Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Transformasi Kesadaran Sosial Generasi Z melalui Model Sociohistorical Deep Learning Reni Alfiyah
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i4.15816

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan pemahaman tentang transformasi kesadaran sosial Generasi Z melalui penerapan Model Sociohistorical Deep Learning yang mengintegrasikan refleksi sejarah, pembelajaran kolaboratif, dan proses berpikir mendalam dalam konteks pembelajaran di SMA Negeri 6 Purworejo. Berangkat dari keterbatasan pendekatan pembelajaran nilai yang cenderung normatif dan transmisif, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk menelaah bagaimana siswa memaknai interaksi sosial, kerja kelompok, serta narasi sosiohistoris sebagai ruang reflektif dalam pembentukan kesadaran sosial. Proses pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan siswa dan guru, serta analisis dokumentasi proyek kolaboratif berbasis pengalaman sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan pemahaman kritis terhadap realitas sosial-budaya, memperkuat empati, serta mendorong transformasi kesadaran melalui praktik co-reflection, negosiasi makna, dan produksi artefak kolaboratif. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan model konseptual yang memosisikan Generasi Z sebagai agen aktif dalam konstruksi, refleksi, dan transformasi nilai-nilai sosial dalam proses pembelajaran.
Pelatihan Pencegahan Kekerasan Seksual Bagi Siswa di Lingkungan Sekolah Reni Alfiyah; Jusnawati Jusnawati; Alwi Usra Usman; A. Hardiyanti; Puji Novita Sari
Paramacitra Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 02 (2026): Volume 03 Nomor 02 (Mei 2026)
Publisher : PT Ininnawa Paramacitra Edu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62330/pjpm.v3i02.533

Abstract

The dynamics of educational institutions, which are increasingly vulnerable to sexual violence, demand a new paradigm through strengthening students' capacities via preventive actions based on education. One way to reduce the risk of sexual violence against children in school environments is through a more participatory and context-appropriate prevention education model. This article describes the implementation of a community service program in the form of sexual violence prevention training for students in the school environment, namely at UPT SPF SMP Negeri 26 Makassar. The program is designed to strengthen students' self-protection literacy through a participatory approach that integrates dialogical lectures, group discussions, and written reflections. The novelty of the program lies in its emphasis on fostering student agency in recognizing power relations, identifying risky situations, and formulating self-protection strategies relevant to students' daily contexts at school. The results show changes in awareness and sensitivity of students' collective commitment in maintaining school safety from acts of violence. Instilling understanding of sexual risks becomes more effective when students formulate self-protection strategies. Cross-sector collaboration and participatory interaction based on dialogue for students provide solutions in addressing sensitive issues in secondary education. The main recommendation is directed towards forming a preventive synergy between the school and families to create comprehensive protection strategies.
Efektivitas Game Based Learning Dalam Edukasi Bencana Alam Di SMP Negeri 1 Balocci Hudayah Sulaiman; Ramdani Sidik; A. Hardiyanti; Alwi Usra Usman; Reni Alfiyah
Ininnawa : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Vol. 4 No. 1 (2026): Volume 04 Nomor 01 (Mei 2026)
Publisher : Program Studi Manajemen FEB UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/b59z6p37

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerentanan bencana alam yang tinggi sehingga edukasi mitigasi bencana perlu diberikan sejak usia sekolah. Namun, pembelajaran kebencanaan di sekolah masih cenderung bersifat teoritis dan kurang menarik sehingga pemahaman siswa belum optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa melalui penerapan metode Game Based Learning dalam edukasi bencana alam di SMP Negeri 1 Balocci. Metode pelaksanaan meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan media permainan edukatif, pelaksanaan pembelajaran berbasis permainan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas VIII sebanyak 30 orang. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman siswa mengenai mitigasi bencana gempa bumi, banjir, kebakaran, dan angin puting beliung dengan rata-rata nilai meningkat dari 58,4 menjadi 84,7. Selain itu, siswa menunjukkan partisipasi aktif, kemampuan pengambilan keputusan darurat, serta peningkatan kesadaran risiko bencana. Kegiatan ini membuktikan bahwa Game Based Learning efektif sebagai pendekatan edukasi kebencanaan yang interaktif dan kontekstual di lingkungan sekolah. Dampak kegiatan terlihat pada meningkatnya kesiapsiagaan siswa dan terbentuknya budaya sadar bencana di sekolah.
Culture as digital discipline: Gender exclusion and power relations among generation Z Reni Alfiyah; A. Hardiyanti; Alwi Usra Usman
Jurnal Anifa: Studi Gender dan Anak Vol. 7 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/3skza918

