Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Peran Guru Sejarah dalam Pengembangan Karakter Siswa Melalui Pembelajaran Sejarah Lokal di SMA Negeri 1 Ambarawa Alfiyah, Reni; Jayusman, Jayusman; Shokheh, Mukhamad
Indonesian Journal of History Education Vol 5 No 2 (2017): Indonesian Journal of History Education
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk  mengetahui fokus pembelajaran sejarah lokal, wujud peran guru sejarah, kendala dan upaya yang dilakukan guru sejarah untuk mengembangkan karakter siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) fokus pembelajaran sejarah lokal di kelas XI IPS antara lain: peristiwa sekitar pertempuran ambarawa dan peninggalannya, peninggalan sejarah lokal masa Hindu-Buddha, peninggalan masa islam, penyisipan nilai tradisi lokal seperti tradisi tuguran dan peringatan 10 November dalam pembelajaran sejarah lokal. (2) Wujud peran guru sejarah sebagai fasilitator dengan memfasilitasi siswa dengan memberi pembelajaran, mengelola kelas, memberi contoh, dan evaluasi pembelajaran sejarah lokal di kelas XI IPS, sebagai pembimbing dengan mendampingi, mengarahkan, memotivasi, menjadi konselor dan penghubung antar generasi pembelajaran sejarah lokal, sebagai stimulus kreativitas dengan memberi variasi dalam mengajar, menambah sumber sejarah lokal. (3) Kendala yang dihadapi guru seperti karakter siswa yang dibentuk di rumah berbeda dengan di sekolah, kesulitan menyesuaikan karakter yang ingin dicapai dengan materi, kesulitan memahami kondisi psikologi tiap siswa, kurangnya pengawasan terhadap siswa dan pengaruh pergaulan di lingkungan. Upaya yang dilakukan guru dengan memberi contoh yang baik, menasehati, membimbing, memotivasi, melakukan pendekatan personal dan membekali siswa dengan pengetahuan agama sangatlah baik untuk mengembangkan karakter siswa, terutama dalam pembelajaran sejarah lokal.
The Role of Karang Taruna in Overcoming Adolescent Behavioral Deviations in Globalization Era Alfiyah, Reni; Prajanti, Sucihatiningsih Dian Wisika; Alimi, Moh Yasir
JESS (Journal of Educational Social Studies) Vol 8 No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deviations in adolescent behavior disrupt the upholding of social systems, cultural values, norms, rules and customs existing in society. The aims of the studies is to analyze the role of Karang Taruna in overcoming adolescent behavioral deviations in Somogede Village. The focus of the study covered the forms and causes of adolescent behavioral deviations and ways of adolescent coaching conducted by Karang Taruna of Somogede Village. The research approach used qualitative-phenomenology. The data collection was carried out by interviewing informants of teenagers, Karang Taruna coaches, village officials, parents and community leaders, Observation of the socio-cultural environment and document studies. The results showed that forms of adolescent behavioral deviations who violated social values and norms such as smoking, drinking and drug consuming, watching pornographic content, unhealthy dating, cursing and not respecting older people, while delinquency that was breaking the law such as the use of underage vehicles. The causes of adolescent deviations were from peer relationships, imperfect socialization, deviant subculture, poor parental, parental supervision and technological development and modernization. The role of Karang Taruna was played by giving youth coaching activities aimed at becoming good community members. The research conclusion explain that deviation violates the social values and law. The role of Karang Taruna is giving guidance and training in sport and social fields. The new finding behind globalization’s adolescent deviation is the use of technology among peers. The objectives of this study can be used as social controller through handling deviant behavior of teenager.
The Role of History Teachers in Developing Student Character Through Learning Local History at SMA Negeri 1 Ambarawa Alfiyah, Reni; Jayusman, Jayusman; Shokheh, Mukhamad
Indonesian Journal of History Education Vol 5 No 2 (2020): Indonesian Journal of History Education
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijhe.v5i2.19925

