Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pernikahan Tanpa Izin di Lingkungan Militer: Analisis Yuridis Pertimbangan Hakim pada Kasus Pidana Militer Nomor 143 K/MIL/2016 Ali, Nuraliah; januardy, ivans; Farina, Thea; Sibot, Yessiarie Silvany; Nugraha, Satriya
Palangka Law Review Vol. 4 No. 1 (2024): VOLUME 4, ISSUE 1, MARET 2024
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/palarev.v4i1.13634

Abstract

Marriage without permission in the military environment is a serious violation that can disrupt discipline, operational efficiency, and the morale of soldiers. This study aims to analyze Indonesian military law concerning unauthorized marriages, focusing on Military Criminal Case Number 143 K/MIL/2016 involving a TNI AL soldier. The research examines unauthorized marriages within the military context. It employs a descriptive-analytical approach by analyzing Indonesian military law regarding marriage permissions and a concrete case of unauthorized marriage by a TNI AL soldier. The results indicate that in this case, the defendant, who married without permission, was charged with violating Article 279, Paragraph (1) of the Indonesian Criminal Code. Although a 7-month imprisonment sentence was imposed, this decision raises questions about the appropriateness and effectiveness of the sanctions in preventing unauthorized marriages. The study's implications highlight the need for broader regulations governing marriage permissions in the military to more effectively address this issue. The research concludes that unauthorized marriages remain a significant issue that needs to be addressed seriously within the military environment.
A Legal Review of Mediations That Appear to be Successful But end in Failure Berto Siagian, Christian Lasro; Hayati, Mulida; Ali, Nuraliah
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 1 (2025): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i1.43694

Abstract

Mediation has become one of the increasingly popular dispute resolution methods in the modern legal system because it is considered a faster, more efficient, and more cost-effective solution than litigation. However, the success of mediation cannot always be guaranteed. Some cases show that mediation, which seemed to work well at first, ended without reaching a binding agreement. This study aims to analyze the causes of mediation failures that seem to be successful but end up failing. The research method used is a qualitative approach, with data collection through literature studies. After the data is collected, the analysis is carried out through the process of filtering, presenting information, and drawing conclusions. The results of the study revealed several main factors that led to mediation failure, including unclear or unrealistic agreements, excessively high expectations from one or both parties, external influences that interfere with the mediation process, and limitations of mediators in skills and neutrality. This study emphasizes the importance of a deep understanding of the factors that cause failure as well as appropriate preventive efforts to improve the success of mediation and reach mutually beneficial agreements.
Tindak Pidana Penipuan Pada Bidang Perbankan Dengan Menggunakan Teknik Social Engineering and Trickery Andika, Prasta Rully; Ali, Nuraliah; Sangalang, Rizki Setyobowo
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 8 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i8.50987

Abstract

Social Engineering adalah ancaman serius dalam keamanan jaringan karena menyerang manusia sebagai target utama. Teknik ini memanipulasi korban untuk mendapatkan informasi sensitif, yang dalam perbankan dapat menyebabkan kerugian finansial dan merusak reputasi. Nasabah harus waspada dan tidak memberikan informasi pribadi kepada pihak yang tidak sah. Penipuan dengan Social Engineering semakin kompleks di Indonesia, menggunakan metode seperti phishing, pemalsuan identitas, dan penipuan sosial. Dalam hukum pidana, tindakan ini dapat dijerat dengan Pasal 378 KUHP yang mengatur tindak pidana penipuan, dengan ancaman hukuman penjara dan denda. Penelitian ini mengkaji pertanggungjawaban pidana atas penipuan nasabah perbankan menggunakan pendekatan normatif, konsep, dan peraturan perundang-undangan. Pengaturan dan pengawasan di sektor keuangan perlu diperkuat untuk mencegah kejahatan ini. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku harus ditingkatkan agar memberikan efek jera. Perlindungan nasabah juga harus diperkuat melalui regulasi yang memastikan hak-hak mereka serta mekanisme penyelesaian sengketa yang cepat dan adil. Dengan langkah ini, diharapkan keamanan perbankan semakin kuat dalam menghadapi ancaman social engineering.
The Notary's Right of Refusal in Examination: Study of Judicial Consideration of Decision Number 1003 K/PID/2015 Farina, Thea; Ali, Nuraliah; Ruzian Markom
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 1, June 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i1.1739

