Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH NON-PERFORMING LOAN, RETURN ON ASSET, LOAN TO DEPOSIT RATIO, DAN BOPO TERHADAP RATING BANK (Studi pada Bank Perkreditan Rakyat di Indonesia Periode Tahun 2012-2013) Lestari, Tri Puji; Indriani, Astiwi
Diponegoro Journal of Management Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Faculty of Economics and Business Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.115 KB)

Abstract

This study aims to analyze the determinants of bank rating in rural banking of Indonesia periods 2012 - 2013. There are four independents variable that used, which are Non-Performing Loan (NPL), Return on Asset (ROA), Loan to Deposit Ratio (LDR) and Operating Expense and Operating Income (BOPO), and the dependent variable is bank rating.             Sampling technique used is purposive sampling, which criteria as rural bank in Indonesia who provide annual reports periods 2012 - 2013, listed on Info Bank rating, and has assets 100 – 500 billion. Samples obtained a number of 85 rural banks. The data was analyzed with regression technique. Before being tested using regression analysis, the data must first pass the test of classic assumption there are normality test, autocorrelation test, multicollinearity test, and heteroscedasticity test.            The result of this study showing that NPL has negative relationship and significant toward bank rating. ROA has positive relationship and significant toward bank rating. LDR has positive relationship and insignificant toward bank rating. The last, BOPO has insignificant positive relationship toward bank rating. This research also obtained that adjusted R2 16,10%. This means that 16.10% variation of bank rating can be explained by the five independent variables.
Pengaruh Variasi Konsentrasi Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) Terhadap Karakteristik Sediaan Salep Dengan Menggunakan Basis PEG 400 Lestari, Tri Puji; Sale, Falenriana Ripo; Hariyani, Hariyani
Journal of Herbal, Clinical and Pharmaceutical Science (HERCLIPS) Vol 2 No 02 (2021): HERCLIPS VOL 02 NO 02
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/herclips.v2i02.2394

Abstract

ABSTRAK Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) memiliki kandungan tanin dan flavonoid. Kandungan Flavonoid dan Tanin yang terdapat dalam belimbing wuluh mampu memberikan efek untuk menyembuhkan kulit yang mengalami kerusakan jaringan sel akibat luka bakar. Ada beberapa cara untuk pemanfaatan Daun Belimbing Wuluh antara lain dengan dibuat dalam sediaan salep. Pada penelitian ini salep dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak daun belimbing wuluh sebesar 10%, 15%, dan 20% mengguankan basis PEG 4000 dan PEG 400. Ekstrak daun belimbing wuluh diperoleh menggunakan metode maserasi dengan menggunakan etanol 70% sebagai pelarutnya. Salep yang sudah dibuat kemudian dilakukan uji karakteristik meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya lekat dan uji daya sebar. Hasil uji organoleptis dan homogenitas di analisa secara deskrisptif kemudian hasil uji daya lekat dan uji daya sebar di analisa dengan menggunakan analisa statistik one-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa salep berbentuk semipadat dengan warna hijau muda sampai hijau kehitaman. Hasil uji homogenitas di dapatkan untuk ketiga formula adalah homogen. Nilai daya sebar pada ketiga formula menunjukan perbedaan yang signifikan, pada hasil uji daya lekat dan pH didapatkan tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap ketiga formulasi. Dengan demikian perbedaan konsentrasi zat aktif yang digunakan berpengaruh terhadap daya sebar sediaan salep ekstrak daun belimbing wuluh. Kata kunci: Averrhoa bilimbi L; Salep; PEG ABSTRACT Carambola leaf Wuluh (Averrhoa bilimbi L) contains tannins and flavonoids. The content of flavonoids and tannins contained in starfruit able to give effect to heal skin damaged cell tissue from burns. There were several ways for utilization of Averrhoa bilimbi L. among others, made some preparations, especially ointment formulation. This study aims to formulate leaf extract ointment preparation starfruit (Averrhoa bilimbi L) with various concentrations of 10%, 15%, and 20% using the PEG 4000 and PEG 400 as a base. Leaf extract obtained from meserasi leaf Averrhoa bilimbi L with 70% ethanol. The ointment that has been made is then subjected to characteristic tests including organoleptic tests, homogeneity, adhesion and spreadability tests. The results of the organoleptic test and homogeneity were analyzed descriptively, then the results of the adhesion test and the spreadability test were analyzed using one-way ANOVA statistical analysis. The results showed that the ointment was semisolid, light green to blackish green. The homogeneity test results obtained for the three formulas are homogeneous. The value of the spreadability of the three formulas showed a significant difference, the results of the adhesion and pH test showed no significant difference between the three formulations. Thus the difference in the concentration of the active substance used affects the spreadability of the starfruit leaf extract ointment. Keywords: Averrhoa bilimbi L; ointment; PEG
Perbedaan Kadar Tanin Total Ekstrak Umbi dan Kulit Bawang Putih (Allium sativum L) secara Spektrofotometri UV-Vis Kurniawati, Evi; Lestari, Tri Puji
Jurnal Dunia Farmasi Vol 8, No 2 (2024): Edisi April
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v8i2.6066

