Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Perbandingan Kualitas Blok Parafin Jaringan Apendiks Pada Pewarnaan Hematoksilin Eosin Berdasarkan Lama Penyimpanan Duda, Alya Putri Ananda; Rahmawati, Yeni; Nailufar, Yuyun
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10412

Abstract

Penyimpanan blok parafin merupakan tahapan penting dalam manajemen spesimen histopatologi untuk diagnosis lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas blok parafin jaringan apendiks berdasarkan lama penyimpanan pada 5 tahun dan 10 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain potong lintang dan analisis kualitatif. Sampel terdiri dari 10 blok parafin (5 tahun 5 blok dan 10 tahun 5 blok) serta 20 preparat hasil pewarnaan hematoksilin eosin. Penilaian dilakukan secara makroskopis yang dinilai oleh observer ATLM dan peneliti serta, mikroskopis oleh observer dokter spesialis patologi anatomik dan peneliti. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-April 2025. Hasil menunjukkan blok dari kedua kelompok memiliki kualitas baik. Tidak ditemukan perbedaan berdasarkan lama penyimpanan, dibuktikan melalui hasil pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Simpulan penelitian ini adalah blok parafin jaringan apendiks 5 tahun dan 10 tahun menunjukkan kualitas yang layak digunakan kembali, mendukung pentingnya penyimpanan yang baik.
OVERVIEW OF ANATOMICAL PATHOLOGY LABORATORY WASTE PROCESSING AT YOGYAKARTA CITY HOSPITAL Winasari, Dea; Nailufar, Yuyun; Putri, Widaninggar Rahma
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v8i1.420

Abstract

Anatomical pathology laboratory plays an important role in helping doctors diagnose diseases through the analysis of biological samples, but every process in the anatomical pathology laboratory poses risks to workers, including anatomical pathology medical waste which is hazardous if not managed properly. Objective: This study assesses whether the solid and liquid waste management procedures implemented in the anatomical pathology laboratory of Yogyakarta City Hospital are in accordance with standards. Method: This study is a descriptive observational study. Results: The study shows that the management of pathological and hazardous waste in the anatomical pathology laboratory of Yogyakarta City Hospital is in accordance with PMK No. 2 of 2023 and the implementation of regulations and SOPs effectively minimizes risks and maintains a safe work environment. Conclusion: The management of pathological and hazardous waste in the Anatomical Pathology Laboratory of Yogyakarta City Hospital . meets regulatory standards and SOPs, supported by good staff understanding. Overall, the implemented procedures effectively maintain occupational safety, although there are still some challenges related to limited personnel.
Variasi Waktu Larutan Fiksasi Bouin terhadap Kualitas Pewarnaan Hematoksilin Eosin pada Jaringan Histologi Ginjal Mencit Pramesti, Titi; Nailufar, Yuyun; Rahmawati, Yeni
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2708

Abstract

Tahap fiksasi adalah proses pengawetan jaringan untuk mempertahankan struktur jaringan sedekat mungkin sama seperti saat jaringan masih di dalam tubuh. Larutan fiksasi yang digunakan adalah larutan fiksasi bouin, memiliki keunggulan seperti kemampuan penetrasinya cepat ke dalam nukleus dan jaringan ikat akan terpulas dengan baik. Pewarna Hematoksilin Eosin merupakan pewarna histologi yang paling sering digunakan. Hematoksilin akan mewarnai inti menjadi biru sedangkan eosin akan mewarnai sitoplasma menjadi oranye. Mencit (Mus musculus) merupakan hewan yang paling sering digunakan untuk percobaan karena memiliki banyak keunggulan, ginjal mencit (Mus musculus) merupakan salah satu organ yang paling sering digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas pewarnaan pada inti sel, sitoplasma, dan keseragaman warna berdasarkan variasi waktu fiksasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental dengan desain penelitian eksperimental, dan random sampling untuk teknik pengambilan sampel. Penelitian ini telah mendapatkan izin etik dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Penelitian ini menunjukkan bahwa 24 jam adalah variasi waktu fiksasi terbaik karena menunjukkan inti dan sitoplasma yang jelas dan terwarnai dengan baik, dengan keseragaman warna pada jaringan merata. Hasil Uji Kruskal Wallis dan Uji Man Whitney menunjukkan adanya perbedaan kualitas pewarnaan dengan signifikan p= 0,002. Kesimpulan penelitian ini fiksasi selama 24 jam menggunakan larutan bouin merupakan pilihan waktu optimal.
Perbandingan Kualitas Hasil Pewarnaan Jaringan Menggunakan Larutan Sabun Cuci Piring Sebagai Agen Deparafinisasi Alternatif Alfaiz, Akhdaan Aqil Sidqi; Nailufar, Yuyun; Irfani, Farida Noor
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i1.2772

