cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Correlation between dental caries severity and oral health knowledge in children aged 9-12 years in the agroindustrial area: an analytical observational study Effendi, Fitria Yolanda Mellinia; Handayani, Ari Tri Wanodyo; Prihatiningrum, Berlian
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.56364

Abstract

Introduction: Dental caries is a disease of hard tooth tissues that is often found in children, particularly those aged 9–12 years at the elementary school level. According to Riskesdas 2018, around 57.6% of Indonesia's population experiences dental and oral health problems, with a high prevalence of caries in school-age children. This condition is exacerbated by limited awareness of the importance of oral hygiene, leading to neglectful behaviors. This study aims to analyze the correlation between the severity of dental caries and oral health knowledge in children aged 9-12 years in the agro-industrial area. Methods: This research used an analytical observational design with a cross-sectional approach and included a total sample of 35 students selected using  a total sampling method. Data was collected through direct observation of oral cavity conditions and a self-developed questionnaire with questions about dental and oral health. Results: The sample included 14 male students and 21 female students, with the highest number of participants recorded in fifth-grade, totalling sixteen. The severity of dental caries, assessed using the CSI (Caries Severity Index), showed that the most frequent score was in the moderate category, with 31 cases across all grades. Knowledge of dental and oral health, measured using a questionnaire, showed that the most frequent score was in the good category, with 27 students across all grades. The Spearman correlation test showed no statistically significant relationship between dental caries severity and oral health knowledge in children aged 9-12 years, with a p-value of 0.180. Conclusion: There is no significant correlation found between dental caries severity and oral health knowledge in children aged 9-12 years in the agroindustrial area. Korelasi keparahan karies gigi dengan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia 9-12 tahun di kawasan agroindustri: studi observasional analitik Pendahuluan: Karies gigi merupakan penyakit pada jaringan keras gigi yang banyak ditemukan pada anak-anak, terutama pada tingkat sekolah dasar usia 9-12 tahun. Menurut Riskesdas 2018, sekitar 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, dengan prevalensi karies yang tinggi pada anak-anak usia sekolah. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya perawatan gigi dan mulut, yang dapat menyebabkan sikap abai terhadap kebersihan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi  keparahan karies gigi dengan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia 9-12 tahun yang berada di kawasan agroindustri. Metode: Jenis penelitian desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) dan melibatkan total sampel sebanyak 55 siswa, dengan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung kondisi rongga mulut dan pengisian kuesioner dengan pertanyaan tentang kesehatan gigi dan mulut yang di kembangkan sendiri. Hasil: Terdapat 14 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Jumlah subjek terbanyak pada kasus kelas V dengan jumlah 16 siswa. Tingkat keparahan karies gigi dengan menggunakan CSI (Caries Severity Index) memiliki skor terbanyak adalah kriteria sedang sebanyak 31 pada semua kelas, pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan kuesioner memiliki skor terbanyak adalah kriteria baik dengan jumlah sebanyak 27 pada semua kelas. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara keparahan karies gigi dan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia 9-12 tahun, dengan p-value sebesar 0,180. Simpulan: Tidak terdapat korelasi keparahan karies gigi dengan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia 9-12 tahun di kawasan agroindustri.
Analisis faktor risiko karies pada anak di Area Agro-Industri menggunakan pengujian aplikasi model CARA berbasis Android: Studi cross-sectional Probosari, Niken; Prihatiningrum, Berlian; Rozana, Taqiya Faza; Sukanto, Sukanto; Sulistiyani, Sulistiyani; Setyorini, Dyah; Budi Rahardjo, Roedy; Dwiatmoko, Surartono
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.56743

