Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Bertahan sampai kapan? Becak motor versus moda transportasi online di Medan Rahman Malik; Harmona Daulay; Tengku Ilham Saladin
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 13 No. 2 (2024): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v13i2.68392

Abstract

Penggunaan becak bermotor sangat penting bagi masyarakat perkotaan di Indonesia karena minimnya layanan transportasi umum. Namun, maraknya layanan transportasi digital telah meminggirkan keberadaan mereka tanpa dukungan dari pemerintah dan pihak terkait. Sebuah studi lapangan di Medan, Sumatera Utara, yang melibatkan pengemudi becak bermotor mengungkap pengalaman dan upaya mereka untuk terus menyediakan layanan transportasi alternatif. Studi ini menyoroti kurangnya pilihan pekerjaan lain bagi para pengemudi ini dan alasan sosial budaya untuk tetap bertahan pada profesi mereka meskipun semakin tersedianya layanan transportasi digital. Selain itu, mereka berupaya meningkatkan layanan mereka dengan mengorganisasi diri dan berinvestasi dalam bisnis mereka.The use of motorized pedicabs is vital in urban communities in Indonesia due to insufficient public transportation services. However, the rise of digital transportation services has marginalized their existence without support from the government and related parties. A field study in Medan, North Sumatra, involving motorized pedicab drivers revealed their experiences and efforts to continue providing alternative transportation services. This study highlighted the lack of other job options for these drivers and the socio-cultural reasons for sticking to their profession despite the increasing availability of digital transportation services. Additionally, they are making efforts to improve their services by organizing themselves and investing in their businesses.
COVERT AGE DISCRIMINATION: THE PHENOMENON OF AGEISM AGAINST YOUNG WORKERS IN THE INDUSTRIAL SECTOR Nurul Inayah Zul Putri; Rahman Malik
OPINI: Journal of Communication and Social Science Vol. 2 No. 3 (2025): November
Publisher : Academic Solution Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70489/4w70z027

Abstract

This study aims to analyze in depth the phenomenon of ageism experienced by young workers in the industrial sector. This issue is rarely discussed, as previous studies have tended to focus on age discrimination experienced by older people. Using a qualitative approach and case study design, this study examines experiences of ageism among workers aged between 25 and 35 years. Data collection was conducted through in-depth interviews and research from written sources to strengthen the existing theoretical framework. Findings from this study indicate that ageism against young workers manifests in the form of discrimination during the recruitment process, negative stereotypes about their abilities and character, and seniority practices that make age an indication of authority and competence. Structural factors such as traditional work hierarchies and cultural norms regarding the age of marriage also reinforce these age discrimination practices. In terms of theory, this study contributes to expanding the understanding of ageism by emphasizing that age discrimination can occur not only against older workers but also against young workers, thus necessitating a more inclusive analytical framework. Empirically, the results of this study underscore the importance of policy interventions and improvements in work culture in order to create a more inclusive industrial environment that is free from age discrimination.
The Construction of Masculinity in the “Typing Ganteng” Phenomenon on TikTok Achmad Hidir; Rahman Malik; Tengku Romi Marnelly; Ferdo Ferdo; Abdillah Habibi
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.21736

