cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Potensi larutan teh hijau celup sebagai alternatif Hank’s Balanced Salt Solution mempertahankan viabilitas sel ligamen periodontal gigi avulsi: studi in vitro Zahratuljannah, Reshaina Dewi Azizah; Widodo, A. Haris Budi; Triani, Maulina; Ichsyani, Meylida; Rochmawati, Mutia
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.55391

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Avulsi gigi terjadi ketika gigi terlepas sepenuhnya dari soket alveolar akibat trauma. Perawatan awal yang dilakukan pada gigi avulsi/replantasi, yaitu menanamkan kembali gigi ke dalam soket dengan segera. Prognosis kesuksesan replantasi gigi sangat bergantung pada viabilitas sel ligamen periodontal sehingga memerlukan media penyimpanan yang sesuai dan manajemen waktu yang tepat. Penelitian bertujuan menganalisis potensi larutan teh hijau celup sebagai alternatif penggunaan Hank’s Balanced Salt Solution (HBSS) pada viabilitas sel ligamen periodontal pada gigi. Metode: Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratoris in vitro menggunakan sampel sel ligamen periodontal pada 32 gigi insisivus maksila tikus Wistar. Sampel dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kelompok yang direndam dalam larutan teh hijau celup dan kelompok kontrol positif pada HBSS selama 1, 3, 6, dan 24 jam. Metode analisis penghitungan persentase viabilitas sel ligamen periodontal dengan pewarnaan eksklusi trypan blue dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Analisis statistik menggunakan one way ANOVA untuk membandingkan persentase antar waktu pada teh hijau celup dan independent t-test untuk membandingkan teh hijau celup dan HBSS pada setiap waktu. Hasil: Hasil one way ANOVA p>0,05 yang menandakan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antar perendaman dalam larutan teh hijau celup. Hasil independent t-test pada jam ke 1 dan 3 p>0,05 yang menandakan tidak terdapat perbedaan signifikan dan pada jam ke 6 dan 24 p<0,05 menandakan adanya perbedaan signifikan antara perendaman dalam larutan teh hijau celup dan larutan kontrol positif HBSS. Simpulan: Larutan teh hijau celup dapat menjadi alternatif HBSS dalam mempertahankan viabilitas sel ligamen periodontal gigi avulsi.Potential of green tea bag solution as an alternative to Hank’s Balanced Salt Solution in maintaining periodontal ligament cell viability in Wistar rat avulsed teeth: in vitro study Introduction: Tooth avulsion occurs when the tooth is completely separated from the alveolar socket due to trauma. The initial treatment for an avulsed tooth is replantation, namely immediately implanting the tooth back into the socket. The prognosis for successful tooth replantation is highly dependent on the viability of periodontal ligament cells. Use of appropriate storage media and proper time management are critical to preserving periodontal ligament cells and the likelihood of successful replantation. This study aims to analyze potential of a green tea bag solution as an alternative to using Hank’s Balanced Salt Solution (HBSS) on periodontal ligament cell viability in avulsed teeth. Methods: The research was carried out experimentally in vitro using periodontal ligament cell samples from 32 maxillary incisors of Wistar rats. The samples were divided into 8 groups, namely the group soaked in green tea bag solution and the positive control group in HBSS for 1, 3, 6, and 24 hours. The analytical method is to calculate the percentage of periodontal ligament cell viability using trypan blue exclusion staining under a microscope with 100x magnification. Statistical analysis used one way ANOVA to compare percentages between times of bagged green tea and independent t-test to compare bagged green tea and HBSS at each time. Results: The results of one way ANOVA were p>0.05 which indicated that there was no significant difference between immersion in green tea bag solution. The results of the independent t-test at the 1st and 3rd hours were p>0.05 which indicated there was no significant difference and at the 6th and 24th hours p<0.05 which indicated there was a significant difference between immersion in the green tea bag solution and HBSS as the positive control solution. Conclusion: Green tea bag solution can be an alternative to HBSS in maintaining periodontal ligament cell viability in avulsed teeth.
Perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19The difference in knowledge of COVID-19 infection control among general dentists and specialists Pratama, Adellia Ninda; Nasia, Avina Anin; Purbaningrum, Diah Ajeng; Skripsa, Tira Hamdillah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.241981/jkg.v134i2.34202

