Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Influencer Sonny Willim terhadap Ketertarikan Generasi Z pada Modifikasi Otomotif di Indonesia Ruslim, Alexander Maximus; Rusdi, Farid
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37014

Abstract

This study was conducted to analyze the influence of influencer Sonny Wilim on Generation Z's interest in automotive modification. The rapid growth of social media has positioned influencers as a powerful source of information, significantly shaping the preferences and behaviors of young audiences. Using the Uses and Gratifications theory, this study explains that Generation Z actively selects content that fulfills their needs for information, entertainment, identity, and social interaction. The research employed a quantitative approach by distributing questionnaires offline to 100 Generation Z respondents who follow Sonny Wilim’s automotive content. The data were analyzed using PLS-SEM 3.0. The findings reveal that Sonny Wilim has a very strong and significant influence on Generation Z’s interest in automotive modification. This is evidenced by a path coefficient of 0.998, a T-statistic value of 26.152, and a p-value of 0.000. Furthermore, an R-square value of 0.996 indicates that the influencer variable explains 99.6% of the variance in Generation Z’s interest. These results reinforce the crucial role of influencers in increasing interest and engagement among young audiences in the automotive modification industry and offer strategic implications for optimizing digital marketing through influencer collaboration. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh influencer Sonny Wilim terhadap minat Generasi Z dalam dunia modifikasi otomotif. Perkembangan media sosial telah menjadikan influencer sebagai salah satu sumber informasi yang berpengaruh kuat dalam membentuk preferensi dan perilaku generasi muda. Menggunakan teori Uses and Gratifications, penelitian ini menjelaskan bahwa Generasi Z secara aktif memilih konten yang dapat memenuhi kebutuhan informasi, hiburan, identitas, serta interaksi sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner offline kepada 100 responden Generasi Z yang mengikuti konten otomotif Sonny Wilim dengan indikator utama kredibilitas influencer, daya tarik influencer, interaksi dengan audiens, minat kognitif, minat afektif, dan behavior. Hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer Sonny Wilim memiliki pengaruh yang sangat kuat dan signifikan terhadap minat Generasi Z dalam modifikasi otomotif. Hal ini dibuktikan melalui nilai koefisien jalur sebesar 0,998, nilai t-statistik sebesar 26,152, serta p-value 0,000. Selain itu, nilai R-Square sebesar 0,996 mengindikasikan bahwa variabel pengaruh influencer mampu menjelaskan 99,6% variasi minat Generasi Z. Temuan ini memperkuat pentingnya peran influencer dalam meningkatkan ketertarikan dan keterlibatan generasi muda pada industri modifikasi otomotif serta memberikan implikasi strategis bagi pelaku industri dalam memaksimalkan pemasaran digital melalui kolaborasi dengan influencer.
Spotify Wrapped 2023: Pergeseran Perilaku dan Gaya Hidup Gen Z dalam Mengonsumsi Musik Stefhan, Zorry; Rusdi, Farid
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.33214

