Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Pengembangan Desa Wisata Tanjung Boleng Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur Iskandar, Dedi; Utama, I Gusti Bagus Rai; Waruwu, Dermawan
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 4 No. 1 (2025): JAKADARA: JURNAL EKONOMI, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v4i1.3853

Abstract

Desa wisata berkembang secara signifikan saat ini. Hal ini terjadi karena peralihan wisata massal menjadi wisata alternatif, dimana desa wisata merupakan salah satu jenis wisata alternatif. Namun pertumbuhan desa wisata yang signifikan masih menghadapi kendala. Masalahnya adalah tentang Pengembangan. Merupakan Salah satu desa wisata yang menghadapi kendala pengembangan adalah Desa Wisata Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Tujuan utama dari penelitian ini adalah mendalami strategi pengembangan yang dapat diterapkan di Desa Wisata Tanjung Boleng. Pengumpulan data dilakukan melalui Survei dan wawancara dengan pengelola desawisata yang berkompeten di bidang Pariwisata. Teknik analisis data dalam penelitian ini secara deskriptif dan dianalisis strategi pengembangan dengan menggunakan pendekatan SWOT. Berdasarkan internal – eksternal matriks, maka pada posisi obyek wisata Tanjung Boleng berada pada posisi pertumbuhan.
Strategi Pengembangan Daya Tarik Wisata Agrowisata Ceking Rice Terrace di Desa Tegallalang, Kabupaten Gianyar Rahmawati, Febronia; Utama, I Gusti Bagus Rai; Waruwu, Dermawan
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 4 No. 1 (2025): JAKADARA: JURNAL EKONOMI, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v4i1.3859

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi pengembangan daya tarik wisata agrowisata (Studi kasus: Ceking Rice Terrace Desa Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali). Penelitian ini menggunakan analisis SWOT dengan melibatkan 4 informan dan 9 responden kemudian mengumpulkan data dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan kuesioner. Teknik analisis data dalam penelitian ini secara deskriptif dan dianalisis strategi pengembangan dengan menggunakan pendekatan SWOT. Berdasarkan internal-eksternal matriks, maka pada posisi Agrowisata Ceking Rice Terrace memiliki nilai total skor strategi internal sebesar 3,36 dan total skor strategi eksternal sebesar 2,48 berada pada kuadran I pada posisi pertumbuhan, sehingga memerlukan strategi pengembangan yang tepat guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke Agrowisata Ceking Rice Terrace dalam kuadran I pertumbuhan. Matriks SWOT menghasilkan empat sel alternatif strategis yang dapat diidentifikasi melalui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Sehingga dapat diambil kesimpulan oleh pengembangan Agrowisata Ceking Rice Terrace mengenai strategi yang digunakan dalam proses pengembangan serta mengantisipasi kendala yang akan dialami.
Penerapan Nilai Budaya dan Teknologi dalam Pengembangan Usaha Mi Nyonyor di Desa Abianbase, Badung, Bali Waruwu, Dermawan; Darmawijaya, I Putu
Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK Vol. 2 No. 2 (2018): Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Dhyana Pura – Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.598 KB) | DOI: 10.36002/jpd.v2i2.657

Abstract

ABSTRAKMi nyonyor di Desa Abianbase - Bali, awalnya kurang disukai oleh masyarakat, sehingga penjualannya relatif kecil sekitar Rp300.000/hari. Setelah tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Universitas Dhyana Pura memberikan pelatihan dan pendampingan, maka penjualan mi nyonyor meningkat. Ada 5 (lima) aspek yang dilakukan oleh tim PKM untuk menyelesaikan masalah mitra: (1) Pelatihan dan pendampingan tentang penyajian mi nyonyor agar sesuai budaya, agama, dan nilai etika; (2) Pelatihan dan pendampingan tentang manfaat penggunaan alat teknologi seperti mesin penggilingan daging ayam dan penghalusan cabai agar proses pembuatan mi nyonyor lebih cepat; (3) Pelatihan dan pendampingan tentang pemasaran mi nyonyor menggunakan internet (media sosial), sehingga masyarakat bisa memesan mi nyonyor secara online; (4) Pemberian bantuan mesin penghalusan daging dan sarung tangan plastik agar penyajian mi nyonyor tetap higienis; dan (5) Pelatihan dan pendampingan tentang manfaat penggunaan mesin kasir serta laptop/komputer agar laporan keuangan transparan dan akuntabel. Dampak pelatihan dan pendampingan ini mi nyonyor semakin disukai oleh masyarakat serta berpotensi meningkatkan pendapatan mitra. Penjualan mi nyonyor meningkat sekitar Rp510.000 sampai Rp540.000/hari atau Rp186.150.00 sampai Rp197.100.000/tahun (70% sampai 80%) dari penjualan sebelumnya. Dengan demikian, peningkatan pendapatan melalui usaha mi nyonyor ini memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk berwirausaha, sehingga meningkatkan ekonomi dan pendapatan masyarakat.Kata kunci: Mi nyonyor, manajemen, pemasaran, teknologi, budaya.ABSTRCTNyonyor Noodle Shop in Abianbase Village - Bali, was initially less favored by consumers, so the sales were relatively low around Rp. 300,000/day. After the Community Partnership Program (PKM) team from Dhyana Pura University provided training and mentoring, the sales of nyonyor noodles increased. There are 5 (five) aspects carried out by the PKM team to resolve partner problems: (1) training and mentoring on the presentation of noodles according to culture, religion and ethical values; (2) training and mentoring on the benefits of using technology tools such as chicken meat milling machines and chili refining to make the noodle making process faster; (3) training and mentoring on Nyonyor Noodle Shop marketing using the internet (social media), so that people can order noodles online; (4) providing help with meat smoothing machines and plastic gloves for hygienic presentation; and (5) training and mentoring on the benefits of using cashiers and laptops/computers so that financial statements are transparent and accountable. The impact of this training and mentoring on nyonyor noodles is increasingly favored by the community and has the potential to increase partner income. Nyonyor Noodle sales increased by around Rp.510,000 to Rp.540,000/day or Rp186,150.00 to Rp197,100,000/year (70% to 80%) from earlier sales. Thus, increasing revenue through the nyonyor noodle business provides inspiration to the younger generation for entrepreneurship, thereby increasing the economy and income of the community.Keywords: Nyonyor noodles, management, marketing, technology, culture
Penggunaan Digital Marketing Dalam Pembangunan Desa Wisata Catur Kintamani, Bangli Junaedi, I Wayan Ruspendi; Rai Utama, I Gusti Bagus; Waruwu, Dermawan
Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK Vol. 5 No. 2 (2021): Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Dhyana Pura – Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.827 KB) | DOI: 10.36002/jpd.v5i2.1574

