Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Sosialisasi Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Literasi dan Numerasi Siswa di SMPN 4 Satap Batulanteh Sumbawa Rispawati, Rispawati; Mustari, Mohamad; Yuliatin, Yuliatin; Hadi, M. Samsul; Noviana, Hassa; Kurniawansyah, Edy
Jurnal Pengabdian Inovasi Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 2b (2025): Edisi khusus Dies Natalis Universitas Mataram
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/0btmtf82

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan berdasarkan kondisi perkembangan yang luar biasa salah satunya adalah program literasi dan numeras yang diluncurkan oleh kemendikbudristek melalui kegiatan kampus mengajar. Literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Sedangkan Numerasi adalah kemampuan mengaplikasikan konsep bilangan dan simbol dalam matematika dasar untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan pengabdian ini adalah untuk mengetahui peran kepala sekolah dalam meningkatkan literasi dan numerasi siswa di SMPN 4 SATAP Batulanteh Sumbawa. dengan karakteristik peserta didik abad 21 dapat terpenuhi sebagaimana mestinya. Solusi yang ditawarkan dalam pengabdian ini adalah melakukan serangkaian kegiatan sosialisasi peran kepala sekolah dalam meningkatkan literasi dan numerasi siswa di SMPN SATAP Batulanteh Sumbawa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh tahapan kegiatan berjalan dengan baik dan telah terjadi peningkatan pemahaman peserta tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan literasi dan numerasi siswa. Kegiatan sosialiasasi ini diikuti oleh guru-guru SMPN 4 SATAP Batulanteh Sumbawa. Hal ini ditandai dengan guru-guru SMPN 4 SATAP Batulanteh Sumbawa sudah memahami dan mengerti tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan literasi dan numerasi siswa. Kemudian guru-guru tersebut membuat program yang dapat meningkatkan literasi dan numerasi siswas, program tersebut seperti gerakan membaca 15 menit sebelum memulai pembelajaran pada setiap mata pelajaran sudah dilaksanakan oleh guru SMPN 4 SATAP Batulanteh Sumbawa dengan baik. Selain itu, hasil yang lainnya pada ini kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan pada peserta serta komitmen kuat dari kepala sekolah dan guru untuk mengimplementasikan program-program yang telah dirumuskan khususnya yang berkhubungan dengan literasi dan numerasi siswa.
Pelestarian Budaya Suku Sasak Guna Mendongkrak Pariwisata Halal di Pulau Lombok Hadi, M. Samsul; Wahyuni, Rizki; Rinjani, Bq Intan Setiawati; Hidayah, Jannatul; Rahmawati, Siti
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.4274

Abstract

Budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas suatu masyarakat dan memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan pariwisata daerah. Dalam konteks Pulau Lombok, budaya Suku Sasak menjadi salah satu unsur utama yang memperkuat karakter destinasi wisata berbasis nilai keislaman. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk pelestarian budaya Suku Sasak yang masih bertahan hingga saat ini serta menganalisis kontribusinya terhadap pengembangan pariwisata halal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat, serta dokumentasi. Lokasi penelitian berada di kawasan Mandalika, Lombok Tengah, sebagai pusat aktivitas wisata sekaligus kawasan dengan praktik budaya Sasak yang masih hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian budaya Sasak berlangsung melalui berbagai tradisi seperti Presean, Bau Nyale, Nyongkolan, seni Gendang Beleq, kerajinan tenun, serta kuliner khas berbahan halal. Keseluruhan praktik budaya tersebut tidak hanya menjaga identitas masyarakat, tetapi juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan Muslim. Pelibatan generasi muda dan lembaga adat terbukti memperkuat keberlanjutan tradisi, meskipun masih terdapat tantangan berupa pengaruh modernisasi dan penurunan minat sebagian masyarakat terhadap kegiatan budaya. Kesimpulannya, pelestarian budaya Suku Sasak memiliki peran strategis dalam memperkuat citra Lombok sebagai destinasi wisata halal. Keberlanjutan budaya ini bukan hanya menjaga warisan lokal, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kreatif dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
BESENTULAK : Nilai dan Makna Simbolik Pengobatan Tradisional Suku Sasak di Dusun Sedau Barat Kecamatan Pemepek Kabupaten Lombok Tengah Nugraha, Muh Rizki; Fadli, Muhammad Ridwan; Hilmiaturrahmi, Hilmiaturrahmi; Rahmi, Rahmi; Hadi, M. Samsul
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.4297

Abstract

Tradisi Besentulak merupakan bentuk pengobatan tradisional suku Sasak yang masih dipraktikkan masyarakat dusun sedau barat, pemepek, lombok Tengah sebagai upaya menjaga kesehatan dan ketenteraman hidup. Ritual ini menjadi bagian dari sistem keyakinan yang terus diwariskan dalam kehidupan sosial mereka. Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai dan makna simbolik pada setiap unsur ritual Besentulak serta memahami pemaknaannya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis etnografi melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian memperlihatkan adanya nilai sosial dalam ritual Besentulak melalui kegiatan begibung yang mempererat hubungan antar warga, nilai spiritual yang tampak dalam penggunaan bunga rampe dan kemenyan sebagai media doa, serta nilai etika yang terlihat dalam penyusunan sesajen sebagai bentuk penghormatan. Setiap objek ritual seperti kue jongkong, dulang, dan ceret tanaq memiliki simbolisasi yang berkaitan dengan keseimbangan hidup, penghormatan terhadap leluhur, serta upaya menjaga harmoni lingkungan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa Besentulak tetap menjadi tradisi penting dalam cara masyarakat Sasak memahami kesehatan, kebersamaan, dan kehidupan bermasyarakat.