Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

SEJARAH ORANG BONE DI KECAMATAN KABAENA BARAT KABUPATEN BOMBANA (1908-2015) Asmara, Asmira; Hadara, Ali; Sulaiman, h. Abd Rauf
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.211 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7358

Abstract

ABSTRAK            Fokus utama penelitian ini mengacu pada empat permasalahan yaitu (1) Bagaimana Sejarah Kedatangan Orang Bone di Kabaena Barat Tahun 1908-2016? (2) Apa sebab umum dan sebab khusus kedatangan orang bone di Kecamatan Kabaena Barat tahun 1908-2016?, (3) Bagaimana interaksi sosial orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat? (4) Bagaimana keadaan social ekonomi orang Bone di kecamatan Kabaena Barat tahun 1908-2016).Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yaitu: (a) Pengumpulan data melalui kepustakaan dan penelitian lapangan. (b) Kritik data yang dilakukan melalui kritik ekstern dan entern guna mendapatkan data yang akurat. (c) Historiografi yakni hasil penafsiran (interpretasi) dituangkan dalam bentuk tulisan secara sistematis dan kronologis.Temuan penelitian menunjukkan bahwa : (1) Proses kedatangan Orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat Kabupaten Bombana dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama dilakukan oleh Andi Mallorongeng beserta pengikutnya yang bertujuan untuk mencari tempat persembunyian dari pemerintah Belanda. Tahap kedua keluarga orang Bone yang sudah menetap dan memanggil keluarganya yang ada di Bone (2) Kedatangan orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat, terdiri atas dua sebab pendorong dan sebab penarik: (a) sebab pendorong terdiri dari faktor ekonomi, faktor mata pencaharian dan faktor sosial. (b) sebab penarik terdiri dari faktor geografis dan faktor potensi alam di Kecamatan Kabaena Barat. (c) faktor Petualang (3) Interaksi Sosial Orang Bone Dengan Penduduk Setempat di Kecamatan Kabaena Barat dapat dilihat pada hubungan kemasyarakatan mereka baik sesama orang Bone maupun terhadap penduduk asli dalam hal ini Suku Moronene. Salah satu hubungan sosial antara orang Bone dengan penduduk setempat dikenal dengan istilah “Mappasisele” yakni hasil melaut sperti ikan biasanya ditukarkan dengan hasil bertani seperti umbi-umbian. (4) Keadaan Sosial Ekonomi Orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat jauh lebih baik dibandingkan berada di daerah asalnya. Hal ini dikarenakan banyaknya potensi alam yang di Kecamatan Kabaena Barat. Kata Kunci: Sejarah, Orang Bone, dan Sosial Ekonomi
PERUBAHAN POLA ASUH ANAK PADA KELUARGA PETANI TAMBAK DI DESA TEPPOE KECAMATAN POLEANG TIMUR KABUPATEN BOMBANA SEBELUM DAN SESUDAH REFORMASI TAHUN 1998 Ramayanti, Aulia; Hadara, Ali; Haq, Pendais
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.839 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7359

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan dengan mengambil tema “Perubahan Pola Asuh Anak pada Keluarga Petani Tambak di Desa Teppoe Kecamatan Poleang Timur Kabupaten Bombana Sebelum dan Sesudah Reformasi Tahun 1998”. Dengan permasalahan utama adalah untuk melihat perbedaan pola asuh anak khususnya pada keluarga petani tambak antara sebelum dan setelah reformasi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Teppoe Kecamatan Poleang Timur Kabupaten Bombana. Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperti yang ditulis oleh Helius Sjamsudin (2007: 85), bahwa tata kerja penelitian sejarah terdiri dari tiga tahapan, yaitu: 1) Heuristik (Pengumpulan sumber), 2) Kritik Sumber, dan 3) Historiografi.Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa: (1) Pola asuh anak yang diterapkan pada keluarga petani tambak di Desa Teppoe Kecamatan Poleang Timur Kabupaten Bombana sebelum reformasi tahun 1998 ialah pola asuh yang bersifat otoriter (otoritative) dan pemanjaan (permisif). Dimana orang tua cenderung memaksakan kepada anak untuk disiplin, cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak, dan mengharuskan anak untuk mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang tua. Ini merupakan ciri dari pola asuh yang otoriter. Selain itu sebagian orang tua juga cenderung memanjakan anak dan memberikan semua yang diinginkan oleh anaknya (pola asuh permisif). (2) Pola asuh yang diterapkan pada keluarga petani tambak di Desa Teppoe Kecamatan Poleang Timur Kabupaten Bombana sesudah reformasi tahun 1998 ialah pola asuh yang bersifat demokratis (authoritative). Dimana orang tua di sini memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, ada komunikasi yang baik antara orang tua dan  anak, memberi perintah dan larangan kepada anak disertai alasan di balik larangan tersebut, serta tidak mengekang keinginan anak. (3) Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan pola asuh anak terdiri atas dua, yaitu (a) faktor intern, antara lain usia anak, jenis kelamin anak, kepribadian orang tua dan kepribadian anak. (b) faktor ekstern, antara lain budaya, pengetahuan orang tua, adanya UU Perlindungan Anak, latar pengasuh, lingkungan, dan perkembangan teknologi. Kata Kunci: Pola Asuh Anak, Sebelum dan setelah Reformasi, dan Petani Tambak
SEJARAH MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA ISLAM DI PULAU RUNDUMA KECAMATAN TOMIA KABUPATEN WAKATOBI TAHUN 11900-1980 Ardianti, Wd. Nur; Hadara, Ali; Sulaiman, h. Abd Rauf
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.052 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7364

