Claim Missing Document
Check
Articles

INCREASING ENTREPRENEURSHIP KNOWLEDGE IN THE DEVELOPMENT OF CATUR KINTAMANI HERBAL TOURISM VILLAGE MENGWI I Wayan Ruspendi Junaedi; I Gusti Bagus Rai Utama; Dermawan Waruwu
International Journal of Social Science Vol. 1 No. 4: December 2021
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/ijss.v1i4.1211

Abstract

The covid-19 pandemic declared on March 11, 2020 has affected countries on all continents. Coronavirus 19 began appearing in Wuhan, the capital of China's Hubei province, in December 2019 and spread throughout Asia and the world. In response to the development of information related to Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) and also following the advice of the Government of Indonesia, on March 16, 2020, several companies or institutions began to implement the call to work and learn from home as a social distancing movement. The various impacts caused by this pandemic are that many people lose their jobs so that in the current difficult time it is expected that the community is able to creatively carry out all activities from home. The same is true in Chess Village, Kintamani, Bangli. The problem found that (1) Do not have knowledge about entrepreneurship for the youth of Kintamani Chess Village. (2) Do not have an entrepreneurial souvenir product for tourists who visit, especially in making photo frames in bottles in chess villages. To overcome these problems, the objectives of the PKM program are as follows: (1). Socialization and knowledge training on entrepreneurship for the youth of Chess Village, Kintamani. (2) Training in making entrepreneurial souvenir products for visiting tourists, especially in making photo frames in bottles in Catur Village, Kintamani. Methods of implementation of the PKM Program include: initial socialization, training, mentoring, monitoring, evaluation, and sustainability of the program, which is carried out by the service team and assisted by experts and students from Dhyana Pura University. The result is that the Chess Village has knowledge, skills about (1). Entrepreneurship (2). There are entrepreneurial souvenir products for tourists who visit, especially in making photo frames in bottles. The implementing team and each group report the results by means of presentation and documentation. The sustainability of this program is that the community continues to learn and the PKM Undhira team assists the group in improving its well-being.
INSTITUTIONAL SUPPORT FROM CREDIT UNION OF TORAJA CHURCH SYNOD FOR CONGREGATION ECONOMIC EMPOWERMENT Donald Samuel Slamet Santosa; I Wayan Ruspendi Junaedi; I Wayan Damayana; Dermawan Waruwu; I Made Sumartana
International Journal of Social Science Vol. 1 No. 5: February 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/ijss.v1i5.1299

Abstract

The article was aimed to analyze the institutional support given by the Credit Union of Toraja Church Synod for congregation economic empowerment and then to construct the model of this institutional support. Research typology in this article was research and development. The development intended by this research was referred to Developmental Model 4D (Define, Design, Develop, and Dissemination). The outputs of this research were the factual model outlining institutional support for congregation economic empowerment, the hypothetical model expected to improve factual model, and the validated final model. Research approach involved quantitative and qualitative approaches. The results of research showed that the Credit Union of Toraja Church Synod had offered institutional supports including credit facility to be accessed by the congregation. The new model illustrated the participation of the congregation in the decision making process of the Credit Union and also the training and counseling services provided by the Credit Union for the congregation in matters of taking loan for business development. The new model was proved to be effective in empowering the congregation economic.
Economic Transformation: The New Spiritual Leadership Model In Blimbingsari Village Jembrana Bali Wayan Junaedi; Dermawan Waruwu
International Journal of Economics Development Research (IJEDR) Vol. 1 No. 1 (2020): International Journal of Economics Development Research
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.43 KB) | DOI: 10.37385/ijedr.v1i1.23