Abstract

Pendahuluan: Menurut Riskesdas tahun 2018, prevalensi karies gigi pada anak di Indonesia mencapai 89,6%, sedangkan karies aktif di Jawa timur sebesar 49,88%, yang menunjukkan bahwa angka kejadian karies di Jawa Timur masih sangat tinggi. Karies dapat dicegah dengan tindakan preventif berupa penilaian risiko karies. Aplikasi CARA merupakan salah satu pemanfaatan teknologi di bidang kedokteran gigi yang dapat memprediksi risiko karies pada anak. Aplikasi CARA berbasis android mudah digunakan dan hasil dapat diunduh untuk dijadikan dasar edukasi kepada orangtua. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penilaian risiko karies pada anak usia 6-9 tahun dengan menggunakan pengujian aplikasi model CARA berbasis android. Metode: Jenis penelitian ini observasional analitik  dengan pendekatan studi cross-sectional. Jumlah populasi penelitian sebanyak 87 siswa dengan subjek penelitian adalah anak usia 6-9 tahun SDN Candijati 1 Arjasa yang diambil dengan teknik total sampling. Pemeriksaan penilaian risiko karies formulir aplikasi CARA (Caries Risk Assessment) dan frekuensi makan-makanan manis dilakukan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan langsung. Analisis data menggunakan uji chi square untuk menilai pengaruh jenis kelamin dan usia terhadap faktor risiko karies, uji Anova dan regresi linear untuk pengujian model.  Hasil: Penilaian risiko karies pada anak memiliki risiko karies rendah sebesar 65,5% dengan indikator penyebab karies yang dominan yaitu konsumsi makanan manis dan rata-rata kemungkinan anak terhindar karies sebesar 69,3%. Simpulan: Analisis faktor risiko karies pada anak di area agro-Industri menggunakan aplikasi “CARA” menunjukkan faktor risiko perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut seperti mengatur pola makan, sikat gigi dan konsumsi makanan berserat dapat menurunkan risiko seseorang terkena karies. Analysis of caries risk factors in children in the Agro-Industrial Area using the Android-based CARA model application test: cross-sectional studyIntroduction: According to the 2018 Basic Health Research, the prevalence of dental caries among children in Indonesia reached 89.6%. In East Java, the rate of active caries was 49.88%, indicating a persistently high incidence. Caries can be prevented through early intervention, including risk assessments. The CARA (Caries Risk Assessment) application is an Android-based tool designed to predict caries risk in children. It is user-friendly and provides downloadable results for parental education. This study aimed to evaluate caries risk in children aged 6-9 years using the CARA application. Methods: This type of research is observational analytic with a cross-sectional approach. The population consisted of 87 students  aged 6-9 years from Candijati 1 Elementary School, Arjasa, selected through total sampling. Caries risk assessment was conducted using the CARA application, supported by a questionnaire assessing sweet food consumption and clinical dental examination. Data were analyzed using Chi-square tests to assess the influence of gender and age on caries risk factors. ANOVA and linear regression analyses were conducted for model testing. Results: The Cronbach’s Alpha reliability and validity test yielded p = 0.525 (p > 0.5), with the sensitivity level of the CARA application showing a value of 91.1%, specificity of 100%, positive predictive value of 100% and negative predictive value of 89.4%, supporting the validity of the CARA application. Caries risk assessment in children aged 6-9 years at Candijati 1 Elementary School showed a low caries risk of 65.5%, with sweet food consumption as the dominant risk factor and an average caries prevention potential of 69.3%. Conclusion: Maintaining dental and oral health through dietary control, regular tooth brushing and consumption of fibrous foods can significantly reduce caries risk. The findings indicate that the CARA application is a valid, effective, and practical tool for caries risk assessment in children.
Ageusia sebagai kondisi pasca Long COVID-19; bagaimana manajemennya?: laporan kasus Hapid, Muhamad Hasan; Hidayat, Wahyu
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.49634

Abstract

Pendahuluan: Kondisi Long Covid merupakan gejala jangka panjang yang dialami beberapa orang setelah mereka mengalami infeksi COVID-19. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Keadaan paling umum dari kondisi ini salah satunya adalah ageusia. Artikel ini akan menjelaskan mengenai tatalaksana ageusia yang berkepanjangan sebagai salah satu kondisi setelah mengalami infeksi COVID-19. Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 28 tahun mengeluhkan hilang rasa pengecapan pada lidahnya sejak 8 bulan yang lalu ketika didiagnosis mengalami infeksi COVID-19. Pemeriksaan klinis intra oral pada lidah tidak ditemukan adanya depapilasi dan tidak terdapat kelainan pada mukosa rongga mulut lainnya. Pemeriksaan fungsi pengecapan dilakukan, dengan hasil menunjukkan bahwa pasien tidak dapat merasakan rasa manis, asin, asam, pahit, tetapi masih dapat merasakan sensasi panas dan dingin. Penatalaksanaan pada kasus ini berupa edukasi oral hygiene; antara lain menghindari makan makanan yang pedas dan panas, berlatih untuk merangsang rasa pada lidah dengan mengonsumsi racikan rempah-rempah hangat (seperti campuran jahe, kayu manis, cengkeh, serai) dan kafein; diberikan pula multivitamin, zink, prednisone dan berkumur menggunakan larutan chlorine zink-dioxide. Evaluasi dilakukan setiap 1 bulan sekali, dan menunjukan adanya perubahan positif pada beberapa keluhan di setiap kunjungan. Pasien mulai dapat merasakan kembali indra pengecapannya setelah 3 bulan pengobatan terkontrol. Simpulan: Penatalaksanaan ageusia sebagai kondisi pasca long Covid-19, memerlukan penanganan yang menyeluruh meliputi pemberian multivitamin, mineral, kortikosteroid, mouthwash, dan latihan untuk dapat merangsang rasa.Ageusia as a Long Covid-19 condition; how is the management?: a case reportIntroduction: Long Covid is a long-term symptom that can be experienced after a COVID-19 infection. This condition can affect a person's ability to perform daily activities. One of the most common symptoms of this condition is ageusia. This article explains the management of prolonged ageusia as a condition after experiencing a COVID-19 infection. Case report: A 28-year-old woman complained of loss of taste on her tongue 8 months ago when she was diagnosed with COVID-19. Clinical examination did not find intraoral abnormalities, but depapillation of the tongue was observed. A taste function examination was conducted, the results showed that the patient could not taste sweet, salty, sour, or bitter flavors, but could still perceive the sensations of heat and cold. Management in this case involved oral hygiene education, including instructions to avoid spicy and hot foods; stimulation of the taste buds through consumption of warm spice mixtures (such as ginger, cinnamon, cloves, lemon grass) and caffeine; administration of multivitamins, zinc, prednisone; and rinsing with chlorine dioxide-zinc mouthwash. Evaluation was conducted monthly, the patient showed positive changes at each visit. The sense of taste gradually returned. Conclusion: Management of ageusia as a Long Covid-19 condition requires comprehensive treatment, including various multivitamins, minerals, corticosteroids, mouthwash, and taste-stimulating exercises.
Perbedaaan efek perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack) terhadap porositas dan stabilitas dimensi: studi Eksperimental Laboratoris Orinasari, Rizka Ayu; Tamin, Haslinda Z
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.56481