Abstract

The phenomenon of ”typing ganteng” on social media, particularly TikTok, demonstrates that constructions of masculinity can be shaped through digital language styles. This study aims to explore how the ”typing ganteng” style, popularized by influencers and content creators on TikTok, shapes representations of masculinity. The method used was descriptive qualitative content analysis, utilizing purposive data from TikTok accounts producing content related to this phenomenon. The results show that through ”typing ganteng” content, influencers can establish standards of digital masculinity, as evidenced by stylistic characteristics such as the use of lowercase letters at the beginning of sentences, prolonged vowels, concise typing, and controlled humor. This style of language is considered attractive and masculine by women on social media, encouraging other users to imitate and conform to established norms. Findings indicate that the concept of masculinity in the digital age has shifted from traditional norms to new forms displayed through written interactions on social media. This study demonstrates that language functions as a cultural product that continues to evolve according to social expectations, enabling young men to display and negotiate masculine identities online. The study also highlights that perceptions of masculinity are relative; some male users adopt “typing ganteng” styles to gain social recognition, while others view masculinity as more flexible and individual. This research is expected to enrich sociolinguistic research and provide deeper insights into the relationship between language, gender, and social media culture.Konstruksi Maskulinitas dalam Fenomena “Typing Ganteng” di TikTokFenomena “typing ganteng” di media sosial, khususnya TikTok menunjukkan bahwa konstruksi maskulinitas dapat dibentuk melalui gaya bahasa digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gaya “typing ganteng” yang dipopulerkan oleh influencer dan pencipta konten di TikTok dalam merepresentasikan maskulinitas. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan data purposif dari akun TikTok yang menghasilkan konten terkait fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui konten “typing ganteng”, influencer dapat menetapkan standar maskulinitas secara digital, melalui penggunaan huruf kecil di awal kalimat, vocal yang diperpanjang, pengetikan yang ringkas, dan humor. Gaya bahasa ini dianggap menarik dan maskulin oleh Wanita di media sosial sehingga mendorong pengguna lain untuk meniru dan mematuhi norma tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep maskulinitas di era digital telah bergeser dari norma tradisional ke bentuk baru yang ditampilkan melalui interaksi tertulis di media sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai produk budaya yang terus berkembang sesuai dengan harapan sosial sehingga memungkinkan laki-laki menampilkan dan menegosiasikan identitas maskulin secara daring. Studi ini juga menyoroti bahwa persepsi maskulinitas bersifat relatif. Beberapa pengguna laki-laki mengadopsi gaya “typing ganteng” untuk mendapatkan pengakuan sosial sementara yang lain memandang maskulinitas sebagai sesuatu yang fleksibel dan individual. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian sosiolinguistik dan memberi wawasan yang lebih dalam tentang hubungan antara bahasa, gender, dan budaya di media sosial.
Krisis Regenerasi Petani Muda Di Desa Karang Anyar Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun Fahmi Anshori; Lina Sudarwati; Rahman Malik; Bisru Hafi
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 3 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Juni 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i3.2349

Abstract

Krisis regenerasi petani muda adalah fenomena menurunnya tenaga kerja pada kalangan muda dalam sektor pertanian. Seperti di desa Karang Anyar berdasarkan data SIMLUHTAN Pertanian Desa Karang Anyar tahun 2022, jumlah petani muda usia dibawah 39 tahun hanya 39 orang dari 476 total jumlah petani. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan persepsi dan faktor pertimbangan pemuda pada jenis pekerjaan di sektor pertanian dan nonpertanian, serta penyebab kurang berminatnya pemuda menjadi petani, sehingga terjadi krisis regenerasi petani muda di desa tersebut. Lokasi penelitian berada di desa Karang Anyar, Simalungun. Adapun metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan pemuda lebih memilih jenis pekerjaan di luar pertanian daripada di sektor pertanian. Karena adanya persepsi pemuda jika bekerja di sektor luar pertanian, dinilai lebih memberikan jaminan penghasilan, meningkatkan status sosial, atau fasilitasnya yang nyaman. Dibandingkan sektor pertanian yang dinilai profesi yang berat, melelahkan, bekerja di tempat yang kotor, panas-panasan, penghasilannya rendah, dan dipandang rendah. Adanya persepsi tersebut menjadikan pemuda lebih mempertimbangkan jenis pekerjaan yang akan dipilih, yakni lebih memilih bekerja di luar pertanian. Enggannya pemuda bekerja menjadi petani selain karena faktor internal, juga karena adanya faktor eksternal seperti kurangnya edukasi, dukungan orang tua, serta belum adanya program intensif yang diberikan dari pemerintah dalam menunjang minat pemuda dalam dunia pertanian.
A sociological exploration of the parents’ educational constructions for children afflicted with hearing loss Achmad Hidir; T. Romi Marnelly; Rahman Malik
Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol. 14 No. 4 (2025): August
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpfkip.v14i4.p449-457