Abstract

ABSTRAKMengawali penelitian ini dengan merumuskan permasalahan 1) Bagaimana proses masuknya agama Islam di Pulau Runduma? 2) Bagaimana metode penyiaran agama Islam di Pulau Runduma? 3) Bagaimana akibat masuknya agama Islam di Pulau Runduma? (4) Bagaimana perkembangan Agama Islam di Pulau Runduma? Penelitian ini mengunakan metode sejarah yaitu: (1) Heuristik, yaitu kegiatan  pengumpulan sumber data penelitian, (2) Verifikasi yaitu kritik sumber yang terdiri atas dua tahap yaitu kritik ekstern dan kritik intern, (3) Historiografi terdiri atas penafsiran (interpretasi), penjelasan (eksplanasi), dan penyajian (ekspose).Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Awal masuknya agama Islam di Pulau Runduma dibawa oleh La Punggui dari Pulau Buton. Sebelum ke Pulau Runduma beliau terlebih dahulu singgah di Pulau Tomia. Kemudian La Punggui berangkat dengan menggunakan perahu jarangka berlayar menuju Pulau Runduma. Saat itu La Punggui mendarat disalah satu pantai kemudian merapatkan perahunya dan berjalan memeriksa Kampung Runduma pada tahun 1900. Setelah La Punggui memeriksa kampung Runduma, beliau melihat manusia primitif tanpa sehelai kain di badannya sedang berdiri dan bersandar di batu La Runduma menghadap kebarat pada saat matahari tenggelam kearah daratan besar Pulau Tomia. La Punggui  meninggal dunia pada tahun 1915  dan dikebumikan di  Kampung pertama. Setelah Runduma di perkirakan aman oleh La Penanda maka menyusul sepasang suami istri dari Desa Kulati membuka kebun  di pohon asam besar bernama La Ujo atas panggilan La Penanda. Saat itu penghuni satu-satunya di Kampung lama adalah La Ujo bersama Istri. Setelah itu berdatangan dari Tomia, Kaledupa, Wangi-Wangi, dan Binongko untuk bermigrasi atau menetap di Pulau Runduma. Kemudian La Penanda bersama masyarakat setempat mendirikan Mesjid pertama untuk dijadikan sebagai pusat ibadah, pengkaderan dan penyebaran agama Islam di Pulau Runduma. 2) Metode penyiaran agama Islam di Pulau Runduma di lakukan melalui metode tasawuf, pendidikan dalam hal ini melakukan dakwah dari kampung ke kampung selanjutnya melalui seni dan melalui jaringan politik. 3) Akibat masuknya agama Islam dapat memperbaiki kepercayaan animisme dan dinamisme yang sebelumnya banyak dilakukan masyarakat dan menambah ghairah keagamaan khususnya Islam. 4) Perkembangan Agama Islam di Pulau Runduma mulai pada tahun 1977-1980.  Para Ulama dalam menyebarkan Ajaran Agaman Islam di Pulau Runduma dengan cara diskusi, pengajian dll. Kata kunci: Sejarah, Perkembangan, dan  Agama Islam
SUMBER DAYA MANUSIA KANTOR DESA LANDIWO KECAMATAN LANDAWE KABUPATEN KONAWE UTARA Saputri, Nining; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i1.14091