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas adalah bahan basis gigi tiruan yang memiliki kekurangan yaitu porositas dan menyerap air sehingga stabilitas dimensi terganggu. Selain itu, penggunaan desinfektan pada gigi tiruan diperlukan dalam perawatan karena gigi tiruan sering mengalami porositas dan menyerap air. Bahan alternatif yang dapat digunakan adalah ekstrak daun sungkai karena mengandung tanin dan flavonoid. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan efek perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas setelah direndam dalam ekstrak daun sungkai 30, 35, dan 40% terhadap porositas dan stabilitas dimensi. Metode: Rancangan penelitian adalah eksperimental laboratoris dengan 40 sampel berukuran 65x10x2,5mm. Sampel dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok ekstrak daun sungkai 30, 35, dan 40%, yang direndam 2 hari 12 jam 50 menit. Hasil perhitungan dianalisis menggunakan uji Anava satu jalur dan Least Significant Difference. Hasil: Rerata porositas basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas setelah direndam dalam kelompok kontrol dan ekstrak daun sungkai 30, 35, dan 40% adalah 0,3249±0,0223%; 0,4767±0,05358%; 0,6222±0,0358%; 0,7830±0,0432, sedangkan rerata stabilitas dimensi adalah 0,1002±0,0205; 0,3748±0,0181 mg/cm2; 0,5213±0,0379 mg/cm2; 0,6736±0,0398 mg/cm2. Hasil uji Anava satu jalur diperoleh nilai signifikansi p=0,0001 (p<0,05) menunjukkan pengaruh setelah direndam dalam ekstrak daun sungkai 30, 35, dan 40% berefek terhadap porositas dan stabilitas dimensi, didukung hasil uji LSD menunjukkan perbedaan bermakna yang signifikan karena nilai p<0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan efek perendaman ekstrak daun sungkai terhadap peningkatan porositas dan penurunan stabilitas dimensi terutama pada konsentrasi 30% karena menunjukkan nilai lebih kecil daripada 35% dan 40% dibandingkan kelompok kontrol. The effect of immersion of heat cured acrylic resin denture base in sungkai leaf extract (peronema canescens Jack) towards porosity and dimensional stability: a laboratory experimental studyIntroduction: Heat cured acrylic resin is one of the commonly used denture base materials; however, it has disadvantages such as porosity and water absorption, which may affect its dimensional stability. The use of denture disinfectants is necessary during treatment. An alternative disinfectant that can be used is sungkai leaf extract, as it contains tannins and flavonoids. The aim of this study was to analyze the differences in effect of immersing heat-cured acrylic resin denture bases in sungkai leaf extract at concentrations of 30%, 35%, and 40% on denture porosity and dimensional stability. Methods: The design of this study was laboratory experimental with 40 samples, each measuring 65x10x2.5 mm. The samples were divided into four groups: a control group and three groups immersed in sungkai leaf extract at concentrations of 30%, 35%, and 40%. The immersion period lasted for 2 days 12 hours 50 minutes. Data were analyzed using a one-way ANOVA and Least Significant Difference (LSD) tests. Results: The mean porosity of the heat-cured acrylic resin denture base after immersion in sungkai leaf extract at 30%, 35%, and 40% concentrations were 0.4767±0.05358%; 0.6222±0.0358%; 0.7830±0.0432%. Similarly, the mean dimensional stability of the denture base after immersion in sungkai leaf extract at the same concentrations were 0.3748 ± 0.0181 mg/cm2; 0.5213±0.0379 mg/cm2; 0.6736±0.0398 mg/cm2, respectively. The one-way ANOVA test yielded a significance value of p=0.0001 (p<0.05), indicating that immersion in sungkai leaf extract at these concentrations significantly affected the porosity and dimensional stability of the heat-cured acrylic resin denture base.  Conclusion: There was a significant difference in the effect of sungkai leaf extract immersion on increased porosity and decreased dimensional stability. The concentration of 30% showed lower changes compared to 35% and 40%, and the control group. 
Aktivitas antibiofilm ekstrak etanol daun saga (Abrus precatorius) terhadap biofilm bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans pada pengujian menggunakan MtPB assay: experimental laboratoris Putri, Annisa Liontyn Adies; Ichsyani, Meylida; Prihastuti, Christiana Cahyani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.57014

