Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

TIKTOK STAGE : PLATFORMISASI PENGGEMAR, IDOLA DAN PERTUJUKAN HIBURAN Suciati, Titis Nurwulan; Puspita, Ratna
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 9 No. 2 (2024): Edisi April
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v9i2.209

Abstract

Ketika media sosial ada di mana-mana, hubungan selebriti-penggemar telah berubah secara drastis dua dekade terakhir. Melalui bangunan hubungan mutualisme antara Tiktok dan Industri K-Pop– TikTok meluncurkan rangkaian acara sukses yang dikenal sebagai 'TikTok Stage' yang kemudian mempengaruhi format pertunjukan hiburan dan hubungan artis dan penggemarnya. Dengan meneruskan gagasan Platformisasi, kami mengkaji bagaimana operasionalisasi glokalisasi platform oleh TikTok, dengan menunjukkan bagaimana Tiktok Stage sebagai salah satu fitur yang dibuat Tiktok memfasilitasi penyebaran ‘tenaga kerja gratis’ dari bintang dan penggemar K-pop, untuk mempertahankan minat dan lalu lintas di platform. Platformisasi K-pop seperti ini menghasilkan duplikasi pertunjukan K-pop sebelumnya. Dengan melakukan analiais konten secara kualitatif pada fanmeeting selebritas Korea Selatan Lee Sung-kyung yang digelar oleh media sosial berbasis video asal China, TikTok pada 18 Maret 2021, terlihar bagaimana artis menggunakan formula presentasi diri artis klasik, berupa persona unik dan “dekat” serta interaksi parasosial antara artis dan penggemar. Meski demikian, tenaga kerja gratis dan tidak terlihat  yang adalah penggemar jauh lebih kerja keras dan sukarela untuk hadir dan melakukan banyak cara untuk mendukung artis mereka. TikTok Stage sebagai platform acara mengonfigurasi fitur komunikatif platform dan pengaturan panggung untuk memediasi hubungan virtual antara penggemar dan bintang K-pop selama streaming langsung TikTok.
TIKTOK STAGE : PLATFORMISASI PENGGEMAR, IDOLA DAN PERTUJUKAN HIBURAN Suciati, Titis Nurwulan; Puspita, Ratna
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 9 No. 2 (2024): Edisi April
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v9i2.209

Abstract

Ketika media sosial ada di mana-mana, hubungan selebriti-penggemar telah berubah secara drastis dua dekade terakhir. Melalui bangunan hubungan mutualisme antara Tiktok dan Industri K-Pop– TikTok meluncurkan rangkaian acara sukses yang dikenal sebagai 'TikTok Stage' yang kemudian mempengaruhi format pertunjukan hiburan dan hubungan artis dan penggemarnya. Dengan meneruskan gagasan Platformisasi, kami mengkaji bagaimana operasionalisasi glokalisasi platform oleh TikTok, dengan menunjukkan bagaimana Tiktok Stage sebagai salah satu fitur yang dibuat Tiktok memfasilitasi penyebaran ‘tenaga kerja gratis’ dari bintang dan penggemar K-pop, untuk mempertahankan minat dan lalu lintas di platform. Platformisasi K-pop seperti ini menghasilkan duplikasi pertunjukan K-pop sebelumnya. Dengan melakukan analiais konten secara kualitatif pada fanmeeting selebritas Korea Selatan Lee Sung-kyung yang digelar oleh media sosial berbasis video asal China, TikTok pada 18 Maret 2021, terlihar bagaimana artis menggunakan formula presentasi diri artis klasik, berupa persona unik dan “dekat” serta interaksi parasosial antara artis dan penggemar. Meski demikian, tenaga kerja gratis dan tidak terlihat  yang adalah penggemar jauh lebih kerja keras dan sukarela untuk hadir dan melakukan banyak cara untuk mendukung artis mereka. TikTok Stage sebagai platform acara mengonfigurasi fitur komunikatif platform dan pengaturan panggung untuk memediasi hubungan virtual antara penggemar dan bintang K-pop selama streaming langsung TikTok.
Jumpa Penggemar Artis dari Lensa Interaksi Parasosial Virtual Puspita, Ratna; Nurwulan, Titis
Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Cinema Vol. 6 No. 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24076/pikma.v6i2.1598

