Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Profil Nilai Tinjauan pada Hasil CBT UKMPPD di Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Tahun 2017-2021 Akbar, Resti Rahmadika; Azzuhry, Muhammad Fajry; Haiga, Yuri
Health and Medical Journal Vol 5, No 3 (2023): HEME September 2023
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v5i3.1282

Abstract

Pendahuluan: Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) adalah suatu tahap dalam proses program pendidikan kedokteran yang dilaksanakan secara nasional terhadap mahasiswa kedokteran. Pelaksanaan ujian tersebut mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Profesi Dokter Indonesia (SNPPDI) serta memiliki fungsi sebagai exit exam yang bersifat nasional dengan tujuan untuk menjamin mutu lulusan pendidikan dokter kompeten dan terstandar nasional. Computer Based Test (CBT) UKMPPD termasuk kedalam penilaian sumatif karena pelaksanaannya bertujuan untuk menentukan kelulusan dalam suatu proses pembelajaran seseorang. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil nilai tinjauan pada hasil CBT UKMPPD di Fakultas  Kedokteran Universitas Baiturrahmah tahun 2017-2021. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder dengan jumlah sampel 19 periode CBT UKMPPD Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah tahun 2017-2021. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai CBT UKMPPD per-periode. Hasil: Berdasarkan hasil analisis data didapatkan persentase kelulusan terendah berada pada periode November 2020 (15,7%) sedangkan kelulusan tertinggi berada pada periode Agustus 2018 (86,9). Pada tinjauan 5 tahun 2019-2021 terjadi kelemahan pada materi psikiatri, pernapasan dan endokrin, metabolik dan nutrisi, hematologi dan imunologi. Pada tinjauan 6 tahun 2019-2021 terjadi kelemahan pada materi terapi. Pada tinjauan 7 tahun 2020-2021 terjadi kelemahan pada materi anak, sedangkan materi dewasa dan lansia sudah mengalami penurunan sejak tahun 2018. Pada periode Agustus 2017, Mei 2018, Agustus 2018, Februari 2019, Agustus 2019 nilai rerata institusi telah mencapai NBL sedangkan pada periode Agustus 2017, 2018, 2019 nilai rerata instintusi telah mencapai NBL bahkan lebih tinggi dari nilai rerata nasional. Kesimpulan: Perlu perhatian pada topik psikiatri, pernapasan, endokrin dan metabolikhematologi imunologi, penguatan pada keterampilan 4A sampai ke terapi atau penatalaksanaan. Berdasarkan kelompok usia, kasus lansia perlu perhatian.
Demensia Yuri Haiga; Yulson; Reno Sari Chaniago
Scientific Journal Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i5.158

Abstract

Latar Belakang: Demensia adalah sindrom penurunan fungsi intelektual yang progresif, ditandai dengan gangguan kognitif dan fungsional yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, fungsi sosial, dan profesional. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai penyakit degeneratif otak seperti demensia Alzheimer, demensia vaskular, demensia frontotemporal, dan demensia badan Lewy. Tujuan: Makalah ini bertujuan memberikan tinjauan komprehensif mengenai demensia, mencakup definisi, klasifikasi, patofisiologi, faktor risiko, kriteria diagnosis, serta tatalaksana yang tersedia. Metode:  Makalah ini disusun melalui tinjauan pustaka dari berbagai sumber ilmiah yang membahas mekanisme fisiologis neuron, patofisiologi demensia, dan pendekatan klinis dalam diagnosis serta penatalaksanaannya. Hasil: Demensia melibatkan kerusakan neuron yang signifikan, ditandai dengan akumulasi protein abnormal seperti beta-amiloid dan tau pada Alzheimer, serta gangguan vaskular pada demensia vaskular. Diagnosis memerlukan evaluasi klinis menyeluruh berdasarkan kriteria DSM-5 dan MMSE. Tatalaksana meliputi terapi farmakologis seperti penghambat kolinesterase (donepezil, galantamine, rivastigmine) dan terapi non-farmakologis seperti stimulasi kognitif, terapi okupasi, dan dukungan bagi keluarga serta pengasuh. Kesimpulan: Demensia adalah kondisi kronis yang memerlukan pendekatan multidisiplin dalam diagnosis dan penatalaksanaan. Edukasi publik tentang faktor risiko dan upaya pencegahan melalui gaya hidup sehat sangat penting untuk mengurangi dampak penyakit ini.
UNEXPECTED EXTRAPYRAMIDAL REACTION: ACUTE TARDIVE DYSKINESIA FOLLOWING SHORT-TERM METOCLOPRAMIDE USE IN A PATIENT WITH DIABETES AND CHRONIC KIDNEY DISEASE Helmizar, Roland; Yuri Haiga; Vina Tri Septiana; Nana Liana; Ruhsyahadati Ajisman; Rahma Triyana; Muhammad Rizki Saputra
Nusantara Hasana Journal Vol. 5 No. 7 (2025): Nusantara Hasana Journal, December 2025
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v5i7.1781

