Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

SENYAMAN BUMIL (Skrining dan Edukasi Ketidaknyamanan Ibu Hamil) di Desa Peresak Kecamatan Narmada. Catur Esty Pamungkas; Cahaya Indah Lestari; Aulia Amini; Ni wayan Ari Adiputri; Rizkia Amilia; Indriyani Makmun; Dwi Kartika Cahyaningtyas; Evi Diliana Rospia; Ana Pujianti Harahap; Syatila Syatila; Nur Hikmah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.40099

Abstract

Abstrak Ketidaknyamanan fisik pada kehamilan trimester III kategori sedang bisa mencapai 77,8% dan ketidaknyamanan psikologis dengan kategori sedang sebanyak 46% ibu hamil trimester III (Wulandari & Wantini, 2021). Ketidaknyamanan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari ibu dan berpotensi menurukan kualitas hidup jika tidak dikelola dengan baik. Skrining dini terhadap kondisi ketidaknyamanan dan masalah Kesehatan lain yang sering dialami selama kehamilan merupakan Upaya penting dalam pelayanan antenatal care (ANC). Skrining dini tidak hanya berfungsi dalam deteksi dini resiko Kesehatan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memulai edukasi Kesehatan kepada ibu hamil agar dapat memahami, mencegah, dan mengatasi ketidaknyamanan yang dialami. Kegiatan pengabdian ini memiliki tujuan untuk melakukan pemantauan kesehatan ibu hamil dengan skrining ketidaknyamanan selama hamil dan peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang ketidaknyamanan yang bisa dialami selama hamil. Pelaksanaan kegiatan pengabdian akan dibagi menjadi 6 tahapan yaitu sosialisasi, penyampaian materi, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, keberlanjutan program.  Sasaran pada kegiatan ini yaitu ibu hamil sehat yang ada di Desa Peresak sebanyak 10 orang. Kegiatan pengabdian ini melibatkan 15 ibu hamil di Desa Peresak dengan karakteristik responden terbanyak tidak beresiko yaitu berusia 21 sd 34 tahun sebanyak 10 (66,6%). Kemudian usia kehamilan terbanyak pada trimester 2 sebanyak 8 (53,3%). Hasil skrining Kesehatan ibu hamil unutk indeks masa tubuh (IMT) terbanyak kategori berat badan normal (18,5-24,9 kg/m2) yaitu 9 (60%). Hasil kadar hemoglobin (HB) ibu hamil terbanyak pada kategori normal (≥ 11 gr%) sebanyak 8 (53,3% dan hasil tekanan darah ibu hamil terbanyak pada kategori normal (120/80 mmHg) yaitu 14 orang (93,4%). Hasil pengetahuan pre test terbanyak tentang ketidaknyamanan pada kategori cukup yaitu 6 ibu hamil (40%) dan terendah pada kategori baik sebanyak 4 ibu hamil (26,7%). Pengetahuan post test tentang ketidaknyaman terbanyak pada kategori baik yaitu 11 ibu hamil (73,3%) dan terendah pada pengetahuan dengan kategori 4 ibu hamil (26,7%). Pada kegiatan pengabdian ini didapatkan nilai rata-rata pengetahuan ibu hamil sebelum edukasi atau sosialisasi ketidaknyamanan didapatkan 67,2 dan rata-rata nilai pengetahuan ibu hamil setelah edukasi ketidaknyamanan meningkat menjadi 80,2. Sehingga dapat disimpulkan rata-rata peningkatan nilai pengetahuan ibu hamil sebanyak 13. Mitra sasaran sangat mengapresiasi positif kegiatan pengabdian ini, karena dengan adanya kegiatan pengabdian ini ibu hamil mendapatkan gambaran kesehatan dari skrining kesehatan yang telah dilaksanakan. Kemudian pengetahuan ibu hamil meningkat tentang ketidaknyamanan yang mungkin terjadi selama kehamilan setelah mendapatkan edukasi tentang ketidaknyamanan ibu hamil trimester I, II, dan III. Kata kunci: skrining; ketidaknyamanan; kehamilan. Abstract Moderate physical discomfort during the third trimester of pregnancy can affect up to 77.8% of pregnant women, while moderate psychological discomfort affects 46% of pregnant women in the third trimester (Wulandari & Wantini, 2021). This discomfort can interfere with a mother’s daily activities and potentially reduce her quality of life if not properly managed. Early screening for discomfort and other health issues commonly experienced during pregnancy is a critical component of antenatal care (ANC). Early screening not only aids in the early detection of health risks but also serves as a gateway to initiate health education for pregnant women, enabling them to understand, prevent, and manage the discomfort they experience. Objective: This community service activity aims to monitor the health of pregnant women through screening for discomforts during pregnancy and to enhance their knowledge regarding discomforts that may be experienced during pregnancy. The implementation of this community service activity will be divided into 6 stages, namely socialization, presentation of materials, application of technology, mentoring and evaluation, and program sustainability. The target of this activity is 10 healthy pregnant women in Peresak Village. This community service project involved 15 pregnant women in Peresak Village, with the majority of respondents (10, or 66.6%) falling into the low-risk category—specifically, those aged 21 to 34 years. The most common gestational age was in the second trimester, with 8 (53.3%). The results of the health screening for pregnant women regarding body mass index (BMI) showed that the majority fell into the normal weight category (18.5–24.9 kg/m²), totaling 9 (60%). The most common hemoglobin (Hb) level among pregnant women was in the normal category (≥ 11 g/dL), with 8 (53.3%), and the most common blood pressure was in the normal category (120/80 mmHg), with 14 women (93.4%). The highest number of pre-test knowledge scores regarding discomfort was in the “adequate” category, with 6 pregnant women (40%), and the lowest was in the “good” category, with 4 pregnant women (26.7%). The highest number of post-test knowledge scores regarding discomfort was in the “good” category, with 11 pregnant women (73.3%), and the lowest was in the “good” category, with 4 pregnant women (26.7%). In this community service activity, the average knowledge score of pregnant women before education or awareness-raising on discomfort was 67.2, and the average knowledge score of pregnant women after education on discomfort increased to 80.2. Thus, it can be concluded that the average increase in the knowledge score of pregnant women was 13. The target partners highly appreciated this community service activity, as it provided expectant mothers with an overview of their health based on the health screenings that were conducted. Furthermore, the expectant mothers’ knowledge of potential discomforts during pregnancy increased after receiving education on discomforts experienced during the first, second, and third trimesters. Keywords: creening; discomfort; pregnancy.
EDUKASI POLA MAKAN, UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA PADA KEHAMILAN DI DESA PERESAK KECAMATAN NARMADA Catur Esty Pamungkas; Cahaya Indah Lestari; Siti Mardiyah WD; Ni Wayan Ari Adiputri; Firda Liantanty; Fadliya Abdi Rahayu; Nurhidayah Nurhidayah; Sabrina Tria
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.32310