Abstract

The rapid advancement of technology has propelled the popularity of music streaming services, with Spotify emerging as a leader in delivering personalized music-listening experiences. Spotify’s annual Wrapped campaign, which allows users to share their music-listening habits on social media, has become a viral phenomenon, particularly among Gen Z. This study aims to explore Gen Z consumer behavior and the factors driving the success of the 2023 Spotify Wrapped campaign in generating social media virality. Using a qualitative approach with a case study method, the research identified four main factors influencing Gen Z's active participation in sharing Spotify Wrapped: cultural, personal, social, and psychological. The culture of Fear of Missing Out (FoMO) drives engagement with trends, even though not all feel pressured. Personal factors, such as music preferences that reflect self-identity, are a key motivator, with notable recognition of the popularity of music genres like K-pop. Socially, peer influence outweighs celebrity endorsements in sparking curiosity and participation, creating a snowball effect on social media. Psychologically, sharing Spotify Wrapped serves as a way to showcase identity, build connections, and gain social recognition. These findings reveal that the 2023 Spotify Wrapped campaign successfully leveraged these factors to achieve widespread virality among Gen Z. Teknologi yang berkembang telah mendorong popularitas layanan streaming musik. Kampanye tahunan Spotify Wrapped, bahan telah memungkinkan pengguna membagikan kebiasaan mendengarkan musik mereka di media sosial. Hal ini telah menjadi fenomena viral, terutama di kalangan Gen Z. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku konsumen Gen Z dan faktor-faktor yang mendorong kesuksesan kampanye Spotify Wrapped 2023 dalam menciptakan viralitas di media sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menemukan bahwa partisipasi aktif Gen Z dalam membagikan Spotify Wrapped dipengaruhi oleh empat faktor utama: budaya, pribadi, sosial, dan psikologis. Budaya Fear of Missing Out (FoMO) mendorong keterlibatan dengan tren, meskipun tidak semua merasa tertekan. Faktor pribadi, seperti preferensi musik yang mencerminkan identitas diri, menjadi motivasi utama, dengan pengakuan terhadap popularitas genre musik seperti K-pop. Secara sosial, pengaruh teman lebih dominan dibanding selebritas dalam mendorong rasa penasaran dan partisipasi, menciptakan efek bola salju di media sosial. Dari sisi psikologis, berbagi Spotify Wrapped menjadi cara untuk menonjolkan identitas, membangun koneksi, dan memperoleh pengakuan sosial. Temuan ini mengungkap bahwa kampanye Spotify Wrapped 2023 berhasil memanfaatkan faktor-faktor tersebut untuk menciptakan viralitas yang meluas di kalangan Gen Z.
Optimalisasi Strategi Komunikasi Media Sosial Instagram @OfficialNusantaraTV dalam Meningkatkan Brand Awareness Nusantara TV AR, Shabilla Deliana Zahra; Rusdi, Farid
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.37203

Abstract

This study explores the social media communication strategies employed by the Instagram account @officialnusantaratv of Nusantara TV to enhance brand awareness. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews with the account managers and active followers, providing a comprehensive understanding of the communication practices applied. The findings indicate that consistent visual content, strategic use of Instagram features such as Stories and Reels, and intensive audience interaction are key factors in strengthening brand recognition and recall. Maintaining a consistent visual identity, including distinctive colors and design elements, further reinforces the brand’s position in the audience’s mind. Moreover, audience engagement through comments, direct messages, and interactive content fosters stronger relationships between the brand and its followers, enhancing loyalty and active participation. The study emphasizes that structured and adaptive digital communication strategies not only increase brand visibility but also strengthen social and emotional connections with the audience. These findings offer valuable insights for media practitioners and digital marketers on effective social media management in the highly competitive television industry, highlighting that integrating creative content, consistent branding, and active audience interaction is essential for successful digital branding. Penelitian ini mengeksplorasi strategi komunikasi media sosial yang diterapkan oleh akun Instagram @officialnusantaratv Nusantara TV dalam meningkatkan brand awareness. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengelola akun dan pengikut aktif, memungkinkan pemahaman menyeluruh terhadap praktik komunikasi yang diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsistensi konten visual, pemanfaatan fitur Instagram seperti Stories dan Reels secara strategis, serta interaksi intens dengan audiens menjadi faktor utama dalam memperkuat pengenalan dan ingatan merek. Identitas visual yang konsisten, termasuk penggunaan warna dan elemen desain khas, turut memperkuat posisi merek di benak audiens. Selain itu, keterlibatan audiens melalui komentar, pesan langsung, dan konten interaktif menciptakan hubungan yang lebih erat antara merek dan pengikut, meningkatkan loyalitas serta partisipasi aktif. Penelitian ini menunjukkan strategi komunikasi digital yang terstruktur dan adaptif tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan visibilitas merek, tetapi juga memperkuat interaksi sosial dan emosional dengan audiens. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi praktisi media dan pemasar digital mengenai pengelolaan media sosial secara efektif dalam industri televisi yang kompetitif, menunjukkan bahwa integrasi kreativitas konten, konsistensi identitas, dan interaksi audiens menjadi kunci keberhasilan branding digital.
Persepsi Generasi Z terhadap Dinasti Politik dalam Pemberitaan Media Massa Febriani, Wina; Rusdi, Farid
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33315

