Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Use of Picture and Picture Models to Improve Student Learning Outcomes in Class III Natural Resources Theme of SD Negeri Langung Salma, Siti; Kistian, Agus; Hadiid Thariiq, Shah Mohd
Journal of Elementary School Education Vol 2 No 3 Journal of Elementary School Education, (September, 2023)
Publisher : Berpusi Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62966/joese.v1i3.309

Abstract

The problem in this study is how to use picture and picture models to improve student learning outcomes on the theme of natural resources for class III SD Negeri Langung. It is carried out in two cycles, each cycle consisting of design, implementation, observation and reflection. Subjects in this study were 31 students. The results of teacher and student observations, as well as student tests were analyzed using the percentage formula. The research results obtained were (1) observing the activities of teachers and students in cycle 1 obtained an average score of 2.28 in a fairly good category. while the average test result was 69.67% with an average national achievement of 16 students or 55% and those who did not complete were 15 students or 45%. (2) Observation of teacher activity gets a score of 3, 85 in the very good category and observation of student activity in cycle II got an average score of 3.57 in the very good category. Meanwhile, the average test result was 85.8% with an average completion of 27 students or 90.68% and 4 students who did not complete or 9.32%. Based on the results of this study it can be concluded that by applying the Picture and Picture model it can improve student learning outcomes to become more active and the teacher's ability to improve better.
Pengaruh Model Pembelajaraninquirytraining Berbasis Kolaboratif Terhadap Keterampilan Proses Sains Materi Sumber Daya Alam di SD Methodist 1 Medan Sari, Dyan Wulan; Kistian, Agus
Jurnal Ilmiah Aquinas Vol 3 No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Unversitas Katolik Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/aquinas.v3i2.755

Abstract

This study aimed to analyze. The Influence of learning model on students science process skill. This study is a quasi-experimental research (quasi experiment). The population of this research is fourth grade students of SD Methodist 1 Medan. The sample in this study selected by purposive random sampling as much as two gradtahun es. Class experiment treated with a inquiry training model based collaborative, the control class treated with direct instruction model. The instrument used consisted of: science process skill test and scientific attitude questionnaire sheet. Data analysis was performed using ANOVA two lanes. The results of this study indicate that: (1) the process of science students that learned Science with learning inquiry training model based collaborative is higher than direct instruction; (2) Science process skill students with high scientific attitudes indicates is higher than low scientific attitudes; and (3) an interaction between the inquiry training model based collaborative and direct instruction with the level of scientific attitudes in influencing student science process skills. The results of this research suggest that the learning model inquiry training based collaborative is a solution to and alternatives for the teachers to improve student science process skills.
PROBLEMATIKA GURU DALAM MEMBENTUK PERILAKU SOPAN SANTUN SISWA DENGAN NILAI KEARIFAN LOKAL DI SDN 2 MATA IE Martines, Martines; Kistian, Agus
Jurnal Tunas Bangsa Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/tunasbangsa.v12i2.3347

