Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe GQGA Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar IPAS pada Murid Kelas V SD Inpres Mattontongdare Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa Mukminah, Mukminah; Yunus, Muh; Iskandar, Arifuddin
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2025): July 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v4i2.5376

Abstract

This research is a classroom action research that aims to increase interest and learning outcomes of social studies through the application of a GQGA-type cooperative learning model in grade V students of SD Inpres Mattontongdare, West Bajeng District, Gowa Regency. The subject of this study is a grade V student of SD Inpres Mattontongdare in West Bajeng District, Gowa Regency with a total of 28 students, consisting of 14 male students and 14 female students. This research was carried out in two cycles, namely cycle I which was carried out 3 meetings (the first and second meetings for the learning process and the third meeting for the assessment of science and science learning outcomes) and cycle II was also carried out 3 meetings. The two cycles were carried out for 2 months plus summarizing all existing research results. The results of the study show that the application of the GQGA-type cooperative learning model has succeeded in significantly increasing students' interest in learning. In the first cycle, students' interest in learning was recorded to only reach 67%, but after the application of this model in the second cycle, students' interest in learning increased rapidly to 88%. This shows that the GQGA-type cooperative learning model is effective in arousing students' enthusiasm and involvement in the learning process, thereby increasing their motivation to learn better. The GQGA-type cooperative learning model has also proven to be very effective in improving student learning outcomes in science and science subjects. In the first cycle, only 61% of students achieved completeness, while 39% did not achieve completeness. However, in the second cycle, the number of students who did not complete dropped dramatically to only 7%, and the number of students who completed increased to 93%. This shows that the application of the GQGA-type cooperative learning model can help students understand the material better and achieve optimal results in social science learning.
IMPLIKASI PSIKOLOGIS POLA ASUH GRANDPARENTING TERHADAP PERKEMBNGAN ANAK (Studi Kasus Di Kabupaten Lombok Tengah) Mukminah, Mukminah; Hasanah, Uswatun
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 8, No 3 (2022): Jurnal Ilmiah Mandala Education (Agustus)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v8i3.3783

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana implikasi psikologis pada pola asuh grandparenting terhadap perkembangan anak. Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Lombok Tengah, metode penelitian menggunakan metode kualitatif studi kasus. Pola asuh grandparenting merupakan pengasuhan anak yang dilakukan oleh kakek dan nenek. Dari hasil penelitian bahwa pola asuh yang dilakukan oleh kakek/nenek (grandparenting) berdapak pada Pola pengasuhan grandparenting menimbulkan beberapa permasalahan pada anak yakni: 1) anak merasa kurang dicintai, 2) tanda kelemahan pada orang tua, 3) anak dapat berontak apabila tidak merasa terpenuhi kebutuhannya, 4) tidak peduli dan selalu melawan, 5) susah diajak bekerjasama dan dikontrol, 6) orang tua tidak berdaya, 7) anak kurang percaya diri, dan 8) prestasi kurang baik. Tidak hanya itu Akibat dari pola asuh seperti ini berakibat pada tumbuhnya perilaku menyimpang ketika kebutuhan remaja kurang terpenuhi, seperti: sering diacuhkan oleh keluarga semasa kecilnya, selain itu adapun dampak psikologis anak dalam penelitian ini didasarkan gejala dari gangguan tersebut berdasarkan pada beberapa hal yaitu pengulangan peristiwa traumatik, penghindaran, serta simptom-simptom yang menetap dampak psikologis yang dapat dialami oleh anak antara lain negatif, agresif serta mudah frustrasi; pasif dan apatis; tidak mempunyai kepribadian sendiri dan tidak patuh kepada orang tua; tidak mampu menghargai dirinya sendiri; sulit menjalin relasi dengan individu lain; sampai timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri.
Dampak Covid-19 Terhadap Implementasi Pembelajaran Daring Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman Ujan Rintis Mukminah, Mukminah; Haryadi, Herjan
Indonesian Journal of Education Research and Technology (IJERT) Vol 1 No 1 (2021): Indonesian Journal of Education Research and Technology (IJERT)
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran yang digunakan pada masa pandemi Covid-19 ini adalah pembelajaran daring. Pembelajaran daring merupakan pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran. Dengan pembelajaran daring, siswa memiliki keleluasaan waktu belajar, dapat belajar kapanpun dan dimanapun. Adapun solusi pembelajaran yang ditawarkan pada masa pandemi Covid-19 di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman Ujan Rintis adalah pembelajaran daring. Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui sejauhmana implementasi pembelajaran daring pada mata pelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman Ujan Rintis, untuk mengetahui apakah pembelajaran daring pada mata pelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman Ujan Rintis bisa dilakukan dengan baik dan efektif, dan untuk mengetahui bagaimana dampak pembelajaran daring IPA di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman Ujan Rintis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Tahapan penelitian yang digunakan: Reduksi data, display data, dan penrikan dan verifikasi kesimpulan. Dari hasil pengumpulan data melalui penyebaran google form, akses internet, dan wawancara via telpon dengan siswa kelas V MI Nurul Iman menyatakan 21% setuju dengan penerapan pembelajaran daring, 65% Tidak setuju dengan penerapan pembelajaran daring, dan 14% menyatakan ragu dengan pelaksanaan pembelajaran daring. Penerapan pembelajaran daring dirasakan kurang efektif, peserta didik mengalami kesulitan memahami materi melalui pembelajaran daring, ini disebabkan karena sulitnya interaksi secara langsung antara guru dan peserta didik, peserta didik cepat merasa bosan, sumber daya manusia yang belum siap terhadap pembelajaran daring, dan ketersediaan sarana dan prasarana yang kurang memadai.
Peran Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika Mukminah, Mukminah; Hirlan, Hirlan; Hasanah, Miswatun
Indonesian Journal of Education Research and Technology (IJERT) Vol 4 No 1 (2024): Indonesian Journal of Education Research and Technology (IJERT)
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/ijert.v4i1.578