Abstract

Pendahuluan: Bawang putih (Allium sativum L.) dikenal sebagai tanaman yang kaya manfaat, diantaranya sebagai antibakteri, antihipertensi, antiinflamasi dan sebagai penurun kolesterol. Bawang putih juga dikenal dapat menghambat perkembangan sel kanker. Kandungan metabolit sekunder pada bawang putih yaitu saponin, alkaloid, dan tanin. Tanin merupakan senyawa polifenol yang terdiri dari gugus hidroksil dan karboksil. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar tanin total pada ekstrak umbi dan kulit bawang putih. Metode: Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui keberadaan senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin dalam ekstrak. Penentuan senyawa tanin dari ekstrak umbi dan kulit bawang putih menggunakan metode uji skrining dengan pereaksi FeCl3, identifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan penetapan kadar tanin total dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 740 nm. Hasil: Berdasarkan skrining didapatkan hasil terbentuknya warna hijau kehitaman, uji KLT didapatkan nilai Rf baku pembanding asam tanat sebesar 0,90 sedangkan nilai Rf ekstrak umbi bawang putih 0,86 dan ekstrak kulit bawang putih 0,89, sehingga ekstrak umbi dan kulit bawang putih terbukti mengandung senyawa tanin. Pada penetapan kadar tanin total dengan metode spektrofotometri UV-Vis diperoleh persamaan regresi kurva baku y=0,087x+0,086 dengan nilai R=0,9985. Kesimpulan: Hasil dari penentuan konsentrasi senyawa tanin total ekstrak umbi bawang putih didapatkan rata-rata 0,340 % b/b dan tanin total ekstrak kulit bawang putih didapatkan rata-rata 1,103 % b/b.
Uji Potensi Antioksidan Formula Gel Ekstrak Buah Apel Manalagi (Malus sylveltris Mill) menggunakan CMC-Na sebagai Gelling Agent Lestari, Tri Puji; Kurniawati, Evi
Jurnal Dunia Farmasi Vol 8, No 2 (2024): Edisi April
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v8i2.6071

