Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Anemia Postpartum dan Dampaknya terhadap Kualitas Hidup Ibu Nifas: Scoping Review Rokhimawaty, Afita; Rachmawati, Anita; Pramatirta, Akhmad Yogi; Anwar, Ruswana; Tarawan, Vita Murniati; Sahiratmadja, Edhyana
Jurnal Lintas Keperawatan Vol. 6 No. 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlk.v6i2.14000

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Anemia postpartum masih menjadi masalah kesehatan global yang berdampak pada pemulihan fisik dan psikologis ibu setelah melahirkan. Penurunan kadar hemoglobin dapat menurunkan kualitas hidup ibu nifas dan menghambat proses adaptasi terhadap peran keibuan. Kajian ini diperlukan untuk memahami sejauh mana kadar hemoglobin berpengaruh terhadap kesejahteraan ibu pascapersalinan. Metode : Penelitian ini merupakan scoping review berdasarkan pedoman PRISMA-ScR. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar untuk periode 2015–2025. Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara tematik. Hasil : Analisis menghasilkan tiga tema utama, yaitu kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, dan adaptasi peran ibu. Kadar hemoglobin rendah berhubungan dengan kelelahan, penyembuhan luka yang lambat, depresi postpartum, serta penurunan kepercayaan diri dan kelekatan ibu–bayi. Kesimpulan : Kadar hemoglobin postpartum memengaruhi kualitas hidup ibu secara multidimensi. Pemantauan hemoglobin dan intervensi gizi serta dukungan psikososial perlu diintegrasikan dalam pelayanan kebidanan pascapersalinan. Kata Kunci: anemia postpartum; hemoglobin; kualitas hidup; ibu nifas
BENEFITS OF SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) IN PREGNANCY, CHILDBIRTH, AND POSTPARTUM PERIOD : A LITERATURE REVIEW Nasution, Nadhiati Awlia; Rachmawati, Anita; Nurihsan, Juntika; Susanti, Ari Indra; Sudirman, Siska Bradinda Putri
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 9, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v9i2.2818

Abstract

Pregnancy, childbirth, and the postpartum period represent natural experiences for women, with physical and psychological changes occurring during these phases. During pregnancy, there are hormonal fluctuations that can affect the mother's mood and emotions. Therefore, psychological support is needed for pregnant women because it can prevent complications during labor and postpartum. To prevent these conditions, complementary therapies are needed, such as Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) as a holistic midwifery care for the physical and emotional health of the mother. The focus of this study was to evaluate the benefits of SEFT therapy in the care of pregnant women during pregnancy, during labor, and postpartum period. The research methodology utilized a systematic literature review sourced from various databases including ProQuest, PubMed, Oxford, SCOPUS, ScienceDirect, SAGE Journal, and Google Scholar. The PRISMA protocol guided data extraction and categorization. Results Ten relevant articles identified that SEFT therapy contributes to improving maternal well-being and cardiovascular health during pregnancy. In addition, the therapy has been shown to reduce anxiety among pregnant, pre-cesarean section, and laboring mothers, and has demonstrated efficacy in reducing post-cesarean section pain and improving postpartum maternal sleep.
The Success Rate for Diagnosing Congenital Anomalies During Prenatal Firmansyah, Silva Elifa; Pribadi, Adhi; Pramatirta, Akhmad Yogi; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.722

Abstract

Introduction: This study aimed to determine the success of prenatal diagnosis in cases of congenital abnormalities at RSHS Bandung.Methods: This study was descriptive and cross-sectional. We collected data from all neonatal patients with congenital abnormalities who received prenatal care at RSHS Bandung between January 1, 2021, and December 31, 2023. Data processing used Microsoft Excel 16.66.1 and IBM SPSS Statistics.Result: The results show that 59 patients, or 93.6%, had appropriate abnormalities diagnosed, while only 4 patients, or 6.3%, had inappropriate abnormalities.Conclusion: Prenatal diagnosis of congenital abnormalities showed a fairly high concordance value, namely 93.6%.Tingkat Keberhasilan Penegakan Diagnosis Kelainan Kongenital pada saat PrenatalAbstrakTujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan diagnosis prenatal pada kasus kelainan kongenital di RSHS Bandung.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional. Data diperoleh dari seluruh pasien neonatal yang disertai kelainan kongenital pada saat prenatal di RSHS Bandung 1 Januari 2021 – 31 Desember 2023. Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 16.66.1 dan IBM SPSS Statistics.Hasil: Hasil yang didapatkan yaitu akurasi pasien terdiagnosis sesuai ada kelainan sebanyak 59 atau sebesar 93.6% dan terdiagnosis tidak sesuai ada kelainan sebanyak 4 atau sebesar 6.3%. Kesimpulan: Penegakan diagnosis kelainan kongenital pada saat prenatal menunjukkan nilai kesesuaian yang cukup tinggi, yaitu sebesar 93,6%.Kata kunci: Prenatal, kelanan kongenital,
Amniotic Membrane Graft and Hysteroscopic Adhesiolysis as Treatment for Asherman Syndrome Case Rusly, Dewi Karlina; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi; Djuwantono, Tono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.603