Abstract

Kesulitan belajar matematika siswa diketahui dari nilai siswa yang masih dibawah rata-rata, siswa tidak dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, masih kesulitan menyelesaikan dalam menjawab soal sehingga menunjukkan bahwa siswa belum menguasai materi yang diberikan oleh guru. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kesulitan belajar matematika siswa kelas IV di sekolah X serta peran guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, subjek pada penelitian ini adalah guru dan siswa sedangkan objek pada penelitian ini adalah peran guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, display data, dan conclusion drawing. Kesulitan belajar matematika siswa kelas IV SD di sekolah X disebabkan karena siswa memiliki karakter yang berbeda-beda diantaranya adalah kesulitan memahami simbol matematika, kesulitan dalam perhitungan dan kesulitan memahami maksud soal. Peran guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika siswa Guru sebagai fasilitator, pengelola, motivator, dan evaluator.
Resistance of Lokal, Kara, and Dewata Varieties of Cayenne Pepper (Capsicum Anuum) in Waterlogging Conditions Iemaaniah, Zuhdiyah Matienatul; Mahrup, Mahrup; Susilowat, Lolita Endang; Kusnarta, IGM; Fahrudin, Fahrudin; Shakila, Nur Asri; Mukminah, Mukminah
Biofarm : Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 20 No. 1 (2024): BIOFARM JURNAL ILMIAH PERTANIAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/biofarm.v20i1.3910

Abstract

Cayenne pepper is one of the basic commodities and has high economic value. Chili contains capsaicin which gives spicy taste that suitable in various Indonesian food. The high demand of chilies means that this commodity often experiences high selling prices at certain times, especially during the rainy season. The demand that continues to be needed by the community creates great opportunity for chili farmers to continue providing chili on the market. As a plant that can grow well in tropical areas, including Indonesia, chili plants can grow well outside the rainy season. On the other hand, the vertisol soil type, which expands and contracts, requires strong chili plant roots. The rainy season causes plant roots to rot quickly due to waterlogged conditions and plants are easily attacked by pests and diseases. In anticipating failed chili harvest, farmers need planting strategy and selecting quality chili seeds, they can adapt to various environmental conditions. This research was carried out in Sukadana Village using Randomized Block Design field trial method by planting three varieties of chili to find out which variety is most adaptive to waterlogging conditions. The results of the research show that lokal varieties of chili are the most adaptive and resistant to waterlogging conditions.
Integrasi Pembelajaran Kolaboratif untuk Penguatan Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pendidikan IPA Mukminah, Mukminah; Hirlan, Hirlan
MANDALA WIDYA: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 1 No. 1: MANDALA WIDYA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Agustus 2025
Publisher : CV. Global Cendekia Inti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71094/mandalawidya.v1i1.3

Abstract

Mastery of critical thinking skills is one of the primary demands of 21st-century education, including in science subjects, which emphasize scientific processes and evidence-based problem solving. However, classroom practices in schools often remain focused on rote memorization of concepts, limiting students' opportunities to develop higher-order thinking skills. This article aims to theoretically examine the relationship between collaborative learning models and the development of critical thinking skills within the context of science education. The review was conducted through a literature analysis of various relevant studies and theoretical frameworks. The analysis reveals that collaborative learning—which emphasizes social interaction, idea exchange, and the collective construction of knowledge—significantly contributes to the development of students’ critical thinking abilities. Models such as Problem-Based Learning, Discovery Learning, Guided Inquiry, and Jigsaw have been shown to encourage students to pose questions, construct arguments, evaluate information, and draw logical conclusions. The integration of additional strategies, such as the use of mind mapping and digital technologies, further enhances the effectiveness of collaboration in improving the quality of science learning. Therefore, collaborative learning can be positioned as a strategic pedagogical approach for enhancing students’ critical thinking skills. This article recommends the systematic implementation of collaborative models in science education, supported by technology integration and strengthened teacher competencies, in order to foster a generation that is critical, reflective, and adaptive to the challenges of the 21st century.
Sosialisasi Membangun Batasan Diri (Self-Boundaries) pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Mukminah, Mukminah; Hirlan, Hirlan
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/km5bmf61