Abstract

Pendahuluan: Tanaman buah apel manalagi (Malus sylvestris Mill) mengandung senyawa flavonoid golongan quercetin yang efektif sebagai penangkal radikal bebas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji karakter fisik dan potensi antioksidan  sediaan gel ekstrak buah apel manalagi. Metode: Ekstrak diperoleh menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak di formulasi menjadi bentuk sediaan gel pada konsentrasi 3,5%, 8,5% dan 10% . Pengujian yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji pH uji daya sebar dan uji daya lekat serta uji aktivitas antioksidan sediaan gel ekstrak buah apel manalagi menggunakan metode DPPH .  Hasil: Hasil uji karakter fisik pada sediaan gel uji organoleptis, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji homogenitas memenuhi syarat, terdapat sediaan yang tidak memenuhi syarat yaitu pada uji pH Formulasi I didapatkan hasil pH 7,92 serta hasil aktivitas antioksidan didapatkan nilai rata-rata IC50±SD secara berturut-turut formulasi I 34,690±0,00 ppm, formulasi II 30,017±5,22 ppm dan formulasi III 30,009±0,02 ppm yang di kategorikan semua formula memiliki daya antioksidan kuat. Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis anova  dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan daya antioksidan pada sediaan gel ekstrak buah apel manalagi dimana ketiga formulasi masuk dalam kategori antioksidan sangat kuat.
Gerakan Opimba (Orang Tua Pintar Minum Obat): Penyuluhan dan Kaderisasi Orang Tua Cerdik dan Cermat dalam Penggunaan Obat Cair Shoviantari, M.Farm., Apt., Fenita; Saputra, Sony Andika; Kurniawati, Evi; Widyaningrum, Esti Ambar; Lestari, Tri Puji; Pertiwi, Krisna Kharisma; Sugiyartono, Sugiyartono; Mawardika, Herlinda
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat yang berbentuk liquida atau obat cair merupakan obat yang banyak digunakan oleh anak – anak dan juga lansia atau pasien yang memiliki kesulitan untuk menelan obat padat. Obat ini dianggap lebih praktis dan tepat dalam dosis penggunaannya karena dilengkapi dengan sendok takar sehingga dosis yang dapat diberikan lebih variatif bergantung pada kondisi pasien. Sebuah survei yang dilakukan terhadap pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu dokter menunjukkan bahwa 73 persen pasien menggunakan sendok makan atau sendok teh untuk mengukur dosis obat cair, bukan menggunakan sendok/mangkuk ukur yang biasanya diberikan bersama obat cair. Pengukuran menggunakan sendok makan atau sendok teh yang sangat tidak akurat dapat menyebabkan masalah, seperti terlalu banyak atau terlalu sedikitnya obat yang dikonsumsi. Untuk itu, penting sekali untuk memberikan edukasi kepada Masyarakat mengenai pentingnya menggunakan sendok atau gelas takar yang disediakan di dalam kemasan obat Ketika menggunakan obat cair. Pengabdian Masyarakat yang bekerja sama dengan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Permata Ummat Trenggalek ini memberikan materi mengenai macam sediaan cair, cara penggunaan obat cair, cara membaca brosur obat cair, dan cara pemusnahan obat cair. Kegiatan pengabdian diawali dengan pre test dan diakhir dengan post test untuk mengukur pengetahuan Masyarakat sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pengmas. Dari hasil evaluasi pre dan post test didapatkan peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan penyuluhan.
Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Penggolongan Obat Dan Beyond Use Date (BUD) Melalui Penyuluhan pada kader siaga Lestari, Tri Puji; Kurniawati, Evi; Widyaningrum, Esti Ambar; Pertiwi, Krisna Kharisma; Basuki, Dewy Resty
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk menjaga mutu dan kualitas obat, maka pengelolaan terhadap obat itu sendiri sangat memberikan peran yang vital. Salah satunya adalah dengan mengetahui batas masa kadaluarsa dan penggolongan obat maka akan memudahkan masyarakat untuk menentukan waktu dan metode penyimpanan . Tanggal kadaluarsa obat yang sudah dibuka dapat berbeda dengan yang tertera pada kemasan yang berlaku untuk sediaan baik sediaan steril maupun non steril dimana ketika melewati batas tanggal tersebut maka sediaan yang dimaksud tidak boleh digunakan dan disimpan. Kegiatan pengabdian Masyarakat dilaksanakan di periode bulan desember 2022 pada kader siaga desa di kecamatan karangan, kabupaten trenggalek, Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini menggunakan metode pre dan post test juga diikuti dengan kegiatan konseling. Instrumen yang digunakan adalah dengan pemberian quesioner baik pada waktu pre test maupun post test , peserta juga diberi leaflet materi tentang penggolongan obat dan beyond use date (BUD). Konseling diberikan dalam waktu 3 hari setelah sosialisasi menggunakan media watshap. Dari kegiatan pengabdian masyarakat ini didapatkan ada kenaikan prosentase pengetahuan yang cukup signifikan. Dimana datap dilihat pada tabel 1 bahwa rata-rata pengetahuan kader ada kenaikan dari 54,9% menjadi 92,5%.
VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR VITAMIN C EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Kurniawati, Evi; Lestari, Tri Puji
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jifi.v7i1.1916

Abstract

Basil leaves (Ocimum sanctum L.) are a type of wild plant that easy to find. Basil is known to be analgesic, antihyperlipid and has antioxidant properties. Besides, basil is also known to treat stomach and liver diseases. Components known to be found in basil plants include flavonoids, alkaloids, saponins, triterpenoids, steroids, tannins, phenols and vitamin C, that is needed by a person to be able to carry out metabolism properly and develop normally. The aim of the research to validate the determination of vitamin C levels from basil leaf extract. The basil leaf filtrate was identified for vitamin C by a color reaction and then the levels were determined by UV-Vis spectrophotometry which was previously validated with the parameters of accuracy, precision, linearity and selectivity. According to the research results, it is known that the accuracy test meets the percent recovery range in the range of 98-102%, the precision test produces an RSD of less than 2%, the linearity test produces a correlation value (r) = 0.9986 and the selectivity test is good. The method for determining vitamin C levels by Uv-Vis spectrophotometry was validated on parameters that met the requirements of 0.0128% w/w.
THE TRANSITIVITY SYSTEM ANALYSIS ON BANGTAN SONYEONDAN’S (BTS) SPEECH TEXT Lestari, Tri Puji; Nugraheni, Yunita; Santosa, Budi Tri
Premise: Journal of English Education and Applied Linguistics Vol 13, No 2 (2024): Premise Journal: e-ISSN 2442-482x, p-ISSN 2089-3345
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/pj.v13i2.8548