Abstract

Pendahuluan: Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan flora normal pembentuk biofilm di rongga mulut. Peningkatan jumlah bakteri ini secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya periodontitis agresif dengan prevalensi mencapai 90% sehingga berperan penting dalam peningkatan keparahan periodontitis agresif secara cepat. Daun saga (Abrus precatorius) memiliki aktivitas farmakologis seperti antitumor, antidiabetik, antihelmintes, dan antimikroba dengan kandungan fitokimia berupa tanin, saponin, flavonoid, steroid, dan alkaloid. Penelitian bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibiofilm ekstrak etanol daun saga terhadap biofilm                            A. actinomycetemcomitans berfokus pada aktivitas degradasi dan penghambatan pembentukan biofilm. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode MtPB menggunakan pewarna kristal violet. Ekstrak diuji pada berbagai konsentrasi bertingkat yaitu 0,39, 0,78, 1,56, 3,125, 6,25, 12,5, 25, dan 50 (mg/mL) yang dibandingkan terhadap kontrol negatif DMSO 1% serta kontrol positif amoksisilin+metronidazol 30 µg/mL. Data yang didapatkan melalui desain penelitian posttest only control group design kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik one-way ANOVA dan analisis regresi linier Hasil: Hasil uji degradasi dan penghambatan pembentukan biofilm menunjukkan aktivitas pada seluruh kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol negatif (p≤0,05). Ekstrak etanol daun saga konsentrasi 25 mg/mL memiliki kemampuan degradasi sebesar 76,13% serta sudah mampu menyamai kemampuan degradasi kelompok kontrol positif (p>0,05) dan mulai dari konsentrasi 1,56 mg/mL sudah menghambat biofilm mulai dari 37,52% sehingga mampu menyamai dan konsentrasi melebihi kemampuan penghambatan pembentukan biofilm A. actinomycetemcomitans pada kelompok kontrol positif. Nilai Minimum Biofilm Eradication Concentration (MBEC50) terdapat pada konsentrasi 4,44 mg/mL sedangkan nilai Minimum Biofilm Inhibitory Concentration (MBIC50) pada konsentrasi 2,96 mg/mL. Simpulan: ekstrak etanol daun saga memiliki aktivitas antibiofilm terhadap bakteri A. actinomycetemcomitans.Antibiofilm activity of ethanol extract of saga leaf (Abrus precatorius) on Aggregatibacter actinomycetemcomitans Biofilm: experimental laboratorisIntroduction: Aggregatibacter actinomycetemcomitans is a normal flora that forms biofilms in the oral cavity. An excessive increase in the number of these bacteria can cause inflammation of the periodontal tissue called periodontitis. A. actinomycetemcomitans has the main virulence of leukotoxin which can weaken the immune cell response to pathogenic bacteria with a prevalence in aggressive periodontitis reaching 90% so it plays an important role in the rapid increase in the severity of aggressive periodontitis. Saga leaves (Abrus precatorius) have pharmacological activities such as antitumor, antidiabetic, antihelminthic, and antimicrobial with phytochemical content in the form of tannins, saponins, flavonoids, steroids, and alkaloids. The research aims to analyze the antibiofilm activity of ethanol extract of saga leaves against A. actinomycetemcomitans biofilms by looking at the degradation activity and inhibition of biofilm formation. Method: The research was carried out using the MtPB method using crystal violet dye. The extract was tested at various graded concentrations, namely 0.39, 0.78, 1.56, 3.125, 6.25, 12.5, 25, and 50 (mg/mL) which were compared to the negative control 1% DMSO and the positive control amoxicillin +metronidazole 30 µg/mL. Data obtained through the posttest only control group design were then analyzed using one-way ANOVA statistical analysis and linear regression. Results: The results of the degradation and inhibition of biofilm formation tests showed activity in all treatment groups compared to the negative control (p≤0.05). The ethanol extract of saga leaves at a concentration of 25 mg/mL was able to match the degradation ability of the positive control group (p>0.05) and starting from a concentration of 1.56 mg/mL was able to match and exceed the ability to inhibit A. actinomycetemcomitans biofilm formation in the positive control group. The MBEC50 value is found at a concentration of 4.44 mg/mL while the MBIC50 value is at 2.96 mg/mL. Conclusion: ethanol extract of saga leaves has anti-biofilm activity against the bacteria A. actinomycetemcomitans.
Korelasi persepsi kesehatan gigi dan mulut terhadap minat masyarakat untuk berobat ke dokter gigi: studi cross sectional Lestari, Putri Dwi; Himawati, Marlin; Nawawi, Azkya Patria
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.56579