Abstract

ABSTRACT: The research objective is to describe the Human Resources of the Landiwo Village Office, Landawe District, North Konawe Regency. The approach used in this research is a qualitative approach. Retrieval of data in research using literature studies, field studies, interviews and documentation. The results showed that (1) the ineffectiveness of the implementation of the village apparatus' duties could be identified through ineffective archiving or document storage activities, and even tended to fail to be implemented properly. The point is that the correspondence files that should be compiled and stored in the office but it is not done. However, the documents / archives of the Letters are not kept neat (scattered), so it is very difficult to find them again if needed. In addition, from the observations of researchers during the study, it was seen that village officials or officials were less effective in carrying out daily tasks, and even tended to be ineffective in terms of time discipline. This can be seen from the very limited presence of the apparatus on every working day, in fact it often happens that an officer does not come to the office for one week. In fact, sometimes on certain days the office was not open because no apparatus was present. As a result, services to the community are often carried out at the official's house, especially at the house of the Village Head or Village Secretary. This situation, makes it even clearer, that the implementation of village apparatus duties in village government administrative affairs is still ineffective. (2) Development of village apparatus resources is the preparation of individual village officials to take on different or higher responsibilities within the organization. The development referred to is related to the improvement of the intellectual or emotional abilities needed by village officials to do their jobs better and focus more on the long-term general needs of the organization. Human resource development for the Landiwo Village Office, Landawe District, Konawe Utara Regency, starts from the organization's HR plans because this plan analyzes, predicts, and mentions current and future organizational needs for human resources. In addition, HR planning anticipates the movement of people in the organization caused by retirement, promotions, and displacement. In addition, HR planning helps define the capabilities the organization will need in the future and the developments needed so that people can be available to meet the needs of the organization.
TRADISI POKEMBA PADA MASYARAKAT KELURAHAN KALIALIA KECAMATAN LEA-LEA KOTA BAUBAU (2001-2018) Lisna, Lisna; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.11244

Abstract

ABSTRAKPermasalahan pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Apa latar belakang munculnya tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau? (2) Bagaimana pelaksanaan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau? (3) Bagaimana Perubahan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau? Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk menguraikan latar belakang munculnya tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-lea, Kota Baubau. (2) Untuk menguraikan pelaksanaan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan  Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau. (3) Untuk menguraikan perubahan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1)  Heuristik (Pengumpulan Sumber), 2) Verifikasi (Kritik Sumber), dan 3) Historiografi (Penulisan Sejarah). Tinjauan pustaka dalam penelitian ini yakni menggunakan kerangka konsep dan kerangka teori. Kerangka konsep terbagi atas kerangka konsep yaitu: (1) Konsep Perubahan (2) Konsep Pokemba (3) Konsep Masyarakat  dan (4) Konsep Tradisi sedangkan kerangka teori terbagi atas: (1) Teori Perubahan Waktu, dan (2) Teori Perubahan Kebudayaan.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang munculnya tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau bermula karena belum adanya undangan tertulis, sehingga masyarakat menggunakan undangan lisan untuk mengumpulkan masyarakat pada acara-acara tertentu dan membutuhkan tenaga masyarakat. (2) Pelaksanaan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau mempunyai beberapa tahap yaitu: (a) Penentuan hari pelaksanaan tradisi pokemba (b) Pemilihan orang tua yang Akan Melaksanakan tradisi Pokemba dan, (c) hari pelaksanaan Pokemba. (3) Perubahan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau yaitu persoalan imbalan. Dahulu pelaku dari tradisi Pokemba ini diberi imbalan berupa uang atau makanan. Sekarang pelaku dari tradisi Pokemba ini biasanya tidak diberi imbalan berupa uang tetapi makanan tetap diberikan, bila pelaku tradisi Pokemba adalah sanak saudara dari pemilik hajat maka pelaku tradisi Pokemba tidak diberi imbalan. Kata Kunci: Tradisi, Pokemba, Masyarakat, Perubahan.
TRADISI HEKOMBIA PADA MASYARAKAT DESA SOMBANO (1997-2019) taslim, taslim UHO; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19067