Abstract

A spiritual leader can appear in any situation. It can not be just a genetic theory that allows a person to be a spiritual leader but is supported by social theory and ecological theory. In addition to the above theory, there is one more the most fundamental theory of the emergence of a spiritual leader of Divine theory. The aim of this study is to identify the meaning of spiritual leadership in Blimbingsari Village, to identify the principle of spiritual leadership in Blimbingsari Village, and to analyze what does the spiritual Leader do to the economic transformation of Blimbingsari village. The methodology used is qualitative with data collection techniques are participant observation or participatory nature of direct involvement, interview, literature review, case study, and documentation. Village leaders Blimbingsari always increase leadership capacity through the intervention of the factors of spiritual values, work ethics, social capital, and entrepreneurial factors. These factors are growing in the middle of the village of Blimbingsari understood as a pattern of beliefs, values, and behaviors and leaders as agents of change do the role and relationship with the community intensive because it is influenced by historical trends, social attitudes, and socioeconomic factors.
PKM PENGGUNAAN DIGITAL MARKETING DALAM PEMBANGUNAN DESA CATUR KINTAMANI MENGWI I Wayan Ruspendi Junaedi; I Gusti Bagus Rai Utama; Dermawan Waruwu
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.097 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1243

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Penggunaan digital marketing ini dilaksanakan di Desa Catur Kintamani yang berlokasi di kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Permasalahan kelompok Penggunaan digital marketing menemukan bahwa (1) Belum tersedianya pusat informasi tempat wisata, (2) Belum terintegrasi wilayah untuk dapat dijadikan sebagai potensi wisata. (3) belum adanya pusat pembuatan konten menarik mengenai promosi budaya, produksi pertanian, dan wisata. (4) Belum ada pengelolaan digital marketing untuk desa wisata Catur Kintamani. Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat Desa Catur Kintamani memerlukan solusi berupa program PKM dalam bentuk kegiatan sebagai berikut: Sosialisasi potensi wisata dengan tersedianya informasi center, Mengintegrisakan seluruh komponen potensi desa dalam satu program desa wisata, Pembuatan media promosi (content) sebagai bahan digital marketing, dan Pelatihan pemasaran digital sebagai bahan promosi kepada biro perjalanan dan calon wisatawan. Adapun tahapan pelaksanaan Program PKM Penggunaan digital marketing Catur Kintamani ini antara lain: sosialisasi awal, pendampingan, pelatihan, monitoring, evaluasi, dan keberlanjutan program. Pelaksana sosialisasi, pendampingan, pelatihan, monitoring, evaluasi, dan keberlanjutan program ini dilakukan oleh tim pengusul serta dibantu oleh tenaga ahli dari Universitas Dhyana Pura. Tahap sosialisasi dilakukan dengan cara mengumpulkan pengurus dan anggota kelompok, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan dibuka oleh Kepala Desa Catur Kintamani sebagai motivator serta penanggung jawab atas wilayahnya dan masyarakatnya. Tahap pendampingan dan pelatihan dilakukan dengan cara memberikan pengetahuan serta keterampilan tentang teknik manajemen pengelolaan, manajemen pemasaran, dan manajemen pengembangan. Selanjutnya, monitoring, evaluasi, dan keberlanjutan program dilakukan oleh tim pelaksana, DRPM, LP2M, tenaga ahli, dan Kepala Desa untuk mengkonfirmasi proses atau teknik-teknik yang sudah dilakukan oleh kelompok tersebut. Tim pelaksana dan setiap kelompok melaporkan hasilnya dengan cara presentasi dan dokumentasi. Program PKM ini akan dilaksanakan oleh 3 orang dosen dan dibantu oleh tenaga ahli dari Universitas Dhyana Pura serta melibatkan 4 orang mahasiswa.
Pengaruh Cognitive Behavior Therapy Terhadap Postpartum Depression Ni Nyoman Ari Indra Dewi; Dermawan Waruwu
JURNAL PSIKOLOGI MANDALA Vol 2, No 1 (2018): JURNAL PSIKOLOGI MANDALA
Publisher : Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.459 KB)

