Articles
Pendampingan Praktik Wudhu Nabi di Desa Tlagah Kec. Galis Kab. Bangkalan
Fatichatus Sa'diyah
Jurnal Masyarakat Mengabdi Nusantara Vol. 1 No. 3 (2022): September : Jurnal Masyarakat Mengabdi Nusantara
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58374/jmmn.v1i3.224
Optimization of the village mosque of Kajan Blega Bangkalan. The problem formulation raised in this community service activity is Concerning with the weak understanding of mosque administrators towards the concept of efforts to prosper mosques and management the al-Mubarokah Kajan Blega Bangkalan mosque which is very urgent for part of the preaching of the people Islam. To find alternative solutions to the above, training was held Efforts to optimize and manage mosques at Masjid al-Mubarokah Kajan Blega Bangkalan. The objectives of this PKM activity are: 1. To equip mosque administrators towards the knowledge of Mosque Management. 2. Equip the Mosque Management as a preacher in a better change. 3. Improve knowledge and morals of society through mosque management that touches the heart the congregation The problem solving framework designed in PKM activities in the form of implementation of this training activity is: 1. Explanation of the concept of good mosque management theory with a philosophical basis followed by practice of finding the root of the problem according to conditions. 2. Design and implement training mosque management accompanied by the supervision and guidance of the administrators of the inner mosque planning activities to be carried out in the next year. 3. Evaluation of training results. Based on interviews, question and answer and direct observation during activities take place, this community service activity provides results: first, Increased knowledge and understanding of the congregation, second is to equip the Jama'ah as a missionary interpreter, the third is to improve knowledge and morals of the community, the formation of a ready mosque management preach.
Cooking Class Nastar Premium Dan Nasi Arab Sebagai Sarana Pemberdayaan Kelompok Perempuan Alumnus Pesantren
Majduddin, Mohammad;
Fattah, Abdul;
Sa'diyah, Fatichatus
MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Pakis Journal Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58184/mestaka.v3i6.550
Boarding school education has a positive impact on children's spiritual development and religious knowledge. However, the intensive learning process can also have a negative impact on their overall growth. The students spend most of their time in class learning religious teachings and texts, which while beneficial for knowledge, often leads to a lack of focus on important life skills. As a result, many students may not acquire basic skills such as cooking and others necessary to navigate life outside of their religious institution. In response to these issues, a community service activity focusing on cooking training for alumni of Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin Gresik was organized. This training aims to equip the alumni with the skills to prepare typical Eid dishes. The implementation of this training includes preparation and implementation stages. Overall, the participants enjoyed the experience and expressed confidence to try the recipes at home. Feedback was mostly positive, with some participants expressing interest in selling their cakes. However, there were some challenges encountered, mainly related to the use of premium ingredients that may not be financially affordable for some participants. In addition, the limited availability of necessary cooking equipment may hinder their ability to practice independently.
HADIS DALAM PERSPEKTIF NAHDLATUL ULAMA ANALISIS KE KRITIK
Muhammad Nawawi;
Muhammad Sofwan;
Fatichatus Sa'diyah
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 2 No. 12 (2024): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62281/v2i12.1182
Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang memiliki pengaruh signifikan dalam pemahaman dan praktik ajaran Islam di negara ini. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai pemikiran hadis menurut NU, pemahaman hadis menurut NU, serta kritik terhadap metode yang digunakan oleh NU dalam memahami hadis. NU memandang hadis sebagai sumber utama ajaran Islam setelah Al-Qur'an. Hadis digunakan sebagai panduan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun muamalah (hubungan sosial). NU menekankan pentingnya memahami hadis dengan konteks dan tujuan syariat, serta relevansinya dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia. NU mengadopsi pendekatan yang menggabungkan metode tradisional dan kontemporer dalam menafsirkan hadis. Metode ini mencakup penggunaan kitab-kitab klasik dan pandangan ulama terdahulu yang diharmonisasikan dengan konteks modern. NU sangat menekankan pentingnya sanad (rantai perawi) dan matan (isi hadis) dalam menentukan kesahihan sebuah hadis. NU juga menggunakan metode takwil untuk memahami hadis-hadis yang dianggap mutasyabihat (samar). Pemahaman hadis menurut NU ditandai dengan sikap moderat dan inklusif. NU berusaha menjaga keseimbangan antara pemahaman tekstual dan kontekstual hadis. NU juga menekankan pentingnya ijtihad (penalaran hukum) dan istinbath (penyimpulan hukum) dalam memahami hadis, sehingga menghasilkan fatwa yang sesuai dengan kondisi zaman. Meskipun pendekatan NU dalam memahami hadis dihargai oleh banyak pihak, terdapat beberapa kritik. Beberapa ulama menganggap bahwa metode takwil yang digunakan NU terkadang terlalu bebas dan tidak cukup konservatif. Ada juga kritik bahwa NU tidak selalu konsisten dalam penerapan metodologi hadis, terutama dalam konteks politik dan sosial. Namun, NU terus berupaya untuk memperbaiki dan mengembangkan metode pemahaman hadis mereka agar lebih sesuai dengan kebutuhan umat Islam. Tujuan tulisan ini agar mengetahui hadis menurut NU. Metodologi yang dipakai dalam tulisan ini ialah metodologi kualitatif dengan jenis library research. Sedangkan teknik penggalian data yang digunakan ialah dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa NU turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan kajian hadis di Indonesia.