Abstract

Pendidikan seksual yang minim pada tingkat sekolah dasar meningkatkan kerentanan anak terhadap pelecehan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan edukasi batasan diri (self-boundaries) kepada siswa SDN 1 Sengkerang guna meminimalisir risiko perlakuan negatif. Metode yang digunakan adalah sosialisasi interaktif berbasis teori psikoseksual Sigmund Freud, yang difokuskan pada fase laten (usia 6–12 tahun) di mana energi psikis anak dialihkan pada pengembangan sosial dan moral. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan konkret pada pemahaman siswa; mereka kini mampu mengidentifikasi empat area tubuh pribadi yang bersifat rahasia serta secara tegas membedakan antara sentuhan aman dan sentuhan tidak aman. Dampak langsung terlihat saat siswa mampu mempraktikkan respons protektif, seperti berteriak "tidak" dan segera melapor saat simulasi situasi mencurigakan dilakukan. Pendekatan ini terbukti efektif karena selaras dengan tahap perkembangan psikologis siswa yang mengutamakan penguatan norma sosial. Sebagai rekomendasi, pihak sekolah perlu mengintegrasikan materi batasan diri ini ke dalam kurikulum bimbingan konseling secara berkala dan memperkuat kolaborasi dengan orang tua untuk memastikan lingkungan perlindungan anak yang berkelanjutan. Socialization of Building Self-Boundaries in Public Elementary School Students  Minimal sexual education at the primary school level increases children's vulnerability to abuse. This service activity aims to provide self-boundaries education to SDN 1 Sengkerang students to minimize the risk of negative treatment. The method used is interactive socialization based on Sigmund Freud's psychosexual theory, which focuses on the latent phase (age 6–12 years) in which the child's psychic energy is diverted to social and moral development. The results of the activity show concrete changes in student understanding; They are now able to identify four confidential areas of the private body and clearly distinguish between safe touch and unsafe touch. The immediate impact is seen when students are able to practice protective responses, such as shouting "no" and immediately reporting when simulating a suspicious situation is carried out. This approach has proven to be effective because it is in line with the stages of students' psychological development that prioritizes strengthening social norms. As a recommendation, schools need to integrate this self-restraint material into the counseling guidance curriculum on a regular basis and strengthen collaboration with parents to ensure a sustainable child protection environment.
Pergeseran Nilai Edukasi dalam Tradisi Nyongkolan: Antara Ekspresi Budaya dan Komodifikasi Konten Digital Hirlan, Hirlan; Mukminah, Mukminah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6793

Abstract

Tradisi Nyongkolan di Lombok, yang secara substansial berfungsi sebagai i’lanun nikah ‎dalam Islam, kini bertransformasi menjadi panggung konten digital. Penelitian ini bertujuan ‎menganalisis pergeseran nilai edukasi Islam akibat komodifikasi digital yang mengubah esensi ‎pendidikan moral menjadi sekadar hiburan visual demi viralitas. Fenomena ini menciptakan ‎ketegangan antara pelestarian budaya murni dengan tuntutan pasar media sosial yang ‎seringkali dangkal.‎ Menggunakan pendekatan kualitatif etnografi digital, penelitian dilaksanakan di Lombok ‎Timur dan Tengah. Data dihimpun melalui observasi partisipatif, dokumentasi konten viral, ‎serta wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh adat, konten kreator, dan generasi ‎muda. Analisis data mengikuti model interaktif untuk menjamin keabsahan temuan melalui ‎triangulasi sumber.‎ Hasil penelitian menunjukkan degradasi akhlakul karimah dan adab al-ijtima’ yang signifikan. ‎Dominasi musik kecimol dengan lirik tidak pantas melanggar prinsip hifzhul lisan. ‎Komodifikasi digital memicu perilaku riya’ dan narsisme berlebihan demi engagement media ‎sosial, yang merusak sakralitas pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha. Pelanggaran konsep ‎muru’ah juga ditemukan pada modifikasi busana adat yang mengabaikan kaidah menutup ‎aurat. Akibatnya, filosofi Sasak mengalami keretakan akibat rendahnya literasi digital ‎masyarakat.‎ Penelitian menyimpulkan pentingnya pendidikan Islam sebagai filter kritis melalui penguatan ‎literasi budaya. Diperlukan regulasi etis dan sinergi kolektif untuk merevitalisasi nilai edukasi ‎agar tradisi tidak hanya menjadi komoditas. Integrasi kearifan lokal dalam kurikulum ‎pendidikan formal krusial untuk membentengi identitas Muslim Sasak. Transformasi digital ‎harus diarahkan menjadi sarana dakwah kultural yang tetap menjaga harmoni, kesalehan ‎sosial, serta keluhuran nilai ketuhanan yang diberkahi bagi keberlangsungan eksistensi ‎generasi masa depan.‎.