Abstract

ABSTRAKPermasalahan yang ditemukan bahwa (1) Belum tersedianya pusat informasi tempat wisata, (2) Belum terintegrasi wilayah untuk dapat dijadikan sebagai potensi wisata. (3) belum adanya pusat pembuatan konten menarik mengenai promosi budaya, produksi pertanian, dan wisata. (4) Belum ada pengelolaan digital marketing untuk desa wisata Catur Kintamani. Untuk mengatasi masalah tersebut, tujuan program PKM adalah sebagai berikut: (1). Sosialisasi potensi wisata dengan tersedianya informasi center, (2). Mengintegrisakan seluruh komponen potensi desa dalam satu program desa wisata, (3).Pembuatan media promosi (content) sebagai bahan digital marketing, dan (4). Pelatihan pemasaran digital sebagai bahan promosi kepada biro perjalanan dan calon wisatawan. Metode pelaksanaan Program PKM antara lain: sosialisasi awal, pendampingan, pelatihan, monitoring, evaluasi, dan keberlanjutan program, yang dilakukan oleh tim pengusul serta dibantu oleh tenaga ahli dan mahasiswa dari Universitas Dhyana Pura. Hasilnya adalah Desa Catur memiliki pengetahuan, keterampilan tentang (1). Adanya potensi wisata dengan tersedianya informasi center, (2). Ada integrasi seluruh komponen potensi desa dalam satu program desa wisata, (3). Ada media promosi (Website) sebagai bahan digital marketing, dan (4). Memiliki pengetahuan pemasaran digital sebagai bahan promosi. Tim pelaksana dan setiap kelompok melaporkan hasilnya dengan cara presentasi dan dokumentasi. Keberlanjutan dari program ini adalah masyarakat terus belajar dan tim PKM Undhira mendampingi kelompok dalam meningkatkan pengetahuannya untuk meningkatkan kesejahteraannya.Kata kunci: Desa Catur Kintamani, digital marketing, visitor center, wisata alam.ABSTRACTThe problem found that (1) The unavailability of tourist information centers, (2) Has not integrated the region to be used as a tourism potential. (3) There is no center for creating interesting content regarding cultural promotion, agricultural production, and tourism. (4) There is no digital marketing management for the Catur Kintamani tourist village. To solve the problem, the purpose of the PKM program is as follows: (1) Socialization of tourism potential with the availability of information centers, (2). Identify all components of the potential of the village in one tourist village program, (3). The creation of promotional media (content) as digital marketing material, and (4). Digital marketing training as promotional materials to travel agencies and prospective travelers. Methods of implementation of the PKM Program include: Initial socialization, mentoring, training, monitoring, evaluation, and sustainability of the program, which was carried out by the proposer team and assisted by experts and students from Dhyana Pura University. The result is that the Catur Village has knowledge, skills about (1). The existence of tourism potential with the availability of information centers, (2). There is integration of all potential components of the village in one tourist village program, (3) There is promotional media (Website) as digital marketing material, and (4). Have knowledge of digital marketing as a promotional material. The implementing team and each group report the results by means of presentation and documentation. The sustainability of this program is that the community continues to learn and the PKM Undhira team assists the group in increasing its knowledge to improve its well-being.Keywords: Kintamani Catur Village, Digital marketing, Visitor center, Nature Tourism.