Abstract

Perilaku sopan santun merupakan bagian dari pembentukan karakter yang mencerminkan jati diri peserta didik, terutama dalam budaya masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan adab. namun, dalam praktiknya, pembentukan perilaku sopan santun di sekolah sering menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi guru dan faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya permasalahan dalam membentuk perilaku sopan santun dengan nilai kearifan lokal pada siswa di SDN 2 Mata Ie Kabupaten Aceh Besar serta untuk mendeskripsikan upaya guru dalam mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap dua orang guru yang terdiri dari guru kelas IV dan guru kelas V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi berbagai problematika, seperti keterbatasan waktu dalam memantau perilaku non-akademik, ketidakkonsistenan penguatan nilai sopan santun, dan rendahnya kesadaran siswa terhadap pentingnya adab. Faktor utama yang memperkuat tantangan ini berasal dari luar sekolah, seperti minimnya peran keluarga dalam membiasakan nilai-nilai kesopanan, pengaruh pergaulan, serta penggunaan teknologi tanpa pengawasan, temuan lain upaya yang dapat dilakukan guru yaitu membentuk karakter siswa melalui pembiasaan, nasihat, sanksi edukatif, dan kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.AbstractPolite behavior is an integral part of character development that reflects the identity of students, especially within Acehnese society, which highly upholds cultural and moral values. However, in practice, fostering polite behavior in schools often faces various challenges. This study aims to identify the problems faced by teachers and the factors contributing to these challenges in shaping polite behavior based on local wisdom values among students at SDN 2 Mata Ie, Aceh Besar District. It also seeks to describe the efforts made by teachers to overcome these obstacles. This research employs a phenomenological approach. Data were collected through interviews with two homeroom teachers of Grade IV and Grade V. The findings reveal that teachers encounter several issues, such as limited time to monitor students’ non-academic behavior, inconsistency in reinforcing polite behavior, and low student awareness of the importance of manners. The primary factors that intensify these challenges originate outside the school, such as the lack of family involvement in instilling polite values, peer influence, and unsupervised use of technology. Other findings suggest that teachers can foster students' character through routine habituation, advice, educational sanctions, and collaboration with parents and the community.
IDENTIFIKASI AWAL DAN SRATEGI PENANGANAN GURU TERHADAP SISWA DENGAN DUGAAN DISLEKSIA DI SDN 23 BANDA ACEH Martines; Putri Dahliana; Miranda Bulqis; Suci Reisma Mentari; Rahmat Iqbal; Agus Kistian
Jurnal Pesona Dasar Vol. 14 No. 1 (2026): Edisi April (In Press)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/pear.v14i1.1778

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses identifikasi awal dan strategi penanganan guru terhadap siswa dengan dugaan disleksia di kelas IV SDN 23 Banda Aceh. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan subjek guru dan siswa kelas IV. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengidentifikasi gejala awal disleksia melalui observasi alami terhadap pola membaca, seperti lambatnya decoding, pembalikan huruf, kesalahan fonologis, dan ketidakkonsistenan dalam menyambung bacaan. Temuan kuesioner memperkuat hasil tersebut, di mana seluruh siswa menunjukkan satu atau lebih gejala yang berkaitan dengan pemrosesan fonologis dan memori kerja verbal, seperti kesulitan membaca kata mirip, mengingat ejaan, serta mengikuti instruksi bertahap. Strategi penanganan yang diterapkan guru meliputi penyederhanaan instruksi, pemberian waktu tambahan, penggunaan pendekatan fonik dan multisensori sederhana, serta dukungan emosional. Penelitian ini menegaskan bahwa identifikasi dini dan intervensi adaptif sangat bergantung pada sensitivitas pedagogis guru serta dukungan kerja sama dengan orang tua. Diperlukan pelatihan dan fasilitas pendukung agar proses identifikasi dan penanganan disleksia dapat dilakukan secara lebih sistematis.
ANALISIS PROFESIONALITAS GURU DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN DI KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI PANTE CERMIN Arliyanti; Agus Kistian; Mardhatillah
Jurnal Binagogik Vol. 8 No. 1 (2021): JURNAL BINAGOGIK
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/pgsd.v8i1.22

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah profesionalitas guru dalam kegiatanpembelajaran di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pante Cermin Kecamatan Pante Ceureumen. Jenis Penelitian inibersifat deskriptif (descriptive research). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2020 pada semesterganjil tahun ajaran 2020/2021, lokasi penelitian adalah di SD Negeri Pante Cermin Kecamatan PanteCeureumen. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah guru kelas IV. Adapun teknikpengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen dalampenelitian ini adalah lembar observasi, lembar wawancara dan lembar validasi. Hasil penelitian dalam penelitianini adalah guru di SD Negeri Pante Cermin sudah termasuk dalam guru profesional karena dalam perencanaanpembelajaran khususnya dalam menyusun (RPP) sudah cukup baik, mereka menyusun RPP sesuai denganpetunjuk yang ditetapkan. Hal itu dapat dilihat pada membuat perangkat pembelajaran (RPP), pengalokasianwaktu, mencantumkan sumber belajar yang akan digunakan, guru memiliki kompetensi dalam menggunakanberbagai metode dan pemilihan media yang tepat, serta pengelolaan terhadap kelas menjalankan tugasnyadengan baik secara ikhlas dan sabar dan mampu menguasai teknologi sesuai dengan pendidikannya, dan gurumemiliki latar belakang pendidikan terakhir sarjana (SI).
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DAN SELF-EFFICACY Ebeneser Wacner Simamora; Agus Kistian
Jurnal Binagogik Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL BINAGOGIK
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/pgsd.v9i1.51