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui muncul, jenis, tujuan, prosesi pelaksanaan dan struktur pelaksanaan serta alat dan bahan yang digunakan dalam tradisi hekombia pada masyarakat Desa Sombano Kecamatan Kaledupa. Penelitian merupakan penelitian sejarah dengan metode pengumpulan data yang  atas 3 tahap yaitu, heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Latar belakang tradisi hekombia yaitu kebiasan masyarakat Desa Sombano yang ingin berobat untuk menyembuhkan penyakit dengan cara berdoa dibatu. Batu tersebut merupakan tempat dimana seseorang yang penuh dengan penyakit pernah tinggal dan masyarakat sombano meyakini bahwa penyakit yang ada berasal dari tempat itu. (2) Jenis dan tujuan pelaksanaan tradisi hekombia yaitu yang pertama berobat meminta untuk menyembuhkan penyakit yang sedang dialami tujuan selanjutnya cocok dengan tempatnya, akan tetapi masih dengan tujuan yang sama yakni berobat, dan terakhir yaitu salah bicara atau berjanji apabila sudah berjanji akan ketempat hekombia tetapi tidak dilaksanakan maka orang tersebut akan terkena musibah. (3) Proses pelaksanaan dalam tradisi hekombia membutuhkan waktu dua hari sebelum pelaksanaan untuk menyiapkan bahan-bahan serta alat-alat yang akan digunakan, untuk ketempat berobat membutuhkan waktu 30 menit setelah menyiapkan bahan-bahan maka dilaksanakanlah trdisi hekombia. (4) Sturuktur pelaksanaan tradisi Hekombia terdiri dari 7 struktur, yaitu: Menyembelih ayam yang dibawah dan memisahkan kakinya, ujung sayap, serta ususnya, memasang daun kelapa muda pada rumah-rumah kecil tempat Hekombia, meletakan bahan-bahan yang sudah disiapkan ketempat sesajen (harua), menyiapkan bahan-bahan yang akan dibawah ketempat Hekombia, tade sangka, hekombi (berobat), joa bala (doa Makan bersama dan membersihkan). (5) Bahan, alat, dan fungsinya dalam tradisi hekombia yaitu: satu ekor ayam, kue kalo-kalo, dua piring nasi, telur, pisang goreng, kue cucur, kue waji, daun kelapa muda, ketupat, ikan usu-usu, peralatan dupa, daun siri, dua batang rokok, daun pisang, bara api, dan pisau.Kata Kunci: Jenis, Tujuan, Prosesi, Struktur, Hekombia
DESA TANGKENO SEBAGAI DESA WISATA DI KECAMATAN KABAENA TENGAH KABUPATEN BOMBANA (1997-2018) Safitri, indah; Hadara, Ali; Hayari, Hayari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i4.15681