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: COVID-19 merupakan penyakit dengan jenis baru yang belum pernah ditemukan dan diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Terjadinya penularan pada praktik kedokteran gigi dikarenakan adanya beberapa faktor dimana profesi dokter gigi umum dan spesialis merupakan salah satu profesi yang sangat rentan terhadap terjadinya penularan infeksi silang penyakit menular yang disebabkan adanya kontak pada cairan tubuh seperti saliva maupun darah sehingga diperlukan pengetahuan yang baik dalam pengendalian infeksi COVID-19. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang (cross-sectional). Seluruh sampel berjumlah 130 orang terdiri dari dokter gigi umum sebanyak 80 orang dan dokter gigi spesialis sebanyak 50 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner online melalui platform google form untuk mengetahui karakteristik sampel dan tingkat pengetahuan terhadap pengendalian COVID-19 yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19 menggunakan uji Mann-Whitney dan dilanjutkan uji regresi logistik untuk mengetahui pengaruh karakteristik terhadap tingkat pengetahuan. Hasil: Uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19 (p=0,018). Presentase dokter gigi spesialis yang memiliki pengetahuan sangat baik (88%) lebih besar dari kelompok dokter gigi umum (70%). Uji multivariat regresi logistik untuk menguji variabel yang berpengaruh terhadap pengetahuan menunjukkan bahwa dokter gigi spesialis cenderung berpengetahuan lebih baik daripada dokter gigi umum (OR=3,496, p=0,013). Simpulan: Terdapat perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap COVID-19 dan karakteristik profesi memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan pengendalian COVID-19.Kata kunci: COVID-19; dokter gigi umum; dokter gigi spesialis; pengetahuan; pengendalian infeksi ABSTRACT Introduction: COVID-19 is a new type of disease that has never been previously discovered and identified in humans. The occurrence of transmission in dental practice is due to several factors where the general dentist and specialist profession is one of the professions that are very susceptible to cross- infection transmission in infectious diseases caused by contact with fluids in the body such as saliva or blood.Therefore good knowledge needed in the COVID-19 infection control. This study aimed to find the differences in the knowledge between general dental practitioners and dental specialists in controlling COVID-19 infection. Methods: This was an analytical observational research with a cross-sectional design. The total sample was 130 dentists, consisting of 80 general dental practitioners and 50 dental specialists. The sampling technique used quota sampling. Instrument in this research used an online questionnaire via google forms platform to know the characteristics of the sample and the level of knowledge regarding the control of COVID-19. The instrument had been tested for its validity and reliability. The statistical tests used to find the difference in the knowledge between general dental practitioners and dental specialists in controlling COVID-19 infection were the Mann-Whitney test and continued with logistic regression test to determine the effect of characteristics on the level of knowledge. Results: Mann-Whitney Test showed differences in the knowledge of general dental practitioners and dental specialists in controlling COVID-19 infection (p=0,018). Conclusion: There were differences in the knowledge of general dental practitioners and dental specialists in COVID-19. In addition, the profession’s characteristics affect knowledge level of COVID-19 control.Keywords: COVID-19; general dentist; specialist dentist; knowledge; infection control
Tata laksana perburukan mukositis oral akibat radiasi pada pasien kanker kepala leher: Laporan kasus Rajasa, Adrianus Surya Wira; Dewi, Tenny Setiani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.52823

Abstract

Pendahuluan: Mukositis oral merupakan kondisi inflamasi dan ulserasi mukosa oral yang salah satunya akibat terapi radiasi. Dokter gigi berperan dalam melakukan tata laksana mukositis oral akibat radioterapi, meski demikian belum ada cara dan strategi yang paling ampuh dalam menanggulanginya. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas tata laksana komprehensif mukositis oral yang bertambah buruk akibat penambahan dosis radiasi. Laporan kasus: Pasien wanita, 33 tahun dirujuk dari bagian onkologi-radiasi ke departemen Ilmu Penyakit Mulut dengan keluhan sulit membuka mulut dan sakit pada seluruh rongga mulutnya. Diagnosis utama adalah kanker sel basal area zigoma, dan sudah dilakukan terapi penyinaran sebanyak 16 kali. Obat-obat dari bagian onkologi-radiasi berupa sulcralfat sirup, mikostatin, klindamisin, parasetamol, metilprednisolon, vitamin B kompleks, dan asam folat. Pemeriksaan ekstra oral terdapat luka bekas jahitan area zigoma bilateral dari operasi sebelumnya yang menyulitkan dalam membuka mulut. Pemeriksaan intra oral terlihat mukostis tingkat 3 skala WHO dan xerostomia sedang skala Challacombe. Instruksi dari bagian Ilmu Penyakit Mulut dengan berkumur dan kompres bibir menggunakan kassa steril yang dilembabkan dengan larutan NaCl 0,9%. Sebagai agen anti-inflamasi diberikan ice chips dan asam hialuronat 0,025%. Pemberian petroleum jelly dan saliva artifisial diberikan terkait rasa kering pada mulut dan bibir pasien. Penambahan dosis radiasi menghambat proses penyembuhan mukositis oral dan mengganggu kemandirian pasien dalam pembersihan rongga mulut, sehingga alat bantu berkumur berupa modifikasi alat cuci-hidung diterapkan. Simpulan: Proses penyembuhan mukositis oral dapat terganggu akibat penambahan dosis radiasi, oleh karena itu tata laksana komprehensif dan simtomatis yang tepat harus dilakukan untuk mencegah perburukan.Management of exacerbation on radiation-induced oral mucositis in head and neck cancer patients: A case reportIntroduction: Radiation-induced oral mucositis (RIOM) is an inflammatory condition and ulceration of the oral mucosa due to radiation therapy. Dentists have an important role in the management of oral mucositis, however, the most effective ways and strategies are yet to be discovered. This case report aims to discuss the comprehensive management of oral mucositis that worsened due to additional radiation dose. Case report: A 33-year-old female patient was referred from the oncology-radiation department to the Oral Medicine department with complaints of difficulties opening her mouth and pain throughout her oral cavity. The patient's initial diagnosis was basal cell carcinoma of the zygoma and had undergone 16 irradiations. Medications from the oncology-radiation department include sucralfate syrup, mycostatin, clindamycin, paracetamol, methylprednisolone, vitamin B complex, and folic acid. Extra oral examination showed suture scars on bilateral zygoma from prior surgeries and limited mouth opening. Intra-oral examination revealed a grade 3 oral mucositis (WHO) and moderate xerostomia in the Challacombe scale. Instructions for rinsing and compressing the lips using sterile gauze moistened with 0.9% NaCl solution. Ice chips and 0.025% hyaluronic acid were given as anti-inflammatory agents. Petroleum jelly and artificial saliva were administered due to the dryness of the patient's oral cavity and lips. Additional radiation dose inhibits the healing process of oral mucositis and independence in oral hygiene, therefore a gargling aid from a modified nasal-rinse device was implemented. Conclusion: The healing process of oral mucositis may be impaired due to additional radiation dose, hence comprehensive and suitable symptomatic management is required to prevent exacerbation.
Perbedaan proporsi wajah penderita bruxism dengan non bruxism: a cross sectional study Mulya, Ignasia Renata; Rikmasari, Rasmi; Novianti, Vita Mulya Passa
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.56958