Abstract

Introduction: Secondary amenorrhea which caused by intrauterine adhesions is called Asherman’s syndrome. This occurs when the uterine cavity becomes partially or completely blocked, which can damage the basal layer of the endometrium and cause the formation of adhesive cicatricial tissue. The prevalence or incidence of Asherman Syndrome ranges from 2.84-5.5% in women. Case Report: A woman 33 years old had a history of amenorrhea for 2 years and three times curettage due to miscariage. Ultrasound findings showed 1.35 cm long cicatrix in the uterine cavity, and probe had only entered 3 cm. The patient underwent hysteroscopy adhesiolysis and grafting of intrauterine amniotic membrane. The intrauterine catheter was monitored for 1 month. Postoperatively the patient also received estradiol valerate therapy 3 x 2 mg for three months. Management of Asherman syndrome with hysteroscopy adhesiolysis with direct observation accompanied by grafting of amniotic membrane using intrauterine catheter tube is one of the techniques to overcome recurrent intrauterine adhesion. Conclusion:  Secondary amenorrhea in Asherman syndrome is better treated operatively with direct observation of the hysteroscopy and adhesiolysis. The using of amniotic membrane graft and supportive therapy are very helpful for the success of endometrial growth and preventing recurrent adhesions, increase the menstrual volume and chances of pregnancy.Pencangkokan Selaput Ketuban dan Histeroskopi Adhesiolisis sebagai Penatalaksanaan untuk Kasus Sindrom AshermanAbstrakPendahuluan: Amenorea sekunder yang disebabkan oleh perlengketan intrauterin disebut sindrom Asherman dengan prevalensi berkisar antara 2,84 - 5,5%.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 33 tahun mempunyai riwayat amenore 2 tahun dan kuretase sebanyak 3 kali akibat abortus. Temuan USG menunjukkan cicatrix sepanjang 1,35 cm di rongga rahim, sondage hanya masuk 3cm. Pasien menjalani histeroskopi adhesiolisis dan pemasangan cangkok selaput ketuban intrauterin. Kateter intrauterin dipantau selama 1 bulan. Pascaoperasi pasien juga mendapat terapi estradiol valerat 3 x 2mg selama tiga bulan. Penatalaksanaan sindrom Asherman dengan histeroskopi adhesiolisis dengan observasi langsung disertai pemasangan cangkok selaput ketuban menggunakan selang kateter intrauterin merupakan salah satu teknik yang efekstif untuk mengatasi adhesiolisis intrauterin berulang.Kesimpulan: Amenore sekunder pada sindrom Asherman lebih baik ditangani secara operatif dengan observasi langsung berupa histeroskopi dan adhesiolisis. Pemasangan cangkok selaput ketuban dan terapi suportif sangat membantu keberhasilan pertumbuhan endometrium dan mencegah perlengketan berulang, meningkatkan volume darah saat menstruasi dan peluang terjadinya pembuahan.Kata kunci: Adhesi intrauterin, Histeroskopi, Pencangkokan selaput ketuban, Rekonstruksi endometrium, Sindrom Asherman.
FAKTOR- FAKTOR YANG BERASOSIASI PADA KEJADIAN STUNTING PADA BAYI DI BAWAH DUA TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDRAH KABUPATEN BIREUEN Fitriani, Aida; Gurnida, Dida A.; Rachmawati, Anita
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 8, No 3 (2020): EDITION NOVEMBER 2020
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v8i3.1258

