Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Kepatuhan Injeksi Insulin Terhadap Penurunan Kadar HbA1c Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Husada Bandar Lampung Anisa, Putri; Sjahriani, Tessa; Ladyani, Festy; Sahara, Nita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 11 (2024): Volume 11 Nomor 11
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i11.17283

Abstract

Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan metabolik glukosa yang mana tubuh tidak dapat atau kurang baik dalam mengontrol glukosa yang masuk dari makanan sehingga kadar gula darah tinggi. Pemeriksaan yang diharapkan dapat merepresentasikan status glikemik jangka panjang pada penderita diabetes melitus adalah dengan mengukur kadar HbA1c. Ketidakpatuhan pengobatan dapat berakibat penyakit tidak kunjung sembuh, semakin parah, maupun mengalami efek samping, dan biaya terapi menjadi tidak efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan injeksi insulin terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Husada Bandar Lampung tahun 2024. Metode penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Husada Bandar Lampung yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 81 orang. Data kepatuhan injeksi insulin diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan data penurunan kadar HbA1c diperoleh dari data rekam medik. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 55 orang (67.9%) yang memiliki tingkat kepatuhan injeksi insulin terdapat 50 orang (61.7%) mengalami penurunan kadar HbA1c dan 5 orang (6.2%) tidak mengalami penurunan kadar HbA1c. Sedangkan sebanyak 26 orang (32.1%) yang tidak patuh terhadap injeksi insulin, sebagian besar tidak mengalami penurunan kadar HbA1c. Didapatkan distribusi tentang usia, jenis kelamin, kepatuhan injeksi insulin dan penurunan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Husada Bandar Lampung tahun 2024.
UJI DIAGNOSTIK SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS PEMERIKSAAN FNAB DENGAN HISTOPATOLOGI SEBAGAI BAKU STANDAR DALAM MENDIAGNOSIS IBC (Invasive Breast Carcinoma) DI RSAM TAHUN 2022 Sofyan, Muhammad Kholid; Sahara, Nita; Triswanti, Nia; Arania, Resti
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 2 No. 3 (2023): AGUSTUS 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sjkt.v2i3.18380

Abstract

Kanker payudara atau disebut juga dengan Karsinoma Mammae adalah tumor (benjolan abnormal) ganas yang tumbuh dalam jaringan payudara. Tumor ini dapat tumbuh dalam kelenjar susu, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara (jaringan lemak, maupun jaringan ikat payudara). Tumor ini dapat menyebar keseluruh tubuh. Penyebaran tersebut disebut dengan metastase. Diketahui uji diagnostik sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan FNAB dengan Histopatologi sebagai baku standar dalam mendiagnosis IBC (Invasive Breast Carcinoma) Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2022. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik komparatif yang artinya survey atau penelitian yang diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi. Pendekatan waktu yang digunakan untuk penelitian ini adalah cross sectional.Sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan FNAB pada penelitian ini menunjukkan hasil sebesar 96.6% dan spesifisitas didapatkan hasil sebesar 100.0%, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan sensitivitas FNAB dalam mendiagnosis adanya penyakit/tumor ganas menunjukkan hasil yang sangat baik dan berdasarkan hasil kemampuan spesifisitas FNAB dalam mendiagnosis subjek tidak sakit/tumor jinak pada payudara menunjukkan hasil yang baik. Diketahui uji diagnostik sensitivisitas dan spesifisitas pemeriksaan FNAB terhadap histopatologi yang digunakan sebagai gold standard yang dilakukan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan FNAB memiliki nilai sensitivitas 96.6%, dan spesifisitas 100,0%. Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan FNAB memiliki nilai diagnostik yang baik untuk mendiagnosis kanker payudara
Hubungan Kejadian Benign Prostatic Hyperplasia Dengan Gambaran Derajat Keparahan Histopatologi Prostatitis Di Rumah Sakit Bintang Amin Shakira, Dina; Sahara, Nita; Detty, Ade Utia; Arania, Resti
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.20400