Abstract

Pendahuluan: Bruxism adalah aktivitas parafungsional yang sering dikaitkan dengan kebiasaan clenching, gnashing, dan grinding antar gigi dan dilakukan pada saat tersadar ataupun tertidur. Kebiasaan bruxism jika dilakukan terus menerus dapat menyebabkan terjadinya pemendekan dimensi vertikal dan penambahan lebar bigonial mandibula. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis mengenai proporsi wajah antara penderita bruxism dengan non bruxism. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional pada 40 orang yang merupakan pasien RSGM Unpad, terdiri dari 20 orang bruxism (perempuan 16 orang dan laki-laki 4 orang) dan 20 orang non bruxism (perempuan 16 orang dan laki-laki 4 orang). Data diperoleh dengan memotret wajah pasien bruxism dan non bruxism di Instalasi Prostodonsia RSGM Unpad. Hasil foto dianalisis menggunakan aplikasi Photoshop dan dihitung menggunakan metode horizontal thirds dan vertical fifths. Uji yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji statistik parametrik t-test independent  (uji t).  Hasil: Analisis foto wajah menunjukkan bahwa penderita bruxism lebih banyak pada wanita dengan tinggi sepertiga wajah bagian bawah, lebih pendek, yaitu rata-rata 3,11 cm sedangkan non bruxism rata-rata 3,52 cm dan signifikan secara statistik. Simpulan: Proporsi sepertiga wajah bagian bawah penderita bruxism lebih pendek dibandingkan dengan non bruxism, ditinjau dari hasil fotografi.Differences in facial proportions between bruxism and non bruxism patients: a cross sectional study Introduction: Bruxism is a parafunctional activity commonly associated with clenching, gnashing, and grinding of teeth, occurring both during wakefulness and sleep. Persistent bruxism can lead to a reduction in vertical dimension and an increase in mandibular bigonial width. This study aims to compare facial proportions of individuals with bruxism to those without. Methods: This cross-sectional study was conducted on 40 patients at RSGM Unpad, comprising 20 bruxism patients (16 females and 4 males) and 20 non-bruxism patients (16 females and 4 males). Data were collected by photographing the faces of both bruxism and non-bruxism patients at the Prosthodontics Department of RSGM Unpad. The photographs were analyzed using Photoshop and measured according to the horizontal thirds and vertical fifths methods. The statistical analysis performed in this study was a parametric test using the independent t-test. Results: Facial photo analysis revealed that bruxism was more prevalent among females. The lower third of the face in bruxism patients was significantly shorter, averaging 3.11 cm, compared to 3.52 cm in non-bruxism patients, a statistically significant difference. Conclusions: Photographic analysis revealed that the lower third of the face in bruxism patients is significantly shorter than in non-bruxism individuals
Camouflage orthodontic treatment of class I malocclusion with bimaxillary prognathism and risk of apical tooth resorption: a case report arlan, Anggi; Anggani, Haru Setyo; Antolis, Maureen; Develas, Deo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.48696