Abstract

Pendahuluan: Masyarakat cenderung berkunjung ke fasilitas kesehatan gigi hanya saat terdapat keluhan sehingga minat masyarakat rendah. Hal tersebut akibat kurangnya kesadaran masyarakat untuk berobat menyebabkan kesehatan gigi dan mulut yang kurang baik dan berhubungan dengan persepsi. Persepsi yang baik akan menimbulkan minat, jika terdapat manfaat bagi dirinya maka seseorang berminat untuk melakukannya. Minat pasien untuk berobat dapat disebabkan karena akses dan jarak fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis korelasi persepsi masyarakat tentang kesehatan gigi dan mulut terhadap minat berobat ke dokter gigi. Metode: Jenis penelitian adalah studi cross sectional dengan total responden 100 orang yang diambil menggunakan teknik Purposive Sampling. Besar sampel minimal yang diperlukan yaitu sebanyak 92 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dilakukan analisis menggunakan uji korelasi spearman. Kuesioner tersebut terdiri dari 15 pernyataan mengenai kesehatan gigi dan mulut dan 15 pernyataan terkait minat berobat, kemudian disebarluaskan secara offline secara tatap muka. Uji statistik yang digunakan adalah korelasi Spearman. Hasil: terdapat korelasi persepsi masyarakat tentang kesehatan gigi dan mulut terhadap masyarakat untuk minat berobat ke dokter gigi, dengan nilai p adalah 0,001 dan nilai koefisien korelasi adalah 0,336 yang dapat dinyatakan tingkat kekuatan korelasi termasuk korelasi sedang antara persepsi kesehatan gigi dan mulut terhadap minat berobat ke dokter gigi. Simpulan: Terdapat korelasi persepsi masyarakat tentang kesehatan gigi dan mulut terhadap masyarakat untuk minat berobat ke dokter gigi. Semakin tinggi persepsi kesehatan gigi dan mulut maka semakin tinggi minat masyarakat untuk berobat ke dokter gigi. The correlation between perceptions about oral health and the public’s interest to go to a dentist: a cross-sectional study Introduction: People tend to visit dental health facilities only when complaints arise, which leads to low public interest. This is due to a lack of public awareness in seeking treatment, which contributes to poor dental and oral health and is associated with perception. A good perception generates interest; if a person perceives benefits for themselves, they will be motivated to act. Patient interest in seeking treatment can be influenced by access and distance to health facilities. This study aims to analyze the correlation between public perception of dental and oral health and interest in seeking treatment from a dentist. Methods: The type of study is cross-sectional with a total of 100 respondents taken using the Purposive Sampling technique. The minimum required sample size was 92 respondents. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Spearman correlation test. The questionnaire consisted of 15 statements regarding dental and oral health and 15 statements related to treatment interest, and was distributed offline through face to face interaction with the community. Results: There was a correlation between public perception of dental and oral health and the interest in seeking treatment from a dentist, with a p value of 0.001 and a correlation coefficient value of 0.336. This indicates that the strength of the correlation can be categorized as moderate between perception and interest in dental treatment. Conclusion: there is a correlation between public perception of oral health and public’s interest to go to a dentist. The higher the perception of oral health, the higher the public's interest in going to the dentist. Interest in treatment is related to oral health awareness, as it can influence daily life.
Uji aktivitas antibakteri dan cemaran mikroba daun biduri (Calotropis gigantea l.) sesuai standar mutu bahan baku obat herbal: studi eksperimental laboratoris Setyaningsih, Sari; Astuti, Pudji; Meilawaty, Zahara; Dharmayanti, Agustin Wulan Suci; Ratna Dewanti, I Dewa Ayu; Yunianti, Ervisya Nandya
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.58528