HADIS DALAM PERSPEKTIF NAHDLATUL ULAMA ANALISIS KE KRITIK
Muhammad Nawawi;
Muhammad Sofwan;
Fatichatus Sa'diyah
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 2 No. 12 (2024): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62281/v2i12.1252
Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang memiliki pengaruh signifikan dalam pemahaman dan praktik ajaran Islam di negara ini. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai pemikiran hadis menurut NU, pemahaman hadis menurut NU, serta kritik terhadap metode yang digunakan oleh NU dalam memahami hadis. NU memandang hadis sebagai sumber utama ajaran Islam setelah Al-Qur'an. Hadis digunakan sebagai panduan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun muamalah (hubungan sosial). NU menekankan pentingnya memahami hadis dengan konteks dan tujuan syariat, serta relevansinya dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia. NU mengadopsi pendekatan yang menggabungkan metode tradisional dan kontemporer dalam menafsirkan hadis. Metode ini mencakup penggunaan kitab-kitab klasik dan pandangan ulama terdahulu yang diharmonisasikan dengan konteks modern. NU sangat menekankan pentingnya sanad (rantai perawi) dan matan (isi hadis) dalam menentukan kesahihan sebuah hadis. NU juga menggunakan metode takwil untuk memahami hadis-hadis yang dianggap mutasyabihat (samar). Pemahaman hadis menurut NU ditandai dengan sikap moderat dan inklusif. NU berusaha menjaga keseimbangan antara pemahaman tekstual dan kontekstual hadis. NU juga menekankan pentingnya ijtihad (penalaran hukum) dan istinbath (penyimpulan hukum) dalam memahami hadis, sehingga menghasilkan fatwa yang sesuai dengan kondisi zaman. Meskipun pendekatan NU dalam memahami hadis dihargai oleh banyak pihak, terdapat beberapa kritik. Beberapa ulama menganggap bahwa metode takwil yang digunakan NU terkadang terlalu bebas dan tidak cukup konservatif. Ada juga kritik bahwa NU tidak selalu konsisten dalam penerapan metodologi hadis, terutama dalam konteks politik dan sosial. Namun, NU terus berupaya untuk memperbaiki dan mengembangkan metode pemahaman hadis mereka agar lebih sesuai dengan kebutuhan umat Islam. Tujuan tulisan ini agar mengetahui hadis menurut NU. Metodologi yang dipakai dalam tulisan ini ialah metodologi kualitatif dengan jenis library research. Sedangkan teknik penggalian data yang digunakan ialah dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa NU turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan kajian hadis di Indonesia.
RELIGIOUS POLICY IN THE COVID-19 PANDEMIC AND THE PROPHET’S HADIS
Fatichatus Sa'diyah
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56594/musnad.v1i2.163
This article discusses the arguments of the Prophet’s hadis which are textually contrary to government policies, especially during the covid-19 pandemic. Since the outbreak of covid-19 in early 2020, the government has provided many religious policies for Muslims that have had a lot of impact on their religious behavior. Among them are getting used to praying at home because many mosques are closed, getting used to praying dhuhur on Friday because Friday prayers are abolished, not shaking hands because it will cause physical contact with each other, not attending to pay respects to Muslim brothers who died. While all these behaviors are contrary to the textual meaning of the Prophet’s hadis. For example, regarding the threat who leave Friday prayers, the virtue of praying in congregation at the mosque, the virtue of shaking hands when meeting each other, the virtue of carrying out joint obligations in the form of final respect for Muslim brothers who died. Judging by using the theory of structural functionalism popularized by Robert K Merton, it is explained that the basic assumption is that every structure in a social system is functional with respect to the other parts Therefore, this article concludes that between the two realities –religious policies during a pandemic and religious narratives in hadis– do not cause conflict, in fact there is a relationship between one and the other. This is even more so if the traditions are understood using a contextual approach.