Abstract

Introduction: The primary goal of orthodontic treatment for bimaxillary prognathism is to reduce facial convexity. Treatment options depend on skeletal discrepancies and may involve surgery combined with orthodontics or camouflage orthodontic treatment. However, camouflage orthodontic treatment in cases of severe skeletal discrepancies carries a risk of root resorption. This case report aims to present the orthodontic camouflage treatment of Class I bimaxillary prognathism and its associated risk of root resorption. Case report: A 19-year-old female patient presented with a chief complaint of lower teeth crowding. She had a dolichofacial, symmetrical, and balanced face with a convex profile. The relation of incisor and canine on both the right and left sides was Class I.  The first molar relation of the right side is class I, and the left is class III with 3 mm overjet and 4 mm overbite. The lower midline shifted 2 mm to the left. Spaces requirement of the treatment based on Kesling’s method was a final overjet of 2 mm as follows: Upper Right -4.5 mm, Upper Left -4 mm, Lower Left -5 mm, and Lower right -4 mm. Treatment indication was camouflage orthodontic treatment with extraction using pre-adjusted edgewise MBT 0.022” brackets. The treatments aim to camouflage the convex profile caused by prognathism in both jaws and the degree of protrusion of the maxillary and mandibular anterior teeth. Conclusion: The orthodontic camouflage treatment for Class I bimaxillary prognathism using extractions and fixed appliances with preadjusted edgewise MBT 0.022” brackets improved facial and smile aesthetics, as well as masticatory function. However, Root resorption occurred as a complication due to maxillary and mandibular incisor intrusion during deep overbite correction over 27 months of treatment.Perawatan ortodonti kamuflase kasus maloklusi kelas I bimaxillary prognathism dan risiko resorpsi akar gigi: laporan kasusPendahuluan: Tujuan utama perawatan ortodonti kasus bimaxillary prognathism adalah mereduksi kecembungan profil wajah pasien. Pilihan perawatan ortodonti kasus bimaxillary prognathism berdasarkan diskrepansi skeletal dapat berupa perawatan kombinasi bedah dan ortodonti atau perawatan ortodonti kamuflase. Tujuan laporan kasus ini adalah melaporkan perawatan ortodonti kamuflase kasus maloklusi kelas I bimaxillary prognathism dan risiko resorpsi akar gigi. Laporan kasus:  Pasien perempuan 19 tahun dengan keluhan gigi bawah tumbuh tidak beraturan. Wajah dolichofacial, simetris dan seimbang dengan profil cembung. Relasi insisif serta kaninus kanan dan kiri kelas I. Relasi molar pertama tetap kanan kelas I dan kiri kelas III dengan overjet 3 mm dan overbite 4 mm. Garis tengah lengkung gigi bawah bergeser ke kiri 2 mm. Kebutuhan ruang menurut metode kesling dengan overjet akhir 2mm sebagai berikut: kanan atas -4,5 mm, kiri atas -4 mm, kiri bawah -5 mm, dan kanan bawah -4 mm. Perawatan ortodonti kamuflase indikasi ekstraksi dengan piranti cekat preadjusted edgewise MBT slot .022”. Tujuan perawatan kasus ini adalah menyamarkan gambaran profil cembung yang disebabkan oleh prognathism pada kedua rahang serta derajat protrusi gigi - gigi anterior rahang atas dan bawah. Paska debonding ditemukan adanya resorpsi akar pada apikal gigi insisif rahang atas dan rahang bawah. Simpulan: Perawatan ortodonti kamuflase kasus maloklusi kelas I bimaxillary prognathism dengan ekstraksi dan piranti cekat braket preadjusted edgewise MBT slot 022”. memberikan perbaikan estetika/profil wajah dan senyum serta mastikasi pasien. Resorpsi akar yang terjadi merupakan komplikasi akibat dari gerakan intrusi insisif rahang atas dan rahang bawah dalam rangka koreksi deep overbite selama 27 bulan perawatan.
Penambahan nanosilika abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap perbedaan kekerasan permukaan dan kekuatan impak: studi eksperimental laboratoris Br Sitepu, Elisha Angela; Wahyuni, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.55884