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengembangkan perangkat pembelajaran realistik untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan disposisi matematis siswa MTs/SMP. Sedangkan secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menganalisis kualitas perangkat pembelajaran berbasis pendekatan realistik untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan disposisi matematis siswa dan (2) Menganalisis peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajarkan melalui perangkat pembelajaran berbasis Pendekatan realistik. Jenis Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian pengembangan (depelopment research). Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 26 Kabupaten Sorong kelas VII pada materi Bangun datar segi empat. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 26 Kabupaten Sorong. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap, tahap pertama adalah pengembangan perangkat pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran yang meliputi (1) validitas RPP; (2) validitas Buku Siswa (BS); (3) validitas LAS; (4) validitas Tes Kemampuan Pemecahan Masalah (TKPM); (5) validitas angket Self-efficacy. Tahap kedua adalah implementasi perangkat pembelajaran yang dianggap sudah layak berdasarkan hasil uji coba. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, dikemukakan beberapa simpulan sebagai berikut: (1) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah menggunakan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan realistik pada materi bangun datar segi empat adalah rata-rata pencapaian kemampuan pemecahan masalah siswa pada uji coba I sebesar 80,46 meningkat menjadi 81,20 pada uji coba II. Disamping itu, rata-rata setiap indikator kemampuan pemecahan masalah meningkat dari uji coba I ke uji coba II dan (2) Peningkatan self-efficacy siswa menggunakan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan realistik pada materi bangun datar segi empat adalah hasil rata-rata angket self-efficacy siswa pada uji coba I sebesar 120,47 menjadi 120,86 pada uji coba II.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE (VCT) TERHADAP PEMAHAMAN NILAI NASIONALISME SISWA KELAS IV SDN PANTE CERMIN KABUPATEN ACEH BARAT Nurjannah; Agus Kistian
Jurnal Binagogik Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL BINAGOGIK
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/pgsd.v8i2.302

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui adanya pengaruh model Value Clarification Technique (VCT) terhadap pemahaman nilai nasionalisme dan (2) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) dan motivasi belajar siswa terhadap pemahaman nilai nasionalisme siswa di kelas IV SDN Pante Cermin. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Pante Cermin Kecamatan Pante Ceureumen Kabupaten Aceh Barat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Pante Cermin dengan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dipilih secara total sampling sebanyak dua kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitiannya adalah quasi exsperimental. Instrument yang digunakan terdiri dari tes pemahaman nilai nasionalisme yang telah dinyatakan valid dan reliabel sebanyak 10 butir soal uraian. Berdasarkan pengolahan data yang diperoleh terdapat perbedaan hasil pemahaman nilai nasionalisme siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori. Dapat dilihat dari perbedaan rerata pemahaman nilai nasionalisme siswa di kedua kelas. Rerata pemahaman nilai nasionalisme siswa dikelas Value Clarification Technique (VCT) sebesar 78,09 sedangkan pemahaman nilai nasionalisme di kelas ekspositori sebesar 69,04 dari data tersebut tampak bahwa terdapat perbedaan rerata pemahaman nilai nasionalisme siswa yang diajarkan dengan Value Clarification Technique (VCT) lebih tinggi daripada rerata pemahaman nilai nasionalisme siswa yang diajarkan dengan pembelajaran ekspositori.
EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING (SFAE) TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD NEGERI KRUENG ITAM KABUPATEN NAGAN RAYA Musdiani; Agus Kistian
Jurnal Binagogik Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL BINAGOGIK
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/pgsd.v10i1.695