Abstract

Abstrak. Setiap ibu melahirkan rentan mengalami stress yang berlanjut pada tahap depresi. Dalam mengatasi masalah depresi diperlukan intervensi untuk mengatasi gangguan psikologis. Masalah yang dikaji dalam penelitian adalah pengaruh Cognitive Behavior Therapy terhadap postpartum depression. Untuk mengkaji masalah itu menggunakan metode kuantitatif tipe penelitian eksperimen serta menggunakan Beck Depression Inventory (BDI) dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh Cognitive Behavior Therapy terhadap postpartum depression. Subjek penelitian adalah ibu pasca melahirkan yang berusia 20-35 tahun, rentang waktu setelah melahirkan 1-2 bulan, tingkat pendidikan SMA, dan tidak mengkonsumsi obat antidepressant. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dan sesudah pemberian Cognitive Behavior Therapy adalah (p = 0,034 < 0,05 ; z = -2,121) dan perbandingan posttest 1 dengan follow up (p = 0,038 < 0, 05 ; z = 2,070). Dengan demikian, perlakuan Cognitive Behavior Therapy dapat menurunkan postpartum depression pada ibu melahirkan.Kata Kunci: cognitive behavior, therapy, depression, ibu melahirkan
Kecemasan Penyandang Disabilitas dalam Mencari Pekerjaan di Kawasan Wisata Kuta Bali Dermawan Waruwu; Ni Ketut Jeni Adhi
JURNAL PSIKOLOGI MANDALA Vol 2, No 2 (2018): JURNAL PSIKOLOGI MANDALA
Publisher : Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.149 KB)

Abstract

Abstrak. Penyandang disabilitas di Kabupaten Badung tahun 2017 terus meningkat setiap tahunnya. Kebijakan pemerintah Badung maupun Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 kurang berpihak terhadap penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas menjadi kelompok termarjinalkan dan terhegemoni di tengah geliat industri pariwisata yang berlimpah dolar di kawasan wisata Kuta tersebut. Oleh sebab itu, penyandang disabilitas mengalami kecemasan dalam mencari pekerjaan selama ini. Masalah yang dikaji dalam artikel ini adalah kecemasan yang dialami oleh penyandang disabilitas dalam mencari pekerjaan di kawasan wisata Kuta Bali serta jenis pekerjaan yang dilakukan di kawasan wisata Kuta Bali? Dalam mengkaji masalah ini dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan kajian budaya. Penelitian ini menghasilkan dua hal: Pertama, penyandang disabilitas mengalami kecemasan dalam mencari pekerjaan di kawasan wisata Kuta, sehingga mereka terpaksa bekerja yang kurang sesuai dengan potensi dirinya. Kedua, penyandang disabilitas terpaksa bekerja sebagai cleaning service dan operator CCTV di kawasan wisata Kuta. Kecemasan ini akan terus meningkat jika pemerintah dan pengusaha kurang berpihak sera memberdayakan penyandang disabilitas yang sesuai dengan potensi dirinya.Kata kunci: kecemasan, penyandang disabilitas, kawasan wisata kuta
Kesejahteraan Psikologis Lansia yang Tidak Mempunyai Anak Laki-Laki di Panti Sosial Tresna Werdha X Bali Ni Putu Lilik Agestin; Agnes Utari Hanum Ayuningtias; Dermawan Waruwu
JURNAL PSIKOLOGI MANDALA Vol 3, No 1 (2019): JURNAL PSIKOLOGI MANDALA
Publisher : Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.951 KB)