Abstract

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan kondisi umum yang menyerang pria lanjut usia dan ditandai dengan pembesaran jinak pada prostat. Pembesaran ini dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih dan memicu peradangan, berujung pada prostatitis. Hubungan antara BPH dan derajat keparahan prostatitis penting untuk dikaji secara histopatologis. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara kejadian BPH dengan gambaran derajat keparahan histopatologi prostatitis di Rumah Sakit Bintang Amin tahun 2024. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 126 pasien diambil melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil dari 126 responden BPH didapatkan 117 responden (92,9%) terdiagnosis BPH, dan 9 responden (7,1%) terdiagnosis tidak BPH melainkan adenokarsinoma prostat. Pada pasien BPH, derajat keparahan histopatologi prostatitis terdiri atas 12 responden derajat 1 (mild), 88 responden derajat 2 (moderate), dan 17 responden derajat 3 (severe). Sementara itu, pada pasien tidak BPH ditemukan 5 responden derajat 1, 3 responden derajat 2, dan 1 responden derajat 3. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05) dan Odds Ratio (OR) sebesar 10,938 (95% CI: 2,581–46,535), yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian BPH dan derajat keparahan histopatologi prostatitis. Terdapat hubungan bermakna antara BPH dan derajat keparahan histopatologi prostatitis di Rumah Sakit Bintang Amin.
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2024 APRIALDY, M.RIZKY; Sahara, Nita; Sani, Nopi; Wiratmoko, Wien
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i7.20390

Abstract

Abstract: : Factors Associated with the Incidence of Benign Prostatic Hyperplasia at Bintang Amin Hospital, Bandar Lampung in 2024. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) is a non-cancerous enlargement of the prostate that is frequently observed in men, particularly as they get older. In Indonesia, the prevalence of BPH is 20% among men aged 41 to 50 years, rising to 50% among those aged 51 to 60 years, and reaching 90% in men over 80 years old. Factors such as age, diabetes mellitus, and obesity are known to play a role in the development of BPH. This research aims to assess the incidence of BPH and the factors influencing its occurrence at Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2024. The study used a cross-sectional design with an observational analytical method. Data were gathered from the medical records of patients diagnosed with BPH in 2024. Out of 144 samples analyzed, 117 (81.2%) patients were aged 50 or older, 93 (64.6%) were obese, and 117 (81.2%) had a history of diabetes mellitus, with 111 (77.1%) diagnosed with BPH through histopathological analysis. The bivariate analysis revealed a significant association between age (p = 0.000) and diabetes mellitus (p = 0.000) with the occurrence of BPH. However, no significant relationship was found between obesity and BPH (p = 1.000). These findings suggest that age and diabetes mellitus are significantly associated with BPH, while obesity does not show a significant correlation.Keywords: Benign Prostatic Hyperplasia, Diabetes Mellitus, Obesity, Prostate, Age.Abstrak: Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2024. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran prostat yang tidak bersifat kanker, yang umumnya terjadi pada pria, terutama seiring bertambahnya usia. Di Indonesia, prevalensi BPH tercatat sebesar 20% pada pria berusia 41 hingga 50 tahun, meningkat menjadi 50% pada pria usia 51 hingga 60 tahun, dan mencapai 90% pada pria di atas usia 80 tahun. Faktor-faktor seperti usia, diabetes melitus, dan obesitas diketahui dapat memengaruhi terjadinya BPH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian BPH dan faktor-faktor yang memengaruhi kejadian BPH di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung pada tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan analitik observasional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien yang telah didiagnosis dengan BPH pada tahun 2024. Dari 144 sampel yang dianalisis, ditemukan 117 (81,2%) pasien berusia ≥50 tahun, 93 (64,6%) pasien menderita obesitas, dan 117 (81,2%) pasien memiliki riwayat diabetes melitus, dengan 111 (77,1%) pasien didiagnosis BPH berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia (p=0,000) dan diabetes melitus (p=0,000) dengan kejadian BPH. Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara obesitas dan kejadian BPH (p=1,000). Hasil ini menunjukkan bahwa usia dan diabetes melitus memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian BPH, sementara obesitas tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.Kata kunci: Benign Prostatic Hyperplasia, Diabetes Melitus, Obesitas, Prostat, Usia
Hubungan Derajat Tumor Infiltrating Lymphocytes Stroma Dengan Skoring International Prostate Symptom Score Pada Benign Prostatic Hyperplasia Di Rumah Sakit Bintang Amin Ramadhan, Moch. Fajar Akbar; Sahara, Nita; Dalfian, Dalfian; Wiratmoko, Wien
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 10 (2025): Volume 12 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i10.20415