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas (RAPP) sering digunakan untuk membuat basis gigi tiruan, namun memiliki kekurangan dalam hal kekuatan dan kekerasan sehingga mudah fraktur. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan bahan penguat nanosilika abu cangkang kelapa sawit. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis  penambahan nanosilika abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan RAPP terhadap perbedaan kekerasan permukaan dan kekuatan impak. Metode: Rancangan penelitian ini adalah eksperimen laboratorium yang membagi 60 sampel berbentuk balok (65×10×2,5±0,5 mm) menjadi tiga kelompok: A (kontrol), B (nanosilika 5%), dan C (nanosilika 6%). Masing-masing 30 sampel diuji menggunakan Vickers Hardness Tester dengan satuan VHN (Vickers Hardness Number dan Charpy Impact Tester dengan satuan J/mm². Uji statistik yang digunakan Kruskal-Wallis kekerasan permukaan dan uji Anova satu arah pada kekuatan impak. Hasil: Uji kekerasan permukaan kelompok A adalah 15,36 ± 0,39 VHN, kelompok B adalah 16,85 ± 0,27 VHN, dan kelompok C adalah 18,45 ± 0,41 VHN. Uji kekuatan impak kelompok A adalah 11,36 ± 1,64 J/mm2, kelompok B adalah 5,61 ± 1,50 J/mm2, dan kelompok C adalah 4,82 ± 1,44 J/mm2. Ada perbedaan yang signifikan dengan p=0,0001. Ada perbedaan yang signifikan pada kekerasan permukaan antara kelompok A dengan kelompok B dan C dengan p=0,0001 (p<0,05), dan kelompok B dengan kelompok C dengan p=0,0001 (p<0,05), terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kekuatan impak antara kelompok A dengan kelompok B dan C dengan p=0,0001 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan kekerasan permukaan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan penambahan nanosilika abu cangkang kelapa sawit 5 dan 6%, namun menurunkan kekuatan impak, tetapi nilai kekuatan impak yang diperoleh masih berada dalam standar ISO. Kata kunci resin akrilik polimerisasi panas, nanosilika, abu cangkang kelapa sawit, kekerasan permukaan, kekuatan impakThe effect of addition nanosilica palm kernel shell ash in heat-cured acrylic resin denture base on surface hardness and impact strength: a laboratory experimental studyIntroduction: Heat-polymerized acrylic resin (HPAR) is commonly used for denture bases but is limited by its strength and hardness, which makes it prone to fractures. This limitation can be addressed by adding nanosilica derived from palm kernel shell ash as a reinforcing material. This study aims to analyze the effect of adding palm kernel shell ash nanosilica on HPAR dentures base on surface hardness and impact strength. Methods: This laboratory experiment involved 60 block-shaped samples (65 × 10 × 2.5 ± 0.5 mm) divided into three groups: Group A (control), Group B (5% nanosilica), and Group C (6% nanosilica). Surface hardness for each group was tested using the Vickers Hardness Tester, with results in Vickers Hardness Number (VHN), and impact strength was tested using the Charpy Impact Tester, with results in J/mm². Statistical analysis was performed using Kruskal-Wallis test surface hardness and one-way ANOVA for impact strength. Results:  Surface hardness for Group A was 15.36 ± 0.39 VHN, Group B was 16.85 ± 0.27 VHN, and Group C was 18.45 ± 0.41 VHN. Impact strength for Group A was 11.36 ± 1.64 J/mm², Group B was 5.61 ± 1.50 J/mm², and Group C was 4.82 ± 1.44 J/mm², with significant differences observed (p=0.0001). Significant differences in surface hardness were found between Group A and both Groups B and C (p=0.0001) as well as between Groups B and C (p=0.0001). Similarly, significant differences in impact strength were observed between Group A and both Groups B and C (p=0.0001). Conclusion: There is a difference in the surface hardness of heat-polymerized acrylic resin denture base with the addition of 5% and 6% from palm kernel shell ash; however, the impact strength decreases. Nevertheless, the impact strength values remain within ISO standards.Keywordsheat cured acrylic resin, nanosilica, palm kernel shell ash, surface hardness, impact strength
Perbedaan efek perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam ekstrak lidah buaya (Aloe vera) dan alkalin peroksida terhadap kekasaran permukaan: studi eksperimental Nasution, Rizki Nurul Fadilah; Dahar, Eddy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.54306