Abstract

Tardive dyskinesia (TD) is a potentially irreversible extrapyramidal movement disorder characterized by involuntary, repetitive movements, predominantly affecting the orofacial region. Although most commonly associated with prolonged exposure to dopamine receptor–blocking agents, TD may also arise following the use of gastrointestinal prokinetics such as metoclopramide. Female sex, diabetes mellitus, advanced age, and renal impairment are recognized risk factors that increase susceptibility, yet TD remains underrecognized outside psychiatric settings. A 49-year-old woman with poorly controlled type 2 diabetes mellitus presented with nausea, vomiting, and generalized weakness. Laboratory findings demonstrated normocytic anemia, uncontrolled hyperglycemia (HbA1c 9.2%), and acute-on-chronic kidney disease (eGFR 22 mL/min/1.73 m²). She received standard supportive therapy, including intravenous metoclopramide. Within 24 hours, she developed repetitive tongue protrusion and orofacial dyskinesia. Neuroimaging and electrolyte evaluation were unremarkable, and there was no history of prior neuroleptic exposure. Metoclopramide was promptly discontinued, leading to gradual improvement and complete resolution of symptoms within two weeks. Antiemetic therapy was switched to ondansetron. This case underscores that acute TD may occur after short-term metoclopramide use, particularly in patients with diabetes and renal dysfunction. Heightened clinical awareness and cautious prescribing are essential to prevent this potentially disabling adverse effect.
Hubungan Hasil Ukur Kadar Kortisol Serum dengan Derajat Keparahan Klinis Neuropati Perifer pada Pasien HIV Novrianti, R. Dhea Pratiwi; Haiga, Yuri; Anggraini, Debie
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.320

Abstract

Latar Belakang: Neuropati perifer merupakan salah satu komplikasi neurologis yang paling sering dijumpai pada pasien dengan infeksi HIV dan dapat menurunkan kualitas hidup serta menimbulkan gangguan fungsional yang signifikan. Peningkatan kadar kortisol akibat stres kronik diduga berperan dalam patogenesis neuropati perifer melalui mekanisme perubahan neuroendokrin dan aktivasi proses inflamasi.  Tujuan: Untuk mengetahui hubungan hasil ukur kadar kortisol serum dengan derajat keparahan klinis neuropati perifer pada pasien HIV. Metode: Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit Saraf dan Ilmu Biokimia. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2025. Jenis penelitian adalah analitik kategorik. Populasi terjangkau pada penelitian adalah semua pasien HIV dengan neuropati perifer di RSUP Dr. Mdjamil Padang. Sampel serum yang diteliti sebanyak 49 sampel dan dilakukan analisis menggunakan metode ELISA. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji spearman, pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi IBM Statistic 27.  Hasil: Berdasarkan penelitian, paling banyak pasien HIV berjenis kelamin laki-laki (75,5%), kelompok usia terbanyak dewasa (77,6%) dengan kadar kortisol serum kategori normal (57,1%), serta derajat keparahan klinis neuropati ringan (85,7%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara hasil ukur kadar kortisol serum dengan derajat keparahan klinis neuropati perifer pada pasien HIV menggunakan uji korelasi spearman yang diperoleh nilai korelasi (r) = -0,118, sedangkan nilai signifikan (p) = 0,420. Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang bermakna antara hasil ukur kadar kortisol serum dengan derajat keparahan klinis neuropati perifer pada pasien HIV.
IMPLEMENTING RAPID NEEDS ASSESSMENT TO IMPROVE HUMANITARIAN AID DISTRIBUTION FOLLOWING THE 2025 FLASH FLOOD IN PADANG CITY, INDONESIA: A COMMUNITY SERVICE EXPERIENCE Ade Teti Vani; Irwan Triansyah; Nadia Purnama Dewi; Dessy Abdullah; Yuri Haiga; Debie Anggraini; Prima Adelin; Dita Hasni
Nusantara Hasana Journal Vol. 6 No. 1 (2026): Nusantara Hasana Journal, June 2026
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v6i1.2254