Abstract

ABSTRAK: Tujuan dalam penelitian ini adalah : (1) Untuk mendeskripsikan  Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata di Kecamatan Kabaena Tengah (2) Untuk mendeskripsikan latar belakang terbentuknya Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata di Kecamatan Kabaena Tengah (3) Untuk menjelaskan  tingkat kunjungan wisata ke Desa Tangkeno Kecamatan Kabaena Tengah (4) Untuk menjelaskan prospek pengembangan Desa Tangkeno menjadi Desa Wisata di Kecamatan Kabaena Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang dikemukakan oleh Helius Syamsudin yang terdiri atas 3 tahap yaitu: (1) Heuristik yakni mencari sumber melalui wawancara,studi kepustakaan, dan penelitian lapangan, (2) Kritik sumber terdiri atas kritik eksternal dan kritik internal guna mendapat data yang akurat, (3) Historiografi yang di maksudkan dalam bentuk tulisan secara sisitematis dan kronologis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Desa wisata Tangkeno adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana, terletak disebelah utara Gunung Sabampolulu. Dinobatkan sebagai desa wisata menjadikan Tangkeno sebagai ikon pariwisata Kabupaten Bombana. Kekayaan pesona alam, keunikan adat dan budaya, keunikan adat dan budaya diyakini mampu menarik dan memanjakan mata wisatawan yang berkunjung ke Desa yang juga dikenal dengan sebutan Negeri di Awan ini. (2) Latar belakang terbentuknya Desa Tangkeno adalah pada mulanya Desa Tangkeno masih bergabung dengan beberapa desa lainnya yaitu Enano, Lengora, dan Tangkeno yang dinamai dengan kepala desa gabungan. Pada saat perubahan sistem pemerintahan dari kepala gabungan menjadi desa maka Desa Tangkeno akhirnya dimekarkan di bawah pemerintahan Kabupaten Buton. (3) Tingkat kunjungan wisata ke Desa Tangkeno dapat dilihat sejak dari diresmikannya menjadi Desa Wisata, Tangkeno cukup banyak menarik para wisatawan untuk berkunjung baik wisatawan lokal, maupun wisatawan asing hal ini dapat dilihat dari meningkatnya tingkat kunjungan para wisatawan. (4) Prospek pengembangan Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata membutuhkan strategi pengembangan yang kuat dan ditinjau dari aspek kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan. Kata Kunci: Perkembangan, Desa Wisata Tangkeno ABSTRACT: The objectives of this study are: (1) To describe Tangkeno Village as a Tourism Village in Kabaena Tengah District (2) To describe the background of the formation of Tangkeno Village as a Tourism Village in Kabaena Tengah District (3) To explain the level of tourist visits to Tangkeno Village Kabaena Tengah District (4) To explain the prospect of developing Tangkeno Village into a Tourism Village in Kabaena Tengah District. The method used in this research is the historical method proposed by Helius Syamsudin which consists of 3 stages, namely: (1) Heuristics, namely finding sources through interviews, literature study and field research, (2) Source criticism consists of external criticism and internal criticism. in order to obtain accurate data, (3) Historiography which is meant in writing systematically and chronologically. The results of this study indicate that: (1) Tangkeno tourism village is one of the villages located in Kabaena Tengah Subdistrict, Bombana Regency, located north of Mount Sabamp Honolulu. Having been named a tourist village, Tangkeno is a tourism icon for Bombana Regency. The wealth of natural charm, uniqueness of customs and culture, uniqueness of customs and culture is believed to be able to attract and spoil the eyes of tourists visiting this village which is also known as the Land of the Clouds. (2) The background for the formation of Tangkeno Village was that at first Tangkeno Village was still joined by several other villages, namely Enano, Lengora, and Tangkeno which were named after the joint village head. When the government system changed from a joint head to a village, Tangkeno Village was finally expanded under the Buton Regency administration. (3) The level of tourist visits to Tangkeno Village can be seen since the inauguration of a Tourism Village, Tangkeno has attracted quite a lot of tourists to visit both local and foreign tourists, this can be seen from the increasing level of tourist visits. (4) Development prospects Tangkeno Village as a Tourism Village requires a strong development strategy in terms of strengths, weaknesses, opportunities and challenges.  Keywords: Development, Tangkeno Tourism Village
SEJARAH KECAMATAN MAWASANGKA TENGAH KABUPATEN BUTON TENGAH (2005-2017) Nuhayani, Nurhayarni; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v3i1.13171