Abstract

Pendahuluan. Daun biduri (Calotropis gigantea) digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional khususnya mengobati sakit gigi. Ekstrak daun biduri diketahui memiliki kandungan senyawa flavonoid, triterpene glycosides, abrin, dan alkaloids. Salah satu syarat untuk menjadikan tanaman obat sebagai sediaan farmasi diperlukan standarisasi cemaran mikroba dan uji antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis aktivitas antibakteri dan cemaran mikroba daun biduri. Metode: Uji cemaran mikroba menggunakan metode angka lempeng total bakteri dan kapang. Sedangkan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi ekstrak daun biduri 15%, 20%, 25% dan 30% terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Data  untuk uji aktivitas antibakteri dianalisis menggunakan Anova One Way sedangkan untuk uji cemaran mikroba menggunakan metode deskriptif kuantitatif dibandingkan dengan standar cemaran mikroba berdasarkan Peraturan Kepala Bidang Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hasil: Uji antibakteri terhadap S. mutans menunjukkan hasil zona hambat kategori sedang, dengan rata-rata diameter zona hambat dari kontrol negatif (0 mm), konsentrasi 15% (8,94 mm), 20% (9,05 mm), 25% (9,65 mm), 30% (9,79 mm), dan kontrol positif (22,43 mm). Sedangkan pada P. gingivalis tidak ada zona hambat. Hasil uji statistik didapatkan nilai signifikansi p=0,00 (p<0,05). Hasil uji cemaran mikroba menunjukkan hasil perhitungan jumlah bakteri 13.300 cfu/gram dan tidak ditemukan pertumbuhan kapang. Simpulan: Ekstrak daun biduri memiliki daya hambat terhadap Streptococcus mutans, tetapi tidak memiliki daya hambat terhadap Porphyromonas gingivalis. Cemaran ekstrak daun biduri masih memenuhi syarat batas cemaran sesuai standar bahan baku obat herbal.Antibacterial Activity Test and Microbial Contamination of Biduri Leaves (Calotropis gigantea L.) according to Quality Standards for Herbal Medicine: Experimental Laboratory StudiIntroduction. Biduri leaves (Calotropis gigantea) are used by the community as traditional medicine, especially to treat toothache. Biduri leaf extract is known to contain flavonoid, triterpene glycosides, abrin, and alkaloids. One of the requirements for making medicinal plants as pharmaceutical preparations requires standardization of microbial contamination and antibacterial test. Objective: to analyze the antibacterial activity and microbial contamination of biduri leaves. Method: The microbial contamination test uses the total bacterial and fungal plate count method. While the antibacterial activity test uses the disc diffusion method on 15%, 20%, 25% and 30% biduri leaf extract against Streptococcus mutans and Porphyromonas gingivalis. Data for antibacterial activity test were analyzed using Anova One Way while for microbial contamination test using quantitative descriptive method and compared with microbial contamination in accordance with Regulation of Head of Drug and Food Supervisory Division (BPOM). Results: Antibacterial test against S. mutans showed moderate inhibition zone result, with average diameter of inhibition zone from negative control (0 mm), concentration 15% (8,94 mm), 20% (9,05 mm), 25% (9,65 mm), 30% (9,79 mm), and positive control (22,43 mm). Meanwhile, in P. gingivalis there is no inhibition zone. Statistical test result obtained significance value p=0.00 (p<0.05). Microbial contamination test result showed bacterial count result 13,300 cfu/gram and no mold growth was found. Conclusion: Biduri leaf extract has inhibition against S. mutans, but has no inhibition against P. gingivalis. The contamination of Biduri leaf extract still meets the contamination limit according to the standard of herbal medicinal raw materials.
Efektivitas nanoemulsi gel daun sirih hijau (Piper betle l.) terhadap penurunan ketebalan biofilm bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538: eksperimental laboratoris Maliky, Zaid; Abdul Kodir, Ade Ismail; Agusmawanti, Prima; Pratiwi, Rosa
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.57721

