Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

K.H. Tubagus Ahmad Bakri Sempur’s Theological Thinking and Its Implications in Mashlahah Al-Islamiyyah Fi Ihkami Al-Tawhidiyyah Kosasih, Ade; Mahdi, Sutiono; Fahrullah, Tb. Ace
Interdisciplinary Social Studies Vol. 1 No. 10 (2022): Special Issue
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/iss.v1i10.242

Abstract

K.H. Tubagus Ahmad Bakri (died 1975) was a cleric in Sempur Village, Plered District, Purwakarta Regency, West Java. One form of his legacy is in the form of written works known as "nuqilan" or adaptations. One of them is Mashlahah Al-`Islamiyyah Fi `Ihkami Al-Tawhidiyyah (MIFIT) which specifically reveals thoughts on theological aspects in Islam. Uncovering patterns of theological thinking and religious teachings that can be applied in the lives of rural communities. This research uses the reception method, which is a critical study of the text and revealing the meanings contained in it. It is a qualitative method in whihch every sentence contained in the text is interpreted and connected with the reality of its implementation in everyday life in order to set an example to the audience, both students and society. The philological and textological studies of MIFIT critically produced the model of theological thinking that is very Ahlussunnah-centric by revealing the arguments of the Qur'an and the Prophet's Hadith as well as several Sunni scholars from the Middle East and the Indonesian Archipelago. The implications are at the level of practice of religious teachings in life which tend to be exclusive even though they prioritize tolerance.
KONTROVERSI HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN TEKS AL-QURAN: PERSPEKTIF FILOLOGI Kosasih, Ade
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.404

Abstract

Pendekatan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran dapat dianggap sebagai isu kontroversial di ranah studi Islam dewasa ini. Hermeneutika dipandang sebagai metodologi ilmiah yang mampu menjembatani jarak historis, linguistik, dan kultural antara teks suci dan realitas modern. Bahkan, pendekatan itu dikritik keras karena dianggap berakar dari tradisi filsafat Barat sekuler, berpotensi merelatifkan makna wahyu, serta menggeser otoritas tafsir dari teks ilahi kepada subjektivitas penafsir. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis kontroversi di kalangan para ahli terkait penafsiran hermeneutika Al-Quran dengan menelusuri basis epistemologis, metodologis, serta implikasi teologisnya. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan melakukan studi literatur untuk membahas, secara deskriptif-kritis, karya-karya tokoh yang berbeda dalam memandang penafsiran Al-Quran sekarang, baik dari para pemikir Muslim maupun sarjana Barat. Data dianalisis melalui pendekatan komparatif antara metodologi tafsir model hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer dan hermeneutika kritis Paul Ricoeur. Hasil kajian menunjukkan bahwa kontroversi hermeneutika Al-Quran tidak semata-mata bersumber dari perbedaan metode, tetapi juga dari perbedaan paradigma epistemologi tentang hakikat wahyu, bahasa ilahi, dan otoritas penafsiran. Artikel ini menyimpulkan bahwa hermeneutika dapat berfungsi sebagai perangkat bantu metodologis sepanjang ditempatkan secara proporsional, tidak menggantikan prinsip dasar ulūm al-Qur’ān, serta tetap berlandaskan pada akidah Islam. Dengan demikian, dialog metodologis antara tafsir klasik dan hermeneutika modern perlu dikembangkan secara kritis dan selektif, bukan ditolak atau diterima secara absolut.