Abstract

Inclusive education is essential, but many people still discriminate against children with special needs, including deaf children. At first glance, deaf children are no different from other children. Therefore, their parents also want their children to grow and develop like others. This study aims to explore this issue using qualitative methods to understand parents' social constructions regarding their children's education. The research was carried out at SLB Sri Mujinab Pekanbaru, one of the oldest special schools in Pekanbaru. Participants were selected purposively, employing interaction analysis techniques. This study found that deaf children also achieve various milestones and are not intellectually inferior. Their parents hope that their children grow and develop like typical children. The widespread use of social media and services for children with special needs has compelled parents to learn extensively to support their children's growth and development so that they can become independent.
Sinergisitas Laki-laki dan Perempuan Pada Pembagian Kerja Rumah Tangga Dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender Malik, Rahman; Sihombing, Febrian Josua Halomoan; Hidir, Achmad; Kartika, Silvia Dwi
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 13 No 01 (2026): January - June 2026
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/jsga.v13i01.11225

Abstract

ABSTRAK Isu gender telah lama menjadi isu utama dalam keluarga. Ketimpangan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan menjadi permasalahan utama kesenjangan gender. Namun seiring berjalannya waktu, sosialisasi pendidikan egaliter mengenai hubungan keluarga secara besar-besaran menjadi lebih mudah dipahami oleh suami dan istri. Akibat perubahan nilai tersebut, pembagian peran dalam rumah tangga menjadi lebih merata dan terstruktur Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini mengkaji perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam penerapan pembagian kerja dalam kehidupan berkeluarga pada pasangan suami istri di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Deli Tua, Desa Kedai Durian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan mengalami perubahan pemahaman terhadap pembagian pekerjaan rumah tangga dan publik berdasarkan peran gender. Lebih lanjut, penelitian ini juga menunjukkan adanya efek sinergis dalam pembagian kerja gender antara rumah tangga suami istri di Desa Kedai Durian, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Pembagian Kerja Laki-laki dan perempuan cenderung menghargai keharmonisan dalam menjaga keharmonisan keluarga, baik di rumah maupun di muka umum, serta saling bekerjasama untuk membangun keluarga. Kata Kunci: Pembagian Kerja, Gender, Laki-laki, Perempuan, Rumah Tangga
Manusia Silver dan Seni Jalanan: Manifestasi Ruang Kebebasan Bagi Masyarakat di Perkotaan : 1*Rahman Malik, 2Achmad Hidir,3Nurainun Silalahi,4Salsabila Aulia Rahmi 1*,3,4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Indonesia 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Riau, Indonesia Rahman Malik; Achmad Hidir; Nurainun Silalahi; Salsabila Aulia Rahmi
Jurnal Intervensi Sosial Vol. 2 No. 2 (2023): Budaya Dan Perubahan Sosial
Publisher : Talenta usu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/intervensisosial.v2i2.14317

Abstract

Abstract The complexity of life and problems in urban areas have given birth to many phenomena of urban society, including the presence of silver men. However, as economic conditions deteriorate, especially due to the Covid-19 pandemic, many people have the initiative to adopt the “silver man style” as an opportunity to earn their personal money. Therefore, this research aims to examine how silver people express art as a form of their freedom space living in urban society. This research is a descriptive qualitative research method. The subjects of this research are silver men who are present in the area Dr.Mansur Street, Medan City. Primary data sources in this study were generated through observations and interviews with silver men. Meanwhile, secondary data was generated by digging up information about silver men in Medan City through book documentation, journals, and internet websites. The technique of data analysis is by conducting an interactive model of data analysis form Miles & Huberman. The results of this study show that urban public space is a place of freedom for silver men in Medan City to show their existence of expression of freedom to the general public. Forms of expression and existence of silver humas in Medan City include silver humans, very free to perform pantonymous forms of attraction and style like robots. Then, silver mens can easily collect money from the results of their labour by performing silver men attractions withput any social structure or environment that suppresses them to express and show their existence in the space of freedom or urban public space. Keyword: Silver men, Urban, Public space, Freedom of space, Street performance
ANALISIS DEKONSTRUKSI DERRIDA PADA BAHASA TRASHTALK DI LINGKUNGAN PERTEMANAN MAHASISWA Siregar, Alwy Naufal Zuhdi; Malik, Rahman; Saladin, Tengku Ilham; Hafi, Bisru
Kusa Lawa Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2025.005.02.04