Abstract

Pendahuluan: Penyakit periodontal adalah infeksi pada rongga mulut yang diakibatkan oleh bakteri dengan persentase kasus 74,1%. Salah satu bakteri yang berperan adalah Staphylococcus aureus. Bakteri ini merupakan salah satu bakteri gram positif yang berperan pada kolonisasi awal. Sirih hijau merupakan tanaman herbal yang memiliki kandungan senyawa antibakteri seperti flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin. Teknologi nanoemulsi gel memiliki keunggulan untuk mempermudah penghantaran obat karena ukuran partikelnya yang sangat kecil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas nanoemulsi gel daun sirih hijau terhadap penurunan ketebalan biofilm bakteri Staphylococcus aureus. Metode: Metode penelitian ini menggunakan eksperimental laboratorium in vitro yang berjumlah 25 sampel dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari nanoemulsi gel daun sirih hijau konsentrasi 30%, 40%, 50%, gel metronidazole dan aquadest. Pembacaan hasil uji ketebalan biofilm diukur dengan Optical Density menggunakan ELISA-reader. Hasil: Hasil rerata nilai optical density pada kelompok formulasi nanoemulsi gel daun sirih hijau, konsentrasi 50% memiliki nilai terendah (2,732) dibandingkan 30% (3,478) dan 40% (3,352) yang artinya konsentrasi 50% paling efektif dibandingkan konsentrasi 30% dan 40%. Hasil uji One Way Anova didapatkan hasil p<0,05 menunjukkan adanya pengaruh nanoemulsi gel daun sirih hijau terhadap penurunan ketebalan biofilm bakteri Staphylococcus aureus. Simpulan: Formulasi nanoemulsi gel daun sirih hijau efektif dalam menurunkan ketebalan biofilm bakteri Staphylococcus aureus.The effectiveness of green betel leaf (piper betle l.) nanoemulsion gel on reducing of staphylococcus aureus ATCC 6538 biofilm thickness: laboratory experimentalIntroduction: Periodontal disease is an infection in the oral cavity caused by bacteria, with a case prevalence of 74.1%. One of the bacteria involved is Staphylococcus aureus. This bacterium is a Gram-positive organism that plays a role in early colonization. Green betel (Piper betle) is a medicinal plant that contains antibacterial compounds such as flavonoids, alkaloids, tannins, and saponins. Nanoemulsion gel technology has the advantage of enhancing drug delivery due to its very small particle size. This study aims to analyze the effectiveness of green betel leaf nanoemulsion gel in reducing the biofilm thickness of Staphylococcus aureus bacteria. Methods. This research used an in vitro laboratory experimental method involving 25 samples divided into 5 groups, consisting of green betel leaf nanoemulsion gel at concentrations of 30%, 40%, 50%, metronidazole gel, and aquadest. The thickness of the biofilm was measured using an ELISA reader by reading the optical density. Results. The average optical density values in the green betel leaf nanoemulsion gel formulation group showed that the 50% concentration had the lowest value (2.732) compared to 30% (3.478) and 40% (3.352), indicating that the 50% concentration was the most effective among the three tested concentrations. The One-Way ANOVA test results showed p < 0.05, indicating that the green betel leaf nanoemulsion gel had a significant effect on reducing the biofilm thickness of Staphylococcus aureus bacteria. Conclusion. It can be concluded that the green betel leaf nanoemulsion gel formulation is effective in reducing the biofilm thickness of Staphylococcus aureus bacteria.
Korelasi antara kadar D-dimer plasma dengan derajat keparahan trauma maksilofasial berdasarkan Maxillofacial Injury Severity Score (MFISS) pada penderita cedera kepala ringan: Studi Cross-Sectional Saleh, Ardian; Syamsudin, Endang; Hadikrishna, Indra; Prihatni, Delita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.58689

Abstract

Pendahuluan: Penderita trauma maksilofasial berisiko mengalami cedera kepala karena letaknya berdekatan dengan kranium. D-dimer plasma merupakan produk akhir pemecahan bekuan darah yang dapat diukur melalui sampel darah, dan berperan sebagai faktor prognostik pada cedera kepala. Maxillofacial Injury Severity Score (MFISS) adalah skoring terbaru untuk menilai derajat keparahan trauma maksilofasial berdasarkan tiga skor cedera tertinggi. Trauma maksilofasial sering disertai cedera kepala dengan peningkatan kadar D-dimer. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar D-dimer plasma dengan derajat keparahan trauma maksilofasial berdasarkan MFISS sebagai pertimbangan prognostik. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 38 subjek berusia >18 tahun dengan trauma maksilofasial disertai cedera kepala ringan dalam fase 2–24 jam di IGD RS Hasan Sadikin Bandung. Derajat keparahan trauma maksilofasial dinilai menggunakan MFISS, dan cedera kepala ringan dinilai berdasarkan GCS. Sampel darah diambil untuk pemeriksaan D-dimer plasma. Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Rerata kadar D-dimer plasma sebesar 3,42 pg/dL (p=0,001), dan rerata skor MFISS 6,89 ± 1,91 (p=0,022). Terdapat korelasi positif moderat antara kadar D-dimer dengan skor MFISS (r=0,512). Simpulan: Terdapat peningkatan kadar D-dimer plasma pada trauma maksilofasial disertai cedera kepala ringan. Ditemukan hubungan signifikan antara kadar D-dimer dengan tingkat keparahan trauma maksilofasial berdasarkan MFISS. Correlation between plasma D-dimer levels and the severity of maxillofacial trauma based on the maxillofacial injury severity score (MFISS) in mild head injury patients: Cross-Sectional StudyIntroduction: Patients with maxillofacial trauma are at risk of experiencing head injury because of their proximity to the cranium. Plasma D-dimer is the end product of blood clot breakdown that can be measured through blood samples, and it plays a role as a prognostic factor in head injury. The Maxillofacial Injury Severity Score (MFISS) is the latest scoring system to assess the severity of maxillofacial trauma based on the three highest injury scores. Maxillofacial trauma is often accompanied by head injury with increased D-dimer levels. This study aims to analyze the relationship between plasma D-dimer levels and the severity of maxillofacial trauma based on MFISS, serving as a prognostic consideration. Methods: The present study employed a quantitative cross-sectional design. The study was conducted on 38 subjects aged over 18 years with maxillofacial trauma accompanied by mild head injury in the 2-24 hour phase at the Emergency Department of Hasan Sadikin Hospital, Bandung. The severity of maxillofacial trauma was assessed using MFISS, and mild head injury was assessed based on the Glasgow Coma Scale (GCS). Blood samples were taken for plasma D-dimer examination. Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test. Results: The mean plasma D-dimer level was 3.42 pg/dL (p=0.001), and the mean MFISS score was 6.89 ± 1.91 (p=0.022). There was a moderate positive correlation between D-dimer levels and MFISS scores (r=0.512). Conclusion: Plasma D-dimer levels are elevated in maxillofacial trauma accompanied by mild head injury. A significant relationship was found between D-dimer levels and the severity of maxillofacial trauma based on MFISS.
Uji efektivitas antibakteri daun Biduri (Calotropis gigantea) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans: studi eksperimental laboratoris Widodo, Alaya Dwi Salvahira; Setyaningsih, Sari; Astuti, Pudji; Meilawaty, Zahara; Suci Dharmayanti, Agustin Wulan
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i3.56148

