Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Potensi Antibakteri Andrographis paniculata Dan Jatropa multifida Terhadap Escherichia coli Dan Staphylococcus auerus Putri, Syifa; Faridatus Solehah, Meilita; Nur Hakiki, Zulfa; Nur Rikhma Sari, Dwi
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol. 3 No. 2 (2024): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v3i2.2036

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak Andrographis paniculata dan Jatropha multifida terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak diperoleh dengan metode perkolasi menggunakan pelarut etanol. Aktivitas antibakteri diuji dengan menyebarkan ekstrak pada media agar yang terinfeksi dengan bakteri uji. Diameter zona hambat diukur setelah inkubasi. Hasil menunjukkan bahwa kedua ekstrak memiliki efek antibakteri yang signifikan terhadap kedua bakteri. Andrographis paniculata menunjukkan diameter zona hambat rata-rata yang lebih besar dibandingkan Jatropha multifida, dengan nilai p < 0,05 yang menunjukkan perbedaan signifikan. Selain itu, analisis fitokimia mengidentifikasi senyawa bioaktif, seperti andrographolide dalam A. paniculata dan flavonoid dalam J. multifida, yang diduga berkontribusi terhadap aktivitas antibakteri. Temuan ini menunjukkan bahwa Andrographis paniculata lebih efektif sebagai agen antibakteri dibandingkan Jatropha multifida, sehingga berpotensi digunakan dalam pengembangan alternatif pengobatan infeksi bakteri.
Diversity of Indigenous Fungi on the Roots of Eucalyptus deglupta in the Pelangi Forest at Ijen Geopark, Bondowoso Hanizar, Evi; Imamah, Annisa Nur; Sari, Dwi Nur Rikhma
Biota Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Biota 2026
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/biota.v12i1.27542

Abstract

Eucalyptus deglupta, a native tree species known for its ecological and economic value, forms unique associations with root fungi that play essential roles in nutrient cycling and plant health. Therefore, this study aims to explore the diversity of indigenous fungi associated with the roots of Eucalyptus deglupta in the Pelangi Forest, located within the Ijen Geopark area, Bondowoso Regency. The methods employed included the isolation of fungal cultures and subsequent identification through macroscopic and microscopic examination of morphological characteristics.  The isolation process yielded eight fungal isolates representing seven species: Microsporum gypseum, Aspergillus flavus, Mucor sp., Trichoderma sp., Geotrichum sp., Saccharomyces cerevisiae, and Cladophialophora sp. The results indicated a considerable diversity among the isolated fungal species, with several taxa being reported for the first time in the study areaThese findings provide a valuable baseline for future ecological, biotechnological, and conservation studies, particularly in exploring the potential roles of these indigenous fungi in forest health, ecosystem resilience, and sustainable land management practices.
Perbandingan Media Bonggol Jagung dan Jagung Pecah Tiga terhadap Pertumbuhan Jamur Metarhizium anisopliae Nur Hakiki, zulfa; Tri Pramesti, Yetti; Nur Rikhma Sari, Dwi
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol 5 No 1 (2026): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v5i1.3022

Abstract

Potensi Pleurotus ostreatus Varietas Grey Oyster dalam Menghambat Pertumbuhan Fungi Patogen pada Bulir Padi Sari, Dwi Nur Rikhma; Maesaroh, Siti; Primayanti, Tiara
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol 4 No 2 (2025): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v4i2.2622

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi Pleurotus ostreatus varietas Grey oyster sebagai agen biokontrol terhadap fungi patogen pada bulir padi. Metode yang digunakan adalah kultur ganda secara in vitro dengan desain true experimental. Identifikasi fungi patogen menunjukkan karakteristik morfologi yang sesuai dengan genus Rhizoctonia. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Pleurotus ostreatus mampu bertahan hidup dalam interaksi kompetitif, namun tidak menunjukkan zona bening sebagai indikator antibiosis. Rata-rata diameter pertumbuhan fungi patogen mencapai 5,1 mm pada hari ke-7, sedangkan Pleurotus ostreatus hanya 2,6 mm. Persentase hambatan menunjukkan nilai negatif hingga -111,95%, menandakan dominasi patogen dalam kompetisi ruang dan nutrisi. Meskipun daya antagonis tergolong rendah, Pleurotus ostreatus tetap memiliki potensi sebagai agen biokontrol yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui optimasi kondisi lingkungan.
Efektivitas Pestisida Serai Wangi Dan Bawang Putih Terhadap Serangan Hama Plutella xylostella Pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Enggar, Nawang; Aswan, Mohammad Syaifudin; Sari, Dwi Nur Rikhma
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol 4 No 2 (2025): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v4i2.2807

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pestisida nabati berbahan dasar ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus) dan bawang putih (Allium sativum) dalam upaya pengendalian hama Plutella xylostella pada tanaman sawi (Brassica juncea). Penelitian dirancang menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, yaitu kontrol (P0), pestisida kimia (P1), ekstrak bawang putih (BP), ekstrak serai wangi (SW), dan kombinasi ekstrak bawang putih dan serai wangi (BPSW), masing-masing dengan enam kali ulangan, Dilakukan analisi data menggunakan uji ANOVA kemudian dilanjut dengan uji DMRT untuk mengidentifikasi kelompok perlakuan yang berbeda nyata. Perlakuan dilakukan melalui penyemprotan larutan pada daun sawi, yang kemudian diberikan kepada larva instar 3. Observasi dilakukan setiap 24 jam selama tujuh hari untuk memantau tingkat mortalitas larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan BPSW dan BP menghasilkan mortalitas tertinggi, masing-masing mencapai 100%, dan memberikan efek lebih cepat dibandingkan perlakuan SW maupun kontrol. Efektivitas ini diduga disebabkan oleh kandungan senyawa bioaktif seperti allicin, sulfur, sitronelal, dan geraniol. Temuan ini mengindikasikan bahwa pestisida nabati berpotensi sebagai alternatif yang efektif dan ramah lingkungan dalam mengurangi penggunaan pestisida sintetis dalam praktik budidaya tanaman..