Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Wana Lstari

KONTRIBUSI HUTAN JATI TERHADAP PENERIMAAN RUMAH TANGGA PETANI DI DESA PITAY, KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG Tae, Margaretha; Adar, damianus; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1907

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui seberapa besar penerimaan rumah tangga petani dari hasil tanaman Jati di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. 2) Untuk mengetahui seberapa besar penerimaan Rumah Tangga Petani secara total di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. 3) Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi hasil tanaman Jati terhadap penerimaan rumah tangga petani di Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara mewawancarai responden berdasarkan kuisioner, sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara mengambil data dari instansi yang mempunyai relevansi dengan judul penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yaitu terdiri dari 24 Kepala Keluarga atau rumah tangga yang memiliki hutan Jati. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa penerimaan Rumah Tangga petani yang memiliki pohon Jati di Desa Pitay, dari penjualan pohon Jati sebesar Rp.32.075.000 dan jika di rata- ratakan maka setiap responden menerima Rp.1.336.458 dengan jumlah penerimaan terendah Rp.245.000, tertinggi Rp.6.750.000 dan terdapat simpangan sebesar Rp.1.371.769.Total Penerimaan responden sejak bulan Mei 2017 hingga Mei 2018 dari hasil penjualan pohon Jati, pertanian, peternakan, kelautan, dan perikanan, serta pekerjaan lain sebesar Rp.135.815.000dan jika di rata- ratakan maka setiap responden menerima Rp.5.658.958 dengan jumlah penerimaan terendah Rp. 835.000, tertinggi Rp.23.050.000 dan terdapat simpangan sebesar Rp.4.901.408. Kontribsusi dari penerimaan hutan Jati terhadap penerimaan total rumah tangga petani di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, selama 1 tahun yaitu sejak bulan Mei 2017 sampai dengan bulan Mei 2018, yaitu sebesar Rp.32.075.000dari total penerimaan. Hal ini menunjukkan bahwa dari total penerimaan petani yakni Rp.135.815.000, sebanyak 23,62 persen penerimaan berasal dari penjualan pohon Jati. Penerimaan tersebut pada umumnya digunakan petani untuk tambahan biaya sekolah anak- anak mereka.
NILAI EKONOMI TAMAN WISATA ALAM 17 PULAU, KECAMATAN RIUNG, KABUPATEN NGADA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Tey Ngoe, Maria L; Adar, Damianus; Olviana, Tomycho
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2594

Abstract

Taman Wisata Alam 17 Pulau merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Pulau Flores. Penilaian terhadap Taman Wisata Alam 17 Pulau sangat penting untuk dilakukan mengingat TWA ini adalah salah satu objek wisata yangsedang dikembangkan dan belum diketahui nilai ekonominya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1.) mengetahui pengaruh dari biaya perjalanan, pendapatan, pendidikan, umur, jenis kelamin, jarak, jumlah rombongan, lama waktu berkunjung dan sarana yang tersedia terhadap jumlah kunjungan di Taman Wisata Alam 17 Pulau, dan 2.) mengukur nilai ekonomi yang diperoleh Taman Wisata Alam 17 Pulau dengan menggunakan metode biaya perjalanan (travel cost method). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2019 dengan menggunakan metode survey terhadap 50 responden yang ditentukan berdasarkan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan metode biaya perjalanan (travel cost method). Hasil penelitian menunjukan bahwa: biaya perjalanan, pendapatan, pendidikan, jenis kelamin dan jarak berpengaruh tidak signifikan dan negatif (berbanding terbalik) terhadap jumlah kunjungan ke Taman Wisata Alam 17 Pulau, umur serta sarana berpengaruh tidak signifikan dan positif (berbanding lurus) terhadap jumlah kunjungan ke Taman Wisata Alam 17 Pulau, jumlah rombongan berpengaruh signifikan dan negatif (berbanding terbalik) terhadap jumlah kunjungan ke Taman Wisata Alam 17 Pulau, dan lama waktu berkunjung berpengaruh signifikan dan positif (berbanding lurus) terhadap jumlah kunjungan ke Taman Wisata Alam 17 Pulau. Nilai ekonomi Taman Wisata Alam 17 Pulau dengan menggunakan metode biaya perjalanan (travel cost method) dalam kurun waktu 5 (lima) tahun dari tahun 2014-2018 adalah sebesar Rp 23.065.275.124,00
ANALISIS PEMASARAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU PADA SISTEM AGROFORESTRY DI DESA OEBELO KECAMATAN AMANUBAN SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Sempau, Friska; Adar, Damianus; Mau, Astin Elise
Wana Lestari Vol 3 No 1 (2021): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v4i01.4893

Abstract

This research was conducted to determine the marketing of Moringa seeds as Non-Timber Forest Products in the Agroforestry System. This research was conducted in Oebelo Village, Amanuban Selatan District, South Central Timor Regency, which was conducted for 1 month, from June to July 2020. This study used a survey method with analysis. data using descriptive and quantitative analysis. The data is processed using the formula for calculating marketing margin (M), Farmer's Share (FS), marketing profit and R/C ratio. The results showed that the cultivation of Moringa oleifera Lamk. Using an agroforestry system with Alley cropping and mixed cropping can increase the economy of the farmers in Oebelo Village. This is evidenced by looking at the total production of Moringa seeds, which is 12,950 kg / year with a total land area of 37.5 hectares. Each farmer sells Moringa seeds at a price of Rp. 25,000 / Kg to collectors in Oebelo Village, then collectors sell Moringa seeds for Rp. 30,000 / Kg to final consumers. So that the marketing margin is Rp. 5,000 / Kg with marketing costs for farmers is Rp. 9,810 / Kg and the marketing cost for collecting traders is Rp. 168.10 / Kg. Thus, the profit obtained by farmers is Rp. 15,190 / Kg and the profit earned by collectors is Rp. 4,831 / Kg. while the farmer's share is 83.33%. Economically, the marketing business of Moringa Seed as Non-Timber Forest Products in the agroforestry system in Oebelo Village, Amanuban Selatan District, South Central Timor Regency is profitable for farmers because the results of the analysis show that the R / C Ratio is more than one, namely 1.54. Meanwhile, for collectors it is not profitable because the R / C ratio shows the number <1 is 0.28