Abstract

Abstrak. Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) X yang tidak mempunyai anak laki-laki memiliki permasalahan mengenai relasi yang kurang baik dengan penghuni Panti dan Keluarga. Relasi kurang baik itu muncul karena perasaan malu narasumber dan itu berdampak terhadap hubungannya dengan sesama penghuni Panti. Maka dari itu peneliti tertarik melakukan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan dan menemukan faktor-faktor dimensi kesejahteraan psikologis lansia yang tidak mempunyai anak laki-laki di PSTW X Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang dianalisis secara Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi konflik psikologis yang dialami lansia sebelum tinggal di PSTW X yaitu sikap lansia yang melakukan penolakan terhadap tanggung jawab di desanya mengenai ngayah karena kekuatan fisik yang menurun. Kemudian persepsi lansia mengenai gender bahwa anak perempuan tidak seharusnya merawat orang tua dan kebutuhan lansia untuk dirawat (caregiver) yang membuat lansia berinisiatif tinggal di PSTW X. Dari keenam dimensi kesejahteraan psikologis lansia, ada lima dimensi yang terpenuhi yaitu penerimaan diri, hubungan positif terhadap orang lain, otonomi, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi. Dengan demikian terjadi perubahan dalam kesejahteraan psikologisnya, di saat lansia memikirkan konfliknya kembali dan itu berpengaruh di lingkungan PSTW X.Kata Kunci: Lansia, Kesejahteraan Psikologis, InterpretativeAbstract. Elderly in Werdha Nurshing Home (PSTW) x has no boys have problems about the relationship is not good with The residents and families. Relations less well it appears because of the feeling of shame Speaker and it affect his relationship with fellow residents of the care. Thus researchers interested in conducting research with the aim of describing and understanding the psychological well-being of the elderly in PSTW X who did not have the boy. This study uses qualitative methods with the phenomenology of approach are analyzed in Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results showed that the psychological conflicts experienced by the elderly before lived in X PSTW i.e. elderly attitude that does the rejection of responsibility in his village about ngayah due to declining physical strength. Then the perception of the elderly regarding gender that girls aren't supposed to care for the elderly and elderly needs to be treated (caregiver) that make the elderly initiative resides in PSTW x. Of the six dimensions of psychological well-being of the elderly, there are five dimensions are met i.e. self-acceptance, positive relationship towards other people, autonomy, purpose of life and personal growth. Thus there are changes in their psychological well-being, while the elderly think conflict is back and it's influential environment PSTW X.Keywords: The Elderly, Psychological Well-being, Interpretative Phenomenological Analysis Werdha Nurshing Home. Phenomenological Analysis (IPA), Panti Sosial Werdha.
THE ROLE OF CREDIT UNION BETANG ASI FOR FAMILY BUSINESSES IN PALANGKARAYA, CENTRAL KALIMANTAN I Wayan Ruspendi Junaedi; I Wayan Damayana; Dermawan Waruwu; Suresh Kumar
International Journal of Family Business Practices Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Business, President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33021/ijfbp.v5i1.1408

Abstract

This study aims at finding the role of Credit Union (CU) Betang Asi, a financial institution under the OJK, in developing the family businesses in Palangkaraya, Central Kalimantan. The study method used was a qualitative study method, by conducting observations, interviews with owners and managers of family businesses, and documentation. The findings are that CU has contributed a lot to the welfare of family businesses in Palangkara, Central Kalimantan. The family businesses have developed to the maximum so that the sales turnover is quite attractive. Further, CU considers the Character, Capacity, Capital, Condition, and Collateral characteristics as the most important aspect of lending money to family businesses. They also provide training and assistance to be able to improve the business of management and marketing management and the use of technology. Hence, they can increase sales of the business and inspire the community to become entrepreneurs to improve the welfare of the business.
PERAN KPSBU DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT ADAT SEBAGAI STRATEGI DALAM PERCEPATAN PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL I Wayan Ruspendi Junaedi; I Wayan Damayana; Dermawan Waruwu
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 3 (2020): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.859 KB)