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan dalam penelitian mengkajian bagaimana kronologi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan mawasangka Tengah dan bagaimana perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah (2005-2017). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1). Heuristik (Pengumpulan Sumber), 2). Verifikasi (Kritik Sumber), 3). Histiografi (Penulisan Sejarah). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Kronologi pembentukan Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Awal mula rencana pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah, yang ditandai dengan upaya masyarakat setempat untuk bersama-sama berjuang untuk pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah sejak tahun 2000. (b) terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, yang resmi terbentuk pada tanggal 27 Agustus 2005, setelah melalui konsolidasi dan koordinasi seluruh elemen masyarakat. 2). Faktorfaktor yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Faktor geografis/wilayah yang menekankan kepada kondisi wilayah yang luas, jumlah penduduk yang cukup memungkinkan untuk mekar, (b) Faktor demografi/kependudukan dimana jumlah penduduk yang sudah memenuhi syarat untuk dimekarkan menjadi daerah baru, (c) Faktor lingkungan lebih kepada pembelajaran kepada daerah lain yang telah mekar sehingga dijadikan contoh, (d) Faktor dukungan masyarakat yang membuat semua elemen masysrakat semangat untuk bahu membahu memperjuangkan pemekaran, dan (e) Faktor pembangunan yakni karena pembangunan di segala aspek yang sudah memadai. 3) Perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah 2005-2017 sudah cukup baik dapat dilihat dari (a) Bidang administrasi yakni dengan terbentuknya 2 desa baru serta dinaikkannya status Desa Lakorua menjadi Kelurahan Lakorua sebagai ibu kota kecamatan, sehingga keseluruhan berjumlah 9 desa dan 1 kelurahan, (b) Bidang sosial mencakup pendidikan dan kesehatan. Terdapat 9 gedung SD, 3 gedung SMP dan 3 gedung SMA. Sedangkan dari aspekkesehatan terdapat 1 gedung puskesmas dan 1 klinik kesehatan, (c) Bidang infrastruktur yang sangat berbeda dibandingkan sebelum pemekaran yakni terdapat Kantor Camat dan Kantor Polsek, (d) Bidang ekonomi, yang sebagian besar masyarakatnya lebih mengandalkan sector pertanian/perkebunan dan perdagangan.Kata Kunci: Krimonologi, faktor, perkembangan ABSTRACT: The problem in research studies how the chronology of the formation of Central Mawasangka District, what factors influence the formation of Central Mawasangka District and how the development of Central Mawasangka District (2005-2017). The method used in this study is the historical method according to Helius Sjamsuddin with the following stages: 1). Heuristics (Collection of Sources), 2). Verification (Source Criticism), 3). Histiography (Writing History). The results of this study indicate that: 1) Chronology of the formation of Central Mawasangka District includes: (a) The origin of the planned expansion of Central Mawasangka District, which was marked by the efforts of the local community to jointly fight for the expansion of Central Mawasangka District since 2000. (b) Central Mawasangka District, which was officially formed onAugust 27, 2005, after going through consolidation and coordination of all elements of society. 2). Factors influencing the formation of Central Mawasangka Subdistrict include: (a) Geographical / regional factors that emphasize the condition of a wide area, sufficient population size that is possible to bloom, (b) Demographic / population factors where the number of residents who have fulfilled the requirements for expansion become a new area, (c) Environmental factors are moretowards learning to other regions that have bloomed so that they are used as an example, (d) Community support factors that make all elements of the community enthusiastic to work together to fight for pemekaran, and (e) Development factors which are due to development in all aspects are sufficient. 3) The development of Central Mawasangka Subdistrict 2005-2017 is good enough, it can be seen from (a) Administration sector, namely the formation of 2 new villages and the improvement of the status of Lakorua Village to become Lakorua Village as the capital of the subdistrict, so that in total there are 9 villages and 1 kelurahan, (b ) The social sector includes education and health. There are 9 elementary buildings, 3 junior high buildings and 3 high school buildings. Whereas from the health aspect there are 1 puskesmas building and 1 health clinic, (c)Infrastructure sector which is very different compared to before the division namely there is the Camat Office and Polsek Office, (d) The economic sector, most of the people rely more on the agriculture / plantation and trade sectors .Keywords: Crimonology, factors, development
FUNGSI KALOSARA PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA LALONGGASU KECAMATAN TINANGGEA KABUPATEN KONAWE SELATAN Dimanto, Dimanto; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i2.15456

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan (a) Untuk mendeskripsikan fungsi Kalosara dalam adat perkawinan dikalagan masyarakat Tolaki, (b) Untuk menganalisis fungsi Kalosara dalam menyelesaikan konflik sosial pada masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan, (c) Untuk mendeskripsikan fungsi Kalosara dalam menyelesaikan sengketa lahan pada masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Metode yang digunakan adalah metode kebudayaan yang bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan etografi yang meliputi: (a) pengumpulan data di lapagan berupa wawancara dan penelitian kepustakaan degan mengkaji literatur yang sudah ada, (b) Sumber data melalui data primer dan data sekunder, (c) Teknik analisis data, data dianalisis secara kualitatif Setelah itu dilanjutkan degan penyajian data secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (a) Fungsi Kalosara dalam adat perkawinan di kalagan masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Kalosara merupakan media pemersatu bagi masyarakat Tolaki dalam hal upcara adat. Kalosara merupakan alat legitimasi atau alat pengesah dalam sebuah perkawianan. Dalam sebuah upacara perkawinan adat Tolaki tanpa dihadirkannya adat Kalosara maka perkawinan tersebut tidak dapat dilanjutkan dan dianggap tidak sah. (b) Fungsi Kalosara dalam menyelesaikan konflik sosial pada masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Kehadiran Kalosara merupakan landasan pertama dalam penyelesaian konflik. Oleh karena itu Kalosara difungsikan sebagai media komunikasi yang bersifat saling keterbukaan. Kalosara degan berbagai nilai-nilai dan kearifan lokalnya juga meruapakan alat dalam pemberian pemahaman, nasehat-nasehat, pembekalan bagi kedua bela pihak yang telah bertikai agar tetep tunduk dan taat terhadap keputusan yang akan diambil menggunakan benda adat Kalosara. (c) Fungsi Kalosara Dalam Penyelesaian Sengketa Lahan di Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Kalosara merupakan simbol yang mengandung makna interaksi dan komunikasi dalam penyelesaian sengketa lahan degan melalui proses musyawarah dan pengambilan keputusan oleh tokoh adat melalui benda adat Kalosara yang tidak memberat sebelahkan salah satu pihak, serta disaksikan oleh pemerintah setempat, tokoh masyarakat yang hadir pada saat musyawarah. Dalam hal ini Kalosara berfungsi sebagai juru damai serta media pemersatu dalam peneyelesaian sengketa lahan pada masyarakat. Kata Kunci: Fungsi, Kalosara, Desa Lalonggasu
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TARI LARIANGI DI DESA TAMPARA KECAMATAN KALEDUPA SELATAN KABUPATEN WAKATOBI Agreni, Agreni; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i3.15671