Abstract

Pendahuluan: Karies merupakan penyakit jaringan keras pada gigi yang disebabkan oleh asam hasil bakteri plak yang menumpuk pada permukaan gigi. Salah satu bakteri plak adalah Streptococcus mutans. Penggunaan obat kumur Chlorhexidine gluconate 0,2% terbukti mampu menghambat S.mutans. Namun penggunaan Chlorhexidine gluconate 0,2% dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, diperlukan bahan alami seperti tanaman biduri yang memiliki efek antibakteri untuk menghindari efek samping tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis ekstrak daun biduri (Calotropis gigantea) dapat menghambat pertumbuhan S.mutans. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratorium. Penelitian ini menggunakan 6 kelompok perlakuan yaitu kelompok perlakuan ekstrak daun biduri dengan konsentrasi 15%, 20%, 25%, 30%, K(-) akuades, dan K(+)Chlorhexidine gluconate 0,2%. Kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dipaparkan S.mutans untuk melihat efek antibakterinya dan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan hitung koloni bakteri (total plate count). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, masing-masing konsentrasi menunjukkan hasil laju penghambatan sebesar 0 pada kelompok K(-), 45,78% pada kelompok 15%, 34,93% pada kelompok 20%, 76,5% pada kelompok 25%, 64,45% pada kelompok 30%, dan 89,45% pada kelompok K(+). Hasil  hitung koloni bakteri penghambatan bakteri terbesar yaitu pada konsentrasi 25%. Hasil yang diperoleh dilakukan analisis data. Data sebelum dan sesudah inkubasi dilakukan uji Paired T Test dan menunjukkan perbedaan yang signifikan. Analisis data laju penghambatan dilakukan dengan uji Kruskal Wallis dilanjutkan uji Mann Whitney Ekstrak daun biduri konsentrasi 15% dibandingkan dengan konsentrasi 20% dan 30% dibandingkan dengan 25% memiliki nilai p>0,05 sehingga tidak memiliki perbedaan yang bermakna. Simpulan: Daun biduri efektif menghambat pertumbuhan S.mutans.Antibacterial effectiveness test of biduri leaf (Calotropis gigantea) against Streptococcus mutans: experimental laboratory studyIntroduction: Caries is a disease that affects the hard tissue of the teeth, caused by acid deposits produced by plaque bacteria that accumulate on the tooth surface. One of the plaque bacteria is Streptococcus mutans. Chlorhexidine gluconate 0.2% mouthwash has been shown to inhibit S. mutans. However, prolonged use of Chlorhexidine gluconate 0.2% mouthwash can cause side effects. To avoid these side effects, natural ingredients like biduri plant that have antibacterial effects are needed. This research aims to analyze the inhibitory effects of biduri (Calotropis gigantea) leaf extract on the growth of S. mutans. Methods: This research is experimental laboratory study. Six treatment groups were used, four groups treated with biduri leaf extract at concentrations of 15%, 20%, 25%, 30%; the K(-) using distilled water,; and K(+) using Chlorhexidine gluconate 0.2%. The treatment and control group were exposed to S. mutans to evaluate its antibacterial effect and assessed using the UV-Vis spectrophotometric and total plate count method. Results: In the research conducted, each concentration showed varying inhibition rates. The inhibition rates observed were as follows: 0% for the K(-), 45,78% for the 15% group, 34,93% for the 20% group, 76,5% for the 25% group, 64,45% for the 30% group, and 89,45% for the K(+). In bacterial colony count, the greatest bacterial inhibition was observed at concentration of 25%. Statistical analysis was performed on the obtained data. A Paired T-Test demonstrated a significant difference between the data before and after incubation. Further analysis using the Kruskal Wallis and Mann Whitney tests revealed no significant difference in inhibition rates between 15% and 25% concentrations, or between 25% and 30%. Conclusion: Biduri leaf extract effectively inhibits the growth of S. mutans.