Abstract

Humanitarian aid is one of the most critical components of disaster response. However, relief distribution during the emergency phase is frequently driven by donor availability rather than by the actual needs of affected communities. Consequently, while essential supplies such as food and drinking water are often adequately provided, personal necessities that directly influence dignity, hygiene, and daily living remain insufficient. Rapid Needs Assessment (RNA) is recommended as a systematic approach to identify priority needs and improve the effectiveness of humanitarian interventions. This community service program aimed to implement a Rapid Needs Assessment before humanitarian aid distribution for victims of the 2025 flash flood in Padang City, Indonesia. The program was conducted during the emergency response period following the flash flood on 26 November 2025. A collaborative team of university lecturers and members of the Indonesian Medical Association (IDI) Padang Branch conducted field observations and semi-structured interviews with affected households at evacuation sites. Information on assistance already received and unmet priority needs was collected and used to guide the procurement and distribution of relief items. Most affected households had already received temporary shelter, food, and clean water. However, essential personal items—including towels, baby supplies, underwear, blankets, prayer equipment, umbrellas, and raincoats—remained insufficient. Implementing Rapid Needs Assessment enabled the humanitarian team to provide targeted assistance, complement existing relief efforts, minimize duplication, and address overlooked needs. Rapid Needs Assessment improved the relevance and effectiveness of humanitarian aid distribution. Collaboration between higher education institutions and professional organizations offers a practical model for evidence-based community service in disaster response.
EDUKASI ISI PIRINGKU BERBASIS TEKNOLOGI DI NAGARI PADANG GANTIANG KABUPATEN SOLOK SELATAN Ade Teti Vani; Irwan Triansyah; Nadia Purnama Dewi; Debie Anggraini; Yuri Haiga; Aryaldy Zulkarnaini; Yanti Fitri Yasa
Nusantara Hasana Journal Vol. 5 No. 7 (2025): Nusantara Hasana Journal, December 2025
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v5i7.1882

Abstract

Nutritional problems remain a major challenge in community health development, particularly in rural areas. The Indonesian government has introduced the “Isi Piringku” concept as a visual guideline for balanced nutrition; however, its implementation requires more innovative educational approaches. This community service activity aimed to improve knowledge and awareness of balanced nutrition through technology-based “Isi Piringku” education as an effort to prevent nutritional problems in Nagari Padang Gantiang. The community service program was conducted in Nagari Padang Gantiang, Sangir Jujuan District, South Solok Regency, over a 21-day period. Participants included housewives, posyandu cadres, elementary school teachers, and village officials. Educational methods involved technology-based counseling using educational videos, interactive discussions, and question-and-answer sessions. The program resulted in improved participants’ understanding of the “Isi Piringku” concept, particularly the application of the 3J principles (timing, quantity, and type of food) in complementary feeding practices. Educational videos effectively facilitated comprehension of balanced nutrition messages. In addition, the activity fostered community commitment to developing a nutrition-aware village program through the establishment of a healthy garden to support complementary feeding practices. Technology-based “Isi Piringku” education is effective in enhancing community nutrition knowledge and awareness. The integration of digital media and participatory community activities can support stunting prevention efforts and promote the development of a healthy and nutrition-conscious village