MENGULAS KEMBALI KITAB SAHIH AL-BUKHARI
Fatichatus Sa'diyah
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 1 (2023): Juli
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56594/musnad.v1i1.130
Dari sekian banyak kitab hadis yang tersebar, S{ah}i>h{ al-Bukha>ri> merupakan kitab hadis yang diakui dari zamannya hingga sekarang. Kitab ini akan penulis kaji dari berbagai segi mulai dari: biografi Imam al-Bukha>ri>, latar belakang peulisan kitab S{ah}i>h{ al-Bukha>ri>, sitematika penulisan S{ah{i@h} al-Bukha>ri>, tema dan cakupan S}ah}i@h} al-Bukha>ri>, serta komentar ulama terhadap al-Bukha>ri> dan S}ah}i@h} al-Bukha>ri>. al-Bukha>ri adalah ulama kelahiran Uzbekistan, satu di antara negara-negara pecahan Uni Soviet. Kitab ini sangat dikenal luas di kalangan Islam, namun sebagian besar dari mereka tidak terlalu mengetahui dengan detail bagaimana latar belakang dan pernak-pernik S{ah{i@h} al-Bukha>ri. Kitab ini merupakan kitab pertama yang khusus menghimpun hadis sah}i>h}. Adapun penghimpunan hadis secara umum sudah dilakoni oleh ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azi>z yang memerintahkan gubernurnya di Madinah, Ibnu H{azm agar mulai membukukan hadis Nabi. Namun pada masa ini, hadis Nabi belum difilter antara yang lemah dan tidak.
ASPEK INFORMATIF PERFORMATIF HADIS SHUHRAH DALAM FILM NYENTRI: FILM PENDEK DARI HADIS RASULULLAH SAW
Fatichatus Sa'diyah;
Mohammad Lutfianto;
Takwallo Takwallo
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya perilaku Shuhrah yang semakin hari semakin banyak dilakukakan oleh manusia. Perilaku Shuhrah merupakan cara berpakaian manusia yang tidak seperti biasanya agar terlihat berbeda dengan bertujuan untuk menarik perhatian orang lain dan berlagak sombong. Perilaku Shuhrah ini merupakan perilaku yang tidak disukai oleh Nabi SAW dan bahkan disebutkan bahwasanya AllÄh SWT mengancam untuk memakaikan pakaian kehinaan di akhirat terhadap pelaku Shuhrah di dunia. Penelitian ini mengacu pada pengidentifikasian objek resepsi aspek fungsi Informatif dan performatif Hadis Shuhrah yang ada pada Film “Nyentri: Film Pendek dari Hadis RasulullÄh SAWâ€. Berdasarkan fokus penelitian yang telah dirumuskan, maka secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau mengidentifikasi aspek informatif dan aspek performatif sebagai bagian daripada salah satu metode living hadis resepsi terhadap hadis Shuhrah dalam film “Nyentri: Film Pendek dari Hadis RasulullÄh SAWâ€. Untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan tersebut, penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif jenis studi kasus sebab bertujuan untuk mendeskripsikan aspek informatif dan performatif atau bentuk resepsi hadis yanga ada dalam film “Nyentri: Film Pendek dari Hadis RasulullÄh SAWâ€. Hasil temuan atau kesimpulan pada penelitian ini adalah adanya hadis Shuhrah yang dibacakan oleh salah satu tokoh dalam film tersebut sehingga diidentifikasi sebagai resepsi aspek fungsi informatif, setelah penelusuran dilakukan terhadap hadis tersebut, ditemukan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibn MÄjah dan AbÅ« DawÅ«d dalam kitabnya. Selanjutnya adalah respon para tokoh terhadap hadis Shuhrah yang telah dibacakan dalam film tersebut sehingga hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai resepsi aspek fungsi performatif.