Abstract

Deparafinisasi merupakan tahap penting dalam pembuatan preparat histologi sebelum pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE), dengan tujuan menghilangkan parafin agar pewarnaan jaringan optimal. Xylol adalah agen deparafinisasi yang umum digunakan, namun bersifat karsinogenik, mudah terbakar, dan mahal, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman dan ekonomis. Sabun cuci piring mengandung surfaktan yang mampu melarutkan parafin, sehingga berpotensi digunakan sebagai agen alternatif. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas pewarnaan jaringan menggunakan sabun cuci piring konsentrasi 1,5%, 3%, dan 4,5% terhadap xylol sebagai kontrol. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan desain post-test only control group. Sampel jaringan diproses menggunakan teknik histologi standar dan dilakukan deparafinisasi menggunakan xylol maupun sabun cuci piring. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 4,5% menghasilkan kualitas preparat terbaik setelah xylol, dengan skor 94,4%, sedangkan konsentrasi 1,5% dan 3% masing-masing memperoleh skor 88,9%. Semakin tinggi konsentrasi sabun cuci piring, semakin baik pula kualitas hasil pewarnaan. Oleh karena itu, sabun cuci piring konsentrasi 4,5% berpotensi sebagai agen deparafinisasi alternatif yang lebih aman dan efektif.
Variasi Konsentrasi Larutan Fiksasi Etanol Terhadap Kualitas Hasil Pewarnaan Hematoksilin Eosin pada Jaringan Histologi Ginjal Mencit Azizah, Muti'ah Nur; Nailufar, Yuyun; Rahmawati, Yeni
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2828

Abstract

Fixation is a crucial step in the preparation of histology slides, working in maintaining the tissue structure in its original condition. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of ethanol fixation solution on the quality of hematoxylin eosin (HE) staining results in mouse (Mus musculus) kidney histology tissue. This laboratory experimental study utilized three variations in ethanol concentrations (60%, 70%, 80%) and 10% Neutral Buffered Formalin (NBF) as a control, with a total of 24 mouse kidney slides. The quality of the preparations was assessed based on the parameters of nuclear color, cytoplasmic color, morphological integrity, color uniformity, and nuclear swelling. The results showed that fixation with 60% ethanol produced a preparation of poor quality, while 70% and 80% ethanol produced good quality, equivalent to the 10% NBE control. The Kruskal-Wallis and Mann-Whitney statistical tests showed a significant difference between the 60% ethanol group and the other groups (p < 0.05), but there was no significant difference between 70%, 80%, and 10% NBF. The conclusion of this study indicates that 70% and 80% ethanol have the potential to be effective and safer alternative fixatives compared to formalin. Keywords: Ethanol, Fixation, Hematoxylin and Eosin, Mouse Kidney
Literature Review: Comparison of the Quality of Papanicolaou, Giemsa, and May-Grunwald Giemsa Staining in Pleural Effusion Specimens Nurhaliza, Winarti; Rahmawati, Yeni; Nailufar, Yuyun
JURNAL KESEHATAN STIKes MUHAMMADIYAH CIAMIS Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan (Oktober 2025)
Publisher : LPPM STIKes Muhammadiyah Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52221/jurkes.v12i2.882