Abstract

The rapid expansion of digital spaces has transformed Generation Z’s social interactions, while also intensifying gender-based exclusion through cancel culture. Despite growing attention to cancel culture, its role as a mechanism of digital discipline in reproducing gendered power relations remains under explored. This study examines how cancel culture functions as a mechanism of gender exclusion and digital control among Generation Z. A critical qualitative case study was conducted using social media observations, digital content analysis, and in-depth interviews with Generation Z university students at Universitas Negeri Makassar. The data were analyzed using Critical Discourse Analysis. The findings reveal that cancel culture operates not only as a form of public criticism but also as a mechanism of digital discipline, surveillance, and symbolic exclusion that disproportionately targets women and marginalized gender groups. These practices reinforce gender performativity and reproduce unequal power relations in digital spaces. This study contributes to digital sociology by demonstrating that cancel culture functions as a gendered mechanism of digital governance and highlights the importance of critical digital literacy in fostering more inclusive and equitable digital environments.
Rekonstruksi Pendidikan Berkelanjutan di Era Digital: sebuah Analisis Sosiologi Kritis dengan Pendekatan Pedagogi Paulo Freire Reni Alfiyah
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 7, No 2 (2025): Peqguruang, Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v7i2.6777

Abstract

Kemajuan teknologi menghadirkan inovasi mutakhir dalam bidang pendidikan berkelanjutan. Transformasi digital mendorong perubahan yang menuntut individu memiliki penguasaan keterampilan berpikir kritis serta adaptif terhadap dinamika masyarakat digital. Reformulasi sistem pendidikan berkelanjutan menuju era digital dapat dikaji melalui kerangka pemikiran pedagogi kritis Paulo Freire. Artikel ini membahas penerapan perspektif sosiologi kritis dalam mengkaji pendidikan berkelanjutan yang luarannya diharapkan menjadi generasi pemikir kritis sehingga mampu menghadapi kompleksitas masyarakat digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi literatur. Kajian ini mengkaji bagaimana konsep pedagogi kritis membentuk kembali praktik yang memberdayakan sesuai kebutuhan pendidikan berkelanjutan guna melahirkan pemikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berkelanjutan dalam kerangka pedagodi kritis menjadi peluang pengembangan sumber daya manusia ke arah pemikir kritis, inovatif dan kreatif yang dibutuhkan di era digital. Proses dialogis membentuk pemikir otonom yang memiliki kesadaran sosial, kesadaran ini berguna untuk merefleksi permasalahan sosial dalam kajian pendidikan berkelanjutan. Proses refleksi melahirkan pemikiran akan solusi yang transformatif, sehingga memunculkan bentuk kolaborasi dari hasil literasi digital dan pemikir kritis sebagai luaran pendidikan berkelanjutan. Artikel ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi pendidikan berkelanjutan berdasarkan sosiologi kritis menjadi syarat penting untuk membentuk warga digital yang memiliki kemampuan berpikir kritis, responsif, dan bertanggung jawab dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan sosial melalui lahirnya pemikir kritis di era digital
Dari Kampung ke Kota: Mengurai Benang Kusut Mobilitas Sosial Migran Urban Alwi Usra Usman; Ferdhiyadi; Reni Alfiyah; A. Hardiyanti; Muhammad Al-khahfi Akhmad; Arisnawawi
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13345

Abstract

Urbanisasi dari daerah pedesaan ke kota merupakan fenomena sosial yang kompleks dan terus berkembang, dipengaruhi oleh dinamika ekonomi, sosial, dan struktural. Studi ini bertujuan untuk menganalisis motivasi migrasi, strategi bertahan hidup, hambatan mobilitas sosial, dan perubahan status sosial yang dialami oleh migran perkotaan. Dengan menggunakan tinjauan pustaka dan pendekatan kualitatif deskriptif, hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk bermigrasi tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh pertimbangan pribadi, kondisi struktural di daerah asal, daya tarik daerah tujuan, dan hambatan geografis. Setelah bermigrasi, keberhasilan migran dalam membangun kehidupan baru di kota sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan modal sosial dan ekonomi sebagai strategi bertahan hidup. Namun, mobilitas sosial mereka sering terhambat oleh hambatan struktural, ekonomi, sosial budaya, spasial, dan psikologis yang membatasi peluang peningkatan status sosial. Studi ini menegaskan bahwa mobilitas sosial migran bersifat multidimensional dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan struktur sosial perkotaan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perumusan kebijakan pembangunan perkotaan yang lebih inklusif dan menguntungkan kelompok migran.