Memahami Kriteria dan Implikasi Pengamalan Hadis-Hadis Daif Perspektif Yusuf al-Qardhawi
Hoiroh, Nafilatul;
Rizkiy, M. Inul;
Sa’diyah, Fatichatus
Journal of Hadith Studies Vol. 8 No. 1 (2025): Journal of Hadith Studies
Publisher : ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32506/johs.v8i1-04
Yūsuf al-Qarḍāwī is a contemporary scholar known for his strict approach to the application of ḥadīth ḍa‘īf. He introduced two additional conditions beyond the three established by Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, making a total of five criteria for the application of weak hadiths. These two additional conditions distinguish al-Qarḍāwī’s perspective from that of other scholars. This study focuses on two main issues: first, Yūsuf al-Qarḍāwī’s views regarding the applicability of weak hadiths; and second, the implications of his criteria for the acceptability of such hadiths. This research is qualitative and employs a library-based approach. Data collection was conducted through documentation techniques. The primary sources consist of three works by al-Qarḍāwī: Kayfa nata‘āmal, Thaqāfat al-Dā‘iyah, and al-Muntaqā min al-Targhīb wa al-Tarhīb. The data were analyzed using content analysis, and the results are presented descriptively. The five conditions proposed by al-Qarḍāwī lead to the exclusion of several categories of weak hadiths from practical application, including munkar, matrūk, those that independently prescribe specific actions, and ḥadīth shādh.
Addressing The Phenomenon Of Kinship Politics: An Experience Of The Prophetic Hadis
Sa'diyah, Fatichatus
International Conference on Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2024): December
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58223/cois.v5i2/391
Indonesia is a democracy. The election of the government is also based on open, honest and fair elections. However, recent political conditions do not reflect Indonesiass status as a democracy. The purpose of this article is to explain the view of the Prophet’s hadis related to the phenomenon of kinship politics. This type of research is library research using qualitative data in the form of documentation and then analyzed with inductive analysis. In addition, the author also uses the hadis mawd{u>`i> method, which collects traditions related to one topic or discussion, then arranges them based on their asba>b al-wuru>d and then provides an explanation based on the Prophetic tradition. In analyzing this problem, the author also uses conflict management theory. Based on the results, kinship politics is commonly known as nepotism. It can be seen that there are several Arabic words that are similar to the word ‘nepotism’ including; athara, `is{a>bah. It is explained in the Prophet’s hadith that after the Prophet's death, there will be the phenomenon of atharah, which is nepotism. In the hadith, the Prophet also provided a solution when the phenomenn was encountered, namely being patient. Based on the theory of `as{a>biyyah Ibn Khaldun states that the attitude of `as{a>biyah can be interpreted in two senses; positive and negative. A positive attitude shows the concept of brotherhood, while a negative attitude shows blind fanaticism without seeing the truth.
Tradisi Seren Taun di Daerah Citorek Lebak Banten (Studi Living Hadis)
Jupita Apriani;
Rosa Safitri;
Hofifah;
Ulfatus Shalihah;
Muyessaroh;
Fatichatus Sa'diyah;
Rio Kurniawan;
Ahmad Hizazih Al-faqih;
Badrudin
Al-Hasyimi - Jurnal Ilmu Hadis Vol. 1 No. 2 (2024): Al-Hasyimi - Jurnal Ilmu Hadis
Publisher : STAI Nurul Qadim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63398/jih.v1i2.39
Penelitian ini mengkaji resepsi hadis dalam konten video YouTube Guru Gembul episode 182 yang berjudul “Cara Mengukur Kadar Intelektualitas Seseorang”, dengan fokus pada dua hadis utama yang dipaparkan, yaitu larangan berprasangka buruk dan keutamaan sabar dalam menghadapi ujian. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana nilai-nilai hadis tersebut diinterpretasikan dan dikontekstualisasikan dalam media digital serta bagaimana pesan tersebut diterima oleh audiens. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap transkrip video dan komentar penonton sebagai data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Guru Gembul menyajikan hadis secara aplikatif dan kritis, menekankan pentingnya sikap terbuka, objektivitas, dan kesabaran sebagai indikator intelektualitas dan keimanan. Respon audiens mayoritas positif, menandakan efektivitas media YouTube sebagai sarana dakwah dan pembelajaran hadis kontemporer. Penelitian ini menegaskan bahwa media digital membuka ruang baru bagi proses resepsi hadis yang interaktif dan kontekstual, sekaligus menuntut pemahaman kritis dari para penikmatnya