Abstract

Penelitian ini menjelaskan mengenai dekonstruksi trashtalk sebagai bahasa keakraban dalam ruang lingkup pertemanan pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini menjelaskan bagaimana bentuk penggunaan trashtalking dan juga bagaimana perubahan makna dari kata-kata trashtalk berdasarkan analisis teori dekonstruksi yang dipopulerkan oleh Jacques Derrida. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Proses pengumpulan data menggunakan teknik accidental sampling yang melibatkan 12 informan yang dipilih secara acak dilokasi penelitian. Hasil penelitian dapat dilihat bahwa Mahasiswa dan Mahasiswi FISIP USU menggunakan trashtalking untuk membentuk keakraban kepada teman sepermainan atau teman akrab. Trashtalk sendiri dikonotasikan negatif dikarenakan tidak sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarakat. Melalui konsep dekonstruksi yang dipopulerkan Jacques Derrida, berusaha untuk membangun makna baru dari sebuah teks dalam hal ini trashtalk. Dengan adanya konsep dekonstruksi berusaha mengungkapkan makna lain dari makna trashtalk yang selama ini berkonotasi negatif menjadi positif sebagai bentuk pengungkapan ekspresi keakraban yang menyatukan individu atau kelompok dalam pertemanan. Dalam penelitian ini, mengungkapkan bahwa benar terjadi perubahan pemaknaan trashtalk dikalangan Mahasiswa dan Mahasiswi FISIP USU. Hal ini ditandai dengan dapat dilihat dari hubungan keakraban dalam ruang lingkup pertemanan mereka. Hal ini sejalan dengan yang ditegaskan Jacques Derrida bahwa dekonstruksi bukan sekedar metode analisis, melainkan cara berpikir yang mengupas ketidakstabilan makna. Kata Kunci: Trashtalk; Mahasiswa; Dekonstruksi; Pertemanan; Keakraban.
Merajut Citra di Media Sosial: Analisis Teori Masyarakat Tontonan Terhadap Gibran Rakabuming Raka Rahman Malik; Abdillah Habibi; Humaira Jasmine; Karimah Kinanti Putri
ARKANA: Jurnal Komunikasi dan Media Vol. 4 No. 02 (2025): Media dan Komunikasi Indonesia
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Sains Al-Qur'an Jawa Tengah di Wonosobo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62022/dkm0za42

Abstract

Kemenangan pasangan Prabowo-Gibran tidak terlepas dari pengaruh sosok Gibran sendiri yang disebut sebagai perwakilan anak muda. Gibran merepresentasikan dirinya sebagai sosok yang berkepribadian asik, mengikuti tren anak muda, dan sering berinteraksi dengan pengikutnya di media sosial.  Tulisan ini bertujuan untuk melihat dan menganalisis bagaimana Gibran merajut citranya di media sosial melalui perspektif Teori Masyarakat Tontonan oleh Guy Debord. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan analisis isi sebagai metodenya. Pengumpulan data dilakukan dengan mengidentifikasi jejak digital akun media sosial X Gibran seperti postingan, komentar, dan interaksi yang terjadi dalam forum atau platform media sosial.  Data penelitian studi literatur ini disajikan secara deskriptif. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa Gibran merupakan seorang performer (orang yang tampil atau orang yang ditonton) yang sedang merajut citra dirinya (yang merupakan komoditas) di media-media seperti media sosial (panggung pertunjukan sang performer) untuk ditunjukkan kepada para spectator (orang yang mengikuti dan menonton sang performer) dirinya sehingga keduanya terikat pada relasi komoditas.
Free or Monitored?: The Panopticon System in Indonesian Media Reporting Abdillah Habibi; Rahman Malik
Komunika Vol. 22 No. 01 (2026): Interpersonal Communication, Disaster Mitigation Communication and Mass Commu
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/komunika.v22i01.19761

Abstract

ABSTRACT The rapid development of news media due to technology in Indonesia indicates the presence of panopticon practices within it. Therefore, this research aims to delve deeper into how the panopticon practice exists in media reporting and to find out whether every individual in society is actually monitored or free in their life due to this practice. This research is a descriptive qualitative study with literature review and digital observation as data collection methods. This research shows that out of the three news articles used as examples of panopticon practices in the media, two of them explain that every behavior and action of individuals in society will always be monitored, even in trivial private matters. Meanwhile, the remaining one explains that the media practices the panoptic method by instilling discipline through widespread reporting to the public regarding the behavior of individuals who oppose or do not conform to the system. The author concludes that the panoptic practice in the media shows constant surveillance of individuals in society, so individuals are actually not free and will always be monitored by news media. Keyword: Media; Panopticon; News Report