Abstract

ABSTRAKAnemia pada kehamilan menjadi salah satu indikator permasalahan gizi selama kehamilan, dampak bagi kesehatan ibu dan janin menjadi permasalahan baru jika anemia tidak segera diatasi. Pemerintah telah melakukan pendekatan multi sektoral, namun kesadaran pentingnya kecukupan gizi ibu hamil harus menjadi fokus termudah dan murah oleh ibu hamil sebagai solusi. Tersedianya bahan makanan yang murah di Indonesia, bisa menjadi pertimbangan untuk mengolah bahan makanan lokal untuk mencukupi kebutuhan harian ibu hamil. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan ibu hamil sebanyak 10 orang yang ada di Dusun Tebao Desa Presak Kecamatan Narmada. Pelaksanaan pengabdian mengadopsi langkah-langkah action research yang terdiri dari 4 (empat) tahapan, yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan evaluasi. Hasil dari kegiatan didapatkan antusias dari ibu hamil dalam mendengarkan edukasi dan mengikuti proses kegiatan. Berdasarkan hasil pengkajian karakteristik peserta didapatkan terbanyak sasaran pada kelompok usia kehamilan trimester 3 yaitu 5 orang (50%) dan paling sedikit pada kelompok usia kehamilan trimester 1 yaitu 1 orang (10%). Pada usia ibu hamil terbanyak didapatkan usia tidak beresiko (> 25 tahun dan < 35 tahun) yaitu 7 orang (30%), kemudian usia ibu hamil beresiko (<25 tahun dan > 35 tahun) yaitu 3 orang (30%). Evaluasi pengetahuan rata-rata nilai pre test ibu hamil sebanyak 49 dan nilai rata-rata pengetahuan ibu hamil post test sebanyak 79. Sehingga bisa diartikan didapatkan peningkatan rata-rata pengetahuan ibu hamil sebanyak 30%. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian ini, sasaran bisa mengaplikasikan pola makan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga meningkatkan kesadaran pentingnya makan sehat dan cukup gizi. Intervensi lebih lanjut sangat penting, pelatihan dalam penyimpanan dan pengolahan bahan makanan untuk menjaga nilai gizi makanan selama kehamilan.Kata kunci: Ibu hamil; pola makan; anemia ABSTRACTand fetal health becomes a new problem if anemia is not addressed immediately. The government has taken a multi-sectoral approach, but awareness of the importance of adequate nutrition for pregnant women must be the easiest and cheapest focus for pregnant women as a solution. The availability of cheap food ingredients in Indonesia can be a consideration for processing local food ingredients to meet the daily needs of pregnant women. This community service activity involved 10 pregnant women in Tebao Hamlet, Presak Village, Narmada District. The implementation of the service adopted action research steps consisting of 4 (four) stages, namely: planning, action, observation and evaluation. The results of the activity were obtained from the enthusiasm of pregnant women in listening to education and following the activity process. Based on the results of the participant characteristics assessment, the largest target was in the 3rd trimester pregnancy age group, namely 5 people (50%) and the least in the 1st trimester pregnancy age group, namely 1 person (10%). At the age of pregnant women, the most common age was not at risk (> 25 years and < 35 years) which was 7 people (30%), then the age of pregnant women at risk (<25 years and> 35 years) which was 3 people (30%). Evaluation of the average knowledge value of the pre-test of pregnant women was 49 and the average value of the knowledge of pregnant women post-test was 79. So it can be interpreted that there was an increase in the average knowledge of pregnant women by 30%. The conclusion of this community service activity is that the target can apply eating patterns in everyday life, thereby increasing awareness of the importance of eating healthy and nutritious food. Further intervention is very important, training in storing and processing food ingredients to maintain the nutritional value of food during pregnancy. Keywords: pregnancy; anemia; dietary habit
Pelatihan Pengukuran Pada Bayi dan Balita Menggunakan Alat Antropometri Kit Pada Kader di Desa Perampuan Ni Wayan Ari Adiputri; Catur Esty Pamungkas; Ria Harmayani
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 8, No 3 (2025): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v8i3.482