Abstract

Stunting is a condition of physical growth failure characterized by height for age under -2 SD from the WHOchart growth standard. This study used adesign cross sectional with variables of birth weight, non-exclusive breastfeeding, maternal education, education. father, history of ANC visits, socio-economic history, and work history of parents.  This study used a sample of 56 baduta who were stunting. The sample in this study, namely mothers who have baduta. This study uses instruments in the form of a questionnaire and an infantometer. Data analysis used univariable analysis, bivariable analysis with chi square test and multivariable with logistic regression analysis.  The results showed that the prevalence of stunting in the study site was 31.8%, the factor most associated with stunting in the ANC visit was POR = 10.54 (95% CI: 4.20-25.03) p value =
The Role of Neuron Growth Factor and Interleukin-10 in The Development of Pain in Adenomyosis: A Narrative Review Heriyanto, Agus; Tjahyadi, Dian; Rachmawati, Anita; Adlino, Luky
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.931

Abstract

Introduction: Adenomyosis, a benign uterine condition characterized by endometrial tissue within the myometrium, leads to uterine enlargement, infertility, dysmenorrhea, and heavy menstrual bleeding. While its precise etiology remains elusive, delayed pregnancy may contribute to its increasing incidence among infertile women. This condition, predominantly affecting parous women, is also associated with higher rates of early miscarriage. Although immune dysregulation in endometriosis is well-documented, comparable research in adenomyosis is limited.Objective: This review aims to explore the roles of Interleukin-10 (IL-10), an anti-inflammatory cytokine, and Neuronal Growth Factor (NGF), a neuroimmune factor, in adenomyosis.Discussion: Elevated IL-10 levels in ectopic endometrial tissue suggest a potential immunosuppressive mechanism that may exacerbate symptoms. NGF is also implicated in the pain and inflammation associated with adenomyosis. A deeper understanding of the interplay between IL-10 and NGF could offer critical insights into the inflammatory nature and pain mechanisms of this condition.Conclusion: This review proposes IL-10 as a potential inflammatory biomarker and NGF as a pain marker in adenomyosis, paving the way for future research into novel therapeutic targets. Elucidating these pathways could lead to treatments focused on mitigating inflammation and alleviating associated symptoms of adenomyosis.Keywords: adenomyosis; neuronal growth factor; interleukin-10; pelvic pain Peran Neuron Growth Factor (NGF) dan Interleukin-10 (IL-10) dalam pembentukan Nyeri pada Adenomyosis : Sebuah Review NaratifAbstrakPendahuluan: Adenomyosis, suatu kondisi rahim jinak yang ditandai dengan adanya jaringan endometrium di dalam miometrium, menyebabkan pembesaran rahim, infertilitas, dismenore, dan perdarahan menstruasi yang berat. Meskipun etiologi pastinya masih belum jelas, kehamilan yang tertunda kemungkinan berkontribusi pada peningkatan insidennya di kalangan wanita infertil. Kondisi ini, yang sebagian besar memengaruhi wanita multipara, juga dikaitkan dengan tingkat keguguran dini yang lebih tinggi. Meskipun disregulasi imun pada endometriosis telah didokumentasikan dengan baik, penelitian serupa pada adenomyosis masih terbatas.Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Interleukin-10 (IL-10), sitokin anti-inflamasi, Faktor Pertumbuhan Saraf (NGF) dan faktor neuroimun dalam adenomyosis.Diskusi: Peningkatan kadar IL-10 dalam jaringan endometrium ektopik menunjukkan mekanisme imunosupresif potensial yang dapat memperburuk gejala. NGF juga berperan dalam nyeri dan peradangan yang terkait dengan adenomyosis. Pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi antara IL-10 dan NGF dapat memberikan wawasan penting mengenai sifat inflamasi dan mekanisme nyeri dari kondisi ini.Kesimpulan: Tinjauan ini mengusulkan IL-10 sebagai biomarker inflamasi potensial dan NGF sebagai penanda nyeri pada adenomyosis. Hal tersebut membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut untuk target terapeutik baru. Menguraikan jalur-jalur ini dapat mengarah pada perawatan yang berfokus pada mitigasi peradangan dan mengurangi gejala adenomyosis.Kata kunci: adenomiosis; interleukin-10; neuronal growth factor; nyeri pelvis.
Characteristics of Patients with Diminished Ovarian Reserve Undergoing in Vitro Fertilization (IVF) at Hasan Sadikin Hospital from 2019-2023 Fitriyanto, Iqbal Anugrah; Rachmawati, Anita; Pramatirta, Akhmad Yogi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.1004

