Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle (5E) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mematika Peserta Didik I Dewa Putu Juwana; Made Tiara Maharani; I Made Ariyana
Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Vol. 14 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/emasains.v14i1.3817

Abstract

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan salah satu guru matematika di SMP Negeri 8 Denpasar menunjukkan bahwa hasil belajar Matematika peserta didik rendah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya motivasi dan ketertarikan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Matematika serta terlihat juga bahwa pembelajaran masih berfokus pada guru bukan kepada peserta didik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, dimulai dengan pra-siklus. Setiap siklus melibatkan perencanaan, pelaksanaan atau tindakan, pengamatan atau observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini yaitu peserta didik kelas VIII H Tahun Ajaran 2023/2024 di SMP Negeri 8 Denpasar yang berjumlah 40 orang peserta didik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar observasi dan tes hasil belajar peserta didik. Adapun hasil dari penelitian yang dilaksanakan adalah pada Siklus I persentase peserta didik yang tuntas adalah 52,5% kemudian meningkat di Siklus II dengan persentase ketuntasan 82,5% dikarenakan sudah memenuhi ketuntasan klasikal yang ditetapkan maka penelitian dihentikan pada Siklus II. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran Matematika dengan menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E.
EFEKTIVITAS PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DITINJAU DARI PEMECAHAN MASALAH Sukendra, I Komang; I Dewa Putu Juwana; I Made Surat
Prosiding SENAMA PGRI Vol. 3 (2024): Volume 3 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/senama.v3.4071

Abstract

Problem based learning merupakan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk lebih aktif dan memaksimalkan kemampuan berpikir kritis untuk mendapatkan solusi dari masalah pada dunia nyata. Namun masih banyak peserta didik yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan keefektifan pendekatan realistic mathematics education dengan model problem based learning ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar matematika peserta didik di sekolah. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experiment. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X SMAN 7 Denpasar Tahun Pelajaran 2023/2024 dan diambil dua kelas secara acak yaitu kelas X.1 dan kelas X.2. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah soal tes pemecahan masalah dan soal hasil belajar matematika pada materi barisan dan deret. Hasil penelitian menunjukkan: (1) ada peningkatan keefektifan hasil belajar matematika dengan pendekatan realistic mathematics education dengan model problem based learning ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah, (2) ada peningkatan efektivitas hasil belajar matematika melalui pendekatan realistic mathematics education ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah, dan (3) terdapat perbedaan keefektifan antara pendekatan realistic mathematics education dengan model problem based learning ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar matematika peserta didik pada materi barisan dan deret secara bersamaan.
BUDIDAYA TERNAK BABI BALI DI DESA BONGKASA PERTIWI BADUNG SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN PENCEGAHAN WABAH PENYAKIT ASF I Dewa Putu Juwana; I Gusti Ayu Rai; I Gusti Agung Gede Wiadnyana
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Widya Mahadi Vol. 6 No. 1 (2025): Desember 2025
Publisher : LP3M Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/widyamahadi.v6i1.5804

Abstract

Bongkasa Pertiwi Village, Abiansemal District, Badung Regency, is a highland area where the community maintains strong traditions, including raising Balinese pigs for both traditional and economic purposes. Balinese pigs have a genetic advantage in the form of high fat content, making them highly sought after as raw material for suckling pigs. However, since late 2021, pig farming in Bali has faced a serious threat in the form of an African Swine Fever (ASF) outbreak, which has caused mass deaths with a mortality rate of nearly 100%. This situation is exacerbated by the lack of understanding among farmers regarding disease prevention and management. This Community Service Program was implemented to address two main issues: (1) preventing the spread of ASF, and (2) developing Balinese pig fattening. The activities included outreach, training, mentoring, and the implementation of biosecurity practices in the barn. Additionally, training was provided on formulating high-fat, low-fiber feed to support optimal fattening. The results of this activity demonstrated improved knowledge and skills among farmers in implementing biosecurity measures, such as routine disinfection, pen waste management, and livestock movement restrictions. Farmers were also able to practice producing alternative feed based on local ingredients with a nutritional composition tailored to the needs of fattening Bali pigs. The resulting impacts included a reduced susceptibility to ASF, an average 12–15% increase in daily pig weight during the fattening period, and increased collective awareness among livestock groups for more professional business management. Thus, this activity not only provides a short-term solution to the ASF threat but also encourages the independence and sustainability of livestock groups in increasing Bali pig productivity, ultimately contributing to the economic resilience of village communities.