Abstract

This study analyzes Generation Z's perceptions of political dynasties as reported by mass media. As a digital generation, Generation Z is significantly influenced by information disseminated through both traditional and digital media. They are highly susceptible to continuous exposure to mass media information, particularly via new media platforms such as social media. This research employs a qualitative approach, utilizing in-depth interviews to examine how media exposure shapes their understanding and opinions regarding political dynasties. The findings reveal that Generation Z critically views political dynasties as a threat to democratic values, expressing concerns about nepotism and unequal access to leadership opportunities. Media, especially social media, plays a pivotal role in shaping their perspectives while also providing a space for discussion and activism. Despite challenges such as information bias, Generation Z demonstrates critical awareness in processing media content. This study highlights the potential of Generation Z as agents of change in promoting a more inclusive and transparent political system in Indonesia. Penelitian ini menganalisi persepsi Generasi Z terhadap dinasti politik yang diberitakan oleh media massa. Generasi Z sebagai generasi digital sangat dipengaruhi oleh informasi yang diterima melalui media tradisional maupun digital, Generasi Z sangat mudah terpengaruh oleh informasi dari media massa secara terus – menerus yang mengalir melalui media baru, yakni media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam untuk menganalisis bagaimana paparan media membentuk pemahaman dan opini mereka terhadap dinasti politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z secara kritis memandang dinasti politik sebagai ancaman bagi nilai-nilai demokrasi, dengan kekhawatiran terkait nepotisme dan ketimpangan akses terhadap peluang kepemimpinan. Media, khususnya media sosial, memiliki peran penting dalam membentuk perspektif mereka sekaligus menyediakan ruang untuk diskusi dan aktivisme. Meskipun menghadapi tantangan seperti bias informasi, Generasi Z menunjukkan kesadaran kritis dalam memproses konten media. Penelitian ini menyoroti potensi Generasi Z sebagai agen perubahan dalam mendorong sistem politik yang lebih inklusif dan transparan di Indonesia.
Parentifikasi dan Pola Komunikasi dalam Keluarga: Pengalaman Fenomenologis Anak Sulung Nassapramita, Cinta; Rusdi, Farid
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37145

Abstract

responsibilities that should be carried out by the parents. This phenomenon is commonly experienced by firstborn children in families with unequal communication patterns, economic pressure, or emotional conflict. This study aims to understand the meaning of parentification and to describe the communication patterns between firstborn children and their parents in families experiencing role imbalance. The theoretical framework includes family systems theory, parentification theory, family communication theory, and role theory as the basis for understanding the relationships and interaction patterns that emerge within the family. This study employed a qualitative phenomenological approach through in-depth interviews with three informants who experienced parentification with varying intensities. The findings indicate that parentification appears through both emotional and instrumental roles, such as mediating conflicts and managing the family’s emotional atmosphere. The communication patterns formed tend to be one-way, provide limited space for expression, and place the child in a position of maintaining family stability. Parentification is understood ambivalently, both as a form of moral responsibility and as a source of psychological pressure and emotional fatigue. This study concludes that empathetic communication and clear generational boundaries are necessary to ensure that a child’s role remains aligned with their developmental stage. Parentifikasi merupakan kondisi ketika anak mengambil alih tanggung jawab emosional maupun instrumental yang seharusnya dijalankan oleh orang tua. Fenomena ini sering dialami anak sulung dalam keluarga dengan komunikasi yang tidak setara, tekanan ekonomi, atau konflik emosional. Penelitian ini bertujuan untuk memehami makna parentifikasi serta menggambarkan pola komunikasi antara anak sulung dan orang tua dalam keluarga yang mengalami ketidakseimbangan peran. Teori yang digunakan meliputi teori sistem keluarga, teori parentifikasi, teori komunikasi keluarga, dan teori peran sebagai dasar untuk memahami hubungan dan pola interaksi yang muncul dalam keluarga. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan yang mengalami parentifikasi dengan intensitas berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parentifikasi muncul melalui peran emosional dan instrumental, seperti menjadi penengah konflik, mengatur suasana keluarga. Pola komunikasi yang terbentuk cenderung bersifat satu arah, kurang memberi ruang ekspresi, dan membuat anak berperan untuk menjaga stabilitas keluarga. Parentifikasi dimaknai secara ambivalen, baik sebagai bentuk tanggung jawab moral maupun sebagai sumber tekanan psikologis dan kelelahan emosional. Penelitian ini menyimpulkan perlunya komunikasi empatik dan batas generasi yang jelas agar peran anak tetap sesuai pada tahap perkembangannya.
Analisis Perilaku Parasosial Penggemar Marvel melalui Konten di TikTok Kwok, Michelle Aurellia; Rusdi, Farid
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37146