Abstract

Objective: This study aimed to describe the characteristics of patients with diminished ovarian reserve undergoing in vitro fertilization (IVF) to improve understanding of its implications for infertility.Methods: Cross-sectional descriptive study using medical records of patients who underwent IVF at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) from 2019 to 2023. Analyzed variables included age, education level, occupation, duration of marriage, body mass index, Anti-Müllerian hormone (AMH) level, and ovarian stimulation protocol.Results: A total of 57.14% of the 55 patients were aged 35 – 40 years, 87.5% nulliparous, and 55.36% had a body mass index greater than 24.9 kg/m2. The percentage that held a bachelor’s degree was 64.29%, and 55.36% had AMH levels below 1.1 ng/ml. A total of 78.57% received a short stimulation protocol, and 21.43% received a long stimulation protocol.Conclusion: Most patients with diminished ovarian reserve undergoing IVF at RSHS (2019 – 2023) were aged 35 – 40, nulliparous, obese class I–II, AMH value <1.1 ng/ml, and were subjected to a short IVF protocol.Karakteristik Pasien dengan Diminished Ovarian Reserve yang Melakukan In Vitro Fertilization (IVF) di Rumah Sakit Hasan Sadikin pada Tahun 2019 – 2023AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik pasien dengan cadangan ovarium menurun yang menjalani fertilisasi in vitro untuk meningkatkan pemahaman tentang implikasi cadangan ovarium menurun pada infertilitas.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif observasional potong lintang yang menggunakan data rekam medis pasien yang menjalani fertilisasi in vitro di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) periode 2019 – 2023. Variabel yang dianalisis meliputi usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menikah, indeks massa tubuh, kadar hormon anti-Müllerian, dan protokol stimulasi ovarium.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 55 pasien, 57,14% berusia 35 – 40 tahun, 87,5% belum pernah melahirkan, 55,36% memiliki indeks massa tubuh lebih dari 24,9 kg/m2, 64,29% berpendidikan sarjana, dan 55,36% memiliki kadar hormon anti-Müllerian kurang dari 1,1 ng/ml. Sebanyak 78,57% menjalani protokol stimulasi pendek dan 21,43% menjalani protokol stimulasi panjang.Kesimpulan: Sebagian besar pasien dengan cadangan ovarium menurun yang menjalani fertilitasi in vitro di RS Dr. Hasan Sadikin (201 – 2023) berusia 35 – 40 tahun, nullipara, obesitas kelas I–II, nilai AMH <1.1 ng/ml dan menjalani protokol IVF pendek.Kata kunci: Anti-mullerian hormone; diminished ovarian reserve; FSH; infertilitas; in vitro fertilization (IVF), teknologi reproduksi berbantu
Efek Paparan Media Terhadap Literasi dan Perilaku Pencegahan Anemia pada Remaja Putri di SMA Wilayah Jakarta Timur Frenta, Frenta Helena Simaibang; Afriandi, Irfan; Rachmawati, Anita
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i2.2599

Abstract

Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja khususnya remaja putri ialah anemia. Hasil Riskesdas (2018), melaporkan bahwa adanya kenaikan kasus anemia pada remaja putri, dimana pada tahun 2013 secara nasional adalah sebesar 37,1% remaja putri mengalami anemia dan naik di tahun 2018 menjadi 48,9%. Kebutuhan zat besi pada remaja perempuan lebih besar daripada remaja laki-laki, karena selain digunakan untuk pertumbuhan, juga untuk mengganti zat besi yang hilang setiap bulan karena menstruasi. Terjadinya anemia pada remaja sering disebabkan oleh kurangnya literasi kesehatan yang dimana keterpaparan informasi dari media mengenai anemia terhadap remaja masih kurang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan antara responden yang terpapar dan tidak terpapar dengan media terhadap literasi dan perilaku pencegahan anemia pada remaja putri di SMA. Metode yang digunakan merupakan kuantitatif dengan desain observasional analitik pendekatan Cross Sectional. Sampel merupakan remaja putri di SMA wilayah Jakarta Timur. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan Probability Sampling dengan teknik Cluster random sampling. Analisis yang digunakan adalah uji Mann-Whitney (p< 0,05) dikarenakan sebaran data tidak berdistribusi normal. Hasil uji efek paparan media terhadap literasi menghasilkan nilai probabilitas (sig) < 0,05 (0,001<0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan dalam penelitian ini terdapat perbedaan literasi dan perilaku pencegahan anemia yang cukup signifikan antara responden yang terpapar dan tidak terpapar dengan media.