Abstract

ABSTRAKKeterlibatan aktif masyarakat maupun lembaga usaha atau pengusaha di setiap daerahsangat penting dalam meningkatkan ekonomi masyarakat adat. Keterlibatan aktif ini bisaditunjukkan dengan keikutsertaan dalam koperasi. Salah satu bentuk usaha yang dikembangkanoleh masyarakat adat Sunda di Jawa Barat adalah Koperasi Peternak Susu Bandung Utara. Tujuanpenelitian ini adalah (1). untuk mengetahui hal hal apa yang di fasilitasi Koperasi Peternak SapiBandung Utara (KPSBU) bagi anggota KPSBU untuk meningkatkan kesejahteraan anggota KPSBUdi Bandung Utara, Propinsi Jawa Barat. (2). untuk mengetahui apa yang dilakukan anggota KPSBUuntuk meningkatkan kesejahteraan anggota KPSBU di Bandung Utara, Propinsi Jawa Barat. Penelitimenggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif (mix method) dengan tipe penelitian casestudy. Data dikumpulkan dan dianalisis secara observation, wawancara, dan dokumen. Denganadanya koperasi ini, masyarakat adat Sunda tidak mengalami kesulitan dalam memasarkan sususapi segar yang diambil setiap pagi dan sore hari. Kehidupan ekonomi masyarakat mengalamipeningkatan kesejahteraan melalui pemberdayaan adatnya melalui Koperasi peternak KPSBU.Kata Kunci: Adat, Ekonomi, KPSBU, Pemberdayaan, Peran.
KECEMASAN PENYANDANG DISABILITAS DALAM MENCARI PEKERJAAN DI KAWASAN WISATA KUTA BALI Dermawan Waruwu; Ni Ketut Jeni Adhi
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 1 (2018): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.252 KB)

Abstract

ABSTRAKPenyandang disabilitas di Kabupaten Badung tahun 2017 berjumlah 2.862 orang dan terus meningkat setiap tahunnya. Kebijakan pemerintah Badung maupunPeraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 kurang berpihak terhadappenyandang disabilitas. Oleh sebab itu, penyandang disabilitas mengalamikecemasan dalam mencari pekerjaan selama ini. Penyandang disabilitas menjadikelompok termarjinalkan dan terhegemoni di tengah geliat industri pariwisata yangberlimpah dolar di kawasan wisata Kuta tersebut. Masalah yang dikaji dalam artikelini adalah bagaimana bentuk kecemasan penyandang disabilitas dalam mencaripekerjaan di kawasan wisata Kuta Bali serta apa jenis pekerjaan yang dilakukanoleh penyandang disabilitas di kawasan wisata Kuta Bali? Dalam mengkaji masalahini digunakan teori hegemoni dan praktik sosial serta dianalisis secara kualitatifdengan pendekatan kajian budaya. Penelitian ini menghasilkan 2 (dua) hal: (1)Penyandang disabilitas mengalami kecemasan sehingga melakukan pekerjaan yangkurang sesuai dengan potensi dirinya; (2) Penyandang disabilitas terpaksa bekerjasebagai cleaning service dan operator CCTV. Kecemasan ini akan terus meningkatjika pemerintah dan pengusaha tidak memberikan lapangan pekerjaan kepadapenyandang disabilitas yang sesuai dengan potensi dirinya.Kata kunci: Kecemasan, Disabilitas, Kawasan Wisata KutaABSTRACTDisabled people in Badung Regency in 2017 amounted to 2,862 people and continued to increase every year. The Badung government policy and the RegionalRegulation of Bali Province Number 9 of 2015 are less in favor of persons withdisabilities. Therefore, persons with disabilities experience anxiety in finding work.Persons with disabilities are marginalized and hegemony in the midst of a stretch ofthe tourism industry that is abundant in dollars in the tourist area of Kuta. Theproblems examined in this article are What is the form of the anxiety of personswith disabilities in looking for work in the tourist area of Kuta Bali and What kind ofwork is carried out by persons with disabilities in the tourist area of Kuta Bali? Inreviewing this problem we use the theory of hegemony and social practice andanalyze it qualitatively with a cultural study approach. This study produces 2 (two)things: (1) Persons with disabilities experience anxiety so that they do work that isnot in accordance with their potential; (2) Persons with disabilities are forced towork as cleaning services and CCTV operators. This anxiety will continue to increaseif the government and employers do not provide employment to persons withdisabilities that are in accordance with their potential.Keywords: Anxiety, Disability, Kuta Tourism Area