Abstract

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah suatu kondisi yang paling sering menyerang pria berusia lanjut ditandai adanya pertumbuhan yang sangat cepat pada epitel prosat dan daerah transisi jaringan fibromuscular sehingga muncul respon imun yaitu TILs yang dapat menghambat pertumbuhan tumor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara derajat tumor infiltrating lymphocytes stroma dengan derajat keparahan benign prostatic hyperplasia . Desain  analitik  observasional  dengan  pendekatan  cross-sectional.  Sampel berjumlah 168 orang merupakan pasien BPH yang menjalani TURP di Rumah Sakit Bintang Amin pada tahun 2024. Data derajat keparahan BPH diperoleh melalui rekam medis. Dan data derajat TILs diperoleh melalui analisis slide histopatologi pasien BPH. Analisis statistik menggunakan korelasi Chi-square untuk menilai hubungan antara derajat TILs dengan derajat keparahan BPH. Skoring IPSS pada BPH didapatkan 16 (9.6%) pasien masuk kedalam derajat ringan, 120 (71.4%) derajat sedang, dan 32 (19.0%) derajat berat. Hasil penelitian ini diketahui nilai P-Value sebesar 0.300 (p-value > 0.05) sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel derajat Tumor Infiltrating Lymphocytes Stroma dan variabel skoring IPSS pada Benign Prostatic Hyperplasia.
Faktor-Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Nephrolithiasis DI RSUD DR. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Gusna, Abdillah Daniel; Hasbie, Neno Fitriyani; Dalfian, Dalfian; Sahara, Nita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2025): Volume 12 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i1.16518

Abstract

Nephrolithiasis atau batu ginjal, adalah penyakit ginjal di mana ditemukan batu yang mengandung komponen kristal dan matriks organik dan merupakan penyebab paling umum dari kelainan saluran kemih. Lokasi khas batu ginjal adalah kelopak atau panggul. Bila prolaps menyumbat daerah ureter (batu ureter) dan kandung kemih (batu kandung kemih). Beberapa faktor  dapat meningkatkan risiko batu ginjal, seperti usia, jenis kelamin, genetika, asupan makanan dan air, dan faktor-faktor tersebut berperan penting dalam perkembangan batu ginjal. Terdapat bukti bahwa asupan kalsium, oksalat, dan  asupan cairan yang berlebihan dapat meningkatkan pembentukan batu. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko yang terkait dengan perkembangan nefrolitiasis di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung, 2023. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pelaksanaan penelitian ini pada bulan April di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Subjek penelitian dikumpulkan dari data rekam medik yang terdiagnosa Nephrolithiasis sebanyak 157 orang dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini didapatkan beberapa hasil yaitu (1) terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian Nephrolithiasis pada p-value  0,016, (2) terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian Nephrolithiasis pada p-value  0,029, (3) terdapat hubungan yang bermakna antara jenis pekerjaan dengan kejadian Nephrolithiasis pada p-value  0,001, (4) terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian Nephrolithiasis pada p-value  0,011.
Hubungan Ukuran dengan Staging Tumor berdasarkan Kedalaman Invasi Pasien Karsinoma Kolorektal Pasca Laparotomi di RSUD Jenderal Ahmad Yani (RSAY) Lampung Safiyra, Cut Lailan; Sahara, Nita; Sani, Nopi; Arania, Resti
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 6 (2024): Volume 11 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i6.15225