Abstract

Pendahuluan: Nilon termoplastik merupakan bahan basis gigi tiruan yang diminati karena memiliki berbagai kelebihan, yaitu fleksibel, estetis, dan tahan terhadap suhu tinggi. Namun, nilon ini cenderung menyerap air, yang dapat meningkatkan kekasaran permukaan. Nilon termoplastik dapat dibersihkan dengan ekstrak lidah buaya (Aloe vera) 75 % dan alkalin peroksida. Lidah buaya digunakan sebagai desinfeksi alami dan umumnya pengguna gigi tiruan menggunakan alkalin peroksida sebagai desinfeksi kimiawi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam ekstrak lidah buaya dan alkalin peroksida terhadap kekasaran permukaan. Metode: Rancangan penelitian adalah experimental dengan desain posttest only control. Sampel penelitian adalah nilon termoplastik sebanyak 36 spesimen (Bioplast, berbentuk silinder dengan diameter 20 ± 1 mm dengan ketebalan 2 ± 0,1 mm) yaitu 18 spesimen direndam dalam ekstrak lidah buaya dan 18 spesimen dalam alkalin peroksida selama 92 jam untuk simulasi pemakaian selama 15 menit perhari selama 1 tahun. Perendaman spesimen selama 92 jam simulasi pemakaian selama 15 menit perhari selama 1 tahun dikarenakan secara umum gigi tiruan nilon termoplastik diperkirakan dapat digunakan sampai 5 tahun, namun harus dievaluasi satu tahun sekali untuk memastikan bahwa gigi tiruan masih tetap optimal. Sampel kemudian diuji dan dianalisis dengan uji t tidak berpasangan untuk menganalisis kekasaran permukaan. Hasil: Tidak ada perbedaan efek perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik pada ekstrak lidah buaya dan alkalin peroksida selama 92 jam (1 tahun) terhadap kekasaran permukaan namun masih dalam batasan yang dapat ditolerir p=0,131 (p>0,05), walaupun dilihat dari data nilai kekasaran permukaan perendaman ekstrak lidah buaya lebih rendah dibandingkan alkalin peroksida. Simpulan: Tidak ada perbedaan efek perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam larutan ekstrak lidah buaya dan alkalin peroksida terhadap kekasaran permukaan.Kata kunci kekasaran permukaan, nilon termoplastik, ekstrak lidah buaya, desinfeksi, perendamanThe effect of soaking thermoplastic nylon denture base in Aloe vera extract and alkaline peroxide on surface roughness: experimental studyIntroduction: Thermoplastic nylon is a popular denture base material due to its advantages, flexible, aesthetic and high-temperatures resistance. However, it tends to absorb water, which can increase surface roughness. Thermoplastic nylon denture bases can be cleaned with 75% aloe vera extract and alkaline peroxide. Aloe vera serves as a natural disinfectant for dentures, while most denture users opt for alkaline peroxide as a chemical disinfectant. This study aims to determine the effect of soaking a thermoplastic nylon denture base in 75% aloe vera extract and alkaline peroxide on surface roughness. Methods: This research design is true experimental with a posttest only control design. The samples for this study were thirty-six thermoplastic nylon specimens (Bioplast, cylindrical with a diameter of 20 ± 1 mm with a thickness of 2 ± 0.1 mm), namely 18 specimens soaked in aloe vera extract and 18 specimens in alkaline peroxide for 92 hours to simulate use during 15 minutes per day for 1 year. The samples were then tested and analyzed with an unpaired t test to analyze surface roughness. Results: The test results showed that there was no effect of soaking the thermoplastic nylon denture base in aloe vera extract and alkaline peroxide for 92 hours (1 year) on surface roughness but it was still within tolerable limits p=0.131 (p>0.05), although Judging from the data, the surface roughness value of soaking aloe vera extract is lower than alkaline peroxide. Conclusion: Soaking thermoplastic nylon denture bases in aloe vera extract and alkaline peroxide solutions has no significant effect on surface roughness.Keywordssurface roughness, thermoplastic nylon, Aloe vera extract, disinfection, soaking 
Comparison of the potential of green okra (Abelmoschus esculentus) extract and a combination of 17% EDTA and 2.5% NaOCl in removing the smear layer from dental root canal walls: experimental laboratory Nissa, Rahma Aulia; Nugroho, Raditya; Fatmawati, Dwi Warna Aju
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.56053