Abstract

Pleural effusion is a pathological condition characterized by fluid accumulation in the pleural cavity, which can occur due to infection, malignancy, or systemic disorders such as congestive heart failure. Cytological examination is an effective diagnostic method for detecting abnormal cells and malignancy in pleural effusion by reviewing the quality of staining results. This study aims to analyze and compare the staining quality of Papanicolaou, Giemsa, and May Grunwald Giemsa in pleural effusion cytology examination. The literature review results included 8 journals that met the inclusion criteria. These journals were obtained from the Google Scholar, PubMed, and Publish or Perish databases using the PICO search method and then selected based on inclusion and exclusion criteria using the PRISMA flow diagram. The results of the literature review showed that the Papanicolaou method provided clearer contrast between the nucleus and cytoplasm with a good background, Giemsa displayed cell morphology but the background was less clean, while May-Grunwald Giemsa showed stable staining results and good cell detail.
Identifikasi Kadar Pengawet Natrium Benzoate pada Saus Tomat yang Beredar di Wilayah Kabupaten Dompu Nurislamiah, Nurislamiah; Martuti, Sri; Nailufar, Yuyun
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i1.8780

Abstract

Tomato sauce is a popular processed food product often added with preservatives to extend shelf life. Sodium benzoate is one of the most commonly used preservatives; however, its use must comply with the maximum limit set by BPOM, which is 1000 mg/kg. Excessive intake may cause health problems such as carcinogenic benzene formation and nervous system disorders. This study aimed to identify the sodium benzoate content in tomato sauces sold in Dompu Regency and evaluate their compliance with food safety standards. A descriptive quantitative method with a cross-sectional approach was applied. Five brands of tomato sauce were randomly selected from markets and minimarkets, then analyzed at the Toxicology Laboratory of Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta using UV-Vis spectrophotometry. The results showed sodium benzoate levels of 69.25 mg/kg in sample A, 1,653 mg/kg in DB, 263.7 mg/kg in DM, 166.5 mg/kg in JT, and 1,028 mg/kg in ML. Two of the five samples (DB and ML) exceeded the maximum permissible limit. These findings indicate that some tomato sauce products in Dompu Regency do not meet food safety standards, highlighting the need for stricter supervision to protect consumers.
Sinergi Kesehatan dan Advokasi: Pengabdian kepada Masyarakat dalam Pelatihan Sosial Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta Nailufar, Yuyun
MALLOMO: Journal of Community Service Vol 6 No 1 (2025): Desember-Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/mallomo.v6i1.2530

Abstract

Kesehatan masyarakat terutama pada kelompok perempuan usia lanjut masih menghadapi tantangan terkait meningkatnya penyakit tidak menular yang sering tidak disadari gejalanya. Pemeriksaan kesehatan berkala menjadi penting untuk mendukung deteksi dini risiko metabolik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan melalui pemeriksaan dasar bagi peserta Pelatihan Advokasi Sosial Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta. Pelaksanaan kegiatan meliputi pendataan peserta, pemeriksaan tekanan darah, gula darah sewaktu, dan asam urat, pencatatan hasil, serta konsultasi kesehatan. Sebanyak 30 peserta perempuan berusia 40 hingga 70 tahun mengikuti kegiatan ini. Hasil menunjukkan sebagian besar peserta memiliki tekanan darah di atas normal, kadar gula darah sewaktu tinggi, dan kadar asam urat melebihi nilai rujukan. Temuan tersebut menggambarkan perlunya pemantauan rutin untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Kegiatan ini berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman peserta mengenai kondisi kesehatannya dan mendorong perubahan perilaku ke arah gaya hidup lebih sehat. Program serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan pemeriksaan yang lebih luas dan materi edukasi yang lebih komprehensif. The rising burden of chronic diseases among older women highlights the importance of regular health screening as an early detection effort to reduce metabolic risks within the community. This community service activity aimed to improve health awareness through basic health assessment among participants of the Social Advocacy Training held by the Central Board of ‘Aisyiyah Yogyakarta. The activity consisted of participant registration, measurement of blood pressure, random blood glucose, and uric acid levels, followed by recording and health consultation. A total of 30 female participants aged 40 to 70 years were involved. The results indicated that most participants had elevated blood pressure, high random blood glucose, and increased uric acid levels. These findings emphasize the need for continuous monitoring to prevent further complications. This program effectively enhanced participants’ understanding of their health conditions and supported behavior changes toward healthier lifestyles. Similar activities are recommended to be continued with broader screening components and more comprehensive educational content.