Abstract

Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan keganasan yang berasal dari jaringan usus besar. Sistem penentuan stadium tumor-nodul-metastasis (TNM), dianggap sebagai gold standard untuk berbagai jenis kanker, banyak digunakan untuk mengevaluasi prognosis pasien dengan penyakit ganas. Ukuran tumor, yang didefinisikan sebagai diameter horizontal maksimal, umumnya dianggap berhubungan negatif dengan prognosis pada banyak tumor padat, termasuk KKR. American Joint Committee on Cancer sampai saat ini belum memasukkan ukuran tumor sebagai penentu staging maupun prognostik dari KKR. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan ukuran dengan staging tumor berdasarkan kedalaman invasi pasien KKR pasca laparotomi di RSAY Lampung. Penelitian bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional retrospektif menggunakan rekam medik tahun 2020-2023. Sampel sebanyak 77 responden memenuhi kriteria, terdapat 43 pasien dengan ukuran tumor <3,75 cm dan 34 pasien dengan ukuran tumor ≥3,75 cm. Mayoritas pasien berada pada stadium awal yaitu sebanyak 46 pasien dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara  Ukuran dengan Staging Tumor Berdasarkan Kedalaman Invasi Pasien Karsinoma Kolorektal  Pasca Laparotomi di RSUD Jenderal Ahmad Yani (RSAY) Lampung dengan p-value 0,817 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara Ukuran dengan Staging Tumor berdasarkan kedalaman invasi pasien karsinoma kolorektal pasca  laparotomi di RSUD Jenderal Ahmad Yani (RSAY) Lampung dengan p-value sebesar 0,817 lebih besar dari nilai alpha (0,05). Ukuran tumor pada jenis kanker padat seperti KKR tidak dapat menjadi acuan untuk menentukan stadium. Penting untuk menjalani screening secara rutin dan menjaga pola hidup untuk mengurangi risiko KKR.
Hubungan Faktor Usia Dan Indeks Masa Tubuh Dengan Tipe Molekuler Kanker Payudarainvasif Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Arania, Resti; Wibowo, Purwo Abdi; Triswanti, Nia; Sahara, Nita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 12 (2025): Volume 12 Nomor 12
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i12.20577

Abstract

Kanker payudara invasif merupakan masalah kesehatan global dengan variasi karakteristik molekuler yang memengaruhi prognosis dan tatalaksana. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan usia dan indeks massa tubuh (IMT) dengan subtipe molekuler kanker payudara invasif. Studi analitik observasional cross-sectional dilakukan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung pada 176 pasien kanker payudara invasif yang menjalani pemeriksaan imunohistokimia tahun 2024. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan signifikansi α=5%. Hasil menunjukkan insiden kanker payudara invasif sebanyak 192 kasus. Profil pasien didominasi kelompok usia ≥40 tahun (75%; rerata usia 51 tahun) dan obesitas (42.6%; rerata IMT 23.99). Distribusi subtipe molekuler tertinggi pada Luminal B (62.5%), diikuti Luminal A (14.2%), HER2 (11.9%), dan TNBC (11.4%). Analisis statistik mengungkap hubungan signifikan antara usia dengan tipe molekuler (p 0.001), di mana usia ≥40 tahun berasosiasi dengan Luminal B (95.5%), sedangkan usia 40 tahun lebih banyak HER2 (85.7%) dan TNBC (70%). Hubungan bermakna juga ditemukan antara IMT dengan tipe molekuler (p = 0.012), dengan proporsi tertinggi Luminal B pada obesitas (43.6%). Penelitian menyimpulkan bahwa usia dan obesitas merupakan faktor determinan penting dalam karakterisasi molekuler kanker payudara invasif. Temuan ini merekomendasikan integrasi analisis usia dan status metabolik dalam strategi diagnosis dan terapi personalisasi.
Karakteristik Pasien Kanker Payudara Di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung Salsabila, Nadia; Utami, Deviani; Anggunan, Anggunan; Sahara, Nita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 12 (2025): Volume 12 Nomor 12
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i12.24083