Abstract

Meeting fans is something that is difficult to realize during the Covid-19 pandemic. However, the entertainment industry reproduces the relationship between fans and celebrities through social media-mediated fan encounters in order to balance the impact of business and intimate relationships with fans. Using a qualitative content analysis approach, the author explores celebrity and fan interactions at South Korean celebrity Lee Sung Kyung's fanmeeting via TikTok using Horton and parasocial theory. Previous research has not explained the interactions between celebrities and fans when fanmeetings take place in virtual spaces with a qualitative approach. The form of virtual fanmeetings actually repeats previous offline fanmeetings. Both sell artist personas as commodities. However, the absence of physical interaction makes these virtual fanmeetings very difficult to distinguish from broadcasts on conventional television. The author believes that fanmeetings are offline products that cannot be replaced with virtual content because they do not involve voluntary interactions such as hugs, handshakes, or other physical interactions that play a role in physical and emotional intimacy. This research strengthens Horton & Wohl's (11956) that the interaction between the audience and the celebrity is actually one-sided, not dialectical, controlled by the celebrity, and there is no mutual development of the relationship. Furthermore, celebrity parasocial interaction in this study is shown as "selective self-presentation of the sender of the message" in mediated communication.
Nutrition Plate as a Nutritional Media to Increase Knowledge of Balanced Nutrition for Mothers with Toddlers in Muara Gembong Suciati, Titis Nurwulan; Akbar, Moh. Rifaldi; Azis, Lukman; Fadillah, Dendra Arif; Susanto, Dwicky Nurrochman; Caroline, Saphira Dea
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 7 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v7i1.6356

Abstract

This community empowerment is carried out by the communication science academia from Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. This community empowerment is assisted by a food technology lecturer from Universitas Al Azhar Indonesia. This community empowerment seeks to increase the knowledge of mothers with a toddler about balanced food and nutrition. This community empowerment is carried out in the Desa Pantai Bakti, Muara Gembong, one of the districts with the highest level of under-five malnutrition in Indonesia. There are two methods (mix-method approach) this community empowerment use in this activity: focus group discussion and experimental method. These two approaches aim to measure intervention (counseling, pamphlet installation, and nutritional plate medium). This community empowerment uses pre-test and post-test for the same group to measure changes in subject knowledge before and after counseling (intervention). This community empowerment affects changes in subject knowledge (n=15). The mother's knowledge about balanced nutrition was statistically significantly increased by two-tail P(T£ t) 0.002788939 with Sig. £ a 0,05.
Upaya Melawan Stigmatisasi Perawan Tua di Media Sosial: Analisis Percakapan tentang Peran Gender dan Status Pernikahan Perempuan di X Suciati, Titis Nurwulan; Puspita, Ratna
Jurnal Mahardika Adiwidia Vol. 4 No. 1 (2024): Mahardika Adiwidia 2024
Publisher : Magister of Communication Science, Sahid University Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/mahardikaadiwidi.v4i1.2601

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika percakapan di media sosial X terkait stigma perawan tua dan peran gender dalam konteks pernikahan. Data dikumpulkan melalui analisis percakapan di media sosial X menjelang Hari Raya Idulfitri 2024, yang melibatkan unggahan dan komentar mengenai status lajang perempuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa stereotipe terhadap perempuan lajang, terutama mereka yang berusia di atas 30 tahun, diperdebatkan dengan intens. Peserta percakapan, khususnya perempuan, menggunakan pengalaman pribadi, sindiran, dan strategi defensif untuk melawan stigma sosial, seperti istilah perawan tua yang mereka redefinisi sebagai simbol kemandirian. Percakapan ini juga menunjukkan peran media sosial sebagai platform untuk mengkritik norma patriarki yang menuntut perempuan menikah pada usia tertentu. Kritik terhadap peran laki-laki yang tidak bertanggung jawab, seperti melalui istilah mokondo, menjadi topik sentral, mencerminkan pergeseran nilai sosial yang menekankan kebebasan individu. Temuan ini mengindikasikan bahwa media sosial X tidak hanya memperkuat stereotipe tetapi juga menciptakan ruang bagi perubahan sosial, memperkenalkan narasi progresif tentang peran gender dan kehidupan lajang perempuan. Penelitian ini memperlihatkan pentingnya solidaritas kolektif dan peran media sosial dalam mendobrak stigma serta membangun kesadaran gender yang lebih inklusif.
Menerjemahkan Teror, Membangun Ketakutan: Mediatisasi Dan Bias Jurnalisme Keamanan Di Era Digital Ratna Puspita; Titis Nurwulan Suciati; Nurul Fauziah
Jurnal Komunikasi, Masyarakat dan Keamanan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/vq8tk935