Abstract

The purpose of this study is to determine the focus of local history learning, a manifestation of the role of the history teacher, and the constraints and efforts that history teachers make to develop students' character. This study employed qualitative phenomenological research. (2) The manifestation of the role of the history teacher was as a facilitator to facilitate student learning by providing, managing a classroom, giving examples, and evaluating local history teaching to XI IPS, as a supervisor to assist, direct, motivate, be a counselor and liaison between generations in learning local history, as a creative stimulus to give variations in teaching and add a source of local history. (3) The constraints faced by teachers were formed of students’ character, which was different between their house and the school, difficulties in adjusting characters to be achieved with the given material, difficulties in understanding the psychological condition of each student, the lack of supervision of students and social influences on the environment. Teachers' efforts by giving a good example, advising, guiding, motivating, using a personal approach, and providing religious knowledge were very good for developing students’ character, especially in local history learning.
Edukasi Pencegahan Stunting Melalui Pemenuhan Kesejahteraan Ibu Hamil di Kelurahan Sitampae Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo Jusnawati, Jusnawati; Muhammad Aksha Wahda; Riri Amandaria; Salwia; Reni Alfiyah
Ininnawa : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 03 Nomor 02 (Oktober 2025)
Publisher : Program Studi Manajemen FEB UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/ininnawa.v3i2.10237

Abstract

Masalah gizi kronis seperti stunting masih menjadi isu kesehatan yang serius di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Salah satu faktor utama penyebab stunting adalah rendahnya pemenuhan kesejahteraan ibu hamil, baik dari aspek gizi, kesehatan, maupun dukungan sosial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil, serta keluarga mengenai pencegahan dan penanganan stunting melalui pemenuhan kebutuhan kesehatan ibu. Program ini dilaksanakan pada hari Selasa, 09 September 2025. Bertempat di Kelurahan Sitampae Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo melalui metode edukasi partisipatif yang meliputi penyuluhan gizi seimbang, demonstrasi pembuatan makanan bergizi berbahan lokal, edukasi dukungan keluarga pada ibu hamil serta pendampingan keluarga berisiko stunting. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman ibu hamil dan keluarga mengenai pentingnya asupan gizi, pemeriksaan kehamilan rutin, peran serta keluarga dalam mendukung kesejahteraan ibu hamil. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi yang komprehensif dan melibatkan keluarga mampu menjadi strategi efektif dalam pencegahan stunting. Rekomendasi dari kegiatan ini adalah perlunya program pendampingan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan kesejahteraan ibu hamil dapat terpenuhi secara optimal.
Edukasi Nilai-Nilai 4 Magic Words dan Kesehatan Jasmani Kepada Anak Asuh Panti Asuhan Raodah Makassar Juwita, Rahmi; Al Mufarid, Andi Muhammad Rizky; Valentania; Reni Alfiyah; Sulaiman, Hudayah
Jurnal Gramaswara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Gramaswara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.gramaswara.2026.006.01.12

Abstract

Keterbatasan peran keluarga sebagai agen sosialisasi primer pada anak-anak panti asuhan berdampak pada kurang optimalnya internalisasi nilai-nilai sosial dan pembiasaan perilaku hidup sehat. Kondisi ini menuntut adanya intervensi edukatif yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga partisipatif dan kontekstual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai “4 Magic Words” (maaf, tolong, terima kasih, dan permisi) serta meningkatkan pemahaman anak terkait kesehatan jasmani. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan edukatif-partisipatif yang melibatkan 20 anak asuh Panti Asuhan Raodah Makassar. Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan teknik ceramah interaktif, diskusi, simulasi (role play), serta permainan edukatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memiliki antusiasme yang tinggi serta mampu memahami dan mempraktikkan penggunaan empat kata ajaib dalam interaksi sosial. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mandi dua kali sehari, menjaga kebersihan pakaian, mencuci tangan, dan bersuci setelah buang air. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna serta meningkatkan motivasi anak untuk melanjutkan pendidikan. Dengan demikian, program pengabdian ini efektif dalam mendukung pembentukan karakter dan peningkatan kualitas hidup anak-anak panti asuhan.
Transformasi Kesadaran Sosial Generasi Z melalui Model Sociohistorical Deep Learning Reni Alfiyah
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i4.15816