Abstract

ABSTRAK: Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah: (I) Untuk menjelaskan tahap dan proses pelaksanaa Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi. (2) Untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi. Penelitian termasuk penelitian kualitatif jenis deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, kemudian data yang terkumpul berupa kata-kata yang di analisi dengan tekhnik analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelian menunjukan bahwa: (1) Dalam pelaksanaan Tari Lariangi ada tujuh tahap serta nilai terkandung di setiap tahapnya. Adapun tahap tersebut awali dengan, a). Hebindu (ukiran rambut) yang bermakna Fatimah anak nabi muhammad SAW, b). Tata rias wajah, c). Hepupu (gulungan rambut) bermakna bukit keraton, dan Kamba bermakna benteng Keraton Bau-bau. d) sarung Laka bermakna Ratu Wa kaaka, Lapi dan sarung Boloki bermakna baju kebesaran permaisuri raja Kaledupa. e). Baju Lariangi bermakna baju kebesaran permaisuri raja Kaledupa f). Panto bermakna payung raja Kaledupa dan Toboi bermakna meriam di Keraton. g). Gelang Sokori melambangkan derajat bangsawan. (2) Proses pelaksanaan Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi, dimulai dengan masuknya dua belas gadis remaja secara bersamaan yang berbentuk dua baris ke belakang sambil di iringi musik dan di awali dengan Sombaa’ dan kemudian mulai mengambil kedua atribut yakni Kambero kipas dan Tia-Tia (Lenso) sambil mulai bersenandung bersahut-sahutan dan memeragakan tari yang tampak seolah-olah hendak mempertahankan diri dengan kipas sebagai “tameng”nya. Kata Kunci: Tari Lariangi, Proses dan Tahap ABSTRACT: The research objectives in this study are: (I) To explain the Stage and Process of Lariangi Dance Implementation in Tampara Village, South Kaledupa District, Wakatobi Regency. (2) To Explain the Values contained in the Lariangi Dance in Tampara Village, South Kaledupa District, Wakatobi Regency. The research is descriptive qualitative research, data collection is done by using the method of observation, interviews, documentation, then the data collected in the form of words analyzed with qualitative descriptive analysis techniques. The results of the study show that: (1) In the Lariangi Dance there are seven stages and values contained in each stage. The stage begins with, a). Hebindu (hair carving) which means Fatimah, the son of Prophet Muhammad SAW, b). Facial makeup, c). Hepupu (roll of hair) means the hill of the palace, and Kamba means the fort of the Keraton Bau-bau. d) Laka sarong means Ratu Wa kaaka, Lapi and Boloki sarong mean the great empress of the king of Kaledupa. e). Baju Lariangi means the great dress of the empress of the king of Kaledupa f). Panto means umbrella of the Kaledupa king and Toboi means cannon in the palace. g). The Sokori bracelet symbolizes nobility. (2) The process of implementing Lariangi Dance in Tampara Village, South Kaledupa Subdistrict, Wakatobi Regency, begins with the entry of twelve teenage girls simultaneously in the form of two rows backwards accompanied by music and starting with Sombaa 'and then starting to take on the two attributes namely Kambero fan and Tia-Tia (Lenso) while starting to hum and shout and demonstrate a dance that looks as if it wants to defend itself with the fan as its "shield". Keywords: Lariangi Dance, Process and Stage