Abstract

Media massa memiliki peran ganda sebagai penyampai informasi sekaligus medium penyebaran pesan terorisme. Salah satu genre yang berkembang pasca tragedi 7/7 London adalah jurnalisme keamanan yang menggarisbawahi bagaimana media menerjemahkan peristiwa terorisme serta membentuk persepsi publik tentang ancaman. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji jurnalisme kemanan dan mengkritisi model-model jurnalisme keamanan yang selama ini berfokus pada framing teks berita, dengan menambahkan dimensi mediatisasi digital, proses media translation, dan bias struktural media dalam memberitakan isu-isu terorisme kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode literatur review naratif terhadap 21 artikel jurnal akademik yang dipublikasikan di tandfonline.com periode 2015–2024.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediatisasi dalam jurnalisme keamanan membentuk kondisi konflik yang termediasi secara digital, yang disebut diffused war yang sulit diprediksi. Studi ini menyimpulkan bahwa praktik jurnalisme keamanan saat ini masih menyisakan kesenjangan dalam memahami dampak mediatisasi, bias framing, serta etika penerjemahan pesan ekstremis di media. Penelitian ini merekomendasikan perlunya media massa menerapkan praktik jurnalistik yang lebih seimbang, kontekstual, dan etis dalam melaporkan isu-isu terorisme guna menghindari stereotipe dan polarisasi publik.
WHY WOMEN INVOLVEMENT IN MAKING ONLINE LEARNING POLICIES FOR ELEMENTARY SCHOOL IS MINIMAL? Akbar, Moh. Rifaldi; Zahra, Fina; Sukmawati, Dian; Kristina, Dina; Suciati, Titis Nurwulan
Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender Vol 24, No 2 (2025): MARWAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/marwah.v24i2.33164

Abstract

The Covid-19 pandemic reshaped schooling by shifting educational responsibilities from classrooms to homes, placing a concentrated load on women. In the suburban areas of Bekasi, Greater Jakarta, mothers and older sisters became the primary supervisors of elementary school children’s online learning while managing everyday household demands. Yet, thier experiences and insights rarely appear in regional education policies. This research examines how women handled the intensified tasks of supporting elementary-level online learning and explores the factors that limit their involvement in policy discussions. Elementary students were selected because their learning requires close and continuous supervision. Using a qualitative design, the research draws on focus group discussions and in-depth semi-structured interviews, followed by a three-stage coding analysis. The findings identify three key factors shaping women’s limited policymaking presence. (1) Ideological factors stem from persistent assumptions that public decision-making is not a women’s domain. (2) Internal factors arise from tensions and emotional demands within the household. (3) External factors include social expectations and institutional arrangements that expand women’s physical and mental workload. By documenting these layered pressures, the study demonstrates how women become the primary actors sustaining emergency education while remaining structurally sidelined from policy arenas. The analysis offers empirical insight into the gendered dynamics of home-based schooling in suburban Global South contexts.
Komunikasi Tim dan Cloud Platform (dengan Slack dan Asana) pada Siswa SMAN 2 Tambun Utara Wa Ode Sitti Nurhaliza; Titis Nurwulan Suciati; Hizkia Yosias Polimpung; Nurul Fauziah; Ratna Puspita
Jurnal Karya untuk Masyarakat (JKuM) Vol 2 No 1: JANUARI 2021
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/mrj94m20

Abstract

Komunikasi dalam ruang virtual terjadi tidak hanya dalam konteks interpersonal tetapi semakin berkembang dalam lingkup kelompok. Kehadiran platform komunikasi berbasis kolaborasi/Team Communication Platform (TCP) seperti Slack dan Asana- menggabungkan berbagai fitur di media sosial seperti platform jejaring sosial dan pesan singkat dirasa penting untuk mencapai komunikasi yang efektif dan efisien. Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang manajemen komunikasi kelompok kecil yang efektif pada siswa; dan pemahaman tentang pemanfaatan manajemen cloud platform sebagai media komunikasi kelompok pada siswa SMA Negeri 2. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2019 sasaran kegiatan berjumlah 70 siswa-siswi di SMA Negeri 2 Tambun Utara. Media pelatihan yang digunakan Power point, Handphone, Slack dan Asana. Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk ceramah, diskusi dan praktik sampai pelajar mampu mengoperasikan berbagai cloud platform (Slack dan Asana). Hasil pelatihan menunjukkan para siswa dapat memanfaatkan dan mengoperasikan berbagai platform (Slack dan Asana) untuk mengelola komunikasi kelompok siswa khususnya menciptakan komunikasi efektif dalam tim di ruang virtual. Dengan demikian, para siswa setelah mengikuti kegiatan ini mampu secara mandiri mengoperasikan berbagai platform (Slack dan Asana) terutama dalam menyelesaikan tugas sekolah berbasis kelompok. Selain itu, untuk meningkatkan kreatifitas siswa-siswi di era teknologi informasi dan komunikasi yang semakin hari semakin maju dan berkembang, kegiatan pelatihan serupa perlu sering dilakukan guna membiasakan siswa dalam memanfaatkan teknologi khususnya dalam membangun komunikasi tim diantara siswa.