Abstract

The Love Myself Campaign, a collaborative project between BTS and UNICEF, is a campaign that voices the importance of loving yourself. As part of the campaign, BTS gave a speech at the 73rd UN General Assembly on September 28, 2018. The researcher used the speech text in this campaign as data in literature research, which was analyzed using a descriptive qualitative method. The study aims to discover how mental health awareness is conveyed through the transitivity system. Systemic Functional Linguistics by M.A.K. Halliday is used as a theory to analyze data, more precisely, the transitivity system in ideological meta functions. This meta function sees language as a symbol of human experience in the real world and the mind. Meanwhile, transitivity is a system that represents human experience as a process. The researcher found three dominators: the mental process (20) showed that the speaker tried to motivate the audience through his or her personal feelings and experiences; the first person "I" (42) showed that the speaker made himself the central subject of the speech. The non-circumstance clause (53) showed that the speech was global. Through these results, it can be concluded that the soft campaign method conveys the concept of mental health awareness in speech.  
FORMULASI DAN STABILITAS MUTU FISIK SEDIAAN GEL EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) DENGAN VARIASI KONSENTRASI CARBOPOL SEBAGAI GELLING AGENT Lestari, Tri Puji
Journal of Herbal, Clinical and Pharmaceutical Science (HERCLIPS) Vol 5 No 02 (2024): HERCLIPS VOL 05 NO 02
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/herclips.v5i02.7373

Abstract

Tanaman daun binahong (Anredera corfolia (Ten.) Steenis) memiliki banyak manfaat dalam bidang kesehatan karena mengandung berbagai macam senyawa metabolit sekunder antara lain alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan antosianin yang terbukti efektif sebagai antiinflamasi, antibakteri, dan antimikroba. Memformulasikan ekstrak daun binahong (Anredera corfolia (Ten.) Steenis) dengan menggunakan gelling agent Carbopol dan di uji kestabilan mutu fisik sediaan adalah merupakan tujuan dari penelitian ini. Uji mutu fisik yang di lakukan antaralain organoleptis, homogenitas, derajat keasaman (pH), daya sebar, daya lekat, viskositas dan stabilitas fisik dengan metode cycling test. Gel diformulasikan menjadi 3 formula dengan variasi gelling agent Carbopol 0,5%, 1,5% dan 2%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Carbopol sebagai gelling agent pada formula 1, 2 dan 3 memberikan hasil uji mutu fisik yang memenuhi syarat untuk parameter pH, daya sebar, daya lekat, viskositas organoleptis dan homogenitas. Pengujian kestabilan fisik sediaan gel pada ketiga formulasi menunjukkan hasil yang stabil dan tidak ada perubahan yang signifikan secara pengamatan kestabilan fisik sebelum dan sesudah perubahan temperatur yang ditunjukkan dari hasil uji statistik P>0.05, Kata kunci Mutu Fisik, Stabilitas , Ekstrak Binahong, Gel
Factors Affecting Potentially Inappropriate Medications (PIMs) Based on STOPP/START Criteria in Geriatric Patients at RSUD Dr. Soedomo Trenggalek: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Potentially Inappropriate Medications (PIMs) Berdasarkan Kriteria STOPP/START pada Pasien Geriatri di RSUD Dr. Soedomo Trenggalek Widyaningrum, Esti Ambar; Fitriani, Marina; Irawati, Reny Nur Satya; Fajriyah, Shofiatul; Kurniawati, Evi; Lestari, Tri Puji
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 10 No. 2 (2024): (October 2024)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24428744.2024.v10.i2.16641

Abstract

Background: Geriatric patients often have multiple comorbidities and decreased physiological function, leading to polypharmacy and potential exposure to inappropriate medications (PIMs). Objectives: This study investigates geriatric inpatients' characteristic profiles, evaluates PIMs using STOPP/START criteria, and explores factors influencing PIM incidence. Method: This study employed a retrospective observational analytical approach. The sampling technique was purposive sampling. The sample involved in this study was 312 patients. Results: The geriatric patients involved in this study had the following characteristics: 62% male and 38% female; 69% youngest-old (65-74 years), 30% middle-old (75-90 years), and 1% oldest-old (>90 years); 87% with BPJS service type and 13% with general service type; main diagnosis groups of the patients were gastrointestinal of 9%, cardiovascular of 31%, respiratory of 3%, neurological of 1%, infection of 11%, endocrine of 13%, genitourinary of 15%, immune an malignant of 1%, blood of 11%, musculoskeletal of 2%, eyes of 2% and skin of 1%; 13% patients had one disease, 43% had two diseases, 25% had three diseases, and 19% had ≥ four diseases;29% had 15 drugs, 50% had 6-10 drugs, 17% had 11-15 drugs, 3% had 20 drugs, and 1% had ≥ 20 drugs. There were 72 PIMs based on STOPP/START criteria. The results of the analysis using the C contingency coefficient test showed the following factors, such as gender (p-value of 0.894), age (p-value of 0.470), type of service (p-value of 0.166), main diagnosis (p-value of 0.042), number of illness (p-value of 0.106), and number of drugs (p-value of 0.182). Conclusion: There is a correlation between the main diagnosis factor and PIMs with a p-value of 0.042 (p-value < 0.05).