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan pemahaman tentang transformasi kesadaran sosial Generasi Z melalui penerapan Model Sociohistorical Deep Learning yang mengintegrasikan refleksi sejarah, pembelajaran kolaboratif, dan proses berpikir mendalam dalam konteks pembelajaran di SMA Negeri 6 Purworejo. Berangkat dari keterbatasan pendekatan pembelajaran nilai yang cenderung normatif dan transmisif, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk menelaah bagaimana siswa memaknai interaksi sosial, kerja kelompok, serta narasi sosiohistoris sebagai ruang reflektif dalam pembentukan kesadaran sosial. Proses pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan siswa dan guru, serta analisis dokumentasi proyek kolaboratif berbasis pengalaman sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan pemahaman kritis terhadap realitas sosial-budaya, memperkuat empati, serta mendorong transformasi kesadaran melalui praktik co-reflection, negosiasi makna, dan produksi artefak kolaboratif. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan model konseptual yang memosisikan Generasi Z sebagai agen aktif dalam konstruksi, refleksi, dan transformasi nilai-nilai sosial dalam proses pembelajaran.
Pelatihan Pencegahan Kekerasan Seksual Bagi Siswa di Lingkungan Sekolah Reni Alfiyah; Jusnawati Jusnawati; Alwi Usra Usman; A. Hardiyanti; Puji Novita Sari
Paramacitra Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 02 (2026): Volume 03 Nomor 02 (Mei 2026)
Publisher : PT Ininnawa Paramacitra Edu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62330/pjpm.v3i02.533

Abstract

The dynamics of educational institutions, which are increasingly vulnerable to sexual violence, demand a new paradigm through strengthening students' capacities via preventive actions based on education. One way to reduce the risk of sexual violence against children in school environments is through a more participatory and context-appropriate prevention education model. This article describes the implementation of a community service program in the form of sexual violence prevention training for students in the school environment, namely at UPT SPF SMP Negeri 26 Makassar. The program is designed to strengthen students' self-protection literacy through a participatory approach that integrates dialogical lectures, group discussions, and written reflections. The novelty of the program lies in its emphasis on fostering student agency in recognizing power relations, identifying risky situations, and formulating self-protection strategies relevant to students' daily contexts at school. The results show changes in awareness and sensitivity of students' collective commitment in maintaining school safety from acts of violence. Instilling understanding of sexual risks becomes more effective when students formulate self-protection strategies. Cross-sector collaboration and participatory interaction based on dialogue for students provide solutions in addressing sensitive issues in secondary education. The main recommendation is directed towards forming a preventive synergy between the school and families to create comprehensive protection strategies.
Efektivitas Game Based Learning Dalam Edukasi Bencana Alam Di SMP Negeri 1 Balocci Hudayah Sulaiman; Ramdani Sidik; A. Hardiyanti; Alwi Usra Usman; Reni Alfiyah
Ininnawa : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Vol. 4 No. 1 (2026): Volume 04 Nomor 01 (Mei 2026)
Publisher : Program Studi Manajemen FEB UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/b59z6p37