Abstract

ABSTRACT Objective: This research was conducted to present considerations to the judge regarding the notary's right of refusal in the case of an examination (Study on Case Decision Number 1003 K/PID/2015) and the consequences related to the notary's right utilization according to the law on the notary's office and code of ethics in Indonesia. Methodology: This research adopted normative juridical law research, employing statute and case approaches. The materials obtained from the research findings were systematically collected and classified according to the subject matter and then qualitatively analyzed. Results: This research emphasized that the right of refusal in the position of a notary is contained in the notary oath of office, which prohibits disseminating the contents of the data. Regarding the consequences of the notary refusal, the notary will be discharged from witness obligations or a general testimony for the release of the notary from various demands related to all parties' interests. Applications of this study: The study provides a reference conceptualized into norms that can be accepted and implemented in society and become a moral guideline regarding the notary's right of refusal in the case of an examination. Novelty/Originality: This research concerns the notary's right of refusal in the examination context and its consequences. This study focuses on the judge's consideration investigation and its relation to the law on notary office and the notary code of ethics, which are relatively uncommon in Indonesia.  Keywords: Notary, Right of Refusal, Law on Notary Office, Code of Ethics   ABSTRAK  Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk memberikan pertimbangan kepada hakim mengenai hak ingkar notaris dalam perkara pemeriksaan (Studi Putusan Perkara Nomor 1003 K/PID/2015) dan akibat yang terkait dengan penggunaan hak notaris menurut hukum tentang jabatan notaris dan kode etik di Indonesia. Metodologi: Penelitian ini menggunakan penelitian hukum yuridis normatif, dengan pendekatan undang-undang dan kasus. Bahan-bahan yang diperoleh dari temuan penelitian dikumpulkan secara sistematis dan diklasifikasikan menurut pokok bahasan kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil: Penelitian ini menegaskan bahwa hak ingkar jabatan notaris tertuang dalam sumpah jabatan notaris yang melarang penyebarluasan isi data. Mengenai akibat penolakan notaris tersebut, notaris akan dibebaskan dari kewajiban saksi atau keterangan umum untuk pembebasan notaris dari berbagai tuntutan yang berkaitan dengan kepentingan semua pihak. Aplikasi penelitian: Kajian ini memberikan acuan yang dikonseptualisasikan ke dalam norma-norma yang dapat diterima dan dilaksanakan di masyarakat serta menjadi pedoman moral mengenai hak ingkar notaris dalam hal pemeriksaan. Kebaruan/Orisinalitas: Penelitian ini menyangkut hak ingkar notaris dalam konteks pemeriksaan dan akibatnya. Kajian ini berfokus pada pemeriksaan pertimbangan hakim dan kaitannya dengan undang-undang jabatan notaris dan kode etik notaris yang relatif jarang ditemui di Indonesia. Kata kunci: Notaris, Hak Menolak, UU Jabatan Notaris, Kode Etik
SENGKETA JUAL BELI TANAH BERSTATUS SURAT KETERANGAN TANAH: KEDUDUKAN HUKUM DAN PENYELESAIANNYA DALAM REGULASI HUKUM POSITIF DAN HUKUM ADAT DAYAK Setiawan, Ahmad; Mulyawan, Agus; Ali, Nuraliah
The Juris Vol. 7 No. 1 (2023): JURNAL ILMU HUKUM : THE JURIS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STIH Awang Long