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Posyandu sebagai program kesehatan masyarakat, berperan penting dalam memantau tumbuh kembang anak. Pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala) adalah cara utama untuk mengevaluasi status gizi anak, dan diperlukan pelatihan kader untuk melakukannya secara akurat. Tujuan: meningkatkan kapasitas kader Posyandu di Desa Perampuan dalam menggunakan alat antropometri kit untuk mengukur bayi dan balita, guna memastikan pertumbuhan anak sesuai standar kesehatan. Metode: Metode yang digunakan adalah ceramah, demonstrasi, dan evaluasi. Subyek kegiatan ini adalah 42 kader dari 7 Posyandu di Desa Perampuan. Alat yang digunakan meliputi stadiometer, timbangan digital, baby scale, dan meteline. Kegiatan berlangsung melalui tiga tahapan: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil dan Pembahasan: Kegiatan pelatihan dilakukan pada 6 Oktober 2024, dengan materi tentang pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, dan lingkar kepala. Kader Posyandu menerima bantuan alat antropometri kit untuk masing-masing Posyandu. Evaluasi dilakukan sehari setelahnya dan ditemukan beberapa hambatan, seperti latar belakang pendidikan kader yang berbeda-beda dan masalah kalibrasi alat. Kesimpulan: Pelatihan ini berhasil meningkatkan kemampuan kader dalam mengukur pertumbuhan anak menggunakan alat antropometri kit. Hasil pemeriksaan dapat digunakan sebagai data yang valid untuk menilai status gizi anak. Evaluasi dan pendampingan penggunaan alat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan kegiatan.
Pendampingan Pasangan “Merarik Kodeq” Dalam Perencanaan Kehamilan Sebagai Upaya Mencegah Stunting di Desa Perampuan Barat Ni Wayan Ari Adiputri; Catur Esty Pamungkas; Rizkia Amilia
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 8, No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v8i2.437

Abstract

Pasangan merarik kodeq atau pasangan yang menikah usia muda ini cenderung disebabkan karena permasalahan faktor ekonomi yang rendah sehingga para orangtua berupaya menjodohkan anak-anak mereka untuk dinikahkan dengan dasar bahwa sudah tidak sanggup membiayai kebutuhan hidup anak-anak mereka, dan juga hal ini didukung oleh  pengetahuan para orangtua yang kurang tentang pentingnya persiapan kesehatan reproduksi saat akan menikah dan bahaya yang dapat ditimbulkan dari pernikahan usia dini tersebut (Pamungkas et al., 2021). Tujuan : Kegiatan pendampingan pasangan “merarik kodeq” ini sebagai upaya untuk dapat merencanakan kehamilan yang lebih baik sebagai upaya mencegah stunting. Hasil : kegiatan yang dilakukan pada tanggal 15 Juni 2024 di balai dusun kerepet Desa Perampuan Barat dihadiri oleh 4 pasangan “merarik kodeq”. Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan mengadakan pre test dengan sebagian besar rata-rata 60 % katagori pengetahuan kurang, kemudian diberikan penyuluhan dan pendampingan tentang pentingnya perencanaan kehamilan sebagai upaya pencegahan stunting pada pasangan “merarik kodeq”, dan terakhir mengadakan post test dengan hasil hampir seluruhnya rata-rata 80% katagori pengetahuan baik. Simpulannya kegiatan pengabdian masyarakat ini mampu meningkatkan pengetahuan pasangan “merarik kodeq”tentang pentingnya perencanaan kehamilan sebagai upaya pencegahan stunting