Abstract

Introduction: The smear layer is a thin film of organic and inorganic substances that can inhibit intracanal medication penetration, necessitating removal with root canal irrigants. Commonly used irrigants include a combination of 17% EDTA and 2.5% NaOCl, but EDTA is ineffective against organic components, while NaOCl may cause periapical pain and instrument corrosion. Green okra extract contains active antibacterial compounds, showing potential as an alternative. This research aimed to compare the potential of green okra extract with that of 17% EDTA and 2,5% NaOCl in smear layer removal. Methods: This research is a laboratory experiment with a posttest only control group design. The treatment groups consisted of 12.5% green okra extract and a combination of 17% EDTA and 2,5% NaOCl root canal irrigation agents. Ten mandibular premolars were sectioned at the cemento-enamel junction then prepared using step-back technique. Five samples were irrigated with 0,1 ml of 12.5% green okra extract, while the other five received 0,1 ml 17% EDTA and 2.5% NaOCl. The cleanliness of the root canal walls was evaluated using a Scanning Electron Microscope (SEM) at 5000x magnification, and data were analyzed using the Mann-Whitney U test. Result: Both groups exhibited similar levels of root canal cleanliness (p=0.093), with a cleanliness score of 2, indicating mostly open dentin tubule orifices and minimal smear layer. Conclusion: Green okra extract (12.5) demonstrated comparable potential to a combination of 17% EDTA and 2.5% NaOCl in removing the smear layer from root canal walls.Perbandingan potensi ekstrak okra hijau (Abelmoscus esculentus) dengan kombinasi EDTA 17% dan NaOCl 2,5% dalam membersihkan smear layer dinding saluran akar gigi: eksperimental laboratorisPendahuluan: Smear layer adalah lapisan tipis yang berisi substansi organik dan anorganik. Smear layer dapat menghambat penetrasi medikamen intrakanal ke dalam tubulus dentin sehingga harus dibersihkan dengan bahan irigasi saluran akar. Bahan irigasi saluran akar yang biasa digunakan adalah kombinasi EDTA 17% dan NaOCl 2,5%. Namun, EDTA 17% tidak dapat membersihkan substansi organik dari smear layer, sedangkan NaOCl 2,5% dapat menimbulkan nyeri pada jaringan periapikal serta menimbulkan korosi instrumen endodontik. Ekstrak okra hijau mengandung senyawa antibakteri aktif, sehingga berpotensi sebagai alternatif bahan irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan potensi ekstrak okra hijau dengan kombinasi EDTA 17% dan NaOCl 2,5% dalam membersihkan smear layer dinding saluran akar gigi. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan posttest only control group design. Kelompok perlakuan konsentrasi ekstrak okra hijau 12,5% dan kombinasi EDTA 17% dan NaOCl 2,5%. Sepuluh premolar mandibula dipotong di cemento-enamel junction kemudian dipreparasi menggunakan teknik step back. Lima sampel di irigasi dengan ekstrak okra hijau 12,5% sebanyak 0,1 ml dan lima sampel di irigasi dengan EDTA 17% sebanyak 0,1 ml 17% dan NaOCl 2,5% sebanyak 0,1. Sepuluh sampel dinilai skor kebersihan dinding saluran akarnya menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dengan perbesaran 5000x dan dilakukan uji beda menggunakan Mann Whitney U test. Hasil: Kebersihan dinding saluran akar pada dua kelompok sampel memiliki tingkat kebersihan yang sama. Analisis data menggunakan Mann Whitney U test. diperoleh nilai p=0,093 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua kelompok. Kedua kelompok memiliki skor 2, artinya sebagian besar orifis tubuli dentin terbuka dan terdapat sedikit smear layer. Simpulan: Ekstrak okra hijau 12,5% mempunyai potensi yang sama dengan kombinasi larutan EDTA 17% dan irigasi NaOCl 2,5% dalam membersihkan smear layer dinding saluran akar.
Effect of polishing paste on color stability of nanohybrid and spherical filler composite after immersion in black tea: a laboratory experiment Yasminadani, Widharaniputri; Meidyawati, Ratna; Kusumasari, Citra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.57127

Abstract

Introduction: The characteristics of the composite filler directly affect the surface roughness and susceptibility to extrinsic staining. An esthetic composite restoration depends on the color stability, that can be attributed to the low surface roughness. Therefore, it is crucial to apply appropriate polishing procedures. This study aim to analyze the effect of polishing paste on color stability of nanohybrid and spherical filler composite after immersion in black tea: a laboratory experiment. Method: Forty-two cylinder-shaped with a diameter of 6mm and a thickness of 2mm were prepared from nanohybrid (Filtek Z250XT) and spherical filler composite resin (Palfique Omnichroma), then divided into four sub-groups subjected to different polishing treatments and two control sub-groups without polishing. The groups were as follows: nanohybrid without polishing (N-K), spherical filler without polishing (SF-K), nanohybrid polished with discs (N-Pd), spherical filler polished with discs (SF-Pd), nanohybrid polished with discs followed by paste (N-PdP), and spherical filler polished with discs followed by paste (SF-PdP). Specimens were immersed in black tea for 7 days. The initial and final color were measured using a colorimeter. Data were analyzed using One-Way ANOVA and Tamhane's Post Hoc test. Results: Immersion in black tea solution resulted in clinically unacceptable color changes, except for the N-PdP group. The N-K group exhibited the highest ∆E* value, while the N-PdP group showed the smallest ∆E* value. Conclusion: The use of polishing paste reduced color changes in composite resin due to black tea. Nanohybrid composite resin polished with a disc followed by paste demonstrates better resistance to color changes.Pengaruh pasta poles terhadap stabilitas warna komposit dengan filler nanohybrid dan spherical setelah perendaman di dalam teh hitam: eksperimental laboratorisPendahuluan: Karakteristik filler resin komposit secara langsung mempengaruhi kekasaran permukaan dan kerentanan terhadap pewarnaan ekstrinsik. Restorasi resin komposit yang estetik bergantung pada stabilitas warna, yang berkaitan dengan kehalusan permukaan. Oleh karena itu, penerapan pemolesan yang tepat sangatlah penting dalam restorasi resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pasta poles terhadap stabilitas warna komposit nanohybrid dan spherical setelah perendaman dalam teh hitam. Metode: Empat puluh dua spesimen berbentuk silinder dengan diameter 6mm dan tebal 2mm dipersiapkan dari resin komposit nanohybrid (Filtek Z250XT) dan spherical filler (Palfique Omnichroma) kemudian dibagi ke dalam 4 subkelompok yang diberikan perlakuan pemolesan berbeda dan 2 sub kelompok kontrol tanpa pemolesan. Kelompok tersebut adalah: nanohybrid tanpa pemolesan (N-K), spherical filler tanpa pemolesan (SF-K), nanohybrid dipoles dengan disc (N-Pd), spherical filler dipoles dengan disc (SF-Pd), nanohybrid dipoles dengan disc diikuti pasta (N-PdP), dan spherical filler dipoles dengan disc diikuti pasta (SF-PdP). Spesimen direndam dalam teh hitam selama 7 hari. Warna awal dan akhir diukur menggunakan colorimeter. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan Post Hoc Tamhane. Hasil: Perendaman dalam teh hitam menghasilkan perubahan warna yang tidak dapat diterima secara klinis, kecuali pada kelompok N-PdP. Kelompok N-K menunjukkan nilai ∆E* terbesar, sementara kelompok N-PdP menunjukkan nilai ∆E* terkecil. Simpulan: Penggunaan pasta poles mengurangi perubahan warna resin komposit akibat teh hitam. Resin komposit nanohybrid yang dipoles menggunakan disc diikuti pasta menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap perubahan warna.
Uji efektivitas ekstrak kulit jengkol (Pithecellobium lobatum benth.) terhadap pertumbuhan Streptococcus viridans: studi eksperimental laboratoris Syaflida, Rahmi; Ramayani, Al Shella; Isnandar, Isnandar; Riza, Ahyar
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.57875

