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Trauma dapat menyebabkan nekrosis pulpa, resorpsi eksternal, gangguan proses penutupan bagian apikal, dan perubahan warna gigi. MTA memiliki aktivitas antimikroba, biokompatibilitas yang sangat baik, dan kemampuan sealing yang unggul. Bleaching intrakoronal dapat digunakan untuk mengembalikan warna gigi setelah perawatan endodontik. Perawatan apikal yang terbuka dapat dilakukan dengan menggunakan MTA sebagai apical plug. Kasus trauma gigi yang disertai dengan diskolorasi dapat dilakukan bleaching intrakoronal serta MTA sebagai apical plug. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan penatalaksanaan bleaching intrakoronal serta MTA sebagai apical plug. Laporan kasus: Seorang wanita 46 tahun mengeluhkan adanya fraktur dan perubahan warna pada gigi insisivus sentralis kanan rahang atas. Pemeriksaan klinis gigi 11 tidak responsif terhadap tes vitalitas, positif terhadap tes perkusi. Pemeriksaan radiografi terdapat radiolusensi di daerah periapikal. Diagnosis kasus ini nekrosis pulpa disertai periodontitis apikali simptomatik. Setelah perawatan saluran akar dan medikamen intrakanal menggunakan Ca(OH)2, MTA digunakan sebagai apical plug dan diikuti dengan obturasi dengan teknik warm vertical compaction. Bleaching intrakoronal dilakukan dan resin komposit digunakan untuk restorasi akhir. Setelah dua bulan follow up, prognosisnya baik dengan tidak ada perubahan warna gigi. MTA sebagai barrier di ujung saluran akar (apical plug) pada gigi dengan pulpa nekrotik dan apeks yang terbuka. Bleaching intrakoronal dengan hidrogen peroksida memberikan hasil estetika yang baik dalam waktu singkat dan tanpa efek samping. Simpulan: MTA apical plug dan bleaching intrakoronal efektif sebagai perawatan pada perubahan warna gigi non vital dengan apeks terbuka.Kata kunci: apeksifikasi, penutupan apikal, pemutihan, intra koronal, mineral trioksida agregat, apeks terbukaMineral trioxide aggregate apical plug and intracoronal bleaching on dental trauma: a case reportABSTRACTIntroduction: Trauma can cause pulp necrosis, external resorption, interference with the apical closure process, and tooth discoloration. MTA has antimicrobial activity, excellent biocompatibility, and superior sealing abilities. Internal bleaching can be used to restore tooth color after endodontic treatment. Management of open apex can be done using MTA as an apical plug. In cases of dental trauma accompanied by discoloration, intracoronal bleaching and MTA as an apical plug can be performed. This case report aims to report the management of intracoronal bleaching and MTA as an apical plug. Case report: A 46-year-old woman complained of fractured and discolored on her maxillary right central incisor. On clinical examination, tooth 11 was non responsive to vitality tests, positive to percussion test. A 46 year old woman complained of a fracture and discoloration of the maxillary right central incisor. Clinical examination of tooth 11 was unresponsive to vitality tests, positive to percussion tests. Radiographic examination showed radiolucency in the periapical area. After root canal treatment and intracanal medicament using Ca(OH)2, MTA was used as an apical plug and followed with warm vertical compaction obturation.  Intracoronal bleaching was performed and resin composite was used for the final restoration. After 2 months follow up, the prognosis was good with no reversal of tooth discoloration. MTA offers a barrier at the end of root canal (apical plug) in teeth with necrotic pulps and open apex. Intracoronal bleaching with hydrogen peroxide provides superior aesthetic results in a short period of time with no adverse effects. Conclusion: MTA apical plug and intracoronal bleaching were effective as management for discolored non-vital teeth with an open apex.Keyword: apexification, apical plug, intracoronal, bleaching, mineral trioxide aggregate, open apex.