Abstract

Kanker payudara tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan 396.914 kasus kanker baru dan 234.511 kematian terkait kanker yang dilaporkan. Sekitar 70% kasus kanker payudara didiagnosis pada stadium lanjut, sebagian besar karena keterlambatan perilaku mencari perawatan kesehatan dan rendahnya kesadaran akan tanda-tanda peringatan dini. Diagnosis stadium lanjut menyebabkan pengobatan yang lebih kompleks, biaya yang lebih tinggi, dan prognosis yang lebih buruk. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien kanker payudara di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung pada tahun 2025. Studi deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada bulan April 2025. Sebanyak 155 pasien dipilih menggunakan pengambilan sampel acak. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif (univariat). Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berusia ≥50 tahun, memiliki riwayat keluarga kanker payudara, tidak menyusui, didiagnosis pada stadium III, menerima kombinasi operasi dan kemoterapi, dan memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal. Kesimpulannya, pasien kanker payudara di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung sebagian besar adalah wanita lanjut usia dengan berbagai karakteristik risiko yang telah diketahui dan umumnya didiagnosis pada stadium lanjut. Temuan ini menyoroti pentingnya memperkuat program deteksi dini dan pendidikan kesehatan untuk mengurangi diagnosis pada stadium lanjut.
Clinical Identification and Management of Hypertension in a Primary Care Setting at Segala Mider Public Health Center Sahara, Nita; Hasan, Destriana; Alwaliu, A Fatwa; Farhan, Achmad; Sardi, Adelia Putri; Adelia, Adis; Pratama, Ady Wahyu
Biomedical Research and Theory Letters Vol. 1 No. 2 (2025): Biomedical Research and Theory Letters
Publisher : CV. FOUNDAE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/brtl.v1i2.79

Abstract

Hypertension remains a major global health challenge and a leading contributor to cardiovascular morbidity and mortality. Its asymptomatic nature causes many individuals to remain undiagnosed, increasing the risk of severe complications such as stroke, coronary artery disease, and renal impairment. Despite advancements in diagnostic and therapeutic approaches, hypertension awareness and treatment adherence remain low, particularly in primary care settings where early detection is crucial. This study describes the clinical identification and management process of a hypertensive adult patient at Segala Mider Public Health Center as an illustration of the essential role of primary healthcare services in improving hypertension control at the community level. Clinical data were collected through patient interviews, vital sign assessment, physical examination, and review of medical records. The patient, a 42-year-old male, presented with recurrent dizziness triggered by physical activity and consumption of sweet foods. Initial evaluation showed severely elevated blood pressure at 164/122 mmHg with otherwise normal cardiopulmonary findings. The patient had previously been taking amlodipine 5 mg daily with suboptimal response. Management involved titration of amlodipine to 10 mg daily for 15 days, accompanied by short-term furosemide therapy and vitamin B complex supplementation. The intervention produced symptomatic improvement and facilitated better blood pressure control during follow-up. The findings highlight the importance of timely recognition of uncontrolled hypertension, appropriate pharmacological adjustment, and continuous monitoring. This report emphasizes the relevance of primary care in initiating evidence-based treatment, identifying modifiable risk factors, and ensuring patient education regarding lifestyle modification. The novelty of this study lies in demonstrating how structured evaluation and treatment optimization in a resource-limited primary care setting can effectively support hypertension control while preventing long-term complications, reinforcing the vital role of frontline healthcare facilities in managing chronic diseases.