Abstract

This study explores parasocial behavior among Marvel fans through their content consumption patterns on TikTok, focusing on how algorithm-driven engagement and short-form audiovisual media strengthen emotional attachment to fictional characters and media franchises. As TikTok increasingly becomes a primary platform for fan culture expression, the phenomenon of parasocial relationships expands beyond traditional media and evolves into participatory digital behavior such as duets, stitches, edits, fan theories, and reaction videos. Using a qualitative descriptive approach, the research analyzes user interactions, recurring themes, and engagement indicators within selected TikTok Marvel fandom content. The findings reveal that TikTok’s algorithmic personalization encourages repetitive exposure to Marvel-related content, leading to heightened perceived intimacy with characters such as Tony Stark, Loki, Wanda Maximoff, and Spider-Man. This emotional closeness manifests in behaviors such as defending characters in online debates, expressing grief over fictional events, and forming community identities around shared admiration. Additionally, creators and micro-influencers play a central role in sustaining parasocial involvement by framing narratives that invite emotional resonance and reinforcing fan belonging through targeted content. The study concludes that TikTok not only facilitates fan engagement but also amplifies parasocial dynamics by providing immersive, interactive media experiences. These findings contribute to broader discussions on digital fandom, media psychology, and the evolving nature of audience character relationships in the era of participatory social platforms. Studi ini mengeksplorasi perilaku parasosial di kalangan penggemar Marvel melalui pola konsumsi konten mereka di TikTok, dengan fokus pada bagaimana keterlibatan berbasis algoritma dan media audiovisual berdurasi pendek memperkuat keterikatan emosional dengan karakter fiksi dan waralaba media. Seiring TikTok semakin menjadi platform utama untuk ekspresi budaya penggemar, fenomena hubungan parasosial meluas melampaui media tradisional dan berevolusi menjadi perilaku digital partisipatif seperti duet, stitch, fan edit, fan theory dan fan reaction. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis interaksi pengguna, tema berulang, dan indikator keterlibatan dalam konten fandom Marvel TikTok terpilih. Temuan ini mengungkapkan bahwa personalisasi algoritmik TikTok mendorong paparan berulang terhadap konten terkait Marvel, yang mengarah pada peningkatan persepsi keintiman dengan karakter seperti Tony Stark, Loki, Wanda Maximoff, dan Spider-Man. Kedekatan emosional ini terwujud dalam perilaku seperti membela karakter dalam debat daring, mengungkapkan kesedihan atas peristiwa fiksi, dan membentuk identitas komunitas berdasarkan kekaguman bersama. Selain itu, kreator dan mikro-influencer memainkan peran sentral dalam mempertahankan keterlibatan parasosial dengan membingkai narasi yang mengundang resonansi emosional dan memperkuat rasa memiliki penggemar melalui konten yang tertarget. Studi ini menyimpulkan bahwa TikTok tidak hanya memfasilitasi keterlibatan penggemar tetapi juga memperkuat dinamika parasosial dengan menyediakan pengalaman media yang imersif dan interaktif. Temuan ini berkontribusi pada diskusi yang lebih luas tentang fandom digital, psikologi media, dan perkembangan hubungan antar karakter penonton di era platform sosial partisipatif.