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerentanan bencana alam yang tinggi sehingga edukasi mitigasi bencana perlu diberikan sejak usia sekolah. Namun, pembelajaran kebencanaan di sekolah masih cenderung bersifat teoritis dan kurang menarik sehingga pemahaman siswa belum optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa melalui penerapan metode Game Based Learning dalam edukasi bencana alam di SMP Negeri 1 Balocci. Metode pelaksanaan meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan media permainan edukatif, pelaksanaan pembelajaran berbasis permainan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas VIII sebanyak 30 orang. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman siswa mengenai mitigasi bencana gempa bumi, banjir, kebakaran, dan angin puting beliung dengan rata-rata nilai meningkat dari 58,4 menjadi 84,7. Selain itu, siswa menunjukkan partisipasi aktif, kemampuan pengambilan keputusan darurat, serta peningkatan kesadaran risiko bencana. Kegiatan ini membuktikan bahwa Game Based Learning efektif sebagai pendekatan edukasi kebencanaan yang interaktif dan kontekstual di lingkungan sekolah. Dampak kegiatan terlihat pada meningkatnya kesiapsiagaan siswa dan terbentuknya budaya sadar bencana di sekolah.
Culture as digital discipline: Gender exclusion and power relations among generation Z Reni Alfiyah; A. Hardiyanti; Alwi Usra Usman
Jurnal Anifa: Studi Gender dan Anak Vol. 7 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/3skza918

Abstract

The rapid expansion of digital spaces has transformed Generation Z’s social interactions, while also intensifying gender-based exclusion through cancel culture. Despite growing attention to cancel culture, its role as a mechanism of digital discipline in reproducing gendered power relations remains under explored. This study examines how cancel culture functions as a mechanism of gender exclusion and digital control among Generation Z. A critical qualitative case study was conducted using social media observations, digital content analysis, and in-depth interviews with Generation Z university students at Universitas Negeri Makassar. The data were analyzed using Critical Discourse Analysis. The findings reveal that cancel culture operates not only as a form of public criticism but also as a mechanism of digital discipline, surveillance, and symbolic exclusion that disproportionately targets women and marginalized gender groups. These practices reinforce gender performativity and reproduce unequal power relations in digital spaces. This study contributes to digital sociology by demonstrating that cancel culture functions as a gendered mechanism of digital governance and highlights the importance of critical digital literacy in fostering more inclusive and equitable digital environments.
Rekonstruksi Pendidikan Berkelanjutan di Era Digital: sebuah Analisis Sosiologi Kritis dengan Pendekatan Pedagogi Paulo Freire Reni Alfiyah
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 7, No 2 (2025): Peqguruang, Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v7i2.6777

Abstract

Kemajuan teknologi menghadirkan inovasi mutakhir dalam bidang pendidikan berkelanjutan. Transformasi digital mendorong perubahan yang menuntut individu memiliki penguasaan keterampilan berpikir kritis serta adaptif terhadap dinamika masyarakat digital. Reformulasi sistem pendidikan berkelanjutan menuju era digital dapat dikaji melalui kerangka pemikiran pedagogi kritis Paulo Freire. Artikel ini membahas penerapan perspektif sosiologi kritis dalam mengkaji pendidikan berkelanjutan yang luarannya diharapkan menjadi generasi pemikir kritis sehingga mampu menghadapi kompleksitas masyarakat digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi literatur. Kajian ini mengkaji bagaimana konsep pedagogi kritis membentuk kembali praktik yang memberdayakan sesuai kebutuhan pendidikan berkelanjutan guna melahirkan pemikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berkelanjutan dalam kerangka pedagodi kritis menjadi peluang pengembangan sumber daya manusia ke arah pemikir kritis, inovatif dan kreatif yang dibutuhkan di era digital. Proses dialogis membentuk pemikir otonom yang memiliki kesadaran sosial, kesadaran ini berguna untuk merefleksi permasalahan sosial dalam kajian pendidikan berkelanjutan. Proses refleksi melahirkan pemikiran akan solusi yang transformatif, sehingga memunculkan bentuk kolaborasi dari hasil literasi digital dan pemikir kritis sebagai luaran pendidikan berkelanjutan. Artikel ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi pendidikan berkelanjutan berdasarkan sosiologi kritis menjadi syarat penting untuk membentuk warga digital yang memiliki kemampuan berpikir kritis, responsif, dan bertanggung jawab dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan sosial melalui lahirnya pemikir kritis di era digital