Abstract

Pendahuluan: Kulit jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) merupakan limbah organik yang melimpah di pasar tradisional namun belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit jengkol mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, steroid antrakinon, tanin, saponin, dan asam fenolat yang diketahui memiliki potensi antibakteri. Senyawa-senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan merusak struktur peptidoglikan pada dinding sel sehingga integritas sel terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibakteri ekstrak kulit jengkol terhadap Streptococcus viridans secara in vitro. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post-test only control group design. Ekstraksi kulit jengkol dilakukan dengan metode maserasi, kemudian dilarutkan dalam DMSO menjadi lima konsentrasi (5%, 10%, 20%, 40%, 80%). Chlorhexidine gluconate 0,2% digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan DMSO sebagai kontrol negatif. Uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram Kirby-Bauer pada media MHA dengan empat kali pengulangan. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 29 dengan uji normalitas Shapiro-Wilk, homogenitas Levene test, dilanjutkan ANOVA dan Post Hoc LSD. Hasil: Rata-rata diameter zona hambat meningkat seiring konsentrasi: 5% (7,325 mm), 10% (9,550 mm), 20% (10,400 mm), 40% (11,800 mm), dan 80% (14,775 mm). Terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p=0,001), kecuali antara konsentrasi 10%-20%, 20%-40%, dan 80% dengan kontrol positif (p>0,05). Simpulan: Ekstrak kulit jengkol efektif menghambat pertumbuhan Streptococcus viridans secara in vitro.Effectiveness test of jengkol peel extract (Pithecellobium lobatum benth.) against Streptococcus viridans growth: a laboratory experimental studyIntroduction: Jengkol peel (Pithecellobium lobatum Benth.) is an abundant organic waste often discarded in traditional markets but remains underutilized. It contains active compounds such as alkaloids, flavonoids, glycosides, steroids, anthraquinones, tannins, saponins, and phenolic acids, many of which exhibit antibacterial potential. These compounds can inhibit bacterial growth by disrupting the peptidoglycan structure in the bacterial cell wall, thereby compromising cell integrity. This study aimed to analyze the antibacterial effectiveness of jengkol peel extract against Streptococcus viridans in vitro. Methods: This laboratory experimental study used a post-test-only control group design. Jengkol peel was extracted using the maceration method and dissolved in DMSO to obtain five concentrations (5%, 10%, 20%, 40%, and 80%). Chlorhexidine gluconate (0.2%) served as a positive control, and DMSO as a negative control. The antibacterial activity was evaluated using the Kirby-Bauer disc diffusion method on Mueller-Hinton agar (MHA), with four replicates per treatment. Data were analyzed using SPSS version 29 with Shapiro-Wilk test for normality, Levene’s test for homogeneity, followed by one-way ANOVA and post hoc LSD tests. Results: The mean inhibition zone diameters increased with higher concentrations: 5% (7.325 mm), 10% (9.550 mm), 20% (10.400 mm), 40% (11.800 mm), and 80% (14.775 mm). Significant differences were observed among treatment groups (p=0.001), except between 10%-20%, 20%-40%, or 80% and the positive control (p>0.05). Conclusion: Jengkol peel extract demonstrates antibacterial activity against Streptococcus viridans in vitro.