Abstract

Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Optimalnya hasil belajar siswa bergantung pula pada proses belajar siswa dan proses mengajar guru. Rendahnya hasil belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri Krueng Itam Kabupaten Nagan Raya, ditunjukkan pada nilai ujian pertengahan semester yang sebagian siswanya masih belum mencapai standar kreteria ketuntasan minimal (KKM). Batas nilai KKM IPS yang telah ditentukan adalah 70. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran Student Facilitator And Explaining (SFAE) terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri Krueng Itam Kabupaten Nagan Raya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif melalui pendekatan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Krueng Itam yang berjumlah 20 orang, yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif persentase. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ketuntasan belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Student Facilitator And Explaining (SFAE) adalah 85% atau 17 siswa yang sudah tuntas, sedangkan yang tidak tuntas hanya ada 3 siswa atau 15% dengan nilai rata-rata siswa yang diperoleh adalah 77,25. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Student Facilitator And Explaining (SFAE) efektif terhadap hasil belajar IPS khususnya pada tema manusia dan lingkungan di Kelas V SD Negeri Krueng Itam kabupaten Nagan Raya.
PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING DENGAN MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI ALUE BATA Agus Kistian; Nurjannah; Darmanisah
Jurnal Genta Mulia Vol. 13 No. 2 (2022): JURNAL GENTA MULIA
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/gm.v13i2.144

Abstract

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Alue Bata Kabupaten Nagan Raya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar IPA melalui penerapan model pembelajaran Mind Mapping di Kelas IV SD Negeri Alue Bata Kabupaten Nagan Raya. Untuk mengetahui hasil belajar IPA melalui penerapan model Student Teams Achievement Division (STAD) di Kelas IV SD Negeri Alue Bata Kabupaten Nagan Raya dan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA dengan menerapkan model Mind Mapping dan model Student Teams Achievement Division (STAD) pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Alue Bata Kabupaten Nagan Raya. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah Jenis penelitian ini menggunakan Pre-Experimental Design dengan bentuk One-Shoot Case Study. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 22 orang dikelas IV/A SDN Alue Bata dan 22 orang di kelas IV/B SDN Alue Bata. Tenik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan rumus t-test. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar IPA antara penerapan model mind mapping dan Student Teams Achievement Division (STAD) pada tema peduli terhadap makhluk hidup siswa kelas IV SD Negeri Alue Bata. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil akhir rata-rata siswa, dimana rata-rata siswa dengan pembelajaran model mind mapping adalah 76,82 sedangkan rata-rata siswa dengan model Student Teams Achievement Division (STAD) adalah 68,64. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan model mind mapping lebih baik dibandingkan dengan model Student Teams Achievement Division (STAD). Hal ini terbukti dari hasil analisa data statistik “uji t test” diperoleh hasil ttabel = 1.720 dan dari hasil perhitungan t-test thitung = 1,945, jadi dibandingkan antara thitung dan ttabel maka thitung > ttabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAME TOURNAMENT (TGT) TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA DI KELAS IV SD NEGERI KEUDELINTEUNG Agus Kistian; Nurjannah; Lisa Arnita
Jurnal Genta Mulia Vol. 12 No. 1 (2021): JURNAL GENTA MULIA
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/gm.v12i1.188

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah eksperiment quasi. Sampel dalam penelitian berjumlah 45 siswa terdiri dari kelas IVA sebanyak 23 siswa sebagai kelas eksperiment dan kelas IVB sebanyak 22 siswa sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan datanya seperti observasi, angket, dan dokumentasi. Instrumen penelitian seperti lembar observasi, angket, dan dokumentasi. Data penelitian ini adalah pengaruh penggunaan model Team Game Tournament (TGT) terhadap motivasi belajar siswa pada materi sumber daya alam kelas IV SD Negeri Keudelinteung. Dari hasi penelitian diperoleh pada kelas kontrol di ketahui bahwa jumlah siswa yang memiliki motivasi cukup sebanyak 11 siswa (50%) dari 22 siswa, jumlah siswa yang memiliki motivasi baik sebanyak 7 siswa (31,81%) dari 22 siswa dan jumlah siswa yang memiliki motivasi sangat baik sebanyak 4 sisswa (18,18%) dari 22 siswa dan diketahui bahwa kelaseksperiment yang memiliki motivasi cukup berjumlah 4 siswa (17,39%) dari 23 siswa, jumlah siswa yang memiliki motivasi baik sebanyak 8 siswa (34,78%) dari 23 siswa dan jumlah siswa yang memiliki motivasisangat baik berjumlah 11 siswa (47,82) dari 23 siswa. Artinya pada kelas eksperiment ini sudah mendapatkanhasil motivasi seperti yang di harapkan. Di dalam pembelajaran ini peneliti merasa sudah tidak ada kekurangan karena peneliti menjalankan perbaikan pembelajaran sudah sesuai rencana pembelajaran