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56301/juris.v7i1.780

Abstract

Disputes over land occur in almost every region in Indonesia. One of the cases of legal problems in the field of buying and selling land is the dispute over the sale and purchase of land with the status of a land certificate with overlapping ownership. Dispute resolution methods are litigation or through court and non-litigation or outside the court such as through Nganju Dayak customary law. This study aims to examine how the legal position of land ownership certificates (SKT) is in the perspective of positive law in Indonesia and how to resolve it according to the Adat law of the Dayak Ngaju of Central Kalimantan. This type of research is empirical juridical legal research. The types or sources of data used are primary data and secondary data. The research instruments used were interviews and library research. Data obtained based on library research and field data were analyzed by qualitative descriptive analysis. The position of SKT is based on positive law in Indonesia as stated in Article 76 paragraph (3) Permenag No.3/1997, a certificate of rights does not meet the requirements to be considered a statement of physical ownership of a land parcel if it does not fulfill the six specified conditions. Land which is based only on HCS ownership, does not have sufficiently strong evidence of ownership of the land and is directed to increase the legality of ownership certificates or SHM as proof of ownership that is authentic and legal with legal certainty. Settlement of land sale and purchase disputes based on customary law of the Dayak Nganju through Kedamangan Jekan Raya is pursued by prioritizing the peace process and prioritizing the principle of kinship, the decision does not cause resentment and dissatisfaction, without resentment which ends in the breakup of good relations between the two.
TICAK KACANG DALAM TRADISI ADAT DAYAK: TINJAUAN KESESUAIAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN NO 1 TAHUN 1974 DAN HUKUM ISLAM Mulyawan, Agus; Ali, Nuraliah; Kristian, Kristian; Kurniawan, Oktarianus; Wijaya, Andika
The Juris Vol. 7 No. 1 (2023): JURNAL ILMU HUKUM : THE JURIS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STIH Awang Long

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56301/juris.v7i1.789

Abstract

Perkawinan picak kacang dijadikan solusi bagi pasangan yang tertangkap kumpul kebo dan juga memberikan waktu bagi pihak laki-laki untuk mengumpulkan dana yang cukup sampai bisa memenuhi syarat utama perkawinan adat Dayak nganju. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana perkawinan picak kacang ini membatasi hal-hal yang dilegalkan oleh perkawinan, kekuatan hukum, dan kesesuaiannya ditinjau dari Undang-Undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Hukum Islam. Penelitian hukum yuridis empiris tipe yuridis sosiologis ini bertujuan untuk melihat bagaimana tinjauan kesesuaian undang-undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan hukum Islam pada perkawinan ticak kacang dalam tradisi adat Dayak. Sumber data yang digunakan yakni data primer dan data sekunder. Instrumen penelitian yang digunakan yakni studi Pustaka dan wawancara. Teknik analisis data dalam penelitian ini lebih menekankan pada pengelolaan data primer dan data sekunder yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengakuan negara melalui Undang-Undang terhadap keberadaan hukum adat menjadi penegasan terkait keberadaan perkawinan picak kacang sebagai perkawinan lokal yang merupakan salah satu wujud adat dan tradisi karena perkawinan juga dianggap bagian dari adat dan dilaksanakan secara adat pula. Dalam hukum Islam sendiri perkawinan picak kacang yang merupakan tradisi dikatakan sebagai urf Al ‘adatu muhakamah artinya adat itu bisa diterima dan menjadi hukum jika sudah menjadi kesepakatan. Keberadaan perkawinan dalam hukum islam merupakan suatu ajaran yang penting. Kaidah-kaidah penyerapan adat dalam Islam terdiri atas tiga kaidah yakni tahrim, taghyir, dan tahmil.
Restitusi dan Perlindungan Hak Korban Tindak Pidana: Kebijakan, Tantangan dan Praktiknya di Pengadilan Negeri Kuala Kapuas Permatasari, Indah; Farina, Thea; Ali, Nuraliah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.55559

Abstract

Restitusi merupakan salah satu bentuk perlindungan hak korban tindak pidana yang bertujuan memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kebijakan restitusi, tantangan dalam implementasinya, dan solusi yang dapat diterapkan di Pengadilan Negeri Kuala Kapuas. Dengan pendekatan yuridis empiris, penelitian ini mengkaji kebijakan restitusi berdasarkan data primer dari wawancara dengan hakim, jaksa, dan panitera, serta data sekunder dari peraturan perundang-undangan dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun restitusi telah diatur dalam berbagai regulasi, seperti PERMA No. 1 Tahun 2022, implementasinya menghadapi kendala, termasuk ketidaktahuan korban akan hak mereka, kompleksitas administrasi, dan keterbatasan finansial pelaku. Selain itu, kurangnya sosialisasi dan akses terhadap LPSK di daerah menjadi tantangan signifikan. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan koordinasi antar-lembaga, penyederhanaan prosedur administrasi, edukasi hukum kepada masyarakat, serta pembentukan dana kompensasi korban sebagai alternatif jika pelaku tidak mampu membayar. Dengan langkah-langkah ini, restitusi dapat menjadi instrumen yang lebih efektif dalam melindungi hak korban dan meningkatkan keadilan dalam sistem peradilan pidana.